Kategori
TV Geek!

10 Tontonan Terbaik 2020 Pilihan The New York Times

Semua orang tahu bahwa tahun 2020 mengubah segalanya. Pandemi, kisah pertama dan terakhir yang menyelimuti tahun ini.

Televisi tidak terhindar dari pandemi, tetapi masih ada lebih banyak acara hebat daripada yang bisa ditonton oleh siapa pun. Berikut ini sekilas serial terbaik tahun ini yang dipilih The New York Times.

Kategori
Buku

10 Manga Shonen Karya Perempuan

Manga Shonen didefinisikan sebagai manga yang ditargetkan untuk anak laki-laki dengan umur antara 8 dan 18 tahun. Meski ini sama sekali tak mendefinisikan, apalagi membatasi, pembaca sebenarnya yang mengonsumsinya.

Terkenal karena pertempuran panas berdarah-darah, persahabatan loyal laki-laki, dan tema seputar kerja keras, kesetiaan, serta keberanian. Banyak dari judul manga populer ini, seperti Naruto, Bleach, Hunter x Hunter, dan One Piece, masuk dalam label shonen.

Kategori
Korea Fever TV Geek!

Ketika Winter Sonata Meyakinkan Dunia Kalau Cowok Korea Adalah Kekasih Idaman

Kemenangan besar budaya populer Korea akhirnya diraih melalui serial drama 2002 dengan ketenaran gila-gilaan: Winter Sonata.

Selama bertahun-tahun, tujuan tak tertulis strategi ekspor budaya popular Korea adalah memenangkan hati penonton Jepang. Kalau orang Korea bisa meluluhkan hati orang Jepang, yang sampai saat itu memiliki pengaruh besar pada budaya popular di Asia, maka, segalanya mungkin.

Kategori
Movie Enthusiast

Empu: Kemelut Tiga Perempuan

Meski sama-sama harus dicarikan solusinya, melunasi tagihan lebih mendesak ketimbang menumbangkan patriarki. Setidaknya itu berlaku bagi Sutringah, atau yang dipanggil Tri, istri dari seorang penderas nira di Banyumas, yang anaknya diancam dikeluarkan jika masih menunggak bayaran sekolahnya. Namun, tampaknya Tri mesti bergelut dengan dua persoalan tadi sekaligus.

Kategori
Movie Enthusiast

10 Film Pendek Indonesia yang Tersedia di YouTube

film pendek indonesia

Film pendek pasti menarik perhatian penonton, utamanya karena waktunya lebih singkat sehingga kita tak perlu menunggu sekitar satu jam atau lebih untuk menyelesaikannya, cocok bagi penonton film yang tak sabar. Plot dan tema yang diangkat begitu beragam dan menarik, bahkan eksperimental, karena sifatnya yang tak terlalu diatur industri film pasaran.

Ada banyak film pendek buatan sineas Indonesia yang bagus dan menggoreskan kesan mendalam. Namun, tak banyak yang diunggah secara resmi ke YouTube. Ini merupakan kompilasi beberapa film pendek yang bisa kita tonton secara legal.

1. Tilik

Perjalanan menjenguk Bu Lurah berlangsung ricuh saat Bu Tejo dan Yu Ning mulai berdebat soal Dian. Film pendek yang bikin terbahak sekaligus jengkel.

2. Indie Bung

Ngobrol ngalor-ngidul di angkringan itu memang seru. Dalam film pendek ini, kita mengikuti obrolan dua pemuda mengenai pembuatan sebuah film. Ringan, lucu, dan kreatif. Visualisasi imajinasi dua pemuda ini ampuh memantik gelak tawa.

3. Lemantun

Seorang ibu mewariskan lemari tua di rumah untuk anak-anaknya. Film sederhana besutan Wregas Bhanuteja yang berbicara soal keluarga serta kasih sayang orang tua ini akan membuatmu tertawa, tersenyum, dan menyeka air mata.

4. Natalan

Pada malam Natal, seorang ibu bersiap menyambut kedatangan putranya yang sudah lama tidak pulang kampung. Hati hancur berkeping-keping di adegan akhir. Rasanya ingin memeluk ibu.

5. Antar Kota Dalam Provinsi

Seorang kernet bus dihampiri kekasihnya yang memintanya untuk segera melamarnya. Bagai lagu dangdut pantura yang nelangsa, film pendek ini hadirkan drama seru dari kehidupan kru bus dengan latar bus AKDP jurusan Jember.

6. So-Yam!

Animasi buatan Indonesia ini kece juga. Ceritanya pun ringan-ringan menghibur. Persaingan dua pedagang kaki lima yang tak akur menjadi semakin sengit saat kedatangan seorang pelanggan. Siapa yang akan menang, bakso atau mie ayam?

7. Sandekala

Ingat apa yang dibilang oleh orang tua dulu, jangan keluar saat Maghrib. Masih menjadi salah satu film horor pendek yang aku sukai. Tentang seorang ibu dan putrinya yang mengalami kejadian menyeramkan saat mereka berjalan di lorong gang.

8. Kisah di Hari Minggu

Pada pagi hari, seorang ibu sudah diribetkan dengan segala urusan rumah tangga. Tapi sang suami malah tidur nyenyak dan anaknya pergi main. Sebuah tontonan sederhana yang menampilkan realita kehidupan domestik di Indonesia.

9. Mars: Jangan Pipis Sembarangan

Saat sedang darmawisata ke Planet Mars, seorang bocah pipis secara sembarangan yang membuatnya diculik alien. Film pendek ini nyeleneh dan konyol. Tapi lucu dan menghibur. Idenya sungguh liar.

10. Sepiring Nasi Basi di Pagi Hari

Sarapan di pagi hari tak melulu soal menyantap makanan. Ada aktivitas lain yang bisa dikategorikan sebagai sarapan. Melalui kehadiran dua karakter, film ini mencoba mendeskripsikan kata sarapan secara filosofis.

Kategori
Buku

7 Novel Ryū Murakami Guna Membangkitkan Sisi Psikotikmu

Ryu Murakami
Foto: Tokyo Weekender

“Jika kamu hanya membaca buku-buku yang dibaca orang lain,” sebut si seleb sastra Haruki Murakami, “kamu hanya bisa memikirkan apa yang dipikirkan orang lain.”

Jika mengamalkan saran dari Murakami ini, yang buku-bukunya begitu populer dan dibaca banyak orang, maka segera pindah untuk baca Murakami lainnya: Ryū Murakami. Meski memang, kedua Murakami ini sebenarnya dua penulis mapan. Setidaknya, Ryū lebih klandestin dan obscure ketimbang Haruki.

Penulis bernama lengkap Ryūnosuke Murakami ini didaulat sebagai seorang renaisans di masa posmodernis. Novel pertamanya terbit 1976 dan langsung diganjar Penghargaan Akutagawa yang bergengsi, debutnya ini digembar-gemborkan sebagai jenis sastra baru.

Foto: Tokyo Weekender

Penulis yang juga sutradara film ini mengejutkan dan membuat kagum pembaca dengan cerita-ceritanya yang filmis, yang seringnya mengerikan, yang merangkul tema-tema vulgar ala Jepang nan gelap dari seks, kekerasan, dan obat-obatan.

Sudah ada lebih dari 50 karya yang ditelurkannya, baik novel dan kumpulan cerpen. Daftar berikut ini tujuh di antaranya, yang telah saya khatamkan dan saya pikir ini karya-karya esensialnya. Meski karyanya bisa bebas dibaca dari judul mana saja, saya susun daftar ini berdasarkan waktu rilis, sehingga kita bisa membaca juga perjalanan kepengarangannya,

1. Almost Transparent Blue

Foto: Goodreads

Tahukah kamu kalau Almost Transparent Blue ini jadi novel favoritnya Kim Namjoon atau RM BTS?

Seperti nonton JAV. Tanpa plot cerita, semuanya soal gejolak masa muda blangsak: mabuk, ikeh-ikeh yang bengis, dan rock n roll. Sebuah kisah brutal tentang muda-mudi di sebuah kota pelabuhan Jepang yang dekat dengan pangkalan militer Amerika.

Setelah membaca beberapa karyanya, yang selalu saya suka dari Ryū Murakami adalah bagaimana ia mengakhiri tiap novelnya. Selain itu, saya selalu cinta pada tiap novel perdana dari seorang penulis.

2. Coin Locker Babies

Foto: Goodreads

Ditinggalkan saat lahir di loker stasiun kereta yang berdekatan, dua anak laki-laki menghabiskan masa muda mereka di panti asuhan dan dengan orang tua asuh di pulau terpencil. Mereka akhirnya berangkat ke kota untuk menemukan dan menghancurkan wanita yang pertama kali menolak mereka: ibu kandungnya.

Bersama-sama dan terpisah, perjalanan mereka dari kotak logam panas ke klimaks buas yang memukau adalah perjalanan brutal melalui lanskap menakutkan Jepang akhir abad ke-20. Sebuah kisah coming-of-age surealis yang menjadikan Ryū Murakami sebagai salah satu penulis paling kreatif di dunia saat ini.

3. 69

Foto: Goodreads

Ini musim panas tahun 1969. Kensuke Yazaki berusia tujuh belas tahun dan tertarik pada segalanya: Rolling Stones, Rimbaud, Velvet Underground, French New Wave, Jimi Hendrix, protes politik dan Janis Joplin, yang semuanya ada di negara lain yang sangat jauh.

Kensuke dan teman-temannya membawa semua itu ke kota kecil mereka, memulai gerakan pembangkangan, membarikade sekolah mereka, membuat film, mengadakan festival. Bukan demi seni atau politik, melainkan untuk alasan yang jauh lebih penting, untuk satu-satunya alasan nyata: menggaet para gadis.

Karya Murakami yang manis dan semi-otobiografi yang luar biasa, tentang masa yang menyenangkan di usia yang menyenangkan. Novel 69 begitu komikal dan penuh gairah.

4. Popular Hits of the Showa Era

Foto: Goodreads

Sebuah novel tentang perang, secara harfiah, antara para janda kesepian dengan gerombolan pemuda tanggung yang doyan mabuk, ngintip dan karaokean. Sureal dan komikal. Berawal dari pisau lipat, lalu pedang, lalu rudal, sampai bom atom rakitan.

Siapa sangka kalau “perang geng” yang mematikan bisa dibaca sangat menyenangkan? Ryū Murakami membangun konflik menjadi sindiran lucu atas budaya modern dan ketegangan antar jenis kelamin serta generasi.

Sebagai tambahan, Midori-nya Ryū Murakami yang ada di Popular Hits of the Showa Era lebih bangsat ketimbang Midori yang di Norwegian Wood itu.

5. Piercing

Foto: Goodreads

Setiap malam, ketika istrinya sudah tidur, Kawashima Masayuki diam-diam meninggalkan ranjangnya dan mengawasi tempat tidur bayi perempuannya. Ini bukan adegan rumah tangga biasa. Ada pemecah es di tangan Kawashima, dan keinginan tak terkendali untuk menggunakannya. Memutuskan untuk menghadapi roh-roh jahat dalam dirinya, Kawashima menggerakkan serangkaian peristiwa yang tampaknya mengarah pada pembunuhan.

Piercing cocok untuk meluapkan jiwa-jiwa sadomasokis dalam diri kita. Namun, Ryū Murakami tak sekadar mengeksploitasi kekerasan. Ia berangkat dari satu permasalahan yang hingga kini masih dianggap masalah akut: kekerasan anak. Memang, dengan cara yang aneh.

6. Audition

Foto: Goodreads

Saat awal membaca saya pikir novelnya mengarah ke semacam audisi pemain bokep, tapi ternyata ini novel Ryū Murakami paling kalem yang saya baca sejauh ini.

Tentang seorang duda berusia 40-an, yang tak bisa move on setelah ditinggal mati istrinya. Ia kemudian coba bikin audisi-audisian, untuk mencari pasangan ideal buat dirinya, sebuah saran dari kawannya. Meski berjudul Audition, proses audisinya justru tak terlalu ditonjolkan, langsung fokus pada satu peserta audisi tersebut, seorang cewek pertengahan 20-an yang menarik hati si duda tadi.

Galau dan derita orang yang jatuh cinta yang dipotret novel itu betul-betul saya suka. Seperti biasa, Murakami yang ini selalu menawarkan klimaks nyeleneh di akhir-akhir.

Tak lupa, film adaptasi dari novel ini yang digarap oleh Takashii Mike jadi salah satu karya penting dalam sinema Jepang.

Audition (1999)

7. In the Miso Soup

Foto: Goodreads

Panduan lengkap Saritem-nya Tokyo yang diceritakan dengan gaya novel stensilan tapi sastrawi, semacam ‘fusion’ antara Fyodor Dostoyevsky dan Abdullah Harahap. Dalam beberapa kesempatan, saya membaca novel vulgar ini sambil selonjoran di Masjid Al Ukhuwah seberang Pemkot Bandung.

Tepat sebelum Tahun Baru, seorang turis gembrot asal Amerika bernama Frank menyewa Kenji untuk memandunya dalam tur keliling kehidupan malam Tokyo selama tiga malam berturut-turut. Perilaku Frank sangat aneh, bikin Kenji mulai curiga kalau klien barunya ini sebenarnya pembunuh berantai yang tengah meneror kota ini. Sampai kemudian Kenji menyadari ada bahaya begitu besar yang justru harus ia takutkan, dan bahwa pertemuannya dengan Frank akan mengubah hidupnya.

Bagi yang ingin menjelajahi semesta Ryū Murakami, saya rekomendasikan In the Miso Soup ini untuk dibaca pertama kali. Jika klop, saya jamin setelahnya ada keinginan untuk menganjingkan Haruki Murakami.