Kategori
Sosial Budaya

Batik Garutan: Terang Redup Batik Sunda

Batik Garutan layaknya film-film Wes Anderson: cerah, ceria dan minimalis. Mencerminkan dinamika urang Sunda dalam kesederhanaan dan watak jenaka. Meski didominasi tipikal warna dasar biru dan merah bata, yang merupakan pengaruh batik Yogyakarta dan Cirebon, tapi dikawinkan dengan warna kalem yang sesuai kondisi Priangan yang sejuk.

Kategori
Sosial Budaya Tekno

Psikologi Mengagumkan Stasiun Kereta Api Jepang

Ini adalah adegan yang tersaji setiap pagi hari kerja di Tokyo. Pekerja kantoran yang berpakaian jas, anak-anak sekolah, dan pengelana lainnya dengan gagah berani berjalan melalui stasiun kereta api kota yang luas.

Kategori
Psikologi Sosial Budaya

Para Pertapa Hikikomori

Dalam dekade terakhir, sebuah fenomena baru telah muncul ketika orang Jepang yang kecewa mencari perlindungan dalam pengasingan dan isolasi sosial.

Istilah “Hikikomori” digunakan untuk menggambarkan lebih dari setengah juta orang Jepang (80 persen laki-laki) yang menarik diri dari semua ikatan sosial — pekerjaan, sekolah, teman, hobi, dan lainnya, kemudian mengunci diri mereka di kamar tidur mereka dan seringnya menghabiskan waktu mereka di internet, bermain video game, atau menonton TV.

Kategori
Sosial Budaya

Perbudakan Seksual di Masa Fasisme Jepang

Kekerasan seksual sama tuanya dengan perang. Ketiadaan hukum selama perang dan konflik sipil seringnya menciptakan impunitas terhadap pelanggaran hak asasi manusia pada warga sipil.

Susan Brownmiller dalam Against Our Will: Men, Women, Rape mengemukakan tesis bahwa perang memberi para lelaki latar belakang psikologis yang sempurna untuk melampiaskan kenistaan mereka terhadap perempuan.

Militer yang begitu maskulin dan macho, dari senjata yang mereka pegang, ikatan batin antar laki-laki, disiplin kejantanan dalam sistem komando, menegaskan bagi lelaki apa yang mereka curigai: bahwa perempuan cuma periferal, tak masuk hitungan.

Perempuan sebagai korban masih harus berada dalam medan tempur meski perang sudah usai. Salah satu contoh kasus perbudakan seksual yang masih berlarut-larut sampai hari ini adalah jugun ianfu atau comfort women — istilah ini sebenarnya menyesatkan, sebuah eufisme untuk pelacur.

Perkiraan bervariasi soal berapa banyak korban perempuan, dari 20.000 sampai 360.000 hingga 410.000; angka pastinya masih terus diteliti dan diperdebatkan. Sebagian besar wanita berasal dari negara-negara yang Jepang duduki.

Menurut kesaksian, perempuan muda diculik dari rumah mereka di negara-negara di bawah pemerintahan Kekaisaran Jepang. Dalam banyak kasus, perempuan dipikat dengan janji-janji kerja di pabrik atau restoran, atau peluang untuk melanjutkan pendidikan; Setelah direkrut, mereka dipenjara di rumah bordil militer.

Meskipun rumah bordil militer Kekaisaran Jepang telah ada sejak 1932, mereka makin berkembang luas setelah satu insiden paling terkenal dalam upaya Jepang untuk mengambil alih Republik Cina: Perkosaan Nanking. Pada 13 Desember 1937, pasukan Jepang memulai pembantaian selama enam minggu, untuk menghancurkan kota Nanking di Cina. Dalam perjalanannya, pasukan Jepang memperkosa antara 20.000 dan 80.000 perempuan Cina. Perkosaan massal itu bakal menggegerkan dunia, dan Kaisar Hirohito khawatir dengan dampaknya terhadap citra Jepang.

Sejarawan hukum Carmen M. Agibaynotes dalam Sexual Slavery and the Comfort Women of World War II mencatat bahwa Hirohito memerintahkan militer untuk memperluas apa yang disebut “stasiun penghibur,” atau rumah pelacuran militer, dalam upaya untuk mencegah kekejaman lebih lanjut, sekaligus mengurangi penyakit menular seksual dan memastikan kelompok pelacur yang stabil dan terisolasi guna memuaskan hasrat seksual prajurit Jepang.

Awalnya wanita penghibur adalah pelacur Jepang yang menawarkan diri untuk layanan tersebut. Namun, ketika Jepang terus melancarkan ekspansinya, militer mendapati dirinya kekurangan relawan Jepang, dan beralih ke penduduk setempat dengan cara menculik atau memaksa perempuan untuk melayani di stasiun-stasiun ini. Banyak perempuan ditawari untuk bekerja sebagai pekerja pabrik atau perawat, tidak tahu kalau mereka bakal dipaksa jadi budak seksual.

Sudah setengah abad lebih, tetapi rincian perbudakan tersebut tetap menyakitkan. Yang menjadi masalah, di negara-negara Konfusian seperti Korea dan Cina, ketika seks pranikah dianggap memalukan, isu perbudakan seksual selama masa imperialisme Jepang diabaikan selama beberapa dekade setelah 1945.

Dalam budaya Konfusianisme, secara tradisional seorang perempuan yang belum menikah harus menghargai kesuciannya di atas hidupnya sendiri, dan setiap perempuan yang kehilangan keperawanannya sebelum menikah lebih baik mati saja; dengan memilih untuk hidup, para penyintas menjadikan diri mereka layaknya orang buangan. Hal ini terjadi pula di Indonesia, ketika isu ini mencuat dan beberapa penyintas buka suara, pihak otoritas malah mengeluarkan jargon khasnya, “Karena budaya timur tak usah mengungkit borok masa lalu bla bla bla,” dan meminta para penyintas tadi tutup mulut.

Snowy Road menjadi salah satu film yang menyorot salah satu masa paling sulit ini. Kedua gadis itu begitu cantik, awet muda dan bersemangat, hanya untuk menyaksikan dunianya tiba-tiba hancur. Perempuan muda, gadis masih bocah, semuanya dibawa pergi tentara Jepang untuk ditempatkan di sebuah kamp.

Film ini bergeser dari masa lalu ke masa sekarang, memotong antara dua periode untuk memperkuat bagaimana hak-hak perempuan telah berubah dan seberapa jauh mereka melaju. Sang korban yang telah menua terus dihantui masa lalu. Kita benar-benar ingin mereka akhirnya menemukan kedamaian yang mereka butuhkan untuk maju dan bebas.

Snowy Road menyajikan isu ini dengan baik, berusaha mengartikulasikan bahwa perempuan perlu bersatu melawan ketidakadilan di masa lalu dan hari ini, ketimbang menginternalisasi rasa bersalah dan malu.

Selama beberapa dekade setelah Perang Dunia II usai, sejarah perbudakan seksual ini tak terdokumentasi dan tak diketahui. Baru pada 1980-an, beberapa perempuan mulai berbagi kisah mereka. Kemudian pada tahun 1987, setelah Korea Selatan menjadi negara demokrasi liberal, para perempuan mulai mendiskusikan tragedi mereka di depan umum. Pada tahun-tahun berikutnya, semakin banyak perempuan maju untuk memberikan kesaksian.

*

Ini merupakan esai pengantar untuk diskusi Selasar Weekend Cinema.

Kategori
Sosial Budaya

Ngaleut Sunda Kelapa

Seorang kawan di Komunitas Aleut akhirnya menikah, diselenggarakan di Jakarta, dan agar tak sekedar menghadiri acara tersebut, kami berkeliling dahulu menyusur beberapa titik di ibukota. Acara pernikahannya dilangsungkan malam, jadi ada waktu untuk ngaleut sambil menunggu. Ada dua destinasi, yang pertama Museum Taman Prasasti, kemudian ke Museum Bahari.

Kategori
Anime Sosial Budaya

Wisata Ziarah Anime

Inilah liburan khas bagi Michael Vito, seorang Amerika yang tinggal di Cina: penerbangan dari rumahnya di Shanghai ke Tokyo; kemudian empat kali berganti kereta untuk sampai ke Hida, sebuah kota kecil di prefektur Gifu; dilanjut dengan berjalan kaki 10 menit ke sebuah halte bus. Dia tidak ke sana untuk menanti bus – untungnya, mengingat kota ini mematikan trayek ini tahun sebelumnya. Sebaliknya, halte bus itu adalah tujuannya.

kimi no nawa bus stop real location
Foto: Michael Vito.

Mengapa seseorang pergi ke sebuah halte bus yang sudah tak berfungsi di pedesaan Jepang? Pertanyaan yang lebih baik adalah: Mengapa selusin orang melakukannya? Ketika Vito sampai di sana, ia bergabung dengan kerumunan kecil turis di lokasi yang terlihat sangat biasa.

Ini bukan halte bus biasa, tetapi situs adegan dalam film animasi 2016 Kimi no Na wa, dirilis dalam bahasa Inggris sebagai Your Name. Film animasi laris tertinggi di Jepang (melampaui Spirited Away dari Studio Ghibli yang memenangkan Oscar), serta film Jepang laris tertinggi keempat secara keseluruhan, Kimi no Na wa melanjutkan kesuksesan besar secara internasional, terutama di Tiongkok, dan dalam prosesnya, melahirkan ketenaran ke beberapa tempat yang tidak kamu harapkan sebagai tujuan wisata.

Adegan dalam Kimi no Nawa.

Vito mengambil bagian dalam apa yang orang Jepang sebut seichijunrei – secara harfiah “ziarah tanah suci”, tetapi dalam konteks ini, diterjemahkan sebagai “ziarah anime”. Sementara turis Amerika mengenal gagasan mengunjungi tempat-tempat syuting atau yang jadi latar acara TV atau film, penggemar anime Jepang juga mengunjungi lokasi film animasinya. Ini terdengar tidak dapat dipercaya, tetapi itu mungkin karena untuk anime dengan latar kehidupan nyata, seniman sering membuat sketsa latar belakang menggunakan bahan referensi tempat aktual, termasuk yang sehari-hari. Bayangkan menonton The Simpsons dan melihat reproduksi sempurna perabotan di sudut apartemenmu.

Ziarah tidak terbatas pada genre tertentu. Penggemar kisah realistis seperti March Comes in Like a Lion, tentang pemain shogi (permainan papan Jepang) sekolah menengah atas, dapat mengunjungi lokasi di seluruh Tokyo: Ada aula asosiasi shogi yang modern di daerah Sendagaya dan kuil kecil tempat para pemain berdoa untuk meraih kesuksesan; ada juga lingkungannya di daerah Tsukishima / Tsukuda, dengan bangunan kayu tradisional kontras dengan bangunan tinggi modern dan keindahan industrial Jembatan Chuo yang menjulang. Tetapi tanuki yang berubah bentuk dan makhluk mitologis tengu dari The Eccentric Family juga sering menampilkan tempat asli di seluruh Kyoto, dari hutan tempat mereka tinggal di sekitar Kuil Shimogamo hingga kafe dan restoran, pemandangan terkenal seperti Sungai Kamo, dan arena perbelanjaan dan trem yang dalam satu adegan direproduksi sebagai ilusi besar yang diciptakan oleh salah satu tanuki.

Pernah jadi hobi yang agaknya tak jelas, ziarah anime telah menjadi arus utama karena nilai dolar pariwisata yang terlibat telah diakui. Studio produksi dapat mengatur kolaborasi resmi dari awal; untuk melodrama sekolah menengah I Want to Eat Your Pancreas, operator trem-trem yang ditampilkan dalam film tersebut membuat tiket khusus dan pengumuman kereta api yang direkam oleh para pengisi suara, sementara Takaoka City menawarkan peta ziarah dan aplikasi telepon pintar. Dalam kasus lain, penduduk setempat dapat ikut ulubiung sesudahnya ketika pengunjung mulai berdatangan, seperti halnya halte bus, ketika walikota mengeluarkan papan lamanya dari penyimpanan dan memasangnya kembali agar sesuai dengan adegan di film. Ziarah terkait film ini membawa sekitar 130.000 wisatawan ke Hida dari Agustus 2016 hingga Juli 2018.

Ziarah semacam ini yang dipublikasikan dengan baik adalah cabang dari kegiatan yang lebih menarik. Sebelum promosi menjadi umum – dan sampai sekarang banyak seri yang tidak terlibat dalam upaya publisitas ini – mengunjungi lokasi anime berarti memastikan keberadaannya di dunia nyata. Seseorang harus menemukannya terlebih dahulu.

Butaitanbou, atau “perburuan adegan,” dipraktikkan oleh komunitas kecil penggemar setia, dan ini merupakan tantangan yang jauh lebih besar. Tujuannya adalah untuk menemukan dan mengunjungi lokasi dan mengambil foto yang sesuai sedekat mungkin dengan tangkapan layar dari anime, dan kemudian membagikan foto secara online. Sementara seni latar belakang dapat secara tepat mereproduksi lokasi nyata, tempat itu mungkin tidak disebutkan – atau mungkin diberi nama fiksi, seperti dalam kasus kota dengan halte bus di Kimi no Na wa.

Penelitian intensif dan lompatan inspirasi sesekali diperlukan untuk butaitanbou. Itu dimulai online dengan Google dan di Twitter, di mana para penggemar mendiskusikan teori dan membangun sebuah kasus.

“Jika saya tidak dapat menemukan informasi apa pun, saya harus pergi ke langkah berikutnya,” kata seorang penggemar yang akan kami identifikasi sebagai Koichi. “Saya melihat ke dalam gambar yang diambil dengan hati-hati untuk menemukan petunjuk untuk mengidentifikasi lokasi, seperti garis pantai, sungai, gunung, jembatan, bangunan, stasiun dan sebagainya.”

a silent voice real location
Sakura bermekaran di Midori-bashi, seperti dalam A Silent Voice. Foto: Endos.

Seiring dengan petunjuk visual, petunjuk dapat ditemukan di manga yang menjadi dasar anime, lokasi studio atau tempat-tempat yang terkait dengan penulis, atau informasi dari berbagai sumber tentang produksi. Salah satu proyek Koichi adalah serial anime Aria, berlatar di Venice, dan ia ingat berusaha menemukan lokasi hotel yang direplikasi dalam satu episode. Tidak dapat menemukan apa pun secara online, ia ingat bahwa DVD tersebut memiliki komentar sutradara, yang menawarkan sedikit informasi penting: Model tersebut terletak di dekat Santa Lucia, satu-satunya stasiun kereta api di Venesia. Itu membuatnya mempersempit pencarian dan menemukan hotelnya secara online.

Setelah lokasi diidentifikasi secara kasar, Google Maps dan Street View mungkin cukup untuk menunjukkan dengan tepat tempatnya, tetapi kadang-kadang membutuhkan pekerjaan ala detektif. Butaitanbou-sha lain yang menggunakan pegangan Endos mengatakan dia akan mencoba menebak bagaimana karakter akan bergerak untuk mencapai lokasi: “Dan sambil berjalan-jalan, saya tiba-tiba akan menemukan latar belakang anime di depan saya dan saya akan sangat terkesan!”

Menonton TV – kartun, apalagi – sering dicemooh sebagai kegiatan pasif. Tetapi ketika kamu melihat blog yang menyajikan hasil dari proyek perburuan adegan serius, seperti situs web Koichi untuk Aria, jelas bahwa ini sama sekali berbeda. Ada banyak orang seperti Koichi untuk terhubung dan memanfaatkannya. Kyoto dari The Eccentric Family setidaknya sama indahnya dengan hal yang nyata (mungkin lebih indah, setidaknya jika jauh lebih sedikit dari wisatawan yang memadati); Makoto Shinkai, sutradara-animator di belakang Kimi no Na wa, tampaknya tidak dapat menghasilkan jembatan penyeberangan tanpa membuatnya cantik memilukan. Ini tidak seperti habitat gurun Wile E. Coyote yang samar-samar atau pedesaan Pokémon.

Endos menggambarkan perasaan berada di lokasi sebagai sesuatu yang memperkaya penghargaannya terhadap karya kreatif. Ada pukulan emosional untuk melihat dan melangkah ke versi tiga dimensi dari sebuah adegan, dengan semua indra terlibat: bau, sensasi angin, dan suara lingkungan yang menghidupkan seni.

Selain berinteraksi dengan bentuk seninya, ada sensasi koneksi manusia yang dibuat ketika lokasi terungkap. Sementara penelitian mungkin sebagian besar soliter, tujuan utamanya adalah menempatkan tempat-tempat yang ditemukan di sana untuk dibagikan kepada dunia. Koichi telah menjadi sumber daya bagi orang yang melakukan perjalanan ke Venesia, misalnya, dan Endos memiliki salah satu pengalaman yang patut ditiru dengan pencipta sebenarnya dari sebuah karya. “Ketika saya memposting sebuah artikel yang memperkenalkan lokasi latar belakang anime The Garden of Words (Koto no Ha no Niwa), sutradara Makoto Shinkai sendiri memuji artikel blog saya di Twitter,” kata Endos.

Ada juga organisasi mereka, Butaitanbou Community (BTC), yang mengadakan pertemuan langsung secara pribadi dan mengakui upaya anggota dengan penghargaan. BTC telah berkembang dari setengah lusin anggota asli menjadi beberapa ratus dalam 11 tahun terakhir.

garden of word anime location
Latar dalam The Garden of Words dan foto Shinjuku Gyoen. Foto: Sentai Filmworks / Endos.

Tetapi sementara BTC masih merupakan klub yang cukup eksklusif, konteks yang lebih luas telah berubah seiring dengan perkembangannya. Vito, yang mencatat subjek pariwisata anime di blognya, mengatakan bahwa kampanye pariwisata resmi yang terkait dengan serial dan liputan media arus utama telah menjadi jauh lebih umum dalam sekitar lima tahun terakhir. Kampanye ini menggoda para penggemar untuk mengunjungi dengan berbagai cara – kereta yang dihias khusus, barang koleksi peringatan dan paket tur adalah beberapa contohnya. Contoh puncak mungkin adalah kasus saat kehidupan benar-benar meniru seni: Sebuah festival lokal fiksional yang digambarkan dalam seri Hanasaku Iroha diciptakan kembali oleh kota yang menjadi latarnya. Sekarang telah diadakan setiap tahun sejak 2011.

Bersama dengan kolaborasi lokal, ada juga upaya publisitas yang lebih luas, seperti kampanye untuk mempromosikan 88 situs ziarah anime populer – jumlah berdasarkan ziarah tradisional ke 88 kuil di Shikoku – dan aplikasi smartphone ziarah anime. Dengan pariwisata dan budaya dipandang sebagai harapan utama bagi ekonomi Jepang dan sebagai cara untuk merevitalisasi daerah-daerah yang berjuang, pengarusutamaan ziarah anime hanya akan meningkat. Bagaimana hal ini memengaruhi para pemburu adegan khusus?

“Seorang butaitanbou-sha adalah orang yang aktif, akademis, berorientasi pada penelitian yang menemukan kesenangan dalam menemukan latar belakang animasi sendiri,” kata Endos. Pencarian itu sendiri menyenangkan, seperti pengakuan yang datang dengan mengungkap lokasi yang tidak jelas. “Itu mendapat perhatian dari banyak orang dan menerima pujian,” katanya. “Ini benar-benar perasaan yang menyenangkan.” Kesenangan itu, kata Endos, lebih sulit ditemukan ketika sebuah seri dengan jelas menyatakan di mana ia ditetapkan dan publisitas formal untuk seichijunrei menyebarkan berita jauh dan luas.

“Karena saya menganggap diri saya sebagai butaitanbou-sha, saya tidak suka liputan yang berlebihan oleh pers, dan saya berharap mereka tidak menghalangi saya untuk menikmati latar belakang menyimpulkan pekerjaan animasi favorit saya dengan menerbitkan informasi,” katanya. “Di sisi lain, saya juga ingin mendapatkan informasi tentang tempat latar anime lebih mudah dan merasa bebas untuk dikunjungi sebagai seichijunrei-sha.”

Bagaimana pengalaman dipengaruhi sebagian tergantung pada bagaimana daerahnya memilih untuk ikut terlihat. Vito terkesan dengan bagaimana Hida menangani ketenarannya yang tiba-tiba. “Jelas bahwa angsa emas telah dijatuhkan di pangkuan kota,” katanya. “Yang menarik bagi saya tentang halte bus dan beberapa hal kecil yang relatif kota lakukan untuk merespons adalah tingkat pemahaman dan pengendalian tindakan yang ditunjukkan.” Tampaknya ada pemahaman, pikirnya, bahwa promosi berlebihan dapat merusak pengalaman.

Ada juga kekhawatiran tentang perilaku wisatawan biasa yang tidak mengetahui norma-norma setempat, yang mencakup aturan eksplisit dan tidak tertulis tentang menjadi duta yang baik untuk hobi dan tidak menjadi gangguan. Sementara keluhan dan insiden sebagian besar khas dari apa yang terjadi ketika daerah mana pun melihat kedatangan wisatawan, ada kecenderungan yang mengkhawatirkan untuk menghubungkan masalah dengan “otaku”, sebuah istilah yang masih memiliki stigma yang masih melekat.

“Para veteran beruban khawatir bahwa ketika insiden meningkat, kemampuan mereka untuk mengakses lokasi dan memperoleh sesuatu seperti izin sosial untuk beroperasi terancam,” kata Vito.

Dalam banyak hal, ini adalah situasi yang cukup akrab bagi siapa saja yang pernah ingin meratap, “Saya sudah melakukan ini sebelum itu keren!” Tetapi sebagai seseorang yang benar-benar ada di sana untuk “masa lalu yang indah”, Koichi memiliki pandangan yang lebih bermakna.

“Penduduk setempat melihat peziarah anime sebagai orang yang mencurigakan, karena dia mengambil foto pada titik ‘mencurigakan’,” katanya. “Saat ini, sebaliknya, ziarah anime semakin populer, penduduk setempat mengakui apa yang kami lakukan dan mereka bahkan menyambut kami. Ketika saya memikirkan hari-hari itu, saya merasa saya hidup di zaman yang sama sekali berbeda.”

*

Diterjemahkan dari artikel Polygon berjudul Anime is turning quiet corners of the world into major tourist attractions.