Kategori
Blog Cacatnya Harianku

Kena Suspend Google AdSense

Google meluncurkan program AdSense, yang awalnya bernama iklan penargetan konten, pada bulan Maret 2003. Nama AdSense pada awalnya digunakan oleh Applied Semantics, sebuah penawaran kompetitif untuk AdSense. Nama ini diadopsi oleh Google setelah ia mengakuisisi Applied Semantics pada April 2003.

Kategori
Cacatnya Harianku

Semesta Indekos Dekat Jembatan Cincin

Kamar-kamar indekos dekat sarang dedemit ini selalu terisi berkat kepolosan mahasiswa baru dan jilatan lidah para calo sial. “Lokasinya dekat kampus, tinggal jalan,” rayu sang calo, dan setidaknya selama dua tahun saya jadi penghuni di sini, berharap untuk menemukan kehidupan kampus ideal penuh warna yang selalu ia impikan.

Kategori
Cacatnya Harianku Movie Enthusiast

Japanese Film Festival Bandung 2019

Dua malam Minggu kemarin dihabiskan bersama film dan duo motor penggerak Bahasinema. Di malam Minggu pertama, saat ngobrol setelah pemutaran Selasar Weekend Cinema yang terakhir di 2019, Echa dan Kantya nawarin tiket nonton Japanese Film Festival jatah Bahasinema, dengan syarat nulis review filmnya. Saya sih setuju-setuju aja, meski enggak terlalu ngikutin film Jepang kontemporer, mentok di Akira Kurosawa dan anime 90an.

Kategori
Cacatnya Harianku

Sang Penindas Diri

Setiap lelaki punya dua biografi erotis. Biasanya orang hanya berbicara mengenai yang pertama: daftar hubungan gelap dan beberapa kunjungan malam. Biografi satunya lagi terkadang lebih menarik: parade perempuan yang ingin kita miliki, perempuan-perempuan yang melarikan diri. Inilah sejarah yang sangat memilukan dari kesempatan yang terbuang.

  • The Book of Laughter and Forgetting, Milan Kundera

Ketika ada lebih dari satu manusia, bakal tercipta sebuah relasi sosial, dan relasi ini seringnya melahirkan kutub-kutub yang timpang: sang penindas dan yang tertindas. Saya tak sedang membahas ide-ide besar semacam kelas proletar lawan kelas borjuis, meski mula-mula memang diterapkan dari sini. Relasi sosial ini sangat sehari-hari, dalam perkawanan serta hubungan asmara, sang penindas dan yang tertindas akan selalu muncul. Masalahnya, antara kedua pihak kadang tak menginsafi dirinya sendiri. Dibutuhkan dialog, untuk saling menyadarkan, saling membebaskan. Dialog menjadi jawaban atas masalah tadi, sekaligus akar masalah karena kesukarannya. Surga enggan dibangun di dunia ini karena manusia dibikin payah dalam kemampuan berdialog. Benar memang, sejarah manusia adalah sejarah panjang soal pertentangan antara sang penindas dan yang tertindas, dibumbui beragam komedi tragedi berkat mandeknya dialog.

Lampu lantai dua mati, dimatikan. Kantuk tertahan perut begah, dan hasrat untuk saling mendengarkan, serta didengarkan. Sesi psikoterapi dengan tanpa sofa dan tanpa kehadiran ahli jiwa resmi digelar. Lantai dua Pasirjaya XIII No. 3 tak banyak berbeda dengan Solontongan 20D, dalam segi nuansa. Gelap yang menaungi ruangan menyulap tiap-tiap penginap menjadi Syahrazad, juru cerita dalam Kisah Seribu Satu Malam. Tak semua begitu, selalu ada yang gigih mengunci mulutnya, atau yang masih malu-malu kunyuk. Jujur, meski sering memberi komentar, saya sendiri begitu menutup diri. Karena mayoritas diisi lelaki, racauan yang tercipta banyak dihiasi guyon cabul agak seksis. Percakapan-percakapan yang terjadi sangat bisa menyaingi adu bacot dalam cerpen What We Talk About When We Talk About Love-nya Raymond Carver.

Kembali soal sang penindas dan yang tertindas. Malam itu kami menyoroti relasi timpang yang menghinggapi kisah muram asmara beberapa kawan kami. Saya selalu memandang sinis jatuh cinta, saya berpikir para kawan lelaki itu cuma “main-main” atau “iseng-iseng berhadiah”, ternyata mereka “ada hati” dan “serius”. Kasusnya serupa dan berulang: si lelaki menyengajakan diri jadi yang tertindas karena didera kompleks inferioritas, berkatnya, secara tak sengaja si perempuan naik kelas jadi sang penindas. Jurang pemisah yang diimajinasikan si lelaki terlampau menganga, revolusi yang mustahil tercipta, pertempuran yang menolak dimenangkan, dan kita tak bisa menyalahkan si perempuan. Cinta si lelaki terdiri dari 90% serotonin dan 10% sisanya pengharapan. Akhir ceritanya mungkin menarik bagi para pemurung, si lelaki cuma bisa menyesap cinta platonik penuh kedongkolan, bahkan jadi pemuja si perempuan, yang kadar kultusnya lebih saleh ketimbang penganut paganisme. Tak ada yang salah dengan cinta tak berbalas, gadis Norwegia berambut pirang Skandinavia bikin Leonard Cohen menelurkan lagu “So Long, Marianne”, “Hey, That’s No Way to Say Goodbye” (larik ‘But let’s not talk of love or chains and things we can’t untie’ yang akan selalu saya rapal layaknya mantra), dan “Bird on the Wire”. Daftar karya dan para lelaki melankoliknya bisa diperpanjang. Seorang penulis bahkan menasehati saya untuk mencicipi patah hati agar bisa jadi seorang Syahrazad pilih tanding.

Sesuatu yang membuatmu meresikokan segala, mengorbankan diri, rela dihujat, atau seperti yang difatwakan Erich Fromm: Cinta bukanlah sesuatu yang alami melainkan membutuhkan disiplin, konsentrasi, kesabaran, iman, dan pengendalian narsisme. Itu bukan perasaan, cinta adalah praktik, tegasnya. Sejujurnya, saya mungkin hanyalah seorang pemalas dan pecundang (terlalu pretensius untuk melabeli diri nihilis atau fatalis), yang enggak mau dipusingkan dengan konsep abstrak itu. Tentu, saya bukan santo atau pandita, dan tak tahan kalau harus selibat. Kisah cinta, apalagi yang tragis, masih saya imani, tapi hanya sebatas sebagai kisah orang lain atau kisah dalam buku-buku atau film-film, suatu dunia yang entah di mana saya bukan protagonisnya. Beruntunglah para kekasih, yang masih punya tujuan, tak peduli seilusif apa tujuan itu. Yang membuat hidup selalu layak dijalani, sebab mereka selalu percaya bakal ada yang membahagiakan. Ah, saya terlalu nyaman jadi seorang pengamat dan pendakwah ketimbang praktisi. Tanpa kehadiran manusia lain, saya sudah menciptakan penindas sekaligus yang tertindas bagi diri sendiri. Ada wejangan agar saya berhenti mengebiri diri: Ketakutan untuk mencinta adalah ketakutan untuk membuka dialog.

Kategori
Cacatnya Harianku Celotehanku

Dewata dan Residensi ala Thoreau

dewata jalan makadam gunung tilu momotoran

Beragam skenario horror berdesakan di ubun-ubun, beberapanya imajinasi sumbangan dari H.P. Lovecraft dan Abdullah Harahap: seorang kawan hilang diculik dedemit, jalanan yang enggan mengarah kemana pun, pohon tumbang, bandit dengan celurit karatan menghadang di depan, ada makhluk mengerikan yang mengintai di balik pepohonan, yang sembunyi dan akan tampil tepat di depan wajah saat berbalik, apakah itu ular raksasa penghuni Gunung Tilu, atau harimau siluman, atau surili bertentakel, atau bahkan Tyrannosaurus Rex yang terlempar dari periode Cretaceous, atau batuan di jalan makadam yang berserikat jadi monster Golem setinggi tiga kaki. Kegelapan dan keterasingan selalu membobol kotak pandora dalam kepala. Nyatanya, selama dua jam perjalanan pulang dari Dewata ke Rancabolang, hanya menyisakan pegal-pegal, kantung kemih yang perlu dikuras dan keinginan untuk membakar rokok.

Sejujurnya, karena selalu memikirkan skenario terburuk, dan tumpukan bacotan dari para pemikir, justru saya bisa kalem. Dengan tetap fokus menunggang kuda besi di jalan makadam tadi, saya malah terus menyibukkan diri memikirkan Mythologies-nya Roland Barthes yang baru rampung setengah. Hantu-hantu yang lebih mengancam bernama mitos-mitos kontemporer dan alienisasi, justru menanti di belantara kota, bukan dalam kegelapan hutan.

Saya menyedot rokok lebih dalam. Rokok mungkin adalah dupa, mengundang apapun yang melayang di udara untuk bertamu ke dalam pikiran. Saya selalu memikirkan sebuah rumus: bahwa kebahagiaan itu merupakan hasil dari realita yang dibagi dengan ekpektasi. Artinya, cara untuk berbahagia adalah dengan mengubah realita agar sesuai ekpektasi, lebih bagus lagi melebihinya. Atau, karena opsi pertama begitu sukar, yang termudah adalah dengan menurunkan ekpektasi, sesuatu yang lebih mudah, meski kadang enggak mudah, untuk diubah. Rumus ini pun dipakai untuk meredakan ketakutan. Karena setiap ketakutan berasal dari segala yang tak terjelaskan, maka selalu pikirkan skenario terburuk yang terjelaskan. Ah, saya terdengar seperti seorang motivator ketimbang eksistensialis. Lebih baik menyimpan energi yang tersisa, ada empat motor yang harus diturunkan dari truk.

Meski masih berada di kawasan hutan lindung Gunung Tilu, dan untuk mencapai minimarket terdekat di Ciwidey masih lama lagi, setidaknya jalan makadam sepanjang 14 km terlewati. Semua kawan sampai dengan utuh, seperti empat pion saya yang lengkap masuk dalam game Ludo yang dimainkan tadi saat magrib masih di Dewata. Dengan kesabaran dan taktik sedikit Machiavellian, ditambah keberuntungan, saya jadi jawara dalam permainan yang telah ada sejak dinasti Mughal India itu. Rute Dewata-Rancabolang ibarat jalur petak-petak memutar yang harus dilalui pion Ludo dengan telaten dan penuh perhitungan, bedanya enggak ada persaingan, dan semua berjalan beriringan.

Kalau sebentar saja di Dewata, saya bisa sebijak ini, mungkin harus ada program residensi menyepi di kaki Gunung Tilu. Pantas saja, pendaki gunung semodel Fiersa Besari lihai memproduksi untaian prosa genit.

Dewata di Kedalaman Gunung Tilu

Kelebatan hutan hujan dataran tinggi yang didominasi saninten, rasamala, kiputri, pasang, teureup, puspa, kondang, tunggeureuk di kanan kiri bakal menyambut kita saat memasuki kawasan cagar alam Gunung Tilu. Kawasan ini mencakup tiga kecamatan, yakni Ciwidey, Pasirjambu, dan Pangalengan, dengan kawasan berbukit bergunung di ketinggian 1.150–2.344 meter di atas permukaan laut. Ditetapkan sebagai cagar alam pada 1978, Gunung Tilu menjadi rumah setidaknya bagi bajing, monyet ekor panjang, owa jawa, kijang, lutung, burung dederuk, perkutut, dan ular sanca. Di kawasan inilah perkebunan teh Dewata terletak.

Kemungkinan besar, sejak dibuka pada 1932, jalan menuju perkebunan teh Dewata selalu merujuk pada Practical Essay on the Scientific Repair and Preservation of Roads-nya John McAdam. Satu-satunya rute paling memungkinkan saat musim hujan, hanya lewat jalan makadam yang masuk dari Pasirjambu ini. Berbeda dengan Alex White dan Darby Stanchfield dalam dokumenter cum iklan Pure Leaf yang menggunakan mobil offroad, mereka enggak bisa merasakan previlase pemicu adrenalin bernama momotoran di jalur makadam.

Dewata, saya pikir pilihan paling tepat untuk mempraktekkan satu buku Henry David Thourea, Walden; or, Life in the Woods. Teks itu merupakan cerminan hidup sederhana di alam, karya tersebut merupakan bagian deklarasi pribadi tentang kemerdekaan, eksperimen sosial, pengembaraan spiritual, satire, dan sampai tingkat tertentu, sebuah manual untuk kemandirian.

Pertama kali diterbitkan pada tahun 1854, Walden merinci pengalaman Thoreau selama dua tahun, dua bulan, dan dua hari di sebuah pondok yang dibangunnya di dekat kolam Walden, di tengah hutan yang dimiliki oleh teman dan mentornya Ralph Waldo Emerson. Thoreau menggunakan waktu ini untuk menulis buku pertamanya, A Week on the Concord and Merrimack Rivers. Thoreau mengobservasi berbagai fenomena alam, bukan hanya secara metaforis dan puitis, juga sama ilmiahnya. Dengan menarik diri dari masyarakat, Thoreau justru bisa mendapatkan pemahaman masyarakat yang lebih obyektif melalui introspeksi diri. Hidup sederhana dan kemandirian adalah tujuan lain Thoreau, dan keseluruhan proyek terinspirasi oleh filsafat transendentalis, tema sentral Periode Romantik di Amerika.

Nampaknya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Komite Buku Nasional perlu mencoba upaya Thoreau ini, mengirim para penulis selama berbulan-bulan ke kedalaman Gunung Tilu, menjauhkannya dari kebisingan kehidupan urban dan polusi distraksi. Lagipula, perkebunan teh Dewata menyediakan mes yang bisa diinapi, dan orang-orang baik yang siap membantu tanpa pamrih. Terdengar kampungan? Bukankah kampungan merujuk pada mereka yang menolak tunduk pada mekanisme pasar dan budaya hedonis serta ketergesaan manusia modern.

 

 

Kategori
Cacatnya Harianku

Di Pantai Saat Malam Sendirian

on-the-beach-at-night-alone-1600x900-c-default

Bersama harum asin laut yang pekat, beragam memori datang menyesak diangkut angin muson barat. Lanskap pertama yang dilihat saat membuka mata; entah Adam-Hawa yang ditendang dari nirwana, atau nenek moyang purba kita yang berenang-renang memutuskan keluar dari samudera dan berevolusi merangkak dan jadi kera berjalan di Afrika yang berakhir tumbuh kesadaran akal budinya, atau kemungkinan lainnya; kerinduan kita pada laut adalah ingatan paling primitif, pada momen pertama manusia berkaca tentang kepayahannya melawan keluasan dan ketakpastian.

Setelah soto ayam dengan kucuran dua sendok sambal, senja kelabu adalah favorit saya.

Air laut menggelitik kaki saya. Sepanjang sejarah, terlihat hubungan mendalam antara kita dengan air yang sering dijelaskan, atau diglorifikasi, dalam seni, sastra, dan puisi. Terekam dalam beragam kutipan-kutipan centil, yang mudah saja dicari lewat peramban Google. Aku membutuhkan laut karena dia mengajariku, gombal Pablo Neruda. Air bisa memberi kita energi, entah itu hidrolik, hidrasi, efek tonik air dingin yang disemprot ke muka, atau ketentraman yang berasal dari sensasi lembut deburan ombak yang menjilat pantai.

Teknologi telah memungkinkan kita untuk menyelidiki kedalaman otak manusia dan menyelam ke kedalaman lautan. Dengan kemajuan tersebut, kemampuan kita untuk belajar dan memahami pikiran manusia telah berkembang, soal persepsi, emosi, empati, kreativitas, kesehatan dan hubungan kita dengan air. Fetus manusia masih memiliki struktur semacam insang pada tahap awal perkembangannya, dan kita menghabiskan sembilan bulan pertama kehidupan kita terbenam dalam lingkungan berair dalam rahim ibu kita. Saat kita lahir, tubuh kita berisi sekitar 78 persen air. Seiring bertambahnya usia, jumlah tersebut turun hingga di bawah 60 persen, namun otak terus dalam keadaan 80 persen air. Tubuh manusia secara keseluruhan hampir sama densitasnya seperti air, yang memungkinkan kita untuk mengapung. Dalam komposisi mineralnya, air di sel kita sebanding dengan yang ditemukan di laut. Tentu, di zaman internet kamu bisa berlaga sok tahu dan memberi kuliah biologi macam begini.

Senja kelabu di Ujung Genteng. Berangin. Rumah bilik tempat pondokan kami terus berderak. Rintik.

Malam turun.

Listrik putus. Ketakutan paling mula, dedemit paling mengerikan datang mendekat: kegelapan.

Mirip dalam film-film Hong Sang-soo: Adegan hujan dan angin berhembus kencang, merokok, makan sambil minum soju, berbincang tak karuan, selingkuh, mengemong sambil gombal-gombal lucu, melamun, merokok lagi, ngobrol lagi, makan lagi, merokok lagi. Sayang, tak ada soju dan tak ada yang sedang selingkuh.

Listrik masih putus. Menyala kemudian ketika semua sudah berselimut kantuk.

Sunyi adalah suara yang paling bising. Waktu bergerak dengan caranya sendiri di tengah malam. Kau tak bisa melawannya. Di puncak malam, pikiran terburuk biasanya menyerang. Beragam kegagalan dan harapan manis yang harus dikubur paksa. Kemungkinan-kemungkinan yang lenyap, perasaan-perasaan yang tak pernah bisa kembali. Keharusan untuk memilih beragam pintu yang ujung-ujungnya memenjarakan. Tak ada rute memutar. Semakin bertambah umur, semakin menyadari bahwa sekeliling kita adalah neraka, sampai akhirnya sadar kalau neraka sesungguhnya adalah diri kita sendiri, lautan dalam kepala kita. Menutup mata tak akan mengubah apapun.