Linimasa Bandung Lautan Api dari Awal Revolusi

Malam 24 Maret 1946 garis merah api melintang dari barat ke timur, dari Cimahi hingga Ujungberung. Atje Bastaman, wartawan muda koran Suara Merdeka menyaksikannya dari Gunung Leutik dari Pameungpeuk, Garut.

Setiba di Tasikmalaya, Atje menuliskan laporannya dengan judul “Bandung Jadi Lautan Api”. Tulisannya terbit dua hari kemudian, 26 Maret 1946. Karena judulnya terlalu panjang untuk kolom yang tersedia, maka disingkat menjadi “Bandung Lautan Api”. Istilah yang akan populer sampai sekarang untuk mengingat peristiwa itu.

Kenapa bisa terjadi peristiwa bersejarah begini? Kenapa Bandung harus dibakar segala? Tentu saja, untuk lebih memahami konteks Bandung Lautan Api, kita harus menengok linimasa setahun ke belakang. Berikut hasil rangkuman dari buku Bandung Awal Revolusi: 1945-1946, sebuah penelitian sejarah dari John R.W. Smail.

Agustus 1945

Setelah mendapat kabar kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, stasiun radio Hoshokyoku Bandung mendapat permintaan dari Jakarta agar mengirimkan dua orang teknisi untuk membawa mikrofon Siemens yang masih jarang saat itu.

Hal itu berkaitan untuk Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang dibacakan di halaman rumah Sukarno di Jl. Pegangsaan Timur No.56, pukul 10:00 pagi pada 17 Agustus.

Meski penyebaran berita proklamasi Republik Indonesia melalui radio mendapat halangan dari pihak Jepang, tapi kabar tersebut sampai juga melalui telegram ke kantor berita DOMEI yang terletak di Jalan Dago.

Bari Lukman, seorang wartawan muda dari surat kabar Tjahaya, salah satu yang menyalin isi teks proklamasi. Setelah mendapat izin dari Kepala Redaktur, Moh. Kurdi, papan tersebut dipajang di depan kantor di Groote Postweg Oost (sekarang gedung Kantor Pos di Alun-alun).

Lepas tengah hari, Bari Lukman meminta bendera merah putih milik Jawa Hokokai (yang berada di sekitar Alun-alun) untuk dikibarkan di atas gedung DENIS (sekarang gedung BJB di perempatan Braga). Dia naik ke tingkat ketiga untuk mengibarkan bendera sekitar pukul satu siang.

Gedung DENIS (sekarang kantor BJB). Foto: Tropenmuseum.

Kabar Proklamasi segera menarik perhatian masyarakat. Dalam beberapa hari timbul kebingungan sekaligus kepanikan. Pihak Jepang masih berusaha menutupi berita proklamasi ini. Di lain pihak, pada 24 Agustus, antara Inggris dan Belanda mengesahkan sebuah perjanjian yang menyatakan kewenangan bagi Inggris untuk mendarat di wilayah Hindia Belanda dengan menyertakan NICA (Netherlands Indies Civil Administration).

Di pihak Indonesia, semua prajurit eks-PETA dan eks-HEIHO untuk menjadi laskar Badan Keamanan Rakyat (BKR). Oto Iskandardinata yang telah menjadi Menteri Negara membentuk BKR Jawa Barat.

September 1945

Pada 2 September, Komite Nasional Indonesia Kota Bandung mengadakan rapat besar yang menghimpun hampir 100.000 orang di Alun-alun Bandung. Di hari yang sama terjadi pengeroyokan pada mantan komisaris polisi E. Gruneveld karena mencoba menurunkan bendera Merah Putih.

Suasana di Bandung terasa sangat militan. Pada 14 September, untuk pertama kalinya terjadi tembak-menembak yang berasal dari kampung di sebrang Jl. Ciujung dan Jl. Ahmad Yani yang terarah ke Kamp Cihapit. Lokasi ini merupakan tempat orang-orang Belanda ditawan di masa invasi Jepang. Tidak jelas apa yang terjadi di balik peristiwa tembak-menembak tadi.

Oktober 1945

Suatu hari di bulan Oktober terjadi sebuah insiden di Gedung DENIS. Kejadian ini disebabkan oleh keberadaan bendera Belanda, merah-putih-biru, yang dipasang di atas gedung tersebut. Dua orang pemuda, yakni Mulyono dan Endang Karmas yang kebetulan melintas di sana langsung naik ke atas menara Gedung DENIS dan menyobek warna biru dari bendera Belanda sehingga yang berkibar tinggal warna merah dan putih. Melihat peristiwa itu tentara Belanda dan Inggris yang berada di Hotel Savoy Homann menembaki kedua pemuda tersebut.

Hotel Homman yang menjadi markas sekutu saat Bandung Awal Revolusi. Foto: Tropenmuseum.

Pada 2 Oktober, pabrik senjata di Kiaracondong diduduki oleh massa yang dipimpin oleh seorang anggota Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa) dan anggota-anggota BKR. Pada 8 Oktober, giliran Lapangan Terbang Andir diambil alih oleh mereka. Satuan penjaga Jepang dilucuti dan senjata-senjata dirampas.

Pada 10 Oktober terjadi insiden di Markas Kenpeitai (yang sekarang St. Aloysius di Jl. Sultan Agung). Pagi hari itu semestinya terjadi pengambilalihan senjata secara damai dari pihak Jepang kepada laskar pribumi. Rupanya kerumunan massa yang besar membuat sebagian laskar menjadi agresif dan malah melakukan penyerangan.

Dalam situasi genting, Jepang memanggil kepala BKR Bandung dan sejumlah pimpinan lainnya untuk berunding, namun setelah berada di dalam gedung, Jepang malah menodongkan bayonet dan memaksa mereka menyerah. Para pimpinan itu dipaksa naik tank Jepang berkeliling kota dan mendesak masyarakat agar menghentikan serangan terhadap Jepang.

Mereka kemudian bergerak menjelajahi kota Bandung dengan menggunakan tank dan berusaha merebut kembali objek-objek penting yang telah dikuasai oleh pejuang Indonesia. Hari itu senjata dirazia dan dilucuti kembali oleh tentara Jepang.

November 1945

Terutama di akhir November, berbagai badan perjuangan terus melakukan penyerangan ke markas-markas Sekutu di wilayah Bandung Utara. Hotel Homann dan Hotel Preanger merupakan beberapa sasarannya. Pertempuran-pertempuran ini berlangsung pada 21 November, sampai tiga hari ke depan.

Pada 24 November, Kota Bandung penuh dengan barikade dan rintangan-rintangan. Barikade ini terus dipertahankan oleh pemuda pejuang untuk menghambat pergerakan tentara Sekutu. Serangan malam dilaksanakan di bawah pimpinan Soetoko dan Arudji Kartawinata yang memberikan komando melalui salah satu radio milik kelompok perjuangan, “Banteng Hitam.”

Tepat pukul dua belas malam, aliran listrik dimatikan dan semua hubungan telepon diputus. Penyerangan di Bandung dimulai dari pihak Sekutu. Gedung Isola menjadi salah satu tempat pertempuran. Isola saat itu ditempati oleh Sukanda Bratamanggala dan pasukannya, mereka ditembaki oleh pasukan sekutu. Dalam tembak menembak ini tercatat bahwa Kapten Hamid dan beberapa anak buahnya gugur.

Pada 25-26 November, terjadi banjir besar di daerah Selatan di aliran sungai Ci Kapundung. Wilayah-wilayah yang terendam banjir antara lain Jl. Lengkong Besar, Jl. Sasak Gantung, Jl. Jati, dan kawasan jalan-jalan sekitar sisi kiri dan kanan Ci Kapundung.

Banjir ini banyak menelan korban jiwa. Ketika banjir surut tersisa mayat-mayat bergelimpangan. Banyak mayat yang memiliki luka bekas peluru. Hal ini membuat para pemuda marah. Kecurigaan jatuh kepada keturunan Indo yang berada di wilayah utara (di atas Ci Kapundung) yang diduga sengaja membobol pintu air di utara Bandung agar tercipta banjir.

Pada 26 November, sekelompok pemuda mengambil tindakan membunuh orang-orang Indo-Belanda yang dicurigai sebagai mata-mata. Akibatnya tejadi bentrokan-bentrokan antara pejuang Indonesia dan tentara Sekutu.
Sementara itu, sejumlah rakyat, TKR, dan laskar-laskar pejuang yang memberi pertolongan pada korban banjir di sekitar Jl. Dalem Kaum ditembaki oleh pasukan Gurkha dan jeep tentara Belanda dari arah Hotel Homann. Malam harinya beberapa pejuang membalas dengan melempar granat ke bagian belakang Hotel Homann.

Pada 27 November, ultimatum pertama dari pihak sekutu diluncurkan. Orang-orang Indonesia yang bertempat tinggal di daerah utara rel kereta api harus meninggalkan rumah mereka dan pindah ke bagian selatan Kota Bandung. Batas waktunya adalah 29 November 1945 pukul dua belas siang. Bila sampai batas waktu yang ditetapkan masih ada warga pribumi di wilayah Bandung utara, mereka akan ditembak mati.

Para pemuda pejuang memutuskan untuk tidak mengindahkan ultimatum itu. Mereka menolak untuk pindah dan membuat kantong-kantong bagi pemuda yang bertahan di beberapa daerah seperti di Sukajadi. Pihak sekutu tidak tinggal diam melihat hal ini. Mereka menembaki perkampungan yang diduga menjadi tempat persembunyian para pemuda.

Pada sore 28 November, terjadi penjarahan besar-besaran oleh kaum Belanda totok dan Indo di Bandung Utara. Inggris melakukan serangan mortir ke arah Haurpuncuh, Cihaurgeulis, Sekeloa, Sadang Serang, dan Sadang Sarip.

Desember 1945

Meski Bandung telah dibagi dua, pergerakan para pemuda tidak terpengaruh oleh pembagian ini. Para pemuda bisa tetap menyusup masuk ke Bandung Utara untuk ikut mempertahankan pos-pos perjuangan di Utara. Jalur penyusupan mereka ini melalui Cicadas, kemudian ke Cikutra, dan masuklah ke daerah Cihaurgeulis.

Pada 6 Desember terjadi pertempuran di Lengkong. Pengepungan dari pihak sekutu menggunakan pesawat terbang yang bertanda Jepang. Pesawat ini terus membom wilayah Lengkong Besar. Akibat serangan ini jalan-jalan di sekitar Lengkong Besar rusak hebat. Selain Barisan Merah Putih, dalam serangan kali ini kelompok Hisbullah Hussein juga ikut datang membantu Angkatan Pemuda Indonesia di Lengkong Besar dengan membawa serta 200 orang anak buahnya.

Tujuan serangan pihak sekutu ini adalah untuk membebaskan interniran yang letaknya di daerah API di Tuindorp (Lengkong Tengah) dan di Ciateul. Setelah semua interniran berhasil diangkut pertempuran berakhir.
Sejak terjadinya pertempuran di garis demarkasi antara utara dan selatan di sepanjang jalur kereta api, situasi di Bandung terus memanas. Bahkan sekutu juga melakukan aksi penembakan dan pengeboman kota Bandung bagian selatan.

Dalam pertempuran ini tercatat 360 orang rakyat menjadi korban dengan rincian 119 orang meninggal dunia, 82 luka berat, dan 159 luka ringan. Tidak kurang dari 100.000 orang telah meninggalkan rumah mereka akhirnya sulit menemukan tempat tinggal dan bahan makanan.

Pada 14 Desember, daerah Cicadas dibom dan ditembaki sehingga menimbulkan lubang besar seperti sumur. Pasar, rumah-rumah dan toko-toko rusak parah. Penyerangan ini dimaksudkan untuk membuka jalan bagi tank-tank sekutu yang akan membebaskan tentara Jepang di Bojongkoneng. Selain itu penyerangan ini juga dilakukan untuk menghancurkan pusat-pusat kegiatan pejuang kemerdekaan, dan mengacaukan penjagaan di batas jalan pinggiran Houtsmanstraat (sekarang Jalan Supratman).

Pada 24 Desember, pukul tujuh malam, Walikota Bandung yang sekaligus Ketua KNI Bandung, Syamsurizal, berbicara melalui RRI Bandung, menyatakan protes atas tindakan yang dilakukan sekutu di Lengkong Besar dan Cicadas. Pidato ini ditujukan kepada Panglima Tertinggi Tentara Inggris di Jawa dan Markas Besarnya di Bandung.

Januari 1946

Terjadi pertempuran hebat yang dipimpin oleh Soekiman di Haurpantjuh (sekitar Monumen Perjuangan di depan Unpad, Dipati Ukur sekarang). Dalam perang ini Soekiman tertembak bagian pahanya dan dibawa ke daerah Cikutra. Houtmanstraat (Jl. Supratman sekarang) akhirnya diduduki NICA dan menghambat jalur lintasan laskar pribumi dari selatan ke utara.

Maret 1946

Ultimatum kedua diluncurkan. Panglima AFNEI, Letnan Jendral Montagu Stophord, menghubungi PM Sjahrir dan memberikan ultimatum agar Sjahrir memerintahkan agar pasukan RI mundur dari Bandung selatan sampai radius 11 kilometer dari pusat kota Bandung sehingga hanya kalangan pemerintah sipil, polisi, dan penduduk sipil saja yang tinggal di Bandung.

Batas ultimatum ini adalah tanggal 24 Maret 1945 pukul 24.00 dan apabila sampai waktu yang ditentukan masih tidak dilaksanakan, maka pasukan Inggris akan membombardir seluruh wilayah Bandung Selatan.

Pada 20 Maret, terjadi pemboman di Tegallega yakni markas TKR Batalyon Soemarsono dan RRI Studio Bandung. Dalam serangan ini tercatat 17 orang gugur dan 18 orang luka berat dan ringan.

Stilasi Bandung Lautan Api di daerah Tegalega.

Batalyon II Resimen Kota Bandung dipimpin Soemarsono dan beberapa pihak lainnya, menghadang pasukan sekutu di Fokkerweg (Jl. Garuda) karena jalan ini menjadi akses utama datangnya bantuan dari Jakarta baik berupa bala tentara dan perlengkapan sekutu. Pada saat itu 1000 orang jumlah tentara sekutu yang menuju ke Bandung. Pasukan sekutu datang dengan iring-iringan panjang berupa truk, jip, power-wagen.

Pejuang Indonesia sempat terdesak karena tentara sekutu mendapat bantuan dari dalam Bandung yang datang dari lapangan terbang Andir. Pertempuran ini berlangsung selama 12 jam.

Dalam pertempuran ini seorang kapten Ghurka menyebrang ke pihak Republik Indonesia. Ia adalah Kapten Mirza. Kepindahannya ini membuat sejumlah anak buahnya ikut bergabung dengan pasukan pejuang Indonesia. Pasukan Indonesia berhasil merebut perbekalan termasuk pemancar radio.

Pada 22 Maret, diterima pesan dari Perdana Menteri Sjahrir yang isinya bahwa “Tentara Sekutu Inggris telah minta, supaya daerah seluas 11 Km sekeliling kota Bandung dihitung dari tengah kota harus dikosongkan dari semua orang yang bersenjata.”

24 Maret 1946: Bandung Lautan Api

Pukul sepuluh pagi, Nasution kembali dari Jakarta dengan membawa kabar hasil pertukaran pikiran di Jakarta yang menetapkan bahwa demi kepentingan diplomasi, semua orang dan pasukan yang bersenjata harus keluar dari Kota Bandung dan tidak diperbolehkan melakukan pembakaran dan perusakan.

Hal ini terkait pendapat Perdana Menteri Sjahrir yang mengemukakan bahwa “Tentara RI adalah modal yang harus dipelihara, jangan sampai hancur. TRI mesti kita bangun untuk kelak menghadapi NICA. Jangan merusak apapun karena yang akan rugi rakyat kita sendiri, yang akan susah membangunnya lagi nanti pun rakyat kita sendiri.”

See the source image
Terlihat beberapa orang yang sedang mengungsi di samping para milisi yang masih menjaga barikade.

Pukul setengah tiga sore Walikota Bandung Sjamsurizal memberikan keterangan kepada rakyat Bandung bahwa Pemerintah Kota akan tetap tinggal di kota. Namun kemudian pada pukul empat sore, pesan dari Komandan Divisi III datang, pemerintah kota harus meninggalkan Bandung sebelum pukul sepuluh malam karena seluruh kota akan dibakar dan hancurkan.

Pendapat Sjahrir terkait pelarangan pembakaran menuai protes dari sebagian pemuda. Selain itu pimpinan militer di Yogya, Sudirman, mengirimkan telegram dengan isi: “Pertahankanlah setiap jengkal daerah RI sampai titik darah penghabisan.”

Nasution terjepit di antara dua perintah itu. Maka berkumpul para pemimpin pejuang divisi III TRI. Meski tercipta debat kusir, akhirnya diputuskan bahwa:

TRI akan mundur, tapi tidak akan menyerahkan Bandung secara utuh. TRI bersama rakyat akan mengungsi ke selatan sambil melakukan bumi-hangus, inflintrasi dan gerilya ke pihak musuh.

Awalnya banyak orang yang enggan meninggalkan kota Bandung. Namun setelah didesak dan melihat bahwa pejabat kota seperti walikota, gubernur dan pejabat-pejabat lain telah meningggalkan kota ke arah selatan.

Di garis demarkasi, tentara NICA dan Ghurka melakukan penjagaan dengan senjata bermoncong bayonet. Para pemuda menjaga rakyat semampunya. Sebagian pemuda telah berbagi tugas bumi-hangus. Bakurai atau karung-karung trotil bersumbu/ detonator dibagikan. Alat-alat peledak dari gudang di Sukamiskin juga telah disebar.

Pemuda dari sekolah tinggi THS telah menyiapkan bom-bom botol. Gedung-gedung yang diperkirakan akan diambil alih Inggris telah disusupi dan dipasangi bahan peledak. Yang terbesar dipasang di Indische Restaurant.

Peledakan Indische Restaurant tepat pukul dua belas malam akan menjadi kode bagi pemuda lainnya untuk melakukan pembakaran besar-besaran. Rakyat yang kalang kabut dan mereka akhirnya berusaha membawa sebanyak yang bisa mereka bawa.

Saat warga dan pemerintah Bandung sibuk mengungsi, pihak NICA mengacaukan proses dengan memberondong pejuang dan rakyat yang tengah mengungsi dengan peluru. Ini membuat proses mengungsi menjadi tidak teratur. Di luar rencana, pada saat ini Indische Restaurant sudah meledak.

Pukul sembilan malam, terdengar ledakan sangat keras dari arah Alun-alun Bandung. Ledakan ini tidak ada dalam rencana para pemuda siang tadi. Tanpa memperhitungkan jam, ledakan pertama tadi dianggap sebagai tanda untuk memulai peledakan oleh para pemuda.

Hal ini mengacaukan rencana, sebab saat ledakan pertama masih banyak bom yang belum terpasang. Kawasan seputar markas Inggris dan Belanda belum lagi didekati. Pembakaran dan tembakan-tembakan sudah terjadi dengan dahsyatnya. Gudang minyak di Tegallega terbakar dengan hebatnya. Begitu pula di Cicadas.

Sebagian pemuda memanfaatkan kekacauan untuk menyusup ke daerah utara sampai Sukajadi dan Ciumbuleuit dengan membawa dinamit.

Pemandangan dari kekacauan inilah yang dilihat Atje Bastaman jauh di sebuah gunung di Garut, pemandangan yang memantiknya untuk menulis kolom surat kabar dengan judul “Bandung Lautan Api”.

Satu pemikiran pada “Linimasa Bandung Lautan Api dari Awal Revolusi”

  1. anak-anak didikku masih belum paham betul mengapa orang-orang Bandung mau membakar dan meninggalkan bandung
    sayang sekali paparan lebih banyak kepada hafalan siapa yang gugur dan tanggal peristiwa ini berlangsung
    padahal cerita lengkapnya juga penting
    tidak hanya di Bandung saja di Malang pun juga terjadi peristiwa bumi hangus yang tidak banyak diketahui

    Balas

Tinggalkan komentar