Kategori
Anime Psikologi

Tsundere: Teori Karakter dan Psikologi di Baliknya

Tsundere, bagi yang belum tahu, adalah proses pengembangan karakter yang menggambarkan seseorang yang awalnya dingin, galak dan bahkan tampak memusuhi, sebelum kemudian secara bertahap menunjukkan sisi yang lebih hangat seiring berjalannya waktu. 

Karakter tsundere ini jadi salah satu arketip yang sering hadir dalam manga dan anime. Ambil contoh Inuyasha, hampir sepertiga karakternya (termasuk Inuyasha sendiri) masuk kategori tsundere: terlihat garang di luar tapi aslinya baik.

Sering kali, tsundere merasa malu atau tak tahu apa yang harus dilakukan dengan perasaan romantis mereka dan karenanya menjadi lebih agresif dan egois daripada biasanya — terutama dalam kedekatan dengan subyek afeksi mereka. Perjuangan batin mereka yang konstan antara rasa bangga diri dan cinta mereka adalah kunci bagaimana karakter-karakter ini bertindak.

Ketika karakter tsundere berkembang dan menerima perasaannya, mereka memang tetap dalam mode “tsun tsun” (berpaling dengan jijik, marah atau angkuh) di depan umum tetapi menjadi semakin “dere dere” (kasmaran/bucin) ketika berada secara personal, ketika tak dilihat yang lain. Jika seorang karakter pernah mengucapkan kalimat “itu bukan karena aku menyukaimu,” dengan muka ketus ketika berbuat baik, dapat dijamin kalau dia karakter tsundere.

Tsundere dan Teori Keterikatan (Attachment Theory)

Sebagai seseorang yang tertarik pada psikologi, saya suka mencari tahu alasan mengapa orang melakukan sesuatu dan mengapa mereka bertindak. Saya menemukan istilah psikologis menarik dalam teori keterikatan yang dapat digunakan untuk menggambarkan alasan di balik tindakan seorang tsundere: avoidant attachment. Orang-orang dengan gaya keterikatan ini melihat kedekatan dan investasi emosional selalu sebagai sesuatu yang berbahaya dan harus dijauhi.

Infografis dari Guess Who’s Coming

Dalam teori keterikatan ini, tipe avoidant ini sangat mandiri, seringkali tidak nyaman dengan keintiman, fobia akan komitmen dan ahli dalam merasionalisasi jalan keluar dari situasi intim apa pun. Pura-pura berlaku tak ramah dan galak agar dijauhi. Orang dengan tipe avoidant dalam situasi yang menyusahkan dapat hadir seolah-olah dia sangat tenang padahal sebenarnya situasi internalnya sangat bertolak belakang. Tsundere sangat mewakili istilah psikologis ini.

Kenapa Karakter Tsundere Begitu Disukai?

Karakter tsundere ini telah terbukti sangat populer dan dicintai. Untuk menyebut beberapa, ada Asuka Langley (Neon Genesis Evangelion), Naru Narusegawa (Love Hina), Kyou Sohma (Fruits Basket), Rin Tohsaka (Fate/Stay Night), Kaname Chidori (Full Metal Panic), dan Haruhi Suzumiya, yang setidaknya mendefinisikan karakter tsundere. Daftarnya akan selalu bertambah, karena mereka begitu disukai.

Hitagi Senjougahara di Bakemonogatari

Mengapa karakter tsundere kok malah disukai? Psikolog dan penggemar anime, Yoshihito Nautou, menjelaskan ketertarikan ini lewat bukti ilmiah. Argumen Nautou mengacu pada studi yang dilakukan oleh Gerald Clore, dari University of Illinois. Clore melakukan percobaan pada 338 partisipan dengan menunjukkan empat video dari dua orang (A dan B) yang tengah berinteraksi. Video-videonya sebagai berikut:

  • Video 1: A ramah ke B.
  • Video 2: A pada awalnya ramah ke B, tetapi menjadi dingin ketika percakapan berlanjut.
  • Video 3: A awalnya tidak ramah ke B, tetapi melunak saat percakapan berlanjut.
  • Video 4: A bertindak seperti seorang brengsek dan mengamuk selama keseluruhan percakapan.

Saat disurvei tentang perilaku mana yang paling menarik, mayoritas partisipan memilih video nomor tiga. Proses yang menyebabkan ini disebut efek untung-rugi. Pada dasarnya, ketika seseorang secara konsisten berlaku tidak menyenangkan pada kita, hal itu menetapkan dasar perilaku yang mewarnai harapan kita. Ketika orang itu ternyata menjadi lebih menyenangkan, bahkan jika cuma sedikit, kita akan menafsirkannya sebagai kemajuan, yang secara psikologis begitu menarik.

Penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa hal itu menarik bagi gagasan kita untuk berhasil dalam memenangkan sebuah permainan. Tsundere dalam kondisi alaminya bakal memperlakukanmu kayak tai. Namun begitu kamu menampilkan daya tarik melalui beragam niat baik, pertahanan mereka akan turun.

Kamu melihat muka mereka memerah dan mereka mencoba berlaku seolah-olah mereka tidak menyukaimu. Menghancurkan tembok mereka dengan niat baik adalah pencapaian memuaskan. Kamu menang dan sebagai hadiah, kamu mendapatkan sisi “dere” yang lembut dan indah.

Jadi jika menemui karakter tsundere ini, jika ada orang yang memperlakukanmu dengan tak ramah atau bahkan galak tanpa sebab, mereka mungkin mencoba menyembunyikan ketertarikan romantis yang tidak dapat mereka akui. Namun perlu juga dicatat, beberapa orang aslinya memang membencimu, jadi silahkan cari cermin terdekat.

Oleh Arif Abdurahman

Pekerja teks komersial, yang juga mengulik desain visual dan videografi. Pop culture nerd dan weeboo yang punya minat pada psikologi, sastra, dan sejarah.

4 tanggapan untuk “Tsundere: Teori Karakter dan Psikologi di Baliknya”

Kalau saya disuruh nonton empat video itu, otomatis juga milih yang nomor tiga. Awalnya kaku, dingin, tertutup, setelah berinteraksi lama-lama sikapnya hangat dan terbuka. Miriplah sama proses PDKT yang sukses. Haha.

Dari daftar itu saya cuma tahu Inuyasha dan Asuka. Referensi anime perlu ditambah lagi kayaknya nih. Karakter Tsundere yang paling menempel di kepala akhir-akhir ini sih Charlotte Roselei dan Noelle Silva dari Black Clover. Kentara banget sifatnya.

Tinggalkan Balasan