Kategori
Kesehatan

Histamin: Apa dan Bagaimana?

Kamu mungkin pernah mendengar tentang antihistamin. Itu adalah obat-obatan yang meredakan gejala alergi. Tapi apa itu histamin?

Mereka adalah bahan kimia yang sistem kekebalan tubuh kita buat. Histamin bertindak seperti penjaga garang. Mereka membantu tubuh kita menyingkirkan sesuatu yang mengganggu kita – dalam hal ini, pemicu alergi, atau “alergen”.

Kategori
Kesehatan

5 Alergi Aneh Tapi Nyata dan Menyiksa

Mungkin kamu sendiri punya alergi tertentu atau mengenal seseorang yang menderita suatu alergi. Dari alergi kacang hingga alergi dingin, memungkinkan timbul gejala sangat berbahaya jika tidak ditangani dengan hati-hati.

Alergi sendiri berarti reaksi sistem kekebalan tubuh manusia terhadap benda tertentu, yang tidak menimbulkan reaksi di tubuh orang lain. Reaksi terburuk dari alergi dapat membuat seseorang jadi sesak napas, muntah, pingsan, tekanan darah rendah, dan bahkan kemungkinan kematian.

Kategori
Kesehatan Sosial Budaya

Ketika MSG Mendapat Reputasi Buruk

Seperti banyak orang, saya pikir MSG atau monosodium glutamat atau yang akrab disapa micin, senyawa kimia yang digunakan untuk meningkatkan rasa makanan, tak baik bagi saya, dan saya yakin saya merasa tak enak setiap kali memakan beragam masakan atau penganan yang dibumbuinya.

Yang sebenarnya, MSG bukanlah penyedap buatan yang aneh dan mencurigakan. Komponen ini ditemukan di banyak makanan alami, dan diambil darinya. Sang pencipta MSG mendapatkannya dari gandum dan kedelai secara khusus. Satu-satunya bahaya yang datang dari MSG adalah memakannya terlalu banyak, karena komponen natriumnya. Seperti hal lain, jika berlebihan pasti menjadi tak baik. Namun kenapa MSG sampai punya reputasi buruk ini?

Awal Terciptanya MSG

Sejak ditemukan di awal 1900-an, MSG identik dengan kelezatan. Ketika ditambahkan ke makanan, ia meningkatkan umami, yang telah dianggap sebagai rasa kelima sejak awal tahun 2000-an (selain manis, asam, asin dan pahit) dan secara beragam diterjemahkan dari bahasa Jepang sebagai enak, nikmat, lezat atau gurih.

Umami adalah rasa gurih yang ditemukan dalam berbagai jenis makanan, seperti parmesan dan jamur-jamuran, serta di sebagian besar daging. MSG adalah manifestasi kristalisasinya.

Kikunae Ikeda, seorang ahli kimia Jepang, menemukan senyawa tersebut pada tahun 1907 saat menyelidiki kekhasan yang ia temukan dalam makanan seperti asparagus, tomat, dan kaldu sup yang dibuat istrinya dengan rumput laut. Dia menentukan bahwa glutamat, bentuk ion dari asam glutamat, bertanggung jawab atas umami.

Kikunae Ikeda Monosodium Glutamat
Kikunae Ikeda penemu bumbu dapur Monosodium Glutamat.

Dia kemudian menemukan cara mensintesis molekul dengan mengekstraksi glutamat dari rumput laut dan mencampurkannya dengan air dan garam meja untuk menstabilkan senyawa tersebut. Ikeda mematenkan produk jadi, dan kemudian jadi salah satu kesuksesan komersial terbesar ilmu kuliner Jepang.

Saat ini, bumbu kristal ini, yang sering dibuat dari bit dan jagung, dikenal sebagai MSG, tetapi sering disebut dengan nama yang pertama kali diberikan Ikeda: Aji no Moto, yang berarti penyedap rasa.

Di Barat, bubuk putih halus pertama ini kali dijual dalam botol tipis yang dimaksudkan untuk menarik ibu rumah tangga borjuis di dapur karena menawarkan kebersihan dan modernitas, menurut penelitian oleh Jordan Sand, seorang profesor sejarah Jepang di Universitas Georgetown. Di Tiongkok, itu ditawarkan kepada umat Buddha, yang tak makan daging, sebagai cara vegetarian untuk meningkatkan rasa makanannya.

Awal Reputasi Buruk MSG

Pada 1950-an, MSG ditemukan dalam makanan kemasan di seluruh Amerika Serikat, mulai dari camilan hingga makanan bayi. Sand mengatakan dalam makalahnya tahun 2005 bahwa edisi 1953 dari The Joy of Cooking merujuk pada monosodium glutamat sebagai “‘bubuk putih’ misterius dari Timur… ‘msg,’ seperti yang dijuluki oleh para pemujanya.”

Setelah publikasi Rachel Carson “Silent Spring” dan larangan federal atas pemanis yang dianggap karsinogenik oleh Food and Drug Administration, konsumen mulai mengkhawatirkan tiap zat tambahan kimiawi dalam makanan mereka.

Pada tahun 1968, New England Journal of Medicine menerbitkan surat dari seorang dokter yang mengeluh tentang rasa sakit yang menyebar di lengannya, kelemahan dan jantung berdebar setelah makan di restoran Cina. Dia berpikir bahwa masakan dengan anggur, MSG atau garam yang berlebihan mungkin menjadi penyebabnya.

Tanggapan pembaca mengalir dengan keluhan serupa, dan para ilmuwan segera meneliti fenomena tersebut. Awalnya, para peneliti melaporkan hubungan antara mengonsumsi MSG dan gejala yang dikutip dalam New England Journal of Medicine. “Sindrom Restoran Cina” lahir.

Judul-judul buku dan headline muncul: “Makanan Cina membuatmu gila? MSG adalah Tersangka No. 1,” tulis Chicago Tribune, sementara buku berjudul Excitotoxins: The Taste That Kills dan In Bad Taste: The MSG Symptom Complex mendorong tinjauan FDA dan investigasi “60 Minutes”, seperti yang ditulis Alan Levinovitz, seorang profesor filsafat Cina di Universitas James Madison, dalam buku 2015 tentang mitos makanan.

Namun studi awal tersebut memiliki kelemahan penting, termasuk bahwa partisipan mengetahui apakah mereka mengonsumsi MSG atau tidak. Penelitian selanjutnya telah menemukan bahwa sebagian besar orang, bahkan mereka yang mengklaim sensitif terhadap MSG, tak memiliki reaksi apa pun ketika mereka memakannya secara tak tahu.

Sindrom Restoran Cina dan Sentimen Rasial

Bahwa MSG menyebabkan masalah kesehatan mungkin telah berkembang pesat pada bias rasial sejak awal. Ian Mosby, seorang sejarawan makanan, menulis dalam makalah tahun 2009 berjudul ‘That Won-Ton Soup Headache’: The Chinese Restaurant Syndrome, MSG and the Making of American Food, 1968-1980 bahwa ketakutan akan MSG dalam makanan Cina adalah bagian dari sejarah panjang AS dalam memandang masakan “eksotis” Asia sebagai berbahaya atau kotor.

Seperti yang dikatakan Sand: “Sungguh malang bagi para juru masak Tiongkok untuk tertangkap basah dengan bubuk putih di kompor mereka ketika penambah rasa yang pernah dipuji tiba-tiba menjadi bahan kimia tambahan.”

Namun, kekhawatiran tidak hanya di kalangan publik. Dari akhir 1960-an hingga awal 1980-an, “Sindrom Restoran Cina” dianggap sebagai penyakit yang sah oleh banyak kalangan medis, menurut penelitian Mosby. Hal yang sama tidak dapat dikatakan hari ini. Meski hampir semua penelitian Amerika Serikat yang menyatakan bahwa MSG aman didanai oleh perusahaan yang memiliki andil dalam kesuksesan MSG, para peneliti berpendapat bahwa MSG terbilang aman.

Tentu saja, sebagian kecil orang memang memiliki reaksi negatif yang secara langsung disebabkan oleh glutamat, tetapi sains hingga saat ini menunjukkan bahwa hal itu kemungkinan besar merupakan fenomena langka. MSG masih, dan selalu, dalam daftar makanan yang “secara umum diakui aman” oleh FDA.

Efek Nocebo Karena Reputasi Buruk MSG

Hanya karena tidak ada hubungan ilmiah antara makanan tertentu dan efek negatif kesehatannya, bukan berarti rasa sakit atau ketidaknyamanan yang dialami pengunjung hanyalah khayalan. Orang yang menderita setelah makan MSG mungkin mengalami efek nocebo, sepupu yang kurang dikenal dan kurang dipahami dari efek placebo.

Fenomena inilah yang terjadi ketika menyatakan bahwa sesuatu dapat menyebabkan reaksi negatif justru menimbulkan gejala fisik tersebut. Ketika sebuah restoran Cina menempatkan “tidak ada MSG” pada menunya untuk meyakinkan pelanggan, hal itu menambah stigma, kemungkinan akan meningkatkan efek nocebo dalam prosesnya. Seperti halnya efek plasebo, efek nocebo dapat memiliki reaksi yang sangat nyata.

Seperti yang ditunjukkan oleh Brendan Nyhan, seorang profesor Dartmouth yang telah meneliti cara memengaruhi sikap tentang vaksin, sulit bagi orang untuk mengubah pikiran mereka tentang masalah kesehatan pribadi karena itu bertentangan dengan apa yang mereka anggap alami di masa lalu.

“Orang yang merasa tidak enak setelah makan makanan China di masa lalu mungkin menyalahkan MSG … dan dengan demikian menolak informasi yang mereka temui kemudian tentang efek sebenarnya,” katanya. Ini mungkin hasil dari heuristik ketersediaan, ketika orang membuat penilaian menggunakan informasi termudah yang tersedia, ketimbang mencari penjelasan alternatif.

Seperti yang dijelaskan oleh Christie Aschwanden, begitu kita mencapai kesimpulan yang salah, otak kita mencegah kita menerima informasi baru yang dapat mengoreksi asumsi yang salah tersebut. Dalam kasus MSG ini, koneksi palsu cukup berbahaya bagi kebanyakan orang tetapi mungkin masih menyebabkan ketidaknyamanan bagi beberapa orang, baik karena mereka mengalami efek nocebo atau menghilangkan kelezatannya.

Kita semua membuat pilihan tentang bagaimana kita makan; Bagi sebagian orang, keputusan tersebut didasarkan pada dukungan ekonomi lokal, menghindari daging untuk perlakuan manusiawi terhadap hewan, atau sekadar ingin tahu apa yang masuk ke dalam tubuh mereka.

Tidak ada yang benar atau salah, tetapi perlu dipahami asal mula pilihan tersebut. Dalam kasus MSG, ini tampaknya bukan soal sains dan lebih banyak tentang budaya dan politik saat ini.

Kategori
Psikologi

Bucin: Kebodohan yang Diprogram Secara Biologis

Jantungmu berdetak sedikit lebih cepat. Kelenjar-kelenjar terbuka mengeluarkan tetes peluh penuh rahasia. Tubuhmu mulai memproduksi hormon-hormon, yang membuatmu merasa sedikit pusing tapi hangat di dalam, dan perasaan berbunga-bunga.

Kondisi ini, sialnya, jadi salah satu alasan writer’s block paling konyol yang sering saya alami. Sebut saja bucin, atau kasmaran, atau jatuh cinta. Pernah karena tengah dimabuk asmara, kerjaan saya enggak beres-beres. Karena hampir deadline, teman sampai mengultimatum gebetan saya agar jangan membalas chat saya sebelum tugas tulisan berhasil saya rampungkan.

Sebelum-sebelumnya, saya sering sinis dan mengolok orang-orang yang lagi bucin ini, sampai saya mengalami sendiri. Maklum, saya termasuk golongan late bloomer dan pengalaman asmara yang payah. Kondisi aneh itu bikin saya bertanya-tanya, dan kegemaran saya adalah mencari jawabannya dari penjelasan ilmiah.

Kasmaran dan Banjir Hormon

Ketika kita “jatuh cinta” secara garis besar ada tiga hormon yang membanjiri otak kita. Dr Helen Fisher, seorang antropolog biologi di Kinsey Institute, New York menyebutkan kalau masing-masing terikat pada aspek yang berbeda dalam prosesnya:

  1. Testosteron dalam dorongan seksual,
  2. Dopamin dalam cinta romantis,
  3. Oksitosin dilepas saat kita membentuk keterikatan yang lebih dalam.

Ketiganya tidak menghantam kita secara berurutan. Namun untuk keterikatan, apakah ia datang sebelum atau sesudah kita tertarik pada seseorang, membutuhkan waktu.

Hormon-hormon ini memang memiliki peran pada otak yang sedang kasmaran, sekaligus mendatangkan malapetaka. Sebagian besar kegamangan berbunga-bunga dari orang-orang yang sedang kasmaran dapat ditelusuri ke efek dopamin yang membanjiri otak. Inilah yang menyebabkan seseorang terobsesi tentang minat cinta baru mereka.

Fisher menyebutkan bahwa seseorang dapat menghabiskan hingga 85% waktunya untuk memikirkan si dia.

“Lalu ada keinginan untuk penyatuan emosional,” kata Fisher, yang juga menulis Anatomy of Love. “Ya, kamu memang ingin tidur dengannya, tetapi yang kamu inginkan adalah agar mereka menelepon, mengajakmu keluar, untuk memberi tahumu bahwa mereka mencintaimu.”

500 days of summer
(500) Days of Summer (2009)

“Kamu sangat termotivasi untuk memenangkan orang ini. Area ventral tegmental, bagian otak yang mengendalikan ini, tepat di dekat area otak yang mengatur haus dan lapar,” lanjut Fisher. “Ini adalah dorongan dasar manusia.”

Dopamin juga menyebabkan seseorang melihat kekasihnya benar-benar unik dan luar biasa. “Musik yang mereka suka menjadi luar biasa,” sebut Fisher. Hormon ini juga menyebabkan emosi yang kuat, baik positif maupun negatif, serta hasrat seksual, kecemasan akan adanya perpisahan dan tingkat energi yang tinggi.

Selanjutnya, dalam sebuah temuan yang mungkin tak bakal mengejutan siapa pun, keadaan jatuh cinta menghambat kemampuan seseorang untuk membuat keputusan rasional.

“Korteks prefrontal medral ventral, wilayah otak yang berfokus pada yang negatif, menjadi kurang aktif ketika mereka jatuh cinta,” kata Fisher. “Jadi mereka berfokus pada hal positif dan mengabaikan yang negatif.”

Adakah Cara Untuk Menyetop Bucin?

fallen angels
Fallen Angels (1995)

Saat kasmaran, bagian otak yang terkait dengan pengambilan keputusan menunjukkan sedikit aktivitas. Hal ini terjadi karena individu diprogram sedang melakukan sesuatu yang lebih penting.

Fisher menjelaskan bahwa kita tengah mencoba memenangkan hadiah terbesar dalam hidup: seorang pasangan kawin. Karenanya, seluruh mekanisme otak dirancang agar kita bisa mendapatkannya.

Tentu, kasmaran bakal menenang, sedikit demi sedikit, seiring berjalannya waktu.

Fisher bersama timnya membandingkan aktivitas otak orang-orang yang baru saja jatuh cinta dengan orang-orang yang telah bersama pasangannya selama rata-rata 21 tahun, dan yang menggambarkan dirinya masih “jatuh cinta”. Mereka menemukan aktivitas yang sangat mirip di area tegmental ventral otak pada kedua kelompok, dengan satu perbedaan yang signifikan.

“Di antara mereka yang baru saja jatuh cinta, kami menemukan aktivitas di wilayah terkait, saya tidak akan mengatakan ansietas, tetapi intensitas,” sebut Fisher.

“Namun di antara mereka yang telah jatuh cinta dalam jangka panjang, ada aktivitas otak yang harus dilakukan dengan ketenangan,” jelas Fisher. “Anda masih ingin bercinta dengan orang tersebut, bersenang-senang dengan orang tersebut, ingin menikah lagi dengan orang tersebut, tetapi Anda tidak gelisah tentang orang itu.”

Jatuh cinta bisa sekelebat, tapi cinta bisa memanjang. “Love is not time’s fool,” tulis Shakespeare dalam sonet 116: “Love alters not with his brief hours and weeks / But bears it out even to the edge of doom.

Sebenarnya, Apa Itu Jatuh Cinta?

parasite kiss
Parasite (2019)

Psikologi hanya dapat mengungkapkan sedikit tentang mengapa kita menemukan orang-orang tertentu yang menarik. Misalnya, kita lebih cenderung jatuh cinta pada seseorang yang mirip: dari kelompok sosial ekonomi, tingkat ketertarikan, pendidikan, dan latar belakang agama yang sama.

“Saya akan memberi tahu Anda sesuatu yang Anda tidak ingin tahu: secara statistik Anda lebih mungkin untuk menikah dengan seseorang yang secara fisik tampak seperti orang tua lawan jenis Anda,” sebut Madeleine Fugère, profesor psikologi di Eastern Connecticut State University.

Pemicu lain yang menarik adalah warna merah, yang ketika dikenakan oleh orang-orang yang lebih muda meningkatkan daya tarik mereka kepada pasangan. Ada juga akibat siklus menstruasi perempuan, yang memengaruhi tipe pria yang akan menarik minatnya. Selama ovulasi, perempuan tertarik pada pria dengan perawakan yang lebih maskulin, tapi ketika tidak sedang berovulasi, perempuan cenderung memilih pria yang terlihat tak terlalu maskulin.

Namun gagasan bahwa ada cara ilmiah untuk memahami secara tepat apa yang membuat beberapa orang menarik bagi kita dan orang lain tidak, atau gagasan bahwa kita dapat jatuh cinta dengan siapa pun yang punya cukup keintiman dengannya, menurut Fugère, adalah sesuatu yang menggelikan.

Terlepas dari semua yang kita ketahui tentang psikologi tarik-menarik, masih ada banyak misteri dalam pertanyaan tentang siapa yang kita cintai, sebut Fugère. “Ada hal-hal tak sadar lain yang mendorong ketertarikan kita pada orang lain dan kita tidak tahu apa itu.”

Mengambil Risiko Untuk Jatuh Cinta

science of sleep
The Science of Sleep (2006)

Diperkirakan satu dari empat hubungan hari ini tercipta dari dunia online. Kita belajar banyak tentang seseorang sebelum bertemu mereka, dan perkembangan tradisional dari ketertarikan menuju hubungan telah bergeser bagi banyak orang.

“Kencan online adalah semua tentang kata-kata dan foto,” sebut Kate Taylor, seorang pakar hubungan di Match. “Jadi ini memungkinkan Anda mengembangkan sebuah hubungan dan ketertarikan berdasarkan faktor-faktor seperti minat bersama, selera humor yang nyambung dan kecerdasan. Ketika kita jatuh cinta secara offline, banyak faktor yang lebih kompleks ikut bermain: aroma, feromon, hormon dan itu jauh lebih merupakan sebuah proses yang primal dan misterius.”

Karena cinta begitu misteri, Fugère mengatakan bertemu dengan banyak orang sangat penting. Dia juga memiliki semacam tip licik: orang lebih cenderung jatuh cinta jika jantung mereka berpacu dan suhunya naik.

“Kita sudah tahu jika Anda pergi berkencan menaiki roller coaster dengan seseorang yang sudah menaruh hati pada Anda, mereka akan lebih mungkin jatuh cinta pada Anda,” katanya. “Ini bekerja dengan apa pun yang menggairahkan – bungee jumping, pendakian, segala yang benar-benar membuat jantung Anda berdetak.”

Nasihat Fisher hampir serupa: “Jika Anda benar-benar ingin jatuh cinta dengan seseorang, lakukan hal-hal baru bersama-sama.” Fisher menyebutkan untuk melakukan pendakian, naiki sepeda untuk makan malam ketimbang naik mobil, pergi ke opera, bermain ski, melakukan perjalanan ke Paris saat akhir pekan, berhubungan seks di ruangan yang berbeda. Kebaruan, kebaruan, kebaruan. Ini mendorong dopamin di otak dan dapat mendorong Anda melewati ambang pintu ke dalam cinta.

Pada akhirnya, cinta adalah satu bagian kemanusiaan kita yang begitu luas sehingga seni dan budaya dipenuhi dengan beragam referensi pada hal ini. Jatuh cinta adalah jalan masuknya. Kita berhutang banyak pada kesuksesan kita sebagai spesies manusia berkat hal mungil yang gila yang disebut cinta ini.

*

Referensi:

  • Fisher, Helen. (2016). Anatomy of Love: A Natural History of Mating, Marriage, and Why We Stray
  • Lyons, Kate & Peter Kimpton. (12 Februari 2016). How do I…fall in love. The Guardian.
Kategori
Anime Psikologi

Tsundere: Teori Karakter dan Psikologi di Baliknya

Tsundere, bagi yang belum tahu, adalah proses pengembangan karakter yang menggambarkan seseorang yang awalnya dingin, galak dan bahkan tampak memusuhi, sebelum kemudian secara bertahap menunjukkan sisi yang lebih hangat seiring berjalannya waktu. 

Karakter tsundere ini jadi salah satu arketip yang sering hadir dalam manga dan anime. Ambil contoh Inuyasha, hampir sepertiga karakternya (termasuk Inuyasha sendiri) masuk kategori tsundere: terlihat garang di luar tapi aslinya baik.

Sering kali, tsundere merasa malu atau tak tahu apa yang harus dilakukan dengan perasaan romantis mereka dan karenanya menjadi lebih agresif dan egois daripada biasanya — terutama dalam kedekatan dengan subyek afeksi mereka. Perjuangan batin mereka yang konstan antara rasa bangga diri dan cinta mereka adalah kunci bagaimana karakter-karakter ini bertindak.

Ketika karakter tsundere berkembang dan menerima perasaannya, mereka memang tetap dalam mode “tsun tsun” (berpaling dengan jijik, marah atau angkuh) di depan umum tetapi menjadi semakin “dere dere” (kasmaran/bucin) ketika berada secara personal, ketika tak dilihat yang lain. Jika seorang karakter pernah mengucapkan kalimat “itu bukan karena aku menyukaimu,” dengan muka ketus ketika berbuat baik, dapat dijamin kalau dia karakter tsundere.

Tsundere dan Teori Keterikatan (Attachment Theory)

Sebagai seseorang yang tertarik pada psikologi, saya suka mencari tahu alasan mengapa orang melakukan sesuatu dan mengapa mereka bertindak. Saya menemukan istilah psikologis menarik dalam teori keterikatan yang dapat digunakan untuk menggambarkan alasan di balik tindakan seorang tsundere: avoidant attachment. Orang-orang dengan gaya keterikatan ini melihat kedekatan dan investasi emosional selalu sebagai sesuatu yang berbahaya dan harus dijauhi.

Infografis dari Guess Who’s Coming

Dalam teori keterikatan ini, tipe avoidant ini sangat mandiri, seringkali tidak nyaman dengan keintiman, fobia akan komitmen dan ahli dalam merasionalisasi jalan keluar dari situasi intim apa pun. Pura-pura berlaku tak ramah dan galak agar dijauhi. Orang dengan tipe avoidant dalam situasi yang menyusahkan dapat hadir seolah-olah dia sangat tenang padahal sebenarnya situasi internalnya sangat bertolak belakang. Tsundere sangat mewakili istilah psikologis ini.

Kenapa Karakter Tsundere Begitu Disukai?

Karakter tsundere ini telah terbukti sangat populer dan dicintai. Untuk menyebut beberapa, ada Asuka Langley (Neon Genesis Evangelion), Naru Narusegawa (Love Hina), Kyou Sohma (Fruits Basket), Rin Tohsaka (Fate/Stay Night), Kaname Chidori (Full Metal Panic), dan Haruhi Suzumiya, yang setidaknya mendefinisikan karakter tsundere. Daftarnya akan selalu bertambah, karena mereka begitu disukai.

Hitagi Senjougahara di Bakemonogatari

Mengapa karakter tsundere kok malah disukai? Psikolog dan penggemar anime, Yoshihito Nautou, menjelaskan ketertarikan ini lewat bukti ilmiah. Argumen Nautou mengacu pada studi yang dilakukan oleh Gerald Clore, dari University of Illinois. Clore melakukan percobaan pada 338 partisipan dengan menunjukkan empat video dari dua orang (A dan B) yang tengah berinteraksi. Video-videonya sebagai berikut:

  • Video 1: A ramah ke B.
  • Video 2: A pada awalnya ramah ke B, tetapi menjadi dingin ketika percakapan berlanjut.
  • Video 3: A awalnya tidak ramah ke B, tetapi melunak saat percakapan berlanjut.
  • Video 4: A bertindak seperti seorang brengsek dan mengamuk selama keseluruhan percakapan.

Saat disurvei tentang perilaku mana yang paling menarik, mayoritas partisipan memilih video nomor tiga. Proses yang menyebabkan ini disebut efek untung-rugi. Pada dasarnya, ketika seseorang secara konsisten berlaku tidak menyenangkan pada kita, hal itu menetapkan dasar perilaku yang mewarnai harapan kita. Ketika orang itu ternyata menjadi lebih menyenangkan, bahkan jika cuma sedikit, kita akan menafsirkannya sebagai kemajuan, yang secara psikologis begitu menarik.

Penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa hal itu menarik bagi gagasan kita untuk berhasil dalam memenangkan sebuah permainan. Tsundere dalam kondisi alaminya bakal memperlakukanmu kayak tai. Namun begitu kamu menampilkan daya tarik melalui beragam niat baik, pertahanan mereka akan turun.

Kamu melihat muka mereka memerah dan mereka mencoba berlaku seolah-olah mereka tidak menyukaimu. Menghancurkan tembok mereka dengan niat baik adalah pencapaian memuaskan. Kamu menang dan sebagai hadiah, kamu mendapatkan sisi “dere” yang lembut dan indah.

Jadi jika menemui karakter tsundere ini, jika ada orang yang memperlakukanmu dengan tak ramah atau bahkan galak tanpa sebab, mereka mungkin mencoba menyembunyikan ketertarikan romantis yang tidak dapat mereka akui. Namun perlu juga dicatat, beberapa orang aslinya memang membencimu, jadi silahkan cari cermin terdekat.

Kategori
Psikologi

Manfaat Psikologis Musik

woman listening music
Foto: Rakhmat Suwandi / Unsplash

Mendengarkan musik bisa menghibur dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa kegiatan ini bahkan membuat kita lebih sehat. Musik dapat menjadi sumber kesenangan dan kepuasan, juga ada banyak manfaat psikologis lainnya.

Gagasan bahwa musik dapat memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku kita mungkin tak terlalu mengejutkan. Jika kita pernah merasa bersemangat saat mendengarkan lagu rock bertempo cepat favorit kita atau terharu oleh pertunjukan live yang kalem, maka kita dengan mudah memahami kekuatan musik untuk memengaruhi suasana hati dan bahkan menginspirasi tindakan.

Efek psikologis dari musik dapat menjadi kuat dan luas jangkauannya. Terapi musik adalah intervensi yang kadang-kadang digunakan untuk meningkatkan kesehatan emosional, membantu pasien mengatasi stres, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa selera musik kita dapat memberikan wawasan tentang berbagai aspek kepribadian kita.

Musik dapat menenangkan pikiran, memberi energi pada tubuh, dan bahkan membantu orang mengelola rasa sakit dengan lebih baik. Jadi apa manfaat potensial lain yang mungkin disediakan musik?

1. Musik dapat meningkatkan kinerja kognitif

Penelitian menunjukkan bahwa background music, atau musik yang dimainkan ketika pendengar terutama berfokus pada kegiatan lain, dapat meningkatkan kinerja dalam tugas-tugas kognitif pada orang dewasa yang lebih tua.

Satu studi menemukan bahwa memainkan lebih banyak musik ceria menyebabkan peningkatan dalam kecepatan pemrosesan sementara musik ceria dan ceria menyebabkan manfaat dalam memori.

Jadi pada saat kita mengerjakan tugas, pertimbangkan untuk menyalakan sedikit musik di latar belakang jika kita mencari peningkatan kinerja mental kita. Pertimbangkan untuk memilih lagu instrumental daripada lagu dengan lirik yang rumit, yang mungkin berakhir menjadi lebih mengganggu.

2. Musik dapat mengurangi stres

Telah lama diketahui bahwa musik dapat membantu mengurangi atau mengelola stres. Pertimbangkan tren yang berpusat pada musik meditatif yang diciptakan untuk menenangkan pikiran dan mendorong relaksasi. Untungnya, ini adalah salah satu tren yang didukung oleh penelitian. Mendengarkan musik bisa menjadi cara yang efektif untuk mengatasi stres.

Dalam satu studi pada tahun 2013, partisipan mengambil bagian dalam salah satu dari tiga kondisi sebelum terkena stresor dan kemudian mengambil tes stres psikososial. Beberapa partisipan mendengarkan musik yang menenangkan, yang lain mendengarkan suara gemericik air, dan sisanya tidak menerima rangsangan pendengaran.

Hasilnya menunjukkan bahwa mendengarkan musik berdampak pada respon stres manusia, terutama sistem saraf otonom. Mereka yang mendengarkan musik cenderung pulih lebih cepat setelah stres.

3. Musik membantu kita makan lebih sedikit

Salah satu manfaat psikologis yang paling mengejutkan dari musik adalah bahwa itu bisa menjadi alat penurunan berat badan yang bermanfaat. Jika kita mencoba menurunkan berat badan, mendengarkan musik yang lembut dan meredupkan lampu dapat membantu kita mencapai tujuan.

Menurut sebuah penelitian, orang-orang yang makan di restoran rendah cahaya tempat musik lembut dimainkan mengkonsumsi makanan 18 persen lebih sedikit daripada mereka yang makan di restoran lain.

Para peneliti menyarankan bahwa musik dan pencahayaan membantu menciptakan suasana yang lebih santai. Karena para peserta lebih santai dan nyaman, mereka mungkin mengkonsumsi makanan mereka lebih lambat dan lebih sadar ketika mereka mulai merasa kenyang.

Anda dapat mencoba menerapkannya dengan memainkan musik lembut di rumah sambil makan malam. Dengan menciptakan suasana santai, Anda mungkin akan makan lebih lambat dan karena itu merasa lebih cepat kenyang.

4. Musik dapat meningkatkan memori

Banyak pelajar menikmati mendengarkan musik saat mereka belajar, tetapi apakah itu ide yang hebat? Beberapa merasa ingin mendengarkan musik favorit mereka saat mereka belajar untuk meningkatkan memori, sementara yang lain berpendapat bahwa itu hanya berfungsi sebagai gangguan yang menyenangkan.

Penelitian menunjukkan bahwa itu mungkin membantu, tetapi itu tergantung pada berbagai faktor yang mungkin termasuk jenis musik, kenikmatan pendengar musik itu, dan bahkan seberapa terlatih pendengar musik mungkin.

Satu studi menemukan bahwa siswa yang terlatih secara musik cenderung melakukan tes belajar dengan lebih baik ketika mereka mendengarkan musik netral, mungkin karena jenis musik ini kurang mengganggu dan lebih mudah diabaikan.

Di sisi lain, belajar lebih baik ketika mendengarkan musik positif, mungkin karena lagu-lagu ini menimbulkan lebih banyak emosi positif tanpa mengganggu pembentukan memori.

Studi lain menemukan bahwa partisipan yang belajar bahasa baru menunjukkan peningkatan dalam pengetahuan dan kemampuan mereka ketika mereka berlatih menyanyikan kata-kata dan frasa baru versus hanya berbicara secara teratur atau berbicara berirama.

Jadi, sementara musik mungkin memiliki efek pada memori, hasilnya dapat bervariasi tergantung pada individu. Jika kita cenderung merasa terganggu oleh musik, kita mungkin lebih baik belajar dalam keheningan atau dengan trek netral diputar di latar belakang.

5. Musik dapat meringankan nyeri

Penelitian telah menunjukkan bahwa musik dapat sangat membantu dalam manajemen rasa sakit. Satu studi pasien fibromyalgia menemukan bahwa mereka yang mendengarkan musik hanya satu jam sehari mengalami pengurangan rasa sakit yang signifikan dibandingkan dengan mereka yang berada dalam kelompok kontrol.

Dalam studi tersebut, pasien dengan fibromyalgia ditugaskan untuk kelompok eksperimen yang mendengarkan musik sekali sehari selama empat minggu atau kelompok kontrol yang tidak menerima pengobatan. Pada akhir periode empat minggu, mereka yang mendengarkan musik setiap hari mengalami penurunan yang signifikan dalam rasa sakit dan depresi. Hasil seperti itu menunjukkan bahwa terapi musik bisa menjadi alat penting dalam pengobatan nyeri kronis.

Sebuah ulasan penelitian tahun 2015 tentang efek musik pada manajemen nyeri menemukan bahwa pasien yang mendengarkan musik sebelum, selama, atau bahkan setelah operasi mengalami lebih sedikit rasa sakit dan kecemasan daripada mereka yang tidak mendengarkan musik.

Sementara mendengarkan musik pada setiap titik waktu efektif, para peneliti mencatat bahwa mendengarkan musik pra-operasi menghasilkan hasil yang lebih baik.

Tinjauan itu melihat data dari lebih dari 7.000 pasien dan menemukan bahwa pendengar musik juga membutuhkan lebih sedikit obat untuk mengatasi rasa sakit mereka. Ada juga sedikit lebih besar, meskipun tidak signifikan secara statistik, peningkatan hasil manajemen nyeri ketika pasien diizinkan untuk memilih musik mereka sendiri.

“Lebih dari 51 juta operasi dilakukan setiap tahun di AS dan sekitar 4,6 juta di Inggris,” jelas penulis utama studi tersebut, Dr. Catherine Meads dari Brunel University dalam siaran pers. “Musik adalah intervensi non-invasif, aman, dan murah yang harus tersedia untuk semua orang yang menjalani operasi.”

6. Musik membantu tidur lebih baik

Insomnia adalah masalah serius yang memengaruhi orang-orang dari semua kelompok umur. Meskipun ada banyak pendekatan untuk mengobati masalah ini serta gangguan tidur umum lainnya, penelitian telah menunjukkan bahwa mendengarkan musik klasik yang menenangkan dapat menjadi obat yang aman, efektif, dan terjangkau.

Lihat: Anatomi Insomnia

Dalam sebuah studi yang mengamati mahasiswa, para peserta mendengarkan musik klasik, buku audio, atau tidak sama sekali. Satu kelompok mendengarkan musik klasik santai selama 45 menit, sementara kelompok lain mendengarkan buku audio sebelum tidur selama tiga minggu. Para peneliti menilai kualitas tidur sebelum dan sesudah intervensi.

Studi ini menemukan bahwa peserta yang mendengarkan musik memiliki kualitas tidur yang lebih baik daripada mereka yang mendengarkan buku audio atau tidak menerima intervensi.

Karena musik adalah pengobatan yang efektif untuk masalah tidur, itu dapat digunakan sebagai strategi yang mudah dan aman untuk mengobati insomnia.

7. Musik meningkatkan motivasi

Ada alasan bagus mengapa kita merasa lebih mudah untuk berolahraga ketika kita mendengarkan musik – para peneliti telah menemukan bahwa mendengarkan musik yang bergerak cepat memotivasi orang untuk berolahraga lebih keras.

Satu penelitian yang dirancang untuk menyelidiki efek ini menugasi 12 siswa pria sehat dengan bersepeda di sepeda statis dengan kecepatan sendiri. Pada tiga uji coba yang berbeda, para peserta bersepeda selama 25 menit sekaligus sambil mendengarkan daftar putar enam lagu populer dari berbagai tempo.

Tidak diketahui oleh pendengar, para peneliti membuat perbedaan halus pada musik dan kemudian mengukur kinerja. Musik dibiarkan dengan kecepatan normal, meningkat 10 persen, atau menurun 10 persen.

Jadi apa dampak perubahan tempo musik terhadap faktor-faktor seperti jarak bersepeda, detak jantung, dan kenikmatan musik? Para peneliti menemukan bahwa mempercepat trek menghasilkan peningkatan kinerja dalam hal jarak yang ditempuh, kecepatan mengayuh, dan tenaga yang diberikan. Sebaliknya, memperlambat tempo musik menyebabkan penurunan semua variabel ini.

Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa mendengarkan musik yang bergerak cepat tidak hanya menyebabkan olahragawan bekerja lebih keras selama olahraga mereka; mereka juga lebih menikmati musik.

Jadi, jika kita mencoba untuk tetap pada rutinitas olahraga, pertimbangkan untuk memuat daftar putar yang diisi dengan lagu-lagu cepat yang akan membantu meningkatkan motivasi dan kenikmatan rejimen olahraga kita.

8. Musik meningkatkan suasana hati

Manfaat musik lain yang didukung sains adalah bahwa hal itu mungkin membuat kita lebih bahagia. Dalam satu penelitian untuk menemukan alasan mengapa orang mendengarkan musik, peneliti menemukan bahwa musik memainkan peran penting dalam menghubungkan gairah dan suasana hati. Peserta menilai kemampuan musik untuk membantu mereka mencapai suasana hati yang lebih baik dan menjadi lebih sadar diri sebagai dua fungsi musik yang paling penting.

Studi lain menemukan bahwa dengan sengaja mencoba meningkatkan suasana hati dengan mendengarkan musik positif dapat berdampak dalam dua minggu. Peserta diinstruksikan untuk secara sengaja berusaha meningkatkan suasana hati mereka dengan mendengarkan musik positif setiap hari selama dua minggu. Peserta lain mendengarkan musik tetapi tidak sengaja diarahkan untuk menjadi lebih bahagia. Ketika para peserta kemudian diminta untuk menggambarkan tingkat kebahagiaan mereka sendiri, mereka yang dengan sengaja mencoba memperbaiki suasana hati mereka melaporkan merasa lebih bahagia setelah hanya dua minggu.

Baca juga: Lagu Opening Anime Meningkatkan Vitalitas

9. Musik mengurangi gejala depresi

Para peneliti juga menemukan bahwa terapi musik dapat menjadi pengobatan yang aman dan efektif untuk berbagai gangguan, termasuk depresi.

Sebuah studi yang muncul dalam World Journal of Psychiatry menemukan bahwa selain mengurangi depresi dan kecemasan pada pasien yang menderita kondisi neurologis seperti demensia, stroke, dan penyakit Parkinson, terapi musik tidak menunjukkan efek samping negatif, artinya sangat aman dan rendah. Pendekatan rawan terhadap pengobatan.

Satu studi menemukan bahwa meski musik dipastikan dapat berdampak pada suasana hati, jenis musik juga penting. Para peneliti menemukan bahwa musik klasik dan meditasi menawarkan manfaat penambah suasana hati terbesar, sementara musik heavy metal dan techno ditemukan tidak efektif dan bahkan merugikan.

10. Musik meningkatkan daya tahan dan performa

Manfaat psikologis penting lainnya dari musik terletak pada kemampuannya untuk meningkatkan kinerja. Sementara orang memiliki frekuensi langkah yang disukai ketika berjalan dan berlari, para ilmuwan telah menemukan bahwa penambahan irama yang kuat dan ritmis, seperti trek musik yang bergerak cepat, dapat menginspirasi orang untuk mengambil langkah. Pelari tidak hanya dapat berlari lebih cepat saat mendengarkan musik; mereka juga merasa lebih termotivasi untuk terus berlari dan menunjukkan daya tahan yang lebih besar.

Menurut peneliti Costas Karageorghis dari Brunel University, tempo ideal untuk musik latihan adalah antara 125 dan 140 denyut per menit.

Sementara penelitian telah menemukan bahwa sinkronisasi gerakan tubuh dengan musik dapat menyebabkan kinerja yang lebih baik dan peningkatan stamina, efeknya cenderung paling menonjol dalam kasus olahraga intensitas rendah hingga sedang. Dengan kata lain, rata-rata orang lebih mungkin untuk mendapat manfaat mendengarkan musik lebih ketimbang atlet profesional.

“Musik dapat mengubah gairah emosional dan fisiologis seperti stimulan farmakologis atau obat penenang,” jelas Dr. Karageorghis kepada The Wall Street Journal. “Ini memiliki kapasitas untuk merangsang orang bahkan sebelum mereka pergi ke gym.”

Jadi mengapa musik bisa meningkatkan kinerja latihan? Mendengarkan musik sambil berolahraga menurunkan persepsi seseorang tentang aktivitasnya. Kita bekerja lebih keras, tetapi sepertinya kita tidak berusaha lebih keras. Karena perhatian kita dialihkan oleh musik, kita cenderung tidak merasakan tanda-tanda aktivitas yang jelas seperti peningkatan pernapasan, berkeringat, dan nyeri otot.