Kategori
Uncategorized

Perbudakan Seksual di Masa Fasisme Jepang

Kekerasan seksual sama tuanya dengan perang. Ketiadaan hukum selama perang dan konflik sipil seringnya menciptakan impunitas terhadap pelanggaran hak asasi manusia pada warga sipil. Susan Brownmiller dalam Against Our Will: Men, Women, Rape mengemukakan tesis bahwa perang memberi para lelaki latar belakang psikologis yang sempurna untuk melampiaskan kenistaan mereka terhadap perempuan. Militer yang begitu maskulin dan macho, dari senjata yang mereka pegang, ikatan batin antar laki-laki, disiplin kejantanan dalam sistem komando, menegaskan bagi lelaki apa yang mereka curigai: bahwa perempuan cuma periferal, tak masuk hitungan.

Perempuan sebagai korban masih harus berada dalam medan tempur meski perang sudah usai. Salah satu contoh kasus perbudakan seksual yang masih berlarut-larut sampai hari ini adalah jugun ianfu atau comfort women — istilah ini sebenarnya menyesatkan, sebuah eufisme untuk pelacur. Perkiraan bervariasi soal berapa banyak korban perempuan, dari 20.000 sampai 360.000 hingga 410.000; angka pastinya masih terus diteliti dan diperdebatkan. Sebagian besar wanita berasal dari negara-negara yang Jepang duduki. Menurut kesaksian, perempuan muda diculik dari rumah mereka di negara-negara di bawah pemerintahan Kekaisaran Jepang. Dalam banyak kasus, perempuan dipikat dengan janji-janji kerja di pabrik atau restoran, atau peluang untuk melanjutkan pendidikan; Setelah direkrut, mereka dipenjara di rumah bordil militer.

Meskipun rumah bordil militer Kekaisaran Jepang telah ada sejak 1932, mereka makin berkembang luas setelah satu insiden paling terkenal dalam upaya Jepang untuk mengambil alih Republik Cina: Perkosaan Nanking. Pada 13 Desember 1937, pasukan Jepang memulai pembantaian selama enam minggu, untuk menghancurkan kota Nanking di Cina. Dalam perjalanannya, pasukan Jepang memperkosa antara 20.000 dan 80.000 perempuan Cina. Perkosaan massal itu bakal menggegerkan dunia, dan Kaisar Hirohito khawatir dengan dampaknya terhadap citra Jepang. Sejarawan hukum Carmen M. Agibaynotes dalam Sexual Slavery and the Comfort Women of World War II mencatat bahwa Hirohito memerintahkan militer untuk memperluas apa yang disebut “stasiun penghibur,” atau rumah pelacuran militer, dalam upaya untuk mencegah kekejaman lebih lanjut, sekaligus mengurangi penyakit menular seksual dan memastikan kelompok pelacur yang stabil dan terisolasi guna memuaskan hasrat seksual prajurit Jepang. Awalnya wanita penghibur adalah pelacur Jepang yang menawarkan diri untuk layanan tersebut. Namun, ketika Jepang terus melancarkan ekspansinya, militer mendapati dirinya kekurangan relawan Jepang, dan beralih ke penduduk setempat dengan cara menculik atau memaksa perempuan untuk melayani di stasiun-stasiun ini. Banyak perempuan ditawari untuk bekerja sebagai pekerja pabrik atau perawat, tidak tahu kalau mereka bakal dipaksa jadi budak seksual.

Sudah setengah abad lebih, tetapi rincian perbudakan tersebut tetap menyakitkan. Yang menjadi masalah, di negara-negara Konfusian seperti Korea dan Cina, ketika seks pranikah dianggap memalukan, isu perbudakan seksual selama masa imperialisme Jepang diabaikan selama beberapa dekade setelah 1945. Dalam budaya Konfusianisme, secara tradisional seorang perempuan yang belum menikah harus menghargai kesuciannya di atas hidupnya sendiri, dan setiap perempuan yang kehilangan keperawanannya sebelum menikah lebih baik mati saja; dengan memilih untuk hidup, para penyintas menjadikan diri mereka layaknya orang buangan. Hal ini terjadi pula di Indonesia, ketika isu ini mencuat dan beberapa penyintas buka suara, pihak otoritas malah mengeluarkan jargon khasnya, “Karena budaya timur tak usah mengungkit borok masa lalu bla bla bla,” dan meminta para penyintas tadi tutup mulut.

Snowy Road menjadi salah satu film yang menyorot salah satu masa paling sulit ini. Kedua gadis itu begitu cantik, awet muda dan bersemangat, hanya untuk menyaksikan dunianya tiba-tiba hancur. Perempuan muda, gadis masih bocah, semuanya dibawa pergi tentara Jepang untuk ditempatkan di sebuah kamp. Film ini bergeser dari masa lalu ke masa sekarang, memotong antara dua periode untuk memperkuat bagaimana hak-hak perempuan telah berubah dan seberapa jauh mereka melaju. Sang korban yang telah menua terus dihantui masa lalu. Kita benar-benar ingin mereka akhirnya menemukan kedamaian yang mereka butuhkan untuk maju dan bebas. Snowy Road menyajikan isu ini dengan baik, berusaha mengartikulasikan bahwa perempuan perlu bersatu melawan ketidakadilan di masa lalu dan hari ini, ketimbang menginternalisasi rasa bersalah dan malu.

Selama beberapa dekade setelah Perang Dunia II usai, sejarah perbudakan seksual ini tak terdokumentasi dan tak diketahui. Baru pada 1980-an, beberapa perempuan mulai berbagi kisah mereka. Kemudian pada tahun 1987, setelah Korea Selatan menjadi negara demokrasi liberal, para perempuan mulai mendiskusikan tragedi mereka di depan umum. Pada tahun-tahun berikutnya, semakin banyak perempuan maju untuk memberikan kesaksian.

*

Ini merupakan esai pengantar untuk diskusi Selasar Weekend Cinema.

Tinggalkan Balasan