Kategori
Buku

10 Manga Shonen Karya Perempuan

Manga Shonen didefinisikan sebagai manga yang ditargetkan untuk anak laki-laki dengan umur antara 8 dan 18 tahun. Meski ini sama sekali tak mendefinisikan, apalagi membatasi, pembaca sebenarnya yang mengonsumsinya.

Terkenal karena pertempuran panas berdarah-darah, persahabatan loyal laki-laki, dan tema seputar kerja keras, kesetiaan, serta keberanian. Banyak dari judul manga populer ini, seperti Naruto, Bleach, Hunter x Hunter, dan One Piece, masuk dalam label shonen.

Kategori
Korea Fever TV Geek!

Ketika Winter Sonata Meyakinkan Dunia Kalau Cowok Korea Adalah Kekasih Idaman

Kemenangan besar budaya populer Korea akhirnya diraih melalui serial drama 2002 dengan ketenaran gila-gilaan: Winter Sonata.

Selama bertahun-tahun, tujuan tak tertulis strategi ekspor budaya popular Korea adalah memenangkan hati penonton Jepang. Kalau orang Korea bisa meluluhkan hati orang Jepang, yang sampai saat itu memiliki pengaruh besar pada budaya popular di Asia, maka, segalanya mungkin.

Kategori
Movie Enthusiast

Empu: Kemelut Tiga Perempuan

empu film

Meski sama-sama harus dicarikan solusinya, melunasi tagihan lebih mendesak ketimbang menumbangkan patriarki. Setidaknya itu berlaku bagi Sutringah, atau yang dipanggil Tri, istri dari seorang penderas nira di Banyumas, yang anaknya diancam dikeluarkan jika masih menunggak bayaran sekolahnya. Namun, tampaknya Tri mesti bergelut dengan dua persoalan tadi sekaligus.

Sebelumnya, film dibuka dengan adegan suami Tri meninggalkan sebuah penyuluhan di tengah-tengah materi soal kesetaraan gender dalam pengelolaan sumber daya alam. Tri ikut pulang juga menemaninya. Di tengah jalan, sang suami menegaskan argumen kolot soal peran suami-istri yang tak boleh diganggu gugat: suami cari duit, istri tinggal patuh pada suami. Kini Tri dihadapkan pada beban ekonomi yang diperparah maskulinitas beracun suaminya.

empu film sutriningsih
Sutringah (Annisa Hertami)

Tri adalah satu dari tiga perempuan yang dipotret dalam film Empu. Ada Maria di Kupang, seorang janda yang bersama kelompoknya dari Kefamenanu tengah memperjuangkan kerajinan kain tenun agar terus terpelihara, sementara rumah tenun Biboki terancam digusur karena sengketa lahan. Lalu ada Yati di Klaten, seorang difabel yang merupakan anak pengusaha kain lurik skala rumahan, yang karena idealismenya terbentur dengan pakem ayahnya, kemudian memutuskan bekerja di pabrik tekstil.

Alur cerita bergerak maju, pindah bergantian dari Tri ke Maria ke Yati, lalu balik lagi ke Tri, dan polanya berulang terus hingga film selesai. Meski tak ada pembedaan eksekusi teknis antar ketiga cerita, seperti dari pengambilan syut atau dari gaya narasi, misalnya, Empu cukup mudah untuk diikuti. Pembabakannya pun seragam, dimulai dengan penempatan tokoh dengan latar masalahnya, lalu masalah bertambah, kemudian tokoh berusaha mengusahakan solusinya, dan diakhiri penyelesaian masalah.

Maria (Putry Moruk) beserta kelompoknya dari Kefamenanu.

Tema perempuan selalu menjadi krusial untuk dibahas karena cara pandang masyarakat tentang peran laki-laki memiliki banyak pengaruh penting sekaligus pelik dalam kehidupan sehari-hari. Empu mencoba menampilkan kisah-kisah perempuan yang tak pasrah dengan peran yang melumpuhkan posisinya.

Tri ingin membantu menyelesaikan permasalahan ekonomi keluarganya, tapi terhalang sang suami yang ngotot tak mau menanggalkan fungsi dirinya sebagai pencari nafkah, padahal jelas-jelas dirinya sedang sakit. Maria sudah punya solusi bahwa dengan mengajarkan cara menenun ke siswa sekolah adalah satu cara agar tradisi ini terus terwarisi, tapi terhalang kebijakan sekolah dan gurunya yang saklek apa-apa harus sesuai kurikulum buatan pusat. Yati diterima di pabrik tekstil, tapi bukan di posisi yang diinginkannya, hanya direkrut sebagai pelengkap pekerja difabel.

Empu mengikuti perjalanan tiga perempuan itu dalam memahami peran kesehariannya dan juga benturannya dengan realitas situasi politik, ekonomi dan budaya yang membatasi mereka.

empu film yati
Yati (Tiara Arianggi)

Jika ditujukan untuk mencapai “film perempuan inspiratif”, maka Empu terbilang berhasil. Menampilkan tiga perempuan dengan masalah yang harus dihadapinya. Tiga perempuan yang sepanjang film berada dalam suasana liris dan kondisi nelangsa akhirnya diberi penyelesaian yang bernada positif, bahkan mungkin semacam kemenangan atas pergulatannya. Ya, sebagai “film perempuan inspiratif”, Empu jelas telah menunaikan tugas mulianya.

Saya tak mempermasalahkan soal happy ending-nya, yang saya persoalkan adalah bagaimana film ini memperlakukan konflik dan penyelesainnya dengan terlalu mulus: masalah muncul dengan cepat dan dengan cepat pula menghilang. Intensitas dramatisnya kurang diekplorasi. Pembabakan konflik-klimaks-konklusi seakan tersendat dan terpotong. Bisa jadi ini disebabkan karena tiga cerita itu harus diselesaikan dalam durasi satu jam.

Bagaimanapun, Empu layak dibicarakan, terutama saat ia memotret ragam persoalan yang harus dihadapi ragam perempuan. Bahwa wacana perempuan yang selama ini seringnya hanya jadi kemewahan buat kaum menengah perkotaan semestinya bisa pula menjangkau Tri, Maria, Yati dan perempuan lain di tiap sudut yang punya persoalan khasnya masing-masing.

Kategori
Movie Enthusiast

10 Film Pendek Indonesia yang Tersedia di YouTube

film pendek indonesia

Film pendek pasti menarik perhatian penonton, utamanya karena waktunya lebih singkat sehingga kita tak perlu menunggu sekitar satu jam atau lebih untuk menyelesaikannya, cocok bagi penonton film yang tak sabar. Plot dan tema yang diangkat begitu beragam dan menarik, bahkan eksperimental, karena sifatnya yang tak terlalu diatur industri film pasaran.

Ada banyak film pendek buatan sineas Indonesia yang bagus dan menggoreskan kesan mendalam. Namun, tak banyak yang diunggah secara resmi ke YouTube. Ini merupakan kompilasi beberapa film pendek yang bisa kita tonton secara legal.

1. Tilik

Perjalanan menjenguk Bu Lurah berlangsung ricuh saat Bu Tejo dan Yu Ning mulai berdebat soal Dian. Film pendek yang bikin terbahak sekaligus jengkel.

2. Indie Bung

Ngobrol ngalor-ngidul di angkringan itu memang seru. Dalam film pendek ini, kita mengikuti obrolan dua pemuda mengenai pembuatan sebuah film. Ringan, lucu, dan kreatif. Visualisasi imajinasi dua pemuda ini ampuh memantik gelak tawa.

3. Lemantun

Seorang ibu mewariskan lemari tua di rumah untuk anak-anaknya. Film sederhana besutan Wregas Bhanuteja yang berbicara soal keluarga serta kasih sayang orang tua ini akan membuatmu tertawa, tersenyum, dan menyeka air mata.

4. Natalan

Pada malam Natal, seorang ibu bersiap menyambut kedatangan putranya yang sudah lama tidak pulang kampung. Hati hancur berkeping-keping di adegan akhir. Rasanya ingin memeluk ibu.

5. Antar Kota Dalam Provinsi

Seorang kernet bus dihampiri kekasihnya yang memintanya untuk segera melamarnya. Bagai lagu dangdut pantura yang nelangsa, film pendek ini hadirkan drama seru dari kehidupan kru bus dengan latar bus AKDP jurusan Jember.

6. So-Yam!

Animasi buatan Indonesia ini kece juga. Ceritanya pun ringan-ringan menghibur. Persaingan dua pedagang kaki lima yang tak akur menjadi semakin sengit saat kedatangan seorang pelanggan. Siapa yang akan menang, bakso atau mie ayam?

7. Sandekala

Ingat apa yang dibilang oleh orang tua dulu, jangan keluar saat Maghrib. Masih menjadi salah satu film horor pendek yang aku sukai. Tentang seorang ibu dan putrinya yang mengalami kejadian menyeramkan saat mereka berjalan di lorong gang.

8. Kisah di Hari Minggu

Pada pagi hari, seorang ibu sudah diribetkan dengan segala urusan rumah tangga. Tapi sang suami malah tidur nyenyak dan anaknya pergi main. Sebuah tontonan sederhana yang menampilkan realita kehidupan domestik di Indonesia.

9. Mars: Jangan Pipis Sembarangan

Saat sedang darmawisata ke Planet Mars, seorang bocah pipis secara sembarangan yang membuatnya diculik alien. Film pendek ini nyeleneh dan konyol. Tapi lucu dan menghibur. Idenya sungguh liar.

10. Sepiring Nasi Basi di Pagi Hari

Sarapan di pagi hari tak melulu soal menyantap makanan. Ada aktivitas lain yang bisa dikategorikan sebagai sarapan. Melalui kehadiran dua karakter, film ini mencoba mendeskripsikan kata sarapan secara filosofis.

Kategori
Buku

7 Novel Ryū Murakami Guna Membangkitkan Sisi Psikotikmu

Ryu Murakami
Foto: Tokyo Weekender

“Jika kamu hanya membaca buku-buku yang dibaca orang lain,” sebut si seleb sastra Haruki Murakami, “kamu hanya bisa memikirkan apa yang dipikirkan orang lain.”

Jika mengamalkan saran dari Murakami ini, yang buku-bukunya begitu populer dan dibaca banyak orang, maka segera pindah untuk baca Murakami lainnya: Ryū Murakami. Meski memang, kedua Murakami ini sebenarnya dua penulis mapan. Setidaknya, Ryū lebih klandestin dan obscure ketimbang Haruki.

Penulis bernama lengkap Ryūnosuke Murakami ini didaulat sebagai seorang renaisans di masa posmodernis. Novel pertamanya terbit 1976 dan langsung diganjar Penghargaan Akutagawa yang bergengsi, debutnya ini digembar-gemborkan sebagai jenis sastra baru.

Foto: Tokyo Weekender

Penulis yang juga sutradara film ini mengejutkan dan membuat kagum pembaca dengan cerita-ceritanya yang filmis, yang seringnya mengerikan, yang merangkul tema-tema vulgar ala Jepang nan gelap dari seks, kekerasan, dan obat-obatan.

Sudah ada lebih dari 50 karya yang ditelurkannya, baik novel dan kumpulan cerpen. Daftar berikut ini tujuh di antaranya, yang telah saya khatamkan dan saya pikir ini karya-karya esensialnya. Meski karyanya bisa bebas dibaca dari judul mana saja, saya susun daftar ini berdasarkan waktu rilis, sehingga kita bisa membaca juga perjalanan kepengarangannya,

1. Almost Transparent Blue

Foto: Goodreads

Tahukah kamu kalau Almost Transparent Blue ini jadi novel favoritnya Kim Namjoon atau RM BTS?

Seperti nonton JAV. Tanpa plot cerita, semuanya soal gejolak masa muda blangsak: mabuk, ikeh-ikeh yang bengis, dan rock n roll. Sebuah kisah brutal tentang muda-mudi di sebuah kota pelabuhan Jepang yang dekat dengan pangkalan militer Amerika.

Setelah membaca beberapa karyanya, yang selalu saya suka dari Ryū Murakami adalah bagaimana ia mengakhiri tiap novelnya. Selain itu, saya selalu cinta pada tiap novel perdana dari seorang penulis.

2. Coin Locker Babies

Foto: Goodreads

Ditinggalkan saat lahir di loker stasiun kereta yang berdekatan, dua anak laki-laki menghabiskan masa muda mereka di panti asuhan dan dengan orang tua asuh di pulau terpencil. Mereka akhirnya berangkat ke kota untuk menemukan dan menghancurkan wanita yang pertama kali menolak mereka: ibu kandungnya.

Bersama-sama dan terpisah, perjalanan mereka dari kotak logam panas ke klimaks buas yang memukau adalah perjalanan brutal melalui lanskap menakutkan Jepang akhir abad ke-20. Sebuah kisah coming-of-age surealis yang menjadikan Ryū Murakami sebagai salah satu penulis paling kreatif di dunia saat ini.

3. 69

Foto: Goodreads

Ini musim panas tahun 1969. Kensuke Yazaki berusia tujuh belas tahun dan tertarik pada segalanya: Rolling Stones, Rimbaud, Velvet Underground, French New Wave, Jimi Hendrix, protes politik dan Janis Joplin, yang semuanya ada di negara lain yang sangat jauh.

Kensuke dan teman-temannya membawa semua itu ke kota kecil mereka, memulai gerakan pembangkangan, membarikade sekolah mereka, membuat film, mengadakan festival. Bukan demi seni atau politik, melainkan untuk alasan yang jauh lebih penting, untuk satu-satunya alasan nyata: menggaet para gadis.

Karya Murakami yang manis dan semi-otobiografi yang luar biasa, tentang masa yang menyenangkan di usia yang menyenangkan. Novel 69 begitu komikal dan penuh gairah.

4. Popular Hits of the Showa Era

Foto: Goodreads

Sebuah novel tentang perang, secara harfiah, antara para janda kesepian dengan gerombolan pemuda tanggung yang doyan mabuk, ngintip dan karaokean. Sureal dan komikal. Berawal dari pisau lipat, lalu pedang, lalu rudal, sampai bom atom rakitan.

Siapa sangka kalau “perang geng” yang mematikan bisa dibaca sangat menyenangkan? Ryū Murakami membangun konflik menjadi sindiran lucu atas budaya modern dan ketegangan antar jenis kelamin serta generasi.

Sebagai tambahan, Midori-nya Ryū Murakami yang ada di Popular Hits of the Showa Era lebih bangsat ketimbang Midori yang di Norwegian Wood itu.

5. Piercing

Foto: Goodreads

Setiap malam, ketika istrinya sudah tidur, Kawashima Masayuki diam-diam meninggalkan ranjangnya dan mengawasi tempat tidur bayi perempuannya. Ini bukan adegan rumah tangga biasa. Ada pemecah es di tangan Kawashima, dan keinginan tak terkendali untuk menggunakannya. Memutuskan untuk menghadapi roh-roh jahat dalam dirinya, Kawashima menggerakkan serangkaian peristiwa yang tampaknya mengarah pada pembunuhan.

Piercing cocok untuk meluapkan jiwa-jiwa sadomasokis dalam diri kita. Namun, Ryū Murakami tak sekadar mengeksploitasi kekerasan. Ia berangkat dari satu permasalahan yang hingga kini masih dianggap masalah akut: kekerasan anak. Memang, dengan cara yang aneh.

6. Audition

Foto: Goodreads

Saat awal membaca saya pikir novelnya mengarah ke semacam audisi pemain bokep, tapi ternyata ini novel Ryū Murakami paling kalem yang saya baca sejauh ini.

Tentang seorang duda berusia 40-an, yang tak bisa move on setelah ditinggal mati istrinya. Ia kemudian coba bikin audisi-audisian, untuk mencari pasangan ideal buat dirinya, sebuah saran dari kawannya. Meski berjudul Audition, proses audisinya justru tak terlalu ditonjolkan, langsung fokus pada satu peserta audisi tersebut, seorang cewek pertengahan 20-an yang menarik hati si duda tadi.

Galau dan derita orang yang jatuh cinta yang dipotret novel itu betul-betul saya suka. Seperti biasa, Murakami yang ini selalu menawarkan klimaks nyeleneh di akhir-akhir.

Tak lupa, film adaptasi dari novel ini yang digarap oleh Takashii Mike jadi salah satu karya penting dalam sinema Jepang.

Audition (1999)

7. In the Miso Soup

Foto: Goodreads

Panduan lengkap Saritem-nya Tokyo yang diceritakan dengan gaya novel stensilan tapi sastrawi, semacam ‘fusion’ antara Fyodor Dostoyevsky dan Abdullah Harahap. Dalam beberapa kesempatan, saya membaca novel vulgar ini sambil selonjoran di Masjid Al Ukhuwah seberang Pemkot Bandung.

Tepat sebelum Tahun Baru, seorang turis gembrot asal Amerika bernama Frank menyewa Kenji untuk memandunya dalam tur keliling kehidupan malam Tokyo selama tiga malam berturut-turut. Perilaku Frank sangat aneh, bikin Kenji mulai curiga kalau klien barunya ini sebenarnya pembunuh berantai yang tengah meneror kota ini. Sampai kemudian Kenji menyadari ada bahaya begitu besar yang justru harus ia takutkan, dan bahwa pertemuannya dengan Frank akan mengubah hidupnya.

Bagi yang ingin menjelajahi semesta Ryū Murakami, saya rekomendasikan In the Miso Soup ini untuk dibaca pertama kali. Jika klop, saya jamin setelahnya ada keinginan untuk menganjingkan Haruki Murakami.

Kategori
Buku

7 Novel Berlatar Tokyo Karya Penulis Perempuan

Ini adalah kota yang riuh. Ini adalah kota lama Edo yang terdiri dari kuil-kuil Budha tradisional dan kuil-kuil Shinto. Ini juga merupakan kota pra-perang dengan yokocho, gang-gang sempit yang di dalamnya terdapat izakaya dan warung ramen. Ini adalah kota metropolis modern dengan kafe kawaii, kawasan perbelanjaan, musik bawah tanah, dan Restoran Robot. Setiap buku yang berlatar di Tokyo menangkap esensi dari bagian kehidupan Tokyo yang berbeda.

Namun, mari menyingkirkan dulu The Wind Up Bird Chronicle (Haruki Murakami) dan In the Miso Soup (Ryu Murakami), yang begitu maskulin. Kita jelajahi Tokyo dengan perspektif lain, lewat novel-novel yang dikerjakan para penulis perempuan.

Ini adalah novel-novel yang merayakan Tokyo, menggali sisi gelap kota, menjelajahi perkawinan antara yang tradisional dan yang modern. Menawarkan kepada pembaca pandangan yang akrab dan dinamis tentang Tokyo. Beberapa gelap, beberapa lucu, beberapa romantis, semuanya indah dengan caranya sendiri. Membaca novel-novel yang berlatar di Tokyo ini akan memikat kita ke ibu kota Jepang yang luar biasa ini.

1. The Last Children of Tokyo – Yoko Tawada

the last children of tokyo yoko tawada
Foto: Goodreads.com

Yoshiro, seorang penulis yang sudah pensiun, telah melewati hari ulang tahunnya yang keseratus dan masih menghabiskan setiap pagi dengan jogging dengan anjing sewaannya – hanya ada beberapa hewan yang tersisa di Jepang. Cicitnya, Mumei, lahir, seperti segenerasinya, dengan rambut beruban dan kesehatan yang buruk. Harapan hidupnya buruk, dan tulangnya kemungkinan akan rapuh sebelum dia keluar dari masa remajanya.

Yoshiro dan Mumei ada dalam buku sebagai contoh menarik dari masyarakat mereka: Jepang versi distopia ketika kota-kota sebagian besar telah ditinggalkan, ikatan dengan dunia luar telah terputus, semua bahasa lain tidak lagi diajarkan atau diucapkan.

Novel ini melukiskan pandangan yang sangat distopian tentang Tokyo, tetapi yang terasa tidak terlalu jauh. Membandingkan bagaimana orang-orang di sana hidup dengan dunia masa depan yang menakutkan di Tokyo mendorong beberapa pertimbangan gelap dari dunia yang kita jalani lebih dekat setiap hari.

2. Moshi Moshi – Banana Yoshimoto

moshi moshi banana yoshimoto
Foto: Goodreads.com

Banana Yoshimoto adalah salah satu novelis modern terbaik Jepang. Dia adalah penulis yang sangat filosofis, dipertimbangkan, liberal, dan eksploratif yang menunjukkan hubungan intim dengan cinta, kehidupan, dan kematian. Moshi Moshi, sebuah istilah Jepang yang diucapkan saat mengangkat telepon, adalah salah satu novel yang paling dicintai.

Dalam Moshi Moshi, kawasan Shimokitazawa dijadikan latar. Distrik ini menggabungkan kehidupan hipster modern dengan suasana retro dan tradisional, dan sangat cocok dengan tokoh protagonis dari novel Yoshimoto.

Setelah Yoshie kehilangan ayahnya karena pakta bunuh diri yang aneh, dia dan ibunya pindah ke Shimokitazawa untuk memulai hidup baru, tetapi tak lama kemudian Yoshie terganggu oleh mimpi buruk dirinya yang mencoba memanggil ayahnya ketika dia mencari telepon yang dia tinggalkan pada hari dia bunuh diri. Seperti semua buku Yoshimoto, ini adalah novel Jepang tentang hubungan antara cinta dan kematian, dan salah satu buku Jepang modern terbaik yang ada.

3. Strange Weather in Tokyo – Hiromi Kawakami

strange weather in tokyo hiromi kawakami
Foto: Goodreads.com

Dari semua buku yang ada di Tokyo, ini adalah buku yang paling memahami dan mengeksplorasi hubungan yang hampir mustahil antara dunia Edo lama di Jepang dan kehidupan metropolitan modern di Tokyo saat ini. Hubungan itu diwujudkan oleh dua protagonis kita: sepasang kekasih yang tidak biasa yang harus belajar untuk memahami perbedaan mereka agar cinta mereka berhasil.

Strange Weather in Tokyo adalah bentrokan budaya dan kebiasaan Jepang modern dan klasik, dan metode kencan modern dan cuaca. Tulisannya bersih, lugas, dan secara mengejutkan cepat. Kisah cinta yang aneh dan mengasyikkan terletak di bar-bar kecil, jalan-jalan kecil, dan kafe-kafe di Tokyo.

Tsukiko, seorang pekerja kantoran modern, dan sensei-nya, seorang lelaki yang hampir kehabisan waktu, membuat dua pasangan kekasih termanis yang pernah ditulis dalam sebuah novel Jepang.

4. The Nakano Thrift Shop – Hiromi Kawakami

nakano thrift shop hiromi kawakami
Foto: Goodreads.com

Dua buku Kawakami berturut-turut? Ini kurang lebih tanda betapa bersemangatnya dia melukis kehidupan modern Tokyo. Jika Strange Weather di Tokyo adalah metafora yang jelas dari Tokyo lama-baru, maka The Nakano Thrift Shop adalah drama irisan kehidupan tentang sekelompok muda-mudi Tokyo, yang semuanya bekerja dan menghabiskan waktu di toko barang bekas yang unik.

Tokoh-tokoh yang mengisi buku ini adalah sekelompok anak muda yang manis dan beraneka ragam, mewakili gambaran milenial khas Jepang abad ke-21. Dari semua buku yang berlatar di Tokyo, The Nakano Thrift Shop memberikan perspektif tingkat jalanan yang sangat spesifik tentang kaum muda kota ini dan cinta yang tenang namun unik yang mereka jalani.

5. Out – Natsuo Kirino

out natsuo kirino
Foto: Goodreads.com

Out mengikuti kisah seorang wanita yang bekerja di sebuah pabrik di Tokyo, kelelahan karena harus menjadi seorang ibu dan mendukung suaminya yang tidak berguna dan tidak setia.

Ketika protagonis membentak dan membunuh suaminya, ia meminta bantuan kepada rekan kerjanya di pabrik untuk menutupi jejaknya. Tak lama kemudian mereka harus menangkis tidak hanya polisi tetapi juga keluarga kriminal yakuza setempat. Out adalah novel kriminal Jepang yang marah dan menggembirakan serta karya sastra feminis Jepang.

Ini adalah karya sastra feminis Jepang yang kuat, tetapi juga mengangkat selubung antara jalan-jalan Tokyo yang cerah dan bersih yang kita semua pahami, dan dunia kelas pekerja Tokyo yang gelap dan sulit yang jarang kita pikirkan.

6. Convenience Store Woman – Sayaka Murata

convenience store woman sayaka murata
Foto: Goodreads.com

Salah satu buku favorit saya sepanjang masa. Convenience Store Woman menawarkan kepada kita pandangan langka dan tak biasa ke dunia yang dilihat oleh semua orang di Tokyo tetapi tidak selalu tampak atau bahkan dipertimbangkan. Sesuatu yang wajar bagi seorang siswa bekerja paruh waktu di sebuah toko serba ada, tetapi protagonis Murata sedikit berbeda.

Keiko Furukura berusia tiga puluh enam dan telah bekerja paruh waktu di toko yang sama selama delapan belas tahun. Dia telah melihat delapan manajer, yang dia sebut hanya dengan nomor mereka, dan lebih banyak rekan kerja daripada yang bisa dia hitung. Dia sepenuhnya puas dengan hidupnya, dan tidak pernah meminta apa pun lagi; bukan pekerjaan yang lebih baik, lebih banyak uang, atau bahkan pasangan untuk berbagi hidupnya.

Keiko ditekan oleh orang-orang di sekitarnya untuk membuat sesuatu dari dirinya sendiri, dan orang yang mengerti yang terbaik adalah orang bodoh yang biadab dan kasar yang bertindak sebagai lawan maskulin yang biasanya sangat agresif terhadapnya.

Convenience Store Woman menunjukkan kepada kita semesta toko serba ada. Toko-toko kecil ini, yang dikenal sebagai konbini di Jepang, ada di setiap jalan di Tokyo. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan Jepang modern. Convenience Store Woman merayakan pekerjanya sambil menunjukkan kepada kita cara berbeda untuk hidup di dunia modern ini.

7. Tokyo Ueno Station – Yu Miri

tokyo ueno station yu miri
Foto: Goodreads.com

Novel pendek, yang marah, dan bermuatan politis oleh salah satu penulis modern paling berbakat dan tajam di Jepang saat ini. Tokyo Ueno Station melukiskan gambaran yang jujur ​​dan kejam tentang realitas perbedaan kelas dan ketidakadilan yang ditimbulkan kapitalisme modern. Ini adalah bukti bahwa meritokrasi adalah lelucon, dan bahwa ketidakadilan adalah kebenaran kehidupan modern, bahkan di kota yang damai seperti Tokyo.

Bertempat di Taman Ueno, protagonis novelnya adalah hantu lelaki tunawisma yang meninggal di taman yang sama itu tetapi memberikan hidupnya untuk membangun kota metropolitan modern yang kita kenal dan cintai hari ini.

Kazu lahir pada tahun yang sama dengan kaisar Jepang, dan kedua putra lelaki itu lahir pada hari yang sama. Sementara kaisar terlahir di puncak keistimewaan, Kazu lahir di pedesaan Fukushima, tempat yang nantinya akan dirusak oleh kehancuran pada 2011. Sementara putra kaisar akan terus menjalani hidup yang sehat, berbanding terbalik dengan kehidupan putra Kazu, dan Kazu sendiri akan menjalani hari-hari terakhirnya sebagai salah satu dari banyak tunawisma di Taman Ueno.

Tokyo Ueno Station berfungsi sebagai pengingat bahwa setiap manusia hanyalah manusia. Ini adalah observasi yang jujur ​​dan deklarasi kesedihan dari kehidupan kapitalis modern.

Baca juga: 10 Manga Shonen Karya Perempuan