Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Ragam Gaya Seks dalam Istilah Sunda

yourself and your hong sang soo
Yourself and Your (2016)

Kama Sutra memiliki reputasi sebagai buku pedoman seks, meski hanya sebagian kecil dari teksnya yang membahas itu. Disusun oleh orang arif India bernama Vatsyayana sekitar antara abad kedua dan keempat Masehi, yang sampai hari ini masih berharga karena wawasan psikologisnya tentang interaksi dan skenario bercinta, dan untuk tutorial terstrukturnya.

Selain Kama Sutra, ada pula manual seks Asia Timur yang paling awal yaitu Su Nü Jing. Diperkirakan ditulis selama dinasti Han (206 SM-220 M), karya itu sudah lama hilang di Cina, tetapi diawetkan di Jepang sebagai bagian dari antologi medis Ishinpo (984). Teks yang menggambarkan bagaimana seseorang dapat mencapai umur panjang dengan memanipulasi kekuatan yin dan yang dalam tubuh melalui teknik seksual yang dijelaskan secara detail.

Buku pedoman seks lainnya, dari abad pertengahan, mencakup karya-karya Elephantis yang hilang, oleh Constantine; Ananga Ranga, koleksi karya erotis Hindu abad ke-12; dan Al-rauḍ al-atir fi nuzhat al-hatir, karya erotika dari dunia Muslim pada abad ke-16, yang dihimpun oleh Abu Abdullah Muhammad bin Umar al-Nafzawi atau Syekh Nafzawi.

On the Occasion of Remembering the Turning Gate (2002)
On the Occasion of Remembering the Turning Gate (2002)

Yang bikin saya bertanya-tanya, kenapa panduan-panduan tadi masih bisa ditelusuri, bahkan dibaca dan diamalkan? Jawaban sederhananya, menurut saya, karena ada orang yang menuliskannya. Tanpa catatan tertulis, suatu ilmu paling berharga pun cuma akan jadi angin lalu.

Membicarakan seks tampaknya masih dianggap sesuatu yang tabu, tak senonoh, bahkan menjijikan. Melupakan kalau seks itu kebutuhan dasar biologis, setara dengan makan. Lalu, kenapa kita tak bisa bebas bicara soal posisi seks seperti halnya bicara soal selera makan? Padahal, mengetahui posisi seks apa saja yang aman ketika istri hamil, misalnya, justru sesuatu yang patut dikomunikasikan.


sex style japan
Sumber: Kiyoshi Matsumoto

Saya menemukan istilah-istilah ini berseliweran di grup-grup lawak Sunda di Facebook. Sayang, tak ada penjelasan. Ketika ada yang bertanya, malah dijawab bercanda. Sementara ilustrasi di atas adalah ragam gaya seks dalam istilah-istilah Jepang, dan kita bisa tahu dengan pasti gambarannya.

Saya mungkin tak searif Vasyayana, tapi saya berusaha menuliskan sesuatu yang cuma berkeliaran liar lewat budaya oral ini. Dalam tulisan menyoal istilah Sunda, sudah ada yang menuliskan soal nama perkakas, anak binatang, cara bertani, warna, tapi tampaknya soal seks belum ada.

Dari beragam gaya seks Sunda yang saya kumpulkan ini, setidaknya ada dua penamaan istilah: pertama, aktivitas keseharian manusia, biasanya yang dilakukan orang di kampung; kedua, kelakuan suatu obyek, paling banyak mengambil dari binatang.

1. Ajul Gedang

Ini gaya paling populer, sekaligus paling ambigu. Banyak yang tahu kalau ini gaya seks, sering dijadikan bahan lelucon, tapi adakah yang tahu persis bagaimana posisi seks ini? 

"Ajul" berarti mengambil sesuatu dengan bantuan galah, biasanya digunakan ketika mengambil buah-buahan dari pohon yang tinggi. Sementara "gedang" berarti pepaya, yang dalam hal ini menyiratkan payudara.

Lalu posisi seksnya seperti apa? Dari beberapa orang yang saya tanya, malah saling berbeda, ada yang menyebut gaya yang dilakukan sambil berdiri, ada juga yang menyebut woman on top dengan si lelaki memetik payudara si perempuan.

2. Entep Sendok

Ini berarti dua sendok yang telah disusun agar rapi. Gaya yang sangat populer, yang disebut spooning. Dalam posisi seks, si perempuan membelakangi sementara si lelaki memeluk erat dari baliknya, kedua tubuh rapat saling bersentuhan.

3. Gurawil Bajing

Ada beragam istilah jatuh dalam bahasa Sunda, salahsatunya "gurawil", sering dipakai dalam bentuk "ngagurawil" atau "tigurawil". Sementara "bajing" adalah tupai.

4. Solendang Bedil

Arti harfiahnya selendang atau tali pada senapan, yang biasanya dibawa di punggung. Posisi bercintanya adalah si perempuan mengangkat satu kakinya ke pundak si lelaki.

5. Caringin Rungkad

Arti harfiahnya pohon beringin yang terjungkal dan akan tumbang. Masih belum jelas bagaimana posisi seks yang dimaksud, mungkin woman on top tapi agak miring.

6. Bopong Pengki

Arti harfiahnya membopong atau memangku pengki. Posisi seksnya dilakukan dengan berdiri, si lelaki memangku si perempuan.

7. Kuda Mabur

Kuda kabur. Masih belum jelas bagaimana posisi seks yang dimaksud, mungkin semacam doggy style.

8. Gereyem Nilem

Nilem adalah sejenis ikan tawar. Sementara gereyem itu menggelinjang.

9. Santok Bogo

Bogo adalah ikan gabus. Sementara santok itu mematuk.

10. Muranteng Monyet

Arti harfiahnya monyet yang tegang.

11. Seredet Bilik

Arti harfiahnya menggeser bilik.

12. Bangkong Sapitrong

Sapitrong adalah permainan anak berupa lompat tali, biasanya tali yang disusun dari karet gelang. Kodok main lompat tali dalam posisi seks seperti apa? Saya juga tak mengerti.

13. Bagong Nyuruduk

Arti harfiahnya babi hutan menyeruduk.

14. Gunung Urug

Arti harfiahnya gunung yang longsor.

15. Coet Beulah

Arti harfiahnya alas ulekan yang terbelah.

16. Sodok Soang

Arti harfiahnya sodokan angsa.

17. Wayang Cangegang

Arti harfiahnya wayang yang mengangkang.

18. Kolecer

Arti harfiahnya kincir angin. Gaya seks paling atraktif dan atletik, sebab antara lelaki dan perempuan mengangkat bagian bawah tubuhnya ke atas dan dengan posisi terbalik ini bercinta di udara.

19. Ngagesek Rebab

Arti harfiahnya menggesek rebab. Posisinya mirip solendang bedil, si perempuan jadi rebab dan tubuhnya agak menyamping.

20. Kopeah Dengdek

Arti harfiahnya peci miring. Posisinya mirip entep sendok, tapi dengan tingkat kemiringan yang lebih.

21. Jojodog Reyod

"Jojodog" adalah tempat duduk rendah, sering dibawa tukang dagang keliling untuk duduk. Dalam gaya seks ini, si lelaki berperan sebagai jojodog, dengan posisi duduk di antara dua sujud, dan si perempuan mendudukinya.  

22. Giriwil Jaer

"Jaer" adalah sebutan untuk ikan mujaer.

23. Babad Alas

Arti harfiahnya membabat hutan.

24. Japati Ngejat

Arti harfiahnya merpati yang ancang-ancang untuk terbang. 

*

Artikel akan terus diperbarui jika saya mendapat informasi lebih lengkapnya, jadi jika ada yang mau menambahkan atau memperjelas sangat ditunggu. Bagi yang ingin mempraktekkan gaya-gaya di atas silahkan lakukan dengan bertanggungjawab dan tidak merugikan salah satu pihak.

Yesterday wo Utatte dan Para Masokis Emosional

yesterday wo utatte anime spring 2020

Para masokis adalah ahlinya menyakiti diri. Meski dimulai dan tetap terhubung sepenuhnya dengan seks, masokisme sama kuatnya di ranah emosional. Ketakmampuan untuk keluar dari perasaan muram menandai masokisme ini. Mungkin ada lebih banyak masokis emosional ketimbang yang seksual, dan bisa jadi kita tak menyadari kecenderungan ini.

Lihat: Masokis Emosional

Selalu ada orang yang doyan makan sesuatu yang pedas, berkeringat deras dan tampak menderita tapi mengklaim kalau dia justru menikmatinya. Sambal hot jeletot bukan satu-satunya cara orang untuk menikmati sesuatu yang menyiksa diri, banyak orang suka menonton film sedih, mendengarkan musik murung atau menaiki roller coaster yang bikin jantung copot. Ini berlaku juga ketika berhubungan dengan yang lain, apalagi dalam asmara.

Foto: singyesterday.com

Yesterday wo Utatte, anime 12 episode yang tayang di musim Semi 2020 ini, memotret para masokis emosional itu. Mengikuti empat orang, dua laki-laki dan dua perempuan, yang berusaha menjalani kehidupan terbaik mereka melalui kesulitan dan kekacauan. Di sebuah daerah sekitar dekat Shinjuku, kesalahpahaman kecil menyebabkan komplikasi besar, dan berbagai perasaan mereka menjadi terjerat.

Kebanyakan anime asmara berlatar di sekolah menengah atau perguruan tinggi, tapi Yesterday wo Utatte memandu kita melalui hambatan karakter yang jauh melewati tahap itu. Dengan hari-hari terbaik mereka yang tampaknya jauh di belakang, para tokoh ini berjuang untuk memilih antara hidup di masa kini atau berpegang pada ingatan mereka yang sekarat.

rikuo shinako yesterday wo utatte anime spring 2020

Rikuo Uozumi adalah lulusan perguruan tinggi yang tak yakin tentang masa depannya. Punya hobi fotografi, dan saat ini bekerja paruh waktu di sebuah toko serba ada, sementara belum memutuskan untuk memasuki semacam karir tertentu.

Kehidupan monotonnya terpecah ketika Haru Nonaka yang nyentrik sering mampir ke minimarketnya. Dengan pembawaan yang riang, Haru sering menggodanya. Tak lama, Rikuo mengetahui kalau seorang teman kampus dan gebetannya, Shinako Morinome, pindah kembali ke kota. Timbul tekad Rikuo untuk memajukan hubungan mereka.

Rikuo sejak lama memiliki perasaan pada Shinako, tapi lebih memilih memendamnya. Apalagi sekarang, ketika dia cuma pegawai minimarket sementara Shinako telah punya pekerjaan tetap sebagai guru sekolah menengah. Meski bukan sepenuhnya pengangguran, tentu saja rasa minder menggerogoti Rikuo.

Tanpa diketahui Rikuo, Shinako membawa kenangan menyakitkan dari masa lalunya yang menahannya. Sementara itu, Haru terus mengejar Rikuo, dan menemukan kalau Rikuo, sama seperti dirinya, juga hidup sendiri dan sedang ingin melangkah keluar dari zona nyamannya ke masa depan yang penuh ketakpastian.

Masuk Rou Hayakawa, siswa sekolah menengah yang tengah megikuti persiapan masuk kuliah seni rupa, seseorang yang sudah kenal Shinako sejak kecil, dan yang akan terus saling menjerat perasaan satu sama lain. Kisah-kisah yang dibawakan oleh Yesterday wo Utatte bisa dibilang menjadi semakin rumit.

rikuo yesterday wo utatte

Sejak episode pertama, saya langsung merasa, "Anjing, ieu aing pisan!" atau istilah kerennya "relate" dengan karakter Rikuo. Terlalu banyak mikir, terlalu baik, penuh keraguan, hobi memendam perasaan, terlalu gampag menyerah dan tak cakap berhubungan dengan perempuan.

Yesterday wo Utatte seakan menjadi cermin bagi banyak penonton dan itulah sebabnya banyak orang akan dengan mudah mengaguminya, sekaligus membencinya. Namun terlepas dari apa yang kamu pikirkan tentang anime romantis pada umumnya, kamu harus mencoba Yesterday wo Utatte. Sebuah kisah kehidupan sehari-hari yang dijalani dengan 49% melihat ke belakang dan 51% menatap masa depan.

setting yesterday wo utatte anime spring 2020
Visual latar yang ciamik dari Yesterday wo Utatte

Yesterday wo Utatte sendiri adalah manga karya Kei Toume, yang memulai serialisasi di majalah manga seinen Business Jump pada tahun 1997, lalu pindah ke majalah Grand Jump pada November 2011 dan berakhir pada Juni 2015.

Baru keluar adaptasi animenya tahun ini dan latar 1990-an akhir yang melingkupi Yesterday wo Utatte ini jadi begitu nostalgik. Visualisasinya juga setara film, latar lokasi begitu detil. Ketika ponsel apalagi aplikasi chat belum hadir, kegiatan menunggu tanpa kejelasan adalah siksaan yang menghibur.

Masa lalu selalu melekat dalam pikiran, dan masa depan tetap sulit dipahami. Di persimpangan di sepanjang jalan yang saling terkait, para individu dalam Yesterday wo Utatte mengalami apa artinya melepaskan perasaan mereka yang kemarin dan merangkul perubahan yang dibawa esok.

Pada akhirnya, perbedaan yang paling relevan antara masokisme seksual dan emosional adalah bahwa aktivitas yang pertama, dalam keadaan yang tepat, akan sangat menyenangkan, sedangkan yang terakhir tidak pernah jadi apa-apa selain neraka pahit yang melelahkan.


Bucin: Kebodohan yang Diprogram Secara Biologis

vagabond lee seunggi bae suzy
Vagabond (2019)

Jantungmu berdetak sedikit lebih cepat, kelenjar-kelenjar terbuka mengeluarkan tetes peluh penuh rahasia, dan tubuhmu mulai memproduksi hormon-hormon, yang membuatmu merasa sedikit pusing tapi hangat di dalam, dan perasaan berbunga-bunga.

Kondisi ini, sialnya, jadi salah satu alasan writer's block paling konyol yang sering saya alami. Sebut saja bucin, atau kasmaran, atau jatuh cinta. Pernah karena tengah dimabuk asmara, kerjaan saya enggak beres-beres dan hampir deadline, sampai teman mengultimatum gebetan saya agar jangan membalas chat saya sebelum tugas tulisan berhasil saya rampungkan.

Sebelum-sebelumnya, saya sering sinis dan mengolok orang-orang yang lagi bucin ini, sampai saya mengalami sendiri. Maklum, saya termasuk golongan late bloomer dan pengalaman asmara yang payah. Kondisi aneh itu bikin saya bertanya-tanya, dan kegemaran saya adalah mencari jawabannya dari penjelasan ilmiah.

Kasmaran dan Banjir Hormon


Ketika kita “jatuh cinta” secara garis besar ada tiga hormon yang membanjiri otak kita, sebut Dr Helen Fisher, seorang antropolog biologi di Kinsey Institute, New York. Masing-masing terikat pada aspek yang berbeda dalam prosesnya:

  1. Testosteron dalam dorongan seksual,
  2. Dopamin dalam cinta romantis,
  3. Oksitosin dilepas saat kita membentuk keterikatan yang lebih dalam.

Ketiganya tidak menghantam kita secara berurutan, tetapi untuk keterikatan, apakah ia datang sebelum atau sesudah kita tertarik pada seseorang, membutuhkan waktu.

Hormon-hormon ini memang memiliki peran pada otak yang sedang kasmaran, sekaligus mendatangkan malapetaka. Sebagian besar kegamangan berbunga-bunga dari orang-orang yang sedang kasmaran dapat ditelusuri ke efek dopamin yang membanjiri otak. Inilah yang menyebabkan seseorang terobsesi tentang minat cinta baru mereka.

Fisher menyebutkan bahwa seseorang dapat menghabiskan hingga 85% waktunya untuk memikirkan si dia.

“Lalu ada keinginan untuk penyatuan emosional,” kata Fisher, yang juga menulis Anatomy of Love. “Ya, kamu memang ingin tidur dengannya, tetapi yang kamu inginkan adalah agar mereka menelepon, mengajakmu keluar, untuk memberi tahumu bahwa mereka mencintaimu."

500 days of summer
(500) Days of Summer (2009)

"Kamu sangat termotivasi untuk memenangkan orang ini. Area ventral tegmental, bagian otak yang mengendalikan ini, tepat di dekat area otak yang mengatur haus dan lapar," lanjut Fisher. "Ini adalah dorongan dasar manusia.”

Dopamin juga menyebabkan seseorang melihat kekasihnya benar-benar unik dan luar biasa. “Musik yang mereka suka menjadi luar biasa,” sebut Fisher. Hormon ini juga menyebabkan emosi yang kuat, baik positif maupun negatif, serta hasrat seksual, kecemasan akan adanya perpisahan dan tingkat energi yang tinggi.

Selanjutnya, dalam sebuah temuan yang mungkin tak bakal mengejutan siapa pun, keadaan jatuh cinta menghambat kemampuan seseorang untuk membuat keputusan rasional.

“Korteks prefrontal medral ventral, wilayah otak yang berfokus pada yang negatif, menjadi kurang aktif ketika mereka jatuh cinta,” kata Fisher. “Jadi mereka berfokus pada hal positif dan mengabaikan yang negatif.”

Adakah Cara Untuk Menyetop Bucin?

fallen angels wong kar wai motor
Fallen Angels (1995)

Saat kasmaran, bagian otak yang terkait dengan pengambilan keputusan menunjukkan sedikit aktivitas. Hal ini terjadi karena individu diprogram sedang melakukan sesuatu yang lebih penting.

Fisher menjelaskan bahwa kita tengah mencoba memenangkan hadiah terbesar dalam hidup: seorang pasangan kawin. Karenanya, seluruh mekanisme otak dirancang agar kita bisa mendapatkannya.

Tentu, kasmaran bakal menenang, sedikit demi sedikit, seiring berjalannya waktu.

Fisher bersama timnya membandingkan aktivitas otak orang-orang yang baru saja jatuh cinta dengan orang-orang yang telah bersama pasangannya selama rata-rata 21 tahun, dan yang menggambarkan dirinya masih “jatuh cinta”. Mereka menemukan aktivitas yang sangat mirip di area tegmental ventral otak pada kedua kelompok, dengan satu perbedaan yang signifikan.

“Di antara mereka yang baru saja jatuh cinta, kami menemukan aktivitas di wilayah terkait, saya tidak akan mengatakan ansietas, tetapi intensitas,” sebut Fisher.

“Namun di antara mereka yang telah jatuh cinta dalam jangka panjang, ada aktivitas otak yang harus dilakukan dengan ketenangan," jelas Fisher. "Anda masih ingin bercinta dengan orang tersebut, bersenang-senang dengan orang tersebut, ingin menikah lagi dengan orang tersebut, tetapi Anda tidak gelisah tentang orang itu.”

Jatuh cinta bisa sekelebat, tapi cinta bisa memanjang. “Love is not time’s fool,” tulis Shakespeare dalam sonet 116: “Love alters not with his brief hours and weeks / But bears it out even to the edge of doom.

Sebenarnya, Apa Itu Jatuh Cinta?


parasite kissing
Parasite (2019)

Psikologi hanya dapat mengungkapkan sedikit tentang mengapa kita menemukan orang-orang tertentu yang menarik. Misalnya, kita lebih cenderung jatuh cinta pada seseorang yang mirip: dari kelompok sosial ekonomi, tingkat ketertarikan, pendidikan, dan latar belakang agama yang sama.

“Saya akan memberi tahu Anda sesuatu yang Anda tidak ingin tahu: secara statistik Anda lebih mungkin untuk menikah dengan seseorang yang secara fisik tampak seperti orang tua lawan jenis Anda,” sebut Madeleine Fugère, profesor psikologi di Eastern Connecticut State University.

Pemicu lain yang menarik adalah warna merah, yang ketika dikenakan oleh orang-orang yang lebih muda meningkatkan daya tarik mereka kepada pasangan. Ada juga akibat siklus menstruasi perempuan, yang memengaruhi tipe pria yang akan menarik minatnya. Selama ovulasi, perempuan tertarik pada pria dengan perawakan yang lebih maskulin, tapi ketika tidak sedang berovulasi, perempuan cenderung memilih pria yang terlihat tak terlalu maskulin.

Namun gagasan bahwa ada cara ilmiah untuk memahami secara tepat apa yang membuat beberapa orang menarik bagi kita dan orang lain tidak, atau gagasan bahwa kita dapat jatuh cinta dengan siapa pun yang punya cukup keintiman dengannya, menurut Fugère, adalah sesuatu yang menggelikan.

Terlepas dari semua yang kita ketahui tentang psikologi tarik-menarik, masih ada banyak misteri dalam pertanyaan tentang siapa yang kita cintai, sebut Fugère. “Ada hal-hal tak sadar lain yang mendorong ketertarikan kita pada orang lain dan kita tidak tahu apa itu.”

Mengambil Risiko Untuk Jatuh Cinta


the science of sleep garcia bernal
The Science of Sleep (2006)

Diperkirakan satu dari empat hubungan hari ini tercipta dari dunia online. Kita belajar banyak tentang seseorang sebelum bertemu mereka, dan perkembangan tradisional dari ketertarikan menuju hubungan telah bergeser bagi banyak orang.

“Kencan online adalah semua tentang kata-kata dan foto,” sebut Kate Taylor, seorang pakar hubungan di Match. “Jadi ini memungkinkan Anda mengembangkan sebuah hubungan dan ketertarikan berdasarkan faktor-faktor seperti minat bersama, selera humor yang nyambung dan kecerdasan. Ketika kita jatuh cinta secara offline, banyak faktor yang lebih kompleks ikut bermain: aroma, feromon, hormon dan itu jauh lebih merupakan sebuah proses yang primal dan misterius.”

Karena cinta begitu misteri, Fugère mengatakan bertemu dengan banyak orang sangat penting. Dia juga memiliki semacam tip licik: orang lebih cenderung jatuh cinta jika jantung mereka berpacu dan suhunya naik.

“Kita sudah tahu jika Anda pergi berkencan menaiki roller coaster dengan seseorang yang sudah menaruh hati pada Anda, mereka akan lebih mungkin jatuh cinta pada Anda,” katanya. “Ini bekerja dengan apa pun yang menggairahkan – bungee jumping, pendakian, segala yang benar-benar membuat jantung Anda berdetak.”

Nasihat Fisher hampir serupa: “Jika Anda benar-benar ingin jatuh cinta dengan seseorang, lakukan hal-hal baru bersama-sama – lakukan pendakian, naiki sepeda Anda untuk makan malam daripada naik mobil, pergi ke opera, bermain ski, melakukan perjalanan ke Paris saat akhir pekan, berhubungan seks di ruangan yang berbeda. Kebaruan, kebaruan, kebaruan. Ini mendorong dopamin di otak dan dapat mendorong Anda melewati ambang pintu ke dalam cinta.

Pada akhirnya, cinta adalah satu bagian kemanusiaan kita yang begitu luas sehingga seni dan budaya dipenuhi dengan beragam referensi pada hal ini. Jatuh cinta adalah jalan masuknya. Kita berhutang banyak pada kesuksesan kita sebagai spesies manusia berkat hal mungil yang gila yang disebut cinta ini.

*

Referensi:
  • Fisher, Helen. (2016). Anatomy of Love: A Natural History of Mating, Marriage, and Why We Stray
  • Lyons, Kate & Peter Kimpton. (12 Februari 2016). How do I...fall in love. The Guardian.

Masokis Emosional

shinji ikari evangelion

Selalu ada orang yang doyan makan sesuatu yang pedas, berkeringat deras dan tampak menderita tapi mengklaim kalau dia benar-benar menikmatinya. Sambal hot jeletot bukan satu-satunya cara orang untuk menikmati sesuatu yang menyiksa diri, banyak orang suka menonton film sedih, mendengarkan musik murung atau menaiki roller coaster yang bikin jantung copot.

Fenomena ini disebut benign masochism, sebuah istilah yang diciptakan oleh psikolog University of Pennsylvania Paul Rozin dan Kendra Pierre-Louis. Masokisme jinak ini merujuk pada daftar kegiatan yang tampaknya tidak menyenangkan yang banyak orang hindari, namun malah dinikmati. Rozin menjelaskan mengapa dalam makalahnya untuk jurnal Judgment and Decision Making berjudul 'Glad to be sad, and other examples of benign masochism':
Masokisme jinak merujuk pada menikmati pengalaman negatif yang awalnya diartikan tubuh (otak) sebagai ancaman. Kesadaran bahwa tubuh ini telah dibodohi, dan bahwa tidak ada bahaya nyata, mengarah pada kesenangan yang berasal dari 'pikiran atas tubuh.'
Istilah masokis ini berasal dari nama Chevalier Leopold von Sacher-Masoch, seorang Austria yang banyak menulis tentang kepuasan yang didapatnya dengan dipukuli dan diperlakukan layaknya budak. Umumnya masokis mempertahankan kontrol atas situasi dan akan mengakhiri perilaku kasar sebelum menjadi terluka parah. 

Konsep yang bisa diterapkan pada pengalaman fisik negatif dari tindakan-tindakan seperti ketika lidah kita terbakar berkat bumbu cabai merah atau sensasi jatuh di luncuran roller coaster.

Masokisme Perasaan

Meski fenomena masokisme dimulai dan tetap terhubung sepenuhnya dengan seks, ia sama kuatnya di ranah emosional. Mungkin ada lebih banyak masokis emosional ketimbang yang seksual, dan bisa jadi kita tak menyadari kecenderungan ini.

Yang menandai masokis adalah ketidakmampuan mereka untuk keluar dari perasaan muram. Dalam hubungan romantis, atau bahkan segala jenis hubungan interpersonal lain, masokisme bisa berujung berbahaya. Mereka tidak bisa membayangkan hidup tanpa orang lain yang membuat hidupnya tak tertahankan. Ambil dua mitra potensial. Opsi satu sifatnya baik dan dapat diandalkan, tak rumit dan baik hati, pokoknya prospek yang sempurna. Yang lainnya adalah tantangan dan bencana. Apakah kamu akan lebih memilih opsi kedua? Jika demikian, kamu menunjukkan kecenderungan masokis emosional.

Saya sendiri tampaknya masuk golongan masokis itu. Dengan tambahan insekuritas, entah kenapa saya sering berpikir ketika dihadapkan pada prospek yang terlampau sempurna justru saya sering merasa kalau itu sesuatu yang harus dihindari, sesuatu yang tak mungkin bakal saya terima.

Masokis emosional mencari hubungan yang rumit berulang kali. Secara tidak sadar, mereka percaya bahwa ketakutan, seringkali ketakutan kehilangan seseorang, memicu hasrat dan keinginan. Keakraban justru merusak fantasi jatuh cinta, sebuah tantangan, bagaimanapun, membuat indra itu kelebihan beban. Jika semuanya indah setiap saat, mereka pikir akan cepat bosan.

Masokis emosional dapat dibagi menjadi tiga kategori: mereka yang mencari situasi yang menantang (berkencan dengan yang sudah menikah, misalnya); mereka yang mencari kepribadian yang menantang (seperti mencari pasangan yang depresi), dan mereka yang menciptakan tantangan dan yang menghasut perpecahan padahal tak ada yang salah, hanya untuk mencapai sensasi tersiksa.
Seperti halnya masokisme seksual, masokisme emosional berakar pada kecurigaan diri. Sisi yang kuat dari mereka mencurigai bahwa mereka tidak lebih dari tai. Jika seseorang memasuki orbit mereka dan mengatakan sebaliknya, jika mereka mulai memuji mereka, para masokis emosional mungkin malah tersedak rasa jijik karena menganggap mereka tidak memahami kebenaran sesungguhnya. Masokis emosional sebagai gantinya akan dengan kuat mengarahkan energi mereka ke arah hubungan dengan orang-orang yang perilakunya akan sesuai dengan penilaian diri mereka sendiri: mereka yang punya jaminan bakal bertindak sarkastik, tidak setia atau dingin.

Pada akhirnya, perbedaan antara masokis seksual dan emosional adalah bahwa yang pertama cenderung mengetahui dengan baik bahwa inilah mereka. Untuk berhenti menjadi masokis emosional, oleh karena itu penting untuk mulai melihat cara-cara ketika seseorang terlibat dalam sabotase diri dan telah membuat semacam komitmen bawah sadar untuk kesepian dan frustrasi. Terkadang diperlukan pengamat luar untuk menganalisis masalah dan melihat apa yang terjadi. Ini pola yang sulit dikenali, tetapi begitu kita menemukannya, jauh lebih mudah untuk dicari penyelesaiannya.

Saya sendiri dilabeli masokis emosional ketika curhat karena habis patah hati. Sebelumnya saya belum tahu istilah ini. Seringnya ketika berhadapan dengan perasaan-perasaan baru dan tak dikenal, saya bakal mencari penjelasan ilmiahnya, dan entah kenapa selalu merasa tenang setelahnya. Maka saya cari penjelasan masokisme emosional ini.

Perbedaan yang paling relevan antara masokisme seksual dan emosional adalah bahwa aktivitas yang pertama, dalam keadaan yang tepat, akan sangat menyenangkan, sedangkan yang terakhir tidak pernah jadi apa-apa selain neraka pahit yang melelahkan.

Kita berhutang pada diri kita sendiri untuk mulai melihat bahwa kita mungkin sudah terlalu lama menahan diri, bukan karena kekusutan atau kebutuhan apa pun, hanya karena masa lalu kita secara tidak adil telah mengilhami kita dengan perasaan yang mengerikan, dan mengarahkan diri pada kecenderungan masokis emosional tadi. Hidup adalah yang pantas kita dapatkan. Meski perlu dicatat, beberapa orang mungkin berkembang ketika hidup mereka adalah roller coaster emosional.

Kekerasan Emosional Bernama Ghosting


Tiap kisah cinta punya kesempatan berbalik jadi kisah horor ini. Awalnya 500 Days of Summer, berakhir jadi Midsommar. Kisah horor ini begitu akrab bagi manusia kiwari, berlaku bagi siapa saja. Meski tanpa monster buruk rupa ala Lovecraft atau penampakan semacam Kuntilanak, kisah ini sama seramnya. Dalam cerita horor ini, jika kita dapat peran sial jadi korban, kita bakal dibiarkan nelangsa, dibikin bingung dan terjebak perasaan tersiksa.

Cerita hantu itu terus bermekaran. Premisnya selalu sama, kamu percaya ada yang betul-betul memperhatikanmu, apakah itu seorang teman atau seseorang yang lebih dari itu, tapi kemudian lenyap tanpa penjelasan. Tak ada lagi panggilan telepon tiba-tiba, tak ada pesan, tak ada notifikasi DM, bahkan sekadar emoticon pun tak muncul. Namun anehnya, kita terus menunggu hantu yang tak akan melancarkan penampakan lagi.

Ghosting bukan konsep anyar, ini hanya istilah baru untuk sesuatu yang telah dilakukan manusia dari dulu: hilang tanpa kabar. Kemunculan internet dan media sosial, dari Facebook, Instagram, Twitter, sampai beragam aplikasi pesan, membuat kisah horor ini lebih biasa. Di era digital ini, bukankah kita hanya bayang-bayang piksel dari diri kita sendiri? Tak berbeda jauh seperti hantu. Mudah untuk terhubung, dan mudah pula untuk menghilang.

Survey dalam situs kencan Plenty of Fish pada 2016 menunjukkan bahwa 78% milenial pernah di-ghosting. Meski ghosting terbilang lumrah, tapi efek emosionalnya bisa destruktif. Salah satu aspek paling berbahaya adalah menyebabkanmu bukan hanya mempertanyakan validitas hubungan yang kamu miliki, tapi menyebabkan kamu mempertanyakan dirimu sendiri.

Kita dibiarkan bergulat dengan pertanyaan yang belum terselesaikan sendirian. Tak adanya jawaban pasti akan membuat kita bertanya-tanya, "Aing salah apaan ya?" Kemudian berlanjut dari "Gue pasti yang bikin kesalahan" sampai "Aku emang ga guna." Dan sebelum kita menyadarinya, kita terjebak dalam lingkaran pernyataan menyalahkan diri.

Ghosting tidak memberi kita semacam petunjuk untuk bagaimana kita bereaksi. Dia menciptakan ambiguitas, sekaligus semacam penolakan sosial. Naomi Eisenberger, seorang professor psikologi, merasa penasaran bahwa kita sering menggambarkan ditolak dalam hal rasa sakit fisik: 'Patah hati', 'Aku merasa hancur', atau 'Dia menyakiti perasaanku'. Lebih dari sekadar metafora, ungkapan-ungkapan ini tampaknya menangkap sesuatu yang penting, bahwa ada hubungan antara penolakan dan rasa sakit fisik.

Menurut Eisenberger, sepanjang sejarah, kita bergantung pada orang lain untuk bertahan hidup: mereka memelihara kita, membantu mengumpulkan makanan dan memberikan perlindungan terhadap predator dan suku musuh. Hubungan sosial benar-benar membuat kita tetap hidup. Seperti halnya rasa sakit fisik, rasa sakit akibat penolakan juga berevolusi sebagai sinyal ancaman bagi kehidupan kita.

Secara ilmiah, penolakan sosial terbukti mengaktifkan jalur rasa sakit yang sama di otak dengan rasa sakit fisik. Sebuah penelitian bahkan mengungkapkan bahwa kita dapat mengurangi rasa sakit emosional ini dengan obat penghilang rasa sakit seperti Tylenol.

Bagi banyak orang, ghosting dapat menyebabkan perasaan tidak dihargai, menganggap diri cuma alat yang bisa digunakan dan dibuang begitu saja. Jika kamu telah mengenal orang tersebut lebih dari beberapa kencan maka itu bisa menjadi lebih traumatis. Ketika seseorang yang kita cintai dan percayai lepas dari kita, rasanya seperti sebuah pengkhianatan mendalam.

Tidak ada yang suka di-ghosting. Jadi mengapa banyak dari kita yang melakukannya? Sebuah studi tahun 2018 dalam Journal of Social and Personal Relationships melaporkan bahwa 20 persen dari sekitar 1.000 responden mengakui melakukan ghosting. Fenomena ghosting ini melahirkan lingkaran setan, seorang korban bisa berubah jadi pelaku.

Orang-orang yang hantu terutama berfokus pada menghindari ketidaknyamanan emosional mereka sendiri dan mereka tidak berpikir tentang bagaimana hal itu membuat orang lain merasa.
Ebony Utley, professor kajian komunikasi di Long Beach State University berhati-hati untuk tidak melabeli pelaku yang melakukan ghosting sebagai pengecut. "Banyak dari kita berpikir bahwa mereka hanyalah orang yang mengerikan,” katanya, “tetapi saya pikir banyak pelaku tidak ingin melukai perasaan orang lain." Namun Utley menegaskan tidak ingin membuat ghosting sebagai perilaku baik-baik saja.

Memang bukan pekerjaan mudah untuk menjelaskan kepada seseorang mengapa kita tidak tertarik pada mereka, tetapi bahkan penjelasan singkat jauh lebih baik ketimbang tidak sama sekali. Menutup sebuah hubungan secara terbuka lebih baik untuk kesehatan: Mengungkap perasaanmu, secara fisiologis, dapat menurunkan tekanan darah dan mengurangi stres.

Jika kamu kebetulan jadi korban ghosting, selalu ingatkan diri bahwa itu bukan kesalahanmu, dan hindari pula menyalahkan yang lain. Kebalikan cinta bukanlah benci, melainkan pengabaian. Semoga, ketika kita melewati pengalaman semacam ini, kita menjadi sedikit lebih arif dan sedikit lebih tangguh. Kita akan segera melihat bahwa hidup ini hanya serangkaian pertemuan dan perpisahan. Bahwa segala sesuatu akan selalu berakhir pada titik tertentu. Kita akan melihat betapa tidak sehatnya mendefinisikan diri kita lewat laku orang lain.

La La Land (2016): Sebuah Tafsiran Leninis


Di antara kecaman political correctness terhadap La La Land-nya Damien Chazelle, yang paling menonjol karena ketololannya adalah tidak adanya pasangan gay dalam film yang berlokasi di LA, sebuah kota dengan populasi gay yang tinggi… Kenapa pula orang-orang Kiri yang mengeluh soal political correctness tentang sub-representasi minoritas seksual dan etnis di film-film Hollywood tidak pernah mengeluh tentang representasi kacangan dari mayoritas pekerja kelas bawah? Tidak apa-apa jika para buruh tidak terlihat, asalkan di sana ada karakter gay atau lesbian…

Saya ingat kejadian serupa pada konferensi pertama mengenai ide Komunisme di London pada tahun 2009. Beberapa orang secara terang-terangan menyuarakan keluhan bahwa hanya ada satu wanita di antara para peserta, ditambah tidak ada orang kulit hitam dan tidak ada orang Asia, yang kemudian dikomentari Badiou bahwa aneh rasanya tidak ada yang terganggu oleh kenyataan bahwa tidak ada perwakilan buruh di antara para peserta, terutama karena topiknya adalah Komunisme.

Dan, kembali ke La La Land, kita harus ingat bahwa film tersebut dibuka tepat dengan penggambaran ratusan pekerja tak tetap dan/atau yang menganggur sedang dalam perjalanan mereka ke Hollywood untuk mencari pekerjaan yang akan melejitkan karir mereka. Lagu pertama (“Another Day of Sun“) menampilkan mereka bernyanyi dan menari untuk mengisi waktu saat mereka terjebak dalam kemacetan di jalan tol. Mia dan Sebastian, yang termasuk di antara mereka, masing-masing berada di dalam mobilnya, adalah dua orang yang akan sukses—sebuah pengecualian (yang benar-benar kentara). Dan, dari sudut pandang ini, jatuh cinta mereka (yang akan memungkinkan kesuksesan mereka) memasukkan cerita dengan tepat untuk mengaburkan latar belakang yang tak terlihat dari ratusan orang yang akan gagal, sehingga tampak bahwa itu adalah cinta mereka (dan bukan keberuntungan belaka) yang membuat mereka berdua istimewa dan ditakdirkan untuk sukses. Persaingan yang kejam adalah nama permainannya, tanpa sedikit pun ada solidaritas (ingat banyak adegan audisi dimana Mia berulang kali dipermalukan). Tak heran jika, ketika saya mendengar lagu pertama dari lagu paling terkenal dari La La Land (“City of stars, are you shining just for me / city of stars, there is so much that I can’t see“), saya sulit untuk menahan godaan untuk bersenandung dengan balasan jawaban a la Marxis ortodoks paling konyol yang bisa dibayangkan: “Tidak, aku tidak bersinar hanya untuk perseorangan petit-borjuis ambisius, aku bersinar untuk ribuan pekerja yang dieksploitasi di Hollywood yang tidak dapat Anda lihat dan yang tidak akan sukses seperti Anda, untuk memberi mereka harapan!”

Mia dan Sebastian memulai hubungan dan melangkah bersama, tapi mereka berjalan terpisah karena nafsu mereka untuk sukses: Mia ingin menjadi aktris sementara Sebastian ingin memiliki klub di mana dia akan bermain jazz otentik yang kolot. Pertama, Sebastian bergabung dengan band pop-jazz dan menghabiskan waktunya menjalani tur, kemudian, setelah pemutaran perdana monodrama Mia yang gagal, Mia meninggalkan Los Angeles dan pulang ke Boulder City. Sendirian di LA, Sebastian menerima telepon dari seorang direktur casting yang hadir dan menikmati penampilan Mia, dan mengundang Mia untuk mengikuti audisi film. Sebastian berkendara ke Boulder City dan membujuk Mia untuk kembali. Mia hanya diminta menceritakan sebuah cerita untuk audisi; Dia mulai bernyanyi tentang Bibinya yang menginspirasinya untuk mengejar karier di akting. Yakin bahwa audisi itu sukses, Sebastian menegaskan bahwa Mia harus mengabdikan dirinya sepenuh hati dalam kesempatan itu. Mereka mengaku mereka akan selalu saling mencintai, namun tidak yakin akan masa depan mereka. Lima tahun kemudian, Mia adalah seorang aktris terkenal dan menikah dengan pria lain, yang dengannya dia memiliki anak perempuan. Suatu malam, pasangan itu menemukan sebuah bar jazz. Melihat logo Seb, Mia menyadari Sebastian akhirnya membuka klubnya sendiri. Sebastian melihat Mia, tampak gelisah dan menyesal, di antara kerumunan dan mulai memainkan tema cinta. Ini mendorong sebuah urutan mimpi yang panjang dimana keduanya membayangkan hubungan sempurna yang mungkin saja mereka jalani. Lagu itu berakhir dan Mia pergi bersama suaminya. Sebelum berjalan keluar, Mia berbagi pandang dan senyum terakhir dengan Sebastian, bahagia karena mimpi yang mereka berdua telah capai.

Seperti yang telah dicatat oleh banyak kritikus, fantasi di 10 menit terakhir hanyalah sebuah versi musikal Hollywood dari film ini: yang menunjukkan bagaimana ceritanya jika disajikan dalam film musikal Hollywood klasik. Pembacaan semacam itu menegaskan refleksivitas filmnya: ia ditampilkan dalam film untuk menggambarkan bagaimana film tersebut harus diakhiri berkenaan dengan formula genre yang terkait dengannya. La La Land jelas merupakan film refleksif pada dirinya, sebuah film bergenre musikal, tapi bekerja mandiri; Kita tidak perlu tahu sejarah utuh film musikal untuk menikmati dan memahaminya (seperti yang ditulis Bazin tentang Limelight-nya Chaplin: ini merupakan film reflektif tentang karir lama Chaplin, tapi bekerja mandiri; seseorang tak perlu tahu karir awal Chaplin sebagai gelandangan untuk menikmati film ini). Menariknya, semakin kita mengikuti alur film ini, semakin sedikit porsi musikal di dalamnya dan semakin banyak mengarah pada (melo)drama murni  – sampai, pada akhirnya, kita dilemparkan kembali ke dalam musikal yang meledak sebagai sebuah fantasi.

Terlepas dari referensi yang jelas pada film musikal lainnya, referensi Chazelle yang paling terasa adalah tipikal film komedi musikal Rogers/Astaire klasiknya Sandrich Top Hat (1935). Ada banyak hal bagus untuk diungkapkan tentang Top Hat, dimulai dengan peran tari ketuk sebagai intrusi yang mengganggu dalam rutinitas kehidupan sehari-hari (latihan Astaire menari di lantai hotel di atas kamar Ginger Rogers, yang membuatnya mengeluh, sehingga membawa pasangan ini bertemu). Dibandingkan La La Land, yang paling nampak adalah betapa datarnya keseluruhan psikologis Top Hat yang tanpa kedalaman, hanya akting layaknya boneka yang bahkan melingkupi momen paling intim sekalipun. Lagu terakhir dan pementasannya (“Piccolino”) sama sekali tidak berhubungan dengan akhir ceritanya yang bahagia; Kata-kata dalam lirik lagu tersebut bersifat referensial pada dirinya, hanya menceritakan bagaimana lagu ini lahir dan mengundang kita untuk menari: “Di perairan Adriatik / Bocah pria dan gadis Venesia / Sedang memetik irama baru pada gitar mereka / Ditulis oleh seorang Latin / Seorang penjaga gondola tengah duduk / Rumahnya di Brooklyn dan sedang menatap bintang-bintang // Dia mengirim melodinya / Melintasi laut / Ke Italia / Dan kami tahu / Mereka menulis beberapa kata hanya agar sesuai / Sedikit menarik / Dan membaptisnya / Piccolino // Dan kita tahu itulah alasannya / Mengapa semua orang musim ini / Memetik dan menyodorkan sebuah melodi baru. // Datanglah ke kasino / Dengarkan mereka memainkan Piccolino / Menari bersama bambino / Piccolino yang mudah diingat / Minumlah segelas vino / Dan saat Anda meminum skalopino / Buat mereka memainkan Piccolino / Piccolino yang mudah diingat / Dan menari mengikuti alunan melodi baru / Piccolino.” Dan ini aslinya dari film ini: bukan plot konyol tapi musik dan tarian ketuk sebagai tujuan sendiri. Sejalan dengan Red Shoes-nya Andersen, sang protagonis tidak bisa menahan tarian-tarian: baginya ini dorongan yang tak tertahankan. Dialog nyanyian antara Astaire dan Rogers, bahkan yang paling sensual (seperti dalam tarian terkenalnya “Cheek to Cheek”) hanyalah dalih untuk peragaan tarian musikal.

La La Land mungkin tampak lebih unggul dari peragaan semacam itu karena ia hidup dalam realisme psikologis: realitas masuk ke dunia mimpi musikal (seperti film-film superhero terbaru yang memasukkan kompleksitas psikologis protagonisnya, trauma dan keraguan batinnya). Tapi penting untuk dicatat bagaimana kisah realis yang harus diakhiri dengan pelariannya ke fantasi musikal. Lantas apa yang terjadi di akhir film?

Pembacaan Lacanian mula-mula dan yang paling nampak akan melihat plotnya sebagai variasi lain dalam tema “tidak ada hubungan seksual”. Kesuksesan karier dari dua protagonis yang justru merobek hubungan mereka berdua seperti es yang menubruk Titanic di film Cameron: mereka ada di sini untuk menyelamatkan impian cinta (dipentaskan dalam khayalan terakhir), yaitu untuk menutupi kemustahilan imanen cinta mereka, fakta bahwa, jika mereka tetap bersama, mereka akan berubah menjadi pasangan penuh penyesalan. Akibatnya, versi terakhir dari film ini adalah pembalikan situasi terakhir: Mia dan Sebastian bersama dan menikmati kesuksesan profesionalnya, namun hidup mereka hampa, jadi mereka pergi ke klub dan memimpikan sebuah fantasi di mana mereka tinggal. Bahagia bersama hidup sederhana, karena mereka berdua meninggalkan karir mereka, dan (dalam mimpi dalam mimpi) mereka membayangkan membuat pilihan yang berlawanan dan secara romantis mengingat kesempatan yang terlewat dalam hidup mereka bersama-sama…

Kita menemukan pembalikan yang serupa pada Family Man (Brett Ratner, 2000). Jack Campbell, seorang eksekutif lajang Wall Street, pada malam Natal bahwa mantan pacarnya, Kate, meneleponnya setelah bertahun-tahun. Pada Hari Natal, Jack bangun di sebuah kamar di pinggiran kota New Jersey bersama Kate dan dua anak; Dia bergegas kembali ke kantor dan kondominiumnya di New York, tapi teman dekatnya tidak mengenalinya. Dia sekarang menjalani kehidupan yang bisa dia dapatkan, tinggal dengan kekasihnya itu—kehidupan keluarga yang sederhana, di mana Jack adalah salesman ban mobil di kantor ayah Kate dan Kate adalah pengacara nirlaba. Saat Jack akhirnya menyadari nilai sebenarnya dari kehidupan barunya, pencerahannya itu membalikannya pada kehidupan pribadinya yang kaya pada Hari Natal. Jack tidak menutup kesepakatan akuisisi besar untuk mencegat Kate yang juga fokus pada karirnya dan menjadi pengacara perusahaan yang kaya raya. Setelah Jack tahu bahwa Kate hanya meneleponnya untuk mengembalikan beberapa barang miliknya karena Kate pindah ke Paris, Jack berlari mengejarnya di bandara dan menggambarkan keluarga mereka di alam semesta alternatif dalam upaya memenangkan kembali cintanya. Kate setuju untuk minum secangkir kopi di bandara, menunjukkan bahwa mereka akan memiliki masa depan… Jadi, apa yang kita dapatkan adalah solusi kompromis yang terburuk: keduanya akan menggabungkan yang terbaik dari kedua dunianya, tetap menjadi kapitalis kaya tapi di saat yang sama sebagai pasangan yang penuh kasih dengan kepeduliaan pada kemanusiaan… Singkatnya, mereka akan tetap menyimpan kue dan memakannya, seperti yang mereka katakan, dan La La Land setidaknya menghindari optimisme murahan ini.

Jadi keefektifan apa yang terjadi di akhir film? Tentu saja, bukan berarti Mia dan Sebastian memutuskan untuk lebih memilih karir mereka ketimbang hubungan cinta mereka. Yang paling sedikit yang harus ditambahkan adalah mereka berdua menemukan kesuksesan dalam karir mereka dan mencapai impian mereka karena hubungan yang mereka miliki, sehingga cinta mereka adalah semacam mediator yang lenyap: tidak jadi hambatan bagi kesuksesan mereka, justru hal itu “menengahi”. Begitu juga film tersebut menumbangkan formula Hollywood untuk menghasilkan pasangan yang keduanya memenuhi impian mereka, tapi BUKAN sebagai pasangan? Dan apakah subversi ini lebih dari sekadar preferensi narsisistik posmodern tentang pemenuhan pribadi ketimbang Cinta? Dengan kata lain, bagaimana jika cinta mereka bukan Pengalaman Cinta sejati? Ditambah lagi, bagaimana jika “mimpi” karir mereka bukan pengabdian kepada alasan murni seni sejati tapi hanya mimpi karir? Jadi, bagaimana jika tidak ada klaim bersaing (karir, cinta, dll.) benar-benar menampilkan komitmen tanpa syarat yang mengikuti Peristiwa sejati? Cinta mereka tidak sejati, karir yang mereka kejar hanya sebatas itu — bukan komitmen artistik penuh. Singkatnya, pengkhianatan Mia dan Sebastian lebih dalam daripada memilih satu alternatif untuk merugikan yang lain: seluruh hidup mereka sudah menjadi pengkhianatan terhadap eksistensi yang benar-benar otentik. Inilah sebabnya mengapa ketegangan antara kedua klaim tersebut bukanlah dilema eksistensial yang tragis namun ketidakpastian dan osilasi yang sangat lembut.

Pembacaan seperti itu terlalu sederhana, karena mengabaikan teka-teki fantasi terakhir: Fantasi siapa ini, Sebastian atau Mia? Apakah Mia (dia adalah pengamat-pemimpi), keseluruhan mimpi terfokus pada takdirnya pergi ke Paris untuk syuting film, dll? Terhadap beberapa kritikus yang mengklaim bahwa film itu bias laki-laki, yaitu bahwa Sebastian adalah pasangan aktif dalam hubungan tersebut, harus ditegaskan bahwa Mia adalah titik pusat subjektif dari film ini: pilihannya jauh lebih milik Mia daripada milik Sebastian, yang mana karena itulah, di akhir film, Mia adalah bintang besar dan Sebastian, yang bukan lagi seleb, hanyalah pemilik klub jazz (juga menjual ayam goreng) yang cukup sukses. Perbedaan ini menjadi jelas saat kita mendengarkan dengan seksama kedua percakapan antara Mia dan Sebastian saat salah satu dari mereka harus menentukan pilihannya. Ketika Sebastian mengumumkan kepada Mia bahwa dia akan bergabung dengan band dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tur, Mia tidak mengajukan pertanyaan tentang apa artinya ini bagi mereka berdua; Sebagai gantinya, Mia bertanya kepadanya apakah ini yang benar-benar Sebastian inginkan, yaitu, jika dia senang bermain dengan band ini. Sebastian menjawab bahwa orang-orang (publik) menyukai apa yang dia lakukan, jadi permainannya dengan band ini berarti pekerjaan tetap dan karir, dengan kesempatan untuk menyisihkan uang dan membuka klub jazz-nya. Tapi Mia bersikeras meluruskan pertanyaan sebenarnya adalah keinginan Sebastian: apa yang mengganggu Mia bukanlah, jika Sebastian memilih karirnya (bermain dengan band), Sebastian akan mengkhianati Mia (hubungan cinta mereka), tapi bukan itu, jika Sebastian memilih karir ini, Sebastian akan mengkhianati dirinya sendiri, panggilan sejatinya. Dalam percakapan kedua yang terjadi setelah audisi, tidak ada konflik dan tidak ada ketegangan: Sebastian segera menyadari bahwa dalam tindakan Mia ini bukan kesempatan karir semata tapi panggilan sejati, sesuatu yang harus Mia lakukan untuk menjadi dirinya sendiri, sehingga meninggalkannya akan merusak basis kepribadian Mia. Tidak ada pilihan di sini antara cinta dan panggilannya: dalam arti yang paradoks namun sangat masuk akal, jika Mia meninggalkan prospek aktingnya agar dapat tinggal bersama Sebastian di LA, Mia juga akan mengkhianati cinta mereka sejak cinta mereka tumbuh dari komitmen bersama mereka terhadap suatu Penyebab.

Di sini kita tersandung pada masalah yang dilewati oleh Alain Badiou dalam teorinya tentang Peristiwa. Jika subjek yang sama ditangani oleh banyak Peristiwa, mana yang harus diprioritaskan? Katakanlah, bagaimana seharusnya seorang seniman memutuskan apakah dia tidak bisa mempertemukan kehidupan cintanya (membangun kehidupan bersama dengan pasangannya) dan dedikasinya terhadap seni? Kita harus menolak persyaratan dari pilihan ini. Dalam dilema yang otentik, seseorang seharusnya tidak memutuskan antara Penyebab dan cinta, antara kesetiaan dengan satu atau kejadian lainnya. Hubungan otentik antara Penyebab dan cinta lebih paradoks. Pelajaran dasar dari Rhapsody-nya King Vidor adalah bahwa, untuk mendapatkan kasih sayang perempuan tercintanya, lelaki tersebut harus membuktikan bahwa dirinya mampu bertahan tanpa dia, bahwa si lelaki lebih menyukai misinya atau profesinya ketimbang pada si perempuan. Ada dua pilihan langsung: (1) karir profesionalku adalah hal yang paling penting bagiku; perempuan itu hanya sebatas hubungan yang menghibur sekaligus mengganggu; (2) perempuan itu segalanya bagiku; aku siap untuk mempermalukan diriku sendiri, untuk meninggalkan semua martabat publik dan profesionalku untuknya. Keduanya salah, karena keduanya mengarah pada lelaki yang ditolak oleh perempuan tersebut. Pesan cinta sejati adalah: bahkan jika kamu segalanya bagiku, aku dapat bertahan tanpamu dan aku siap untuk meninggalkanmu untuk misi atau profesiku. Cara yang tepat bagi perempuan untuk menguji cinta lelaki itu adalah dengan “mengkhianati” dia pada saat penting dalam karirnya (konser publik pertama di film ini, ujian utama, negosiasi bisnis yang akan menentukan karirnya). Hanya jika si lelaki bisa bertahan dari cobaan berat itu dan berhasil menyelesaikan tugasnya dengan sangat trauma akibat pembelotan si perempuan, apakah si lelaki pantas mendapatkannya kembali dan si perempuan akan kembali kepada si lelaki. Paradoks yang mendasarinya adalah bahwa cinta, sebagai yang Absolut, tidak boleh diajukan sebagai tujuan langsung. Ini harus mempertahankan status produk sampingan, dari sesuatu yang kita dapatkan sebagai penghargaan yang tidak semestinya diberikan. Mungkin, tidak ada cinta yang lebih besar daripada pasangan revolusioner, di mana masing-masing dari kedua kekasih siap untuk meninggalkan yang lain kapan pun jika revolusi menuntutnya.

Pertanyaannya begini: bagaimana kolektif emansipatoris revolusioner yang mewujudkan “kehendak umum” mempengaruhi gairah erotis yang intens? Dari apa yang kita ketahui tentang cinta di kalangan kaum revolusioner Bolshevik, sesuatu yang unik terjadi di sana dan bentuk pasangan cinta yang baru muncul: sepasang orang yang hidup dalam keadaan darurat permanen, yang sepenuhnya berdedikasi pada Penyebab revolusioner, siap mengorbankan semua pemenuhan seksual pribadi kepadanya, bahkan siap untuk meninggalkan dan mengkhianati satu sama lain jika Revolusi menuntutnya, namun sekaligus saling berkoordinasi, menikmati saat-saat langka bersamaan dengan intensitas yang sangat tinggi. Semangat pecinta ditoleransi, bahkan dihormati secara diam-diam, namun diabaikan dalam wacana publik sebagai sesuatu yang tidak memprihatinkan orang lain. (Ada jejak ini bahkan dalam apa yang kita ketahui tentang perselingkuhan Lenin dengan Inessa Armand.) Tidak ada usaha Gleichschaltung, untuk menegakkan persatuan antara gairah intim dan kehidupan sosial. Disjungsi radikal antara hasrat seksual dan aktivitas sosial-revolusioner sepenuhnya diakui. Kedua dimensi tersebut diterima sama heterogennya, masing-masing tidak dapat direduksi menjadi yang lain. Tidak ada harmoni antara keduanya—meski ini adalah gap paling kentara, yang membuat hubungan mereka tidak antagonistik.

Dan apakah hal yang sama tidak terjadi di La La Land? Apakah Mia tidak membuat pilihan “Leninis” dari Penyebabnya? Apakah Sebastian tidak mendukung pilihan Mia? Dan apakah mereka dengan cara ini tidak setia kepada cintanya?

*
Diterjemahkan dari La La Land: A Leninist Reading.
Slavoj Žižek adalah filsuf seleb dan kritikus Marxis dari Slovenia. Salah satu pemikir paling ngepop hari ini, mendapat pengakuan internasional sebagai teoretikus sosial setelah penerbitan buku pertamanya, “The Sublime Object of Ideology”. Kontributor reguler surat kabar seperti The Guardian, Die Zeit dan The New York Times. Dijuluki sebagai Elvis-nya teori budaya.

Hikayat Mengerikan Evolusi Jatuh Cinta



Jantungmu berdetak sedikit lebih cepat, kelenjar-kelenjar terbuka mengeluarkan tetes peluh penuh rahasia, dan tubuhmu mulai memproduksi hormon-hormon, yang membuatmu merasa sedikit pusing namun hangat di dalam.

Ini adalah beberapa proses biologis yang terjadi ketika Anda didorong ke dalam pergolakan awal cinta – atau berahi, begitu sulit untuk mengatakan yang mana.

Cinta adalah satu bagian kemanusiaan kita yang begitu luas sehingga seni dan budaya dipenuhi dengan referensi tentang cinta yang dimenangkan dan cinta yang kandas. Perpustakaan memiliki rak-rak buku yang penuh dengan prosa romantis. “Love is not time’s fool,” tulis Shakespeare dalam sonet 116: “Love alters not with his brief hours and weeks / But bears it out even to the edge of doom.

Sepertinya Shakespeare lebih benar daripada yang dia ketahui. Mengintip evolusi cinta dalam kerajaan hewan dan menjadi jelas bahwa cinta memiliki permulaan yang jauh sebelum munculnya umat manusia. Terlebih lagi, itu bisa saja lahir dari sesuatu yang sangat mengerikan.


Perjalanan untuk mencintai seperti yang kita ketahui hari ini dimulai dengan seks, yang merupakan salah satu hal pertama kehidupan di Bumi tahu bagaimana melakukannya. Seks dimulai sebagai cara untuk mewariskan gen organisme ke generasi berikutnya.

Untuk mencintai, kehidupan pertama membutuhkan otak yang bisa mengatasi emosi. Tidak sampai beberapa miliar tahun setelah kehidupan dimulai, otak memulai perjalanannya menuju eksistensi. Awalnya otak cuma gumpalan kecil sel.

Maju lebih cepat ke sekitar 60 juta tahun yang lalu, ketika anggota pertama keluarga kita, para primata, muncul. Selama jutaan tahun evolusi, beberapa primata akan berevolusi dengan otak yang lebih besar, yang akhirnya menghasilkan manusia modern.

Tapi ada masalah. Ketika otak kita tumbuh, bayi-bayi kita harus lahir lebih awal dalam perkembangannya. Kalau tidak, kepala mereka akan terlalu besar untuk melewati jalan lahir.

Akibatnya, bayi gorila, simpanse dan manusia hampir sepenuhnya tidak berdaya. Orang tua mereka harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk merawat mereka.

Masa kecil yang berkepanjangan ini menciptakan risiko baru.


Pada banyak primata saat ini, seorang ibu dengan bayi yang masih bergantung padanya tidak tersedia untuk kawin sampai bayinya disapih. Untuk mendapatkan akses kepadanya, para jantan pertama-tama harus membunuh anaknya. Jenis pembunuhan bayi yang ditargetkan ini berlangsung di banyak spesies, termasuk gorila, monyet dan lumba-lumba.

Hal ini mendorong Kit Opie dari University College London di Inggris dan rekan-rekannya, untuk mengusulkan ide yang mengejutkan. Hampir sepertiga dari primata membentuk hubungan jantan-betina monogami, dan pada tahun 2013 Opie menyarankan bahwa perilaku ini telah berevolusi untuk mencegah pembunuhan bayi.

Timnya mengintip kembali ke pohon keluarga primata untuk merekonstruksi bagaimana perilaku seperti kawin dan pengasuhan berubah selama evolusi. Analisis mereka menunjukkan bahwa pembunuhan bayi telah menjadi kekuatan pendorong monogami selama 20 juta tahun, karena secara konsisten mendahului monogami dalam evolusi.

Spesies lain menemukan solusi yang berbeda, alasan mengapa tidak semua primata adalah monogami. Sebagai contoh, simpanse dan bonobo meminimalkan risiko pembunuhan bayi dengan cara sangat bermesraan. Para jantan tidak membunuh bayi karena mereka tidak tahu yang mana mereka.


Tetapi pada spesies-spesies di mana jantan dan betina mulai berikatan kuat, peluang keturunan mereka untuk bertahan hidup meningkat karena jantan dapat membantu mengasuh anak. Akibatnya, monogami disukai oleh evolusi, kata Opie.

Proses ini mungkin jalan satu arah, kata Robin Dunbar dari University of Oxford di Inggris. Itu bisa menghasilkan perubahan besar di otak, “untuk menjaga pasangan-terikat bersama sepanjang hayat”. Ini termasuk preferensi untuk pasangan Anda dan antagonisme terhadap para saingan potensial.

Ini pada gilirannya bisa menjadi “tendangan” yang mengubah evolusi manusia, kata Opie. Perawatan ekstra para lelaki membantu masyarakat manusia awal tumbuh dan berkembang, yang pada gilirannya “memungkinkan otak kita tumbuh lebih besar daripada kerabat terdekat kita”.

Ada bukti untuk mendukung hal ini. Ketika ukuran otak mulai membesar, begitu pula kerja sama dan ukuran kelompok. Kita dapat melihat kecenderungan terhadap kelompok yang lebih besar dan lebih banyak kerja sama dalam spesies manusia purba Homo erectus, yang hidup hampir dua juta tahun yang lalu.

Terlebih lagi, tampaknya aspek cinta bergantung pada wilayah otak yang hanya muncul baru-baru ini dalam sejarah evolusi kita.



Stephanie Cacioppo dari University of Chicago di Illinois, AS, menjelajahi literatur ilmiah untuk menemukan studi pencitraan otak fMRI yang memeriksa bagian otak yang terlibat dalam cinta. Dia menemukan bahwa keadaan cinta yang paling intens dan “abstrak” bergantung pada bagian otak yang disebut angular gyrus.

Ini dikenal penting untuk aspek-aspek bahasa tertentu, seperti metafora. Ini masuk akal, karena tanpa bahasa yang rumit kita tidak dapat mengekspresikan aspek emosi kita yang lebih halus dan intens. Bisa dibayangkan, angular gyrus Shakespeare aktif ketika dia menulis soneta cinta.

Angular gyrus hanya ditemukan pada kera besar dan manusia.

Kami sebenarnya tidak tahu peran apa yang dimainkannya dalam emosi para kera, sebut Cacioppo, karena “eksperimen fMRI pelengkap belum dilakukan pada kera”. Jadi kita tidak tahu apa yang dirasakan simpanse tentang pasangan mereka. Jelas mereka tidak menulis soneta, begitu juga tidak pada kebanyakan manusia.

Namun, temuan-temuan Cacioppo menawarkan beberapa dukungan terhadap gagasan bahwa otak kita yang berkembang membantu mengembangkannya.


Namun, ide Opie bahwa pembunuhan bayi memulai proses ini kontroversial. Tidak semua orang setuju hal itu memainkan peran apa pun dalam pengembangan monogami.

Antropolog Robert Sussman dari Universitas Washington di St Louis di Missouri, AS adalah salah satu skeptis. Dia mengatakan bahwa baik monogami dan pembunuhan bayi adalah perilaku yang tidak biasa sehingga mereka tidak mungkin dikaitkan.

Ada beberapa alternatif. Sebuah studi 2014 menyarankan monogami berevolusi sebagai hasil dari “strategi mengawal pasangan”: yaitu, laki-laki yang tinggal dengan perempuan untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain yang berpasangan dengannya.

Satu tahun kemudian, penelitian lain merekonstruksi evolusi kelompok primata lain yang disebut lemur. Ditemukan bahwa persaingan perempuan bisa mendorong ikatan pasangan.


Opie tidak setuju. Dia mengatakan metode dalam studi ini “tidak dapat digunakan untuk menentukan peralihan ke monogami”.

Yang pasti benar adalah bahwa banyak primata yang baik-baik saja tanpa pasangan yang terikat dengan orang tua, dan mungkin tanpa sesuatu yang serupa dengan cinta romantis. Tetapi ada satu kesamaan yang dimiliki semua primata: ikatan ibu dan anak yang kuat.

Ini benar, “bahkan pada primata nokturnal yang hidup secara diam-diam,” kata Sussman. Dia menunjukkan bahwa proses otak yang mendasari ikatan ibu-anak “dibajak” untuk menciptakan cinta romantis.

Ada bukti dari neuroscience yang menunjukkan bahwa dia benar.


Cinta sulit untuk didefinisikan, tetapi para ahli saraf setuju bahwa ada beberapa tahapan yang tumpang tindih.

Tahap pertama adalah hasrat seksual: kita merasa tertarik pada orang lain. Menyentuh mereka melepaskan bahan kimia yang terasa baik dan kita mengalami kerinduan yang kuat untuk bersama mereka.

Bagian dari sistem limbik kita, salah satu bagian paling kuno dari otak manusia, aktif selama tahap ini. Ini termasuk insula, area yang dikenal terlibat dalam pengalaman emosional yang intens. Ventral striatum juga mengalami kerja berlebih. Ini adalah pusat dari sistem penghargaan otak, dan ketika kita melihat wajah yang menarik hati bagian itu menyala: kita dihargai hanya dengan melihat orang yang kita inginkan.

Ketika hasrat bergerak ke tahap berikutnya – cinta romantis – sistem limbik kembali memainkan peran kunci. Ini memompa dopamin kimia yang baik dan hormon oksitosin, yang mengikat manusia bersama.

Perkembangan ini menyiratkan bahwa kenikmatan intens dari tahap hasrat seksual dapat mengarah langsung pada cinta, kata Cacioppo. “Cinta cenderung tumbuh dari keinginan. Anda tidak bisa mencintai seseorang yang tidak Anda pernah inginkan.”



Pada saat yang sama, area otak yang lebih canggih lainnya ditekan. Misalnya, penelitian telah menunjukkan bahwa bagian-bagian korteks prefrontal dinonaktifkan. Ini adalah area yang terlibat dalam keputusan rasional.

Pada tahap ini, kita benar-benar “kasmaran”. Orang yang jatuh cinta tidak memproses dunia di sekitar mereka, sebut Thomas Lewis, seorang ahli saraf di Universitas California, San Francisco di AS. “Mereka tidak mengevaluasi orang itu secara kritis atau dengan cara yang sangat kognitif.”

Serotonin, yang biasanya membantu kita merasa tenang, juga ditekan. Ini masuk akal ketika Anda mempertimbangkan seberapa terobsesinya kita ketika jatuh cinta. Tingkat serotonin juga rendah di otak individu dengan gangguan psikologis seperti gangguan obsesif kompulsif.

“Apa yang diinginkan evolusi dari kejatuhan dalam cinta adalah untuk dua individu menghabiskan banyak waktu bersama … untuk mendapatkan kehamilan,” kata Lewis.

Tapi begitu perbuatan itu dilakukan, pasangan tidak terikat bersama dalam keadaan yang intens dan obsesif untuk waktu yang lama. Setelah beberapa bulan lagi, kadang-kadang setelah “periode bulan madu” menengah, tahap persahabatan dimulai.


Sekarang tingkat serotonin dan dopamin menormal. Namun masih ada perasaan kedekatan, dibantu oleh lebih banyak oksitosin. Jika Anda menekan oksitosin dalam spesies monogami, seperti tikus padang rumput, hewan-hewan berhenti menjadi monogami.

“Ikatan yang menyatukan orang-orang bukan dorongan dopamin atau oleh kegembiraan intens,” kata Lewis. “Ada hadiah di sana tapi lebih tenang.”

Ini membawa kita kembali pada saran Sussman bahwa cinta romantis berevolusi dari ikatan ibu-anak. Ikatan pasangan jangka panjang mirip dengan ibu dan anak, dan bergantung pada proses hormonal yang sama.

Baik pada hewan maupun manusia, penelitian menunjukkan bahwa pemisahan dari “orang yang dicintai” menciptakan perasaan sakit emosional yang serupa. Masuk akal bahwa kita ingin menghindari rasa sakit karena berpisah dengan tetap bersama.

Perasaan ini tampaknya memiliki akar yang kuat dalam sejarah evolusi.



Sistem limbik memainkan peran kunci dalam semua tahap cinta yang dikenal. Banyak mamalia lain, dan bahkan reptil, memiliki beberapa bentuk sistem limbik. Area otak ini ada jauh sebelum primata pertama.

“Bagian tertua otak terlibat dalam keterikatan, dalam ikatan pasangan, dan area ini diaktifkan pada banyak spesies,” kata Cacioppo.

Dengan kata lain, otak binatang telah dipikirkan setidaknya untuk beberapa bentuk cinta selama ratusan juta tahun. Sepanjang jalan, faktor lain mendorong nenek moyang kita untuk berevolusi dengan otak yang lebih besar, memungkinkan cinta romantis untuk mendapatkan genggaman dalam diri kita.

Entah itu pembunuhan bayi atau kemelekatan ibu pada bayinya yang mendorong kita untuk mendekat, kita bisa bersyukur bahwa sesuatu terjadi. Kita berhutang banyak pada kesuksesan kita sebagai spesies untuk hal mungil yang gila yang disebut cinta.

*

Diterjemahkan dari artikel BBC berjudul The sinister reason why people fall in love. Melissa Hogenboom merupakan seorang jurnalis sains dan editor di BBC Reel.

Nasihat Cinta dari Nietzsche dan Sartre


Memagut bibir dan mengunci jemari tidak terlalu berbahaya, tetapi mengunci ke dalam cinta adalah hal yang sangat berbahaya — baik secara kiasan maupun secara harfiah. Pecinta di abad dua puluh satu begitu erat dengan metafora tadi, yang mana pada tahun 2015, Pont des Arts di Paris harus dilepaskan dari beban empat puluh lima ton gembok yang begitu memberatkan, yang dipasang oleh para pecinta itu. Kunci-kuncinya, yang dilemparkan ke bawah, menjadi sampah di Sungai Seine. Sementara gembok cinta Paris dilelang untuk mengumpulkan uang buat amal, gembok-gembok macam begini masih menutupi beragam memorial di seluruh dunia — dari jembatan lain di Paris, ke Jembatan Brooklyn, ke pagar di Hawaii dan Australia. Para perencana kota kini menjadi jagoan-jagoan kebetulan dalam perang suci melawan obsesi ini, meskipun fenomena ini tetap ada walau upaya terbaik mereka untuk menggagalkannya telah dikerahkan.

Friedrich Nietzsche mungkin kecewa, tetapi tidak terkejut, mengetahui bahwa kita masih terobsesi dengan kunci gembok untuk melambangkan cinta. Cinta, pikirnya, bisa menjadi “naluri yang paling suci” dan “stimulus terbesar kehidupan.” Tetapi seringnya, cinta bermanifestasi sebagai keinginan untuk memiliki yang rakus dan dekaden. Seperti yang dipikirkan Nietzche, pecinta terlalu sering bertindak seperti “sang naga yang menjaga timbunan emasnya” dan memperlakukan seekor kekasih seperti burung eksotis— “sebagai sesuatu yang harus dikurung untuk mencegahnya terbang menjauh.” Rantai bisa menyamankan, seperti lengan kekasih, tetapi Nietzche adalah pendukung untuk membebaskan diri kita dari belenggu kecil mitologi romantis ini, terutama ideal untuk mengamankan cinta. Cinta adalah sebuah perasaan, dan tidak masuk akal untuk berpikir — apalagi bersumpah — bahwa kita akan terus memiliki perasaan tersebut sampai kematian memisahkan kita.

Jean-Paul Sartre, yang membaca (dan mengejek dengan kejam) Nietzsche di perguruan tinggi, menghabiskan sebagian besar waktunya meminum minuman beralkohol di kafe Saint-Germain-des-Prés yang hanya beberapa langkah dari Pont des Arts, mencoret-coret di buku catatan, dan mengejar perempuan muda yang cantik. Sebagai jago kebebasan eksistensial, Sartre berpendapat bahwa untuk menerima pandangan orang lain tentang bagaimana Anda seharusnya hidup merupakan semacam penipuan diri yang ia labeli ‘itikad buruk’, mauvaise foi. Tak berteman dengan norma-norma borjuis, ia berpendapat bahwa masing-masing dari kita bertanggung jawab atas pilihan hidup kita sendiri.

Seseorang yang bebas seharusnya tidak mengunci dirinya dalam suatu hubungan yang bisa menjadi kandang yang tak nyaman. Buang kunci itu, dan Anda membuang kebebasan Anda. Bersikap bebas adalah memiliki kemungkinan untuk mengubah arah, mendefinisikan kembali diri Anda sendiri, dan menjungkirbalikkan gambaran orang lain tentang apa yang seharusnya Anda lakukan.

Menurut Sartre, cinta hanya ada dalam tindakannya. Jadi jika membeli gembok kuningan dan meninggalkannya, bersama dengan ribuan lainnya, untuk memberatkan monumen bagi Anda merupakan tindakan cinta yang istimewa, indah, dan bermakna, Sartre mungkin tidak akan menghentikan Anda. Namun, dia akan meragukan keotentikan sebuah tindakan macam begitu. Gembok cinta bukanlah tradisi kuno tetapi sebuah tren yang dimulai di Roma pada tahun 2006 setelah popularitas buku (dan film adaptasinya) I Want You, oleh Federico Moccia. Dalam cerita itu, dua kekasih mengunci rantai di sekitar tiang lampu di Ponte Milvio di Roma dan melemparkan kunci ke Sungai Tiber. Hal itu melambangkan gagasan bahwa mereka akan selalu menjadi milik satu sama lain.

Simbol kunci gembok mungkin tampak sangat bertentangan dengan pandangan cinta eksistensial. Begitu kunci telah dibuang, tidak ada jalan keluar. Namun Sartre menggunakan metafora yang sama secara berbeda, menunjukkan bahwa kekasih dapat bertindak bukan sebagai gembok tetapi sebagai kunci untuk membuka kehidupan batin Anda. Tanpa seseorang yang meneliti, melibatkan diri, dan menghargai Anda, mungkin ada aspek-aspek diri Anda yang akan tetap selamanya tak terlihat. Keintiman seorang kekasih dapat mengungkapkan keinginan dan sikap tersebut.

Bagi Sartre, sukacita cinta adalah ketika kita merasa aman dalam kepemilikan kita satu sama lain dan menemukan makna hidup kita di dalam dan melalui orang lain. Masalahnya adalah ini hanya ilusi. Tidak ada yang aman tentang cinta romantis. Karena kekasih bebas memilih untuk menjalin hubungan, mereka juga bebas untuk pergi, dan ini membuat cinta terus-menerus rentan. Menurut Sartre, hal ini mendorong para pecinta ke lingkaran setan dari permainan kekuatan sadomasokistik. Mereka mencoba untuk mengendalikan satu sama lain dan menuntut jenis kepemilikan yang diindikasikan oleh gembok. Hasilnya adalah para pencinta akhirnya mencoba untuk merampas kebebasan mereka satu sama lain tanpa pernah sepenuhnya mencapai kepemilikan yang mereka inginkan, itulah mengapa Sartre menyimpulkan bahwa cinta adalah konflik.

Tidak ada yang salah dengan berharap cinta itu akan bertahan. Bahkan, harapan yang bertahan akan membedakan romansa dari nafsu birahi. Bagi Sartre, kekasih mendefinisikan diri mereka dengan memilih untuk saling mencintai baik sekarang maupun di masa depan. Namun itulah paradoks dari cinta: kita tidak dapat mengetahui seperti apa kita di masa depan, dan sebanyak yang dapat kita pilih dengan bebas untuk melakukannya, untuk mengikat masa depan diri adalah penolakan kebebasannya sendiri.

Orang mungkin bertanya-tanya: Bisakah kita melepaskan keinginan untuk menjadi bal dan rantai bagi satu sama lain? Simone de Beauvoir tentu saja bertanya-tanya tentang hal itu dan berpendapat bahwa hubungan terbaik pasti otentik. Dalam hubungan yang otentik, kekasih menghormati kebebasan satu sama lain dan terus melatih dirinya sendiri. Beauvoir dan Sartre memiliki sebuah hubungan terbuka, sesuatu yang radikal dari konvensi sewaktu itu. Namun, mereka menuntut jaminan bahwa mereka adalah partner utama bagi masing-masing, yang mungkin telah menolak kebebasan tertentu dari mereka.

Sikap posesif sangat mendasar bagi pengalaman cinta, pikir Sartre, bahwa untuk mengatasi hasrat memiliki sang kekasih adalah mengatasi cinta itu sendiri. Namun dalam banyak hal, ia kurang menganjurkan gembok dan lebih memilih untuk menjadi kunci: Cinta itu seperti melemparkan diri dari jembatan ke Sungai Seine. Dibutuhkan keberanian untuk melompat ke dalam suatu hubungan, dan Anda tidak tahu di mana dan kapan Anda akan menetap, jika keadaan memungkinkan. Sartre tetap melakukannya — dan akan menyarankan agar kita juga melakukannya.

*

Diterjemahkan dari artikel di The Paris Review berjudul Advice on Love from Nietzsche and Sartre. Skye C. Cleary adalah penulis Existentialism and Romantic Love dan mengajar di Universitas Columbia, Barnard College, dan City College di New York.