Kategori
Sosial Budaya

Cara Puitik Sinematik Makan Mie

Seni menjiplak kenyataan, begitu pula sebaliknya, dan ada orang-orang yang mendaku dirinya protagonis anime atau sedang berada dalam drama Korea. Itulah saya kalau sedang makan mie.

Sering diejek teman karena saya selalu memilih pakai sumpit, dan sebelum makan bukannya berdoa malah bilang “itadakimasu”, lalu komentar dengan frasa enak dalam bahasa Jepang atau Korea, melemparkan ekspresi sukacita berlebihan dan memperlakukan air putih layaknya sake atau soju. Entah kenapa, saya tak pernah bosan melakukannya.

Mungkin ini kelihatan sepele dan konyol, atau bahkan buat sebagian orang dianggap menjijikan, tapi alasan saya melakukan ini karena takjub pada filosofi di balik adegan makan yang sering kita lihat dalam anime atau drama Korea ini, soal menikmati momen dan soal mensyukuri apa yang dunia berikan pada kita, dalam hal ini mie.

Meski memang, ada beberapa elemen budaya yang tak sesuai, misalnya makan dengan suara berisik atau ceplak apalagi mendesah, yang di Asia Timur adalah tanda menghargai makanan yang disajikan itu enak, di sini termasuk tidak sopan.

Tutorial terbaik untuk menikmati mie adalah dari Tampopo (1985). Film klasik Jepang yang dikultuskan ini berputar dalam pencarian semangkuk ramen yang sempurna dan dalam prosesnya meneliti obsesi untuk menikmati mie.
Berkisah tentang jagoan misterius Goro (Tsutomu Yamazaski) dan rekannya Gun (Ken Watanabe) dan petualangan mereka untuk membantu toko ramen yang gagal dioperasikan oleh seorang ibu tunggal bernama Tampopo. Ketika film ini meneliti pengembaraan mereka mencari semangkuk mie yang sempurna dalam serangkaian adegan yang nyeleneh tetapi lucu, Tampopo dan penonton belajar tentang seluk-beluk pembuatan ramen yang sempurna.

eating noodle tampopo

Meskipun kita mungkin tidak akan pernah mampu meracik mie sempurna yang tidak ada bandingannya, Tampopo memberi kita wawasan tentang seorang master zen yang obsesinya selama 30 tahun dengan hidangan tersebut telah mengarah pada seni makan mie. Jadi lain kali kamu duduk untuk makan mie apapun, luangkan waktu dan ikuti langkah-langkah ini dan mencapai kebahagiaan gastrointestinal yang surgawi.

Pertama, hargai mie dalam mangkuk kita. Seperti kebanyakan hal dalam Zen, kita harus menyadari momen dan menghargainya. Hal yang sama berlaku ketika kita disajikan dengan semangkuk mie siap santap. Lihatlah dan sentuh dengan penuh cinta dengan sumpit kita sebagai cara untuk mengekspresikan kasih sayang dan penghargaan kita kepada master chef yang menciptakannya dan bahan-bahan yang ada di dalamnya.

Kedua, menyeruput kuahnya layaknya kopi. Bukan hanya pegiat kopi saja yang bisa snob. Awali dengan menghirup aroma kuahnya, resapi, lanjutkan dengan seruputan cepat, dan nikmati ledakan bumbu di dalamnya.

Ketiga, nikmati campuran rasa. Ambil lauk yang ada, apakah itu tempe, telur, daging ayam, baso, atau sosis, lalu celupkan ke kuahnya, dan lekas santap. Cicipi mie lagi dan lauk tadi putar di sekitar mangkuk saat kita perlahan mengunyah kombinasi itu.

Ada lebih banyak ritual lainnya, tapi itu tadi inti pelajarannya, selalui hargai momen saat ini. Jika ingin lebih jelas, lihatlah master yang sedang beraksi ini dan ketika nanti berhadapan dengan mie, nikmatilah layaknya master Zen.

Oleh Arif Abdurahman

Pekerja teks komersial, yang juga mengulik desain visual dan videografi. Pop culture nerd dan weeboo yang punya minat pada psikologi, sastra, dan sejarah.

Berkomentarlah sebelum komentar dilarang