Apakah Praktik BDSM Itu Sehat atau Gangguan?

Aktivitas dengan cambuk, rantai, borgol, kain latex, atau medium pengekangan lainnya ini biasanya dianggap sebagai tanda gangguan kesehatan mental. Faktanya, edisi terbaru dari Diagnostic and Statistical Manual (DSM-5), mencantumkan BDSM (bondage, domination and sadomasochism) sebagai fiksasi yang tak biasa – dan sebuah gangguan jika menimbulkan kerugian personal.

Tetapi sebuah tim yang dipimpin oleh seorang peneliti Belanda telah menemukan sebaliknya, orang-orang yang mempraktikkan perilaku ini, jika dilakukan di kamar tidur, sebenarnya cukup sehat secara psikologis.

Apa Itu BDSM?

Netflix Love And Leashes Seohyun BDSM series

Merupakan singkatan dari istilah “bondage, domintation & sadomasochism” , BDSM adalah aktivitas seksual yang melibatkan praktik-praktik seperti penggunaan pengekangan fisik, pemberian dan pelepasan kontrol.

Selain itu, ada unsur penderitaan BDSM yang mengacu pada berbagai preferensi seksual yang umumnya berhubungan dengan kenikmatan kontrol fisik, kontrol psikologis, dan/atau rasa sakit.

Baca juga: Kinbaku: Seni Erotika Bondage dari Jepang

Praktik BDSM dapat dipecah menjadi enam komponen menyeluruh: pengekangan dan pendisiplinan, dominasi dan penyerahan, dan sadisme dan masokisme.

Pengekangan dan pendisiplinan terdiri dari penggunaan alat fisik atau pengekangan psikologis, dominasi dan penyerahan melibatkan pertukaran kekuasaan dan kontrol, dan sadisme dan masokisme mengacu pada kesenangan dalam penderitaan atau penghinaan orang lain atau diri sendiri.

Mereka yang mempraktikkan BDSM dapat mengidentifikasi dengan satu atau lebih, dalam kombinasi apa pun, dari komponen-komponen ini.

BDSM Sehat Secara Psikologis?

Disebutkan dalam Journal of Sexual Medicine, Andreas Wismeijer dan Marcel van Assen, psikolog di Tilburg University, menemukan bahwa praktisi BDSM sebenarnya sehat secara psikologis.

Bukan hanya sehat, mereka juga tidak terlalu neurotik, lebih ekstrovert, lebih terbuka terhadap pengalaman baru, lebih teliti, tak terlalu sensitif pada penolakan, dan lebih percaya diri ketimbang orang dengan kehidupan seks “normal”.

Semua ini adalah tanda-tanda kesehatan psikologis.

Para peneliti mempelajari 902 praktisi BDSM dan 434 peserta kontrol, yang semuanya mengisi kuesioner online tentang praktik seksual serta suasana hati dan perasaan psikologis mereka.

Para peneliti mencari sejumlah karakteristik psikologis, termasuk tipe kepribadian, cara mereka membentuk keterikatan sosial, kepekaan terhadap penolakan, dan kesejahteraan.

Dari praktisi BDSM, mereka yang mengaku memainkan peran dominan mendapat skor tertinggi pada tes psikologis, diikuti oleh mereka yang memainkan peran patuh. Namun, kelompok kontrol “normal” mendapat skor terendah pada tes ini.

Baca juga: 5 Tips Aktivitas Seksual di Dapur

Sementara rilis DSM-5 telah memulai beberapa perdebatan, misalnya soal apakah praktik seksual termasuk dalam manual gangguan mental, Wismeijer dan van Assen menegaskan bahwa “BDSM dapat dianggap sebagai rekreasi, daripada ekspresi proses psikopatologis.”

Wismeijer, yang biasanya mempelajari psikologi kerahasiaan, menjadi tertarik pada psikologi para praktisi BDSM setelah bertemu dengan pendiri forum online BDSM Belanda. Dia berpikir bahwa kerahasiaan dalam banyak perilaku BDSM yang dilakukan memerlukan penelitian ekstra tentang bagaimana rahasia disimpan, atau dibagikan.

Pada akhirnya BDSM bisa dilakukan untuk kebutuhan rekreasi dengan tetap memperhatikan keamanan, dan adanya konsens dari pihak yang mempraktikannya.

Share your love
Arif Abdurahman
Arif Abdurahman

Pekerja teks komersial asal Bandung, yang juga mengulik desain visual dan videografi. Pop culture nerd dan otaku yang punya minat pada psikologi, sastra, dan sejarah.

Articles: 1772

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *