Kategori
Celotehanku

Julian Barnes dan Leicester City

julian barnes leicester

Jika Salman Rushdie pendukung Tottenham Hotspur, maka Julian Barnes adalah fans Leicester City. Saat Chelsea menahan imbang Spurs, sehingga memantapkan Leicester jadi jawara Liga Inggris musim 2015-16, Rushdie dan saya sudah pasti senewen, sementara Barnes berbinar-binar. Ketika Persib juara, saya sampai berani buka kaus, bertelanjang dada dan lari ke jalan, lalu menari kayak orang gila, entah bagaimana reaksi seorang Barnes, saya enggak tahu.

“Mereka tim yang bagus,” ia menulis tentang Leicester City, “sebuah tim yang sangat baik kadang-kadang, namun mereka sepertinya tidak pernah memenangkan sesuatu yang besar.” Di surga, seperti yang diceritakan dalam bab berjudul The Dream di novelnya yang meraih Man Brooker Prize 2011 itu, Leicester memenangkan laga dengan skor akhir 5-4 dalam perpanjangan waktu, menjadi jawara Piala FA. Enggak berhenti sampai sana, Leicester bukan hanya memenangkan Piala FA, tapi kemudian seluruh pemain tim mereka dipilih untuk bermain untuk timnas Inggris, sampai berujung memenangkan Piala Dunia. Di bab penutup novel A History of the World in 10½ Chapters (sudah ada terjemahannya berjudul Sejarah Dunia dalam 10½ Bab yang disunting Arif yang lain) itu, Julian Barnes mengkhayalkan kondisi surga: Sarapan sempurna dengan sosis, kembalinya celana korduroy favoritnya, bercinta tiada henti, kemenangan golf dengan skor luar biasa yang tak berujung, pertemuan langsung dengan Judy Garland beserta tokoh-tokoh ternama lainnya, serta yang paling penting kejayaan Leicester tadi.

Julian Barnes memang dilahirkan di Leicester, meski enam minggu setelahnya langsung pindah ke London. Ikatan emosional terbentuk pada usia dini, Barnes sendiri mulai mendukung ketika masih berusia empat atau lima tahun. “Setelah beberapa saat, kau mulai menikmati masokisme dalam mendukung tim yang berada di papan tengah,” ujar Barnes seperti yang dikutip dalam The Guardian. “Ditambah itu praktek yang sangat baik untuk mendukung Inggris!”

Pertama kali Barnes benar-benar jatuh hati pada Leicester justru saat menyaksikan kekalahan pada final Piala FA 1961 dari Spurs. “Muncul gagasan bahwa mendukung mereka adalah bentuk penderitaan,” batinnya. “Setelah empat final Piala sejak perang, dan empat-empatnya kalah, tampaknya sudah cukup membuktikan.”

Selamat Leicester! Apakah kejayaanmu akan berlanjut? Bisakah jadi jawara Piala FA saat dunia masih eksis, atau kudu menunggu sampai Julian Barnes masuk surga? Yang pasti, memang lebih nikmat mendukung tim medioker yang jadi hebat, ketimbang sebaliknya, dukung tim langganan papan atas yang sayangnya jadi medioker. Duh.

Oleh Arif Abdurahman

Pekerja teks komersial, yang juga mengulik desain visual dan videografi. Pop culture nerd dan weeboo yang punya minat pada psikologi, sastra, dan sejarah.

4 tanggapan untuk “Julian Barnes dan Leicester City”

“…tim langganan papan atas yang sayangnya jadi medioker…” atuhlah nyindir siapaaa wkwk. tapi lebih mending juga daripada tim langganan papan atas tapi nggak pernah juara. huhuhu.

Tinggalkan Balasan