Kategori
Uncategorized

Homo Fictus

Dari lukisan primitif pada dinding gua sampai presentasi PowerPoint, manusia terus dibentuk oleh cerita. Barangkali cerita merupakan kekuatan utama yang koheren dalam kehidupan manusia. Manusia terdiri dari orang-orang yang penuh kepecahan dengan kepribadian, tujuan, dan agenda yang berbeda. Apa lagi yang menghubungkan kita di luar hubungan biologis kekeluargaan selain cerita?

Harimau atau ajak lebih cepat dari kita, gajah lebih kuat dari kita, dan kita sebenarnya cuma spesies monyet saat puluhan ribu tahun yang lalu, sama insignifikannya layaknya ubur-ubur atau semut rangrang. Hari ini pun, jika seorang manusia dan seekor simpanse ditempatkan dalam sebuah pulau tak berpenghuni, saya berani bertaruh bahwa si simpanse yang bakal lebih panjang bertahan hidup. Dalam level individu, kita memang kalah. Namun berkat kemampuan bercerita dan berkelompok, manusia bisa mengontrol planet ini.

Argumen utama Yuval Noah Harari dalam Sapiens: A Brief History of Humankind adalah bahwa manusia bisa mendominasi dunia karena ia adalah satu-satunya hewan yang dapat bekerja sama secara fleksibel dalam jumlah besar. Semut atau lebah bisa bekerja sama dalam kuantitas banyak, namun mereka terlalu kaku, pernahkah mereka membentuk serikat pekerja lalu melancarkan revolusi proletariat, misalnya? Harari lebih lanjut berpendapat bahwa kemampuan Sapiens untuk bekerja sama dalam jumlah besar muncul dari kapasitas uniknya untuk percaya pada hal-hal yang murni dalam imajinasi: tuhan, bangsa, uang, hak asasi manusia dan beragam fiksi yang menjadi realita sosial yang mengikat. Hanya manusia yang diberkati kemampuan bercerita. Harari mengklaim bahwa semua sistem kerjasama manusia skala besar, apakah itu agama, struktur politik, jaringan perdagangan, dan lembaga hukum, berutang kemunculannya pada kapasitas kognitif khas Sapiens untuk bercerita.

Jika saja ada seekor simpanse menyerukan bahwa di atas awan sana ada entitas simpanse maha kuat, dan diamini simpanse lain, lalu si simpanse pendakwah tadi mengompori bahwa simpanse lain yang tak mengimani harus dibantai dan bahwa para simpanse yang mengikuti ajarannya bakal diganjar pisang tak terbatas di semesta lain kalau-kalau mereka mati. Namun simpanse hanya percaya pada realita obyektif. Simpanse akan takut dan lari kalau ada singa mendekat. Simpanse pasti tak percaya soal konsep hari akhir. Hanya manusia yang punya pencerita bernama nabi yang bisa sukses dalam mengikatkan sekelompok manusia dalam sebuah identitas bernama agama. Ada beragam identitas lainnya, dengan masing-masing penceritanya sendiri.

Cerita, dengan kata lain, terus memenuhi fungsi kuno masyarakat yang mengikat dengan memperkuat satu set nilai-nilai umum dan memperkuat ikatan budaya. Cerita mendefinisikan kita. Cerita memberitahu kita apa yang terpuji dan apa yang hina. Cerita adalah perekat manusia: mendorong kita untuk berperilaku baik, cerita mengurangi gesekan sosial sementara menyatukan orang-orang dalam nilai-nilai umum. Cerita menyeragamkan kita; cerita membuat kita jadi satu.

Tentu saja, insting bercerita kita memiliki sisi gelap. Cerita membuat kita rentan terhadap teori konspirasi, pamflet propaganda, iklan dan narasi soal diri kita yang lebih “benar”. Mitos-mitos nasional bahkan bisa jadi sangat berbahaya: ambisi Hitler sebagian didorong oleh sebuah cerita. Jika bercerita punya semacam standar keberhasilan, maka itu adalah ketika para pendengarnya tertipu. Untuk jadi playboy tak perlu tampang rupawan, cukup punya kemampuan bercerita mumpuni, mereka adalah secakap-cakapnya propagandais.

Dalam lingkup yang lebih sempit, kemampuan bercerita memang sangat berdampak. Cerita menciptakan empati, dan ini pula yang dipakai periklanan. Secara fisiologis, saat bercerita dan mendengarkannya, tubuh kita mengocorkan hormon oksitosin. Bikin kita lebih rileks. Hormon ini punya efek pada perilaku prososial, seperti perannya dalam memfasilitasi kepercayaan dan keterikatan antar individu. Dengan bercerita kita menciptakan ikatan. Cerita bikin kita lebih manusia.

*

Sumber gambar: Everstring

Tinggalkan Balasan