Kategori
Celotehanku

Kenapa Kucing Menyebrang Jalan?

maxresdefault

1

Melangkah, melompat, berlari, kemudian modar. Tubuhnya pecah, kulitnya gepeng jadi keset, mampus seketika. Dilindas bus Damri Elang-Jatinangor. Entah itu nyawa kesembilannya, atau sembilan nyawanya langsung tercabut. Mungkin kudu diupayakan penyuluhan cara menyeberang yang baik dan benar untuk para kucing jalanan. Ayam juga, mereka sering menyeberang seenak anus. Tapi ayam lebih pintar soal ini ketimbang kucing. Lebih gesit dan lebih beruntung, tepatnya. Belum ada statistik resmi, sih. Hanya pengamatan sekilas. Sepanjang Jalan Raya Pos yang sering saya lewati, baik itu karena digilas bus atau truk tronton atau angkot atau, yang paling komikal, oleh angkutan elf Enk Ink Enk, kucing-kucinglah yang sering jadi korban. Kematian cepat, dengan sekarat pendek, tentu dinantikan, namun tak elok. Kalau saja kasusnya seperti di kartun Tom & Jerry, dengan hasil akhir tak ada isi perut yang terburai, dilindas mobil sampai mati adalah kebahagiaan akhir hayat. Bukan hanya untuk kucing.

2

Pukul sembilan malam, lelaki itu pulang. Dengan menambahkan imbuhan “ber-” pada kata pulang, kalimat sebelum ini pasti bakal lebih dramatis. Tapi cerita ini bukan soal kematian, bukan pulan cerpen koran minggu Kompas. Baiklah. Pukul sembilan malam, lelaki itu pulang. Buahbatu telah menjadi malam, dan telah kopi ketiga, pukul sembilan dia pulang. Dia pulang. Pulang. Pulang? Pulang yang bagaimana yang dia maksud? Apa artinya pulang? Kenapa harus pulang? Kenapa harus pulang dan kembali untuk kemudian kembali pulang dan mengulanginya? Oke, bukan lelaki itu yang memikirkan ini. Agar tak menjadi cerita spekulasi filsafat sok eksistensialis, saya stop saja suara pikiran saya itu. Pukul sembilan malam, lelaki itu pulang. Motor ringkiknya dilecut. Karena ini bukan laporan cuaca, bukan juga laporan lalu lintas, saya tak akan merinci apakah malamnya dingin atau berangin atau bulannya sedang purnama atau jalanan macet atau ada kucing tergilas Avanza atau ada lampu jalan di daerah Cikakak yang mati atau apakah motornya layak jalan dan surat-suratnya lengkap. Pukul sembilan malam, lelaki itu pulang. Motor ringkiknya melenguh, tetap menderu. Di perjalanan, lelaki itu mengamati seorang perempuan dengan rambut sebahu yang sedang berjalan sendirian. Jins ketat yang dipakai si perempuan bikin si lelaki teringat pada film-film yang diputar dari pagi sampai sore tadi – saya yang memutar film-film tadi, ada dua film dari Park Chan Wook yang memang erotis. Sebuah skenario timbul di pikiran si lelaki: Dia memperlambat laju motor, lalu mengajak kenalan perempuan itu. Skenario lanjutannya dan ini mungkin hasil akhirnya: si lelaki bisa ewean dengan si perempuan. Tapi, tentu saja, akhir cerita begini terlalu indah untuk si lelaki. Skenario paling mungkin dicapai si lelaki malam ini: pulang. Si lelaki masih memikirkan perempuan dengan jins ketat tadi. Apa jadinya semua laki-laki kalau, cara melihat menarik tidaknya seorang perempuan dipandang dari lekuk tubuh bagian belakang? pikir si lelaki. Ya, si lelaki yang bertanya-tanya. Saya ingin menjawab dengan teori-teori psikoanalisa dan beberapa kajian feminis, namun saya tak mau berdakwah. Pukul sembilan malam, lelaki itu pulang.

3

Sabtu kemarin, kucingnya mati. Beberapa hari sebelumnya, dia bertanya kepada saya kenapa banyak penulis punya kucing. Bermukim kebijakan dan beragam nubuat di rambut ikalnya. Saya sodorkan postingan blog saya di tahun 2015. Beberapa hari sebelumnya juga, beberapa hari sebelum kucingnya mati, ada pesan masuk menanyakan apakah saya punya tulisan untuk dirilis akhir pekan. Yang paling terpikir, tentu saja menyulap tulisan lama tadi, menambahkan riset soal sejarah domestikasi kucing dan kisah para penulis yang memelihara kucing, dengan lebih sastrawi. Sabtu kemarin, kucingnya mati, dan tulisan saya belum rampung. Sabtu kemarin, kucingnya mati, dan saya belum terlalu mengenal kucingnya serta dirinya, sehingga cerita di poin ketiga ini hanya sampai sini. Saya teringat sebuah ujaran dari Edgar Allan Poe: Aku harap aku bisa menulis semisterius mungkin layaknya kucing.

5 tanggapan untuk “Kenapa Kucing Menyebrang Jalan?”

Wah, dimana list rekomendasinya kalau boleh tau?
Kalau tikus sih biasanya yg udah mati duluan, bangkai yg dibuang ke jalan baru kelindes. Tikus got emang sering juga jadi penyeberang yg buruk.

Balas

Tinggalkan Balasan