Kategori
Celotehanku Inspirasi

Wisata Alam di Kediri, Ini Tempat-Tempat Yang Sedang Populer

Tak hanya memiliki Simpang Lima Gumul yang bangunannya mirip dengan Arc de Triompe yang berada di Prancis, Kediri juga punya banyak potensi wisata lain yang belakangan sedang populer, khususnya di kalangan anak muda. Sebagian di antaranya adalah wisata alam, yang turut berkembang seiring dengan ramainya penggunaan media sosial di Indonesia.

Kamu sedang liburan di Kediri tapi belum tahu ingin jalan-jalan ke mana? Beberapa tempat wisata alam berikut ini bisa jadi ide. Selain cantik, lokasinya juga mudah ditemukan karena sedang populer di Kediri.

Air Terjun Ngleyangan

Air Terjun Ngleyangan
Air Terjun Ngleyangansumber: jatimvoice.com

Nama tempat wisata di Kediri ini baru populer beberapa tahun belakangan dan kerap disebut sebagai surga tersembunyi di Kota Tahu. Meski demikian, jalur menuju Air Terjun Ngleyangan sudah cukup mudah untuk ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Berada di lereng Gunung Wilis, Air Terjun Ngleyangan yang berlokasi di Desa Parang, Banyakan ini memiliki udara yang sejuk. Tinggi air terjunnya sekitar 123 meter, dengan curahan air bening nan segar. Keindahan yang luar biasa inilah yang membuat kawasan ini disebut sebagai surga yang belum banyak terjamah.

Gunung Kelud

Gunung Kelud
Gunung Kelud / sumber:wisata.id

Kawasan Gunung Kelud tetap menjadi tempat wisata di Kediri yang tidak boleh dilewatkan. Meski kawasan ini sudah sangat populer, tetapi selalu ada hal yang membuat pesona Gunung Kelud tak lekang oleh waktu.

Kawah di puncak Kelud adalah destinasi utama di sini. Danau dengan air berwarna kehijauan dan sisa material lava yang tak ikut dimuntahkan Kelud ketika terakhir kali meletus beberapa waktu lalu, kini jadi pemandangan baru di sekitar puncak salah satu gunung tertinggi di Jawa Timur ini.

Selain itu juga ada agrowisata alam yang bisa jadi jujugan wisata bersama keluarga di sekitar lereng Kelud. Dan pastinya, pemandangan alam di sepanjang jalan menuju Kelud sangat indah, sayang kalau dilewatkan begitu saja.

Bukit Ongakan

Bukit Ongakan
Bukit Ongakan / sumber:weekendescape.co.id

Di kalangan anak muda, Bukit Ongakan sedang jadi favorit. Baik untuk mereka yang senang berburu sinar matahari terbit, atau datang untuk sekadar swafoto dari beberapa titik yang sudah dihias oleh pengelola tempat wisata di Kediri ini.

Pesona Bukit Ongakan juga sedang populer dengan pemandangan perbukitan menghijau yang membentang luas dan udaranya yang sejuk, tidak heran kalau setiap harinya tempat wisata yang berada di Desa Besowo, Kecamatan Kepung ini selalu ramai dengan wisatawan baik dari dalam maupun luar kota Kediri.

Air Terjun Irenggolo

Air Terjun Irenggolo
Air Terjun Irenggolo / sumber:adakitanews.com

Kawasan Gunung Wilis di Kediri memang sangat cantik. Salah satu pesona yang dimiliki oleh gunung ini adalah Air Terjun Irenggolo, yang berada di Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo.

Berbeda dengan air terjun lainnya yang langsung menghunjam ke tanah dengan posisi 45 derajat. Tidak demikian dengan air terjun Irenggolo, yang posisinya lebih landai, namun berukuran cukup panjang.

Dengan lokasi yang berada di ketinggian kurang lebih 1200 mdpl, udara di sekitar tempat wisata di Kediri ini sangat sejuk. Ditambah dengan airnya yang dingin dan bening, membuat pengunjung enggan beranjak dari tempat ini.

Kediri punya banyak potensi wisata alam yang belum banyak terjamah. Akses menuju kediri bisa dengan mudah kamu dapatkan dari situs travel online, salah satunya Traveloka. Tak hanya kebutuhan tiket perjalanan, informasi wisata juga bisa kamu daptkan dengan mudah dan lengkap. Ayo sekarang lihat lagi kalender dan cek tanggal liburan di tahun ini. Jika kamu ingin mencari ketenangan, liburan ke Kediri saja yuk!

Kategori
Celotehanku Inspirasi

Tips Menulis Bagi Saya dan Kawan INFP Lainnya

Para penulis adalah orang yang depresi, tegas penyair cabul Charles Bukowski, dan ketika mereka berhenti jadi depresi mereka berhenti jadi penulis. Kau tak bisa jadi pengarang fiksi serius yang hebat, sebut pengarang fiksi ilmiah Kurt Vonnegut, jika kau enggak depresi. Nah, bukannya berbangga diri atau apa, tapi jika menyetujui kutipan dua penulis Amerika Serikat tadi, nampaknya saya punya kans untuk bisa jadi seorang penulis prosa yang baik–meski penulis skripsi yang celaka.

Memang, setiap manusia punya entitas unik dan kompleks, tiap individu berbeda. Setelah manusia lahir, lalu dibeda-bedakan berdasar suku bangsanya, agamanya, pandangan politiknya, serta embel-embel lainnya, saya enggak hendak berlaku diskriminatif, atau rasial. Tapi penggolongan kepribadian ini, untuk beberapa hal, saya pikir sesuatu yang berguna. Seenggaknya, lebih ilmiah ketimbang astrologi.

Kategori
Inspirasi

Ingin Jadi Penulis Hebat, Piara Kucing!

“Jika kau ingin menjadi seorang penulis novel psikologis dan menulis soal manusia,” sebut Adous Huxley dalam rangka memberi wejangan bagi penulis muda, “jalan terbaik yang dapat kau lakukan adalah dengan memiara sepasang kucing.”

Memang apa sih yang spesial dari kucing? Apa yang istimewa selain sebagai makhluk imut yang katanya punya sembilan nyawa ini? Nah, Ernest Hemingway menyebut: “Seekor kucing punya kejujuran emosional sebetul-betulnya: manusia, untuk beberapa alasan, dapat menyembunyikan perasaannya, namun kucing enggak.”

Kategori
Inspirasi

Kearifan Pesimisme

Sebenarnya apa bedanya antara pesimis, berpikir realistis, dan bersyukur? Ya, secara makna, ketiga istilah ini masing-masing punya arti berbeda. Tapi kalau dipikir-pikir, nggak terlalu berbeda, ketiganya punya persamaan, sama-sama pasrah dengan keadaan yang ada dan sama-sama agar kita nggak terlalu kelewatan berekpektasi. Meski memang, pesimisme dianggap sebagai kata yang negatif, jelek untuk dipakai.

Apapun itu, sikap pesimisme juga bisa memandu kita untuk mencapai yang namanya kebahagiaan. Ada sebuah rumus, bahwa kebahagiaan itu merupakan hasil dari realita yang dibagi dengan ekpektasi. Jadi, cara untuk berbahagia adalah dengan mengubah realita agar sesuai ekpektasi, lebih bagus lagi melebihinya, atau yang paling mudah adalah dengan menurunkan ekpektasi kita.

Ini dinamakan pesimisme atau apa, yang pasti masih ada kearifan yang bisa dipetik lewat sudut pandang melihat bahwa sebuah gelas itu setengah kosong, ketimbang setengah terisi. Pesimisme adalah bentuk pertahanan diri kita dari penyesalan, agar tidak terlalu kecewa ketika mendapat kegagalan.

Hari ini sungguh menyebalkan, besok dan seterusnya mungkin akan lebih buruk lagi, maka inilah hidup, alhamdulillah-nya saya masih bisa hidup. Lantas apa yang salah dengan pikiran semacam ini?

Kategori
Cacatnya Harianku Inspirasi

Tips Menulis dari Seno Gumira Ajidarma

Hari masih siang, dan Chrisye sedang bernyanyi di Kineruku. Mungkin karena terhasut tulisan Eka Kurniawan dan Bernard Batubara, dari beragam penulis yang berserak di rak, saya memilih Milan Kundera.

Meski ada versi terjemahannya, saya nekat ambil yang versi Inggris karya penulis Ceko yang sering masuk nominasi peraih nobel sastra, The Book of Laughter and Forgetting. “Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa,” sebutnya. Ya, inilah novel yang melahirkan jargon terkenal menolak lupa itu.

Kategori
Inspirasi

Jadilah Seniman, Sekarang Juga!

Kenapa kita berhenti bermain dan berkreasi? Dengan luwes dan humoris, Young-ha Kim, penulis asal Korea Selatan ini memberi ceramah asyik soal membangkitkan kembali sang seniman yang bersembunyi dalam diri kita di TEDxSeoul.

Ah saat sedang dilanda galau ‘quarter-life crisis’, akhirnya saya dipertemukan dengan tautan super keren dan inspiratif ‘Talks to watch when you don’t know what to do with your life’. Ya, video di atas adalah salah satunya, dengan pembicara seorang penulis kontemporer Korea Selatan sekaligus profesor di Korea National University of Arts. Entah kenapa saya pilih video ini sebagai yang pertama, mungkin karena serasa lagi bercermin kalau ngeliat Young-ha Kim ini. Yang pasti ini salah satu ceramah TEDx yang keren banget.

Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once we grow up. – Pablo Picasso

“Ah gue sibuk, nggak punya waktu buat seni atau apalah namanya.”

“Hey seni nggak bikin perut kenyang. Aku harus pergi sekolah, nyari kerjaan, bla bla bla…”

Dan banyak alasan lain, khususnya karena kita menganggap seni hanya bagi mereka yang berbakat. Padahal kita semua adalah seniman, saat masih kecil kita sangat berbakat, jadi pelukis, jadi penulis, jadi penari, jadi penyanyi, jadi apapun yang kita mau. Tapi kemana si seniman tadi? Ya, kita sendiri yang menguncinya, membuangnya, bahkan membunuh ‘sang seniman kecil’ itu.

Semakin dewasa, kita semakin banyak beralasan.

young ha kim writer tips quote

Tentunya, sebagai pengarang I Have the Right to Destroy Myself dan Your Republic is Calling You, juga karya novel lainnya, Kim Young-ha membeberkan beberapa pencerahan soal menulis, khususnya dalam hal ‘story-telling’. Dia mengutip Roland Barthes yang menyoal novel Flaubert, “Flaubert tidak menulis novel. Dia hanya menghubungkan satu kalimat demi satu kalimat. Ada eros di antar kalimatnya, yang merupakan esensi novel Flaubert.” Ya, novel, pada dasarnya, adalah menulis satu kalimat, kemudian, tanpa melanggar ruang lingkup yang pertama, menulis kalimat berikutnya. Dan kamu terus membuat koneksi.

Ambil contoh kalimat ini: Gregor Samsa terbangun dari satu mimpi buruk dan menemukan dirinya menjadi seekor kecoa besar. Ya, ini adalah kalimat pertama dalam Metamorfosis-nya Franz Kafka. Dia menulis kalimat yang enggak benar dan terus melanjutkan kalimatnya untuk membenarkan kalimat pertama itu, dan karya Kafka ini menjadi karya agung di sastra kontemporer.

Yang paling saya suka adalah konsep pengajaran soal menulis cerita dari Young-ha Kim. Dalam kelasnya, ia menyuruh muridnya untuk menuliskan cerita tentang momen paling sial di sekolah, namun harus dengan buru-buru. Menulis dengan tergesa-gesa. Alasannya, ketika kita menulis dengan lambat dan penuh perhitungan, akan muncul yang namanya setan. Yaitu setan yang akan membisikin, “Tulisan apa ini? Jelek amat. Bakal diketawain loh nanti.” Nah, dengan menulis secara ngebut, mudah-mudahan setan tadi nggak bakal ngejar. Dan terbukti, Young-ha Kim menilai kalau tulisan bagus dari para muridnya justru tercipta dari kelas menulis ngebut selama 40-60 menit ini, bukan dari tugas menulis yang di-PR-kan. Harus dicoba nih!