Chuuya Nakahara: Penyair Bohemian Jepang

Chuuya Nakahara adalah seorang penyair yang aktif di awal periode Showa Jepang, sekitar 1920-30-an. Chuuya adalah seorang modernis awal Jepang yang memiliki dorongan-dorongan yang saling bertentangan: apolitis tetapi ikonoklastik; seorang formalis tapi progresif.

Chuuya meremehkan institusi, tapi ini didukung karena ia merupakan pembelajar mandiri atau otodidak yang sukses. Penguasaan waka, syair tradisional Jepang dengan formasi 7/5 suku kata, dikombinasikan dengan kompetensi dalam bahasa Prancis untuk menyediakan evolusi hibridanya.

Dia menulis dengan mewarisi para pendahulunya dari era Meiji, sambil berusaha keras terhadap Simbolis dan Surealis dari Barat yang dia kagumi dan terjemahkan.

Kelahiran dan Masa Kecil Chuuya

Chuuya Nakahara lahir di Yamaguchi pada 29 April 1907.

Ayahnya merupakan seorang dokter tentara yang sangat terpandang bernama Kensuke Kashimura. Setelah menikahi Fuku Nakahara, Kensuke diadopsi oleh keluarga Nakahara tak lama setelah kelahiran putra mereka, dan secara resmi mengubah marga atau nama belakang mereka menjadi Nakahara.

Karena orang tua Chuuya tidak dikaruniai anak selama enam tahun setelah pernikahan mereka, dan karena mereka tidak memiliki anak di kampung halaman keluarga Nakahara, mereka senang dengan kelahiran putra pertama mereka itu dan merayakannya selama tiga hari.

Sebagai putra sulung dari seorang dokter terkemuka, Chuuya diharapkan menjadi pewarisnya. Akibat harapan yang tinggi dari ayahnya, Chuuya diberi pendidikan yang sangat ketat, yang juga mencegahnya menikmati masa kecil.

Chuuya dilarang bermain di luar dengan anak-anak dari kelas yang berbeda. Chuuya juga tidak diperbolehkan mandi di sungai karena khawatir akan tenggelam.

Hukuman terberatnya adalah dikurung tidur di gudang, yang Chuuya terima puluhan kali ketimbang saudara-saudaranya yang lain. Hal ini dimaksudkan untuk mempersiapkannya mengikuti jejak Kensuke dan menjadi kepala keluarga.

Perkenalan Chuuya dengan Sastra

Sebagai siswa sekolah dasar, Chuuya memiliki nilai yang sangat baik dan disebut sebagai anak berbakat. Kematian adiknya Tsuguro pada tahun 1915, ketika Chuuya berusia 8 tahun, yang membangunkan minat sastranya.

Didorong oleh kesedihan, ia beralih ke menulis puisi. Dia mengirimkan tiga bait pertamanya ke majalah wanita dan surat kabar lokal pada tahun 1920, ketika dia masih di sekolah dasar.

Pada tahun yang sama, ia lulus ujian masuk ke sekolah menengah Yamaguchi dengan hasil yang cemerlang. Namun sejak saat itulah dia mulai memberontak melawan kekangan ayahnya. Ia tidak lagi belajar dan nilai-nilainya mulai menurun karena ia semakin asyik dengan sastra.

Chuuya Mengawinkan Tradisi Jepang dan Modernis Prancis

Awalnya, Chuuya menyukai puisi dalam format tanka tradisional Jepang. Tetapi pada masa remajanya, dia kemudian tertarik pada gaya syair bebas modern yang dibawa oleh penyair Dadais Takahashi Shinkichi dan oleh Tominaga Tar.

Setelah dia pindah ke Tokyo, dia bertemu Kawakami Tetsutaro dan Ooka Shohei. Mereka kemudian mulai menerbitkan jurnal puisi, Hakuchigun, yang jika diartikan bermakna idiot.

Chuuya juga berteman dengan kritikus sastra berpengaruh Kobayashi Hideo, yang memperkenalkannya kepada penyair simbolis Prancis Arthur Rimbaud dan Paul Verlaine. Puisi-puisinya oleh Chuuya terjemahkan ke dalam bahasa Jepang.

Pengaruh Rimbaud lebih dari sekadar puisinya, dan Chuuya kemudian dikenal karena gaya hidupnya yang “bohemian”, yang berarti bebas dan urakan.

Perbedaan mendasar antara Jepang dan Prancis berarti bahwa sementara menggabungkan beberapa elemen bentuk Barat, Chuuya harus merancang versi Jepang yang lain.

Chuuya mengadaptasi hitungan tradisional lima dan tujuh yang digunakan dalam haiku dan tanka Jepang, tetapi sering kali membuat hitungan ini dengan variasi, untuk mendapatkan efek musik yang berirama.

Beberapa puisinya digunakan sebagai lirik dalam lagu, jadi efek musik ini mungkin telah diperhitungkan dengan cermat sejak awal.

Hidup dan Karier Sastra Chuuya Nakahara

Meski terkadang penerbit Shiki dan Bungakukai bersedia menerbitkan salah satu karyanya, tapi karya-karya Chuuya ditolak oleh banyak penerbit. Chuuya mendapatkan penerimaan terutama di majalah-majalah sastra yang lebih kecil, termasuk Yamamayu, yang dia luncurkan bersama Kobayashi Hideo.

Dia tetap berteman dekat dengan Kobayashi sepanjang hidupnya, terlepas dari kenyataan bahwa pacarnya meninggalkannya dan beralih ke Kobayashi tak lama setelah pertemuan pertama mereka.

Chuuya akhirnya menikah dan memiliki seorang putri yang meninggal saat masih bayi, yang membuatnya mengalami gangguan saraf yang membuatnya tidak pernah pulih sepenuhnya. Banyak dari puisinya yang belakangan tampak seperti kenangan dan upaya untuk mengurangi rasa sakit yang luar biasa ini.

Chuuya meninggal pada usia 30 tahun karena meningitis serebral. Hanya satu dari antologi puisinya, Yagi no Uta (“Goat Song”, 1934) yang muncul saat dia masih hidup, dalam edisi dua ratus eksemplar yang dibiayai sendiri.

Dia telah mengedit koleksi kedua, Arishi Hi no Uta (“Songs of Bygone Days”) sebelum kematiannya.

Syair Chuuya yang Tak Lekang Zaman

Chuuya meninggal karena sakit akibat TBC tadi, dan biografinya membuat orang berpikir tentang penyair Barat tertentu yang kematian dininya juga melahirkan kultus seperti Keats dan Rimbaud.

Chuuya hanya menerbitkan satu volume puisi dalam hidupnya, Yagi no Uta, yang terjual sekitar 50 eksemplar. Sedangkan buku anumerta kedua, Arishi Hi no Uta, mencapai 1000 eksemplar.

Tetapi pada tahun 1947, Jepang pascaperang yang sedang punya masalah ekonomi, justru ada lebih dari 20.000 eksemplar koleksi Chuya yang terjual. Minat pada puisi dan prosanya yang tidak diterbitkan terus mencapai puncaknya sejak itu.

Koleksi karya-karyanya edisi 1967 terdiri dari enam jilid, dan lebih banyak kritik telah ditulis padanya daripada penyair Jepang lainnya.

Selama hidupnya, Chuuya memang tidak termasuk di antara penyair arus utama, tetapi syair-syairnya memiliki pengikut yang luas dan meningkat bahkan hingga hari ini.

Kobayashi Hideo, teman dekat Chuuya yang ia percayakan manuskrip Arishi Hi no Uta di ranjang kematiannya bertanggung jawab atas promosi anumerta karya-karyanya, dan Ooka Shohei yang mengumpulkan dan mengedit The Complete Works of Nakahara Chūya, sebuah koleksi yang berisi puisi-puisi, jurnal, dan banyak surat dari sang penyair bohemian ini.

Chuuya sekarang menjadi subjek pelajaran di kelas di sekolah-sekolah Jepang, dan potretnya dengan topi ala mafia dengan tatapan kosong sudah terkenal. Apalagi setelah jadi karakter di Bungou Stray Dogs.

*

Referensi:

  • Nagle, Christian. 2013. Biography of Chuya Nakahara. Milwaukee: University of Wisconsin.

2 pemikiran pada “Chuuya Nakahara: Penyair Bohemian Jepang”

  1. Pantas di anime BSD si Chuuya ini ada hubungannya sama Rimbaud waktu bagian kilas balik masa lalu Dazai yang ternyata seorang anggota Port Mafia.

    Di realitas si Rimbaud memang memberikan pengaruh kepadanya toh.

    Mantaplah, Rif, habis nonton BSD jadi satu artikel macam begini.

    Saya enggak mencari tahu tokoh-tokoh BSD sejauh ini, sih. Saya jelas tahu Dazai dan beberapa penulis (khususnya di luar Asia) lainnya duluan, baru iseng menjajal anime-nya. Tapi dari semua tokoh yang ada, yang asal-asalnya dari Jepang ini memang asyik buat dikulik lebih lanjut. Tadinya, boro-boro tau ada penulis bernama Atsushi Nakajima.

    Balas
    • Udah bikin Akutagawa sama Dazai sih, ini tulisan ketiga. Emang sengaja lagi bikin profil tiap penulis di BSD, sekarang targetnya nyelesain yg member Port Mafia dulu.

      Kalau googling nama penulis2 itu ada kemungkinan yg nomor satu malah profil karakter BSD-nya bukan orang aslinya.

      Balas

Tinggalkan komentar