Kategori
Bandung

Ngaleut Cikapundung Kolot: Jejak Kampung Tua di Kota Bandung

Berkumpul di halaman depan Masjid Trans Studio Mall adalah permulaan Ngaleut Cikapundung Kolot. Titik pertama adalah rel mati sekitaran TSM. Rel kereta yang dulu menghubungkan Bandung dan Ciwidey yang kini tinggal kenangan.

Kategori
Bandung Buku Uncategorized

Novel Rasia Bandoeng

  

Kategori
Bandung Celotehanku

Apa yang Dapat Saya Bicarakan Soal Saya dan Ngaleut

Hal terpenting yang kita pelajari di sekolah ialah fakta bahwa hal paling penting enggak dapat dipelajari di sekolah, tulis Haruki Murakami. Dalam What I Talk About When I Talk About Running-nya, ada beragam kalimat aduhai yang bisa dipinjam kalau-kalau ingin ditulis di caption Instagram, dan yang tadi adalah kalimat favorit saya.

Kategori
Bandung

Ngaleut Archipelwijk

Kawasan Archipelwijk ini adalah tempat ketika kita mendapati ruas jalan dengan nama-nama pulau yang ada di Nusantara seperti Jalan Kalimantan, Jalan Lombok, Jalan Bangka, Jalan Sumatera hingga ruas jalan bernama Jalan Banda.

Kategori
Bandung

Rasia Bandoeng dan Ngaleut Tjerita Tjinta jang Benar Terdjadi di Bandoeng Tahon 1900-an

Katanya jatuh cinta membuatmu jadi orang dungu. Oh baiklah pembaca yang budiman, sebelumnya maaf hanya judulnya yang pakai Bahasa Melayu Pasar, karena saya malas dan tak punya cukup kedunguan untuk menuliskannya dalam bahasa seprimitif itu, apalagi ejaan yang setuwir itu. Entahlah, kalau sekiranya jatuh cinta, mungkin bisa saja, tapi saya tak sedungu Hilda Tan, tokoh dalam novel klasik Rasia Bandoeng: atawa Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir pada Tahon 1917.

Aih, Hilda Tan ini adalah dia yang berani menentang keluarga dan adatnya sendiri hanya karena dia ingin membela sesuatu yang bernama: CINTA! Mungkin Hilda Tan kebanyakan membaca kisah yang berpenutup, “dan mereka bahagia selamanya dalam pernikahan”.

Kategori
Bandung Cacatnya Harianku

“Engklak-Engklakan” di Saung Angklung Udjo

Tampak keraguan, namun timbul senyum tipis darinya, kemudian dengan mantap meraih tangan saya. Memilih memang bukan pekerjaan yang mudah, dan sayalah yang dia pilih. Atas kehormatan ini, saya pun tanpa pikir panjang menyambut tangan gadis kecil itu. Berkebalikan dengan kotak Pandora, seakan ada sebuah kotak berisi segala macam kebaikan yang ada di dunia tak sengaja terbuka ketika tangan kami berdua bertemu. Beragam fragmen kenangan indah ketika masa kecil saya tiba-tiba membuncah keluar.

Seakan-akan suasana Saung Angklung Udjo yang didominasi bambu ini ikut bersekutu, karena saya serasa diajak kembali ke masa kecil saat bermain di ‘kebon awi’; kebun bambu. Ya, sebelum ada Play Store, tanah lapang di kampung yang seringnya dikelilingi pohon bambu menjadi tempat paling representatif untuk ‘mengunduh’ beragam permainan asyik. Selain karena tempatnya yang teduh, dengan konstur tanah yang relatif gembur, ini membuat kita makin berani untuk bermain, berlari dan berjingkrak sepuasnya, karena kalau jatuh pun tak akan terasa sakit. Tak seperti jatuh cinta yang selalu datang sepaket dengan sakit hati.

Jika ingin tahu beberapa permainan masa kecil saya, maka bisa ditemukan di akhir pertunjukan bambu Saung Angklung Udjo. Pertunjukan bambu sendiri merupakan menu utama yang disajikan di obyek wisata budaya yang ada di Bandung Timur ini. Acaranya dimulai pukul 15.30 sampai 17.30 sore, atau disebut Pertunjukan Bambu Petang, selain di jam ini, sering juga diadakan pertunjukan tambahan kalau ada kedatangan dari suatu rombongan. Dimulai dengan demonstrasi wayang golek, helaran; upacara tradisional khitanan maupun pada saat upacara panen padi, penampilan tari tradisi, arumba (alunan rumpun bambu), angklung massal nusantara, bermain angklung bersama—dengan dipimpin pemandu yang dijamin enak dipandang, kemudian dipungkas dengan menari bersama bersama para putra-putri penampil yang berlatih di sanggar SAU ini. Pertunjukan bambu ini memang digagas oleh mendiang Udjo Ngalagena, dengan konsep ‘kaulinan barudak’; permainan anak kecil khas Sunda. Tips dari saya, jangan merasa malu apalagi gengsi kalau harus turun ikut berjingkrak-jingkrak.

Berjingkrak-jingkrak sendiri erat kaitannya dengan asal mula penamaan angklung. Ada dua versi sebenarnya, yang pertama bahwa angklung berasal dari kata “kurulung”, yang berarti suara yang dihasilkan alat musik bambu ini. Kedua, bahwa angklung diambil dari kata “engklak-engklakan”, karena pada masa silam orang-orang memainkan alat musik ini dengan cara “engklak-engklakan”; berjingkrak-jingkrak. Terlepas dari benar tidaknya asal kata ini, yang pasti hanya dengan melihat penampilan murid-murid Saung Angklung Udjo senior dan junior memainkan angklung sambil masyuk berjingkrak-jingkrak, ada semacam rasa sukacita yang ikut tertular ke diri ini.

Tepat hari ini lima tahun yang lalu, 16 November 2010, angklung ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO dalam Sidang Intergovernmental Committee for the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage (IGC-ICH) di Nairobi, Kenya. Dan Saung Angklung Udjo berusaha mewujudkan cita-cita dan harapan Abah Udjo (Alm) yang atas kiprahnya dijuluki sebagai Legenda Angklung, yaitu angklung sebagai seni dan identitas budaya yang membanggakan.

Dalam rangka #AngklungPride5 ini, SAU mengajak Komunitas Aleut!, Bandung Sketchwalk, Bandung Youth Forum, dan beragam komunitas lain untuk menghadiri workshop pembuatan angklung dan pertunjukan bambu pada Minggu kemarin (15/10/15). SAU memberikan gambaran yang cantik tentang keharmonisan diantara alam dan budaya, karenanya, tidaklah mengherankan apabila SAU kini berkembang menjadi sebuah tujuan pengalaman wisata budaya yang lengkap – tempat untuk bisa merasakan kebudayaan Sunda sebagai bagian dari kekayaan warisan budaya dunia.

[tweet https://twitter.com/angklungudjo/status/665698244513636352 align=’center’]