Tampilkan postingan dengan label pariwisata. Tampilkan semua postingan

Opak dan Kolontong Bojongkunci, Rice Cracker Khas Bandung Selatan

senbei rice cracker

Mereka lebih sering mengisi toples ketika Hari Raya, padahal cemilan ini bisa disantap kapan saja, lebih sehat ketimbang snack penuh kandungan MSG dan cocok untuk jadi teman nonton Netflix.

Jika ada yang pernah jalan-jalan ke Bandung Selatan dan mampir di toko oleh-olehnya, maka akan melihat opak dan kolontong. Dibungkus plastik panjang dan biasanya digantung, yang berbentuk bundar disebut opak dan yang silinder disebut kolontong. Bisa dipastikan, opak dan kolontong itu produksi dari Bojongkunci.

Tempat produksi opak dan kolontong itu adalah desa tempat saya lahir dan tumbuh besar. Berada di Kecamatan Pameungpeuk, yang ada di Bandung meski kabupatennya. Desa ini adalah kawasan pertanian, terhampar luas sampai jauh, yang karenanya kalau sedang di sini bakal bisa melihat jelas rangkaian pegunungan yang mengelilingi Bandung.

temu kunci finger root
Kunci dalam Bojongkunci merujuk pada tanaman temu kunci, yang rimpangnya sering dipakai obat herbal. Foto: Wikipedia.

Nah, karena sejak kecil tinggal di desa ini, saya begitu akrab dengan opak dan kolontong. Tanpa bermaksud merendahkan daerah lain, saya layaknya barista dalam skena kopi kekinian yang bisa mengkritisi opak dan kolontong, jelas kualitas rasa olahan asli Bojongkunci bagi saya selalu terbaik.

Sebagai warga setempat, tentunya saya punya tanggung jawab sosial sebagai influencer opak dan kolontong ini, ketimbang terus endorse para korporasi yang memang sudah kaya.

Opak dan Kolontong Sebagai Rice Cracker


garp sengoku rice cracker
Rice cracker dalam anime One Piece. Garp membuat Sengoku marah karena menghabiskan cemilan rice cracker miliknya. 

Berbagai macam olahan dari beras ada di banyak budaya berbeda ketika nasi jadi makanan utama, dan ini sangat lazim di Asia, apalagi di Indonesia. Karena selain sebagai makanan berat, beras juga kemudian dibentuk, dipadatkan, atau digabungkan menjadi berbagai jenis cemilan, biasanya menjadi golongan rice cake (kue beras) yang begitu banyak variannya, dari tteokpokki, dango, lontong sampai klepon, dan sisanya masuk golongan rice cracker.

Beragam variasi ini adalah yang dibuat langsung dari beras dan yang terbuat dengan tepung beras, yang dikompres menjadi satu kesatuan atau bisa juga dikombinasikan dengan beberapa zat lainnya, misalkan gula sebagai pemanis.

Dalam adegan anime One Piece di atas, kakeknya Monkey D. Luffy sedang memakan rice cracker, yang dilapisi nori atau rumput laut, yang disebut senbei. Cemilan ini sering disantap dengan teh hijau sebagai makanan ringan dan biasanya ditawarkan untuk menjamu tamu.

senbei rice cracker
Senbei dengan nori, rice cracker yang sudah eksis sejak berabad-abad silam. Foto: Wikipedia.

Senbei datang dalam berbagai bentuk, ukuran, dan rasa, biasanya gurih tetapi terkadang manis. Jika diperhatikan ini tak berbeda dengan opak.

Seperti opak, kolontong juga berbahan baku utama dari beras ketan dengan proses pembuatan yang sama, hanya berbeda di hasil akhirnya.

Proses Produksi Opak dan Kolontong 


Untuk bahan baku tak sembarangan, karena beras ketannya harus jenis Gulampo yang ada di Cisewu, Garut. Inilah yang menjadikan opak dan kolontong Bojongkunci istimewa.

Setelah beras ketan sebagai bahan baku utama tersedia, maka para perajin mulai mengolah pengangan ini. Mula-mula beras ketan direndam kurang lebih sehari semalam. Setelah ditanak sampai matang, adonan ketan tersebut diletakkan di sebuah wadah khusus bernama jubleg dan ditumbuk hingga halus menggunakan alat yang disebut halu.

pengolahan opak kolontong bojongkunci

Olahan yang akan dijadikan opak tak diberi apa-apa lagi, meski kadang ditambahi garam agar lebih gurih, sementara kolontong akan ditambahi gula kawung atau gula merah.

Adonan ketan yang sudah halus tadi dicetak sesuai besaran hasil akhirnya: Untuk opak ukurannya kurang lebih 10 cm, sedangkan yang akan dijadikan kolontong ukurannya berdiameter 30 sampai 50 cm yang nantinya akan dipotong-potong lebih kecil lagi. Proses mencetak ini disebut ngadeple-deple layaknya kalau bikin pizza.


pengolahan opak kolontong bojongkunci

Setelah jadi cetakan, kemudian dijemur selama sehari, tapi jika cuaca sedang tidak terik, pengeringan bisa dilakukan di tungku pemanas. Adonan dijemur dengan alas nyiru, sebuah wadah melingkar dari anyaman bambu, tapi posisinya dibalik, jadi menggunakan bagian bawah atau bokongnya.

Di tengah penjemuran, ada proses membalik cetakan opak yang disebut ngalampog, agar kedua sisi sama kering.

pengolahan opak kolontong bojongkunci

Setelah kering, bahan opak langsung dimasak, sementara kolontong harus dipotong kecil-kecil agar berbentuk persegi panjang.

kolontong bojongkunci

Proses pemasakan opak dan kolontong dilakukan dengan cara sangrai dengan pasir sebagai media penggorengnya. Ini juga yang menjadi ciri khas opak dan kolontong Bojongkunci, karena masih mempertahankan proses sangrai ini dan tanpa memakai minyak goreng.

pengolahan opak kolontong bojongkunci

Sejarah Opak dan Kolontong Bojongkunci


opak dan kolontong bojongkunci

Opak dan kolontong di Bojongkunci kurang lebih sudah ada sejak 1950-an, berdasarkan penuturan Ayi Suganda dan Ujang "Éyang" Koswara pada Mangle. Yang pertama mengawalinya adalah Nini Enés, yang dulu dibikin hanya untuk "opieun" atau camilan di keluarganya, belum sebagai produk jualan.

Ayi dan Éyang sendiri merupakan para perajin opak dan kolontong di Bojongkunci. Opak dan kolontong Bojongkunci mulai naik pamornya sekitar tahun 1980-an. Di medio tersebut, Éyang tersohor sebagai "Si Raja Opak", yang dikabarkan jadi langganan seorang jenderal dari Jakarta.

Para perajin biasanya memasarkannya secara langsung atau melalui agen, sering juga menerima pesanan tertentu. Pembuatan opak dan kolontong terbanyak biasanya menjelang hari raya Lebaran dan Idul Adha. Jika setiap bulan, para perajin biasanya membutuhkan setengah sampai satu ton beras ketan, maka pada saat musim ramai seperti menjelang lebaran dibutuhkan dua kali lipatnya.

Lewat agen atau distributor, wilayah pemasaran opak dan kolontong Bojongkunci sudah mencakup hampir 80% pasar di wilayah Kabupaten Bandung. Lewat jalur ini pula opak dan kolontong bisa dijual hingga ke seluruh wilayah Jawa Barat, Jakarta, dan Banten.

Masa Depan Opak dan Kolontong Bojongkunci


your lie in april rice cake
Tsubaki Sawabe sedang galau dan ngemil rice cracker di anime Your Lie In April.

Mungkin terdengar pretensius atau tampak seperti orang yang ikut-ikutan, tapi saya juga punya keinginan agar opak dan kolontong Bojongkunci ini makin beken atau ngehits. Misalnya, dengan inovasi dari rasa, kemasan yang lebih kekinian, dan tentunya dari pemasaran yang lebih menjangkau kawula muda.

Meski memang, opak dan kolontong Bojongkunci yang orisinal tetap yang terbaik, lebih sehat ketimbang yang dicampur macam-macam.

oopieun bandung

Pariwisata Menyumbang Emisi Global

tourism
Foto: Luke Porter / Unsplash

Inilah sesuatu yang perlu diingat ketika Anda merencanakan liburan Anda musim panas ini: Sebuah studi terbaru, pada 7 Mei di Nature Climate Change, menemukan bahwa emisi global dari pariwisata lebih dari tiga kali lebih tinggi daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Pariwisata global adalah industri senilai $ 1,2 triliun, dan terus tumbuh setiap tahun. Perkiraan sebelumnya dari jejak karbon industri pariwisata menempatkannya di antara 2,5 dan 3 persen dari total emisi karbon dioksida global.

Tetapi perkiraan itu tidak memperhitungkan emisi di sepanjang rantai pasokan barang dan jasa yang terkait dengan industri. Wisatawan tidak hanya menghabiskan bahan bakar fosil untuk mengemudi atau terbang ke tujuan mereka — hotel, makanan, minuman, dan barang-barang eceran lainnya semuanya datang dengan emisi karbon sendiri. "Ada kesenjangan yang jelas dalam hal tidak ada yang melakukan penilaian komprehensif jejak karbon pariwisata," kata Arunima Malik, seorang dosen di University of Sydney dan penulis utama pada studi baru.

Untuk mengisi kekosongan ini, Malik dan rekan-rekannya harus mengevaluasi emisi karbon untuk satu miliar rantai pasokan untuk barang dan jasa terkait pariwisata di negara-negara di seluruh dunia. Mereka juga memperhitungkan emisi gas rumah kaca lainnya — termasuk metana, dinitrogen oksida, klorofluorokarbon, dan hidrofluorokarbon, antara lain — untuk membuat perkiraan total emisi pariwisata yang lebih komprehensif. Malik mengatakan penilaian membutuhkan waktu satu setengah tahun untuk menyelesaikannya.

“Sangat membuka mata untuk melihat bahwa jejak karbon mewakili 8 persen dari emisi gas rumah kaca global,” katanya.

Tim menganalisis emisi dari dua perspektif: berbasis tempat tinggal, di mana emisi dikaitkan dengan negara asal wisatawan, dan berbasis tujuan, yang menghubungkan emisi dengan negara tujuan. Kategori-kategori ini memberi para peneliti dan pembuat kebijakan wawasan yang berbeda tetapi sama pentingnya dalam pola pariwisata: Perspektif berbasis tempat tinggal mencerminkan seberapa banyak pelancong yang harus disalahkan atas emisi masing-masing, dan perspektif berbasis tujuan memungkinkan titik-titik pariwisata untuk lebih memahami dan bertindak berdasarkan karbon mereka tapak.

Amerika Serikat berada di puncak daftar untuk keduanya — dengan pelancong AS yang bertanggung jawab atas 1.060 metrik ton emisi, dan 909 metrik ton emisi di tujuan AS — diikuti oleh China (528 metrik ton untuk pelancong, 561 ke tujuan Cina) dan kemudian Jerman (305) metrik ton untuk pelancong Jerman, 329 ke tujuan).

"Bepergian sebagian besar adalah urusan berpenghasilan tinggi," tulis para penulis, dengan emisi terkait pariwisata "mengalir [terutama] antara negara-negara berpenghasilan tinggi yang bertindak baik sebagai tempat tinggal pelancong dan tujuan."

Sementara itu, beberapa pulau kecil memiliki beberapa jejak karbon berbasis tujuan tertinggi: Di Maladewa, Siprus, Seychelles, dan Mauritius, antara 30 hingga 80 persen emisi nasional terkait dengan pariwisata. Temuan ini mempertanyakan kebijaksanaan mengejar pengembangan pariwisata berskala besar sebagai sarana pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Bagian emisi global dari pariwisata hanya diharapkan tumbuh, karena peningkatan kemakmuran di seluruh dunia dan industri lain bergerak untuk menghilangkan karbon untuk memenuhi tujuan Perjanjian Paris. (Baik industri penerbangan dan perkapalan, yang emisinya sulit diatribusikan ke negara mana pun, ditinggalkan di luar kesepakatan internasional). Dan upaya sejauh ini untuk mengendalikan emisi pariwisata dengan mendorong pelancong untuk lebih sedikit terbang dan operator berinovasi lebih banyak untuk menghemat energi sejauh ini hanya berdampak kecil pada emisi industri.

Bagaimanapun, industri yang sedang booming bisa menuju kehancuran, mengingat bahwa beberapa tujuan paling populer juga paling rentan terhadap perubahan iklim. Awal tahun ini, misalnya, pejabat di Thailand dan Filipina mengumumkan bahwa beberapa pantai favorit wisatawan akan ditutup sementara untuk memberikan ekosistem kesempatan untuk pulih dari perubahan iklim dan polusi.

*

Diterjemahkan dari artikel CityLab berjudul Tourism's Climate Footprint Is Much Larger Than Previously Thought.