Cuci Piring: Praktik Mindfulness dalam Keseharian

Jika pernah menonton semacam film kung fu Mandarin, mungkin pernah melihat adegan ketika seorang murid yang hendak berguru ke seorang master beladiri, bukannya langsung diajari jurus tertentu malah disuruh untuk melakukan berbagai pekerjaan rumahan. Misalnya, si murid itu harus menimba, mengangkut air, menyapu lantai, memindahkan barang, atau aktivitas lain yang tampak sepele.

Namun kemudian, ketika harus bertarung, hanya dengan beberapa arahan singkat dari gurunya, si murid entah kenapa bisa melancarkan jurus-jurus yang bahkan belum dia pelajari. Ternyata pekerjaan rumahan tadi adalah bagian dari latihan. Selain untuk melatih muscle memory, aktivitas tadi berguna untuk latihan mindfulness, agar si murid lebih awas akan dirinya dan sekitarnya.

Mindfulness berarti mengelola kesadaran saat-demi-saat akan pikiran, perasaan, sensasi tubuh, dan lingkungan sekitar kita. Melibatkan penerimaan, artinya kita memperhatikan pikiran dan perasaan kita tanpa menghakiminya — tanpa percaya, misalnya, bahwa ada cara yang “benar” atau “salah” untuk berpikir. Saat kita melatih perhatian, pikiran kita selaras dengan apa yang kita rasakan saat ini.

Meski berakar pada meditasi Buddhis, praktik mindfulness ini tampaknya telah memasuki arus utama dalam beberapa tahun terakhir. Banyak dirilis penelitian soal hal ini, misalnya penelitian tentang kesadaran yang menunjukkan bahwa pekerjaan sehari-hari punya pengaruh baik untuk kita.

Mencuci piring secara signifikan dapat menurunkan tingkat stres — jika kita melakukannya dengan penuh kesadaran.

Dalam studi tersebut, peneliti di Florida State University meminta 51 mahasiswa mencuci piring. Sebelum mereka mulai, setengah dari siswa membaca petikan singkat untuk mencuci piring dengan perhatian penuh dan setengah lainnya membaca petikan pendek mencuci piring secara deskriptif. Bagian deskriptif itu lugas, tetapi bagian yang penuh perhatian berfokus pada kehadiran secara mental untuk tugas tersebut. Berikut kutipannya:

Saat mencuci piring, seseorang hanya harus mencuci piring. Ini berarti bahwa saat mencuci piring seseorang harus benar-benar menyadari fakta bahwa dia sedang mencuci piring. Sekilas, hal itu mungkin tampak konyol. Mengapa terlalu menekankan pada hal yang sederhana? Tapi justru itulah intinya. Fakta bahwa saya berdiri di sana dan mencuci adalah kenyataan yang menakjubkan. Saya menjadi diri sendiri sepenuhnya, mengikuti napas, menyadari kehadiran saya, dan sadar akan pikiran dan tindakan saya. Tidak mungkin saya terlempar ke sana kemari tanpa berpikir seperti botol yang mengambang ke sana-sini di atas ombak.

“Saya sangat tertarik pada bagaimana kegiatan keseharian dapat digunakan untuk mempromosikan keadaan sadar dan, dengan demikian, meningkatkan rasa kesejahteraan secara keseluruhan,” kata penulis studi Adam Hanley, kandidat doktor di FSU College of Education’s Counseling/School Psychology.

Para peneliti menemukan bahwa orang yang mencuci piring dengan penuh kesadaran (mereka fokus pada mencium sabun, merasakan suhu air dan menyentuh piring) meningkatkan perasaan inspirasi mereka sebesar 25% dan menurunkan tingkat kegugupan mereka sebesar 27%. Kelompok yang tak mencuci piring dengan hati-hati tidak mendapatkan manfaat apa pun dari tugas tersebut.

“Tampaknya aktivitas sehari-hari yang didekati dengan intensionalitas dan kesadaran dapat meningkatkan keadaan mindfulness,” penulis penelitian menyimpulkan.

Meski ukuran penelitian ini terbilang sangat kecil karena hanya melibatkan 51 mahasiswa, tetapi para peneliti menyarankan bahwa mindfulness dapat dicapai dalam berbagai aktivitas umum, dan bisa mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan psikologis seseorang.

Bagi saya sendiri, mencuci piring memang begitu terapeutik. Lebih tentram menghirup harum Sunlight ketimbang wangi petrichor sehabis hujan yang sering diromantisir itu.

Satu pemikiran pada “Cuci Piring: Praktik Mindfulness dalam Keseharian”

Tinggalkan komentar