Kategori
Non Fakta

Survivor: Prekuel

survivor prekuel fiksimini

“Kita bunuh semua”

“Tapi-”

“Semua! Ga boleh ada yang nyisa. Kalau lo mau, boleh lah amanin satu cewek”

“Hey! Kenapa kita ga gabung aja sama koloni mereka sih?”

“Emang mereka mau nerima? Yang ada lo malah yang mokat dibantai mereka. Udah! Kita tunggu di sini sampai pasukan pendukung datang”

“Bos.. tapi-”

“Di sini gue punya kewajiban buat ngasih makan koloni gue sendiri. Oke, lo emang anak baru, tapi gue percaya sama kemampuan lo makanya gue simpen di garis depan. Sayang lo terlalu goblok.”

xxxxxxxxxxxxxxx

Manusia sebagai pemegang kontrol dan kuasa kehilangan pamornya. Spesies yang sudah eksis sejak puluhan ribu tahun ini mengalami masa kritis. Pemuncak rantai makanan harus beralih. Manusia terlampau angkuh, merasa paling segalanya di semesta. Nyatanya kami berhasil ditaklukan hanya oleh makhluk mikroskopis.

Dari HIV, SARS, H5N1, H1N1, Marburg, sampai Ebola sempat menggegerkan umat kita. Memang sebagian dari kami mati. Hanya sebagian, cuma bikin geger saja. Namun, retrovirus yang datang terakhir ini sukses mengurangi dua pertiga populasi spesies manusia.

Lucu. Meski diambang kepunahan, manusia tetap saja terkotak-kotak. Hanya mementingkan diri sendiri, kelompok, dan koloninya. Saling menjatuhkan untuk melindungi ego sendiri.

xxxxxxxxxxxxxxx

Kuarahkan moncong revolver tepat di keningnya. Sedikit ragu. Entahlah, mungkin kematian satu orang lebih baik ketimbang merengangnya puluhan nyawa.

“Maaf. Saya emang orang goblok bos”

***

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=hNDI-WvfwXo]

Oleh Arif Abdurahman

Pekerja teks komersial, yang juga mengulik desain visual dan videografi. Pop culture nerd dan weeboo yang punya minat pada psikologi, sastra, dan sejarah.

18 tanggapan untuk “Survivor: Prekuel”

Kok merinding ya pas baca kalimat : mungkin kematian satu orang lebih baik ketimbang merengangnya puluhan nyawa.

Ngerasa dilema banget, karena setiap nyawa memiliki kepantasan untuk tetap ada dalam tubuhnya.

Tinggalkan Balasan