Kategori
Inspirasi

Kearifan Pesimisme

Sebenarnya apa bedanya antara pesimis, berpikir realistis, dan bersyukur? Ya, secara makna, ketiga istilah ini masing-masing punya arti berbeda. Tapi kalau dipikir-pikir, nggak terlalu berbeda, ketiganya punya persamaan, sama-sama pasrah dengan keadaan yang ada dan sama-sama agar kita nggak terlalu kelewatan berekpektasi. Meski memang, pesimisme dianggap sebagai kata yang negatif, jelek untuk dipakai.

Apapun itu, sikap pesimisme juga bisa memandu kita untuk mencapai yang namanya kebahagiaan. Ada sebuah rumus, bahwa kebahagiaan itu merupakan hasil dari realita yang dibagi dengan ekpektasi. Jadi, cara untuk berbahagia adalah dengan mengubah realita agar sesuai ekpektasi, lebih bagus lagi melebihinya, atau yang paling mudah adalah dengan menurunkan ekpektasi kita.

Ini dinamakan pesimisme atau apa, yang pasti masih ada kearifan yang bisa dipetik lewat sudut pandang melihat bahwa sebuah gelas itu setengah kosong, ketimbang setengah terisi. Pesimisme adalah bentuk pertahanan diri kita dari penyesalan, agar tidak terlalu kecewa ketika mendapat kegagalan.

Hari ini sungguh menyebalkan, besok dan seterusnya mungkin akan lebih buruk lagi, maka inilah hidup, alhamdulillah-nya saya masih bisa hidup. Lantas apa yang salah dengan pikiran semacam ini?

10 tanggapan untuk “Kearifan Pesimisme”

Mungkin dalam sebuah rentang, pesimis itu ekstremnya kali ya. Di tengah-tengah ada realistis, sebelah sananya lagi bersyukur, sampai ke paling ujung sebelah sana (entah sana yang mana) ada optimis buta, sudah tahu tembok masih juga ditabrak :hehe. Tinggal di sebelah mananya saja kita mesti menempatkan diri, itu bergantung pada kearifan dan pengalaman kali ya Mas :hehe.

Jadi ini maksudnya kita harus berpikir rugi dulu, kalau ternyata hasilnya untung, nah di situ letak kebahagiaannya.. Pikiran seperti ini sering dipakai sih, karena seringnya yg diharapkan malah gak tercapai.

Tinggalkan Balasan