Kategori
Catutan Pinggir

Sejarah Singkat Kiamat

wanderer above the sea of end of the world

Menyebut bahwa kiamat adalah obsesi modern seperti membongkar skandal mengejutkan tentang agama sang Paus. Melihat berjilid-jilid seri, tidak pernah ada era ketika kisah apokaliptik dan pasca-apokaliptik diproduksi berlimpah dan variasi yang lebih luas daripada yang kita lihat hari ini. Saya tak mengeluh, hanya menyelaraskan dengan zeitgeist hari ini. Saya hanya ingin mengajukan sebuah poin.

Sebagiannya, tentu saja, ini adalah kasus selera yang tercipta karena tren. Anda membaca buku, menikmatinya, dan mencari sesuatu dengan nada yang sama. Dan sebagian penerbit menanggapi dan mengakomodasi selera tersebut. Tetapi saya berpendapat bahwa ini adalah proses reaktif. Mereka baru memulai setelah sesuatu sudah mulai terjadi. Dan dalam kasus ini, ada sesuatu itu yang membuat penulis melirik kiamat sebagai tema yang perlu dijelajahi.

Kita sudah pernah di sini sebelumnya, tentu saja. Kiamat memegang daya tarik abadi bagi kita, dan kita tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekatinya, dari waktu ke waktu. Tetapi era modern berbeda dalam banyak hal. Sampai saat ini, narasi kiamat kebanyakan adalah masih di area teks-teks keagamaan, yang telah memberi tahu kita bagaimana hal-hal yang terjadi di tempat mula berkewajiban untuk menyelesaikan semua alur cerita pada akhirnya. Tapi setelah kita menemukan novel (awal abad kedelapan belas) dan keaksaraan universal (masih terus berlangsung) pergeseran yang tak dapat ditawar-tawar dimulai. Awalnya lambat, namun secara bertahap tema dan gagasan tersebut menjadi topik fiksi populer yang dikonsumsi oleh sejumlah besar orang.

Pada saat itu mereka bebas berevolusi. Kitab suci tidak, tidak terlalu banyak, kecuali melalui liku-liku tafsir terjemahan. Selalu ada fundamentalis yang siap untuk marah jika Anda mengubah koma. Novel, di sisi lain, karena cara mereka diproduksi dan dikonsumsi, berkembang biak seperti kelinci, menggerogoti DNA seperti virus dan berubah lebih cepat dan tak terduga ketimbang burung kutilangnya Darwin.

Itu juga berlaku untuk genre, bukan cuma novel apokaliptik. Setiap gelombang perangkat plot kiamat berbeda dari yang sebelumnya, dan saya pikir perubahan tersebut memberi tahu kita sesuatu tentang diri kita sendiri. Atau setidaknya, sesuatu tentang mimpi buruk dan neurosis kita, yang dengannya novel apokaliptik bermain-main dan sebagiannya untuk menenangkan kita.

Setiap generasi melihat akhir dunia melalui prisma realitasnya sehari-hari. Dan popularitas fiksi apokaliptik nampaknya naik dan turun seiring dengan ketakutan dan ketegangan dunia nyata dan ketidakamanan. Taksonomi hanya membawa kita sejauh ini. Apa yang luar biasa tentang narasi pasca-apokaliptik terbaik adalah apa yang mereka lakukan dengan premis awal mereka – jenis cerita apa yang mereka angkat dari batu loncatan malapetaka global.

*

Baca tulisan lengkapnya di Sejarah Singkat Kiamat.

Tinggalkan Balasan