Kategori
Sosial Budaya

Cara Puitik Sinematik Makan Mie

Seni menjiplak kenyataan, begitu pula sebaliknya, dan ada orang-orang yang mendaku dirinya protagonis anime atau sedang berada dalam drama Korea. Itulah saya kalau sedang makan mie.

Sering diejek teman karena saya selalu memilih pakai sumpit, dan sebelum makan bukannya berdoa malah bilang “itadakimasu”, lalu komentar dengan frasa enak dalam bahasa Jepang atau Korea, melemparkan ekspresi sukacita berlebihan dan memperlakukan air putih layaknya sake atau soju. Entah kenapa, saya tak pernah bosan melakukannya.

Kategori
Sosial Budaya

Sejarah Seragam Sekolah Jepang: Simbol Kebebasan, Pemberontakan, dan Mode

Gambaran apa yang muncul di kepalamu jika mendengar kata “seragam sekolah Jepang”?

Tujuan dari diciptakan seragam sangat jelas: membuat sebuah kelompok berpenampilan sama. Menyeragamkan orang-orang adalah fungsi utama seragam. Namun, melihat anak sekolah menengah Jepang dengan blazer dan rok sepertinya tidak cocok dengan gambaran ini. Alasan untuk itu terletak jauh di dalam sejarah seragam Jepang itu sendiri.

Kategori
Sosial Budaya

Dari Romantisisme, Terbit Mooi Indie dan Gambar Dua Gunung Satu Matahari

Romantisisme adalah sebuah gerakan artistik dan intelektual yang berawal dari akhir abad 18 di Eropa Barat. Seni ini menitikberatkan pada emosi, imajinasi, kembali pada keniscayaan sejarah dan alam, juga sebagai bentuk perlawanan pada seni neoklasik yang terikat pada norma, selalu seimbang, bersih, dan statis. Gerakan ini menekankan emosi yang kuat sebagai sumber dari pengalaman estetika, memberikan tekanan baru terhadap emosi-emosi seperti rasa takut, ngeri, dan takjub yang dialami ketika seseorang menghadapi yang sublim dari alam.

Prinsip romantisisme adalah: kembali kepada alam, contohnya emphasis terhadap nilai-nilai kebajikan umat manusia, keadilan bagi seluruh umat, menggunakan perasaan daripada logika dan intelekual. Seni romantik berfokus pada emosi, perasaan, dan berbagai macam mood seperti spiritualitas, imajinasi, misteri, dan semangat perjuangan.

Seniman romantik mengekspresikan emosi personal melalui karyanya, kontras dengan pengekangan dan nilai-nilai universal yang ada pada seni neoklasik. Subyek bervariasi, contohnya lanskap, religi, revolusi, dan keindahan yang damai.

Romantisme masuk ke Hindia Belanda lewat seorang pelukis dan pembuat litografi, bernama Antoine Auguste Joseph Payen. Dia merupakan lulusan arsitek B. Renard di Doomik Belgia. Datang ke Hindia Belanda pada tahun 1817, dan tinggal di Bogor. Ditunjuk sebagai pelukis untuk Natural Sciences Commission dibawah Prof. Caspar Reinwardt. Kedekatannya dengan Reinwardt membuat minat Payen terhadap alam tetap terjaga. Reinwardt, yang kelak menjadi guru besar di Leiden, adalah orang yang menjadi inisiator Kebun Raya Bogor sekaligus direktur yang pertama.

Di setiap kawasan yang dikunjunginya, Payen selalu menghasilkan lukisan yang mengabadikan tempat-tempat atau peristiwa yang dianggapnya indah dan menarik. Payen memegang peran penting dalam kelahiran Mooi Indie: lukisan alam bersuasana teduh, tenang, indah dan jauh dari gejolak. Hindia yang molek.

Pelukis yang beraliran Mooi Indie dapat terbagi menjadi empat kelompok besar, yakni: 1) Orang asing yang datang dari luar negeri yang jatuh cinta pada keindahan Hindia Belanda dan menemukan objek-objek yang menarik di tanah Hindia. Misalnya F. J. du Chattel, Manus Bauer, Nieuwkamp, Isaac Israel, PAJ Moojen, Carel Dake, Romualdo Locatelli; 2) Orang Belanda kelahiran Hindia Belanda, misalnya Henry van Velthuijzen, Charles Sayers, Ernest Dezentje, Leonard Eland, Jan Frank; 3) Orang pribumi yang berbakat melukis dan mendapat keterampilan dari dua kelompok di atas, misalnya Raden Saleh, R. Abdullah Suryosubroto, Basoeki Abdullah, Wakidi, Mas Pirngadi; 4) Orang Tionghoa yang mulai muncul pada dasawarsa ketiga abad 20, khususnya Lee Man Fong, Oei Tiang Oen dan Biau Tik Kwie.

Pada mulanya istilah Mooi Indie pernah dipakai untuk memberi judul reproduksi sebelas lukisan pemandangan cat air Du Chattel yang diterbitkan dalam bentuk portfolio di Amsterdam tahun 1930. Namun istilah itu menjadi popular di Hindia Belanda semenjak S. Sudjojono memakainya untuk mengejek pelukis-pelukis pemandangan dalam tulisannya pada tahun 1939. Sudjojono mengkritisi soal lukisan-lukisan pemandangan yang serba bagus, serba enak, romantis bagai di surga, tenang dan damai, padahal itu tak menggambarkan realitas sebenarnya.

Benar mooi indie bagi si asing, yang tak pernah melihat pohon kelapa dan sawah, benar mooi indie bagi si turis yang telah jemu melihat skyscapers mereka dan mencari hawa dan pemandangan baru, makan angin katanya, untuk menghembuskan isi pikiran mereka yang hanya bergambar mata uang sahaja. (Sudjojono dalam tulisannya di Majalah Keboedajaan dan Masjarakat, Oktober 1939.)

Lukisan-Iukisan Mooi Indie dapat dikenali dari penampilan fisiknya. Bentuk atau subyeknya adalah pemandangan alam yang dihiasi gunung, sawah, pohon penuh bunga, pantai atau telaga. Selain itu kecantikan dan eksotisme wanita-wanita pribumi, baik dalam pose keseharian, sebagai penari, atau pun dalam keadaan setengah busana. Laki-Iaki pribumi juga sering muncul sebagai obyek lukisan, biasanya sebagai orang desa, penari atau bangsawan yang direkam dalam setting suasana Hindia Belanda.

gambar gunung anak sd

Intinya, Mooi Indie adalah penggayaan yang menggambarkan nuansa romantisisme Eropa yang dituangkan versi keindahan Indonesia, dimana alam mendominasi. Salah satu pengaruh penting Mooi Indie adalah gambar pasaran yang kita bikin saat sekolah dasar dulu: dua gunung, matahari terbit, dan jalan yang menerabas persawahan. Juga, foto-foto Mooi Indie-esque tak pernah luput dari linimasa Instagram kita.

*

Dicatut dari paper Akmalia Rizqita, Masuknya Romantisisme dan Pengaruhnya Terhadap Seni Lukis Indonesia.

Kategori
Bahasa Sosial Budaya

San, Kun, Chan, Senpai dan Sebutan Kehormatan Jepang

Pernahkah merasa bingung dengan –kun, –chan dan –senpai yang pernah didengar saat menonton anime atau film dari Jepang? Bikin kita bertanya-tanya tentang arti sufiks atau kata tambah akhiran dalambahasa Jepang ini. 

Tambahan kata itu kira-kira sama artinya dengan penggunaan Tuan, Nyonya, Bapak, dan Ibu dalam bahasa kita. Meski bagi orang Jepang kata-kata itu menceritakan lebih banyak tentang hubungan antar manusia. Kata-kata ini sering dilampirkan pada nama sebagai sufiks, tetapi beberapa dapat berdiri sendiri, seperti sensei.

Dalam bahasa Jepang ada sebutan kehormatan formal dan informal, ditambah beberapa yang bersifat keluarga. Penggunaan sebutan-sebutan ini dianggap sangat penting di Jepang. Memanggil seseorang hanya dengan namanya tanpa menambahkan sebutan-sebutan ini dianggap kurang sopan, bahkan sombong. Kata-kata ini umumnya digunakan saat berbicara langsung dengan seseorang atau saat merujuk ke pihak ketiga yang tidak terkait.

San (さん)

Ini adalah gelar kehormatan yang paling umum. Ini adalah gelar penghormatan antara yang sederajat. Ini juga adalah padanan untuk Tuan atau Nona. Ini juga dapat dilampirkan pada hewan dan benda, tetapi penggunaan itu dianggap kekanak-kanakan. usagi-san secara kasar diterjemahkan menjadi Tuan Kelinci, misalnya. Sebutan ini juga bisa digunakan untuk merujuk pada seseorang yang bekerja di tempat tertentu. Misalnya honya-san (“toko buku” + san) diterjemahkan menjadi “penjual buku”. 

Kun (く ん)

Digunakan oleh orang-orang dengan status senior untuk merujuk pada orang-orang berstatus junior atau oleh siapa pun saat merujuk pada anak-anak atau remaja laki-laki. Perempuan juga dapat menggunakan istilah tersebut saat merujuk pada pria yang sudah lama mereka kenal atau dekat secara emosional. Kun sebenarnya tak khusus untuk pria, tetapi kebanyakan digunakan untuk referensi pada pria.

Chan (ち ゃ ん)

Sufiks ini menunjukkan bahwa pembicara menemukan seseorang yang menawan. Menggunakan chan dengan nama atasan dianggap tak sopan dan merendahkan. Umumnya digunakan untuk bayi, remaja perempuan, anak kecil, dan kakek nenek. Sebutan ini juga bisa melekat pada hewan. Selain itu, menunjukkan kelucuan, kekasih, teman dekat, atau perempuan muda mana pun. Para gadis mungkin menggunakannya untuk menyebut diri mereka sendiri agar tampil imut dan kekanak-kanakan.

Tan (た ん) 

Ini adalah varian -chan yang bahkan lebih imut atau penuh kasih sayang. Sebutan ini berasal dari pengucapan salah dari anak kecil, digunakan untuk lucu-lucuan. Sering ditemukan untuk menyebut karakter moe, misalnya, maskot komersial Habanero-tan, karakter manga Afghanis-tan atau OS-tan untuk menyebut sistem operasi. Penggunaan sebutan yang lebih terkenal adalah untuk pembunuh Nevada-tan.

Sama (さ ま)

Lebih hormat dari san. Istilah ini digunakan untuk merujuk pada orang-orang yang statusnya jauh lebih tinggi daripada diri sendiri, pelanggan, atau seseorang yang sangat kita kagumi. Ketika digunakan untuk menyebut diri sendiri, hal itu bisa terlihat sangat sombong atau tak menonjolkan diri tergantung pada konteksnya.

Dono (ど の) 

Kasarnya berarti “Tuan”, dan berada di bawah level sama. Ini adalah sebutan yang hampir tidak digunakan lagi dalam percakapan sehari-hari. Saat digunakan, sebutan ini biasanya sebagai lelucon.

No kimi (の 君) 

Sama seperti dono, ini adalah sufiks lain yang berasal dari sejarah Jepang. Digunakan untuk menyebut bangsawan di Istana, terutama selama periode Heian. Contoh paling terkenal adalah Pangeran Hikaru Genji, protagonis The Tale of Genji yang disebut Hikaru no kimi (光 の 君).

Akhir-akhir ini sufiks ini dapat digunakan sebagai metafora untuk seseorang yang berperilaku seperti pangeran atau putri dari zaman kuno, meski penggunaannya sangat jarang. Penggunaan utamanya tetap dalam drama sejarah. Sufiks ini juga muncul saat menyapa kekasih dalam surat dari seorang pria kepada seorang perempuan, seperti dalam Murasaki no kimi (“Sayangku Murasaki”).

Niisan (兄 さ ん) – Neesan  ( 姉 さ ん) 

Digunakan saat merujuk pada kakak laki-laki atau perempuan, atau kerabat atau teman dekat.

Jiisan (じ い さ ん) – Baasan  (ば あ さ ん)

Digunakan saat merujuk pada kakek dan nenek seseorang, dan juga digunakan untuk merujuk pada orang dewasa yang lebih tua yang kenal dengan pembicara. Tak satu pun dari ini yang dianggap menghina, tetapi hati-hati jangan menggunakannya dengan orang yang sensitif tentang usianya!

Senpai (せ ん ぱ い)

Mengacu pada orang dengan lebih banyak pengalaman. Juga digunakan untuk teman kelas yang lebih tinggi. Jadi seorang siswa di sekolah menengah akan memanggil seniornya dengan senpai.

Kōhai (こ う は い)

Mengacu pada seseorang sebagai junior. Jadi seorang senpai dapat melampirkan ini ke nama juniornya. Namun, ini biasanya tidak digunakan.

Sensei (せ ん せ い)

Digunakan untuk menyebut guru serta orang yang ahli di bidangnya masing-masing, baik dokter, seniman, atau pengacara. Ini menunjukkan rasa hormat kepada seseorang yang telah menguasai beberapa keterampilan.

Shi (し) 

Digunakan untuk merujuk pada seseorang yang belum pernah ditemui penulis. Hanya digunakan dalam tulisan formal. Terkadang dalam pembicaraan yang sangat formal, untuk merujuk pada orang yang tidak dikenal pembicara, biasanya seseorang yang dikenal melalui publikasi yang belum pernah benar-benar ditemui oleh pembicara. Misalnya, penyebutan -shi biasa digunakan oleh pembaca berita.

Sebutan ini lebih disukai dalam dokumen hukum, jurnal akademik, dan gaya tertulis formal tertentu lainnya. Setelah nama seseorang digunakan dengan -shi, orang tersebut dapat disebut dengan -shi saja, tanpa nama lagi, selama hanya ada satu orang yang dirujuk.

Ue (上)

Secara harfiah berarti “di atas”. Itu menunjukkan rasa hormat yang tinggi. Jarang digunakan, tapi ditemukan dalam beberapa frase seperti chichi-ue dan haha-ue, istilah hormat untuk ayah dan ibu. Atau ketika mengacu pada pelanggan tanpa nama, ue-sama.

Penggunaan Sebutan Kehormatan Jepang

our little sister koreeda

Sebutan-sebutan ini bisa menjadi singkatan atau cara cepat untuk menunjukkan bagaimana karakter terkait satu sama lain di anime atau film Jepang.

Cukup sulit untuk menjaga semua aturan ini dengan benar. Jepang adalah masyarakat yang sangat bertingkat. Sufiks ini membantu menjaga status dan pendapat seseorang tentang orang lain tetap jelas. Hubungan senpai-kohai dapat berbalik dalam konteks klub atau organisasi yang berbeda, tergantung pada berapa lama seseorang atau yang lain berada di organisasi.

Sebutan-sebutan ini netral gender, tetapi beberapa digunakan lebih banyak untuk satu jenis kelamin daripada yang lain. Kun, misalnya, lebih banyak digunakan untuk laki-laki sedangkan chan digunakan untuk perempuan. Sebutan-sebutan ini umumnya diperlukan saat merujuk pada seseorang, tetapi terkadang mereka harus dihilangkan sama sekali.

Meski sebutan kehormatan ini tak penting dalam tata bahasa Jepang, tapi ini adalah bagian fundamental dari sosiolinguistiknya, dan penggunaan yang tepat dianggap penting untuk pembicaraan yang mahir dan tepat.

Kategori
Kuliner Sosial Budaya

5 Jenis Mie Jepang: Ramen, Soba, Udon, Yakisoba dan Somen

Baik dalam bentuk udon, soba, yakisoba, somen, atau ramen yang paling populer itu, kecintaan orang Jepang pada mie begitu kaya dan beragam. Mengingat banyaknya bentuk, dalam kaldu sebagai sup, dihidangkan panas, atau dalam salad dingin dengan berbagai saus celup, orang Jepang membuktikan bahwa mereka dapat melakukan hampir segala hal dengan mie.

Kategori
Kesehatan Sosial Budaya

Ketika MSG Mendapat Reputasi Buruk

Seperti banyak orang, saya pikir MSG atau monosodium glutamat atau yang akrab disapa micin, senyawa kimia yang digunakan untuk meningkatkan rasa makanan, tak baik bagi saya, dan saya yakin saya merasa tak enak setiap kali memakan beragam masakan atau penganan yang dibumbuinya.

Yang sebenarnya, MSG bukanlah penyedap buatan yang aneh dan mencurigakan. Komponen ini ditemukan di banyak makanan alami, dan diambil darinya. Sang pencipta MSG mendapatkannya dari gandum dan kedelai secara khusus. Satu-satunya bahaya yang datang dari MSG adalah memakannya terlalu banyak, karena komponen natriumnya. Seperti hal lain, jika berlebihan pasti menjadi tak baik. Namun kenapa MSG sampai punya reputasi buruk ini?

Awal Terciptanya MSG

Sejak ditemukan di awal 1900-an, MSG identik dengan kelezatan. Ketika ditambahkan ke makanan, ia meningkatkan umami, yang telah dianggap sebagai rasa kelima sejak awal tahun 2000-an (selain manis, asam, asin dan pahit) dan secara beragam diterjemahkan dari bahasa Jepang sebagai enak, nikmat, lezat atau gurih.

Umami adalah rasa gurih yang ditemukan dalam berbagai jenis makanan, seperti parmesan dan jamur-jamuran, serta di sebagian besar daging. MSG adalah manifestasi kristalisasinya.

Kikunae Ikeda, seorang ahli kimia Jepang, menemukan senyawa tersebut pada tahun 1907 saat menyelidiki kekhasan yang ia temukan dalam makanan seperti asparagus, tomat, dan kaldu sup yang dibuat istrinya dengan rumput laut. Dia menentukan bahwa glutamat, bentuk ion dari asam glutamat, bertanggung jawab atas umami.

Kikunae Ikeda Monosodium Glutamat
Kikunae Ikeda penemu bumbu dapur Monosodium Glutamat.

Dia kemudian menemukan cara mensintesis molekul dengan mengekstraksi glutamat dari rumput laut dan mencampurkannya dengan air dan garam meja untuk menstabilkan senyawa tersebut. Ikeda mematenkan produk jadi, dan kemudian jadi salah satu kesuksesan komersial terbesar ilmu kuliner Jepang.

Saat ini, bumbu kristal ini, yang sering dibuat dari bit dan jagung, dikenal sebagai MSG, tetapi sering disebut dengan nama yang pertama kali diberikan Ikeda: Aji no Moto, yang berarti penyedap rasa.

Di Barat, bubuk putih halus pertama ini kali dijual dalam botol tipis yang dimaksudkan untuk menarik ibu rumah tangga borjuis di dapur karena menawarkan kebersihan dan modernitas, menurut penelitian oleh Jordan Sand, seorang profesor sejarah Jepang di Universitas Georgetown. Di Tiongkok, itu ditawarkan kepada umat Buddha, yang tak makan daging, sebagai cara vegetarian untuk meningkatkan rasa makanannya.

Awal Reputasi Buruk MSG

Pada 1950-an, MSG ditemukan dalam makanan kemasan di seluruh Amerika Serikat, mulai dari camilan hingga makanan bayi. Sand mengatakan dalam makalahnya tahun 2005 bahwa edisi 1953 dari The Joy of Cooking merujuk pada monosodium glutamat sebagai “‘bubuk putih’ misterius dari Timur… ‘msg,’ seperti yang dijuluki oleh para pemujanya.”

Setelah publikasi Rachel Carson “Silent Spring” dan larangan federal atas pemanis yang dianggap karsinogenik oleh Food and Drug Administration, konsumen mulai mengkhawatirkan tiap zat tambahan kimiawi dalam makanan mereka.

Pada tahun 1968, New England Journal of Medicine menerbitkan surat dari seorang dokter yang mengeluh tentang rasa sakit yang menyebar di lengannya, kelemahan dan jantung berdebar setelah makan di restoran Cina. Dia berpikir bahwa masakan dengan anggur, MSG atau garam yang berlebihan mungkin menjadi penyebabnya.

Tanggapan pembaca mengalir dengan keluhan serupa, dan para ilmuwan segera meneliti fenomena tersebut. Awalnya, para peneliti melaporkan hubungan antara mengonsumsi MSG dan gejala yang dikutip dalam New England Journal of Medicine. “Sindrom Restoran Cina” lahir.

Judul-judul buku dan headline muncul: “Makanan Cina membuatmu gila? MSG adalah Tersangka No. 1,” tulis Chicago Tribune, sementara buku berjudul Excitotoxins: The Taste That Kills dan In Bad Taste: The MSG Symptom Complex mendorong tinjauan FDA dan investigasi “60 Minutes”, seperti yang ditulis Alan Levinovitz, seorang profesor filsafat Cina di Universitas James Madison, dalam buku 2015 tentang mitos makanan.

Namun studi awal tersebut memiliki kelemahan penting, termasuk bahwa partisipan mengetahui apakah mereka mengonsumsi MSG atau tidak. Penelitian selanjutnya telah menemukan bahwa sebagian besar orang, bahkan mereka yang mengklaim sensitif terhadap MSG, tak memiliki reaksi apa pun ketika mereka memakannya secara tak tahu.

Sindrom Restoran Cina dan Sentimen Rasial

Bahwa MSG menyebabkan masalah kesehatan mungkin telah berkembang pesat pada bias rasial sejak awal. Ian Mosby, seorang sejarawan makanan, menulis dalam makalah tahun 2009 berjudul ‘That Won-Ton Soup Headache’: The Chinese Restaurant Syndrome, MSG and the Making of American Food, 1968-1980 bahwa ketakutan akan MSG dalam makanan Cina adalah bagian dari sejarah panjang AS dalam memandang masakan “eksotis” Asia sebagai berbahaya atau kotor.

Seperti yang dikatakan Sand: “Sungguh malang bagi para juru masak Tiongkok untuk tertangkap basah dengan bubuk putih di kompor mereka ketika penambah rasa yang pernah dipuji tiba-tiba menjadi bahan kimia tambahan.”

Namun, kekhawatiran tidak hanya di kalangan publik. Dari akhir 1960-an hingga awal 1980-an, “Sindrom Restoran Cina” dianggap sebagai penyakit yang sah oleh banyak kalangan medis, menurut penelitian Mosby. Hal yang sama tidak dapat dikatakan hari ini. Meski hampir semua penelitian Amerika Serikat yang menyatakan bahwa MSG aman didanai oleh perusahaan yang memiliki andil dalam kesuksesan MSG, para peneliti berpendapat bahwa MSG terbilang aman.

Tentu saja, sebagian kecil orang memang memiliki reaksi negatif yang secara langsung disebabkan oleh glutamat, tetapi sains hingga saat ini menunjukkan bahwa hal itu kemungkinan besar merupakan fenomena langka. MSG masih, dan selalu, dalam daftar makanan yang “secara umum diakui aman” oleh FDA.

Efek Nocebo Karena Reputasi Buruk MSG

Hanya karena tidak ada hubungan ilmiah antara makanan tertentu dan efek negatif kesehatannya, bukan berarti rasa sakit atau ketidaknyamanan yang dialami pengunjung hanyalah khayalan. Orang yang menderita setelah makan MSG mungkin mengalami efek nocebo, sepupu yang kurang dikenal dan kurang dipahami dari efek placebo.

Fenomena inilah yang terjadi ketika menyatakan bahwa sesuatu dapat menyebabkan reaksi negatif justru menimbulkan gejala fisik tersebut. Ketika sebuah restoran Cina menempatkan “tidak ada MSG” pada menunya untuk meyakinkan pelanggan, hal itu menambah stigma, kemungkinan akan meningkatkan efek nocebo dalam prosesnya. Seperti halnya efek plasebo, efek nocebo dapat memiliki reaksi yang sangat nyata.

Seperti yang ditunjukkan oleh Brendan Nyhan, seorang profesor Dartmouth yang telah meneliti cara memengaruhi sikap tentang vaksin, sulit bagi orang untuk mengubah pikiran mereka tentang masalah kesehatan pribadi karena itu bertentangan dengan apa yang mereka anggap alami di masa lalu.

“Orang yang merasa tidak enak setelah makan makanan China di masa lalu mungkin menyalahkan MSG … dan dengan demikian menolak informasi yang mereka temui kemudian tentang efek sebenarnya,” katanya. Ini mungkin hasil dari heuristik ketersediaan, ketika orang membuat penilaian menggunakan informasi termudah yang tersedia, ketimbang mencari penjelasan alternatif.

Seperti yang dijelaskan oleh Christie Aschwanden, begitu kita mencapai kesimpulan yang salah, otak kita mencegah kita menerima informasi baru yang dapat mengoreksi asumsi yang salah tersebut. Dalam kasus MSG ini, koneksi palsu cukup berbahaya bagi kebanyakan orang tetapi mungkin masih menyebabkan ketidaknyamanan bagi beberapa orang, baik karena mereka mengalami efek nocebo atau menghilangkan kelezatannya.

Kita semua membuat pilihan tentang bagaimana kita makan; Bagi sebagian orang, keputusan tersebut didasarkan pada dukungan ekonomi lokal, menghindari daging untuk perlakuan manusiawi terhadap hewan, atau sekadar ingin tahu apa yang masuk ke dalam tubuh mereka.

Tidak ada yang benar atau salah, tetapi perlu dipahami asal mula pilihan tersebut. Dalam kasus MSG, ini tampaknya bukan soal sains dan lebih banyak tentang budaya dan politik saat ini.