Showing posts with label jepang. Show all posts

10 Karakter Kabayan dalam Anime

oreki hyouka lazy

Setelah Utuy Tatang Sontani, dengan elemen pesimisnya, tampaknya belum ada lagi yang mampu mengeksplorasi karakter Kabayan. Namun, saya menemukan dirinya, karakter jenius tapi super irit energi, hidup dalam beragam anime.

Baca juga: Aneka Reka Kabayan

Jika ada satu resep yang terbukti berhasil untuk membuat karakter utama yang disukai, bikin mereka menjadi pemalas, tetapi sematkan semacam kejeniusan rahasia. Katakanlah, mereka begitu mager untuk menyelamatkan dunia ketika acara favorit mereka tayang, tetapi selama jeda iklan, mereka dapat mengatasinya dengan sekejap.

Tipikal Kabayan ini tak jarang menjadi karakter utama, dan jika dilakukan semacam polling, bahkan karakter macam ini paling difavoritkan setelah karakter tsundere. Meski tak ada banyak ruang untuk perkembangan karakter secara fisik, akibat kemalasan mereka, seringnya ini justru bisa menjadi wahana yang baik dalam perkembangan emosional sang karakter.

Berikut 10 karakter anime dengan prototip Kabayan yang coba saya himpun.

1. Sakata Gintoki - Gintama


gintoki gintama

Bukan hanya bermalas-malasan, dia juga doyan judi dan minum-minum kapan pun punya kesempatan. Di antara semua karakter pemalas di anime, kemalasannya begitu legendaris tetapi di baliknya ada seorang pendekar pedang yang luar biasa. Ketika nyawa teman-temannya terancam, kita bisa melihat betapa menakjubkan dirinya sebenarnya. Tentu saja, pada akhirnya Gintama adalah perpindahan dari satu bodor ke bodor lainnya.

2. Houtaru Oreki - Hyouka


houtaru oreki hyouka

Seorang jenius pemalas. Oreki merupakan siswa sekolah menengah yang masuk Klub Sastra Klasik. Layaknya Sherlock Holmes, dia memiliki keterampilan deduksi yang luar biasa dan dapat memecahkan hampir semua misteri yang dia temui dengan mudah. Namun kebijakannya adalah: "Konservasi Energi". Jadi, dia akan menghindari pekerjaan menguras energi sebanyak yang dia bisa, kecuali jika sudah dipaksa Eru Chitanda.

Baca juga: Kenapa Sekolah Menengah Sering Jadi Latar Anime?

3. Nara Shikamaru - Naruto


Nara Shikamaru - Naruto

"Mendokusē!" yang berarti "Ini sangat merepotkan" adalah kalimat paling sering diucap Shikamaru. Tampaknya semuanya menyusahkan Shikamaru, apakah itu ketika harus bertarung dengan musuh atau sekadar menjelaskan sesuatu kepada teman saat menjalani misi atau di kelas. Dengan IQ lebih dari 200, Shikamaru jelas seorang jenius, tetapi pemalas nomor wahid dalam seri Naruto.

4. Spike Spiegel - Cowboy Bebop


spike spiegel cowboy bebop

Kalau tak sedang kehabisan duit sementara perutnya keroncongan, koboi antargalaksi ini lebih suka leyeh-leyeh. Protagonis Cowboy Bebop ini adalah mantan anggota kriminal Red Dragon Syndicate, yang kabur dengan berpura-pura mati akibat jatuh cinta dengan seorang wanita. Menjadi bounty hunter, menjelajahi ruang angkasa dan tetap malas-malasan.

Baca juga: 15 Anime Terbaik dari Dekade 1990-an

5. Aokiji - One Piece

aokiji kuzan one piece

Kuzan, yang lebih dikenal dengan sebutan Aokiji, adalah salah satu karakter paling malas di One Piece. Dia hidup dengan kode "Keadilan Malas" dan saat menjadi admiral selalu terlihat memakai penutup mata untuk tidur. Jika tak ada urusan mendesak, Kuzan lebih memilih bersantai, bahkan rela menanggalkan jabatannya dan keluar dari Marine.

6. Atsuhi Murasakibaru - Kuroku no Basket


atsuhi murasakibaru kuroku no basket

Dia mungkin satu-satunya karakter malas di anime olahraga. Karakter di hampir semua anime olahraga adalah para pekerja keras tetapi bukan Murasakibara. Bahkan bermain basket dan berusaha terlalu keras karenanya betul-betul merepotkannya. Kecuali benar-benar perlu, dia hanya mengunyah makanan ringan dan bermalas-malasan.

7. Onizuka Eikichi - Great Teacher Onizuka


great teacher onizuka

Alasan mengapa Onizuka menjadi seorang guru adalah karena dia melihat seorang anak sekolah cantik menembak seorang guru setengah baya. Mantan geng motor itu suka bermain-main dan bersantai, tetapi ia punya gaya pengajaran yang unik, konyol, dan kadang-kadang mengancam, tetapi selalu manjur untuk murid-muridnya.

8. Kaiki Deishuu - Monogatari


Kaiki Deishuu - Monogatari

Awal kemunculannya, Kaiki tampak seolah-olah antagonis yang patut dibenci. Penipu yang berspesialisasi dalam makhluk gaib dan jimat, yang tanpa malu menipu bocah sekolahan. Namun kemudian, kita bakal takjub setelah mengetahui alasan di balik sikap pragmatisnya.

Baca juga: Urutan dan Cara Menonton Monogatari

9. Hiramaru Kazuya - Bakuman


Hiramaru Kazuya bakuman

Jika mangaka lain mencoba yang terbaik dengan penuh antusias, orang ini masuk ke industri manga dengan sangat cepat dan tak menunjukkan minat atau gairah. Coba-coba bikin manga setelah membacanya secara acak dan berpikir bahwa ia bisa melakukannya. Dia memiliki bakat alami sebagai mangaka dan editornya terus mendorongnya untuk berkarya.

10. Phonsekal Laure - Tower of God


phonsekal laure tower of god

Seorang Reguler dan Wave Controller berbakat. Dia suka tidur dan pergi ke mana-mana dengan terus membawa selimut dan bantalnya. Kemampuannya begitu luar biasa, mampu menembakkan ledakan jarak jauh yang kuat, meski seringnya terlihat tidur padahal sedang dalam situasi membahayakan.

Baca juga: 5 Anime Aksi Fantasi Mirip Tower of God

Yesterday wo Utatte dan Para Masokis Emosional

yesterday wo utatte anime spring 2020

Para masokis adalah ahlinya menyakiti diri. Meski dimulai dan tetap terhubung sepenuhnya dengan seks, masokisme sama kuatnya di ranah emosional. Ketakmampuan untuk keluar dari perasaan muram menandai masokisme ini. Mungkin ada lebih banyak masokis emosional ketimbang yang seksual, dan bisa jadi kita tak menyadari kecenderungan ini.

Lihat: Masokis Emosional

Selalu ada orang yang doyan makan sesuatu yang pedas, berkeringat deras dan tampak menderita tapi mengklaim kalau dia justru menikmatinya. Sambal hot jeletot bukan satu-satunya cara orang untuk menikmati sesuatu yang menyiksa diri, banyak orang suka menonton film sedih, mendengarkan musik murung atau menaiki roller coaster yang bikin jantung copot. Ini berlaku juga ketika berhubungan dengan yang lain, apalagi dalam asmara.

Foto: singyesterday.com

Yesterday wo Utatte, anime 12 episode yang tayang di musim Semi 2020 ini, memotret para masokis emosional itu. Mengikuti empat orang, dua laki-laki dan dua perempuan, yang berusaha menjalani kehidupan terbaik mereka melalui kesulitan dan kekacauan. Di sebuah daerah sekitar dekat Shinjuku, kesalahpahaman kecil menyebabkan komplikasi besar, dan berbagai perasaan mereka menjadi terjerat.

Kebanyakan anime asmara berlatar di sekolah menengah atau perguruan tinggi, tapi Yesterday wo Utatte memandu kita melalui hambatan karakter yang jauh melewati tahap itu. Dengan hari-hari terbaik mereka yang tampaknya jauh di belakang, para tokoh ini berjuang untuk memilih antara hidup di masa kini atau berpegang pada ingatan mereka yang sekarat.

rikuo shinako yesterday wo utatte anime spring 2020

Rikuo Uozumi adalah lulusan perguruan tinggi yang tak yakin tentang masa depannya. Punya hobi fotografi, dan saat ini bekerja paruh waktu di sebuah toko serba ada, sementara belum memutuskan untuk memasuki semacam karir tertentu.

Kehidupan monotonnya terpecah ketika Haru Nonaka yang nyentrik sering mampir ke minimarketnya. Dengan pembawaan yang riang, Haru sering menggodanya. Tak lama, Rikuo mengetahui kalau seorang teman kampus dan gebetannya, Shinako Morinome, pindah kembali ke kota. Timbul tekad Rikuo untuk memajukan hubungan mereka.

Rikuo sejak lama memiliki perasaan pada Shinako, tapi lebih memilih memendamnya. Apalagi sekarang, ketika dia cuma pegawai minimarket sementara Shinako telah punya pekerjaan tetap sebagai guru sekolah menengah. Meski bukan sepenuhnya pengangguran, tentu saja rasa minder menggerogoti Rikuo.

Tanpa diketahui Rikuo, Shinako membawa kenangan menyakitkan dari masa lalunya yang menahannya. Sementara itu, Haru terus mengejar Rikuo, dan menemukan kalau Rikuo, sama seperti dirinya, juga hidup sendiri dan sedang ingin melangkah keluar dari zona nyamannya ke masa depan yang penuh ketakpastian.

Masuk Rou Hayakawa, siswa sekolah menengah yang tengah megikuti persiapan masuk kuliah seni rupa, seseorang yang sudah kenal Shinako sejak kecil, dan yang akan terus saling menjerat perasaan satu sama lain. Kisah-kisah yang dibawakan oleh Yesterday wo Utatte bisa dibilang menjadi semakin rumit.

rikuo yesterday wo utatte

Sejak episode pertama, saya langsung merasa, "Anjing, ieu aing pisan!" atau istilah kerennya "relate" dengan karakter Rikuo. Terlalu banyak mikir, terlalu baik, penuh keraguan, hobi memendam perasaan, terlalu gampag menyerah dan tak cakap berhubungan dengan perempuan.

Yesterday wo Utatte seakan menjadi cermin bagi banyak penonton dan itulah sebabnya banyak orang akan dengan mudah mengaguminya, sekaligus membencinya. Namun terlepas dari apa yang kamu pikirkan tentang anime romantis pada umumnya, kamu harus mencoba Yesterday wo Utatte. Sebuah kisah kehidupan sehari-hari yang dijalani dengan 49% melihat ke belakang dan 51% menatap masa depan.

setting yesterday wo utatte anime spring 2020
Visual latar yang ciamik dari Yesterday wo Utatte

Yesterday wo Utatte sendiri adalah manga karya Kei Toume, yang memulai serialisasi di majalah manga seinen Business Jump pada tahun 1997, lalu pindah ke majalah Grand Jump pada November 2011 dan berakhir pada Juni 2015.

Baru keluar adaptasi animenya tahun ini dan latar 1990-an akhir yang melingkupi Yesterday wo Utatte ini jadi begitu nostalgik. Visualisasinya juga setara film, latar lokasi begitu detil. Ketika ponsel apalagi aplikasi chat belum hadir, kegiatan menunggu tanpa kejelasan adalah siksaan yang menghibur.

Masa lalu selalu melekat dalam pikiran, dan masa depan tetap sulit dipahami. Di persimpangan di sepanjang jalan yang saling terkait, para individu dalam Yesterday wo Utatte mengalami apa artinya melepaskan perasaan mereka yang kemarin dan merangkul perubahan yang dibawa esok.

Pada akhirnya, perbedaan yang paling relevan antara masokisme seksual dan emosional adalah bahwa aktivitas yang pertama, dalam keadaan yang tepat, akan sangat menyenangkan, sedangkan yang terakhir tidak pernah jadi apa-apa selain neraka pahit yang melelahkan.


6 Album Untuk Berkenalan dengan Skena Hardcore Jepang


Jepang bertanggung jawab untuk menghidangkan hardcore canggih - jauh sejak pembentukan Typhus pada tahun 1980, salah satu band hardcore pertama Jepang, jika bukan yang pertama. Namun, distribusi internasional yang buruk dan kesempatan terbatas untuk tur di luar Jepang telah membuat sulit bagi seluruh dunia untuk mengikuti.

Penggemar hardcore di Barat mungkin akrab dengan hari-hari awal hardcore Jepang yang ganas, ketika band-band seperti G.I.S.M. dan Kasa (menampilkan Shin, dari Typhus) dengan cerdas mengadaptasi estetika crust Inggris menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih tanpa henti, atau adegan awal tahun 90-an Burning Spirit, ditandai oleh band-band seperti Death Side, Bastard, The Gaia, dan Judgement.

Ada jauh lebih banyak dari dua momen singkat itu, empat dekade total output di negara dengan skena regional yang berbeda, dan untungnya, internet telah membuatnya lebih mudah dari sebelumnya bagi orang luar untuk mengikuti.

Sungguh bodoh untuk mencoba membuat tampilan yang komprehensif pada hardcore Jepang dalam satu artikel, jadi mari kita tidak mencobanya. Alih-alih, pertimbangkan ini tetapi sebagai contoh dari salah satu skena paling inovatif di dunia.

1. The Comes - No Side


the comes no side

Seiring dengan band-band seperti The Execute, Gauze, dan G.I.S.M., The Comes sangat penting dalam membentuk tahap awal hardcore Jepang. Mereka tidak memiliki salah satu teatrikal atau mitologi G.I.S.M., tetapi apa yang tidak mereka miliki dalam misteri, mereka menebusnya dengan agresi dan keanehan.

Urgensi Chitose yang cepat dan bersemangat sebagai vokalis menetapkan batas yang sangat tinggi untuk skena yang baru lahir; fleksibilitasnya bisa dibilang kekuatan terbesar band. Lihatlah nyanyian halus yang menyertai nyanyian psychedelic yang membuka “Wa-Ka-Me,” sebelum irama drum disk gaya Dead Kennedy mempercepat band menuju terlupakan.

The Comes merilis satu rekaman lagi setelah ini — Power Never Die pada 1986, yang lebih metalik — sebelum bubar, tetapi pada akhirnya, No Side yang memperkuat posisi mereka dalam sejarah hardcore Jepang.

2. The Execute - The Execute


the executes

Menarik dengan cara yang sama dari hard rock Motörhead (gitaris pendiri The Execute bahkan terinspirasi Lemmy) dan punk Uncharge yang tak ribut, debut The Execute adalah salah satu rekaman hardcore Jepang yang lebih dicari — dan untuk alasan yang bagus.

D-beat akan menjadi blok bangunan dasar untuk hardcore Jepang, dan The Execute tentu saja salah satu yang paling awal untuk mulai memasukkannya ke dalam suara mereka. Bagian ritme drummer Yuro Ujiie, alias Dr. Euro (calon anggota High Rise), dan vokalis / bassis Baki (calon anggota Gastunk and Lip Cream) menyanyikan lagu-lagu, menjaga ketegangan dan kecepatan tinggi tanpa kehilangan kendali dari kegilaan.

Lagu-lagu seperti "Answer" dan "裏 表" menunjukkan band yang mampu menciptakan ledakan hardcore yang menyolok yang mengejutkan tanpa mengganggu agresi mereka. Tidak heran orang bersedia membayar lebih dari $ 1000 untuk salinan aslinya.

3. Yoshihiro Hiraoka & Human Arts - 小我から大我へ LP


Yoshihiro Hiraoka & Human Arts - 小我から大我へ LP

Setelah bekerja sebentar di Poison and Poison Arts, vokalis Yoshihiro Hiraoka dan gitaris Hiroyuki Kishida, alias Chelsea, bekerja sama lagi untuk perilisan satu kali ini pada tahun 1992.

Chelsea telah menetapkan teknik solo solonya di Death Side, salah satu andalan dari skena Burning Spirit pada awal 90-an. Di sini, ia memamerkan sekilas pekerjaan gitar alternatif yang akan ia bawa ke proyek-proyek selanjutnya, seperti Paintbox; pembuka terik "Live up my soul" mengatur nada, semua lead gitar yang mengancam dan bass yang bergemuruh.

Human Arts bukan hanya mesin kecepatan: mereka senang mengintai di alur ("Humanisme") dan bersenang-senang dalam sandiwara Thin Lizzy-style ("打 て ば 響 け 我 我 が 友 よ"). Seringkali supergrup kurang dari jumlah bagian mereka, tetapi itu adalah tragedi nyata Yoshihiro Hiraoka & Human Art tidak bertahan lebih lama

4. Doggy Hood$ - BEASTSIDE EP


Doggy Hood$ - BEASTSIDE EP

Doggy Hood $ mengambil hardcore beatdown Jepang ke kesimpulan logis: absurditas mutlak. Master kerusakan Toyko ini mengatur suasana hati dengan perkenalan yang paling sulit, versi remix dari "O Fortuna," karya Carl Orff, lengkap dengan sirene serangan udara.

Beastside EP berisi 4 lagu hardcore NYC bergaya mosh-forward yang disusun dengan gaya ouroboros dengan gangguan memuntahkan bahkan kerusakan yang lebih parah dan lebih lambat dalam siklus berbahaya. Selera humor band bersinar melalui — mesin tik yang mengantar kita pada gangguan terakhir “Bitch & Money.” Mereka bahkan menyertakan versi karaoke "Beast of Mosh," sehingga kita dapat menjalani semua impian pentolan hardcore dalam privasi rumah kita.

5. End In Blood - The Past Is Not The Best


End In Blood - The Past Is Not The Best

Garis antara death metal dan hardcore metal tumbuh semakin tipis setiap hari. Dengan campuran beracun mereka yang menghancurkan kerusakan metalcore gaya Good Life Recordings dan alur death-metal, End in Blood di Tokyo mengaburkan margin lebih jauh.

Mengambil rekaman yang jelas dari kelompok-kelompok akhir tahun 90-an seperti Abnegation (yang baru-baru ini mereka liput), lima potong mengambil pendekatan metodis yang lebih ganas terhadap metalcore daripada para pendahulu mereka, seperti Edge of Spirit yang lebih merdu (Kei Nakamura memainkan bass untuk kedua band, memiliki bergabung dengan Edge of Spirit pada 2015).

Dalam The Past is Not The Best, band ini mengeluarkan geraman parau dan serak bernada tinggi atas kerusakan yang paling banyak dan hentakan gerinda, semuanya demi lubang mosh yang maha kuasa.

6. Low Vision - Promo 2018


Low Vision - Promo 2018

Hardcore vets Low Vision memainkan kru pemuda amped-up, berlabuh oleh bass Yagi yang gemuruh (yang juga bermain di band d-beat Unarm yang luar biasa). Mereka baru-baru ini melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya bermain Damaged City pada tahun 2019, tetapi telah menjadi andalan dalam hardcore Tokyo selama lebih dari 15 tahun.

EP ini menemukan mereka lebih percaya diri, mengadopsi suara yang lebih kasar daripada panjang penuh mereka dari album tahun 2013, Live In Best Time, tetapi tidak kalah mendesak atau berdampak.

Sementara itu, suara nyaring Okamura yang tinggi, telah matang menjadi perangkat ritmis serbaguna, mengadopsi mimbar bully dari seorang pengkhotbah hardcore pada suatu saat dan dengan mudah berseluncur sepanjang irama berikutnya.

*

Terjemahan artikel dari Ed Blair berjudul A Beginner’s Guide to Japanese Hardcore on Bandcamp.

7 Novel Ryū Murakami Guna Membangkitkan Sisi Psikotikmu

Ryu Murakami
Foto: Tokyo Weekender

"Jika kamu hanya membaca buku-buku yang dibaca orang lain," sebut si seleb sastra Haruki Murakami, "kamu hanya bisa memikirkan apa yang dipikirkan orang lain."

Jika mengamalkan saran dari Murakami ini, yang buku-bukunya begitu populer dan dibaca banyak orang, maka segera pindah untuk baca Murakami lainnya: Ryū Murakami. Meski memang, kedua Murakami ini sebenarnya dua penulis mapan. Setidaknya, Ryū lebih klandestin dan obscure ketimbang Haruki.

Penulis bernama lengkap Ryūnosuke Murakami ini didaulat sebagai seorang renaisans di masa posmodernis. Novel pertamanya terbit 1976 dan langsung diganjar Penghargaan Akutagawa yang bergengsi, debutnya ini digembar-gemborkan sebagai jenis sastra baru.

Foto: Tokyo Weekender

Penulis yang juga sutradara film ini mengejutkan dan membuat kagum pembaca dengan cerita-ceritanya yang filmis, yang seringnya mengerikan, yang merangkul tema-tema vulgar nan gelap dari seks, kekerasan, dan obat-obatan.

Baca juga: 10 Karya Erotis Klasik Jepang

Sudah ada lebih dari 50 karya yang ditelurkannya, baik novel dan kumpulan cerpen. Daftar berikut ini tujuh di antaranya, yang telah saya khatamkan dan saya pikir ini karya-karya esensialnya. Meski karyanya bisa bebas dibaca dari judul mana saja, saya susun daftar ini berdasarkan waktu rilis, sehingga kita bisa membaca juga perjalanan kepengarangannya,

1. Almost Transparent Blue


Foto: Goodreads

Tahukah kamu kalau Almost Transparent Blue ini jadi novel favoritnya Kim Namjoon atau RM BTS?

Seperti nonton JAV. Tanpa plot cerita, semuanya soal gejolak masa muda blangsak: mabuk, ikeh-ikeh yang bengis, dan rock n roll. Sebuah kisah brutal tentang muda-mudi di sebuah kota pelabuhan Jepang yang dekat dengan pangkalan militer Amerika.

Setelah membaca beberapa karyanya, yang selalu saya suka dari Ryū Murakami adalah bagaimana ia mengakhiri tiap novelnya. Selain itu, saya selalu cinta pada tiap novel perdana dari seorang penulis.

2. Coin Locker Babies


Foto: Goodreads

Ditinggalkan saat lahir di loker stasiun kereta yang berdekatan, dua anak laki-laki menghabiskan masa muda mereka di panti asuhan dan dengan orang tua asuh di pulau terpencil. Mereka akhirnya berangkat ke kota untuk menemukan dan menghancurkan wanita yang pertama kali menolak mereka: ibu kandungnya.

Bersama-sama dan terpisah, perjalanan mereka dari kotak logam panas ke klimaks buas yang memukau adalah perjalanan brutal melalui lanskap menakutkan Jepang akhir abad ke-20. Sebuah kisah coming-of-age surealis yang menjadikan Ryū Murakami sebagai salah satu penulis paling kreatif di dunia saat ini.

3. 69


Foto: Goodreads

Ini musim panas tahun 1969. Kensuke Yazaki berusia tujuh belas tahun dan tertarik pada segalanya: Rolling Stones, Rimbaud, Velvet Underground, French New Wave, Jimi Hendrix, protes politik dan Janis Joplin, yang semuanya ada di negara lain yang sangat jauh.

Kensuke dan teman-temannya membawa semua itu ke kota kecil mereka, memulai gerakan pembangkangan, membarikade sekolah mereka, membuat film, mengadakan festival. Bukan demi seni atau politik, melainkan untuk alasan yang jauh lebih penting, untuk satu-satunya alasan nyata: menggaet para gadis.

Karya Murakami yang manis dan semi-otobiografi yang luar biasa, tentang masa yang menyenangkan di usia yang menyenangkan. Novel 69 begitu komikal dan penuh gairah.

4. Popular Hits of the Showa Era


Foto: Goodreads

Sebuah novel tentang perang, secara harfiah, antara para janda kesepian dengan gerombolan pemuda tanggung yang doyan mabuk, ngintip dan karaokean. Sureal dan komikal. Berawal dari pisau lipat, lalu pedang, lalu rudal, sampai bom atom rakitan.

Siapa sangka kalau "perang geng" yang mematikan bisa dibaca sangat menyenangkan? Ryū Murakami membangun konflik menjadi sindiran lucu atas budaya modern dan ketegangan antar jenis kelamin serta generasi.

Sebagai tambahan, Midori-nya Ryū Murakami yang ada di Popular Hits of the Showa Era lebih bangsat ketimbang Midori yang di Norwegian Wood itu.

5. Piercing


Foto: Goodreads

Setiap malam, ketika istrinya sudah tidur, Kawashima Masayuki diam-diam meninggalkan ranjangnya dan mengawasi tempat tidur bayi perempuannya. Ini bukan adegan rumah tangga biasa. Ada pemecah es di tangan Kawashima, dan keinginan tak terkendali untuk menggunakannya. Memutuskan untuk menghadapi roh-roh jahat dalam dirinya, Kawashima menggerakkan serangkaian peristiwa yang tampaknya mengarah pada pembunuhan.

Piercing cocok untuk meluapkan jiwa-jiwa sadomasokis dalam diri kita. Namun, Ryū Murakami tak sekadar mengeksploitasi kekerasan. Ia berangkat dari satu permasalahan yang hingga kini masih dianggap masalah akut: kekerasan anak. Memang, dengan cara yang aneh.

6. Audition


Foto: Goodreads

Saat awal membaca saya pikir novelnya mengarah ke semacam audisi pemain bokep, tapi ternyata ini novel Ryū Murakami paling kalem yang saya baca sejauh ini.

Tentang seorang duda berusia 40-an, yang tak bisa move on setelah ditinggal mati istrinya. Ia kemudian coba bikin audisi-audisian, untuk mencari pasangan ideal buat dirinya, sebuah saran dari kawannya. Meski berjudul Audition, proses audisinya justru tak terlalu ditonjolkan, langsung fokus pada satu peserta audisi tersebut, seorang cewek pertengahan 20-an yang menarik hati si duda tadi.

Galau dan derita orang yang jatuh cinta yang dipotret novel itu betul-betul saya suka. Seperti biasa, Murakami yang ini selalu menawarkan klimaks nyeleneh di akhir-akhir.

Tak lupa, film adaptasi dari novel ini yang digarap oleh Takashii Mike jadi salah satu karya penting dalam sinema Jepang.

Audition (1999)

7. In the Miso Soup


Foto: Goodreads

Panduan lengkap Saritem-nya Tokyo yang diceritakan dengan gaya novel stensilan tapi sastrawi, semacam 'fusion' antara Fyodor Dostoyevsky dan Abdullah Harahap. Dalam beberapa kesempatan, saya membaca novel vulgar ini sambil selonjoran di Masjid Al Ukhuwah seberang Pemkot Bandung.

Tepat sebelum Tahun Baru, seorang turis gembrot asal Amerika bernama Frank menyewa Kenji untuk memandunya dalam tur keliling kehidupan malam Tokyo selama tiga malam berturut-turut. Perilaku Frank sangat aneh, bikin Kenji mulai curiga kalau klien barunya ini sebenarnya pembunuh berantai yang tengah meneror kota ini. Sampai kemudian Kenji menyadari ada bahaya begitu besar yang justru harus ia takutkan, dan bahwa pertemuannya dengan Frank akan mengubah hidupnya.

Bagi yang ingin menjelajahi semesta Ryū Murakami, saya rekomendasikan In the Miso Soup ini untuk dibaca pertama kali. Jika klop, saya jamin setelahnya ada keinginan untuk menganjingkan Haruki Murakami.

7 Novel Berlatar Tokyo Karya Penulis Perempuan

tokyo night crowd
Foto: Jezael Melgoza / Unsplash

Ini adalah kota yang riuh. Ini adalah kota lama Edo yang terdiri dari kuil-kuil Budha tradisional dan kuil-kuil Shinto. Ini juga merupakan kota pra-perang dengan yokocho, gang-gang sempit yang di dalamnya terdapat izakaya dan warung ramen. Ini adalah kota metropolis modern dengan kafe kawaii, kawasan perbelanjaan, musik bawah tanah, dan Restoran Robot. Setiap buku yang berlatar di Tokyo menangkap esensi dari bagian kehidupan Tokyo yang berbeda.

Namun, mari menyingkirkan dulu The Wind Up Bird Chronicle (Haruki Murakami) dan In the Miso Soup (Ryu Murakami), yang begitu maskulin. Kita jelajahi Tokyo dengan perspektif lain, lewat novel-novel yang ditulis para perempuan.

Baca juga: 7 Penulis Perempuan Kontemporer dari Asia Timur

Ini adalah novel-novel yang merayakan Tokyo, menggali sisi gelap kota, menjelajahi perkawinan antara yang tradisional dan yang modern. Menawarkan kepada pembaca pandangan yang akrab dan dinamis tentang Tokyo. Beberapa gelap, beberapa lucu, beberapa romantis, semuanya indah dengan caranya sendiri. Membaca novel-novel yang berlatar di Tokyo ini akan memikat kita ke ibu kota Jepang yang luar biasa ini.

1. The Last Children of Tokyo - Yoko Tawada


the last children of tokyo yoko tawada
Foto: Goodreads

Yoshiro, seorang penulis yang sudah pensiun, telah melewati hari ulang tahunnya yang keseratus dan masih menghabiskan setiap pagi dengan jogging dengan anjing sewaannya - hanya ada beberapa hewan yang tersisa di Jepang. Cicitnya, Mumei, lahir, seperti segenerasinya, dengan rambut beruban dan kesehatan yang buruk. Harapan hidupnya buruk, dan tulangnya kemungkinan akan rapuh sebelum dia keluar dari masa remajanya.

Yoshiro dan Mumei ada dalam buku sebagai contoh menarik dari masyarakat mereka: Jepang versi distopia ketika kota-kota sebagian besar telah ditinggalkan, ikatan dengan dunia luar telah terputus, semua bahasa lain tidak lagi diajarkan atau diucapkan.

Novel ini melukiskan pandangan yang sangat distopian tentang Tokyo, tetapi yang terasa tidak terlalu jauh. Membandingkan bagaimana orang-orang di sana hidup dengan dunia masa depan yang menakutkan di Tokyo mendorong beberapa pertimbangan gelap dari dunia yang kita jalani lebih dekat setiap hari.

2. Moshi Moshi - Banana Yoshimoto


moshi moshi banana yoshimoto
Foto: Goodreads

Banana Yoshimoto adalah salah satu novelis modern terbaik Jepang. Dia adalah penulis yang sangat filosofis, dipertimbangkan, liberal, dan eksploratif yang menunjukkan hubungan intim dengan cinta, kehidupan, dan kematian. Moshi Moshi, sebuah istilah Jepang yang diucapkan saat mengangkat telepon, adalah salah satu novel yang paling dicintai.

Dalam Moshi Moshi, kawasan Shimokitazawa dijadikan latar. Distrik ini menggabungkan kehidupan hipster modern dengan suasana retro dan tradisional, dan sangat cocok dengan tokoh protagonis dari novel Yoshimoto.

Setelah Yoshie kehilangan ayahnya karena pakta bunuh diri yang aneh, dia dan ibunya pindah ke Shimokitazawa untuk memulai hidup baru, tetapi tak lama kemudian Yoshie terganggu oleh mimpi buruk dirinya yang mencoba memanggil ayahnya ketika dia mencari telepon yang dia tinggalkan pada hari dia bunuh diri. Seperti semua buku Yoshimoto, ini adalah novel Jepang tentang hubungan antara cinta dan kematian, dan salah satu buku Jepang modern terbaik yang ada.

3. Strange Weather in Tokyo - Hiromi Kawakami


strange weather in tokyo hiromi kawakami
Foto: Goodreads

Dari semua buku yang ada di Tokyo, ini adalah buku yang paling memahami dan mengeksplorasi hubungan yang hampir mustahil antara dunia Edo lama di Jepang dan kehidupan metropolitan modern di Tokyo saat ini. Hubungan itu diwujudkan oleh dua protagonis kita: sepasang kekasih yang tidak biasa yang harus belajar untuk memahami perbedaan mereka agar cinta mereka berhasil.

Strange Weather in Tokyo adalah bentrokan budaya dan kebiasaan Jepang modern dan klasik, dan metode kencan modern dan cuaca. Tulisannya bersih, lugas, dan secara mengejutkan cepat. Kisah cinta yang aneh dan mengasyikkan terletak di bar-bar kecil, jalan-jalan kecil, dan kafe-kafe di Tokyo.

Tsukiko, seorang pekerja kantoran modern, dan sensei-nya, seorang lelaki yang hampir kehabisan waktu, membuat dua pasangan kekasih termanis yang pernah ditulis dalam sebuah novel Jepang.

4. The Nakano Thrift Shop - Hiromi Kawakami


nakano thrift shop hiromi kawakami
Foto: Goodreads

Dua buku Kawakami berturut-turut? Ini kurang lebih tanda betapa bersemangatnya dia melukis kehidupan modern Tokyo. Jika Strange Weather di Tokyo adalah metafora yang jelas dari Tokyo lama-baru, maka The Nakano Thrift Shop adalah drama irisan kehidupan tentang sekelompok muda-mudi Tokyo, yang semuanya bekerja dan menghabiskan waktu di toko barang bekas yang unik.

Tokoh-tokoh yang mengisi buku ini adalah sekelompok anak muda yang manis dan beraneka ragam, mewakili gambaran milenial khas Jepang abad ke-21. Dari semua buku yang berlatar di Tokyo, The Nakano Thrift Shop memberikan perspektif tingkat jalanan yang sangat spesifik tentang kaum muda kota ini dan cinta yang tenang namun unik yang mereka jalani.

5. Out - Natsuo Kirino


out natsuo kirino
Foto: Goodreads

Out mengikuti kisah seorang wanita yang bekerja di sebuah pabrik di Tokyo, kelelahan karena harus menjadi seorang ibu dan mendukung suaminya yang tidak berguna dan tidak setia.

Ketika protagonis membentak dan membunuh suaminya, ia meminta bantuan kepada rekan kerjanya di pabrik untuk menutupi jejaknya. Tak lama kemudian mereka harus menangkis tidak hanya polisi tetapi juga keluarga kriminal yakuza setempat. Out adalah novel kriminal Jepang yang marah dan menggembirakan serta karya sastra feminis Jepang.

Ini adalah karya sastra feminis Jepang yang kuat, tetapi juga mengangkat selubung antara jalan-jalan Tokyo yang cerah dan bersih yang kita semua pahami, dan dunia kelas pekerja Tokyo yang gelap dan sulit yang jarang kita pikirkan.

6. Convenience Store Woman - Sayaka Murata


convenience store woman sayaka murata
Foto: Goodreads

Salah satu buku favorit saya sepanjang masa. Convenience Store Woman menawarkan kepada kita pandangan langka dan tak biasa ke dunia yang dilihat oleh semua orang di Tokyo tetapi tidak selalu tampak atau bahkan dipertimbangkan. Sesuatu yang wajar bagi seorang siswa bekerja paruh waktu di sebuah toko serba ada, tetapi protagonis Murata sedikit berbeda.

Keiko Furukura berusia tiga puluh enam dan telah bekerja paruh waktu di toko yang sama selama delapan belas tahun. Dia telah melihat delapan manajer, yang dia sebut hanya dengan nomor mereka, dan lebih banyak rekan kerja daripada yang bisa dia hitung. Dia sepenuhnya puas dengan hidupnya, dan tidak pernah meminta apa pun lagi; bukan pekerjaan yang lebih baik, lebih banyak uang, atau bahkan pasangan untuk berbagi hidupnya.

Keiko ditekan oleh orang-orang di sekitarnya untuk membuat sesuatu dari dirinya sendiri, dan orang yang mengerti yang terbaik adalah orang bodoh yang biadab dan kasar yang bertindak sebagai lawan maskulin yang biasanya sangat agresif terhadapnya.

Convenience Store Woman menunjukkan kepada kita semesta toko serba ada. Toko-toko kecil ini, yang dikenal sebagai konbini di Jepang, ada di setiap jalan di Tokyo. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan Jepang modern. Convenience Store Woman merayakan pekerjanya sambil menunjukkan kepada kita cara berbeda untuk hidup di dunia modern ini.

7. Tokyo Ueno Station - Yu Miri


tokyo ueno station yu miri
Foto: Goodreads

Novel pendek, yang marah, dan bermuatan politis oleh salah satu penulis modern paling berbakat dan tajam di Jepang saat ini. Tokyo Ueno Station melukiskan gambaran yang jujur ​​dan kejam tentang realitas perbedaan kelas dan ketidakadilan yang ditimbulkan kapitalisme modern. Ini adalah bukti bahwa meritokrasi adalah lelucon, dan bahwa ketidakadilan adalah kebenaran kehidupan modern, bahkan di kota yang damai seperti Tokyo.

Bertempat di Taman Ueno, protagonis novelnya adalah hantu lelaki tunawisma yang meninggal di taman yang sama itu tetapi memberikan hidupnya untuk membangun kota metropolitan modern yang kita kenal dan cintai hari ini.

Kazu lahir pada tahun yang sama dengan kaisar Jepang, dan kedua putra lelaki itu lahir pada hari yang sama. Sementara kaisar terlahir di puncak keistimewaan, Kazu lahir di pedesaan Fukushima, tempat yang nantinya akan dirusak oleh kehancuran pada 2011. Sementara putra kaisar akan terus menjalani hidup yang sehat, berbanding terbalik dengan kehidupan putra Kazu, dan Kazu sendiri akan menjalani hari-hari terakhirnya sebagai salah satu dari banyak tunawisma di Taman Ueno.

Tokyo Ueno Station berfungsi sebagai pengingat bahwa setiap manusia hanyalah manusia. Ini adalah observasi yang jujur ​​dan deklarasi kesedihan dari kehidupan kapitalis modern.

Baca juga: 10 Manga Shonen Karya Perempuan

Yang Video Game Jepang Ajarkan Tentang Budaya Jepang


Terlepas dari popularitas global video game Jepang, sebagian besarnya secara tradisional dibuat pertama dan terutama bagi konsumen domestik mereka - mungkin ada yang pernah kebingungan oleh gim semacam Mystical Ninja Starring Goemon saat masih kecil dulu. Saat kamu bermain gim Jepang, kamu mendapatkan pengalaman yang khas budaya ini. Beberapa motif tematik dan visual yang mungkin kamu lihat di permainan Jepang yang kamu mainkan saat tumbuh dewasa - atau yang kamu mainkan hari ini - dapat mengajarkan kita sesuatu tentang Jepang. Di bawah ini adalah contoh terkecil dari hal-hal yang dapat diungkapkan oleh video game Jepang tentang budaya yang menghasilkannya.

Shinto dan Cerita Rakyat


Meski pulau kecil ini telah diporakporandakan oleh Romawi, Viking, dan tentu saja agama Kristen, menyingkirkan atau mengkooptasi segala sesuatu yang dianggap 'pagan', agama etnis Jepang Shinto sebagian besar tak terputus selama ribuan tahun, dan dengan demikian tetap menjadi inti dari budaya Jepang dan sejarahnya. Secara alami, ini memanifestasikan dirinya dalam budaya pop Jepang modern, termasuk video game.

Dalam permainan video berlatar di Jepang kuno seperti Nioh atau Okami, kamu akan menemukan dirimu bertarung bersama sekutu dan melawan musuh secara langsung berdasarkan pada tokoh dan dewa mitos. Okami menyuruh kita bermain sebagai dewi matahari Amaterasu dalam bentuk serigala yang menggunakan pedang. Karya Hideki Kamiya ini menafsirkan beberapa mitologi Jepang dengan nada mesum yang menghibur, dari pendekar pedang legendaris Susano bereinkarnasi sebagai pemabuk tolol hingga Issun yang cabul, yang diambil dari kisah terkenal tentang samurai satu inci, Isshun-boshi.


Serial asli Shin Megami Tensei mengambil inspirasi dari mitos di seluruh dunia - tetapi Persona 4 mengakarkan persona karakter utamanya berdasarkan dewa dan pahlawan Shinto. Persona dari protagonis utamanya adalah Izanagi yang merupakan tokoh dalam mitos penciptaan Jepang, sedangkan saudara perempuannya yang kemudian jadi istrinya, Izanami, secara kebetulan menjadi bos terakhir dalam permainan ini.


Tidak mengherankan kalau pengaruh Shinto juga hadir di game Nintendo, meskipun kadang-kadang dalam bentuk yang paling tidak disangka-sangka. Kamu akan sulit sekali berpikir kalau Star Fox ada hubungannya dengan mitos Jepang sampai kamu menyadari bahwa Kyoto juga merupakan rumah bagi Fushimi Inari-taisha, kuil utama bagi Inari, roh rubah Jepang, dan 10.000 gerbang Torii digambarkan dari bangunan melengkung yang kamu lewati di Corneria.


Bahkan The Legend of Zelda, sebuah permainan yang lebih sering dikaitkan dengan fantasi tinggi Barat, memiliki berbagai referensi Shinto. Bahkan lebih jelas di Breath of the Wild, ketika kamu tidak hanya menemukan deretan patung-patung berhala tempat kamu dapat menawarkan buah, pemandangan umum di Jepang, tetapi biasanya akan menemukan Korok yang bersembunyi di sana. Korok ini tidak diragukan lagi terinspirasi oleh Kodama, atau arwah hutan, dalam cerita rakyat Jepang, yang secara kebetulan juga muncul di Nioh - dan juga merupakan pengaruh di belakang Kokiri di gim Zelda sebelumnya.


Maskot, Robot, dan Animisme


Dengan beberapa ekstensi, keunggulan berhala dalam budaya Jepang juga dapat menjelaskan popularitas maskot, yang ada di hampir semua aspek kehidupan Jepang, dari kantor pos hingga militer (maksudnya, 'Pasukan Bela Diri') hingga olahraga dan toko kelontong. Jika kamu memainkan JRPG, kamu hampir selalu memiliki semacam teman imut dalam perjalanan, dari Moogles di Final Fantasy sampai Morgana di Persona 5.

Demikian pula, robot diterima dengan tangan terbuka di masyarakat Jepang. Salah satu jagoan manga awal adalah Astro Boy, sebuah android yang bekerja untuk kebaikan manusia. Sekali lagi, Shinto dan kepercayaan animisme - gagasan bahwa semua objek memiliki arwah, termasuk benda mati buatan manusia - adalah teori populer mengapa ini terjadi, dan penjelasan yang masuk akal tentang bagaimana hanya Jepang yang dapat membuat idola virtual seperti Hatsune Miku, yang punya daya hidup dari campuran perangkat lunak musik yang cerdas. Dan sangat berbeda dengan ketakutan Barat, yang paling dicontohkan oleh visi apokaliptik Terminator, ada lebih banyak kemauan untuk mengeksplorasi kemungkinan kemanusiaan robot - titik fokus dalam permainan seperti Persona 3, robot Aigis bahkan menjadi pusat perhatian dalam perpanjangan epilog 'The Answer', sampai gim Nier: Automata.

Secara kebetulan, saya belajar sesuatu yang sangat menarik tentang penampilan robot Jepang di kuis kelas di Persona 5 tentang Rasio Perak - yang, tidak seperti Rasio Emas yang lebih dikenal, dianggap proporsi paling indah di Jepang dalam arsitektur dan seni. (Jika kamu benar-benar ingin tahu tentang hal-hal sepele Jepang, perhatikan kelas-kelas ini!)


Sebagai catatan tambahan, guru berkomentar bahwa rasio ini juga digunakan untuk membuat maskot terlihat imut dengan wajah chibi bundar besar mereka, seperti Morgana misalnya. Namun sekarang setelah kamu memikirkannya, pasti itulah yang membuat maskot paling terkenal dari semuanya, Super Mario, tukang ledeng Italia yang gemuk, ciptaan khas Jepang, bukan? Lihat saja wajahnya, atau bahkan hidungnya.


Ritual


Shinto sangat fokus pada praktik ritual, dan Jepang pada gilirannya adalah masyarakat ritualistik, bahkan dalam hal-hal paling sederhana seperti salam membungkuk atau frasa yang digunakan untuk menyambut atau berbicara dengan pelanggan di toko atau restoran.

Ritualisme ini hadir dalam seni yang telah hilang dari cara save manual game, tetapi juga ada dalam isyarat audio dan animasi. Alasan JRPG memasukkan selingan musik yang sama ketika kamu bermalam di penginapan, atau di Shenmue ketika Ryo tidur. Di Monster Hunter, kamu makan untuk berburu, tetapi ada sekuens animasi kecil saat kucing memasak dan kemudian saat kamu menikmatinya.


Perbedaan Selera Pemain Jepang dan Barat


Ada beberapa perbedaan umum antara selera pemain Jepang dan Barat yang terkadang terasa jomplang dalam beberapa tahun terakhir. Final Fantasy XIII yang linear diterima dengan baik di Jepang tapi tidak di Barat, sutradara Motomu Toriyama bahkan menyalahkan skor ulasan yang rendah karena para pengulas mengambil 'sudut pandang Barat'. Sebaliknya, Minecraft, yang menawarkan tingkat kebebasan yang menakutkan, memiliki dampak seismik yang lebih kecil di Jepang; Dragon Quest Builders menerapkan konsep Jepang dengan tidak hanya membungkus premis di salah satu waralaba terbesar di negara itu, tetapi juga memasukkan struktur berbasis cerita dan pencarian yang mirip dengan RPG tradisional.

Wawancara Glixel dengan Jordan Amaro, salah satu dari hanya dua pengembang non-Jepang di Nintendo, menyentuh gagasan bahwa segala sesuatu di Jepang “dibuat khusus”, terutama dalam kasus Splatoon dan keterbatasannya dengan rotasi peta dan mode:

“'Saya membeli game ini. Mengapa saya tidak bisa menikmati permainan ini seperti yang saya inginkan?' Bukan itu yang kami pikirkan di sini. Ya, Anda memang membeli gamenya. Tapi kami yang membuat game ini. Dan kami cukup yakin tentang bagaimana permainan ini harus dinikmati."

Memahami dan menghormati jadwal juga penting dalam permainan seperti Animal Crossing, ketika toko-toko hanya buka pada waktu tertentu sesuai dengan jam dunia nyata - meskipun setidaknya dengan New Leaf, pemain memiliki waktu luang untuk mengubah waktu buka agar lebih sesuai dengan jadwal pribadi mereka. Sementara itu, gim Persona dari 3 hingga 5 adalah tentang memberimu banyak kegiatan, tetapi dengan waktu yang terbatas setiap hari untuk melakukannya.


Area lain ketika selera dan sikap budaya yang berbeda, tentu saja, soal representasi perempuan. Jenis-jenis permainan Jepang tertentu tidak pernah gagal menemukan cara untuk melakukan pelecehan terhadap karakter perempuan - siapa yang akan menduga melawan robot pembunuh di daerah pasca-apokaliptik Nier: Automata memiliki begitu banyak waktu untuk meningkatkan peluang mengintip celana dalam karakternya? Bahkan penggemar Yakuza yang paling bersemangat pun akan kesulitan memaafkan beberapa aktivitas sampingan di Kamurocho sebagai bagian dari kenyelenehan seri ini, ambil contoh Battle Bug Beauties.

*

Diterjemahkan dari artikel Kotaku berjudul What Japanese Games Can Teach Us About Japanese Culture.