Kategori
Non Fakta

Kisah Putri Kaguya

Dari penceritaan ulang lewat The Tale of the Princess Kaguya (2013) oleh Isao Takahata dari Studio Ghibli sampai sebagai inspirasi romcom berlatar modern Kaguya-sama: Love is War, atau bahkan sering jadi karakter dalam manga dan anime, seperti yang menjadi raja terakhir di Naruto, Kisah Pemotong Bambu, juga dikenal sebagai Putri Kaguya, dianggap sebagai salah satu narasi Jepang tertua.

*

Suatu hari, tersebutlah Taketori no Okina, seorang pemotong bambu tua yang tengah berjalan melalui hutan bambu. Dia mendapati satu pohon bambu yang bersinar. Dia menebasnya dan menemukan di dalamnya ada bayi seukuran ibu jarinya. Karena dia dan istrinya tak memiliki anak, dia begitu senang dan membawanya pulang. Taketori no Okina dan istrinya membesarkan bayi mungil tadi sebagai anak mereka sendiri dan menamainya Kaguya-hime. Sejak saat itu, pemotong bambu itu menemukan bahwa setiap kali dia memotong batang bambu, di dalamnya akan ada serpihan emas dan tak lama kemudian, dia menjadi kaya dari emas yang dikumpulkannya.

Kaguya-hime tumbuh dari bayi mungil menjadi wanita dengan kecantikan luar biasa. Pada awalnya, Taketori no Okina berusaha menjauhkannya dari orang luar, tetapi seiring waktu kabar kecantikannya menyebar jauh dan luas. Lima pangeran datang untuk melamarnya. Namun sebagai tanggapan, Kaguya-hime menciptakan tugas-tugas mustahil bagi para pangeran, mengatakan kepada mereka bahwa dia akan menikahi orang yang berhasil memenuhi tugas tersebut. Pangeran pertama disuruh mengambil semangkuk suci Buddha di India, yang kedua cabang permata dari pulau Horai, yang ketiga jubah legendaris dari tikus api di Cina, yang keempat permata dari leher naga, dan yang kelima keong laut spesial dari burung layang-layang.

Pangeran pertama menyadari itu adalah tugas yang mustahil, jadi dia kembali dengan membawa mangkuk mahal. Namun, Kaguya-hime melihat tipuannya. Pangeran kedua dan ketiga juga mencoba menipu dia, tetapi gagal. Yang keempat menyerah dan pangeran terakhir kehilangan nyawanya saat mencoba menuntaskan tugasnya. Setelah mendengar insiden-insiden ini, Mikado, Kaisar Jepang, memutuskan untuk mengunjungi Kaguya-hime dan melihat dengan matanya sendiri, kecantikannya yang luar biasa. Kaisar Mikado jatuh cinta pada Kaguya-hime pada pandangan pertama dan memintanya untuk menikah dengannya. Meskipun dia tidak dipaksa untuk melakukan tugas-tugas mustahil yang harus dijalani pangeran lain, Kaguya-hime menolak lamarannya.

Pada saat yang sama, selama musim panas itu, setiap kali Kaguya-hime melihat bulan purnama, matanya berkaca-kaca. Perilakunya yang semakin aneh sangat mengkhawatirkan orang tuanya. Sampai-sampai Kaguya-hime mengungkapkan kepada mereka bahwa dia bukan dari dunia mereka. Sebaliknya, dia adalah putri bulan dan suasana hatinya yang sedih adalah karena fakta bahwa dia harus kembali ke bangsanya pada tanggal yang ditentukan. Ketika hari itu semakin dekat, Kaisar mengirim penjaga untuk melindungi Kaguya-hime, tetapi tidak berhasil. Sekelompok “Makhluk Surgawi” tiba di rumahnya dan membutakan para penjaga dengan cahaya aneh.

Ilustrasi dalam The Japanese Fairy Book oleh Sazanami Iwaya
 

Dengan ini, Kaguya-hime mengumumkan kepada semua orang bahwa meskipun dia mencintai banyak orang di Bumi, dia harus kembali ke rumah aslinya. Dia menulis surat kepada Kaisar, menempelkan sedikit ramuan keabadian pada surat Kaisar, dan kemudian memberikannya kepada penjaga untuk diberikan kepadanya. Ketika dia menyerahkan surat-surat kepadanya, jubah bulu diletakkan di pundaknya dan dengan itu, semua belas kasih dan kesedihan yang dia miliki untuk orang-orang Bumi yang ditinggalkannya.

Setelah kepergiannya, penjaga mengirim surat kepada Kaisar dan menjelaskan apa yang terjadi padanya. Setelah mendengar berita itu, Kaisar memerintahkan orang-orangnya untuk membawa surat itu ke gunung yang paling dekat dengan langit dan membakarnya, dengan harapan pesan itu akan sampai pada Kaguya-hime. Kaisar juga memerintahkan pasukannya untuk membakar ramuan keabadian, karena dia tidak punya keinginan untuk hidup selamanya jika tanpa Kaguya-hime. Legenda mengatakan bahwa kata “keabadian,” atau fuji dalam bahasa Jepang, menjadi nama gunung itu, Gunung Fuji.

Oleh Arif Abdurahman

Pekerja teks komersial, yang juga mengulik desain visual dan videografi. Pop culture nerd dan weeboo yang punya minat pada psikologi, sastra, dan sejarah.

4 tanggapan untuk “Kisah Putri Kaguya”

Saya pernah menonton animasi kartun yang dibuat oleh orang Indonesia. Animasinya persis dengan yang diceritakan pada kisah Putri Kaguya. Perbedaannya hanya saja setting yang digunakan di animasi kartun yang saya tonton itu. Settingnya kedua orang tua tersebut merupakan petani khas petaninya orang Indonesia, dengan topi segitiga dll

Apakah memang mungkin cerita ini sama dengan cerita rakyat di Indonesia, atau memang si pembuat animasi terinspirasi dari kisah putrj kaguya tersebut. Hem menarik ya

Kayaknya emang akulturasi dari dongeng Putri Kaguya, gampang tinggal ganti kostum dan latar doang, apalagi sama2 Asia. Kalau cerita rakyat Indonesia kayak Kaguya saya juga belum pernah nemu. Kalau di Sunda, ada putri yg pindah ke bulan, cerita Nyai Anteh, tapi beda ceritanya ga kayak Putri Kaguya.

Tinggalkan Balasan