Kategori
Anime

FLCL: Anime Eksperimental dan Surealis

Anime ini adalah salah satu yang paling absurd yang pernah saya tonton.

Setelah melewati dua dekade, FLCL tetap menonjol melalui ceritanya yang tak masuk akal, sarat dengan sindiran, dan garis batas yang disajikan melalui visual yang seringnya abstrak.

Sutradara Kazuya Tsurumaki, seorang animator kawakan di studio Gainax dan anak didik Hideaki Anno sang pencipta Neon Genesis Evangelion itu, dengan ambisius memutuskan untuk melanggar aturan anime yang ada melalui visual eklektik, pendekatan anti-narasi, dan soundtrack yang tidak biasa. FLCL diciptakan bersama penulis Yōji Enokido, yang juga seorang veteran Evangelion, juga Sailor Moon.

Dengan 6 episode, FLCL menjadi semacam anime cult. Sejak anime ini dirilis di tahun 2000, secara mengejutkan FLCL dibangkitkan kembali pada Juni 2018 dengan musim kedua dan musim ketiga, masing-masing dengan tambahan judul Progressive dan Alternative, yang meski memperluas konten dan mitologinya, tapi tak bisa mengembalikan kehebatan yang dulu.

Absurditas dan Surealisme FLCL

Premis dasar dari FLCL terdengar cukup sederhana: Naota Nandaba adalah siswa kelas enam yang tinggal di Mabase, sebuah kota biasa-biasa yang tidak akan ada yang luar biasa terjadi. Setelah kakak lelakinya Tasuku meninggalkan kota ini untuk bermain bisbol di Amerika, Naota mengawasi semua yang ditinggalkan Tasuku, dari tempat tidur susun hingga Mamimi Samejima, mantan pacar kakaknya.

Kehidupan kota kecil Naota diguncang oleh kedatangan Haruko Haruhara, seorang psikopat berambut merah muda yang mengendarai Vespa kuning dan menggunakan gitar bass layaknya palu gada. Pertemuan pertama keduanya meninggalkan Naota dengan tanduk aneh di kepalanya, yang memunculkan robot besar berkepala televisi, yang kemudian dinamai Canti. Hal-hal hanya jadi makin aneh sejak dari sini.

flcl gainax anime

Didorong oleh gaya eksperimental dan surealis, FLCL menolak kiasan kisah-kisah coming-of-age, menentang logika naratif dan sebaliknya, mengandalkan dorongan hati. Demikian pula, animasi itu sendiri dihidupkan dengan cepat dan begitu longgar. Karakter dan dunia di sekitar mereka sama-sama fleksibel dan cair, karena FLCL mengambil bentuk dan gaya apa pun yang diinginkannya setiap saat.

FLCL begitu aneh, bahkan para karakternya mempertanyakan sebenarnya apa yang sedang terjadi. Dalam salah satu adegan paling awal ketika tiba-tiba gaya animasi berubah jadi manga hitam putih, ayah Naota mempertanyakan apa arti istilah FLCL. Jawaban yang kita dapati begitu membingungkan. Setiap episode dengan sengaja membingungkan, yang mencerminkan kekacauan emosi Naota dan kejutan memasuki masa remaja. Tumbuh dewasa di FLCL tampaknya konyol, mengingat bahwa sebagian besar orang dewasa di sana cabul dan kurang kompeten, bahkan lebih tidak dewasa ketimbang anak-anak.

FLCL yang Tak Terdefinisi

Seperti halnya setiap konsep lain yang dikunyah dan dimuntahkan kembali oleh FLCL, ia memelintir kiasan kacangan menjadi sesuatu yang absurd, seperti keterlibatan terus-menerus dengan kengerian tubuh, metafora untuk penderitaan tumbuh dewasa yang diwakili oleh beberapa orang lewat semacam metamorfosis yang aneh. Robot raksasa meledak dari tanduk di dahi Naota, yang dikatakan dibawa oleh pikiran yang tak murni.

Haruko Haruhara flcl

Haruko semacam karakter Looney Tunes dalam hal menghancurkan segala sesuatu di sekelilingnya. Seperti anime itu sendiri, Haruko membawa ketidakpastian, karena setiap episode membawa beberapa skenario baru yang hampir menentang analisis: kita dapat menonton setiap episode beberapa kali dan masih dibiarkan kebingungan. Campur tangan Haruko membuat anime ini makin edan, misalnya ketika pertandingan baseball yang tidak berbahaya berubah menjadi kondisi main-main menangkis kehancuran dunia, atau drama sekolah menengah yang berubah menjadi arena tarung robot raksasa.

Apa yang nyata dan apa yang metafora akhirnya berhenti berarti, semua yang tersisa adalah pemikiran yang membuat kita malah makin bingung.

Satu-satunya yang tak bikin pening dan enak untuk dinikmati adalah raungan gitar dan perkusi berat dari band rock kontemporer Jepang The Pillows, yang menjadi lagu latar FLCL.

Jadi, apa sebenarnya FLCL itu? Di episode terakhir FLCL, Naota membentak keluarganya dengan lelucon panjang lain bahwa tidak jadi masalah apa FLCL itu, dan ia memang benar. Seperti remaja, ia menantang otoritas, sehingga menolak konvensi genre yang mencoba mengategorikannya, yang seringnya buang-buang waktu. FLCL bukan aksi, bukan komedi, bukan anime mecha atau apapun itu, bahkan menyebutnya surealis terasa seperti istilah yang terlalu ketat. Pada intinya FLCL mewakili pemberontakan remaja, awal dari jalan menuju kemerdekaan sekaligus kehancuran.

Oleh Arif Abdurahman

Pekerja teks komersial, yang juga mengulik desain visual dan videografi. Pop culture nerd dan weeboo yang punya minat pada psikologi, sastra, dan sejarah.

Tinggalkan Balasan