Kategori
Non Fakta

Memoar Domba Tersesat dari Cimahi

“Mereka sudah tiba di Bandung!”

Syahdan, tersiar kabar ada sepasukan bangsa bermata sipit hendak bikin onar. Paniklah manusia yang Totok begitupun Indo, kelimpungan takut dihabisi Nippon.

Dari Cimahi, hiduplah dia yang seorang Indo, berbapak Belanda beribu babu. Seorang dokter, dan katanya sih juga seorang vrijdenker. Memang saat itu lagi tren soal ateis, agnostik, dan beragam jenis lainnya. Banyak umat malas beribadat yang melakukan pembenaran dengan memakan bacotan Nietzsche dari kemarin awal abad. Maka begitupun yang terjadi sama si katolik yang pas bocahnya taat benar ini, yang sekarang sudah amnesia dengan doa-doa rosario. Namun meski sudah sedikit murtad, tak percaya lagi pada-Nya, dia tetap berkawan baik dengan Pastor Bart Leenders. Sohibnya sejak kecil, dan teman ngobrol sampai sekarang.

“Oh mungkin suatu saat deh Bart,” ucapnya buat menghentikan cerocosan dakwah pastor Gereja St. Ignatius Cimahi itu.

***

Senja menggelayut di Cimahi, bulan saat itu sedang Maret 1942. Entah setan apa yang bikin dia berlari terkencang-kencing. Oh sekarang dia percaya kembali ada makhluk bernama setan rupanya. Memang ketika kematian mendekat, secara otomatis kita mecoba berdekat-dekatan kembali dengan Sang Pengatar Maut. Di saat larinya, dia terus komat-kamit merapal doa-doa dan puja-puji masa kecilnya saat masih aktif jadi regu paduan suara dulu. Dulu sekali.

Namun nahas, sebelum sampai di gereja, sebilah katana ujug-ujug mengiris lehernya.

Seberkas cahaya pun turun, “Ah kau pulang juga rupanya”.

“Maafkan aku, ketimbang jadi orang beriman aku rupanya lebih suka jadi orang bermain”.

gereja st ignatius cimahi

+

Cerita yang ditulis setelah mengkhatamkan Namaku Mata Hari-nya Remy Sylado dan perjalanan bersama Komunitas Aleut di Gereja St. Ignatius Cimahi.

23 tanggapan untuk “Memoar Domba Tersesat dari Cimahi”

Bersembahyanglah sebelum disembahyangi, agaknya begitu ya Mas? :hehe.
Gaya berceritanya unik! Tak boros kata tapi adegannya tergambar dengan sangat baik, suasananya pun terasa. Apalagi ada foto gerejanya, semakin vivid rasanya pengalaman membaca ini :)).
Semoga arwah si domba tersesat mendapat tempat yang pantas di sisi-Nya :)).

Padahal masih karya sampah gini. Yg pasti menulis itu adalah bagian dari membaca, bukan sebaliknya. Harus rakus baca yg penting.
Dan mungkin harus ada unsur presensi, harus bener-bener hadir dulu ke tempat yg dijadiin latar cerita kita.

Balas

Tinggalkan Balasan