Kategori
Cacatnya Harianku Celotehanku

Jangan Jadi Pengendara Baik!

pengendara bermotor
Dan ini aslinya bukan di Indonesia.

Yang namanya XTC, GBR, Brigez, sama Moonraker emang udah difatwa kepolisian sebagai komplotan kriminalitas, dan sekarang mereka dibekukan aktivitasnya. Meski geng motor sudah bisa dipastikan bukan lagi ancaman, tapi jalan raya masih belum berkurang kadar kekejamannya.

Indonesia itu kalau boleh saya bilang orang-orangnya adrenaline junkies, khususnya para pengendara kendaraan berknalpot. Lampu merah diterobos, kereta api mau lewat malah ditantang, pake motor tapi tanpa helm, ngebut kayaknya udah jadi keharusan, dan beragam aksi-aksi menantang maut lainnya. Bocah ingusan aja udah berani bawa mobil sendiri, ngebut pula. 😯

Indonesia juga paling pintar untuk urusan bikin peraturan. Namun paling hobi buat ngelanggarnya. Dan di dunia jalan raya, soal langgar-melanggar ini udah jadi hal biasa, bukan sesuatu yang berdosa. Apalagi etika, khususnya budaya sopan santun, menguap kalau udah masuk ranah jalan raya mah.

Inspirasi postingan ini saya dapat berkat kejadian tadi pagi. Alkisah, ketika dalam perjalanan menuju antah berantah Jatinangor, tepatnya di perempatan jalan raya Soekarno-Hatta yang ada patung Sepatu Cibaduyut, kuda besi saya dihentikan oleh lampu merah. Sebagai orang yang taat hukum, sudah barang tentu saya berhenti di area belakang zebra cross.

Seperti yang sebelumnya saya bilang, pengendara kendaraan berknalpot, orangnya pada adrenaline junkies, khususnya motoris. Selain pecandu adrenaline, spesies manusia ini seorang yang oportunis. Ga peduli mau lampu lalu lintasnya warna apa, kalau ada kesempatan buat lewat ya terobos aja. Kejadian seperti ini sering saya lihat di perempatan yang deket Terminal Leuwipanjang ini.

Bukannya merasa sok taat hukum atau sok benar, tapi da emang saya mah benar. Arti lampu merah kan perintah untuk kita berhenti. Waktu untuk memberi hak bagi para pedestriaan agar bisa menyebrang, juga agar para pengguna jalan raya lain bisa meneruskan perjalanannya. Hukum ini berlaku universal kan? 😕

Seperti yang tertulis di judul, JANGAN JADI PENGENDARA BAIK! Ya, sekali lagi, jangan jadi pengendara baik yang taat aturan jalan raya kalau ga mau diklakson sama pengendara lain. Dan kejadian inilah yang menimpa saya pagi tadi. Bukan hanya diklakson, tapi ditambah dengan body contact. Tenang, adu fisiknya cuma motor aja kok, jadi beliau mengadu-adu ban motornya dengan si Supra X saya. Isyarat agar beliau bisa punya ruang buat jalan, dan hal ini berarti saya harus masuk zebra cross. Saya sih cuma tanggapi dengan memiringkan motor, dan memberi isyarat kalau udah ada cukup ruang biar beliau bisa lewat. Dan dari air mukanya, bisa saya artikan kalau beliau sebel sama saya. Tapi wallahu alam ah, malah jadi suudzon nih.

Ya, inilah konsekuensi kalau keukeuh jadi pengendara idealis taat aturan. Kita dipaksa untuk menjadi bagian dari masyarakat, dipaksa untuk menerima segala sesuatu yang udah jadi kebiasaan umum, meski hal itu salah. 🙁

Dan akhir cerita, setelah habis menuntaskan agenda di antah berantah Jatinangor, dan setelah sebelumnya melipir dulu ke Pasar Buku Palasari, dalam perjalanan pulang ke rumah tercinta, di sebuah perempatan yang lampu lintasnya sedang merah, saya berhasil melanggar peraturan dengan berhenti secara sengaja di zebra cross. :mrgreen:

Indonesia emang negara paling demokratis, benar salah tergantung suara mayoritas. Dan saya sukses jadi bagian dari masyarakat! 😎

81 tanggapan untuk “Jangan Jadi Pengendara Baik!”

saya ngalamin juga neh. udah tahu merah, motor di belakang nyalain klakson. terpaksa minggir atau malah ngikut nerobos lampu merah juga.
menyiasatinya… saya berhenti di belakang mobil kalau kebetulan ada biar nggak diklaksonin 😀

hadeuh… semakin aneh sajah dikitamah, yang taat malah yang dianggap bermasalah. Dan simuing nyakakak setelah baca kalimat ini “… di sebuah perempatan yang lampu lintasnya sedang merah, saya berhasil melanggar peraturan dengan berhenti secara sengaja di zebra cross.” heuheu hebring kang.

eh itu batu tau kalo email sundana ‘serelek’.

Sumuhun sob, kadang serba salah
Taat aturan malah suka dianggap salah ama pengendara yang banyaknya nggak taat aturan
Tapi, mencoba untuk idealis dan taat aturan tetap pasti lebih baik 🙂
Sanes kitu kang 🙂

jujur saya masih sering melakukan itu. ya karena itu tadi, di jalan banyak tekanan. semua orang ingin duluan. lagi macet pun orang masih suka ngelakson2 yang ada di depan padahal tau sama2 gak bisa bergerak lagi. kita belum punya kesadaran buat membangun imej bersama. so I stopped fighting the demon. now we’re closer than ever. 🙄 #guilty

Saya juga ga munafik, sering juga jadi bagian dari mereka. Pernah nerobos lampu merah, pernah naek trotoar, dan pernah ngendarain ugal-ugalan. Tapi ga sering-sering amat ngelakuinnya.

Balas

Indonesia juga paling pintar untuk urusan bikin peraturan. Namun paling hobi buat ngelanggarnya.

*jleb*

Mengenai berhenti di lampu merah dan diklaksonin sama orang, saya juga pernah mas 😀 Sering malah :mrgreen: Kalau saya mah, saya diamin aja. Kecuali kalau udah ‘disentuh-sentuh’ seperti yang dialami mas, baru deh saya noleh. Dan mungkin karena motor saya gede, badan saya lumayan, jaket dan motor saya serba hitam, dan muka saya penuh bekas luka (bekas jerawat pecah, saya sering banget jerawatan, dan setiap pecah efeknya ada bengkak – merah-merah dan ungu seperti lebam) setiap kali saya pelototin si pengendara motor yang ‘nakal’ itu biasanya langsung mengkeret.

Hehe. Tidak untuk ditiru 😛

jadi gini sob, orang-orang indonesia itu sok sibuk, padahal kalaupun sesibuk-sibuk nya, bisa lah nunggu lampu merah kurang lebih 1 menit, terus kedua ya sok-sokan pengen jadi jagoan, atau pembalap, jadi bagi dia, kayak arena balap, 1 merah 2 kuning 3 hijau GOO! gitu, najis lah pokok nya.

Jakarta dan kota besar di negara kita, melanggar zona penyebrangan zebra cross jadi hal lazim. Sungguh disayangkan polisi diam saja terjadinya pelanggaran berjamaah itu.
Kalau saya tetap taat peraturan tak peduli belakang mau klakson sampai maki kayak toa, kita harus konsisten kawan. Lebih baik dibenci karena benar ketimbang menjadi bagian dari para penjahat.

Sekarang orang-orang yg salah di jalan malah lebih galak, Sob! Pengguna jalan atau pengendara yg baik malah digencet. Bagi yg nggak sabar, lama-lama malah jadi ikutan jadi pengendara yg suka melanggar aturan juga. Semoga kita termasuk di antara yg sabar, amin! 😀

Iyalah kesadaran masyarakat kita masih kurang, dalam hati mereka “orang lain melakukan saya juga iya”, yang benar itu “saya melakukan walaupun yg lain enggan”.
Pernah baca juga di blog temanku yang sudah pernah studi di Korea, ada orang foto2 dipinggir jalan raya lalu ada mobil mau lewat akhirnya mobil itu berhenti dan menunggu sampai orang foto2 itu selesai baru lewat lagi.. ckckck tingkat kesadaran di Korea tinggi men!

Katanya sih orang Indonesia itu pada ramah-ramah, tapi nyatanya ga ada sopan santun di jalan raya.
Negara hebat, orang-orangnya pun sama hebatnya. Jadi pengen studi ke Korea juga nih. 😀

Balas

Tinggalkan Balasan