Kategori
Non Fakta

Kisah Putri Kaguya

Dari penceritaan ulang lewat The Tale of the Princess Kaguya (2013) oleh Isao Takahata dari Studio Ghibli sampai sebagai inspirasi romcom berlatar modern Kaguya-sama: Love is War, atau bahkan sering jadi karakter dalam manga dan anime, seperti yang menjadi raja terakhir di Naruto, Kisah Pemotong Bambu, juga dikenal sebagai Putri Kaguya, dianggap sebagai salah satu narasi Jepang tertua.

Kategori
Non Fakta

Seratus Tahun Pengampunan, Clarice Lispector

1200px-eugenia_uniflora_fruits

Seseorang yang tidak pernah mencuri tidak akan mengerti diriku. Dan seseorang yang tidak pernah mencuri mawar tidak akan pernah bisa mengerti diriku. Ketika aku masih kecil, aku mencuri mawar.

Di Recife ada banyak sekali jalan. Di jalan-jalan orang kaya berjajar istana-istana mungil yang dibangun di tengah-tengah taman luas. Temanku dan aku suka bermain mengaku-aku milik siapa istana kecil tadi. “Yang putih itu punyaku.” “Tidak, aku sudah bilang yang putih itu punyaku.” “Tapi yang ini enggak putih semua. Jendelanya hijau.” Kadang kami menghabiskan waktu yang lama seharian dengan wajah menempel di pagar, memandangi.

Begitulah awalnya. Suatu hari, saat permainan “rumah ini punyaku,” kami berhenti di depan sebuah rumah yang tampak seperti kastil kecil. Di belakangnya, kami bisa melihat kebun buah luas, dan di depan, ada taman terawat, ditanami bunga.

Ngomong-ngomong, di taman bunga tadi ada mawar setengah terbuka dengan rona merah muda. Aku kagum, menatap dengan takjub pada mawar angkuh ini, yang belum jadi wanita sepenuhnya. Dan kemudian hal itu terjadi: dari lubuk hatiku aku ingin mawar ini untuk diriku sendiri. Aku menginginkannya, ah, betapa aku menginginkannya. Dan tidak ada cara untuk mendapatkannya. Jika datang tukang kebun, aku akan meminta mawar itu, meski tahu kalau ia akan mengusir kami seperti seseorang mengusir bocah-bocah nakal. Tidak ada tukang kebun yang terlihat, tidak ada seorang pun. Dan karena sengatan matahari, jendelanya ditutup. Di jalan itu trem tidak melintas dan mobil jarang berseliweran. Di antara kesunyianku dan kesunyian sang mawar, ada hasratku untuk memilikinya — sesuatu yang hanya milik diriku. Aku ingin menggenggamnya. Aku ingin mencium baunya sampai aku pingsan, sampai penglihatanku diredupkan oleh wangi yang memusingkan.

Lalu aku tidak tahan lagi. Rencana itu datang kepadaku dalam sekejap, dalam gelombang gairah. Tapi, karena aku sutradara hebat, aku beralasan dengan temanku, menjelaskan kepadanya apa perannya: mengawasi jendela rumah atau mengawasi kemungkinan adanya tukang kebun, mengawasi orang-orang yang lewat di jalan. Sementara itu, aku perlahan mendorong gerbang di pagar yang berkarat, tahu bahwa akan sedikit berderit. Aku membukanya sedikit agar tubuh mungilku bisa lewat. Dan, berjingkat-jingkat, tetapi dengan cepat, aku melintasi kerikil di sekitar taman bunga. Pada saat aku mencapai mawar, satu abad detak jantung telah berlalu.

Di sinilah akhirnya aku berada di depannya. Aku berhenti sejenak, meskipun ada bahaya, karena dari dekat mawar itu bahkan lebih indah. Akhirnya aku mulai mematahkan batangnya, yang durinya menusuk jariku dan aku menghisap darah dari jari-jariku.

Dan tiba-tiba … ini dia, semuanya, di tanganku. Perjalanan balik ke gerbang juga harus diam. Aku melewati gerbang yang setengah terbuka, mencengkeram mawar. Dan kemudian, dengan wajah pucat, kami berdua, mawar dan aku, kami berlari jauh dari rumah itu.

Dan apa yang aku lakukan dengan mawar itu? Aku melakukan ini: mawar itu adalah punyaku.

Aku membawanya ke rumahku, aku menaruhnya di dalam vas berisi air tempat ia berkuasa, dengan kelopaknya yang tebal dan seperti beludru penuh warna. Makin ke tengah warnanya lebih pekat dan kulubnya tampak hampir merah.

Terasa begitu menyenangkan.

Terasa begitu menyenangkan sehingga, sederhananya, aku mulai mencuri mawar. Prosesnya selalu sama: gadis itu berjaga-jaga saat aku masuk, aku mematahkan batangnya, dan melarikan diri dengan bunga mawar di tanganku. Selalu dengan jantungku yang berdebar kencang dan selalu dengan kemenangan yang tak seorang pun bisa mengambilnya dariku.

Aku juga mencuri beri merah. Ada sebuah gereja Presbyterian di dekat rumahku, dikelilingi oleh pagar semak hijau yang begitu tinggi dan rapat sehingga menghalangi pandangan ke gereja. Aku tidak pernah berhasil melihat sudut atap gereja. Pagar semaknya adalah buah beri pitanga. Tapi pitanga adalah buah tersembunyi. Aku tidak pernah melihat satu pun. Jadi, pertama-tama melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang datang, aku meletakkan tanganku di antara pagar semak. Aku memasukkannya ke pagar semak dan mulai merasakan sampai jariku menyentuh buah yang lembab. Sering kali, dengan tergesa-gesa, aku menghancurkan buah yang sudah matang, yang membuat jari-jariku tampak berlumuran darah. Aku mengambil banyak dan memakannya langsung di sana, dan aku membuang yang masih hijau.

Tidak ada yang tahu ini. Aku tidak menyesalinya: seorang pencuri mawar dan pitanga memiliki seratus tahun pengampunan. Pitanga, misalnya, meminta untuk dipetik, alih-alih matang dan sekarat, dalam keadaan perawan, di tangkainya.

*

Diterjemahkan dari One Hundred Years of Forgiveness karya Clarice Lispector, yang dialihbahasakan dari Bahasa Portugis oleh Rachel Klein.

Kategori
Non Fakta

Sang Korban, Junichiro Tanizaki

image-20170224-32714-vz865q-1

Hal-hal ini terjadi pada sebuah masa saat kebajikan adiluhung, tingkah laku tak keruan, masih berkembang, ketika pergulatan tanpa henti untuk eksistensi seperti hari ini belum dikenal. Wajah para aristokrat muda dan tuan tanah tidak menggelap oleh awan apa pun; di istana para pelayan kehormatan dan gundik agung selalu menyunggingkan senyum di bibir mereka; pekerjaan badut dan peracik teh profesional dijunjung tinggi; hidup begitu damai dan penuh sukacita. Di teater dan dalam tulisan-tulisan pada waktu itu, keindahan dan kekuatan digambarkan sebagai suatu yang tak terpisahkan.

Keindahan fisik, memang, adalah tujuan utama hidup dan dalam pencapaiannya orang-orang melangkah lebih jauh dengan menato dirinya. Di tubuh mereka, garis-garis dan warna-warna cemerlang terurai dalam semacam tarian. Ketika mengunjungi tempat-tempat keriaan, mereka akan memilih para pengusung untuk penandu mereka yang tubuhnya ditato dengan terampil, dan gundik dari Yoshiwara dan Tatsumi memberikan cinta mereka kepada pria yang tubuhnya penuh tato yang indah. Pengunjung setia sarang judi, pemadam kebakaran, pedagang, dan bahkan samurai akan mencari para tukang tato lihai. Pameran tato sering digelar, dan para peserta, dengan meraba tato di tubuh masing-masing, akan memuji desain asli yang satu dan mengkritik kekurangan yang lain.

Ada satu tukang tato muda berbakat dengan talenta luar biasa. Dia sangat penuh gaya dan reputasinya menyaingi para master tua yang hebat: Charibun dari Asakusa, Yakkôhei dari Matsushimachô dan Konkonjirô. Karya-karyanya sangat dihargai di pameran tato dan sebagian besar pengagum seni ini bercita-cita untuk menjadi kliennya. Sementara seniman Darumakin dikenal karena gambar-gambarnya yang bagus dan Karakusa Gonta adalah penguasa tato vermilion, lelaki ini, Seikichi, terkenal dengan orisinalitas dari komposisinya dan kualitasnya yang menggairahkan.

Sebelumnya ia telah mencapai reputasi tertentu sebagai pelukis, seperguruan dengan Toyokuni dan Kunisada dan berspesialisasi dalam lukisan bergenre. Turun kelas ke seni tato, ia masih mempertahankan semangat sejati seorang seniman dan kepekaan yang besar. Dia menolak untuk mengeksekusi karyanya pada orang-orang yang kulit atau fisiknya tidak menarik baginya, dan pelanggan seperti yang dia terima harus setuju secara implisit dengan desain yang dipilihnya dan juga dengan harganya. Selain itu, mereka selama satu atau dua bulan harus menanggung rasa sakit yang menyiksa dari jarum suntiknya.

Dalam hati penato muda ini tersembunyi gairah dan kesenangan yang tidak terduga. Ketika tusukan jarum-jarumnya menyebabkan daging membengkak dan darah merah mengalir, klien-kliennya, yang tidak bisa menahan rasa sakit, akan mengeluarkan erangan penuh derita. Semakin mereka mengerang, semakin besar kesenangan seniman yang tak dapat dijelaskan ini. Dia sangat menyukai desain vermilion, yang dikenal sebagai tato paling menyakitkan. Ketika kliennya telah menerima lima atau enam ratus tusukan jarum dan kemudian mandi air panas agar warnanya keluar lebih jelas, mereka sering jatuh seperti orang mati di kaki Seikichi. Ketika mereka berbaring di sana tidak bisa bergerak, dia akan bertanya kepada mereka dengan senyum puas, “Jadi memang benar-benar sakit, ya?”

Ketika dia harus berurusan dengan pelanggan yang lemah hati yang giginya akan bergemelatukan atau yang menjerit mengeluhkan kesakitan, Seikichi akan berkata, “Sungguh, aku pikir Anda adalah penduduk asli Kyoto yang orang-orangnya sangat berani. Baiklah, cobalah bersabar. Jarumku tidak biasanya sakit luar biasa.” Dan melirik dari sudut matanya ke wajah korban, sekarang basah oleh air mata, ia akan melanjutkan pekerjaannya dengan sangat tidak peduli. Jika, sebaliknya, pasiennya menanggung penderitaan tanpa tersentak, ia akan berkata, “Ah, Anda jauh lebih berani daripada yang Anda lihat. Tapi tunggu sebentar. Segera Anda tidak akan dapat menanggungnya dalam keheningan, cobalah sebisa mungkin.” Dan dia akan tertawa, menunjukkan giginya yang putih.

Selama bertahun-tahun, ambisi besar Seikichi adalah untuk menusukkan jarumnya di kulit berkilau dari seorang wanita cantik, yang ia impikan untuk menatonya, layaknya itu adalah jiwanya sendiri. Wanita imajiner ini harus memenuhi banyak syarat, baik fisik maupun karakter; hanya wajah yang cantik dan kulit yang halus tidak akan memuaskan Seikichi. Sia-sia dia mencari di antara pelacur terkenal untuk seorang wanita yang akan sesuai dengan cita-citanya. Bayangannya terus-menerus ada dalam benaknya, dan meskipun tiga tahun telah berlalu sejak dia memulai pencarian ini, keinginannya malah bertambah seiring waktu.

Pada malam musim panas saat berjalan di distrik Fukagawa, perhatiannya teralihkan oleh kaki feminin yang begitu putih yang mempesona dan menghilang di balik tirai tandu. Sebuah kaki dapat menyampaikan banyak variasi ekspresi seperti halnya wajah, dan kaki wanita putih ini bagi Seikichi bagaikan permata yang paling langka. Jari-jari kaki yang berbentuk sempurna, kuku berwarna-warni, tumit bundar, kulitnya berkilau seolah-olah telah dicuci berabad-abad oleh air jernih dari beberapa sungai gunung — boleh dibilang kaki yang punya kesempurnaan mutlak yang dirancang untuk menggerakkan hati seorang pria dan menginjak-injak jiwanya. Seikichi langsung tahu bahwa ini adalah kaki wanita yang selama bertahun-tahun dia cari! Dengan gembira dia bergegas mengejar tandu, berharap bisa melihat penghuninya, tetapi setelah mengikutinya ke beberapa jalan, dia kehilangan di sudut jalan. Sejak saat itu, apa yang tadinya merupakan kerinduan yang samar-samar berubah menjadi hasrat yang paling keras.

Suatu pagi setahun kemudian Seikichi menerima kunjungan di rumahnya di distrik Fukagawa. Dia adalah seorang gadis muda yang dikirim dalam suatu tugas oleh seorang teman, seorang geisha dari kuartal Tatsumi.

“Maaf, Tuan,” katanya dengan takut-takut. “Nyonya telah memintaku untuk mengirimkan mantel ini kepada Anda secara pribadi dan meminta Anda untuk membuat desain di atas kain ini.”

Saat mengatakan hal tersebut, si gadis menyerahkan sepucuk surat dan mantel wanita, yang dibungkus kertas bertuliskan potret aktor Iwai Tojaku. Dalam suratnya, geisha memberi tahu Seikichi bahwa utusan muda itu adalah perwaliannya yang baru diadopsi dan segera memulai debutnya sebagai geisha di restoran-restoran di ibukota. Dia memintanya untuk melakukan apa yang dia bisa untuk meluncurkan gadis itu dalam karier barunya.

Seikichi memandangi pengunjung itu, yang meskipun tidak lebih dari enam belas atau tujuh belas tahun, memiliki sesuatu yang aneh di wajahnya. Di matanya tercermin impian semua pria tampan dan wanita cantik yang pernah tinggal di ibu kota ini, di mana kebajikan dan kejahatan seluruh negeri bertemu. Lalu pandangan Seikichi berpindah ke kakinya yang halus, bersepatu bakiak jalanan ditutupi dengan anyaman jerami.

“Mungkinkah Anda yang meninggalkan Restoran Hirasei Juni lalu dalam tandu?”

“Ya, Tuan, itu diriku,” katanya, menertawakan pertanyaan anehnya. “Ayahku masih hidup saat itu dan dia biasa membawaku sesekali ke Restoran Hirasei.”

“Aku sudah menunggumu selama lima tahun,” kata Seikichi. “Ini pertama kalinya aku melihat wajahmu tapi aku mengenalmu lewat kakimu … Ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan padamu. Silakan masuk, dan jangan takut.”

Karena itu, dia mengambil tangan gadis yang enggan itu dan membawanya ke lantai atas, ke sebuah ruangan yang menghadap ke sungai besar. Seikichi mengambil dua gulungan gambar besar dan membentangkan salah satunya di hadapannya.

Itu adalah lukisan Mo Hsi, putri favorit kaisar Tiongkok kuno, Chou si Bengis. Dengan lembut si gadis bersandar pada pagar tangga, dan bagian bawah gaun brokatnya yang semarak jatuh di tangga menuju ke sebuah taman. Kepala mungilnya tampak hampir terlalu halus untuk menopang berat mahkotanya, yang bertatahkan lapiz-lazuli dan karang. Di tangan kanannya dia memegang cangkir, sedikit miring, dan dengan ekspresi malas, dia melihat seorang tahanan yang akan dipenggal kepalanya di taman di bawah. Menopang tangan dan kaki ke tiang, dia berdiri di sana menunggu saat terakhirnya; matanya tertutup, kepalanya tertunduk. Gambar-gambar pemandangan semacam itu cenderung vulgar, tetapi pelukisnya begitu terampil menggambarkan ekspresi sang putri dan lelaki terkutuk itu, sehingga gulir gambar ini adalah karya seni yang sempurna.

Untuk sementara, gadis muda itu menatap lukisan aneh itu. Tanpa sadar matanya mulai bersinar dan bibirnya bergetar; lambat laun wajahnya mirip dengan putri Cina muda.

“Semangat Anda tercermin dalam lukisan itu,” kata Seikichi, tersenyum senang ketika dia menatapnya.

“Mengapa Anda menunjukkan padaku gambar yang mengerikan?” Tanya gadis itu, menggerakan tangannya ke dahinya yang pucat.

“Wanita yang digambarkan di sini adalah diri Anda. Darahnya mengalir melalui pembuluh darah Anda.”

Seikichi kemudian membuka gulungan yang lain, yang berjudul “Sang Korban”. Di tengah-tengah gambar seorang perempuan muda bersandar pada pohon ceri, menatap sekelompok mayat pria yang tergeletak di sekitar kakinya; kebanggaan dan kepuasan harus terlihat di wajahnya yang pucat. Melompat-lompat di antara mayat-mayat, segerombolan burung kecil berkicau dengan gembira. Mustahil untuk mengatakan apakah gambar itu mewakili medan pertempuran atau taman musim semi.

“Lukisan ini melambangkan masa depan Anda,” kata Seikichi, menunjukkan wajah perempuan muda itu, yang anehnya mirip dengan tamunya. “Orang-orang yang jatuh di tanah adalah mereka yang akan kehilangan nyawanya karena Anda.”

“Oh, aku mohon,” serunya, “singkirkan gambar itu.” Dan seolah-olah untuk melepaskan diri dari kekagumannya yang menakutkan, dia membalikkan punggungnya pada gulungan dan melemparkan dirinya ke atas tikar jerami. Di sana dia berbaring dengan bibir bergetar dan seluruh tubuhnya bergetar.

“Tuan, aku akan mengaku pada Anda … Seperti yang sudah Anda tebak, aku memiliki sifat wanita itu. Kasihanilah aku dan sembunyikan fotonya.”

“Jangan bicara seperti pengecut! Sebaliknya, Anda harus mempelajari lukisan itu lebih hati-hati dan kemudian Anda akan segera berhenti merasa takut karenanya.”

Gadis itu tidak sanggup mengangkat kepalanya, yang tetap tersembunyi di lengan kimononya. Dia berbaring sujud di lantai mengatakan berulang-ulang, “Tuan, biarkan aku pulang. Aku takut bersama Anda.”

“Anda akan tinggal sebentar,” kata Seikichi angkuh. “Aku sendiri yang memiliki kekuatan untuk menjadikan Anda wanita cantik …”

Dari antara botol dan jarum di raknya Seikichi memilih botol berisi obat bius yang kuat.

*

Matahari bersinar terang di sungai. Sinar pantulannya membuat pola gelombang emas di pintu geser dan wajah wanita muda yang sedang tidur itu. Seikichi menutup pintu dan duduk di sampingnya. Sekarang untuk pertama kalinya dia dapat sepenuhnya menikmati kecantikan si gadis yang aneh, dan Seikichi berpikir bahwa dia bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun duduk di sana memandangi wajah sempurna dan tidak bergerak itu.

Tetapi keinginan untuk memenuhi desainnya mengalahkannya segalanya. Setelah mengambil alat-alat rajahnya dari rak, Seikichi membuka tubuh gadis itu dan mulai menandai punggungnya dengan ujung pena, yang dipegang di antara ibu jari, jari manis dan jari kelingking tangan kirinya. Dan jarum, dipegang di tangan kanannya, dia menusuk sepanjang tarikan garis. Karena orang-orang Memphis pernah menghiasi dengan sphinx dan piramida di tanah Mesir yang indah, maka Seikichi sekarang menghiasi kulit murni gadis muda ini. Seolah-olah roh penata tato itu masuk ke dalam desain, dan setiap tetes vermillion yang disuntikkan seperti setetes darahnya sendiri menembus tubuh gadis itu.

Dia tidak sadar akan berlalunya waktu. Tidak ada yang datang dan pergi, dan hari musim semi yang tenang bergerak secara bertahap menuju penutupannya. Tanpa kenal lelah tangan Seikichi mengejar pekerjaannya tanpa pernah membangunkan gadis itu dari tidur nyenyaknya. Saat ini bulan tergantung di langit, menuangkan cahayanya di atas atap di sisi lain sungai. Tato itu belum selesai. Seikichi menyela pekerjaannya untuk menyalakan lampu, lalu duduk lagi dan meraih jarumnya.

Sekarang setiap pukulan menuntut usaha, dan seniman itu akan mendesah, seolah jantungnya sendiri merasakan tusukan itu. Sedikit demi sedikit mulai tampak garis besar seekor laba-laba besar. Ketika cahaya fajar menyingsing memasuki ruangan, hewan iblis yang jahat ini menyebarkan delapan kakinya ke seluruh permukaan punggung gadis itu.

Malam musim semi hampir berakhir. Orang sudah bisa mendengar kemiringan dayung ketika perahu-perahu dayung melintas naik atau turun sungai; di atas layar kapal penangkap ikan, bengkak karena angin semilir, orang bisa melihat kabut terangkat. Dan akhirnya Seikichi membawa kuasnya ke bawah. Sambil berdiri di samping, dia mempelajari laba-laba betina besar yang tertato di punggung gadis itu, dan ketika dia menatapnya, dia menyadari bahwa dalam karya ini dia memang telah mengungkapkan esensi seluruh hidupnya. Sekarang setelah selesai, seniman itu menyadari kehampaan yang luar biasa.

“Untuk memberikan Anda kecantikan, aku telah mencurahkan seluruh jiwaku ke dalam tato ini,” gumam Seikichi. “Mulai sekarang, tidak ada wanita lajang di Jepang yang bisa melampauimu! Tidak akan pernah lagi Anda tahu rasa takut, seperti di masa lalu. Semuanya, semua pria akan menjadi korbanmu … ”

Apakah dia mendengar kata-katanya? Erangan naik ke bibirnya, anggota tubuhnya bergerak. Perlahan-lahan dia mulai sadar kembali, dan ketika dia berbaring bernapas, kaki laba-laba bergerak di punggungnya seperti kaki binatang yang hidup.

“Anda pasti menderita,” kata Seikichi. “Itu karena laba-laba merangkul tubuhmu begitu erat.”

Gadis itu setengah membuka matanya. Pada awalnya pandangan kosong, lalu pupil matanya mulai bersinar dengan kecerahan yang dipantulkan cahaya bulan di wajah Seikichi.

“Tuan, biarkan aku melihat tato di punggungku! Jika Anda telah memberikanku jiwa Anda, aku pasti menjadi cantik.”

Gadis itu berbicara seperti dalam sebuah mimpi, namun dalam suaranya ada nada percaya diri, kekuatan.

“Pertama, Anda harus mandi untuk mencerahkan warnanya,” jawab Seikichi. Dan dia menambahkan dengan perhatian yang tulus, “Itu akan menyakitkan, paling menyakitkan. Dapatkan keberanian!”

“Aku akan menanggung apa pun untuk menjadi cantik,” kata gadis itu.

Gadis itu mengikuti Seikichi menuruni beberapa tangga ke kamar mandi, dan ketika dia melangkah ke dalam air yang mengepul, matanya berkilau kesakitan.

“Ah, ah, betapa perihnya!” erang si gadis. “Tuan, tinggalkan aku dan tunggu di atas. Aku akan bergabung dengan Anda ketika aku siap. Aku tidak ingin ada orang yang melihatku menderita.”

Tetapi ketika dia keluar dari bak mandi, si gadis bahkan tidak memiliki kekuatan untuk mengeringkan dirinya sendiri. Dia menyingkirkan bantuan tangan Seikichi dan jatuh ke lantai, diliputi rasa sakit. Sambil mengerang, dia berbaring di sana, rambutnya yang panjang menutupi lantai. Cermin di belakangnya memantulkan telapak dua kaki, berwarna-warni seperti karang mutiara.

Seikichi naik ke atas untuk menunggunya, dan ketika akhirnya gadis itu bergabung dengannya dia berpakaian dengan hati-hati. Rambutnya yang basah telah disisir dan digantung di bahunya. Mulutnya yang halus dan alisnya yang melengkung tidak lagi mengkhianati penderitaan akibat cobaannya, dan ketika dia memandang keluar ke sungai, ada kilatan dingin di matanya. Terlepas dari masa mudanya, dia memiliki sikap seorang wanita yang telah menghabiskan bertahun-tahun di rumah-rumah geisha dan memperoleh seni menguasai hati pria. Kagum karenanya, Seikichi merenungkan perubahan yang terjadi pada gadis pemalu sejak hari sebelumnya. Pergi ke ruangan lain, Seikichi mengambil dua gulungan gambar yang telah dia tunjukkan pada si gadis.

“Aku menawarkan lukisan-lukisan ini kepada Anda,” katanya. “Dan juga, tentu saja, tato itu. Itu milik Anda untuk dibawa pergi.”

“Tuan,” jawabnya, “hatiku sekarang bebas dari segala ketakutan. Dan Anda … Anda akan menjadi korban pertamaku!”

Gadis itu melemparkan pandangan pada Seikichi, menusuk layaknya pedang tajam yang baru diasah. Itu adalah tatapan putri Cina muda, dan juga wanita lain yang bersandar pada pohon ceri yang dikelilingi oleh nyanyian burung dan mayat. Perasaan kemenangan mengaliri Seikichi.

“Biarkan aku melihat tato Anda,” kata Seikichi. “Tunjukkan padaku tato Anda.”

Tanpa sepatah kata pun, gadis itu memiringkan kepalanya dan membuka gaunnya. Sinar matahari pagi jatuh di punggung gadis muda itu dan sinar keemasannya membakar sang laba-laba.

*

Diterjemahkan dari cerpen berjudul The Victim dari Junichiro Tanizaki, yang dialihbahasakan Ivan Morris di Paris Review.

Kategori
Non Fakta

Naga Cina, Jorge Luis Borges

n2949

Kosmogoni Tiongkok mengajarkan bahwa Sepuluh Ribu Hal atau Arketip (dunia) lahir dari konjungsi berirama dari dua prinsip abadi yang saling melengkapi, yin dan yang. Yang termasuk yin adalah konsentrasi, kegelapan, kepasifan, angka genap, dan dingin; sementara yang, pertumbuhan, cahaya, aktivitas, angka ganjil, dan panas. Simbol yin adalah perempuan, bumi, warna oranye, lembah, dasar sungai, dan harimau; yang, laki-laki, langit, biru, gunung, pilar, naga.

Naga Cina, atau lung, adalah salah satu dari empat makhluk ajaib. (Yang lain adalah unicorn, phoenix, dan kura-kura.) Seringnya, Naga Barat menyebarkan teror; paling buruk, ia adalah sosok yang penuh olok-olok. Namun, lung dalam mitos Tiongkok adalah ilahi dan seperti malaikat yang juga seekor singa. Kita membaca dalam Catatan Sejarah Ssu-ma Ch’ien bahwa Konfusius pergi untuk berkonsultasi dengan arsiparis atau pustakawan Lao-tzu, dan setelah kunjungannya berkata:

Burung terbang, ikan berenang, binatang lari. Hewan yang berlari dapat ditangkap dengan sebuah jerat, yang berenang dengan sebuah jaring, dan yang terbang dengan sebuah panah. Tapi ada Naga; aku tidak tahu bagaimana dia menunggang angin atau bagaimana mencapai surga. Hari ini aku bertemu Lao-tzu dan aku dapat mengatakan bahwa aku telah melihat Naga.

Itu adalah Naga, atau Kuda Naga, yang muncul dari Sungai Kuning untuk mengabarkan kepada seorang kaisar soal diagram lingkaran terkenal yang melambangkan permainan timbal balik dari Yang dan Yin. Seorang raja memiliki di istananya pelana Naga dan anggitan Naga; seorang kaisar memakan Naga, dan kerajaannya makmur. Seorang penyair terkenal, untuk mengilustrasikan risiko kebesaran, menulis: Unicorn berakhir dengan daging mentah; naga sebagai pai daging.”

Dalam I Ching atau Kitab Perubahan, Naga menandakan kebijaksanaan. Selama berabad-abad ia adalah lambang kekaisaran. Tahta kaisar disebut Singgasana Naga, wajahnya adalah Wajah Naga. Saat mengumumkan kematian seorang kaisar, dikatakan bahwa ia telah naik ke surga di belakang Naga.

Imajinasi populer menghubungkan Naga dengan awan, dengan curah hujan yang dibutuhkan oleh petani, dan untuk sungai-sungai besar. ‘Bumi menggandeng naga’ adalah ungkapan umum untuk hujan. Sekitar abad keenam, Chang Seng-yu mengeksekusi lukisan dinding yang menggambarkan empat Naga. Para penonton mengeluh bahwa dia telah meninggalkan mata mereka. Terganggu, Chang mengambil kuasnya lagi dan menyelesaikan dua dari figur yang cacat. Kemudian ‘udara dipenuhi dengan guntur dan kilat, dinding retak dan dua Naga itu naik ke surga. Tapi dua Naga tanpa mata lainnya tetap ada di tempatnya’.

Naga Cina memiliki tanduk, cakar, dan sisik, dan tulang punggungnya terdapat duri yang menusuk. Biasanya digambarkan dengan mutiara, yang ditelan atau dimuntahkan. Di dalam mutiara ini terletak kekuatannya; Naga dijinakkan jika mutiara diambil darinya.

Chuang Tzu menceritakan kepada kita tentang seorang lelaki teguh yang pada akhir dari tiga tahun yang menyusahkannya dalam menguasai seni membunuh Naga, dan selama sisa hidupnya tidak diberi kesempatan untuk mempraktikkan seninya.

*

Diterjemahkan dari Chinese Dragon dalam The Book of Imaginary Beings dari Jorge Luis Borges. Makhluk mitos naga, meski terdapat perbedaan detail, baik di Barat atau Timur sama-sama mengimajinasikannya. Kita acuh soal makna naga, sebut Borges, seperti halnya kita acuh soal makna alam semesta. Ada semacam fenomana yang bisa digali dari imajinasi manusia.

Kategori
Non Fakta

Kematian Seorang Teolog, Jorge Luis Borges

vincent_van_gogh_-_van_goghs_bedroom_in_arles_-_google_art_project-1

Para malaikat menuturkan kepadaku bahwa ketika Melancthon wafat, dia diberi sebuah rumah yang menyerupai rumahnya di dunia ini. (Hal ini terjadi pada kebanyakan para pendatang baru di alam baka pada awal kedatangan mereka – itu sebabnya mereka tidak menyadari kematian mereka dan mengira masih berada di alam dunia.) Semua benda di kamarnya serupa dengan yang dulu pernah dimilikinya – meja, meja tulis berlaci, rak-rak buku. Begitu bangun di kediaman baru ini, Melancthon duduk di mejanya, memulai karangannya, dan berhari-hari menulis – seperti biasa – tentang pengampunan dosa melalui iman semata-mata, tanpa sepatah pun kata tentang amal. Pengabaian ini dipergoki oleh para malaikat, mereka mengirimkan utusan untuk menanyainya. “Aku telah membuktikan tanpa dapat disangkal lagi,” jawab Melancthon kepada mereka, “Bahwa amal tak mengandung apa pun yang hakiki bagi jiwa. Untuk meraih penebusan, iman saja sudah cukup.” Dia berbicara dengan penuh keyakinan, tanpa syak sedikit pun bahwa dia sudah mati dan jatahnya ada di luar Surga. Demi mendengar ucapannya itu, para malaikat pun pergi.

Setelah beberapa minggu, perabotan di kamarnya mulai mengabur dan lenyap hingga akhirnya tak ada lagi yang tersisa selain kursi malas, meja, kertas, wadah pena dan tintanya. Yang lebih parah lagi, dinding kamarnya menjadi berlabur kapur dan lantainya terlapisi beling kuning. Pakaian Melanchthon sendiri kini lebih kasar. Dia heran dengan perubahan ini, namun terus saja menulis tentang iman seraya mengingkari amal. Begitu ngototnya dengan pengesampingan ini sampai-sampai dia mendadak terjeblos ke semacam rumah tahanan yang dihuni kaum teolog seperti dirinya. Terpenjara selama beberapa hari, Melancthon mulai menyangsikan doktrinnya dan dia diperkenankan kembali ke kamarnya semula. Dia kini hanya terbungkus kulit berbulu, namun dia berusaha keras meyakinkan dirinya bahwa apa yang baru terjadi padanya tidak lebih daripada halusinasi. Dia kembali menyanjung iman dan meremehkan amal.

Pada suatu petang Melancthon merasa kedinginan. Dia mulai memeriksa rumah dan segera menemukan bahwa ruangan lain tak sama lagi dengan yang ada di rumah lamanya di alam dunia. Sebuah ruangan tampak berantakan diseraki alat-alat yang tidak dipahaminya: ruangan lain menyusut jadi sedemikian kecil hingga mustahil dimasuki; ruangan ketiga tidak berubah, tapi pintu-pintu dan jendelanya menghadap ke hamparan pesisir pasir yang luas. Salah satu ruangan di belakang rumah dipenuhi orang yang memujanya dan tak henti-henti mengatakan kepadanya bahwa tidak ada teolog yang sebijaksana dia. Puja-puji ini membuatnya senang, namun karena sejumlah tamu itu tak berwajah dan lainnya tampak seperti orang mati, akhirnya dia benci dan tak percaya kepada mereka. Di titik inilah dia memutuskan untuk menulis sesuatu tentang amal. Satu-satunya kesulitan adalah bahwa apa yang ditulisnya hari ini tidak bisa dilihatnya pada keesokan harinya. Ini karena halaman-halaman itu ditulisnya tanpa keyakinan.

Melancthon menerima banyak kunjungan dari orang-orang yang baru mati, namun dia merasa malu kedapatan tinggal di pondokan yang begitu buruk. Untuk membuat mereka percaya bahwa dia berada di Surga, disewanya tukang sihir setempat, yang mengecoh rombongan tamu dengan tampilan kesentosaan dan kemegahan. Begitu tamu-tamunya pergi – kadang tak lama sebelum pergi – riasan-riasan ini pun sirna, menyisakan plesteran dan keadaan berangin semula.

Kabar terakhir yang kudengar tentang Melancthon adalah bahwa tukang sihir itu dan salah seorang laki-laki tak berwajah melarikannya ke perbukitan pasir, di mana kini dia menjadi semacam hamba setan.

Dari Arcana Calestia (1749-1756)
oleh Emanuel Swedenborg

*

Ditulis ulang dari salah satu kisah dalam Sejarah Aib terjemahan Arif Bagus Prasetyo.

Kategori
Non Fakta

Perbedaan Antara Cinta dan Siksaan Menunggu, Orhan Pamuk

cinta dan siksaan menunggu orhan pamuk

Tetapi, Ipek tidak segera naik. Dan menunggu adalah sebuah siksaan – yang terburuk sepengetahuan Ka. Sekarang Ka teringat bahwa kepedihan inilah, siksaan saat menanti inilah, yang membuatnya takut jatuh cinta. Sesampainya di kamar, dia membaringkan diri di ranjang, hanya untuk berdiri kembali dan merapikan bajunya. Dia mencuci tangan, merasakan darahnya mengalir meninggalkan lengan, jemari, dan bibirnya. Dengan tangan gemetar, dia menyisir rambut; kemudian, melihat bayangannya sendiri di jendela, dia mengacak-acak rambutnya lagi. Semua ini hanya memakan sangat sedikit waktu, dan akhirnya dia mengarahkan perhatian dan kecemasannya pada pemandangan di luar jendela.

Dia berharap akan melihat Turgut Bey meninggalkan hotel bersama Kadife. Mungkin mereka keluar saat dia berada di dalam kamar mandi. Tetapi, jika memang itu yang terjadi, Ipek tentunya sudah ada di kamarnya sekarang. Mungkin Ipek berada di kamar yang dilihatnya kemarin malam, membedaki wajahnya dan mengolesi lehernya dengan parfum. Membuang-buang sedikit waktu yang mereka miliki bersama saja! Tidakkah Ipek memahami betapa Ka mencintainya? Apa pun yang sedang dilakukan Ipek, itu tidak sepadan dengan kepedihan yang dirasakan Ka saat ini; Ka akan mengatakan semuanya kepada Ipek jika wanita itu akhirnya muncul. Tetapi, akankah Ipek datang? Bersama setiap waktu yang berlalu, Ka menjadi semakin yakin bahwa Ipek telah berubah pikiran.

Ka melihat sebuah kereta kuda mendekati hotel; dikawal oleh Zahide Hanim dan Cavit si resepsionis, Turgut Bey dan Kadife memanjat naik, lalu menutup lapisan terpal di kereta itu. Tetapi, kereta itu tak kunjung bergerak. Ka memandang lapisan salju di atap kereta bertambah tebal dan tebal; di bawah cahaya lampu-lampu jalanan, setiap kepingan salju tampak semakin membesar. Saat itulah Ka merasa waktu seolah-olah berhenti; ini membuatnya gila. Tepat ketika itu, Zahide berlari ke luar dan memasukkan sesuatu yang tidak terlihat oleh Ka ke dalam kereta. Kendaraan itu pun mulai bergerak, dan jantng Ka berdegup semakin kencang.

Tetapi, Ipek tak kunjung datang.

Apakah perbedaan antara cinta dan siksaan menunggu? Seperti cinta, siksaan menunggu muncul dari otot-otot yang terletak di suatu tempat di bagian atas perut, tetapi sensasi itu segera menyebar ke dada, ke paha, dan ke kening, sebelum kemudian menguasai seluruh tubuh dengan kekuatan yang melumpuhkan. Ka mendengarkan suara-suara dari bagian lain hotel, berusaha menduga-duga apa yang sedang dilakukan Ipek. Ka melihat seorang wanita di jalan, dan, meskipun sosoknya sama sekali berbeda dengan Ipek, dia berpikir bahwa wanita itu Ipek. Betapa cantiknya salju yang sedang jatuh dari langit!

Saat dirinya masih kecil, saat dia dan teman-teman sekelasnya berduyun-duyun memasuki kantin sekolah untuk mendapatkan suntikan, saat aroma makanan yang bercampur dengan aroma iodin berputar-putar di dalam kepalanya, perutnya terasa mulas seperti ini, dan dia ingin mati saja. Dia mendambakan rumahnya, kamarnya sendiri. Sekarang dia berada di kamar mengenaskannya di Frankfurt. Datang ke Kars adalah sebuah kesalahan besar! Puisi-puisi baru pun sudah tidak lagi mendatanginya sekarang. Dia sangat merana. Meskipun begitu, dia berusaha menenangkan diri dengan berdiri di dekat jendela yang hangat, menyaksikan hujan salju; setidaknya ini lebih baik daripada meregang nyawa. Tetapi, jika Ipek tidak segera datang, mau tidak mau dia akan mati.

Lampu-lampu seketika padam.

Ini adalah pertanda, pikir Ipek, yang dikirim khusus untuknya. Mungkin Ipek tidak datang karena dia mengetahui tentang pemadaman listrik yang akan terjadi. Ka memandang ke jalan yang gelap di bawahnya, mencari tanda-tanda kehidupan, sesuatu yang bisa menjelaskan mengapa Ipek tidak datang. Dia melihat sebuah truk – apakah itu truk tentara? Bukan, pikirannya menipunya. Begitu pula bunyi langkah kaki di tangga yang didengarnya. Tidak ada yang datang. Ka meninggalkan jendela dan berbaring kaku di ranjang. Rasa nyeri yang dimulai di perutnya sekarang telah menyebar ke jiwanya; dia sendirian di dunia ini, dan tak ada yang bisa disalahkan kecuali dirinya sendiri. Kehidupannya sia-sia; dia akan mati di sini, dalam keadaan menderita dan kesepian. Kali ini, dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk berlari seperti tikus ke lubangnya di Frankfurt. Ketidakbahagiaan yang begitu parah membuatnya berduka dan putus asa. Lebih buruk lagi, dia tahu bahwa, seandainya dia mengambil tindakan yang lebih pintar, hidupnya akan jauh lebih bahagia. Dan, yang terburuk adalah mengetahui bahwa tidak seorang pun melihat ketakutan, penderitaan, dan kesepian yang dirasakannya. Seandainya Ipek mengetahui hal ini, dia akan langsung naik tanpa menunda-nunda! Seandainya ibunya melihatnya dalam keadaan ini … Hanya ibunyalah satu-satunya orang di dunia ini yang akan memahaminya; wanita itu akan membelai rambutnya dan menenangkannya.

Es di jendela mengeluarkan pendar oranye dari cahaya lampu jalanan dan lampu-lampu bangunan di sekitar hotel. Biar saja salju terus turun, pikir Ka. Biar saja salju turun berhari-hari dan berbulan-bulan. Biar saja salju mengubur Kota Kars sehingga tidak ada lagi yang bisa menemukannya. Dia ingin tidur di ranjangnya dan baru terbangun saat matahari bersinar cerah pada suatu pagi, dan dia kembali menjadi anak-anak, bersama ibunya.

Terdengarlah ketukan di pintu. Jika sudah begini, Ka mengatakan kepada dirinya sendiri, bisa saja yang mengetuk pintunya adalah seseorang dari dapur. Tetapi, dia menghambur ke pintu, dan saat membukanya, dia dapat merasakan keberadaan Ipek.

“Dari mana saja kamu?”

“Apakah aku terlambat?”

Tetapi, Ka seolah-olah tidak mendengar kata-kata Ipek. Dia langsung mememluk Ipek dengan sekuat tenaga; dia menempelkan kepala ke leher Ipek dan membenamkan wajah ke rambutnya; dan dia berdiam di sana, tidak menggerakkan sedikit pun ototnya. Ka merasakan kebahagiaan yang begitu besar, sehingga siksaan menunggu yang baru saja menderanya sekrang terasa absurd. Tetapi, siksaan itu telah menggerogotinya sebegitu rupa, sehingga, Ka berpikir, karena itulah dia bisa sangat mensyukuri kehadiran Ipek. Dan, untuk apakah dia menuntut penjelasan Ipek tentang keterlambatannya: bahkan meskipun mengetahui bahwa dirinya tidak berhak melakukan hal itu, Ka terus-menerus mengeluh. Tetapi, Ipek bersikeras bahwa dirinya naik segera setelah ayahnya pergi. Memang, dia berhenti sebentar di dapur untuk memberikan satu atau dua perintah berkenaan dengan makan malam kepada Zahide, tapi itu hanya memakan waktu satu menit. Maka, Ka pun menjadi pihak yang lebih bergairah dan rapuh di antara mereka berdua. Bahkan sejak awal hubungan mereka, Ka telah membiarkan Ipek memegang kendali. Dan, bahkan jika ketakutan Ka akan terlihat lemah menggerakannya untuk menutup-nutupi dampak perasaan tersiksa yang disebabkan oleh Ipek, dia masih harus berurusan dengan rasa tidak amannya. Lagi pula, bukankah cinta berarti berbagi segalanya? Apakah cinta jika bukan hasrat untuk membagi semua pikiran kita? Dia membeberkan rentetan pikirannya kepada Ipek dengan napas tertahan, seolah-olah sedang membocorkan sebuah rahasia gelap.

“Sekarang, singkirkanlah semua itu dari kepalamu,” kata Ipek. “Aku datang ke sini untuk bercinta denganmu.”

Mereka berciuman. Dengan kelembutan yang mendatangkan kenyamanan bagi Ka, mereka menjatuhkan diri ke ranjang. Bagi Ka, yang telah empat tahun tidak bercinta, rasanya seperti mendapatkan mukjizat. Maka, meskipun kenikmatan melanda tubuhnya, pikiran sadarnya masih bisa mengingatkannya bahwa dia sedang berada dalam momen yang indah. Sama seperti pengalaman seksualnya yang pertama, bukan hanya tindakan dan pikiran tentang bercinta yang menguasai dirinya. Selama sesaat, kesadarannya melindunginya dari gairah yang meledak-ledak. Detail-detail dari film-film porno yang membuatnya kecanduan di Frankfurt membanjiri kepalanya, menciptakan sebuah aura fantasi yang sepertinya jauh dari logika. Tetapi, dia tidak membayangkan adegan-adegan itu untuk membuat dirinya terangsang; dia sedang merayakan fakta bahwa pada akhirnya dia dapat mewujudkan berbagai fantasi yang selama ini bermain-main di dalam pikirannya. Maka, bukan hanya Ipek seorang yang membuat Ka terangsang, melainkan juga bayangan-bayangan cabul; dan mukjizat yang dirasakannya tidak berasal dari keberadaan Ipek tetapi dari fakta bahwa dia dapat mewujudkan fantasinya di atas ranjang bersama Ipek.

Baru ketika Ka melepas baju Ipek dengan kecanggungan yang nyaris mendekati kekasaran, dia melihat diri Ipek yang sesungguhnya. Payudaranya yang ranum, kulit leher dan bahunya yang sangat lembut, aroma tubuhnya yang terasa aneh dan asing. Ka menyaksikan pantulan sorot lampu putih di tubuh Ipek. Kadang-kadang, mata Ipek berbinar, dan itu membuat Ka ketakutan. Kedua mata itu memancarkan keyakinan yang mendalam: Ka khawatir Ipek tidak serapuh yang diinginkannya. Karena itulah Ka menjambak rambut Ipek, supaya Ipek merasa kesakitan; karena itulah dia menikmati kesakitan Ipek sehingga dia kembali menjambak rambut Ipek; karena itulah dia menyuruh Ipek melakukan beberapa tindakan lain yang juga berasal dari film porno yang masih berlangsung di dalam kepalanya; dan, karena itulah dia memperlakukan Ipek dengan sangat kasar – untuk mengimbangi musik di dalam kepalanya, yang sangat dalam dan primitif. Saat melihat bahwa Ipek menikmati kekasarannya, perasaan unggul yang mendatangi Ka memunculkan kasih sayang yang hangat. Dia memeluk Ipek erat-erat; sekarang, dia tidak hanya berharap dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari penderitaan Kars, dia juga ingin menyelamatkan Ipek. Tetapi, saat menyadari bahwa reaksi Ipek sepadan dengan gairahnya sendiri yang menggebu-gebu, Ka segera melepaskannya. Di dalam benaknya, dia dapat memegang kendali dan melakukan aneka gerakan akrobatik seksual itu dengan keluwesan yang mengagetkan. Tetapi, saat entah bagaimana pikirannya menjauh, dia dapat merengkuh Ipek dengan gairah yang sangat mendekati kekejaman; dan pada saat seperti itu, Ka ingin menyakiti Ipek.

Menurut catatan yang dibuat Ka tentang caranya bercinta – catatan yang kurasa harus kubagi dengan para pembacaku – hasratnya akhirnya terlampiaskan, dan mereka saling berpelukan begitu erat sehingga dunia seoalah-olah tidak ada lagi dalam ingatan mereka. Catatan yang sama juga mengungkapkan bahwa Ipek menangis tersedu-sedu saat semua itu berakhir.

Paranoia mendera Ka saat sekarang dia memikirkan apakah ini alasan dia diberi kamar yang terletak di sudut paling terpencil di hotel ini. Kenikmatan yang mereka rasakan saat saling menyakiti sekarang mendatangkan kembali rasa kesepian yang telah mereka akrabi. Dalam bayangan Ka, kamar terpencil di koridor terpencil ini telah melepaskan diri dari hotel dan melayang menuju sudut paling terpencil di kota yang sunyi ini. Dan, Kota Kars tampak begitu hening sehingga dunia sepertinya telah tiba di titik akhir. Dan, hujan salju terus turun.

Mereka berbaring lama di ranjang, berdampingan, memandang salju tanpa berkata-kata. Dari waktu ke waktu, Ka menolehkan kepala untuk menyaksikan hujan salju di mata Ipek.

*

Nukilan bab 28 dari novel Salju karya Orhan Pamuk