Kearifan Lokal Sunda: Iket yang Mengikat Budaya Kiwari

Parijs van Java. Kota Kembang. Kota Artis. Kota Mode. Kota Kreatif. Kota Teknologi. Kota Shopping. Kota Kuliner. Kota paling sibuk berkicau ke-6 di Twitter. Kota apalagi, nya?

Banyak julukan tadi muncul salah satunya akibat sumbangsih anak muda. Tercatat paling tidak, sekitar 60% penduduknya berusia di bawah 40 tahun, dengan berbagai dukungan industri yang mendunia, serta dukungan 50 perguruan tinggi yang terletak di kota ini.

Selain dianugerahi pikiran kreatif dan inovatif, anak mudanya punya kepedulian sosial tinggi terhadap lingkungan. Ga hanya itu saja, anak mudanya pun masih peduli dengan kebudayaan lokal. Kebudayaan Sunda pastinya.

Iket Sunda yang Melingkari Kepala dan Budaya

Kebudayaan luar terus mengimpor dirinya. Meski disusupi, anak muda Bandung ga pernah meninggalkan budayanya sendiri. Antusiasme untuk ngamumule identitas kesundaan, atau mungkin cuma sebatas latah, diperlihatkan anak muda. Salah satunya tren penggunaan iket.

Baca juga: Aneka Reka Kabayan

Satu nama yang berperan dalam menjamurnya tren penggunaan iket di kalangan anak muda, Man Jasad, musisi death metal yang beken karena mengawinkan musik cadasnya dengan alat musik tradisional karinding.

Iket yang awalnya hanya dipakai oleh masyarakat adat tertentu, dan biasanya oleh kalangan sepuh, kini tidak jarang terlihat dikenakan sama remaja dan mahasiswa. Bahkan mungkin jadi fesyen buat para motoris.

β€œSecara tersirat, iket menjadi suatu simbol dari karakter, filosofi dan estetika si pemakainya, sementara fungsi dasarnya untuk merapihkan rambut, melindungi kepala dari cuaca panas, hujan dan lingkungan, membawa barang dan pelindung badan iket bisa juga dikatakan sebagai mahkota dan mencerminkan si pemakai tidak sombong.”

– Aip Saripudin.

Mengacu pada tulisan Kang Mochamad Asep Hadian Adipradja di Pulasara Iket, rupa iket terdiri dari tiga kategori. Baheula, Kiwari, dan rupa iket praktis. Nah, di bawah ini beberapa model iket.

  • Barangbang Semplak
  • Julang Ngapak
  • Mahkota Wangsa
  • Candra Sumirat
  • Koncer
  • Kole Nyangsang
  • Kampung Adat Dukuh
  • Parekos Jengkol
  • Parekos Gedang
  • Parekos Nangka
  • Kebo Modol
  • Buaya Ngangsar
jenis iket sunda

Ga susah buat beli iket. Banyak outlet di trotoar sisi jalan raya yg menjajakan kain penutup kepala ini. Dengan beragam motif dan beraneka warna. Dibanderol dengan harga dari Rp. 15.000 sampai Rp. 60.000. Biasanya outlet tadi menyediakan pula aksesoris kesundaan lainnya.

Nah, sebagai salah satu alternatif fesyen, nggak ada salahnya kan membudayakan ikat kepala khas yang ada di daerah masing-masing. Tentunya enggak hanya Sunda, pastinya seluruh daerah yang ada di Indonesia punya jenis ikat kepala yang sesuai khasnya.

*

Referensi:

37 pemikiran pada “Kearifan Lokal Sunda: Iket yang Mengikat Budaya Kiwari”

  1. hidup persib!!
    eeehh banyak yang mesti digali dan dilestarikan.
    sebagai seorang sundanese saya juga gereget..
    basa sunda aja belepotan hiks hiks

    Balas
  2. Nah ini tentang iket…
    Tadinya saya gak perduli dg iket ini, sampai suatu har saya dihadiahi iket oleh komunitas Sukabumi Cinema Club. Saya penasaran, gimana cara ngiket itu? Akhirnya kukurusukan di internet, ketemu banyak cara memakai iket itu. Saya baru belajar satu cara pasang iket yg parengkos jengkol. Hasilnya saya pajang jd foto pofil saya itu…
    Pengen belajar cara iket yg lain juga, tp pusing juga klo belajar sendiri. Ini lagi nyari waktu untuk ketemuan sama teman2 di Komunitas Iket Sunda dulu…
    Salam,

    Balas
    • Saya malah belum bisa ngiket satu model pun. Soalnya iketnya cuma buat dijadiin masker aja nih kang.
      Keren tah parengkos jengkol.

      Balas
  3. wah saya barutau kalau cara pakenya macem2 gitu dan itu musim iket sudah sampe Cianjur juga, udah banyak yang pake, tapi dipake buat slayer penutup hidup waktu naek motor πŸ˜€

    anyway, itu si cepot di sebelah pojok kiri-na meuni ka lucu beudh. πŸ˜€

    Balas

Tinggalkan komentar