Kategori
Hiburan & Musik

6 Album Untuk Berkenalan dengan Skena Hardcore Jepang

Jepang bertanggung jawab untuk menghidangkan hardcore canggih – jauh sejak pembentukan Typhus pada tahun 1980, salah satu band hardcore awal Jepang, jika bukan yang pertama. Namun, distribusi internasional yang buruk dan kesempatan terbatas untuk tur di luar Jepang telah membuat sulit bagi seluruh dunia untuk mengikuti mereka.

Kategori
Catutan Pinggir Hiburan & Musik

Beragam Kepala dalam Talking Heads

Tina Weymouth baru-baru ini memiliki dua mimpi buruk tentang Talking Heads. Pertama dia bermimpi bahwa dia ketinggalan semua latihan untuk sebuah tur karena David Byrne mengiklankannya lewat koran. Ketika dia akhirnya tiba, ruangan itu penuh dengan musisi, setengah dari mereka adalah pemula di tiap instrumen. Byrne bertanya ke mana saja dia. “David,” katanya, “kamu kan tahu aku enggak baca koran.”

Kategori
Hiburan & Musik Korea Fever

10 Rilisan SM Station Paling Asyik

Musik populer, atau musik pop, bagi saya ibarat Pop Mie, memang kandungan gizinya sedikit, yang jika dikonsumsi kebanyakan dan terus-terusan bakal merusak kesehatan, tapi ini teman setia ketika lapar mendesak.

Musik pop, layaknya Pop Mie, diproduksi oleh pabrik besar, disebarluaskan secara masif, dibesar-besarkan dengan iklan, untuk kemudian dimakan dan menjadi berak. Musik hari ini hanya tai, keluh banyak orang, fenomena yang sudah ada bahkan dari sejak Hegel, mereka yang selalu sinis terhadap apa-apa yang didengarkan para bocah.

Kategori
Hiburan & Musik

10 Lagu Talking Heads Terbaik

Dari post-punk hingga funk, dengan pemandangan dunia yang luar biasa, lagu-lagu ini menunjukkan mengapa band AS yang gelisah tetap berpengaruh pada gelombang musisi yang berurutan

Kategori
Hiburan & Musik Korea Fever

Kim Taeyeon, “I” dan Eksistensialisme

Apakah Selandia Baru membayar Taeyeon untuk bikin video klip ini? Entahlah, yang pasti kalau iya, ini bener-bener promosi wisata yang tepat. Sinematografinya asyik, sukses ngambil beragam pemandangan ciamik. Jangan-jangan pihak National Geographic pun ikutan andil pas bikin mv ini.

Musik video ini juga rada banyak mengingatkan saya pada ‘Stars’-nya The Cranberries, dengan lebih ngepop, dan ada selingan rap. Oh ya, permainan drone pun yang makin apik. Ya iya lah, teknologi kekinian sama tahun 2000an emang udah beda, tapi saya akui kalau teknik pengambilan lewat dronenya mantap abis udah kayak Phillip Bloom aja.

Musik instrumennya juga cihuy, apalagi memasuki bagian tengah akhir udah serasa lagi dengerin Coldplay. Kpop dengan aroma Britpop. Dan ada rasa-rasa kayak lagu tema video game gitu, Final Fantasy mungkin. Ya ya ya, saya tak terlalu paham sih, tapi ini tipikal musik pop Barat sebenarnya.

Kalau soal liriknya, maaf karena nggak paham Bahasa Korea, dan belum ada lirik terjemahannya di internet, jadi belum bisa analisis. Tapi kalau ngeliat cerita di video klipnya sendiri, ini tentang kebebasan, lebih jauhnya mungkin tentang pencarian makna hidup. Taeyeon diceritakan nggak nyaman kerja di sebuah kafe, utamanya karena sering dibentak-bentak sang bos. Dan kalau tellah dari judulnya aja deh, “I”, udah ngegambarin soal eksistensialisme gitu lah.

Mencoba  mengelaborasi dari omongannya Kierkegaard sang Bapak Eksistensialisme itu, penggunaan kata “Aku” di sini menjadi sangat penting. Individu sebagai aku adalah yang menjadi aktor dalam kehidupan yang bisa mengambil arah hidupnya sendiri, bukan spektator kehidupannya belaka. Hanya individu yang benar-benar mengarahkan hidupnya yang bisa di sebut bereksistensi.

Mungkin bisa dibilang lagu ini mempertanyakan soal apakah kebebasan itu? Bagaimanakah manusia yang bebas itu? Dalam liriknya sendiri sering terdengar pengulangan kata “fly” dan ditampilkan pula kupu-kupu dalam klip sebagai simbol, ini membuat kita bertanya, bisakah manusia bebas terbang sesukanya layaknya kupu-kupu? Adakah kehendak bebas itu? Sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri. Ah ya, mungkin saya terbang kejauhan.

Yang pasti, ini lagu produksi SM yang paling saya suka sejauh ini, konsepnya beda banget dari yang biasanya. Tipikal musik Barat banget, dengan nuansa semacam alternative rock. Tapi tetap, kalau kata Eka Kurniawan mah mendengarkan Kpop itu seperti membaca novel-novelnya Murakami, Barat yang rasa Timur.

Kategori
Hiburan & Musik Korea Fever

The Red, Red Velvet

Saat menjelajahi toko Bandung Book Center yang ada di barisan paling belakang Pasar Buku Palasari, berkumandang lagu yang sangat saya kenal dari band kesukaan. Oh bukan band sih, lebih tepatnya girlband. Yang pasti pegawai toko buku itu, yang kebanyakan perempuan, emang pada terinfeksi demam Korea. Jadi wajar kalau lagu ‘Dumb Dumb’-nya Red Velvet diputar.