Kategori
Uncategorized

Ode To My Father (2014) dan Sejarah Kontemporer Korea Selatan

ode to my father korea film

Kisah ini mengikuti kehidupan luar biasa seorang Deok-soo, dari masa kecilnya hingga usia tuanya, yang merentang dari perang ke perang di masa Perang Dingin. Sama seperti karakter utama Forrest Gump (1994), Deok-soo mengalami beberapa peristiwa paling penting di sepanjang sejarah kontemporer negaranya.

Deok-soo hampir menjadi metafora untuk seluruh generasinya, generasi yang hidup melalui Perang Korea, dikirim ke tanah asing untuk mendapatkan uang untuk bertahan hidup, maju ke perang Vietnam dan banyak lagi.

Daek-soo dalam Lintasan Sejarah Korea Selatan Kontemporer

Kekuatan pendorong utama di balik semua tindakan Deok-soo adalah untuk mengayomi keluarganya. Evakuasi Hungnam, yang dilakukan oleh pasukan PBB pada akhir Desember 1950, adalah upaya evakuasi sekitar 100.000 pengungsi Korea Utara melalui laut. Sekitar 14.000 pengungsi ini diangkut ke satu kapal, SS Meredith Victory. Kapal laut ini yang mengangkut keluarga Deok-soo, kecuali ayah dan adik perempuannya yang secara tragis tertinggal.

Seorang Deok-soo yang lebih tua segera mendapati dirinya terbang menuju Jerman Barat untuk memulai kehidupan sebagai penambang. Mulai tahun 1963 dan berjalan hingga 1977, inisiatif penyaluran pekerja antara pemerintah Korea Selatan dan Jerman Barat dijalin. Hampir 8.000 pria muda Korea dikirim ke Jerman Barat untuk bekerja di tambang selama tiga tahun dengan imbalan bantuan keuangan untuk Korea Selatan yang masih dilanda kemiskinan. Demikian juga, cinta Deok-soo adalah salah satu dari banyak perempuan Korea Selatan yang dikirim untuk bekerja sebagai perawat. Meskipun bayarannya lebih baik daripada pekerjaan apa pun yang mereka dapat temukan di rumah, kondisi kerjanya di bawah standar dan diyakini bahwa sekitar 117 penambang Korea meninggal di tambang.

Sekembalinya dari Jerman Barat, Deok-soo menetap dan memulai sebuah keluarga sendiri tetapi tidak lama sampai situasi keuangan keluarganya mengharuskannya sekali lagi berangkat untuk menghasilkan uang di luar negeri. Namun kali ini, ia mendapati dirinya mendaftarkan diri sebagai teknisi dalam Perang Vietnam. Korea Selatan menuruti permintaan dari Amerika Serikat untuk membantu di Perang Vietnam, sebab Korea Selatan masih sangat bergantung pada Paman Sam untuk bantuan dan tenaga kerja di negaranya dan karena itu mengirim sejumlah pasukan untuk membantu upaya Amerika melawan komunisme. Total 312.853 tentara Korea Selatan dikirim ke Vietnam, nomor dua setelah pasukan Amerika Serikat di Hanoi.

Pada awalnya Deok-soo percaya bahwa sebagai seorang teknisi ia tidak harus menanggung kesengsaraan dengan kengerian perang, tetapi perang tetaplah perang. Dalam adegan pedih menjelang akhir film ketika Deok-soo menulis kepada istrinya dari Vietnam. Dia memberi tahu istrinya betapa dia bahagia bahwa, jika ada, kesulitan yang dia hadapi terjadi pada generasi mereka dan bahwa anak-anak mereka tidak akan harus mengalami kesulitan yang sama. Ini merangkum karakter Deok-soo dalam satu adegan – bahkan sejak usia muda ia lebih dari senang untuk mengorbankan segalanya untuk kebaikan keluarganya dan kebahagiaan orang lain.

Dari sejarah yang ditimbulkan, momen terkucurnya air mata adalah ketika reka ulang siaran KBS tahun 1983 yang bertujuan untuk menyatukan kembali keluarga yang terpisah selama perang Korea. Semacam tali kasih.

Deok-soo dalam perjalanannya sering berjumpa dengan tokoh-tokoh menarik dari catatan sejarah. Di antara tokoh-tokoh penting yang bertemu dengan Deok-soo adalah pendiri Hyundai, Chung Ju-Yung, yang ditemui Deok-soo muda saat jadi tukang semir sepatu di jalanan Busan. Di kemudian hari, Deok-soo bertemu dengan perancang busana eksentrik bernama Andre Kim, yang sedang mencari kain yang dibutuhkannya untuk sebuah desain.

Mungkin orang yang paling berpengaruh pada Deok-soo adalah Nam Jin, penyanyi trot terkenal yang ia temui di garis depan saat Perang Vietnam. Trot sendiri adalah bentuk musik pop Korea yang memadukan unsur-unsur Korea dengan pengaruh dari musik Jepang dan Barat, dan dianggap sebagai bentuk musik pop Korea tertua, semacam dangdutnya Korea.

Karena fokusnya pada satu karakter orang biasa yang hidup melalui sejarah modern suatu negara, film ini dilabeli Forrest Gump-nya Korea, sebuah perbandingan yang dengan mudah sang sutradara setujui.

“Dalam Forrest Gump, perubahan sosial dan historis di Amerika diceritakan melalui satu mata protagonis. Ada film seperti ini di setiap negara – seperti serial film Always-nya Takashi Yamazaki di Jepang, atau To Live-nya Zhang Yimou di China – kecuali Korea, jadi ada baiknya orang-orang memikirkan Forrest Gump ketika mereka menonton film saya.”

Sang sutradara percaya bahwa karakteristik umum dari semua filmnya adalah bahwa penonton mereka selalu menyukai roller coaster emosional.

Tinggalkan Balasan