van gogh monalisa mash up

Walter Benjamin, Theodor Adorno dan Kuasa Budaya Populer

Dalam novel Jonathan Franzen yang dirilis 2001, The Corrections, seorang akademisi tak tahu malu bernama Chip Lambert, yang menelantarkan teori Marxis untuk beralih ke penulisan naskah, pergi ke Toko Buku Strand, di pusat kota Manhattan, untuk menjual perpustakaan buku dialektikanya. Karya-karya Theodor W. Adorno, Jürgen Habermas, Fredric Jameson, dan berbagai lainnya yang oleh Chip dapatkan seluruhnya dengan menghabiskan hampir empat ribu dolar; Nilai jual mereka jadi cuma enam puluh lima dolar. “Dia berpaling dari tusukan mereka yang penuh celaan, mengingat bagaimana masing-masing dari mereka berseru di sebuah toko buku dengan sebuah janji kritik radikal terhadap masyarakat kapitalis lanjut,” tulis Franzen. Setelah beberapa ekspedisi penjualan buku, Chip memasuki toko kelontong kelas atas dan berjalan keluar dengan filet salmon liar Norwegia yang kelewat mahal.

Read more

blade runner 2049 android sex

Menyoal Robot Seks dan Feminisme

Android seks: haruskah kita persoalkan? Profesor Noel Sharkey, profesor robotika emeritus di Universitas Sheffield, menganggap bahwa kita harus mempersoalkannya.

Berbicara di festival sains Cheltenham, akademisi tersebut memperingatkan bahwa meski dia “cukup liberal tentang seks”, dia khawatir tentang efek mesin-mesin seperti itu pada kemampuan orang untuk membentuk hubungan manusia. Mainan seks robotik sudah tersedia untuk konsumen di AS dan Jepang. Hebatnya, mereka cenderung tidak memperhitungkan perempuan. Bahkan belum diarahkan ke pasar lesbian.

Read more

haruki murakami

Günter Grass, Haruki Murakami dan Pentingnya Rasa Bersalah Nasional

Kematian Günter Grass pada 13 April 2015 mengingatkan kita pada seluruh karya sastranya yang berpusat pada gagasan untuk berdamai tidak hanya dengan bangsanya tetapi juga keterlibatannya sendiri dalam Nazisme.

Kemudian ada sebuah pernyataan oleh Haruki Murakami, bahwa Jepang harus meminta maaf dan menebus kesalahan tindakannya selama perang dunia kedua sampai bekas musuhnya memutuskan bahwa ini tidak lagi diperlukan.

Keduanya membawa pertanyaan tentang rasa bersalah dan malu yang timbul dari tindakan suatu bangsa.

Read more

legend of korra avatar

Avatar Legend of Korra dan Ideologi Politik

Setelah manga Naruto dan kisah Doraemon, tahun 2014 diakhiri dengan berakhirnya Avatar: The Legend of Korra.

Di saat long weekend namun jalanan banjir dan macet dimana-mana, satu opsi mengisi liburan yang pas ya maraton nonton. Dan menamatkan kisah Korra sang Avatar setelah Aang ini adalah pilihan tepat.

Jika di Avatar The Last Airbender, seluruh kisah dari book 1 sampai terakhir Aang harus memadamkan kolonialisme yang dilakukan Negara Api. Maka untuk Avatar Korra, tiap book punya musuh yang berbeda-beda. Semua antagonis punya pandangan politis yang berbeda-beda, memang niatnya untuk menciptakan perubahan, namun sayang terlalu ekstrim dan radikal.

Read more