Showing posts with label kesehatan. Show all posts

Anatomi Insomnia


Foto: Megan te Boekhorst / Unsplash

Insomnia adalah kondisi tidur yang paling umum di dunia, dengan setengah dari orang dewasa secara global melaporkan episode sesekali. Insomnia kronis, meskipun jauh lebih jarang, mempengaruhi sebanyak 10 hingga 15 persen dari populasi orang dewasa.

Meskipun masalah tidur ini sangat umum, mekanisme neurobiologis di balik insomnia belum sepenuhnya dipahami. Penelitian menunjukkan bahwa stres emosional memainkan peran besar dalam berbagai masalah tidur, dan tercatat bahwa gangguan suasana hati dan kecemasan adalah komorbiditas umum dengan insomnia. Ini sepertinya sudah jadi kepercayaan umum. Gairah emosional, apakah karena keadaan cemas atau karena pikiran yang mengganggu, membuatnya sulit untuk rileks, sehingga menghambat kemampuan seseorang untuk memulai tidur atau kembali tidur setelah terbangun.

Garis pemikiran ini menunjukkan bahwa para peneliti dapat lebih memahami insomnia dengan memeriksa mekanisme yang mendasari bagaimana tubuh kita merespons stres.

Sistem Limbik


Bagian-bagian otak yang bertanggung jawab untuk memproses dan merespons stres secara kolektif dikenal sebagai sistem limbik. Semua hewan memiliki beberapa iterasi sistem limbik, dan memungkinkan mereka untuk dengan cepat menanggapi ancaman yang dirasakan. Ketika ancaman diidentifikasi, sistem limbik mulai bertindak untuk mempersiapkan tubuh kita untuk melarikan diri dari ancaman atau melawannya. Reaksi ini dikenal sebagai respons fight-or-flight.

Respon fight-or-flight ini sangat penting untuk bertahan hidup karena memberi hewan, termasuk manusia, lonjakan neurotransmiter, yang memberi mereka kesempatan lebih baik untuk melarikan diri atau melawan predator. Siapa pun yang terkejut dan merasakan jantung mereka mulai berpacu tahu betapa kuatnya respons ini. Namun, sistem yang sama diaktifkan bagi manusia yang hidup dalam latar yang lebih modern bahkan jika alasan lonjakan tiba-tiba neurotransmitter adalah dari sesuatu yang tak terlalu mengerikan. Konsekuensinya, tenggat waktu yang makin mepet atau janji temu di hari esok yang berpotensi menimbulkan kecanggungan dapat memicu mekanisme biofisiologis yang sama, meskipun situasi seperti ini tidak menimbulkan ancaman signifikan bagi keberadaan kita.

Anatomi Sistem Limbik


Sistem limbik memiliki dua komponen utama, amigdala dan hippocampus. Amigdala merespons rangsangan dengan menghasilkan respons emosional, terutama perasaan takut atau agresif, serta emosi positif ketika tubuh merasakan rangsangan yang membangkitkan atau rangsangan yang menyenangkan. Hippocampus bertanggung jawab untuk penciptaan dan konsolidasi memori.

Sistem limbik juga berkomunikasi dengan beberapa bagian otak lainnya. Secara khusus, hipotalamus memainkan peran utama dalam sistem limbik, meskipun ia juga melakukan banyak fungsi lainnya. Hipotalamus dapat dianggap sebagai pusat kendali tubuh karena mengatur banyak sistem saraf otonom (ANS), yang bertanggung jawab untuk mengendalikan fungsi tubuh vital yang tidak perlu kita pikirkan. Beberapa fungsi-fungsi ini termasuk pernapasan, tekanan darah, suhu tubuh, dan detak jantung.

Aktivasi Sistem Limbik


Ketika kita merasakan ancaman, amigdala mengirimkan sinyal marabahaya ke hipotalamus, yang pada gilirannya mengirimkan pesan kimiawi ke kelenjar adrenal untuk melepaskan epinefrin (atau adrenalin) ke dalam aliran darah. Peningkatan adrenalin ini mengaktifkan divisi ANS yang dikenal sebagai sistem saraf simpatis (SNS), yang mengaktifkan perubahan fisiologis dalam tubuh yang pada akhirnya akan membantu kita melawan ancaman atau melarikan diri ke tempat yang aman. Misalnya, ketika adrenalin mengalir ke seluruh tubuh, ia melebarkan saluran udara di paru-paru kita untuk membawa lebih banyak oksigen ke dalam tubuh, itu menyebabkan detak jantung kita meningkat untuk mendorong lebih banyak darah yang kaya oksigen ke otot-otot kita, dan ia melepaskan enzim yang menyebabkan lemak yang telah disimpan dalam tubuh kita untuk diubah menjadi glukosa, yang kemudian memberi kita lebih banyak energi. Bahkan penglihatan dan pendengaran kita menjadi lebih tajam.

Jika ancaman tidak segera teratasi, tubuh dapat mempertahankan keadaan hiperawaritas ini dengan mengaktifkan apa yang dikenal sebagai poros hipotalamus-hipofisis-adrenal (aksis HPA). Rangkaian respons hormon ini dimulai ketika hipotalamus melepaskan hormon pelepas kortikotropin (CRH) dan arginin vasopresin (AVP), yang memberi tahu kelenjar hipofisis untuk melepaskan hormon adrenokortikotropik (ACTH). ACTH memerintahkan kelenjar adrenalin untuk memproduksi kortisol, yang menjaga tubuh dalam keadaan waspada. Karena alasan ini, kortisol sering disebut sebagai "hormon stres."

Begitu ancaman telah berlalu, divisi lain dari sistem saraf otonom, sistem saraf parasimpatis (PNS), mengambil alih dan mengembalikan tubuh kita ke keadaan istirahat. PNS tidak hanya bertanggung jawab untuk melonggarkan tubuh kita dari keadaan kewaspadaan tinggi; itu juga mengatur aktivitas seksual, air liur, pencernaan, buang air kecil, dan buang air besar. Secara umum, SNS melibatkan fight-or-flight, PNS melibatkan aktivitas makan dan berkembang biak.

Peran Hippocampus dalam Sistem Limbik


Sebagian besar ingatan bukan sekadar kumpulan persepsi. Mereka juga memasukkan cara yang kita rasakan pada saat ingatan diciptakan karena amigdala dan hippocampus bertindak bersama untuk menyandikan ingatan dengan emosi. Di satu sisi, kondisi ini mengharuskan kita untuk berulang kali berpartisipasi dalam kegiatan yang terkait dengan emosi positif. Di sisi lain, itu mengharuskan kita untuk menghindari kegiatan yang terkait dengan emosi negatif dan memungkinkan kita untuk lebih siap menghadapi skenario fight-or-flight.

Jika kita mendapati diri kita dalam situasi yang berbahaya dan melarikan diri, kita mungkin dikondisikan untuk menghindari tidak hanya situasi itu sendiri, tetapi kegiatan atau rangsangan yang terkait dengan situasi itu. Ketakutan semacam itu tidak didasarkan pada insting, tetapi lebih pada ingatan. Sebagai contoh ekstrem, jika seseorang hampir tenggelam di lautan pada usia muda, hal ini dapat menimbulkan ketakutan tidak hanya pada lautan, tetapi juga terhadap segala jenis perairan.

Sementara interaksi antara emosi dan memori ini dapat menyebabkan berbagai fobia yang dapat mengganggu kehidupan normal seseorang, hubungan ini merupakan bagian integral dari kelangsungan hidup. Tanpa itu, kita tidak akan bisa mengingat ancaman potensial atau kegiatan berbahaya. Orang seperti itu akan menjadi tak kenal takut dan kemungkinan besar tidak akan lama berada di dunia ini.

Sistem Limbik dan Tidur


Kabar baiknya adalah bahwa banyak dari kita tidak lagi hidup di dunia di mana kita harus terus-menerus waspada tentang predator atau bahaya potensial lainnya, tetapi kita masih siap untuk bertindak jika ada ancaman. Selain itu, banyak dari kita mengalami kesulitan mematikan kiasan "on switch" dalam pikiran kita, yang berarti bahwa tingkat stres kita tetap tinggi bahkan ketika kita mencoba menidurkan diri kita.

Ini adalah kejadian yang relatif normal, sayangnya. Dalam kebanyakan kasus, setelah penyebab stres teratasi, individu dapat melanjutkan pola tidur normal. Namun, bagi mereka yang menderita insomnia, pemicu stres adalah kurang tidur, dan keinginan untuk tidur menjadi pemicu stres itu sendiri. Dengan kata lain, fiksasi pada tidur menyebabkan perasaan stres karena tidak tertidur, yang memulai lingkaran setan. Menurut model yang pertama kali diusulkan oleh Kales et al. pada tahun 1976, pasien dapat mengembangkan rasa takut terkondisikan untuk tidak bisa tidur, yang membuat mereka dalam keadaan hyperarousal ketika mereka mencoba untuk tertidur. Ini membuat ketidakmampuan mereka untuk tidur menjadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya.

Penelitian tambahan telah menguatkan model ini. Sebuah penelitian di Jerman yang diterbitkan dalam jurnal Sleep pada tahun 2014 mengamati bahwa pasien dengan insomnia merespons rangsangan terkait insomnia dengan peningkatan aktivitas amigdala yang berhubungan dengan emosi negatif. Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa ketakutan terhadap insomnia, yang dapat ditimbulkan oleh pasien rangsangan yang berhubungan dengan insomnia, dapat menjadi akar dari insomnia itu sendiri.

Bagi dokter, para penulis penelitian menyarankan bahwa opsi perawatan harus mencakup strategi yang mengatasi emosi negatif yang terkait dengan insomnia dan tidur. Ini akan termasuk menawarkan pelatihan relaksasi (teknik pernapasan, meditasi, panduan penggambaran, dll.), serta Cognitive-Behavioral Treatment (CBT) dalam kasus-kasus yang lebih sulit.

Pada akhirnya, tujuannya mungkin bukan semata-mata untuk mengobati insomnia pasien, tetapi juga untuk mengobati ketakutan pasien terhadap insomnia dan untuk menyelesaikan setiap emosi negatif yang terkait dengan tidur.

*

Diterjemahkan dari The Anatomy of Insomnia yang ditulis Samoon Ahmad di Psychology Today.

Lagu Opening Anime

terror in resonance earphone music

Musik tampaknya alat emosional yang kuat. Nada-nada kalem dan gema dari komposisi warisan Mozart atau Tchaikovsky dari abad lampau masih dapat membangkitkan kesepian dan keputusasaan. Betapa memuaskan bernyanyi bersama The Beatles dan Nirvana saat sedang muak dengan dunia, atau menenangkan diri lewat tiupan saksofon dari John Coltrane, atau menatap langit-langit kamar sambil menyetel Plastic Love-nya Mariya Takeuchi, atau bersedih bersama Someone Like You-nya Adele, atau bergoyang bareng Nella Kharisma dan Darso.

Klasik, folk, rock, blues, jazz, punk, hip hop, alternative, dubstep, Britpop, K-pop, Pop Sunda sampai dangdut koplo, semua musik dan perkembangan sejarahnya, hari ini berada dalam genggaman, kita bebas memilih - meski seringnya algoritma rekomendasi dan selera personal yang membatasi kebebasan ini.

Manfaat Musik Pada Tubuh


Sebagian besar kita bisa mendengarkan beberapa genre musik berkat kemudahan akses tadi, dan mendengarkan musik jadi pengalaman yang jauh lebih personal ketimbang masa-masa sebelumnya (terima kasih buat penemu earphone), dan menemukan satu genre musik yang kita sukai lebih mudah daripada sebelumnya.

Namun, aspek-aspek tertentu dari musik bekerja hampir pada kita semua, yang berarti musik dapat digunakan dalam berbagai pengaturan untuk mengurangi stres, menginspirasi kepercayaan, dan meningkatkan produktivitas. Gagasan bahwa musik dapat memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku ini mungkin tidak terlalu mengejutkan. Sudah banyak penelitian yang menunjukkan musik yang dimainkan ketika pendengar berfokus pada kegiatan lain, dapat meningkatkan kinerja pada tugas-tugas kognitif tersebut.

Lihat: Manfaat Psikologis Musik

Lagu Opening Anime Meningkatkan Vitalitas Hidup



Pasti dari kita punya semacam lagu-lagu penyaman tapi merasa malu kalau ketahuan orang, lagu-lagu yang banyak menemani keseharian kita tapi hanya jadi rahasia kita, lagu-lagu yang sering menyelamatkan kita tapi hanya boleh didengar lewat earphone kita atau ketika tak ada orang lain di sekitar. Buat saya itu adalah lagu-lagu opening anime.

Mereka selalu bikin vitalitas hidup makin meningkat dan efek samping berupa keinginan untuk menonjok monster dan injeksi semangat untuk mengubah dunia ke arah yang lebih baik. Setidaknya saya menyetel lagu-lagu opening anime dalam beragam aktivitas keseharian, dari saat membaca sampai cuci piring. Namun, entah mengapa saya sulit mengumbarnya, sebagian besar alasannya karena malu jika dicap weebo atau dianggap selera musiknya sampah.

Saya teringat Kabakura Taro di Wotakoi: Love Is Hard for Otaku yang awalnya merahasiakan tipsnya menyervis bola, karena malu dicibir sebagai otaku oleh adik kelasnya Hanako Koyanagi. Kabuka bisa menyervis bola dengan cemerlang sebab ia punya trik jitu dengan memainkan lagu anime dalam kepalanya, dan lewat itu ia merasa seperti karakter protagonis anime, bisa melampau batas dirinya dan mampu menciptakan keajaiban. Terdengar konyol tapi bagi Kabakura itu penting.

wotakoi manga kabakura anime song quote

wotakoi manga kabakura anime song quote

Seperti Kabakura, saya sering memilih lagu-lagu anime untuk menemani ketika olahraga lari. Ada alasan bagus mengapa kita merasa lebih mudah untuk berolahraga ketika kita mendengarkan musik, para peneliti telah menemukan bahwa mendengarkan musik bertempo cepat memotivasi orang untuk berolahraga lebih keras.

Penelitian menemukan bahwa mempercepat trek menghasilkan peningkatan kinerja dalam hal jarak yang ditempuh, kecepatan mengayuh, dan tenaga yang diberikan. Sebaliknya, memperlambat tempo musik menyebabkan penurunan semua variabel ini. Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa mendengarkan musik bertempo cepat tidak hanya menyebabkan kita bekerja lebih keras, tetapi juga bakal lebih menikmati musiknya. Jadi, saya selalu mempertimbangkan untuk memuat daftar putar yang diisi dengan lagu-lagu anime.

Kenapa Lagu Opening Anime Begitu Menarik?


Kenapa saya begitu suka lagu-lagu opening anime? Saya percaya ini ada hubungannya dengan aspek yang saling terkait dari anime yang saya tonton. Pertama, lagu-lagu anime sebenarnya sudah bagus dari sananya. Lagu itu sendiri harus bagus untuk saya sukai dan karena saya suka lagu itu, ia meningkatkan pengalaman menonton anime. Ketika saya menonton anime, saya merasakan berbagai jenis perasaan seperti kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, dan semua faktor ini di anime menjadi memori yang hebat.

Ketika saya mendengarkan lagu sambil menonton anime, terasa enak tetapi ketika saya mendengarkannya lagi, apakah dengan anime atau dengan sendirinya, itu menjadi jauh lebih nikmat karena semua yang terkait dengan lagu tersebut.

Baca juga: 7 Lagu Opening Sword Art Online

Kemudian, yang menambah keindahan adalah ketika saya mulai sangat mencintai lagu tersebut dan kemudian tidak bisa menolak untuk mencari artinya. Saya mencari terjemahan liriknya dan terpesona oleh betapa indahnya lirik dan betapa berartinya mereka dibandingkan dengan anime. Itulah yang membuat lagu anime begitu nikmat, meski tentu saja tidak semua lagu anime bagus, tapi banyak di antaranya yang meninggalkan kesan.

Lagu-lagu opening anime memuat optimisme penuh sakarin beserta kekuatan cinta dan persahabatan, semangat pantang menyerah untuk menekel beragam halang rintang, sesuatu yang terasa begitu imajinatif bagi saya hari ini. Namun sebenarnya, jauh di lubuk hati, saya tahu saya masih seorang pemimpi.

Khasiat Kesedihan

Foto: Verne Ho / Unsplash

Cara kesedihan bekerja adalah salah satu teka-teki teraneh di dunia. Ia membakar, bukan hanya karena hadirnya rasa sakit, tetapi karena ia tampaknya menyebar ke seluruh hidup kita, seperti asap dari kebakaran hebat. Kita mungkin merasa sulit untuk melihat apa pun selain kesedihan itu sendiri, seperti asap dapat mengubah pemandangan jadi hitam belaka. Tentu saja, seperti bakal ada petugas pemadam kebakaran yang menjinakkan kobaran api, kesedihan bisa dipadamkan, tetapi tidak pernah memulihkan apa yang telah terbakar.

Ketika kesedihan datang, tampaknya tidak ada yang bisa kita lakukan untuk melarikan diri darinya. Apakah karena berakhirnya sebuah hubungan romantis, atau kegagalan menggapai angan-angan, atau kematian orang yang kita cintai, atau mungkin gara-gara nonton serial drama, kesedihan adalah emosi normal, sekaligus menjadi satu perasaan yang secara konsisten kita coba hindari. Kita merasa harus berlari ke arah kebahagiaan - yang seringnya malah bikin kita makin tertekan.

Kebahagiaan, di sisi lain, memang telah banyak diketahui punya berbagai macam keuntungan, dari meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan membuat kita lebih tahan terhadap rasa sakit, juga mengurangi stres dan secara keseluruhan meningkatkan kualitas hidup kita. Kesedihan sepertinya tak punya guna bagi kita, hanya simbol kelemahan. Namun, selama beberapa tahun terakhir, lewat beragam penelitian ilmiah, telah ditemukan beragam manfaat kesedihan. Sesuatu yang tampaknya bisa membenarkan eksisnya perasaan manusiawi ini, bahwa kesedihan bukan kesalahan.

1. Komunikasi yang lebih baik


Saat kita sedih, berbicara dengan orang lain tampak berat, kecuali jika dengan seseorang yang dekat dengan kita atau konsul langsung ke profesional. Hanya saja itu bukan sesuatu yang kita sukai kalau sedang berada dalam kondisi itu. Namun, jika kita mengumpulkan cukup kemauan untuk melakukannya, kita akan menyadari bahwa kita jauh lebih baik dalam percakapan ketika sedang berada dalam suasana hati yang buruk.

Sebuah penelitian dari UNSW Sydney tentang bagaimana suasana hati memengaruhi keterampilan komunikasi telah menemukan bahwa orang yang sedang sedih jauh lebih persuasif, dan lebih baik dalam memengaruhi pendapat pendengar mereka. Tampaknya, menjadi sedih mengubah cara kita memproses sesuatu, dan membuat kita lebih jelas dalam menyampaikan apa yang ingin kita katakan.

2. Meningkatkan pengembangan memori


Kesedihan memengaruhi otak dengan cara yang tidak kita mengerti, terutama mengenai berbagai kemampuan kognitif kita. Walaupun jelas memiliki efek negatif di banyak hal, seperti kemampuan analitis dan pemikiran abstrak, tapi kesedihan juga membuat kita lebih baik dalam hal-hal lain, seperti menghafal.

Beberapa eksperimen telah menemukan bahwa orang yang sedih jauh lebih baik dalam proses ingatan. Penelitian di Cardiff University menunjukkan bahwa orang yang sedih lebih baik dalam hal pengenalan wajah ketimbang orang yang sedang bahagia.

3. Empati lebih tinggi


Orang yang menderita depresi, bahkan yang ringan, dianggap terputus dari seluruh dunia. Soal empati, kita selalu berpikir bahwa orang yang lebih bahagia akan lebih siap dan lebih bersedia untuk membantu orang lain. Namun, penelitian membuktikan, justru terjadi sebaliknya.

Eksperimen yang dilakukan Queen's University di Kanada pada siswa yang mengalami depresi ringan menunjukkan bahwa menjadi sedih dapat membuat kita lebih berempati terhadap emosi orang lain. Mereka tampil secara signifikan lebih baik pada tes daripada siswa yang tidak depresi. Selain dapat diartikan bahwa kebahagiaan membuat kita lebih egois, para peneliti juga berpikir bahwa hal ini disebabkan oleh munculnya hipersensitivitas pada saat depresi.

4. Keahlian berpikir lebih baik


Kebanyakan orang tidak merasa ingin melakukan apa pun ketika mereka sedang sedih atau dalam suasana hati yang buruk, inginnya duduk nyaman di satu tempat atau makan seenaknya. Ini adalah respons alami tubuh terhadap kesulitan emosional, bahkan jika kita tidak mengerti kenapa itu bisa membantu. Jika kita berusaha dan mengerjakan beragam hal pada saat itu, kita akan menemukan bahwa itu sebenarnya waktu terbaik untuk menyelesaikan tugas yang membutuhkan pemikiran.

Penelitian yang dilakukan University of Waterloo, Kanada, menemukan bahwa orang-orang dalam suasana hati yang buruk jauh lebih baik dalam fokus, manajemen waktu dan prioritas tugas, walaupun hanya jika mereka reaktif secara emosional. Namun, justru sebaliknya bagi orang-orang yang kurang rentan terhadap emosi negatif, yang melihat penurunan kemampuan fungsi mereka selama fase buruk mereka.

5. Motivasi lebih baik


Kesedihan seringnya dikaitkan dengan kurangnya motivasi. Saat kita sedih, kita cenderung berfokus pada hal-hal yang membuat kita sedih ketimbang berfokus untuk mengatasinya. Masuk akal bahwa menjadi sedih juga akan datang dengan ketidakmampuan untuk memperbaiki penyebab sebenarnya dari masalah. Namun, secara ilmiah, kurangnya motivasi bukanlah salah satu efek samping dari kesedihan.

Faktanya, penelitian University of New South Wales menunjukkan bahwa kesedihan adalah alat motivasi yang cukup efektif. Orang yang bahagia cenderung merasa nyaman dan kurang memiliki kecenderungan untuk mengubah apa pun dalam hidup mereka, yang pada gilirannya dapat menyebabkan perasaan mandek atau tidak terpenuhi. Sebaliknya, orang yang sedih lebih terdorong untuk keluar dari situasi mereka, dan memiliki kemauan yang lebih tinggi untuk berubah menjadi lebih baik.

6. Lebih baik dalam menghadapi kesulitan


Kesedihan adalah respons alami terhadap hal-hal yang tidak menguntungkan kita. Kita semua mengalaminya sesekali tergantung pada keadaan kita masing-masing. Sementara kita sepakat bahwa menyebalkan untuk menjadi sedih, tapi sains mengatakan bahwa kesedihan itu sebenarnya bermanfaat.

Satu studi yang dilakukan di University of Buffalo, New York, pada 2.400 partisipan menemukan bahwa orang-orang yang telah mengalami semacam kemalangan dalam kehidupan masa lalu mereka lebih bisa menyesuaikan diri secara emosional daripada yang lain. Mereka lebih baik dalam menghadapi situasi buruk daripada mereka yang belum pernah mengalami pengalaman serupa, membuat mereka lebih siap untuk menghadapi kesulitan di kemudian hari.

7. Tanda bahwa kita orang baik


Sudah lama diduga bahwa umumnya orang baik memiliki kemungkinan lebih besar untuk bersedih terhadap keadaan dunia di sekitar mereka. Meskipun kita tidak pernah memiliki banyak data untuk mendukungnya, masuk akal bahwa semakin baik terhadap orang lain, semakin besar kemungkinan akan terpengaruh secara negatif oleh situasi buruk mereka.

Penelitian yang dilakukan Rutgers University mengkonfirmasi bahwa hal itu benar. Orang yang lebih prososial atau lebih sadar akan orang lain cenderung memiliki gejala depresi, atau lebih mungkin mengembangkannya di kemudian hari.

Ilusi Positif dan Realisme Depresif

Foto: Anthony Tran / Unsplash

Filsuf Norwegia Peter Wessel Zapffe berpendapat bahwa pada dasarnya kapasitas manusia untuk berpikir dan berkesadaran diri terputus dari alam, dan sebagai bagian darinya kita mendapat lebih dari yang dapat kita atasi. Jadi, agar tidak menjadi gila, "kebanyakan orang belajar untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dengan secara artifisial membatasi isi kesadaran."

Orang tidak hanya membatasi isi kesadaran tetapi juga mengisinya dengan lebih sedikit kebenaran. Khususnya, kebanyakan orang berpikir lebih tinggi tentang diri mereka daripada yang sebenarnya: Mereka memiliki perasaan yang membubung tentang kualitas dan kemampuan diri mereka, ilusi karena bisa mengontrol hal-hal yang sebagian besar di luar dirinya, dan optimisme salah tempat tentang hasil-hasil dan harapan-harapan mereka.

Sebagai contoh, kebanyakan orang mengklaim lebih baik ketimbang rata-rata pengguna jalan, warga negara, orang tua ... yang tentu saja secara matematis tidak mungkin, karena tidak semua orang bisa di atas rata-rata. Pasangan yang baru menciptakan ikatan mungkin cenderung melebih-lebihkan kemungkinan memiliki bulan madu menyenangkan atau punya anak yang berbakat, sementara meremehkan kemungkinan memiliki keguguran, jatuh sakit, atau perceraian.

Konsep ilusi positif pertama kali muncul pada tahun 1988, dalam sebuah makalah oleh Shelley Taylor dan Jonathon Brown berjudul Illusion and well-being: A social psychological perspective on mental health. Sampai hari ini, secara umum diyakini bahwa kesehatan mental sesuai dengan persepsi akurat tentang diri, dengan yang lain, dan dengan dunia, tetapi dalam makalah mereka, Taylor dan Brown berpendapat bahwa bukti menunjukkan sebaliknya dan bahwa ilusi positif adalah karakteristik dari pemikiran manusia normal.

Ilusi positif sangat membantu sejauh memungkinkan kita untuk mengambil risiko, berinvestasi di masa depan, dan menangkis keputusasaan dan depresi. Lagipula, berapa banyak orang yang akan menikah jika mereka benar-benar mengerti apa yang menanti mereka? Tetapi dalam jangka panjang, perspektif dan penilaian yang buruk yang datang dari harga diri yang tidak semestinya dan harapan palsu cenderung menyebabkan kekecewaan dan kegagalan.

Ilusi positif cenderung lebih umum, dan lebih tertanam, di Barat. Dalam budaya Asia Timur, misalnya, orang kurang memberi diri mereka sendiri dan lebih memberi dalam komunitas dan masyarakat mereka, dan cenderung, jika ada, pada penipisan diri (self-effacement) ketimbang peningkatan diri (self-enhancement).

Ilusi positif juga lebih umum pada orang yang tidak terampil, mungkin karena orang yang sangat terampil cenderung berasumsi, meskipun salah, bahwa orang-orang di sekitar mereka menikmati tingkat wawasan dan kompetensi yang sama. Efek Dunning-Kruger ini, sebagaimana telah disebut, dikemas dengan rapi dalam sebuah fragmen singkat dari pengantar Descent of Man-nya Darwin: "... ketidaktahuan lebih sering menghasilkan kepercayaan daripada pengetahuan ..." Dan, tentu saja, mungkin juga bahwa, dibandingkan dengan orang yang sangat terampil, orang yang tidak memiliki keterampilan lebih bergantung pada ilusi positif untuk harga diri mereka dan kesehatan mental yang lebih besar.

Realisme Depresi


Seperti umumnya dipercaya bahwa kesehatan mental berhubungan dengan persepsi akurat tentang diri, dengan yang lain, dan dengan dunia, demikian juga pada umumnya dipercaya bahwa depresi menghasilkan, dan dihasilkan dari, pemikiran yang terdistorsi.

"Cognitive distortion" adalah konsep dari Cognitive-Behavioral Treatment (CBT), yang dikembangkan oleh psikiater Aaron Beck pada 1960-an dan secara rutin digunakan dalam pengobatan depresi dan gangguan mental lainnya. Distorsi kognitif melibatkan menafsirkan peristiwa dan situasi sehingga mereka sesuai dengan dan memperkuat pandangan atau kerangka pikiran kita, biasanya berdasarkan bukti yang sangat sedikit atau sebagian, atau bahkan tidak ada bukti sama sekali.

Distorsi kognitif umum dalam depresi termasuk abstraksi selektif, personalisasi, dan pemikiran katastrofik:
  • Abstraksi selektif adalah berfokus pada satu peristiwa atau kondisi negatif dengan mengesampingkan yang lain, yang lebih positif, misalnya: "Pasangan saya tidak menelepon saya kemarin. Dia pasti membenci saya."
  • Personalisasi adalah untuk mengaitkan peristiwa independen dengan diri sendiri, misalnya: "Perawat itu meninggalkan pekerjaannya karena dia muak dengan saya ..."
  • Pemikiran katastropik adalah membesar-besarkan konsekuensi negatif dari suatu peristiwa atau situasi, misalnya: "Rasa sakit di lutut saya hanya akan menjadi lebih buruk. Ketika saya pakai kursi roda, saya tidak akan bisa pergi bekerja dan bayar beragam tagihan. Jadi akhirnya saya akan kehilangan rumah saya dan sekarat di jalan."

Namun, literatur ilmiah menunjukkan bahwa, terlepas dari kecenderungan mereka untuk distorsi kognitif seperti itu, banyak orang dengan suasana hati yang tertekan juga dapat memiliki penilaian yang lebih akurat tentang hasil dari apa yang disebut peristiwa kontinjensi (peristiwa yang mungkin atau mungkin tidak terjadi) dan persepsi yang lebih realistis. tentang peran, kemampuan, dan keterbatasan mereka — sebuah fenomena yang kadang-kadang, dan secara kontroversial, disebut sebagai "realisme depresi".

Konsep realisme depresi berawal pada 1979, dalam sebuah makalah berjudul Judgment of contingency in depressed and non-depressed students: sadder but wiser? Atas dasar temuan mereka, para penulis, Lauren Alloy dan Lyn Abramson, berpendapat bahwa orang dengan depresi membuat kesimpulan yang lebih realistis daripada orang "normal", yang cacat oleh ilusi positif mereka. Ini menunjukkan bahwa orang dengan depresi mampu melihat dunia lebih jelas apa adanya, sementara orang normal hanya normal sejauh mereka berhasil mengakali atau menipu diri sendiri.

Depresi bisa baik bagi kita. Tetapi inilah intinya: Orang dengan depresi begitu pesimistis bahkan dalam situasi ketika pesimismenya tidak beralasan, menunjukkan bahwa alih-alih menjadi lebih realistis, pemikiran mereka hanyalah bias berbeda, dan sama kaku dan terdistorsi seperti orang normal dengan ilusi positif mereka.

Kebijaksanaan, tampaknya, terdiri dari mampu melepaskan ilusi positif kita tanpa juga menyerah pada depresi, meskipun, bagi banyak orang, depresi mungkin merupakan langkah yang perlu dilakukan.

-

Referensi
  • PW Zappfe. (1933). The Last Messiah.
  • Taylor SE & Brown JD. (1988). Illusion and well-being: a social psychological perspective on mental health. Psychol Bull. 103(2):193-210.
  • C Darwin. (1871). The Descent of Man, Introduction.
  • Alloy LB & Abramson LY. (1979). Judgment of contingency in depressed and nondepressed students: sadder but wiser? J Exp Psychol Gen. 108(4):441-85.
  • Dykman, B.M.; Abramson, L.Y.; Alloy, L.B.; Hartlage, S. (1989). Processing of ambiguous and unambiguous feedback by depressed and nondepressed college students: Schematic biases and their implications for depressive realism. Journal of Personality and Social Psychology 56(3):431–445.

*

Diterjemahkan dari Positive Illusions and Depressive Realism.

Pentingnya Air Untuk Fungsi Mental Optimal


Dari semua trik untuk menjaga pikiran tetap tajam, dari mulai tidur yang cukup hingga menyelesaikan teka-teki silang, terhidrasi adalah yang paling jitu, alasan utamanya karena ini sangat mudah, cukup minum kapan pun kita haus. Ini adalah kenyamanan untuk disyukuri.

Otak kita bergantung pada hidrasi yang tepat agar berfungsi optimal. Sel-sel otak membutuhkan keseimbangan halus antara air dan berbagai elemen untuk beroperasi, dan ketika kita kehilangan terlalu banyak air, keseimbangan itu terganggu. Sel-sel otak kita kehilangan efisiensi.


Penelitian bertahun-tahun telah menemukan bahwa ketika kita kurang minum, kita lebih sulit menjaga perhatian kita tetap fokus. Dehidrasi dapat merusak fungsi memori jangka pendek dan penarikan memori jangka panjang. Kemampuan untuk melakukan aritmatika mental, seperti menghitung apakah kita akan terlambat bekerja atau tidak jika kita tertunda selama 15 menit lagi, akan terganggu ketika cairan kita rendah.

Selama periode 24 jam, aktivitas terpanjang yang kebanyakan dari kita lalui tanpa asupan cairan adalah enam hingga delapan jam yang kita habiskan untuk tidur. Tidur bukanlah jenis aktivitas yang membuat kita berkeringat, tetapi bukan berarti kita tidak kehilangan air di malam hari. Setiap bernafas, kita mengeluarkan uap air, dan efek kumulatif dari tidur malam adalah dehidrasi. Karena alasan inilah kita harus minum segera setelah bangun. 
 
Jika kita ingin memiliki akal kita tentang kita, kita harus mengambil cairan. Bayangkan, ketika kita berpikir tentang betapa pentingnya air bagi fungsi harian kita sendiri, seperti apa kehidupan ini jika akses kita ke sana dibatasi. Mungkin kita biasanya minum air kemasan. Bayangkan itu tidak ada. Pada akhirnya, Anda akan cukup haus untuk minum dari keran. Itu selalu ada, yang kita inginkan. Tapi misalkan keran terdekat berjarak 5 mil. Jaraknya tidak terlalu jauh, kecuali kita tidak punya mobil. Dan di luar panas, misalkan 38 C. Sekarang seberapa termotivasi kita berjalan sejauh itu di bawah sinar matahari?
 
Jika air penting bagi kita, bukan karena kita dehidrasi, tetapi hanya karena kita ingin berfungsi secara optimal, bayangkan berapa banyak lagi manusia yang terpaksa bertahan hanya untuk mendapatkan kebutuhan air minimum setiap hari. Mudah untuk melupakan bahwa orang lain jauh kurang beruntung. Sementara dahaga kita padam, hampir satu miliar orang di planet ini tidak memiliki akses ke air minum bersih. 38.000 anak-anak di bawah usia 5 tahun meninggal setiap minggu karena mereka kekurangan air yang tidak tercemar. Perempuan Afrika berjalan lebih dari 40 miliar jam setiap tahun membawa tangki dengan berat hingga 18 kilogram untuk mengambil air, yang biasanya masih belum aman untuk diminum.
 
Jadi, jika Anda memiliki cukup air hari ini untuk menjaga otak Anda tetap berjalan, mungkin Anda dapat melakukan sesuatu yang juga akan membantu hati Anda. Berikan hadiah air kepada mereka yang tidak memilikinya, tetapi sangat membutuhkannya.
 
Referensi:

Bezprozvanny, Ilya, and Mark P. Mattson. "Neuronal calcium mishandling and the pathogenesis of Alzheimer's disease." Trends in neurosciences 31.9 (2008): 454-463.

Ganio, Matthew S., et al. "Mild dehydration impairs cognitive performance and mood of men." British Journal of Nutrition 106.10 (2011): 1535-1543.

Adan, Ana. "Cognitive performance and dehydration." Journal of the American College of Nutrition 31.2 (2012): 71-78.

Tweedle, Charles D., and Glenn I. Hatton. "Ultrastructural comparisons of neurons of supraoptic and circularis nuclei in normal and dehydrated rats." Brain research bulletin 1.1 (1976): 103-121.

Menulis Jurnal Sebagai Antidepresan

Foto: Thought Catalog / Unsplash

Tingkat stres dan kecemasan menjadi tinggi karena orang-orang di seluruh dunia menghadapi penyakit, kematian, isolasi, dan kehilangan pekerjaan selama pandemi COVID-19. Meskipun tidak ada penghapus ajaib untuk perasaan sulit itu, ada langkah-langkah yang dapat kita ambil — bahkan ketika terjebak di rumah — untuk membantu meringankan kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan mental kita.

Salah satu mekanisme koping yang terbukti adalah penjurnalan. Sejumlah bukti menunjukkan bahwa merekam pikiran dan perasaan secara teratur membantu orang mengidentifikasi dan memproses emosi negatif, dan pada akhirnya mengurangi kecemasan.

Sebuah penelitian tentang topik ini diterbitkan pada tahun 2005 oleh para peneliti Australia: Emotional and Physical Health Benefits of Expressive Writing. Mereka menemukan bukti pada praktik yang disebut "tulisan ekspresif," yang mengharuskan penulisan tentang efek peristiwa traumatis terhadap kesehatan fisik dan mental. Makalah mereka termasuk meta-analisis dari 13 studi yang menemukan tulisan ekspresif membawa manfaat kesehatan yang mirip dengan intervensi psikologis lainnya, seperti terapi bicara.


Secara keseluruhan, para peneliti menemukan bahwa tulisan ekspresif menyebabkan penurunan tekanan darah, peningkatan fungsi sistem kekebalan tubuh, lebih sedikit kunjungan ke dokter dan masa rawat lebih pendek di rumah sakit, peningkatan suasana hati, berkurangnya gejala depresi, peningkatan memori, dan banyak lagi.

Para peneliti menawarkan penjelasan potensial mengapa menulis ekspresif sangat manjur. Menulis ekspresif membantu orang untuk menghadapi emosi yang mereka hindari dan secara kognitif memproses apa yang terjadi pada mereka. Ada juga beberapa bukti bahwa meninjau kembali emosi yang sulit dengan cara yang terkontrol dapat membantu orang melewati emosi itu.

Sejak penelitian awal ini, berbagai kajian telah menemukan lebih banyak bukti bahwa menulis ekspresif bekerja. 
A Systematic Review of School-Based Social-Emotional Interventions for Refugee and War-Traumatized Youth, sebuah penelitian di University of Minnesota melihat intervensi yang membantu meningkatkan kesehatan mental dan fungsi sosial-emosional anak muda yang merupakan pengungsi, pencari suaka, atau imigran yang mengalami trauma perang. Mereka menemukan bahwa peluang untuk ekspresi kreatif seperti menulis atau menggambar memungkinkan remaja untuk memproses trauma mereka dan mengembangkan keterampilan sosial-emosional. Sebuah studi terkontrol secara acak terhadap orang dewasa yang lebih tua dengan kondisi medis dan kecemasan berkelanjutan menemukan bahwa jurnal membantu mengurangi beban stres mental dan meningkatkan kesejahteraan mereka secara keseluruhan. Reflective Journaling to Decrease Anxiety Among Undergraduate Nursing, sebuah studi pada sarjana keperawatan menemukan bahwa mahasiswa yang menulis jurnal tentang pengalaman klinis mereka memiliki sedikit kecemasan tentang merawat pasien.

Buktinya jelas, tetapi apa yang harus dilakukan?


Janis Whitlock, seorang ilmuwan periset di Bronfenbrenner Center for Translational Research yang mempelajari kesehatan mental dan kesejahteraan orang dewasa dan remaja, menyebutkan bahwa ketika sekolah dan bisnis tutup pada bulan Maret, ia melihat kesempatan untuk menangkap pengalaman orang-orang selama masa bersejarah ini dan membantu mereka mengatasi trauma dan ketidakpastian pandemi COVID-19.

Whitlock meluncurkan proyek penjurnalan, Telling Our Stories: In the Age of COVID-19. Proyek ini terbuka untuk siapa saja yang menginginkan cara yang konsisten untuk mendokumentasikan pemikiran dan perasaan mereka tentang pandemi. Partisipan memiliki opsi untuk memasukkan kiriman mereka sebagai bagian dari proyek penelitian yang lebih besar.

Proyek ini meminta peserta untuk mencatat bagaimana perasaan mereka dan menjawab pertanyaan tentang bagaimana dampak krisis terhadap mereka, penggunaan media sosial, dan apakah mereka telah menemukan semacam “hikmah”. Peserta menerima email harian yang mengundang mereka untuk menulis entri jurnal baru, dan dapat menulis sesering yang mereka inginkan.

Whitlock berencana untuk menggunakan entri untuk membuat snapshot dari pengalaman kolektif masyarakat saat ini. Penelitian di masa depan dari proyek ini dapat mendokumentasikan dampak harian dari intervensi kebijakan untuk akhirnya membantu menginformasikan tanggapan kebijakan terhadap pandemi di masa depan.

"Ini adalah cuplikan dari kehidupan kita di masa yang benar-benar tak tertandingi," kata Whitlock. "Apa cerita orang tentang bagaimana mereka mengatasinya, bagaimana itu mengubah hidup, di mana mereka menemukan harapan?"

Pesan yang bisa diambil: Menulis pengalaman dan perasaan kita adalah strategi berbasis bukti untuk mengatasi kecemasan dan emosi negatif selama krisis ini.


*

Diterjemahkan dari artikel Psychology Today berjudul Reduce Stress and Anxiety Levels with Journaling.

Yang Fantasi Seksualmu Ungkapkan Soal Dirimu

Foto: Taras Chernus / Unsplash

Fantasi seksual kita tampaknya mencerminkan, setidaknya sebagian, sifat dan karakteristik kepribadian kita. Dalam mempelajari fantasi seks lebih dari 4.000 orang Amerika dalam buku Tell Me What You Want, ditemukan bahwa Lima Besar faktor kepribadian yakni keterbukaan untuk mengalami, conscientiousness, agreeablesness, extraversion, dan neuroticism semuanya terkait dengan jenis fantasi orang melaporkan memiliki.

Di bawah ini, saya jelaskan secara singkat masing-masing sifat ini dan bagaimana mereka terkait dengan jenis hal yang kurang lebih Anda mungkin bayangkan:

1. Keterbukaan untuk mengalami


Sifat ini melibatkan memiliki rasa ingin tahu intelektual yang tinggi dan imajinasi yang aktif. Orang yang keterbukaannya tinggi cenderung mau mencoba hal-hal baru secara umum. Mungkin tidak mengherankan, bahwa orang-orang yang tinggi keterbukaannya memiliki variabilitas paling dalam konten fantasi mereka - mereka lebih berfantasi tentang hampir semuanya, dari yang konvensional ke yang nyeleneh.

2. Conscientiousness


Sifat ini melibatkan sifat sangat detail dan terorganisir. Individu yang teliti juga cenderung menjadi konformis - mereka memiliki keyakinan dan sikap yang lebih konvensional dalam banyak hal. Saya menemukan bahwa orang yang teliti cenderung memiliki fantasi seksual yang lebih rinci. Secara khusus, mereka lebih fokus pada pengaturan di mana seks terjadi. Mereka juga memiliki lebih sedikit fantasi BDSM dan tabu, mungkin karena kecenderungan mereka untuk menyesuaikan diri dengan norma, baik secara seksual maupun sebaliknya.

3. Extraversion


Sifat ini persis seperti apa kedengarannya; itu melibatkan keluar dan ingin berinteraksi dengan orang lain. Ternyata orang-orang yang berkecimpung dalam kehidupan nyata cenderung juga berkhianat dalam fantasi mereka. Secara khusus, mereka memiliki lebih banyak fantasi tentang jenis kelamin kelompok dan nonmonogami (mis., Menjadi poliamor atau memiliki beberapa jenis hubungan terbuka secara seksual). Mereka juga berfantasi tentang mencoba hal-hal baru, tetapi lebih sedikit tentang kegiatan tabu.

Baca juga: Ragam Gaya Seks dalam Istilah Sunda

Introvert memiliki lebih banyak fantasi tabu, mungkin karena kesulitan interaksi sosial membuat orang tertarik pada bentuk-bentuk ekspresi seksual yang tidak biasa ketika mereka tidak dapat membangun jenis hubungan intim yang mereka inginkan.

4. Agreeableness


Sifat ini ditandai dengan memperhatikan orang lain. Orang-orang yang ramah dan perhatian dan ingin membuat orang lain bahagia. Orang-orang yang suka setuju cenderung memiliki fantasi seks prososial, yang berarti fantasi mereka tidak mungkin mencakup unsur-unsur di mana persetujuan bersama, keamanan, dan / atau kesenangan tidak jelas. Untuk itu, saya mengamati bahwa orang-orang yang ramah cenderung berkhayal tentang perselingkuhan dan tindakan tabu (terutama yang non-konsensual, seperti pedofilia). Orang yang ramah juga cenderung berfantasi tentang seks tanpa emosi dan BDSM - tindakan di mana mungkin tidak mudah untuk menentukan apakah pasangan mereka menikmati kegiatan tersebut.

5. Neuroticism 


Sifat ini melibatkan memiliki tingkat ketidakstabilan emosional yang tinggi dan waktu yang sulit menangani stres. Saya menemukan bahwa orang-orang neurotik memiliki sedikit fantasi tentang seks kelompok, kebaruan, dan nonmonogami. Mereka tampaknya kurang tertarik pada umumnya dalam mencoba hal-hal baru dan menemukan mitra baru, mungkin karena ada beberapa unsur ketidakpastian di sana, yang bisa membuat stres. Namun, orang-orang yang neurotik melaporkan lebih banyak fantasi tentang hasrat dan romansa, yang mungkin merupakan cara mereka untuk bersantai atau merasa tenang.

*

Penting untuk diingat bahwa orang yang berbeda memiliki kombinasi karakter kepribadian yang berbeda, jadi untuk mendapatkan gagasan yang lebih baik tentang fantasi yang diberikan seseorang yang lebih atau kurang mungkin dimiliki, penting untuk mengetahui kedudukan mereka pada kelima sifat ini, yang bertentangan dengan melihat sifat tunggal dalam isolasi.

Saat beberapa sifat menunjuk ke arah yang sama, Anda cenderung membuat prediksi fantasi yang lebih kuat. Sebagai contoh, kesesuaian dan kesadaran yang tinggi dipasangkan dengan keterbukaan yang rendah terhadap pengalaman semuanya akan mengarah ke kecenderungan yang lebih rendah untuk fantasi BDSM.

Dengan semua yang dikatakan, pesan yang bisa dibawa pulang dari ini adalah bahwa fantasi seksual Anda mungkin hanya mengungkapkan sesuatu yang unik tentang Anda.

*

Diterjemahkan dari artikel Psychology Today berjudul What Your Sexual Fantasies Reveal About You.

Pengalaman Tiga Minggu Bersama Coronavirus

Lebih dari 75.400 orang di Cina telah terinfeksi virus corona. Foto: AFP / Getty Images

Tiger Ye, 21, tinggal di Wuhan dan mulai menunjukkan gejala pada pertengahan Januari. Di sini dia menceritakan kisah penyakit dan kesembuhannya.


Pada 17 Januari, otot-otot di seluruh tubuh saya sakit. Saya mungkin mengalami demam ringan, tetapi tidak cukup terasa untuk diperhatikan. Melihat kembali, ini sedikit menakutkan, karena rumah saya dan sekolah bahasa tempat saya belajar bahasa Jepang berada dalam radius 5 km dari pasar makanan laut Wuhan (tempat virus diyakini berasal).

Untuk mengobati nyeri otot, saya minum pil demam karena saya pikir itu pilek biasa. Saat saya memikirkannya sekarang, saya mungkin telah melewatkan waktu terbaik untuk pengobatan, gagal membendung virus dengan obat antivirus pada tahap awal.

Saya tidak tahu bagaimana saya mendapatkan virus itu. Saya selalu makan di restoran gaya Hong Kong yang sama di bawah sekolah saya. Saya tidak banyak berjalan-jalan saat itu karena cuaca sangat dingin, dan karena saya lelah setelah kelas, saya selalu pulang ke rumah. Begitu liburan semester dimulai, saya tinggal bersama orang tua saya dan tidak di asrama. Saya mulai mengenakan masker beberapa hari kemudian ketika saya melihat semua orang di sekitar saya mengenakan masker.

Tiger Ye, yang terpapar virus corona di Wuhan.
Penyakit dan isolasi diri

Pada 21 Januari, tubuh saya masih sakit, jadi saya menelepon ayah saya. Dia merasakan ada sesuatu yang salah dengan saya dan mendesak saya untuk segera pulang. Malam itu saya mengukur suhu tubuh saya yang menunjukkan demam ringan. Ibu saya mengatakan bahwa jika suhu saya masih tidak turun malam itu, kami akan pergi ke rumah sakit. Pada jam 11 malam, demamnya belum hilang, jadi saya pergi ke rumah sakit Tongji.

Pada saat kedatangan saya melihat rumah sakit sudah dipenuhi pasien. Melihat dokter dalam pakaian hazmat mereka dalam kehidupan nyata untuk pertama kalinya, sesuatu yang hanya saya lihat di film dokumenter tentang Sars, saya menyadari sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Saya tidak heran atau takut ketika melihat semua orang, karena ini adalah salah satu rumah sakit terbaik di Wuhan dan selalu sangat ramai. Karena kerumunan besar, saya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit paru-paru Wuhan, dan itu terbukti menjadi keputusan yang tepat.

Tidak ada satu pun pasien di sana pada saat saya tiba. Di sana saya menjalani tes darah dan fungsi hati serta CT scan. Hasil CT kembali menunjukkan bayangan tambal sulam di sisi bawah kedua paru-paru saya. Saya mulai minum obat resep dan kapsul obat China yang diresepkan oleh rumah sakit.

Staf medis di rumah sakit Palang Merah Wuhan. Foto: STR / AFP via Getty Images
Ketika Wuhan mulai dikunci, saat itulah ayah saya menyuruh saya mengkarantina di rumah. Saya juga tahu dari menonton film dan hal-hal yang mungkin harus kami penuhi di rumah, jadi kami membeli banyak mie instan, yang akhirnya tidak ada yang makan. Ada cukup banyak di supermarket; satu-satunya hal yang kami benar-benar tidak dapat temukan adalah desinfektan.

Ayah saya adalah seorang pekerja kantoran di sebuah perusahaan obat-obatan dan ibu saya bersekolah di universitas medis, jadi mereka baik dalam membantu menganalisis situasi saya. Saya mulai mengasingkan diri pada 22 Januari. Kamar saya memiliki bak mandi dan kamar mandi sendiri, jadi itu cukup nyaman. Nenek saya yang memasak untuk saya dan ketika dia membawa makanan, dia akan memakai masker dan kita akan menggunakan sumpit sekali pakai dan hal-hal seperti itu, jadi setelah saya selesai semua dibuang.

'Waktu terburuk'

Pada 25 Januari saya menjalani pemeriksaan. Saya mulai batuk. Itu adalah batuk yang sangat kering dengan dahak kuning kecil. Hasilnya menunjukkan bahwa keadaan saya semakin memburuk, dengan infeksi menyebar ke seluruh paru-paru saya. Dokter memberi saya infus, sedangkan obat oral tetap sama. Pada waktu itu dokter memberi tahu saya bahwa saya dicurigai terkena virus, tetapi hanya komite ahli yang dapat memutuskan siapa yang dapat menggunakan alat tes.

Pada 26 Januari bangun menjadi sangat sulit dan saya menggigil kedinginan. Saya merasa demam tinggi, dan memang begitu: 39C. Laporan kemudian mengatakan bahwa situasinya dapat berkembang sangat cepat di tahap tengah, tetapi sebelum saya menyadarinya, pada malam itu demamnya telah hilang. Rasanya seperti pernah ke neraka dan kembali. Periode dari 21 Januari hingga 26 Januari adalah yang terburuk. Saya batuk sangat parah sampai perut saya sakit dan punggung saya sakit. Itu adalah beberapa hari terburuk dalam hidup saya.

Saat itulah saya menyadari bahwa saya membutuhkan dukungan spiritual atau mungkin saya tidak bisa melakukannya. Jadi saya menonton acara anime favorit saya dan melihat kehidupan normal dan bahagia mereka, saya pikir saya harus mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan ini selamanya. Tapi menonton anime tersebut, tokoh utama wanitanya mengalami kesulitan di babak pertama, tetapi dia akhirnya berhasil melewati dan sukses dalam karirnya.

Boneka karakter anime Uzuki Shimamura, yang disuarakan oleh Ayaka Ohashi, idol favorit Tiger Ye. Foto: Disediakan oleh Tiger Ye

Anda tahu, saya akan terbang ke Jepang pada pertengahan Februari untuk pergi ke konser oleh Ayaka Ohashi, seorang pengisi suara dan artis anime Jepang, tetapi dengan kondisi saat ini saya pikir semuanya mungkin dibatalkan. Saya telah menghadiri penampilan solonya tahun lalu, dan setelah menontonnya saya memutuskan untuk berkarier mengelola aktor suara. Jadi menonton pertunjukan, saya berpikir: Saya harus melewati ini jika saya ingin melihat konser berikutnya hidup. Ini benar-benar menyemangati saya dan memberi saya sedikit kelegaan, bersama dengan obatnya. Saya bermimpi dua kali minggu itu bahwa saya bertemu dengannya.

Saya menjalani pemeriksaan ulang pada 28 Januari, yang menunjukkan kedua paru-paru saya membaik. Setelah berkonsultasi dengan dokter, mereka memutuskan saya memenuhi syarat untuk dites untuk virus corona.

Virus menyebar

Kakak laki-laki saya mulai demam dan batuk pada tanggal 29. Hasil ujiannya menunjukkan ada potongan kecil bayangan seperti kaca di paru-parunya. Dia dianggap sebagai kasus suspect. Pada hari yang sama, nenek saya juga mengalami demam. Bagi saya, hasil tes saya positif dan saya secara resmi dikonfirmasi. Rumah sakit memberi saya lima hari obat anti-HIV secara gratis, sementara keluarga saya juga mulai minum obat yang diresepkan. Karena keadaan saya yang membaik dan tempat tidur yang terbatas di rumah sakit, saya disuruh pulang dan mengisolasi diri, dan dengan demikian terapi IV saya berakhir.

Toko-toko tutup di jalan-jalan Wuhan. Foto: Reuters

Kakak saya menjalani pengujian ulang dan dia dinyatakan positif pada 2 Februari. Nenek saya mengalami demam selama empat hari tetapi kemudian sembuh. Dia tidak pernah dites, dan juga ibu saya, tetapi mereka semua minum obat. Saudara saya juga akhirnya pulih dan sekarang negatif untuk virus.

Pada 4 Februari, CT scan menunjukkan peningkatan yang berkelanjutan di paru-paru saya, dan batuk saya berhenti. Saya diberi tes coronavirus lain dan lebih banyak resep obat. Keesokan harinya hasil tes menunjukkan saya negatif untuk virus, tetapi menurut instruksi dari dokter, saya harus kembali untuk tes lain. Pada 7 Februari hasil menunjukkan lagi bahwa saya negatif, dan saya dinyatakan pulih.

*
Diterjemahkan dari To Hell and Back: My Three Weeks Suffering from Coronavirus

Masturbasi Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuhmu



Bagaimana masturbasi memengaruhi otak kita?


Orgasme adalah fenomena manusia yang sangat umum. Manfaat kesehatan fisik dan mental telah sering diteliti, tapi masih banyak yang harus dipelajari tentang bagaimana tubuh dan otak kita bereaksi terhadap bahan kimia dan hormon yang dilepaskan selama dan setelah mengalami pelepasan seksual jenis ini.

"Jumlah spekulasi versus data aktual tentang fungsi dan nilai orgasme patut diperhatikan," jelas Julia Heiman, direktur Kinsey Institute for Research in Sex, Gender, and Reproduction.

Masturbasi menyebabkan aliran dopamin, yang merupakan bahan kimia yang dikaitkan dengan kemampuan kita untuk merasakan kenikmatan. Seiring dengan aliran dopamin yang dilepaskan selama orgasme, ada juga pelepasan hormon yang disebut oksitosin, yang umumnya disebut sebagai "hormon cinta".

Campuran kimiawi ini tidak hanya meningkatkan suasana hati kita, tetapi juga dapat memainkan peran kunci dalam mengurangi stres dan meningkatkan relaksasi. Oksitosin mengurangi kortisol, yang merupakan hormon stres yang biasanya hadir (dalam volume tinggi) selama masa-masa kecemasan, ketakutan, panik, atau kesusahan.

Menurut peneliti BDSM dan fetish Dr. Gloria Brame, orgasme adalah ledakan dopamin non-obat terinduksi terbesar yang bisa kita alami.

Dengan meningkatkan kadar oksitosin dan dopamin dan kemudian menurunkan kadar kortisol kita, otak ditempatkan dalam keadaan lebih santai, gembira, dan tenang.

Masturbasi meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan jumlah sel darah putih.


Rangsangan seksual dan orgasme meningkatkan jumlah sel darah putih dalam tubuh, membuatnya lebih mudah untuk melawan infeksi dan penyakit. Gambar: Yurchanka Siarhei / Shutterstock

Bagaimana efek tersebut pada otak dari mencapai orgasme bisa terjemahkan ke meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita dan membuat tubuh kita lebih sehat?

Peningkatan oksitosin dan dopamin yang menyebabkan penurunan kadar kortisol dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita karena kortisol (dikenal sebagai hormon pemicu stres) sebenarnya membantu menjaga sistem kekebalan tubuh kita jika dilepaskan dalam dosis kecil.

Menurut Dr. Jennifer Landa, spesialis terapi hormon, masturbasi dapat menghasilkan jenis lingkungan yang tepat untuk sistem kekebalan yang diperkuat untuk berkembang.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Departemen Psikologi Medis di University Clinic of Essen (di Jerman) menunjukkan hasil yang sama. Sekelompok 11 sukarelawan diminta untuk berpartisipasi dalam studi yang akan melihat efek orgasme melalui masturbasi pada jumlah sel darah putih dan sistem kekebalan tubuh.

Selama percobaan ini, jumlah sel darah putih dari masing-masing peserta dianalisis melalui tindakan yang diambil 5 menit sebelum dan 45 menit setelah mencapai orgasme yang diinduksi sendiri.

Hasilnya menegaskan bahwa gairah seksual dan orgasme meningkatkan jumlah sel darah putih, terutama sel pembunuh alami yang membantu melawan infeksi.

Temuan ini mengkonfirmasi bahwa sistem kekebalan tubuh kita secara positif dipengaruhi oleh gairah seksual dan orgasme yang disebabkan oleh diri sendiri dan mempromosikan lebih banyak penelitian ke dalam dampak positif dari gairah seksual dan orgasme.

Masturbasi dapat meredakan dan mencegah rasa sakit, yang memungkinkan kita mencapai tidur nyenyak yang membantu sistem kekebalan tubuh kita tetap kuat dan sehat.


Manfaat masturbasi sudah lama diperdebatkan, tetapi semakin banyak penelitian yang dilakukan pada topik ini semakin kita memahami bahwa ada banyak reaksi positif yang terjadi di tubuh dan otak kita ketika kita orgasme.

Orgasme dapat membantu mencegah atau mengurangi rasa sakit, yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mencegah gejala pilek dan flu.

Menurut ahli saraf dan spesialis sakit kepala Stefan Evers, sekitar satu dari tiga pasien mengalami kelegaan dari serangan migrain dengan mengalami aktivitas seksual atau orgasme. Evers dan timnya melakukan percobaan dengan 800 pasien migrain dan 200 pasien yang menderita sakit kepala cluster untuk melihat bagaimana pengalaman mereka dengan aktivitas seksual mempengaruhi tingkat rasa sakit mereka.

Studi menunjukkan bahwa 60% penderita migrain mengalami penghilang rasa sakit setelah berpartisipasi dalam aktivitas seksual yang menghasilkan orgasme. Di antara penderita sakit kepala klaster, sekitar 50% mengatakan sakit kepala mereka benar-benar memburuk setelah gairah seksual dan orgasme.

Evers menyarankan dalam temuannya bahwa orang-orang yang tidak mengalami pengurangan rasa sakit dari sakit kepala migrain selama aktivitas seksual mereka tidak melepaskan endorfin dalam jumlah besar seperti mereka yang memang mengalami pengurangan rasa sakit.

Menurut ahli reumatologi Dr. Harris McIlwain, orang yang menderita sakit kronis memiliki sistem kekebalan yang tidak berfungsi dengan kapasitas penuh - karena itu, mengurangi rasa sakit (melalui orgasme, sebagai contoh) dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Orgasme juga dapat meningkatkan relaksasi dan membuatnya lebih mudah tertidur. Serotonin, oksitosin, dan norepinefrin adalah semua hormon yang dilepaskan selama gairah seksual dan orgasme, dan ketiganya dikenal untuk menangkal hormon stres dan meningkatkan relaksasi, yang membuat Anda lebih mudah tertidur.

Ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa serotonin dan norepinefrin membantu siklus tubuh kita melalui siklus tidur REM dan non-REM dalam. Selama siklus tidur ini, sistem kekebalan melepaskan protein yang disebut sitokin, yang menargetkan infeksi dan peradangan. Ini adalah bagian penting dari respons kekebalan tubuh kita. Sitokin diproduksi dan dilepaskan ke seluruh tubuh saat kita tidur, yang membuktikan pentingnya jadwal tidur yang baik untuk sistem kekebalan tubuh yang sehat.

Masturbasi mendorong sistem kekebalan yang berfungsi tinggi; sistem kekebalan tubuh yang sehat mencegah pilek dan flu.


Sistem kekebalan adalah jaringan sel dan organ yang seimbang yang bekerja sama untuk melindungi kita dari infeksi dan penyakit dengan menghentikan ancaman seperti bakteri dan virus memasuki sistem kita. Walaupun ada banyak hal yang perlu kita lakukan untuk menjaga sistem kekebalan tubuh kita berfungsi pada tingkat optimal, masturbasi (atau cara lain untuk mencapai orgasme) telah terbukti memiliki efek positif pada sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan.

Sama seperti kebiasaan buruk (seperti jadwal tidur yang tidak konsisten atau bahan kimia berbahaya dalam tubuh kita) dapat memperlambat sistem kekebalan kita, kebiasaan positif (seperti jadwal tidur yang sehat dan kehidupan seks yang aktif) dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita.

*
Diterjemahkan dari artikel Big Think berjudul Masturbation can boost your immune system and help it thrive.

Psikologi Ketakutan Covid-19

Mengenakan masker bedah sebagai perlindungan merupakan kebiasaan umum di seluruh Asia Timur. Foto: Reuters

Mari kita mulai dengan sesuatu yang sangat jelas: Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh jenis virus corona baru, begitu menakutkan. Virus ini menyebar dengan cepat, saat ini belum ada vaksin atau perawatan pencegahan untuk itu, dan kita tidak tahu seberapa mematikan virus itu sebenarnya. Dalam keadaan seperti ini, dapat dimengerti bahwa orang-orang akan ketakutan.

Tetapi beberapa kecemasan publik yang ditunjukkan dalam beberapa minggu terakhir tidak proporsional dengan risiko yang ditimbulkan oleh Covid-19 seperti yang kita pahami hari ini. Secara global, sekitar 3.500 orang telah meninggal karena penyakit ini sejak wabah dimulai pada musim gugur 2019. Di AS saja, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan bahwa 20.000 hingga 52.000 orang telah meninggal akibat flu biasa sejak Oktober. Dan sementara orang tua dan orang-orang dengan masalah kesehatan pernapasan yang sudah ada sebelumnya begitu memprihatinkan, sebagian besar orang yang menderita coronavirus mengalami gejala ringan yang dapat mereka obati di rumah. Beberapa bahkan tidak memiliki gejala sama sekali.

Namun ekonomi dunia jatuh; Pecinan kosong; diskriminasi terhadap orang Asia merajalela; dan orang-orang menimbun masker wajah.

Jadi, mengapa kita begitu takut terhadap coronavirus?


Psikologi ketakutan

Jawabannya adalah "campuran antara emosi yang salah perhitungan dan pengetahuan yang terbatas," sebut psikolog David DeSteno dalam editorial untuk The New York Times. “Ketika berita tentang korban virus di China menyulut ketakutan kita, itu membuat kita tidak hanya lebih khawatir daripada yang seharusnya, tetapi juga lebih rentan untuk mengamini klaim palsu dan berpotensi menimbulkan masalah, permusuhan atau sikap takut terhadap orang-orang di sekitar kita — klaim dan sikap yang pada gilirannya memperkuat rasa takut kita dan meningkatkan siklus tersebut."

Pertama, ada yang oleh para psikolog sebut "availability bias," yang berarti bahwa kita lebih cenderung memberi bobot pada peristiwa yang dapat segera kita ingat. Siklus media non-stop seputar wabah, artikel ini juga salah satunya. “Ini menempatkan orang dalam kondisi kewaspadaan tinggi sehingga informasi apa pun tentang hal itu dapat bertahan sendiri,” jelas Dorothy Frizelle, seorang konsultan psikolog kesehatan klinis di Inggris. "Orang-orang lebih memperhatikan, dan mendengar lebih banyak, dan membaca lebih banyak, dan menafsirkannya dengan cara yang mengancam."

Dan emosi merusak persepsi kita akan risiko. Secara umum, kita takut akan peristiwa-peristiwa bencana seperti serangan teroris ketimbang peristiwa biasa dan mematikan, seperti flu. Dalam kasus Covid-19, menilai risiko sangat sulit karena pengetahuan objektif kita tentang penyakit ini masih berkembang.


Manusia telah berevolusi untuk bereaksi buruk terhadap ketidakpastian seperti itu, sebut Frizelle, karena membuat kita merasa "dirasa kurang memiliki kendali." “Kita adalah manusia, jadi kita terprogram untuk merespons ancaman, untuk melindungi diri kita sendiri,” jelasnya. "Tapi itu benar-benar sulit dilakukan ... ketika ancamannya sangat tidak pasti dan berpotensi menjangkau jauh. Di situlah Anda mulai melihat orang-orang melakukan perilaku yang lebih tidak biasa."

Seperti, katakanlah, pembelian panik untuk persediaan kebutuhan penting selama berbulan-bulan dan beragam bahan medis yang sebenarnya tidak penting. Walaupun kesiapsiagaan itu baik, melangkah ke kondisi ekstrem ini berbahaya: Hal itu dapat menghilangkan pasokan medis penting bagi petugas kesehatan garis depan, seperti sarung tangan, respirator, dan pelindung wajah.

Ketidakpastian juga menyisakan ruang untuk klaim palsu — yang, di tengah wabah, dapat "mengarah pada perilaku yang memperbesar penularan penyakit," tulis ahli epidemiologi Adam Kucharski di The Guardian. Kita uniknya buruk dalam membedakan informasi yang salah secara online, sebagian karena kita tidak meluangkan waktu, atau tidak tahu bagaimana, untuk memeriksa fakta dengan benar. Tetapi itu juga karena ingatan kita mempermainkan kita, mendorong kita untuk mempercayai hal-hal yang kita baca berulang kali; untuk mencari informasi yang mengesahkan keyakinan kita yang sudah ada sebelumnya; dan untuk mengingat hal-hal yang menimbulkan emosi yang kuat.

Tampaknya juga ada sesuatu tentang ketakutan yang mendorong kita untuk mengarahkan jari pada orang lain. Karena wabah itu bermula di Wuhan, Cina, sentimen dan serangan anti-Asia terus meningkat. "Ketika orang bereaksi karena emosi yang kuat, mereka dapat membuat pilihan yang cepat dan irasional," jelas Alison Holman, associate professor di sekolah keperawatan di UC Irvine dan pakar psikologi kesehatan. "Ada orang yang sudah berprasangka, dan jadi sesuatu seperti ini hanya memperkuat asumsi dan stereotip yang mungkin ada di benak mereka tentang sekelompok orang tertentu."

Apa yang dapat kita lakukan?

Metin Başoğlu, seorang profesor psikiatri dan pendiri Pusat Penelitian & Terapi Perilaku Istanbul, telah mempelajari respons emosional dan perilaku para penyintas gempa (PDF) dan melihat persamaan dalam reaksi hari ini terhadap coronavirus.

Setelah gempa besar melanda Turki pada tahun 1999, menewaskan 17.123 orang dan melukai 43.953, Başoğlu mengatakan banyak yang selamat menolak untuk kembali ke rumah mereka, memilih untuk tinggal di tenda pengungsian selama berbulan-bulan. Tetapi timnya menyadari bahwa "jika kita mendorong orang untuk kembali ke rumah mereka, mereka pulih dengan cepat."

Dia dan rekan-rekannya mengembangkan metode mengatasi stres pascatrauma yang disebut Control Focused Behavioral Treatment (CFBT), yang lahir dari pengamatan bahwa paparan sumber stres dapat menciptakan rasa kontrol terhadapnya — sebuah pelajaran yang dia katakan berlaku untuk epidemi, yang juga tidak terkendali dan tidak dapat diprediksi. "Anda tidak dapat mengendalikan setiap risiko yang menghadang Anda, dan menjalani kehidupan yang bermakna, masuk akal, dan produktif pada saat yang bersamaan," katanya. "Penghindaran yang luas dan tidak realistis tidak cocok dengan kelangsungan hidup."

Para ahli ini merekomendasikan untuk melakukan apa yang Anda bisa untuk menegaskan kembali kendali atas ketakutan Anda, tanpa bereaksi berlebihan dan mengambil risiko berkontribusi pada kepanikan publik. Itu termasuk tetap mendapat informasi tanpa berlebihan, kata Holman dari UC Irvine. “Terlalu banyak paparan media, kita tahu, dapat meningkatkan kecemasan seseorang. Anda mendapatkan apa yang Anda butuhkan, dan meninggalkan sisanya. ”


Tindakan pencegahan akal sehat sangat penting mengingat kemungkinan tinggi tertular Covid-19. Ada "hal-hal penting, sangat mendasar yang dapat dilakukan orang untuk mengambil kembali kekuasaan di sini, dan mengendalikan setidaknya sejauh yang Anda bisa, tingkat kerentanan Anda terhadap penyakit ini," kata Holman. Itu termasuk mengisolasi diri dan memonitor suhu tubuh Anda jika Anda sakit; cuci tangan Anda secara teratur dengan sabun dan air; dan menjauh dari pertemuan besar, seperti konser atau maraton.

Epidemi yang menyebar dengan cepat dapat menjadi waktu yang sangat sulit bagi orang-orang dengan kondisi kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya seperti kecemasan atau gangguan obsesif-kompulsif, kata Holman. Di situlah jaringan dukungan sosial sangat penting: "Saya akan merekomendasikan bahwa orang yang cenderung lebih cemas terhubung dengan cara yang aman dengan orang-orang dalam kehidupan mereka yang mereka percayai; siapa yang dapat membantu mereka tenang; dan ... kepada siapa mereka dapat meminta dukungan."

Di atas segalanya, para ahli kesehatan mengatakan penting untuk tidak membiarkan kepanikan mengambil alih proses pengambilan keputusan dan pemikiran rasional kita. Kalau tidak, kata Başoğlu, "harga yang harus dibayar" bisa "jauh lebih besar daripada ancaman yang ditimbulkan oleh virus."

*

Diterjemahkan dari The Psychology of Coronavirus Fear--and How to Manage It.

Sinar Matahari Sebagai Antidepresan

sinar matahari
Foto: Jude Beck / Unsplash

Seperti vitamin lainnya, vitamin D merupakan bagian integral dari beberapa fungsi tubuh. Vitamin ini membantu tubuh menyerap kalsium, yang membuatnya penting untuk kesehatan tulang. Mereka yang tidak menerima kadar vitamin D yang memadai dapat menderita tulang yang lemah - suatu kondisi yang dikenal sebagai rakhitis pada anak-anak dan osteomalacia pada orang dewasa - sementara orang yang lebih tua dapat menderita osteoporosis, yang secara harfiah berarti "tulang keropos."

Banyak produk yang diperkaya dengan itu, dari sereal, susu, dan bahkan beberapa jus jeruk, tetapi masih sulit untuk mendapatkan semua vitamin D yang dibutuhkan seseorang melalui asupan makanan saja. Untungnya, vitamin D juga diproduksi di dalam tubuh kita sendiri ketika kulit kita terpapar radiasi ultraviolet B (UVB) dari matahari, itulah sebabnya mengapa vitamin D seringkali dikenal sebagai vitamin sinar matahari. Kebanyakan orang mendapatkan sebagian besar vitamin D mereka melalui proses ini, terutama di musim panas ketika seseorang hanya membutuhkan antara 10 hingga 20 menit sinar matahari tengah hari pada wajah dan lengan seseorang untuk menghasilkan semua vitamin D yang mereka butuhkan untuk hari itu.

Sayangnya, selama bulan-bulan musim dingin, terutama jika seseorang tinggal jauh dari garis khatulistiwa (lebih dari 35 derajat garis lintang — kira-kira di utara Atlanta), matahari menjadi sangat lemah dan mungkin sulit untuk mendapatkan semua vitamin D yang dibutuhkannya. Ini terutama terjadi pada individu dengan kulit yang lebih gelap, karena mereka membutuhkan sinar matahari yang kuat dalam jumlah yang lebih besar untuk menghasilkan tingkat vitamin D.

Orang mungkin berpikir bahwa ini berarti segelas susu selama bulan-bulan musim dingin dapat menggantikan kekurangan itu, tetapi ini tidak sepenuhnya akurat. Asupan Vitamin D yang disarankan setiap hari adalah 600 IU (15 ug) untuk sebagian besar orang hingga usia 70 tahun, dan 800 IU (20 ug) untuk individu di atas usia 70 tahun, tetapi segelas susu 8 ons hanya mengandung sekitar 100 IU Vitamin D. Seseorang akan lebih baik dilayani secara teratur makan ikan berlemak, seperti salmon, trout, tuna, dan mackerel, karena mengandung lebih banyak Vitamin D (fillet salmon sockeye 3 ons mengandung 450 IU, misalnya). Jamur juga mengandung banyak Vitamin D. Suplemen adalah pilihan lain.

Selain sebagai bagian integral dari kesehatan tulang, vitamin D juga penting untuk otot, saraf, sistem kekebalan tubuh, dan pertumbuhan sel, dan beberapa data menunjukkan bahwa kekurangan vitamin D mungkin terkait dengan jenis kanker tertentu (terutama usus besar, prostat, dan kanker payudara), serta penyakit lainnya. Mungkin juga memainkan peran dalam kesehatan mental.

Vitamin D dan Otak


Meskipun tidak jelas bahwa ada korelasi antara kekurangan vitamin D dan depresi, beberapa peneliti telah menawarkan penjelasan neurofisiologis yang potensial untuk hubungan ini.

Ditetapkan bahwa reseptor vitamin D ditemukan di seluruh tubuh dan otak. Selain itu, penelitian telah menunjukkan kekhususan pada daerah otak yang terkait dengan fisiologi depresi, terutama korteks prefrontal, hippocampus, cingulate gyrus, thalamus, hipotalamus, dan substantia nigra.

Juga telah dibuktikan bahwa bentuk aktif vitamin D, kalsitriol, berfungsi untuk mengaktifkan ekspresi gen tyrosine hydroxylase, suatu enzim yang selanjutnya berperan dalam sintesis dopamin, epinefrin, dan norepinefrin — tiga hormon yang juga dapat memainkan peran neurotransmitter di otak. Gangguan dua bahan kimia ini, dopamin dan norepinefrin, memainkan peran utama dalam depresi. Faktanya, banyak antidepresan secara khusus bertujuan untuk meningkatkan norepinefrin (dan serotonin) dengan menghambat reuptake-nya, sehingga memungkinkan lebih banyak norepinefrin untuk mengikat pada reseptor yang tersedia.

Keterhubungan Depresi dan Vitamin D


Walaupun hubungan ini pada awalnya tampak menarik dan berpotensi menjelaskan korelasi yang kuat antara depresi dan kekurangan vitamin D, sulit untuk menunjukkan secara empiris bahwa kadar vitamin D yang tidak memadai menimbulkan depresi. Di satu sisi, berkurangnya kadar kalsitriol di otak mungkin tidak memiliki dampak signifikan pada sintesis dopamin, epinefrin, dan norepinefrin, karena ada cara lain untuk mensintesis neurotransmiter ini. Di sisi lain, sulit untuk menentukan arah hubungan antara kekurangan vitamin D dan depresi.

Misalnya, orang yang depresi mungkin kehilangan nafsu makan dan pergi keluar lebih jarang daripada orang yang tidak mengalami depresi. Tanpa mengonsumsi suplemen vitamin D, kedua perilaku ini akan menghasilkan kadar vitamin D yang lebih rendah dan, seiring waktu, kekurangan vitamin D. Ini berarti depresi menyebabkan tingkat vitamin D yang tidak memadai, bukan sebaliknya.

Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa kekurangan vitamin D dapat mempengaruhi keseimbangan dua neurokimiawi, serotonin dan melatonin, yang memainkan peran dalam pengaturan siklus tidur-bangun seseorang (atau ritme sirkadian), sehingga menyebabkan gangguan tidur. Gangguan tidur seperti itu dapat mengakibatkan efek negatif pada kesehatan mental seseorang, seperti yang saya catat di posting sebelumnya. Akibatnya, kekurangan vitamin D dapat membuat depresi lebih mungkin terjadi jika seseorang rentan terhadapnya.

Studi Empiris pada Depresi dan Vitamin D


Seperti Parker et al. tercatat dalam analisis 2016 yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders, ada hasil yang bertentangan ketika mempelajari hubungan antara depresi dan vitamin D. Beberapa menunjukkan hubungan positif antara kadar vitamin D rendah dan depresi, sementara yang lain tidak menemukan bukti kuat yang menghubungkan gejala depresi dengan kekurangan vitamin D. Dalam beberapa kasus, suplemen vitamin D meningkatkan skor depresi, sementara itu gagal melakukannya pada orang lain.

Para penulis analisis menemukan bahwa banyak studi cross-sectional yang mereka periksa gagal untuk menentukan arah, sedangkan uji coba terkontrol secara acak yang mengevaluasi vitamin D sebagai pengobatan untuk depresi menghasilkan hasil yang tidak konsisten. Selain itu, penulis menemukan bahwa, dalam beberapa kasus, vitamin D dalam hubungannya dengan antidepresan adalah pengobatan yang lebih efektif daripada hanya antidepresan saja, terutama dalam kasus di mana pasien memiliki kekurangan vitamin D sebelum perawatan, yang mungkin memiliki lebih banyak untuk dilakukan dengan itu meningkatkan kemanjuran antidepresan daripada bertindak melalui cara yang independen.

Pada akhirnya, diperlukan lebih banyak penelitian untuk membuktikan apakah ada hubungan positif antara depresi dan defisiensi vitamin D. Namun, ini tidak berarti bahwa seseorang tidak memerlukan vitamin D. Bukti jelas bahwa Vitamin D sangat penting untuk kesehatan tulang, dan sangat penting bagi anak-anak dan manula untuk menerima asupan harian yang direkomendasikan dengan kombinasi sinar matahari, makanan, dan, dalam beberapa kasus, suplemen.

*

Diterjemahkan dari Sunshine as an Antidepressant oleh Samoon Ahmad.

Kekerasan Emosional Bernama Ghosting


Tiap kisah cinta punya kesempatan berbalik jadi kisah horor ini. Awalnya 500 Days of Summer, berakhir jadi Midsommar. Kisah horor ini begitu akrab bagi manusia kiwari, berlaku bagi siapa saja. Meski tanpa monster buruk rupa ala Lovecraft atau penampakan semacam Kuntilanak, kisah ini sama seramnya. Dalam cerita horor ini, jika kita dapat peran sial jadi korban, kita bakal dibiarkan nelangsa, dibikin bingung dan terjebak perasaan tersiksa.

Cerita hantu itu terus bermekaran. Premisnya selalu sama, kamu percaya ada yang betul-betul memperhatikanmu, apakah itu seorang teman atau seseorang yang lebih dari itu, tapi kemudian lenyap tanpa penjelasan. Tak ada lagi panggilan telepon tiba-tiba, tak ada pesan, tak ada notifikasi DM, bahkan sekadar emoticon pun tak muncul. Namun anehnya, kita terus menunggu hantu yang tak akan melancarkan penampakan lagi.

Ghosting bukan konsep anyar, ini hanya istilah baru untuk sesuatu yang telah dilakukan manusia dari dulu: hilang tanpa kabar. Kemunculan internet dan media sosial, dari Facebook, Instagram, Twitter, sampai beragam aplikasi pesan, membuat kisah horor ini lebih biasa. Di era digital ini, bukankah kita hanya bayang-bayang piksel dari diri kita sendiri? Tak berbeda jauh seperti hantu. Mudah untuk terhubung, dan mudah pula untuk menghilang.

Survey dalam situs kencan Plenty of Fish pada 2016 menunjukkan bahwa 78% milenial pernah di-ghosting. Meski ghosting terbilang lumrah, tapi efek emosionalnya bisa destruktif. Salah satu aspek paling berbahaya adalah menyebabkanmu bukan hanya mempertanyakan validitas hubungan yang kamu miliki, tapi menyebabkan kamu mempertanyakan dirimu sendiri.

Kita dibiarkan bergulat dengan pertanyaan yang belum terselesaikan sendirian. Tak adanya jawaban pasti akan membuat kita bertanya-tanya, "Aing salah apaan ya?" Kemudian berlanjut dari "Gue pasti yang bikin kesalahan" sampai "Aku emang ga guna." Dan sebelum kita menyadarinya, kita terjebak dalam lingkaran pernyataan menyalahkan diri.

Ghosting tidak memberi kita semacam petunjuk untuk bagaimana kita bereaksi. Dia menciptakan ambiguitas, sekaligus semacam penolakan sosial. Naomi Eisenberger, seorang professor psikologi, merasa penasaran bahwa kita sering menggambarkan ditolak dalam hal rasa sakit fisik: 'Patah hati', 'Aku merasa hancur', atau 'Dia menyakiti perasaanku'. Lebih dari sekadar metafora, ungkapan-ungkapan ini tampaknya menangkap sesuatu yang penting, bahwa ada hubungan antara penolakan dan rasa sakit fisik.

Menurut Eisenberger, sepanjang sejarah, kita bergantung pada orang lain untuk bertahan hidup: mereka memelihara kita, membantu mengumpulkan makanan dan memberikan perlindungan terhadap predator dan suku musuh. Hubungan sosial benar-benar membuat kita tetap hidup. Seperti halnya rasa sakit fisik, rasa sakit akibat penolakan juga berevolusi sebagai sinyal ancaman bagi kehidupan kita.

Secara ilmiah, penolakan sosial terbukti mengaktifkan jalur rasa sakit yang sama di otak dengan rasa sakit fisik. Sebuah penelitian bahkan mengungkapkan bahwa kita dapat mengurangi rasa sakit emosional ini dengan obat penghilang rasa sakit seperti Tylenol.

Bagi banyak orang, ghosting dapat menyebabkan perasaan tidak dihargai, menganggap diri cuma alat yang bisa digunakan dan dibuang begitu saja. Jika kamu telah mengenal orang tersebut lebih dari beberapa kencan maka itu bisa menjadi lebih traumatis. Ketika seseorang yang kita cintai dan percayai lepas dari kita, rasanya seperti sebuah pengkhianatan mendalam.

Tidak ada yang suka di-ghosting. Jadi mengapa banyak dari kita yang melakukannya? Sebuah studi tahun 2018 dalam Journal of Social and Personal Relationships melaporkan bahwa 20 persen dari sekitar 1.000 responden mengakui melakukan ghosting. Fenomena ghosting ini melahirkan lingkaran setan, seorang korban bisa berubah jadi pelaku.

Orang-orang yang hantu terutama berfokus pada menghindari ketidaknyamanan emosional mereka sendiri dan mereka tidak berpikir tentang bagaimana hal itu membuat orang lain merasa.
Ebony Utley, professor kajian komunikasi di Long Beach State University berhati-hati untuk tidak melabeli pelaku yang melakukan ghosting sebagai pengecut. "Banyak dari kita berpikir bahwa mereka hanyalah orang yang mengerikan,” katanya, “tetapi saya pikir banyak pelaku tidak ingin melukai perasaan orang lain." Namun Utley menegaskan tidak ingin membuat ghosting sebagai perilaku baik-baik saja.

Memang bukan pekerjaan mudah untuk menjelaskan kepada seseorang mengapa kita tidak tertarik pada mereka, tetapi bahkan penjelasan singkat jauh lebih baik ketimbang tidak sama sekali. Menutup sebuah hubungan secara terbuka lebih baik untuk kesehatan: Mengungkap perasaanmu, secara fisiologis, dapat menurunkan tekanan darah dan mengurangi stres.

Jika kamu kebetulan jadi korban ghosting, selalu ingatkan diri bahwa itu bukan kesalahanmu, dan hindari pula menyalahkan yang lain. Kebalikan cinta bukanlah benci, melainkan pengabaian. Semoga, ketika kita melewati pengalaman semacam ini, kita menjadi sedikit lebih arif dan sedikit lebih tangguh. Kita akan segera melihat bahwa hidup ini hanya serangkaian pertemuan dan perpisahan. Bahwa segala sesuatu akan selalu berakhir pada titik tertentu. Kita akan melihat betapa tidak sehatnya mendefinisikan diri kita lewat laku orang lain.