Kategori
Celotehanku

Dia Bernama Humaniora

Satu hal yang paling saya inginkan adalah agar otak ini berhenti bersuara barang sejenak. Dunia di luaran terlalu berisik, begitu pun dalam isi kepala ini. Andai saja bisa berhenti berpikir akan segala hal. Ah tapi bukankah Allah dalam kitab suci-Nya memberi kedudukan tinggi bagi mereka yang berpikir? Sungguh memang amanah itu suatu beban.

Mempertanyakan ulang beragam hal adalah suatu kenikmatan, sekaligus siksaan. Ya karena katanya seks paling nikmat adalah pergulatan dalam pikiran.

Saya berusaha membaca beragam hal. Namun yang dapat saya simpulkan, bacaan paling bikin kepincut adalah si cantik bernama Humaniora. Kategori yang tergolong dalam ilmu ini antara lain: Teologi, filsafat, hukum, sejarah, filologi, linguistik, kesusastraan, kesenian, dan psikologi.

Humaniora, menurut KBBI, adalah ilmu-ilmu pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi, dalam arti membuat manusia lebih berbudaya. Saya telat baru kenal istilah ini sekarang. Memang sih, cinta datang selalu terlambat.

| Nilai yang diwariskan oleh kemanusiaan hanya untuk mereka yang mengerti dan membutuhkan. Humaniora memang indah bila diucapkan para mahaguru—indah pula didengar oleh mahasiswa berbakat dan toh menyebalkan bagi mahasiswa-mahasiswa bebal. Berbahagialah kalian, mahasiswa bebal, karena kalian dibenarkan berbuat segala-galanya. – Pram

Ya Allah selalu masukan saya dalam golongan orang yang menuntut ilmu, bukan untuk meraih kegagahan intelektual. Untuk pendidikan akal sehat, bukan pendudukan akal sehat. Untuk pendidikan ilmu sosial, bukan pendakian tangga sosial. Saya hanya ingin bertanggung jawab terhadap nama pemberian orang tua ini, Arif.

8 tanggapan untuk “Dia Bernama Humaniora”

Tinggalkan Balasan