Kategori
Celotehanku

Panduan Untuk Tidak Menulis

Ketika tulisan yang saya bikin dirilis dan bisa dibaca, saya seringnya malu untuk membaginya. Pertama, saya orang yang jauh dari laku percaya diri, selalu merasa tulisan dan pemikiran saya begitu payah dan sampah. Ada semacam tanggung jawab sosial ketika menulis esai, untuk menggiring opini, misalnya, dan saya pikir saya bukan orang yang arif, siapa pula saya. Kedua, menghindari komentar dari Akay: “Si Aip mah mun nulis pasti keur butuh duit”.

Kategori
Celotehanku

Waktu Terbaik Untuk Tidak Memaafkan



Ketika datang kemalangan disebabkan oleh keadaan di luar kendali kita, apakah itu dari hubungan dengan orang lain, dalam ikatan romantis, misalnya, atau entah apa, kita sering dinasihati untuk “memaafkan.”
 

Sebagai kata kerja, memaafkan telah jadi konsep yang terlalu cair, kelewat banal, dan kebanyakan jadi sebatas jargon. Padahal, ia melibatkan beberapa komponen utama yang membentuk citra diri kita, seperti tanggung jawab, karakter, dan moralitas. Maka, ketika kita diberi wejangan untuk memaafkan berarti kita disuruh bertindak dengan cara tertentu, seolah-olah, dalam melakukan hal itu, kita tidak hanya memerdekakan orang yang bersalah dalam hidup kita, tetapi juga diri kita sendiri.

Kategori
Celotehanku

Ketika Berharap Lebih, Ingat Spurs

Sebagai pendukung Tottenham Hotspur, saya gagal belajar dari pengalaman, bahwa harapan hanya akan memperpanjang penderitaan. Jika saja gugur setelah berhadapan dengan City atau Ajax, mungkin rasa sakitnya enggak terlalu terasa. Tapi mereka bisa melangkah jauh sampai final, meninggikan harapan, dan makin sakit pula kalau jatuh. Harapan adalah sumber kemurungan. Menonton Spurs bisa terus melaju, menyingkirkan City dan Ajax, dengan begitu dramatisnya, menciptakan harapan, bahwa tim medioker ini bisa jawara. Final yang entah bakal kapan lagi. Harapan sudah tinggi, dan berakhir jadi kekecewaan. Mungkin, memang ada kesalahan taktikal, kenapa pula Harry Kane harus jadi starter, bukannya Lucas Moura. Kalau saja. Tapi kalau saja dan pengandaian-pengandaian lainnya sesuatu yang mustahil dalam sejarah. Spurs bisa sampai final tentu sebuah pencapaian, yang bakal terlupakan. Sejarah tak mencatat yang menjadi kedua.

Kategori
Celotehanku

Richard Wright dan Konferensi Bandung

Ketika mengurus kartu pers, ia terkejut betapa ia disambut ramah dan didahulukan antreannya – sebuah perlakuan yang tak terjadi buat seorang kulit hitam di Amerika Serikat. Tatkala datang ke Bandung, ia tergetar. Ia melihat berbagai delegasi dengan latar belakang agama – Islam, Katolik, Buddha, dan Hindu – serta komunis, bisa berbaur menjadi satu. Bagaimana mungkin sebuah negara bayi yang baru berumur sepuluh tahun bisa menghimpun politikus berwarna – kuning, hitam, cokelat, dan sawo matang dari penjuru dunia. Ia tercekam. Menurutnya, pertemuan “umat ras berwarna” itu di luar imajinasi yang pernah dibayangkan oleh penulis-penulis Eropa mana pun. Ia menulis dalam The Color Curtain: A Report on the Bandung Conference:

Pada awal revolusi Rusia, Lenin pernah bermimpi akan membuat pertemuan semacam ini. Pertemuan dari semua unsur ras yang terbuang dan dianggap underdog. Tapi itu tidak pernah terlaksana. Sesungguhnya banyak penulis Barat, seperti H.G. Wells dan Lothrop Stoddard, yang telah memprediksi bakal bangkitnya negara-negara eks kolonial, tapi dalam imajinasi terliar mereka pun mereka tidak pernah membayangkan suatu forum semacam ini bisa terjadi

Sebelumnya, ketika tinggal sebagai seorang ekspatriat di apartemennya di Paris, menjelang Natal 1954, pada suatu sore matanya tertumbuk pada sebuah berita di koran bahwa sebanyak 29 negara Asia dan Afrika eks kolonial akan berkumpul di Bandung membahas masalah rasialisme dan kolonialisme. Ia begitu tergugah oleh simbolisme luar biasa konferensi itu dan merasa terdorong untuk melakukan ziarah pribadi ke pertemuan bersejarah itu. Untuk menutupi biaya perjalanannya, ia membuat kesepakatan dengan Congress for Cultural Freedom – yang nantinya diketahui bahwa lembaga ini disokong CIA.

Ia melakukan perjalanan ke Indonesia, tiba pada 12 April dan balik tiga minggu kemudian pada 5 Mei. Selama di Indonesia, sebagai pengamat tidak resmi ia menghabiskan 18–24 April untuk melaporkan konferensi. Kemudian ia menghabiskan dua minggu sisa perjalanannya di Indonesia untuk berinteraksi dengan berbagai penulis dan intelektual Indonesia, termasuk Mochtar Lubis, Sutan Takdir Alisjahbana, Asrul Sani, Ajip Rosidi, Achdiat Karta Mihardja, Beb Vuyk, dan lainnya. Dia juga memberikan beberapa ceramah: di sebuah acara seni yang diadakan di rumah walikota Jakarta, untuk pertemuan klub studi Takdir Alisjahbana, untuk sekelompok mahasiswa, dan untuk PEN Club Indonesia. Setelah kembali ke Paris, ia bekerja siang dan malam untuk menyelesaikan bukunya ini dan akhirnya mengirimkannya ke agen sastra pada 20 Juni.

Sejak diterbitkan pada tahun 1956, buku catatan perjalanannya ini menjadi kisah tangan pertama yang sering dikutip dalam narasi Konferensi Asia-Afrika dan kajian pascakolonial. Warisannya terletak pada romantisasi dari persatuan emosional yang ditampilkan di Bandung. Dengan laporan tentang apa yang terjadi di Bandung ini, ia mengambil tempat sentral di panggung internasional dan berfungsi sebagai pertanda perubahan sosial dan politik di seluruh dunia. Dia mendesak negara-negara Barat, yang sebagian besar bertanggung jawab atas kemiskinan dan ketidakpedulian di bekas jajahan mereka, untuk menghancurkan rintangan rasial dan untuk bekerja dengan kepemimpinan negara-negara baru. Lewat buku ini, ia menjadi pendahulu era multikulturalisme dan penganjur transformasi global.

richard-wright

The Color Curtain ditulis Richard Wright, seorang penulis Afro-Amerika. Banyak karyanya, dari puisi, cerpen, novel dan non-fiksi, membahas tema-tema rasial, khususnya yang berkaitan dengan nasib buruk orang-orang Afrika-Amerika selama akhir abad 19 hingga pertengahan 20, yang menderita diskriminasi dan kekerasan di Selatan dan Utara. Pada tahun 1955, Wright adalah seorang novelis yang populer dan sukses dan seorang advokat terkemuka untuk hak-hak Afrika-Amerika, baik di negara asalnya Amerika Serikat maupun di luar negeri. Dia menjadi dikenal oleh khalayak luas pada tahun 1940, dengan keberhasilan novelnya Native Son, dan otobiografinya pada tahun 1945, Black Boy, yang menjadi buku terlaris nomor tiga selama tiga bulan. Tetapi Wright meninggalkan Amerika Serikat pada tahun 1946 untuk menghindari prasangka ras yang terus berlanjut dan mematikan.

Bandung meninggalkan kesan mendalam bagi Wright. Saat pidato pembukaan Sukarno, Wright duduk bersama 376 wartawan lain di balkon. Di Bandung, 17 ribu kilometer dari tanah kelahirannya di Mississippi, untuk pertama kalinya Wright mendengarkan pidato yang menggugahnya. “Ketika saya duduk mendengarkan, saya mulai merasakan hubungan yang mendalam dan organik di sini di Bandung antara ras dan agama, keduanya merupakan kekuatan yang paling dahsyat sekaligus irasional milik manusia,” ujar Wright. “Sukarno tidak bermaksud membangkitkan ‘iblis kembar’, tapi mencoba mengorganisasinya.”

Di Gedung Merdeka, Wright menyimak satu per satu pidato pemimpin negara, dari Sukarno, Ali Sastroamidjojo, Norodom Sihanouk, Sir John Kotelawala, sampai Gamal Abdel Nasser. Wright yang menjadi anggota partai komunis sejak berumur 12 tahun itu menyebutkan dalam bukunya ini bahwa Konferensi Bandung adalah fenomena bertemunya gerakan dan pemikiran di luar kiri atau kanan.

Kategori
Celotehanku

Spursy

d1nf0glwkaepbo4

Tottenham Hotspur mengajari saya bahwa harapan muncul hanya untuk memperpanjang derita manusia (bacotan Nietzsche di Human, All Too Human?), dan darinya memantik pertanyaan soal kesetiaan.

Seseorang bisa mencari pasangan baru, meninggalkan pekerjaannya untuk merintis karier baru di bidang lain, atau mengubah pilihan politiknya, atau bahkan agamanya, jadi mengapa kita kudu setia pada klub sepak bola yang kita dukung? Jika klub bola yang kita dukung membosankan, atau malah bikin kita kecewa serta sengsara, kenapa sih enggak pindah mendukung klub lain? Apakah kesetiaan merupakan sinonim dari sadomasokis? Padahal para pemain, pelatih atau manajer, atau bahkan sang pemilik dapat berganti klub secara teratur, dengan mudahnya.

Padahal enggak ada larangan, dan enggak pula ada yang dirugikan. Namun sangat jarang mendengar seseorang mengumumkan bahwa dirinya telah meninggalkan tim yang dia dukung, dan beralih hati ke tim lain. Yang mengaku penggemar sejati enggak akan pernah punya pemikiran begitu. Mengakui bahwa kita telah menanggalkan klub favorit kita untuk mendukung yang lain tampaknya lebih memalukan ketimbang mengaku punya koleksi bokep bergiga-giga. Lebih sering kita mendapati seseorang yang mengakui bahwa dirinya sudah pensiun sebagai fans sepak bola, tetapi mengapa sangat jarang seseorang mengubah tim yang mereka dukung?

Untuk alasan primordial, bisa dimaklumi. Misalnya saya yang kelahiran Bandung, tentu bakal mendukung Persib, dan bakal aneh kalau mendukung klub lokal Indonesia lain. Tapi untuk klub yang jauhnya minta ampun di Eropa sana, kenapa kita harus setia? Lebih-lebih saya menyoroti Liga Primer Inggris, yang olehnya permainan indah ini telah diubah dari olahraga paternalistik yang relatif egaliter menjadi industri hiburan global yang didominasi oleh mega-brand yang rakus. Simon Kuper, co-penulis Soccernomics, mengatakan: “Kisah nyata Liga Premier hampir semua tentang uang.” Lalu, kenapa kita harus setia coba?

Kenapa pula saya tetap mendukung Tottenham Hotspurs? Untuk alasan masokis, saya bisa mengiyakan. Spurs bagi saya seperti film-film melankolis, sendu, dan murung, sesuatu yang selalu menarik saya. Ejekan yang sering disematkan padanya belakangan ini, Spursy, seakan-akan mencerminkan diri saya.

Berbakat tetapi rapuh secara mental, Spurs unggul 3-0 di babak pertama melawan Manchester United-nya Alex Ferguson pada 2001. Mereka kalah 5-3. Berbakat dan kuat secara mental, Spurs unggul 3-0 melawan Manchester United-nya Jose Mourinho pada 2018. Mereka menang 3-0. (Meski kemudian, harus kalah 0-1 dari Manchester United-nya Ole Gunnar Solskjær).

Ejekan Spursy makin menjadi-jadi, karena di tahun ini, setelah di awal musim terlibat persaingan perebutan tempat pertama klasemen, sekarang malah terseok-seok untuk mempertahankan tempat ketiga. Harapan muncul hanya untuk mengecewakan dan memperpanjang derita manusia

Pada 2006, Rushdie diwawancarai TimeOut London. “Mengapa ada orang yang mengikuti Tottenham Hotspur?” Rushdie tertawa. “Anda harus sangat percaya. Saya datang ke Inggris pada 1961 dan itulah tahun terbaik Spurs. Jika Anda mendukung tim yang gagal memenangi liga selama 44 tahun, itu memang terasa seperti semacam kultus.” Ini sudah 2019, dan gelar juara bagi Spurs seakan-akan hanya ilusi utopis.

Gagasan bahwa Spurs selamanya Spursy mengabaikan fakta bahwa identitas dapat berkembang. Kadang-kadang klub ini sangat kontras dengan masa lalu, terus mendefinisikan ulang dirinya. Masalahnya, untuk saat ini, Spursy adalah sebuah ejekan mengesalkan.

Kategori
Bandung Celotehanku

Mengidruskan Bandung Lautan Api

Revolusi kemerdekaan Indonesia adalah suatu episode sejarah yang dramatis; sebuah drama yang mengadu tujuan rasional dengan sentimen emosional; mengawinkan realitas dengan mitos.

Masalahnya, yang kita terima hari ini, lebih banyak berupa warisan mitos penuh bunga-bunga. Ambil contoh bambu runcing yang sering disimbolkan alat perjuangan, pernahkah berpikir bagaimana ngerinya ketika benda ini menerobos badan seorang manusia, darah muncrat dan mungkin ada usus terburai?