Kategori
Korea Fever TV Geek!

Ketika Winter Sonata Meyakinkan Dunia Kalau Cowok Korea Adalah Kekasih Idaman

Kemenangan besar budaya populer Korea akhirnya diraih melalui serial drama 2002 dengan ketenaran gila-gilaan: Winter Sonata.

Selama bertahun-tahun, tujuan tak tertulis strategi ekspor budaya popular Korea adalah memenangkan hati penonton Jepang. Kalau orang Korea bisa meluluhkan hati orang Jepang, yang sampai saat itu memiliki pengaruh besar pada budaya popular di Asia, maka, segalanya mungkin.

Kategori
Korea Fever

BoA dan Cara Mudah Menggoyang Playlist Youtube

boa_kiss_my_lips_concept_5

Dua minggu lalu, Joy Division dan ceramah Slavoj Zizek masih bertengger di beranda Youtube saya. Semesta goyah ketika SM Entertainment melempar Red Velvet dan BoA ke panggung, di minggu yang sama. Fans K-Pop pasti paham ritual pemutaran Youtube begini: menyetel berulang kali MV terbarunya, menonton penampilannya di acara musik (SBS Inkigayo, KBS Music Bank, MBC Music Core, Mnet M Countdown, MBC Show Champion, Arirang Simply K-Pop), kadang lewat video fancam, sesekali menonton MV Reaction yang diunggah dari pereaksi beken sampai yang fans bau kencur, dan akhirnya, memutar ulang lagu-lagu terdahulu dari idol kita itu. Berkat Bad Boy dan Nega Dola, rusak sudah playlist Youtube saya. Jadi Korea kabeh.

Comeback juga jadi tanda bahwa idol kita itu bakal jadi bintang tamu di berbagai variety show. Sehingga ada alasan untuk menonton Weekly Idol episode 340 dan Knowing Bros episode 111. Menonton keduanya, yang membicarakan BoA, adalah kuliah singkat tentang fragmen sejarah gelombang hallyu paling penting. Tanpa BoA, mungkin SM bakal bangkrut dan enggak punya duit buat bikin grup idol selanjutnya.

BoA bisa dibilang idol Korea pertama yang saya sukai, jauh saat saya belum doyan skena K-Pop, bahkan saat K-Pop sendiri belum jadi kesadaran umum. Lagu yang berkumandang di ending Inuyasha yang menampilkan Kagome di atas sepeda sambil membonceng si manusia setengah siluman itu begitu saya sukai waktu bocah dulu, dan masih membekas sampai sekarang. Meguru meguru toki no naka de / Bokutachi wa ai o sagashiteiru / Tsuyoku tsuyoku naritai kara / Kyou mo takaisora miageteiru. Jujur, kalau terputar lagu ini saya bakal langsung melankolis, bahkan mata jadi agak berair.

Kok bisa orang Korea nyanyi Jepang? ketus saya saat dikasih tahu siapa penyanyi aslinya.

Begini sejarahnya. Pada usia sebelas tahun, seorang gadis menemani kakaknya ke audisi pencarian bakat SM Entertainment, namun dia pun malah ikut terpilih. Gadis bernama Kwon Bo-ah itu menjalani dua tahun pelatihan (pelajaran vokal, tarian, bahasa Inggris, dan bahasa Jepang), dan pada usia tiga belas tahun merilis album debutnya; Peace B di Korea Selatan pada 25 Agustus 2000. Sementara itu, label rekaman SM membuat perjanjian dengan label Avex Trax dari Jepang untuk meluncurkan karir musiknya di negeri sakura itu. Menaklukan Jepang, yang merupakan pasar musik terbesar kedua di dunia, bukan cuma alasan bisnis, juga sangat ideologis. Dipaksa untuk berhenti sekolah untuk mempersiapkannya dan pada awal tahun 2001, BoA merilis mini album pertamanya, Don’t Start Now. Setelah dirilis, dia mengambil hiatus dari industri musik Korea untuk fokus pada pasar Jepang dengan tetap berusaha untuk memperkuat ketrampilannya dalam bahasa Jepang. Album debutnya di Jepang, Listen to My Heart, dirilis pada tanggal 13 Maret 2002. Album ini merupakan terobosan dalam karir BoA: memulai debutnya di puncak Oricon, menjadikannya artis Korea yang pertama melakukannya. Single, “Every Heart: Minna no Kimochi”, dirilis pada hari yang sama dengan album tersebut. BoA, yang membuka jalan gelombang Hallyu, melakukannya di era tanpa media sosial, dengan bakat dan kerja keras.

BoA menyebut hip hop sebagai pengaruh musik utamanya, meskipun ia juga menikmati R&B. Musisi favoritnya adalah Whitney Houston, Michael Jackson, Justin Timberlake, dan Ne-Yo; Akibatnya, sebagian besar musik BoA adalah dance-pop atau R&B. Karena dia juga menyanyikan balada, dia sering dibandingkan dengan penyanyi Jepang Ayumi Hamasaki dan Hikaru Utada. Soal tarian, jangan ditanya lagi. Koreografi No. 1 malah jadi tarian wajib yang harus dikuasai seorang trainee idol.

Karena komposisi dan penulisan lagu-lagu BoA banyak ditangani oleh stafnya, BoA sering dikritik sebagai “bintang pop buatan”. Sebagai tanggapan atas kritik tersebut, BoA mengatakan bahwa “jika seseorang memaksa keinginan mereka sendiri akan sesuatu, maka hal-hal yang seharusnya bisa berjalan dengan benar bisa dengan mudah jadi salah” dan bahwa dia tidak terlalu kecewa dengan sebutan bintang pop buatan itu. Karena memang, itu memang benar. Karena SM menciptakan lingkungan dan semua kondisi di sekitarnya, dia bisa sukses dengan jalan seperti itu. Begitu juga formula K-Pop secara keseluruhan, bahwa idol bukan dilahirkan melainkan diciptakan dan dipasarkan.

Sejak 2014, BoA telah menjadi bagian dari direktur tim kreatif di SM Entertainment. Di Knowing Bros episode 111, ketika BoA masuk, Heechul langsung menyambutnya dengan lebay, seperti seorang bawahan menghadap bosnya. Padahal secara usia, Heechul jelas lebih tua, meski debut lebih belakangan. Kang Hodong mengingatkan Heechul agar tetap memakai banmal, bahasa kasar untuk teman sebaya. Meski Hodong pun rada waswas ketika harus pakai banmal, karena agensinya sendiri SM, dan BoA sekarang sudah duduk di dewan direksi. Salah satu obat penghibur paling manjur bagi saya belakangan ini adalah menonton potongan klip Knowing Bros, meski sudah menonton episode penuhnya.

Selain mengisi ending Inuyasha, lagu BoA lainnya juga dijadikan lagu opening Fairy Tail. Saya sendiri cuma mengikuti manganya, tapi saat mencoba mendengar lagu-lagu opening-nya, saya langsung tahu kalau yang nyanyi BoA, dan memutuskan ini jadi lagu Fairy Tail terbaik. Seperti lagu-lagu anime lainnya, mereka selalu bikin vitalitas hidup makin meningkat dan efek samping berupa keinginan untuk menonjok monster dan mengubah dunia ke arah yang lebih baik. Harapannya sih bisa mengisi soundtrack One Piece, seperti TVXQ yang pernah juga.

Oh ya, penulisan nama BoA merupakan wejangan langsung Lee Soo-man, dengan akronim dari “Beat of Angel” dan “Best of Asia”. BoA memang diplot dengan misi menaklukkan negara mantan penjajahnya. SM menyadari betapa kecilnya pasar musik Korea, dengan penjualan hanya $ 300 juta pada tahun 2000 dibandingkan dengan penjualan di Jepang senilai $ 6,4 miliar. Meningkatnya persaingan saham di pasar musik Korea yang relatif kecil dikombinasikan dengan prospek menembus pasar luar negeri yang lebih besar membuat SM mengubah visinya untuk mengekspor idol Korea. Kesuksesan BoA di Jepang ikut memuluskan langkah boyband TVXQ. Dan keuntungan yang didapat dari mereka, diinvestasikan untuk membangun grup idol berikutnya: Super Junior dan SNSD, dan terus berlanjut ke idol-idol terbaru.

Nostalgia terhadap sebuah jenis musik favorit saat remaja yang awet hingga dewasa atau usia lanjut adalah fenomena yang lazim dialami setiap orang. Kenyamanan atas karya dari musisi favorit saat melewati masa puber akan terus ada di bawah alam sadar. Jika kamu kebetulan memakai laptop saya dan memutar Youtube dengan autoplay, maaf-maaf saja karena bakal terputar lagu-lagu BoA.

Kategori
Korea Fever

Red Velvet Jadi Cewek Bandel

 

SM Entertainment memang misoginis bangsat. Meski menjadi bagian dari SM, satu korporasi hiburan Korea yang superkaya, berarti dikasih kepastian bahwa sebuah idol akan mendapatkan banyak publisitas, namun grup cewek harus berjuang lebih ekstra untuk beberapa waktu sebelum menjadi populer. Padahal sejak menganut politeisme kontemporer, dewi-dewi bikinan SM selalu jadi pilihan saya.

Sebelum 2014, nama grup ini hanya dikenal sebagai jenis kue. Girls Generation atau SNSD debut pada 2007, f(x) debut 2009, kemudian lahir Red Velvet yang bisa dibilang mengawinkan irisan dari dua grup tadi. Mereka memang memulai dengan sebuah konsep dwitunggal yang jarang ditemukan dalam grup cewek, mengadu antara musik pop yang catchy dalam Red, yang dibenturkan dengan suara berbasis RnB yang lambat dalam Velvet.

Sejak terbentuk pada 2014, Red Velvet telah melesat ke superstardom. Mereka terus merilis lagu hit – lagu-lagu Red Velvet selalu menemani saat saya bermotor. Meski memang, sedikit kalah populer dengan saingan Twice dan Blackpink yang debut lebih dini, namun malah menyusul.

Red Velvet telah menjadi pertengahan antara gaya eksperimental f(x) dan musik yang lebih mainstream dari SNSD, dan itulah yang mereka berikan. SNSD dan f(x), sebagai produk, apalagi setelah lama hiatus dan membernya enggak lengkap, sudah enggak terlalu laku. SM pastinya ngelirik buat mengeksploitasi Red Velvet, yang tahun 2017 kemarin saja sampai tiga kali comeback album baru. Dan di awal tahun ini ujug-ujug bikin repack dari album terakhir Perfect Velvet, jadi The Perfect Red Velvet.

Kwintet memainkan kecenderungan retro mereka yang lebih halus pada album yang diperbarui, dengan All Right yang nu-disco dan Time to Love dengan RnB 90-an dan single utama Bad Boy. Lagu yang terakhir dirilis melalui sebuah video musik yang menampilkan Red Velvet dalam nuansa paling gelap, menunjukkan penampilan grup yang terus berkembang sejak awal mula mereka dengan Happiness yang riang gembira di tahun 2014.

Kontras dengan warna pelangi di Peek-A-Boo, Bad Boy mempertontonkan seragam seksi dan pakaian atletik dan baju kasual dengan dandanan gothic, yang menggambarkan Red Velvet sebagai femme fatale. Para member terlihat mencitrakan diri sebagai cewek-cewek nakal, dengan jins robek, stoking jala, dan rambut berantakan. Meskipun enggak terlalu berorientasi pada plot, nuansa berbahaya dari Irene, Seulgi, Wendy dan Joy kontras dengan citra Yeri yang masih muda, yang tampaknya dilindungi yang lain, Seulgi bahkan menutupi telinga Yeri dalam satu adegan.

Koreografi Bad Boy, seperti yang ditampilkan dalam video musik, adalah yang paling seksi yang pernah Red Velvet tunjukkan sejauh ini, diisi dengan goyangan pinggul yang sugestif dan gerakan tangan yang agresif dan tiba-tiba, memberi isyarat dengan saksama ke arah penonton dan menatap tajam ke arah kamera. Kalau dilihat-lihat, koreografinya rada mirip Bad Girl-nya SNSD, dengan lebih sensual.

Sisi Red sangat dipengaruhi oleh euro-pop sementara sisi Velvet lebih ke RnB Amerika 2000an dan pop British 80an. Sisi Velvet adalah kegemaran saya. Bad Boy adalah konsep Velvet yang paling nyangkut selain Be Natural dan Automatic dan One Of These Night.

Kategori
Korea Fever

Mampus Kau Dikoyak So Nyuh Shi Dae

darth vader sone pink ocean

Pada saat ia secara enggak sengaja menemukan Girls’ Generation, dalam YouTube, ia adalah seorang pria penyuka alternative rock; ia mencintai Weezer. Ia adalah Jon Toth, seorang kulit putih dua puluh sembilan tahun, sarjana komputer. “Aku pasti bukan jenis pria yang Anda harapkan untuk bisa kepincut sama grup Asia beranggota sembilan gadis,” ungkapnya pada sang jurnalis dari The New Yorker, yang dituliskan dalam artikel ‘Factory Girls – sudah saya terjemahkan: ‘Gadis-Gadis Pabrikan. Dari Weezer hijrah ke Girls’ Generation, tentu absurd. Tapi begitulah, enggak lama berselang Toth belajar Bahasa Korea, untuk memahami lirik dan juga acara TV Korea. Lalu ia mulai memasak makanan Korea. Akhirnya, ia melakukan perjalanan ke Seoul, dan untuk pertama kalinya, ia mampu melihat secara langsung konser para gadis itu—Tiffany Hwang, Choi Sooyoung, Jessica Jung, Kim Taeyeon, Sunny, Kim Hyoyeon, Kwon Yuri, Im Yoona, dan Seohyun. Sebuah pengalaman yang mengubah hidup, tegasnya.

Saya adalah Jon Toth versi kulit sawo matang. Seorang remaja dari negara dunia ketiga penyuka Radiohead, Muse, Linkin Park dan band rock Barat basic lainnya ini kemudian harus berjibaku membedakan dan menghapal member girlband yang mukanya mirip-mirip itu. Candu terus berproses. Sampai akhirnya berani melabeli diri Sone. Seperti Toth, menonton langsung para teteh-teteh dari Korea itu jadi impian tertinggi. Sayang, pada tanggal 29 September 2014, Jessica mengumumkan bahwa dia telah diberhentikan dari grup idola sejagat sama si keparat SM Entertainment. Saya terus menjaga harapan kalau Sica bakal masuk lagi. Ketika grup-grup idol seangkatan pada tumbang, SNSD bisa bertahan sampai ulangtahun kesepuluh. Harapan masih ada. Tapi dunia beserta kapitalisme lanjutnya emang kejam, berita duka datang kemarin: Tiffany, Sooyoung, dan Seohyun cabut. Terutama Seohyun, karena dia bias aing. Harapan tertinggi seorang Sone ini harus gugur.

Dunia emang aneh. Bagaimana mungkin seorang yang pas SMA sangat suka lagu Kill All the Popstar-nya Mobilderek malah murtad jadi antek-antek kebudayaan pop Korea? Saya juga masih bertanya-tanya. Saya kembali mengorek tulisan-tulisan di blog jelek ini, menemukan kembali tulisan super jelek berjudul “Saya dan 소녀시대” dan tertawa karenanya.

saya dan snsd

Menjadi fans grup idola adalah bentuk politeisme kontemporer. Seperti manusia zaman dulu, para dewa politeisme sering digambarkan sebagai tokoh yang kompleks dengan kelebihan serta keterampilan individu yang beragam antara yang satu dengan yang lain. Sapuan gelombang budaya Korea bukan hanya menarik khalayak yang besar, namun juga menjadi pemujaan yang nyaris menjadi kultus. Penampilan langsung menjadi puncak ritual tertinggi. Jeritan dan tangisan pecah di gelanggang. Lalu suara penonton berubah dari semacam salakan menjadi semacam koor ratapan. Sayang, saya enggak akan pernah merasakan selebrasi akbar itu di tengah lautan lightstick merah jambu, untuk merapal: JIGEUMEUN SO NYUH SHI DAE! APPEURODO SO NYUH SHI DAE! YEONGWONHI SO NYUH SHI DAE! SO NYUH SHI DAE SARANGHAE~

 

Kategori
Korea Fever

f(x) = Electric Shock Pop + Estetika Hipster

Sejauh yang saya ingat, f(x) adalah grup idol K-pop pertama yang saya bisa bedakan membernya. Entah SNSD atau adiknya ini dulu, saya agak lupa. Yang pasti, satu masalah sekaligus keasyikan seorang fans K-pop bau kencur adalah mengingat dan membedakan member sebuah grup, baik dari namanya yang meski cuma tiga suku kata tapi sulit disebut, juga muka dan kostumnya yang seringnya seragam.

Satu pertanyaan yang pasti kamu tanyakan pas pertama kali nonton f(x) adalah: Kok ada cowok seorang? Dari sini saja sudah bisa dibuktikan kalau f(x) bisa jadi grup K-pop yang mudah diingat. Ditambah nama-namanya yang sebagai besar memakai alias, makin mudah diingat.

Saya yakin kalau f(x) adalah grup SM Entertainment terbaik yang pernah didebutkan. Sayang, SM kurang bersikap arif. Saya menyukai konsep f(x). Visual mereka sempurna. Ada Amber. Seorang tomboi hardcore dari Los Angeles yang melanggar stereotip cewek di Korea. Dia sering bikin musik yang lumayan dan sangat pede jadi dirinya sendiri. Krystal juga berasal dari Amerika. Meski suaranya bukan yang paling menakjubkan, tapi enak dan unik seperti kakaknya Jessica namun dengan nada lebih berat. Gayanya sangat chic dan karenanya dia bisa memikat baik penggemar cowok dan cewek. Lalu ada Victoria, sang leader. Sungguh seorang dewi dari China. Bukan hanya aktris yang luar biasa tapi dia juga penari yang cantik. Luna adalah gadis yang penuh bakat. Dia penari hebat. Cukup bagus untuk menyaingi Victoria. Meski awalnya penari, ia telah berhasil mengubah dirinya menjadi vokalis bertenaga. Sulli adalah aktris dari dini yang terkenal dengan kecantikannya di usia muda. Dia benar-benar girly tapi juga imut. Komplit. Grup cewek terbaik di SM dan salah satu yang terbaik di skena K-pop.

f(x) dikenal untuk gaya eksperimental dan musik electropop yang eklektik. Mereka adalah satu dari sedikit kelompok K-pop yang diakui secara internasional, menjadi grup K-pop pertama yang tampil di festival beken SXSW yang rutin digelar di Austin, Texas. Selama kunjungan mereka ke Amerika Serikat, f(x) berkolaborasi sama Anna Kendrick dalam sebuah skit komedi untuk Funny Or Die.

Album kedua mereka, Pink Tape, adalah satu-satunya album K-pop yang dimasukkan Fuse dalam 41 Best Albums of 2013. Salah satu lagu dalam album tadi, Airplane, menjadi peringkat ketiga dalam 20 Best K-Pop Songs of 2013 yang dibikin Billboard. Pink Tape memang aduhai. Sejak debutnya, f(x) telah merilis empat album penuh. Bagi saya, lagu debutnya ada lagu debut terbaik dan paling saya sukai.

Pendengar kasual tidak perlu menanamkan diri habis-habisan dalam jagat K-pop untuk bisa mendapat daya tarik musiknya f(x), puji Pitchfork. 4 Wall yang dirilis 2015 lalu menjadi album pertama setelah ditinggal Sulli dan album paling akhir mereka. Semoga SM enggak lupa sama f(x).

Klip video K-pop penuh dengan warna-warna cerah. Ini sangat bagus untuk inspirasi visual. Dari desain set bahkan sampai rambut para idolnya, warna dikoordinasikan dengan hati-hati. Dalam desain, warna bisa menciptakan estetika tertentu. Tingkat saturasi dan vibransi yang berbeda akan memberi rasa yang berbeda. Secara matematis, f(x) bergerak linear bersama estetika. Lebih jauh, f(x) adalah estetika itu sendiri.

Soal kostum panggung, ini yang paling saya sukai. Dibanding SNSD dan Red Velvet, wardrobe yang mereka pakai enggak pernah bikin kecewa. Meski enggak lagi pemotretan majalah mode pun tetap asyik. Di konser tunggal pertamanya, Dimension 4 Docking Station, yang saya tonton di Youtube dengan kualitas cuma 360p, meski panggungnya mungil gitu, tapi dari visual art sampai wardrobe benar-benar sedap.

Periode sudah berubah, sudah banyak grup-grup idol generasi ketiga yang mencuat. Tapi f(x), meski dianggurin melulu, selalu di hati. Bahkan Blackpink pun biasa saja, enggak ada yang kayak f(x) di dunia per-Kpop-an. f(x) akan selalu jadi grup idol terindie, terkeren, terunik, ter-artsy, ter-aesthetic, ter-hipster, ter-swag kesayangan.

Kategori
Korea Fever

Knowing Bros dan Barudak Sekolahan yang Hobi Tubir

Kalau saja Game of Thrones masukin Red Velvet jadi pemainnya, mungkin saja saya bakal rela maraton nonton dari musim pertama. Harus ada alasan, meski konyol, kenapa saya harus nonton itu.

Sebab internet menawarkan beragam kesenangan sekaligus kesia-siaan; buku-buku dan status-status sosmed yang selalu terbarukan dan artikel-artikel panjang untuk dibaca, film-film dan video-video Youtube dan serial televisi dan Instagram Stories dan variety show Korea untuk ditonton. Sehingga, sekali lagi saya tegaskan, harus ada alasan, meski konyol, kenapa saya harus memilih yang satu ketimbang yang lain.

Gara-gara episode SNSD, saya jadi fans Running Man. Sementara untuk Knowing Bros ini ya karena ada episode dari adiknya ini, Red Velvet. Semuanya berawal dari episode 21, sampai saya jadi kenal barudak gacor yang terdiri dari Kang Hodong, Kim Heechul, Seo Janghoon, Lee Soogeun, Min Kyunghoon, Lee Sangmin, dan Kim Youngchul.

Berhubung lagi promosi lagu baru, episode 84 kemarin menghadirkan kembali Red Velvet. Kali ini dengan formasi lengkap. Saat kemunculannya, barudak Knowing Bros langsung antusias dan memuji karena berkat grup cewek binaan SM Entertainment jadi bintang tamu di episode setahun kebelakang, variety show ini makin meroket. Tentu, saya mengiyakan.

Format Knowing Bros saat ini yang mengeksplorasi konsep sekolah menengah baru ditetapkan dari episode 17. Para member berperan sebagai siswa di kelas sementara bintang tamu akan datang sebagai siswa pindahan. Format ini telah mendapat pujian dari pemirsa yang menyebabkan peningkatan peringkat dan popularitas program yang signifikan setelah beberapa episode ditayangkan. Menghadirkan grup idol, utamanya cewek, tentu pilihan cemerlang. Red Velvet salah satu yang masuk di episode-episode awal itu.

Dibagi dua segmen. Yang utama adalah bagian perkenalan dan tebak-tebakan di ruang kelas. Bintang tamu berdiri di belakang meja guru dengan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan dirinya yang sudah disiapkan. Beberapa pertanyaannya samar atau sangat pribadi yang oleh bintang tamu mungkin enggak pernah diungkap kepada publik sebelumnya. Tugas barudak Knowing Bros yang menjawabnya. Seringnya dengan main-main. Bintang tamu diberi palu mainan dan punya hak buat menggetok bagi mereka yang jawabannya ngaco.

02_1

Si gempal Hodong dicitrakan sebagai bosnya, yang sangar sekaligus tengil, sementara si jangkung Janghoon jadi ketua murid yang intelek. Si bantet Soogeun digambarkan jadi tangan kanan Hodong, yang koplak. Si ganteng Heechul jadi yang paling gelo sekaligus maniak televisi dengan Kyunghoon yang pendiam namun cabul merupakan bromance goblok. Sangmin yang duduk di kursi paling belakang digambarkan sebagai murid pemalu sekaligus sengsara. Terakhir, yang sering dilupakan, adalah Youngchul yang berkat kegaringannya justru mengundang tawa.

Salah satu atribut memikat dari format ini adalah cara berbicara informal atau “banmal” yang digunakan oleh semua orang tanpa memandang usia atau senioritas mereka. Mengabaikan undak unduk basa Korea yang ketat. Pembicaraan informal juga mendorong para tamu saling berinteraksi satu sama lain seperti yang sering dilakukan siswa, sehingga membuat mereka merasa cukup nyaman untuk saling menggoda.

Namun pada bulan Desember 2016, variety show yang ditayangkan siaran kabel JTBC ini mendapat tindakan disipliner dari Komite Penyiaran Penyiaran Korea Selatan karena menggunakan ucapan enggak senonoh, biasanya kalau bintang tamunya cewek. Ditambah jam penayangannya yang dimundurkan jadi enggak terlalu malam, Knowing Bros jadi rada lembek. Padahal komentar-komentar cabul dan sinis tadi yang paling saya tunggu.

Ada semacam pemahaman umum bahwa musim pertama dari setiap variety show cenderung lebih bagus. Dalam banyak kasus, seringnya begitu. Saat rating makin menanjak namun kemudian turun, seseorang enggak bisa enggak untuk mulai bertanya, mengapa? Mengapa acara ini tidak berjalan sebagus musim lalu? Apakah orang bosan dengan konsepnya? Apa ada variety show saingan lainnya? Knowing Bros, yang diawal enggak diniatkan jadi acara utamanya JTBC namun sekarang populer, bisa saja bakal begini.