Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Sejarah, Jenis dan Fungsi Pedang Jepang

samurai girl katana

Dahulu kala, pedang Jepang digunakan sebagai senjata tempur yang ampuh dalam pertempuran Samurai. Pedang dari Jepang adalah kombinasi sempurna antara kekuatan dan keindahan artistik. Beberapa dekade telah berlalu, gaya pedang Jepang telah mengalami banyak perubahan dalam desain dan fungsinya.

Sejarah Pedang Jepang

Dibuat sejak masa awal periode Kofun (300-538 M), periode masuknya Budhisme ke Jepang. Disebut nihontō (日本 刀), pedang Jepang ini menurut sejarah dianggap salah satu senjata pemotong terbaik dalam sejarah militer dunia, untuk tujuan penggunaannya. Ada banyak jenis pedang Jepang yang berbeda menurut ukuran, bentuk, fungsi dan cara pembuatannya.

pedang jepang katana

Biasanya, pedang terdiri dari tiga bagian: bilah, sarung dan mei.

Bilah adalah bagian pedang yang paling penting. Setiap bilah memiliki tampilan unik, sebagian besar bergantung pada pembuat pedang dan metode konstruksinya. Selain itu, penempaan bilah pedang sangat memakan waktu, biasanya membutuhkan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan dan dianggap sebagai seni sakral.

Sarung atau pembungkus disebut saya dan bagian pelindung pegangan disebut sebagai tsuba, yang sering kali dirancang dengan rumit sebagai karya seni tersendiri, terutama di tahun-tahun terakhir zaman Edo. Selain itu, pembuatan aspek lain dari koshirae (penyangga) termasuk habaki (pisau kerah dan baji sarung), menuki (gagang pegangan dekoratif), fuchi dan kashira (kerah pegangan dan tutup), pernis saya, dan lainnya, juga punya tingkat keterampilan seni yang sama.

Mei pedang, yang dikenal sebagai tanda pemiliknya, secara tradisional dipahat dalam huruf kanji dan terdapat pada tang pedang.

Tahap Perkembangan Pedang Jepang

Perkembangan pedang Jepang dibagi menjadi 6 tahap dalam sejarahnya.
  1. Jōkotō (上古 刀) yang berarti "pedang kuno", sampai sekitar 900.
  2. Kotō (古 刀) yang berarti "pedang tua" dari sekitar 900–1596.
  3. Shintō (新 刀) yang berarti "pedang baru" antara 1596–1780.
  4. Shinshintō (新 々 刀) yang berarti "shinto baru" antara 1781–1876.
  5. Gendaitō (現代 刀) yang berarti "pedang modern" antara 1876–1945.
  6. Shinsakutō (新 作 刀) yang berarti "pedang baru dibuat" dari tahun 1953 sampai sekarang.

Pendahulu pedang Jepang adalah Jōkotō yang dikatakan diciptakan oleh samurai di pertengahan periode Heian (794-1185). Beberapa versi lain dengan bentuk dan teknik yang tidak biasa mungkin berasal dari Cina, atau diimpor langsung melalui perdagangan.

Periode 987 - 1596 dianggap sebagai puncak seni pedang Jepang. Di zaman ini, lekukan yang tidak rata telah digantikan oleh lekukan yang tajam dan ketat, dan bagian tengah melengkung naik pada bilahnya.

katana sword samurai
Pedang adalah bagian penting dari seni budaya Jepang dan melambangkan simbol nilai dan integritas samurai. Foto: Krys Amon/Unsplash.

Pedang Jepang yang dikenal saat ini memiliki lekukan yang dalam dan anggun yang mencerminkan perubahan bentuk peperangan di Jepang. Hasilnya, pedang lengkung jauh lebih efektif untuk digunakan prajurit ketika menunggang kuda.

Saat ini, pedang Jepang masih sering terlihat dalam kompetisi tahunan yang diselenggarakan oleh All Japan Swordsmith Association, sedangkan pedang tempa antik dan modern dapat ditemukan dan dibeli dengan harga yang sangat tinggi.

Nama-nama Pedang Jepang

Banyak yang cuma tahu kalau sebutan pedang dari Jepang adalah pedang samurai atau katana, padahal itu hanya salah satunya. Ada beragam jenis dan fungsi pedang Jepang.

1. Chokuto

Chokuto diyakini sebagai salah satu pedang paling awal dalam sejarah pedang Jepang yang berasal dari Tiongkok kuno dan diimpor ke Jepang sebelum abad ke-10. Jenis pedang ini memiliki gaya yang cukup mendasar dengan bilah lurus bermata satu. Itu digunakan dengan berjalan kaki untuk menebas atau menikam musuh dan digunakan untuk digantung di pinggang.

chokuto japan sword

Chokuto ini didasarkan pada pedang besi lurus panjang dari Dinasti Han.

2. Tachi

Menjadi populer sebelum abad ke-15, Tachi (太 刀) berarti pedang panjang. Tachi adalah senjata pilihan kelas prajurit Jepang dan terutama digunakan untuk menunggang kuda. Panjang dan lekukan pedang ekstra membuatnya menjadi keuntungan besar untuk menebas prajurit musuh.

tachi japan sword

Tachi memiliki panjang nagasa atau bilah tajamnya rata-rata sekitar 70–80 cm. Pedang ini merupakan pendahulu Katana dengan bilah yang sedikit lebih panjang dan kurva yang lebih jelas. Tachi dikenakan digantung, dengan ujung menghadap ke bawah dan itulah cara membedakannya dengan Katana.

3. Katana

Dikembangkan antara 1392-1573 selama periode Muromachi, Katana adalah pedang paling legendaris dalam sejarah Jepang. Dikatakan secara historis terkait dengan kelas Samurai feodal Jepang, itulah mengapa nama Katana juga disebut sebagai "Pedang Samurai".

Pedang ini memiliki ciri khas yang membuatnya mudah dikenali: panjang 60-73 cm dengan bilah ramping, melengkung, bermata satu, pelindung berbentuk persegi atau melingkar, dan pegangan yang panjang untuk dipegang dengan baik dengan kedua tangan.

katana japan sword

Ada banyak jenis katana yang muncul dalam budaya populer, dan semuanya identik dengan pedang Jepang.

Katana terkenal dengan ketajaman dan kemampuan memotongnya yang luar biasa. Bilah yang menghadap ke atas memungkinkan prajurit untuk menghunus pedang dan menyerang musuh hanya dalam satu gerakan.

4. Wakizashi

Wakizashi yang berarti sisipan sampingan adalah pedang tradisional Jepang lainnya, berfungsi sebagai senjata cadangan atau bahkan senjata tambahan. Di masa lalu, Wakizashi biasanya dipakai bersama dengan Katana oleh samurai dan dua pedang ini berpasangan yang disebut Daishō, yang diterjemahkan secara harfiah sebagai "besar dan kecil".

Wakizashi memiliki kesamaan dengan Kanata dalam banyak aspek tetapi biasanya lebih pendek. Dengan panjang rata-rata pedang antara 40 dan 60 cm, ini sangat cocok untuk bertarung di ruang terbatas, atau dapat digunakan bersamaan dengan Kanata. Keduanya adalah item yang memiliki kepentingan religius sekaligus simbol integritas dan nilai samurai.

wakizashi katana japan sword

Jika Katana disebut sebagai pedang panjang maka Wakizashi yang menemaninya. Kadang-kadang Wakizashi juga dapat digunakan untuk melakukan Seppuku, atau ritual bunuh diri, yang membuatnya disebut 'Pedang Kehormatan'. Seorang samurai akan memakai Wakizashi sejak dia bangun sampai dia tidur, dan ketika tidur menyimpannya di bawah bantalnya.

5. Nodachi

Nodachi adalah pedang besar Jepang dua tangan. Kata "Nodachi" secara kasar diterjemahkan menjadi 'pedang lapangan'.

Nodachi memiliki penampilan yang sama dengan Tachi, meskipun ukurannya jauh lebih besar dan lebih panjang. Karena ukurannya yang tidak normal, Nodachi kebanyakan digunakan oleh prajurit infanteri di medan perang terbuka untuk melawan prajurit kavaleri. Para prajurit biasa membawa pedang dengan Fuchi di telapak tangan mereka, ujung rata di bahu mereka dan bilah menghadap ke luar.

nodachi sword

6. Kodachi

Secara tradisional digunakan oleh kelas samurai feodal Jepang, Kodachi (こ だ ち) yang berarti Tachi pendek memiliki bentuk yang sama dengan Tachi tetapi lebih kecil dan lebih pendek. Biasanya panjangnya 60cm, atau kurang.

Kodachi sering disalahartikan dengan Wakizashi karena kesamaan panjang dan penggunaan tekniknya. Kodachi memiliki panjang yang tetap sedangkan ukuran Wakizaki bergantung pada Katana yang menyertainya. Kodachi dapat digunakan sebagai pedang pendamping atau senjata pertahanan diri remaja atau pengelana.

kodachi japan sword

7. Shin Gunto

Jepang mengalami periode kebangkitan nasionalisme selama tahun 1930-an dan perwira militer mengadopsi pedang yang sangat mirip dengan samurai Tachi, yang disebut Shin-gunto (新 軍刀).

Pedang Jepang jenis ini konon merupakan bagian dari seragam perwira Tentara Kekaisaran Jepang dari tahun 1934 hingga akhir Perang Dunia II. Menjadi senjata sekaligus simbol jabatan militer.

Sebagian besar pedang ini dilengkapi dengan bilah buatan mesin, dengan panjang sekitar 26 inci.

shin gunto japan sword

8. Tanto

Tanto adalah jenis belati Jepang yang di masa lalu disebut sebagai senjata tikam. Pedang dengan bilah bermata tunggal atau ganda dengan panjang tidak lebih dari 12 inci.

Secara tradisional, Tanto lurus bukan melengkung dan biasanya menyertai Katana. Istimewanya, pemakainya tidak harus meninggalkan Tanto saat berkunjung, tetapi bisa membawanya sebagai senjata pertahanan diri.

tanto japan sword

9. Ninjaken

Jika penggemar berat budaya Jepang, pasti sudah tidak asing lagi melihat pendekar berbaju hitam dan memegang pedang Ninja legendaris di tangannya.

Pedang Ninja, juga dikenal sebagai Ninjaken atau Shinobigatana adalah pedang tradisional yang digunakan oleh Shinobi di feodal Jepang. Ini adalah pedang yang diukir indah dengan ciri khas seperti lurus, ramping dan dengan pelindung persegi.

ninja sword

Pedang ninja sering muncul dalam budaya populer, bergandengan tangan dengan prajurit berpakaian hitam, menyelinap melalui bayang-bayang untuk menebas musuh mereka secara diam-diam.

10. Uchigatana

Muncul di awal abad ke-16, Uchigatana adalah senjata yang paling banyak digunakan oleh kelas samurai. Panjang bilahnya berkisar antara 60 cm dan 70 cm. Oleh karena itu, pedang ini relatif pendek dan ringan sehingga mudah dipegang dengan satu tangan.

Uchigatana dan Tachi tampak mirip tapi jika dibandingkan, Uchigatana memiliki perbedaan yang mencolok dalam hal penggunaan dan nuansa. Salah satu karakteristik yang terlihat untuk membedakan kedua pedang ini adalah bahwa Uchigatana dikenakan dengan bilah tajam mengarah ke atas di sabuk samurai.

uchigatana

Uchigatana terdiri dari saki-zori yang curam dan sugata yang kokoh. Pedang ini dapat digunakan baik di tempat terbatas seperti di dalam gedung atau di atas kuda karena kenyamanan dan keefektifannya.

*

Referensi:

Ketika Ali dan Ajip Menelurkan Dewan Kesenian Jakarta


Jika kebanyakan pejabat selalu merasa segala tahu ketimbang Wikipedia, Ali Sadikin berbeda: ia selalu merasa tak tahu. Karenanya, dia gemar bertanya kepada mereka yang lebih ahli. Tanpa memandang kedudukan seseorang, asal dianggap tahu mengenai hal yang dibicarakan, akan dia terima dan dengarkan.

Suatu kali Arief Budiman mengkritik kondisi Gedung Balai Budaya yang rusak. Arief masih seorang mahasiswa. Berkat tulisannya di Kompas, dia dipanggil ke kantor gubernur. Bukannya didamprat, ia malah dimintai keterangan dan saran lebih lanjut. Tak lama, Pemda DKI Jakarta langsung merenovasi gedung tadi.

Sering terjadi dialog bahkan debat yang cukup alot kalau membicarakan sesuatu dengannya, kenang Ajip Rosidi dalam Mengenang Hidup Orang Lain. Begitu beliau dapat menerima saran atau pikiran yang diusulkan, beliau segera ambil keputusan, tulis Ajip.

Ajip sendiri sering diajak berdialog, terutama soal masalah kebudayaan.

Karena ingin menjadikan Jakarta sebagai kota metropolitan, Ali menyediakan sejumlah dana dan perhatian cukup besar untuk kepentingan kesenian dan kebudayaan. Salah satu karyanya yang bertahan sampai sekarang adalah Dewan Kesenian Jakarta dengan pusat kesenian Taman Ismail Marzuki.

Ali Sadikin, Gubernur Pengayom Seniman


Aktif pada masa revolusi fisik, kemudian berbakti sebagai marinir dan berakhir menduduki jabatan dari menteri, menteri koordinator dan gubernur DKI Jakarta. Mayjen KKO Ali Sadikin diangkat menjadi Gubernur DKI oleh Presiden Sukarno.

ali sadikin soekarno
Presiden Sukarno mengangkat Ali Sadikin sebagai gubernur DKI Jakarta, April 1966. Foto: Historia.

Dianggap sebagai dedengkot Orde Lama, Ali sering dicurigai sebagai bom waktu yang sengaja ditaruh untuk menghancurkan Orde Baru. Dengan kinerja cemerlangnya, Ali membungkam tuduhan miring ini.

Ali selalu melahap semua surat kabar yang terbit di Jakarta. Ali bahkan mengundang wartawan untuk melaporkan segala sesuatu tentang Jakarta, termasuk yang negatif-negatifnya. Dia memuji bahwa para wartawan itu pegawai-pegawai yang banyak membantunya meski tak dia gaji.

Melihat Kali Ciliwung yang makin hitam, Ali menyuruh mengeruk sungai yang telah ditelantarkan berpuluh-puluh tahun itu. Agar orang-orang muda yang berkasih-kasihan tak diganggu atau diperas aparat, Ali mengusir para polisi dari Taman Ria Ancol.

Ali pun menempuh langkah yang tak populer di mata masyarakat Indonesia yang memandang tabu soal seks berbayar: Ali memilih melokalisasikan mereka. Para PSK dari Senen, Kramat Raya dan tempat lainnya digiring ke Kramat Tunggak.

Lokalisasi judi dan pelacuran juga diciptakan untuk memecahkan ketiadaan dana pemerintah daerah. Tentu, ia dikritik keras para alim ulama. Namun Ali hadapi dengan humor: “Kalau pak Kiai tak setuju dengan cara pengumpulan dana itu, maka Pak Kiai harus membeli helicopter pribadi karena semua jalan di Jakarta dibuat dan diperbaiki dengan uang maksiat.”

Seniman paling beruntung adalah mereka yang hidup semasa Gubernur Ali Sadikin. Slamet Rahardjo yang dirawat selama berbulan-bulan dibayarkan oleh Ali. Pelukis Affandi diberangkatkan haji. Kalau ada yang meninggal, termasuk seniman yang rumahnya di gang sempit jauh di dalam kampung, Ali pasti menyempatkan datang.

Ali selalu mengatakan dengan terus terang bahwa ia tak banyak tahu kesenian, tak mengerti lukisan. Namun setelah melihat kota-kota yang maju di dunia, Ali paham akan arti kesenian dalam masyarakat.

Berbagai sepak terjang Ali tadi tertulis dalam memoar Ajip Rosidi, Hidup Tanpa Ijazah: Yang Terekam dalam Kenangan. Kedekatan mereka memang dipicu kedaerahan, Ali yang kelahiran Sumedang, dan Ajip kelahiran Majalengka, sama-sama orang Sunda.

Proyek Ajip dan Ali Menaungi Seniman


“Tetapi seniman itu susah diurus!”

“Karena itu Pak Ali tidak usah mengurusnya. Biarkan mereka sendiri mengurus dirinya sendiri,” timpal Ajip.

“Bagaimana caranya?”

“Undang mereka berkumpul untuk memilih orang-orang yang akan mengurus mereka. Beri mereka kepercayaan dan dana. Kalau ternyata salah urus, mereka harus
mempertanggungjawakannya.”

Ajip Rosidi bersama Ilen Surianegara dan Ramadhan K.H. sering menemui Ali Sadikin di rumahnya pagi-pagi sebelum sang gubernur berangkat ke kantor. Dialog itu terjadi setelah Ali membaca tulisan Ajip di majalah Intisari berjudul “Senen: Wajah yang lama”.

Dengan dibangunnya kompleks Proyek Senen, kedai-kedai kopi dan warung-warung makan sederhana tempat para seniman berkumpul terusir. Dalam penutupnya tulisan, Ajip menyelipkan permohonan:

Mudah-mudahan Gubernur Ali Sadikin memikirkan pula tempat buat para seniman yang selamanya menjadi gerombolan-gerombolan orang yang terlupakan dan hanya menemukan tempat-tempat pertemuannya di lorong-lorong belaka.

Dalam perjalanan pulang, Ajip dan Ramadhan terbersit sebuah ide. Teringat korespondensi Oesman Effendi dengan Basuki Resobowo pada tahun-tahun awal 1950-an. Surat menyurat yang dimuat dalam majalah Siasat itu menyinggung soal perlunya Gelanggang Kesenian Jakarta.

Mereka kemudian menemui Oesman di rumah dinas istrinya di Slipi. Meminta Oesman untuk membuat desain tentang “Gelanggang Kesenian Jakarta” lagi, untuk kemudian disampaikan ke Gubernur.

Kira-kira sebulan kemudian, ketika Ajip berkunjung bertiga seperti biasa, Ali berkata, “Saya akan mengundang para seniman makan malam di rumah kediaman resmi Gubernur di Jalan Suropati tanggal 20 April. Mereka akan disuruh memilih wakil-wakilnya untuk menjadi anggota badan yang akan dibentuk.”

Para seniman Jakarta akhirnya akan mendapat perhatian, saran Ajip diterima. Karena mukim di Bandung, Ajip tak memberi tanggapan dan mafhum dirinya tak akan dilibatkan dalam pertemuan tersebut.

“Jangan lupa, saudara Ajip nanti hadir dalam pertemuan tanggal 20 April.”

Ajip tertegun, “Saya tidak bisa, Pak Ali. Tanggal 20 April saya harus memberi ceramah tentang sastra Sunda di Bandung.”

“Jadi, bisanya kapan?”

“Hari lain saya bisa. Hanya tanggal 20 April saja yang sudah ada acara.”

Gubernur Ali Sadikin lalu berteriak pada Kepala Dinas Kebudayaan R.A. Duyeh Sutahadipura yang pagi itu hadir di sana, “Pak Duyeh, waktu pertemuan itu jangan tanggal 20 April. Saudara Ajip berhalangan. Ganti tanggal yang lain.”

Pertemuan itu jadinya diselenggarakan tanggal 9 Mei 1968. Ajip bisa hadir.


Pembentukan Dewan Kesenian Jakarta


dewan kesenian jakarta

Ada ratusan seniman yang hadir, dari sastrawan sampai orang-orang film, teater, dan musik. Ali menyampaikan pidato bahwa Pemda DKI akan menyediakan dana untuk proyek ini. Tapi kalau para seniman tidak becus mengelola, akan diminta pertanggungjawabannya. Agar keanggotaan di badan itu tak diprotes, para seniman sendiri yang harus memilihnya.

Banyak orang yang kemudian mengemukakan pendapat, disepakati untuk membentuk formatur yang dipilih para seniman yang hadir malam itu. Setelah dilakukan pemilihan sampai tujuh kali, formatur itu ditetapkan terdiri dari 7 orang. Brigjen Rudy Pirngadie, D. Djajakusuma, Zulharman Said, Mochtar Lubis, Asrul Sani, H. Usmar Ismail, dan Gayus Siagian. Tim formatur harus memilih anggota untuk Badan Pembina Kebudayaan dalam dua minggu. Pada 24 Mei, tim formatur melaporkan hasil kerjanya pada Gubernur. Mochtar Lubis dan Asrul Sani secara khusus memasukkan Ajip sebagai anggota.

Mengingat bukan penduduk Jakarta dan masih banyak seniman Jakarta yang lebih pantas, Ajip awalnya menolak. Agar tak menimbulkan reaksi negatif. Ajip mengiyakan setelah didesak Mochtar dan diberitahu bahwa justru kawan-kawan seniman yang meminta. Anggota Badan Pembina Kebudayaan yang disusun oleh tim formatur berjumlah 19 orang. H.B. Jasin mundur, akhirnya menjadi 18 orang.

Rapat pertama Badan Pembina Kebudayaan diselenggarakan tanggal 27 Mei 1968 di Balai Budaya. Rapat membahas program kerja dan bentuk organisasi, serta menambah jumlah anggota dengan tujuh orang lagi, sehingga seluruhnya menjadi 25 orang. Nama diganti menjadi Dewan Kesenian Djakarta.

Segera para anggota mengadakan rapat untuk memilih Dewan Pengurus Harian. Trisno Sumardjo dipilih menjadi ketua. Karena diharuskan menetap di Jakarta, Ajip menolak duduk jadi wakil ketua. Sehingga ketua diwakili Arief Budiman (Ketua I) dan D. Djajakusumah (Ketua II). Sementara itu, gubernur menetapkan untuk menjadikan bekas Kebun Binatang di Jalan Cikini sebagai pusat kebudayaan. Pelantikan anggota DKJ oleh Ali Sadikin diselenggarakan di gedung balaikota pada 19 Juni.

Rapat pleno Dewan Kesenian Djakarta mencari nama pusat kesenian yang sedang dibangun itu. Disepakati nama komponis kelahiran Jakarta yang lagu-lagunya banyak disukai. Dengan demikian, nama pusat kesenian itu Taman Ismail Marzuki. Karena tak keburu selesai sesuai rencana awal tanggal 28 Oktober, TIM diresmikan November 1968.

Komitmen Ali dan Ajip Menjaga Kesenian


Kepada Dewan Kesenian Jakarta, Ali mewanti-wanti kalau ada hal-hal yang bersifat politis terjadi hendaknya cepat memberitahunya. Ada semacam perjanjian lisan, bahwa para seniman boleh mencipta secara bebas, namun kalau ada masalah politis, Ali yang bakal langsung menghadapi. Suatu kali, Rendra dan rombongan Bengkel Teater dicekal pergi dari Yogyakarta oleh Kodam Diponegoro. Padahal Rendra sudah membuat kontrak untuk pentas di TIM. Promosi sudah disebar, tiket sudah banyak terjual.

Saat itu, Ajip menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981). Ajip langsung menghadap Ali. Mendengar laporan tersebut, Ali langsung menelepon Kolonel Leo Ngali yang menjadi Kepala Asisten I Kodam Diponegoro. Tak sampai sepuluh menit berbicara via telepon, Kolonel Leo langsung mengizinkan rombongan Rendra bisa keluar Yogyakarta.

Setelah berhenti sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 1977, Ali Sadikin tak pernah menduduki jabatan formal apa pun. Terlebih karena kegiatannya di Petisi 50, Ali dikucilkan dan dilucuti hak-hak sipilnya selama belasan tahun. Pada 1981, Ajip menerima tawaran untuk menjadi dosen di Jepang, bermukim di sana dan akan kembali nanti pada 2003.

Sekembalinya Ajip setelah 22 tahun menjadi gaijin di Jepang, ia kaget bahwa sekarang Direktur TIM diangkat dari pegawai pemda. Gubernur Sutiyoso menyediakan subsidi sebesar Rp 15 milyar setahun untuk Pusat Kesenian Jakarta yang dibagi antara DKJ, TIM, Institut Kesenian Jakarta, dan Akademi Jakarta. Itupun sebelumnya karena ada permintaan Bang Ali.

Ajip ditawari kembali mengisi Akademi Jakarta. Ajip bilang bersedia membantu baik sebagai anggota AJ atau apapun juga untuk membangun kota Jakarta, asal gubernurnya Ali Sadikin. Ajip berkomentar: “Kalau gubernurnya tak paham maksud pembentukan TIM, DKJ, AJ dan lain-lain, maka meskipun menyusun nasihat yang bagaimana pun bagusnya tak akan ada gunanya.”

Seratus Tahun Gedung Sate

gedung sate 100 tahun

Berdiri tegak sejajar dengan Gunung Tangkubanparahu, kini usianya menginjak 100 tahun. Genap seabad, bangunan bersejarah ini semakin kokoh dan gagah. Usia hanyalah angka bagi Gedung Sate dan 27 Juli 1920 menjadi awal sejarah pembangunan dengan melibatkan 2.000 tukang.

Dirancang sesuai dengan desain neoklasik yang menggabungkan unsur-unsur asli Indonesia oleh arsitek Belanda J. Gerber untuk menjadi kantor departemen Transportasi, Pekerjaan Umum, dan Manajemen Air Hindia Belanda; bangunan itu selesai pada tahun 1924. Hari ini, bangunan tersebut berfungsi sebagai pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat.

Rencana Pemindahan Ibukota ke Bandung


Pembangunan gedung bermula saat Gubernur Jenderal van Limburg Stirum pada 1918 menginisiasi Bandung sebagai ibu kota baru bagi Hindia Belanda. Alasan pemindahan ini disebabkan kondisi lingkungan di Batavia yang sudah mulai tercemar dan alasan-alasan lain yang menyebabkannya tak kondusif menjadi ibukota sebuah negara.

Departement van Gouvernements Bedrijven atau Kantor pusat Departemen Perusahaan Milik Pemerintahan, merupakan yang pertama dibangun oleh tim arsitek pimpinan Johann Gerber. Proyek kompleks pusat pemerintahan ini rencananya dibangun dari lokasi Gedung Sate saat ini di Jalan Diponegoro hingga area Monumen Perjuangan.

gedung sate
Foto aerial Gedung Sate sekira 1925. Foto: KITLV.

Namun, krisis ekonomi yang terjadi kemudian membuat proyek ini terhenti. Sejumlah bangunan yang seharusnya dibangun tak rampung, yang berhasil hanya ada gedung Gouvernements Bedrijven dan Hoofdbureau Post Telegraaf en Telefoondienst yang kini jadi Museum Pos Indonesia.

Rencana awalnya ini akan jadi kompleks besar pemerintahan. Gedung Sate adalah yang paling selatan, sementara gedung paling utara itu tak jadi dibangun. Jadi sebenarnya Gedung Sate itu komplek perkantoran yang tak selesai dibangun.


Gedung Sate dari Masa ke Masa


gedung sate
Gedung Sate sekira 1920. Foto: KITLV.

Pada 1930, Gouvernements Bedrijven diresmikan sebagai Kantor Jawatan Pekerjaan Umum dan Pengairan. Hal ini memulai sejarah panjang Departemen Pekerjaan Umum Indonesia. 

Selama pendudukan Jepang, Gedung Sate menjadi Pusat Pemerintahan (Shucho) Wilayah Jawa Barat dan kedudukan Komandan Militer Daerah. 

Saat Indonesia merdeka, gedung kembali digunakan oleh Departemen Pekerjaan Umum. Hingga pada 1980, gedung dimanfaatkan sebagai kantor pemerintahan Jawa Barat hingga saat ini.

Kendati sudah berusia 100 tahun, Gedung Sate masih dalam kondisi prima. Hal ini karena hampir seluruh batu yang digunakan adalah batu kali dan batu gelas. Untuk batu kalinya diambil dari kawasan Bandung Timur, seperti daerah Sindanglaya dan Ujungberung, karena diyakini batunya lebih kuat. Sementara kolom bangunan Gedung Sate terbuat dari baja asli Swedia.

ngaleut gedung sate
Saat memandu Ngaleut Kawasan Gedung Sate sekaligus memeriahkan Bandung Readers Festival yang sedang diselenggarakan di sini (8/9/2019).

Aneka Reka Kabayan


Kabayan berhutang pada Snouck Hurgronje, sebab sang Orientalis itu “menemukan” tokoh rekaan dari Sunda ini. “Sebagian cerita-cerita Kabayan itu paling tidak sama baiknya dengan cerita-cerita terbaik dalam Uilespiegel (karakter kocak dari folklore Jerman),” puji Hurgronje.

Tokoh cerita lucu di Nusantara ini untuk pertama kalinya disinyalir oleh Hurgronje dalam bab dua De Atjehers (1893), yang menyebutkan: “Yang tidak kurang populer dari orang cebol yang cerdik, dalam cerita rakyat Indonesia adalah orang yang dilihat sepintas lalu saja memiliki ciri-ciri persamaan yang tak diragukan dengan cerita lucu Eropa, juga dengan Joha Arab-Turki dari Chodja Nasreddin; mengherankan bahwa sejauh saya ketahui belum ada seorang pun yang mencurahkan perhatian pada tipe yang mencolok ini.”

Sesudah itu diberikan uraian khusus mengenai cerita lucu Sunda, Si Kabayan, dalam 70 dongeng yang dihimpun sang penulis.

Sebelumnya, pada warsa 1889-1891, bersama Haji Hasan Moestapa sang penghulu besar Bandung, Hurgronje melakukan penelitian mengenai kehidupan Islam dan cerita rakyat di Pulau Jawa. Di antara cerita rakyat yang mereka kumpulkan tentu saja termasuk dongeng-dongeng lucu Si Kabayan. Beragam kisah Kabayan itu didapatkan dari Banten Selatan, Cirebon Selatan dan Priangan.

Kabayan dalam Tinjauan Snouck Hurgronje


Berbicara mengenai Kabayan, Hurgronje mengatakan: “Karena menjadi titik pusat beredarnya humor rakyat dan ironi, maka ia pun sekali-sekali memainkan peranan dalam cerita yang semula termasuk dalam siklus lain atau yang datang dari luar; sama juga dengan legenda mengenai perbuatan seorang pahlawan besar yang di satu atau lebih tempat tidak begitu dikenal."

Snouck Hurgronje. Foto: KITLV.
Snouck Hurgronje dan Haji Hasan Moestopa. Foto: KITLV


Hurgronje juga mengatakan bahwa di kalangan penduduk Sunda cerita-cerita Kabayan tidak hanya terus-menerus diulang oleh tua-muda, tetapi percakapan biasa di dalamnya yang berisi sindiran-sindiran dan kutipan dari dongeng-dongeng itu pun diucapkan.

"Juga di luar tanah Sunda tokoh lucu itu cenderung membentuk satu siklus," tulis Hurgronje, "Di Kepulauan ini kita temukan cerita lucu dalam berbagai stadium dan perkembangannya. Kadang-kadang berdampingan satu sama lain serangkaian akal-akalan cerdik seseorang dan diceritakan tentang serangkaian kebodohan seorang lain, kadang-kadang cerita-cerita itu disatukan, dan tipe yang muncul kemudian kebanyakan adalah semacam orang yang jelas terbelakang yang walau memiliki keterbatasan, namun peka terhadap humor (ingat adanya banyak tipe orang biasa yang populer).”

Kabayan dan Literatur Lucu Nusantara


Kabayan selalu berubah dari dongeng yang satu ke dongeng yang lain. Sifat dan tabiatnya, begitu juga kecerdasan dan ketinggian budinya, tidak tetap. Namun ada semacam watak yang sering mengisi Kabayan, seperti yang disebut Hurgronje: “Tidak kalah dengan Uilespiegel, Kabayan selalu menangkap kata-kata pembimbing dan penasihatnya secara keliru, dan menyebabkan cara dia melaksanakan perintah mereka selalu bikin ngeri, heran atau merugi.”

Kabayan terdiri atas entah berapa ribu dongeng dan setiap orang pada setiap waktu dapat saja mencipta dongeng Kabayan versinya.

Berbagai cerita Kabayan yang dihimpun Hurgronje itu kemudian dimanfaatkan Lina Maria Coster-Wijsman sebagai bahan disertasinya pada 1929. Coster-Wijsman berpendapat bahwa tidak ada di tempat lain di Kepulauan Nusantara yang memiliki cerita-cerita lucu yang sekaya pada orang Sunda.

Oleh karena itu siklus Kabayan pantas menjadi titik tolak untuk meninjau literatur lucu Indonesia. Aneka ragam lelucon, dan daerah-daerah yang menceritakan kembali cerita-cerita lucu Nusantara, dapat ditemukan kembali dalam cerita-cerita Kabayan, seluruhnya atau sebagian.

Kabayan, Seks dan Sensor


105

Si Kabajan éwéna rék ngadjoeroe, keur ditoenggoean baé, diboekakeun sampingna, tembong boeloe heuntjeutna éwéna, gijak senggak: “tah euj, boga anak pipatjalangeun, geus godégan ti leuleutik.” Barang ditegeskeun témbong itilna, “ih eutik-eutik oendjoek apa,” ngok ditjioem, “euh, eutik-eutik awoe ékon.”

Membaca beragam kisah Kabayan masa silam, kita bisa mengetahui bahwa seks bukanlah sesuatu yang tabu, melainkan dianggap sebagai sesuatu yang wajar dalam keseharian masyarakat Sunda. Namun, ketika Balai Pustaka menerbitkan kumpulan dongeng Si Kabayan pada tahun 1932, di dalamnya tak terdapat satu pun cerita yang menyangkut seks.

Hal ini melukiskan bahwa sistem nilai yang dianut redaktur Balai Pustaka sudah berbeda dengan sistem nilai yang dianut manusia Sunda yang menciptakan dongeng tersebut. Bahkan dalam cerita yang dikumpulkan Hugronje, ia menyebutkan kalau sebagian cerita yang ia dapatkan “lebih interesan, karena berisi contoh-contoh tentang kelakar rakyat yang kasar, yang banyak diantaranya terlalu kotor menurut pandangan Eropa untuk diterjemahkan.”

Dalam kebudayaan Sunda, ada istilah "jorang" dan "cawokah" yang berarti cabul atau mesum. Arkeolog dan pemerhati budaya Sunda Ayatrohaédi pernah menyoal dua istilah ini, pembedanya terletak pada teks dan konteks humor yang dimaksud. Jorang bisa disamakan dengan porno sementara cawokah adalah kecabulan yang spontan dan seolah-olah re­fleks. Mengacu pada cerita Kabayan tadi, Ayatrohaédi berke­simpulan bahwa itu bukanlah humor jorang (porno), tetapi masuk pada golongan cawokah.

Kenapa Kabayan Jadi "Si Pemalas Tapi Cerdas"?


Soal watak si Kabayan, Ajip Rosidi dalam Manusia Sunda berspekulasi bahwa kepandaian berkata-kata dan bersilat lidah dalam diri Kabayan makin populer dan menjadi sifat yang homogen berkat Si Kabayan Jadi Dukun, karangan Moh. Ambri pada tahun 1932.

Cerita itu merupakan saduran dari sebuah lakon sandiwara karya pengarang Prancis Moliere (1622-1673) yang berjudul Le Medecin Malgre Lui. Drama ini adalah salah satu dari beberapa drama Molière yang berpusat pada karakter Sganarelle, dan merupakan komedi satir tentang pengobatan Prancis abad ke-17. Diceritakan Sganarelle merupakan tukang kayu miskin yang dengan kecerdikannya berpura-pura jadi seorang dokter.

Tokoh Sganaralle dan istrinya. Foto: theater.roumanoff.com

Moh. Ambri menyadur tokoh Sganarelle ini menjadi Si Kabayan, melukiskan seorang tokoh pemalas, tapi cerdas, pandai berbicara, dalam arti tak pernah terdesak kalau berhadapan dengan orang lain, apakah istrinya atau para pejabat pamongpraja.

Arketip karakter Si Kabayan inilah yang paling populer sampai sekarang.

Kabayan, Dialog dan Diskursus


Si Kabayan Saba Kota (1989)

Seperti Don Quixote dan Sancho Panza, Kabayan membutuhkan pasangan lain untuk menciptakan dialog.

Dalam sebuah cerita Kabayan biasanya bermain dua orang: Kabayan dan seorang lain, apakah mertua laki-lakinya atau kyai, apakah mertua perempuannya atau nyai; kadang-kadang Kabayan dan istrinya. Sekali-kali tampil juga seorang teman, dan kadang-kadang tampil pasangan Kabayan; juga seorang janda yang dipercayainya.

Dengan mertua laki-lakinya, Kabayan selalu bertentangan. Seringnya si mertua jadi korban, tapi Kabayan tak jarang pernah sial. Si Kabayan dalam dongeng-dongeng yang sudah tersebar itu, ialah seorang kampung yang lingkungan pergaulannya terbatas kepada istri, mertua, atau majikannya.

Dalam cerita-cerita si Kabayan ciptaan baru, kadang-kadang dia dilukiskan sebagai orang yang tinggal di kota, meski tetap bersifat kampungan juga. Jumlah cerita Kabayan senantiasa bertambah karena setiap waktu ada saja orang yang ingin membuat lelucon atau sindiran atau nasihat dengan tokoh komikal ini.

*

Referensi:
  • Coster-Wijsman, Lina M. 2008. Si Kabayan: Cerita Lucu di Indonesia Terutama di Tanah Sunda. Bandung: Pustaka Jaya.
  • Kurnia, Atep. (4 April 2009). Seksualitas Si Kabayan. Kompas.
  • Rosidi, Ajip. 2010. Manusia Sunda. Bandung: Kiblat.
  • Faruk H.T. et al. 2004. Seks, Teks, Konteks: Tubuh dan Seksualitas dalam Wacana Lokal dan Global. Bandung: Jurusan Bahasa Inggris Unpad

Bahasa Sunda: Ranting Bahasa yang Mandiri


Pada 1841 bahasa Sunda secara resmi diakui pemerintah kolonial, yang ditandai dengan diterbitkannya kamus bahasa Sunda yang pertama: De Nederduitsch-Maleisch en Soendasch Woordenboek (Kamus Bahasa Belanda-Melayu dan Sunda).

Kamus itu diterbitkan di Amsterdam dan disusun oleh Roorda, seorang sarjana bahasa-bahasa Timur yang dianggap paling berwibawa. Senarai kosakata Sunda dalam kamus itu dikumpulkan oleh De Wilde. Jadi, sekarang eksistensi bahasa Sunda diakui oleh otoritas akademik yang letaknya jauh dari masyarakat penutur bahasa itu sendiri.

Dalam kata pengantar kamusnya itu, Roorda membuat pernyataan penting mengenai bahasa Sunda:

Pertama-tama [kamus] ini bermanfaat, khususnya supaya bisa lebih kenal dekat dengan bahasa yang sampai sekarang pengetahuan kita mengenainya sangat sedikit dan tidak sempurna; bahasa itu dituturkan di wilayah barat pulau Jawa, yang oleh penduduk setempat disebut Sunda atau Sundalanden, yang berbeda dari bahasa di wilayah timur pulau itu; bahasa itu sangat berbeda dengan yang pantas disebut bahasa Jawa dan juga Melayu, yaitu bahasa yang digunakan oleh orang-orang asing di kepulauan Hindia-Timur (Roorda dalam De Wilde 1841: v). 

Pada awal abad ke-19 buku karangan Johann Gottfried Herder (1744–1803), Abhandlung uber den Ursprung de Sprache (Tentang Muasal Bahasa) yang terbit pada 1772 besar artinya bagi aliran Romantisisme di Barat. Jostein Gaarder memberikan ringkasan yang bagus sekali tentang isi buku itu:

Herder menunjukkan bahwa setiap periode sejarah memiliki nilai-nilai intrinsiknya sendiri, dan setiap negara memiliki karakter atau ‘jiwa’ sendiri… Kaum Romantik di suatu negara umumnya berkepentingan terhadap sejarah ‘kelompok etnis’, bahasa ‘kelompok etnis’, dan kebudayaan ‘kelompok etnis’. Dan ‘kelompok etnis’ itu dilihat sebagai suatu organisme yang mengembangkan potensi bakat yang dibawa sejak lahir — persis seperti alam dan sejarah (Gaarder 1995: 270). 

Membedakan Sunda dari Jawa


Aliran Romantisisme juga memengaruhi para sarjana Belanda. Mereka mengadakan penelitian untuk menemukan ‘kelompok etnis’ dan bahasa ‘kelompok etnis’ itu di koloni mereka.

Roorda, misalnya, mendefinisikan bahasa Sunda sebagai bahasa tersendiri, bukan sebagai satu dialek bahasa Jawa. Ia percaya pada adanya hubungan antara kelompok etnis (een volk) dan bahasanya (zijn taal): “bahasa adalah hasil alam yang hidup dari semangat seseorang; semangat setiap orang muncul dengan sendirinya dalam bahasa, dalam tatakrama bahasa itu sendiri” (Noordegraaf 1985: 352).

Roorda menegakkan batas linguistik antara bahasa Sunda dan bahasa Jawa serta Melayu. Dengan kacamata orang Eropa, Sunda merupakan bahasa, tidak lagi dialek.

Roorda juga sangat menekankan betapa pentingnya bahasa Sunda berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan. Ia berkata:

Dengan demikian jelaslah bahwa bahasa Sunda dianggap sebagai bahasa sehari-hari oleh kaum bangsawan, yang dipandang tidak sederajat dengan bahasa Jawa. Walaupun demikian, bukan berarti bahwa bahasa Sunda tidak kurang pentingnya. Bahasa Sunda bukan hanya penting untuk berkomunikasi dengan penduduk di wilayah Sunda yang tidak mengerti bahasa Jawa, tetapi juga penting dipandang melulu dari faktor-faktor linguistik. Bahasa Sunda, seperti halnya bahasa Jawa, adalah ranting bahasa yang mandiri dan oleh karenanya dari sudut pandang linguistik dianggap sama pentingnya [dengan bahasa yang lain] (Roorda dalam Wilde 1841: xi). 

Metafora ‘ranting’ yang digunakan oleh Roorda menunjukkan bahwa idenya tentang bahasa dipengaruhi oleh pemikiran Herder dan teori evolusi.

Tahap berikutnya dalam kemunculan bahasa dan kebudayaan Sunda adalah pembedaan dari volken (etnisitas-etnisitas) yang lain. Pada 1842 Wolter Robert van Hoevell, seorang pendeta yang bertugas di Batavia pada 1842–1849 dan salah seorang pendiri Tijdschrift voor Nederlansch Indie (Jurnal mengenai Hindia-Belanda), mengemukakan hasil-hasil penelitiannya.

Di dalam artikelnya yang berjudul “Onderzoek naar de oorzaken van het onderscheid in voorkomen, kleeding, zeden en gewoonten, taal en karakter tusschen de Soendanezen en eigenlijke Javanen” (Penelitian mengenai alasan membedakan orang Sunda dari orang Jawa, baik dalam hal penampilan, pakaian, adat dan tradisi, bahasa dan karakternya), Van Hoevell mendiskusikan dalam istilah-istilah etnografi perbedaan fisik antara Djalma Soenda (orang Sunda) dan Wong Jawa (orang Jawa).

Artikel ini melengkapi pengakuan sebelumnya, yaitu bahwa Sunda bukan saja sebagai satu kesatuan bahasa tetapi juga penduduk yang tinggal di bagian barat pulau Jawa sebagai satu kelompok etnis tersendiri, yaitu Soendanezen (Hoevell 1842: 139–145). Jadi, penting diperhatikan di sini bahwa bahasa dan etnisitas seiring sejalan, gema lain karya Herder.

Peristiwa terpenting dalam perkembangan studi bahasa Sunda segera terjadi. Pada 9 Oktober 1843 Pieter Mijer, sekretaris Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Perhimpunan Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan, mengumumkan hadiah berupa uang sebanyak 1000 gulden dan sebuah medali emas (atau 300 gulden) untuk siapa saja yang berhasil menyusun Kamus Bahasa Sunda baru yang lebih baik. Setelah menunjukkan kekurangan Kamus Belanda Sunda De Wilde, Mijer mengumumkan sejumlah persyaratan untuk kamus baru sebagai berikut:

Kamus Belanda-Sunda yang selengkap mungkin, di mana kata-kata Sunda ditulis baik dalam aksara Jawa maupun Latin; yang menjelaskan mana kata-kata yang termasuk bahasa kromo dan mana yang termasuk bahasa ngoko, dan di wilayah Sunda mana kata-kata itu dipakai; serta yang menjelaskan arti kata-kata itu dengan contoh-contoh yang diambil dari kejadian sehari-hari (Mijer 1843: x). 

Apakah gerangan alasan di balik pemberian hadiah itu? Pertama-tama, pemerintah kolonial menyadari benar betapa perlunya studi bahasa-bahasa pribumi untuk kepentingan administrasi. Dengan semakin mendalamnya keterlibatan Belanda, kontak langsung dengan masyarakat semakin meningkat.

Namun, pengetahuan mengenai bahasa Sunda di lingkungan kesarjanaan Belanda masih langka, khususnya bila dibandingkan dengan bahasa Jawa. Ide pemberian hadiah itu disokong oleh meningkatnya kepentingan dunia ilmu yang mendorong ‘penemuan baru’ bahasa-bahasa yang berbeda. Para pegawai Belanda membutuhkan kamus yang lebih praktis dan lengkap karena mereka menganggap kamus De Wilde kurang memadai.

Pemerintah juga menaruh perhatian pada perlunya buku-buku teks dan buku-buku tatabahasa. Dikatakan bahwa studi mengenai bahasa Sunda yang dilakukan oleh orang Eropa sangat bermanfaat untuk kepentingan praktis, sebagaimana halnya studi mengenai bahasa Jawa: di pedalaman pulau Jawa, bahasa Melayu tidak dapat dimengerti baik oleh orang Sunda maupun orang Jawa (Mijer 1843: v-vi). Efek terpenting pengumuman hadiah itu adalah terciptanya ruang untuk diakuinya bahasa Sunda sebagai bahasa tersendiri di Jawa, dan ini menimbulkan rangsangan di kalangan orang Eropa untuk mempelajari bahasa Sunda.

Kamus Sunda bahasa asing pertama (dalam bahasa Inggris) keluar pada 1862, A Dictionary of the Sunda Languange of Java. Penyusunnya, Jonathan Rigg, ialah pengusaha perkebunan teh berkewarganegaraan Inggris yang tinggal di Bogor Selatan. Ia selesai menyusun kamus itu pada 1854, tigabelas tahun setelah terbitnya kamus De Wilde, atau sebelas tahun setelah pengumuman Pieter Mijer tersebut. Kamus Rigg menandai suatu era dalam sejarah bahasa Sunda. Orang Inggris sukses di Jawa Barat, bukan orang Belanda, dan dalam hal ini tidaklah sulit untuk membayangkan frustrasi yang dirasaka orang Belanda. Walaupun Belanda telah lama memberi perhatian pada Hindia-Timur dan mempelajarinya, orang Inggrislah (Raffles, Crawfurd, dan Rigg) yang memberikan sumbangan ilmiah terpenting, khususnya mengenai bahasa Sunda. Para sarjana Belanda dengan sengitnya mengupas habis kamus itu. Daniel Koorders, umpamanya, mengawali ulasannya tentang kamus itu sebagai berikut:

Ini membuat saya sedih karena penyusunnya bukan seorang Belanda; bahwa orang yang pertama memberi kita pandangan umum mengenai aturan-aturan mendasar kebijakan kolonial kita justru seorang asing. Juga, orang yang pertama memberi kita cara praktis mengetahui bahasa penduduk di bagian barat pulau Jawa adalah seorang asing. Ini mengejutkan saya, bahwa dalam kamus yang seharusnya ditulis untuk orang Belanda, ejaan kata-kata Sunda mengikuti lafal bahasa Inggris (Koorders 1863: 1). 

Koorders yang menyandang gelar doktor di bidang teologi dan hukum dikirim ke Hindia-Belanda pada 1862 sebagai pejabat tinggi kolonial. Ia ditugasi mempelajari bahasa Sunda dan mendirikan Sekolah Pendidikan Guru (Kweek school). Koorders menyimpulkan pandangannya sebagai berikut:

Mengingat pentingnya studi bahasa Sunda, yang mungkin telah dicatat secara sangat keliru dalam buku Rigg, maka saya merasa wajib membuat suatu sanggahan […] (Koorders 1863: 21). 

Yang menarik, ternyata Rigg tidak coba menjelaskan bahasa Sunda secara panjang lebar dalam kata pengantar kamus itu. Agaknya, ia pikir tidak perlu lagi penjelasan untuk membenarkan status bahasa Sunda sebagai bahasa yang mandiri, hingga memberi kesan bahwa keberadaan bahasa Sunda sudah menjadi pengetahuan umum di Hindia-Belanda.

Kurang lebih tujuh puluh tahun setelah diterbitkannya senarai kosakata pertama oleh Van Iperen (Iperen 1780b), bahasa Sunda baru memperoleh tempat tersendiri sebagai bahasa dalam lingkungan keilmuan Eropa.

Tahun-tahun berikutnya ditandai dengan kegiatan para misionaris dan para sarjana yang berusah mendefinisikan apa itu bahasa Sunda dan coba membangun pengetahuan yang berwibawa mengenai bahasa itu. Periode berlangsung sampai 1880-an, ketika persilangan pendapat antara kaum misionaris dan para sarjana sebagian besar berhasil dipecahkan dan diskusi disudahi: banyak kamus disusun, buku-buku tatabahasa diterbitkan, dan berbagai peraturan mengenai ejaan dibuat.

Salah satu diskusi yang terpenting dipusatkan di seputar pencarian ragam bahasa Sunda yang ‘murni’. Yang menarik, mereka berasumsi bahwa setiap bahasa memiliki bentuk yang murni. Dalam bagian laporan-laporan mereka yang dipublikasikan, orang Belanda berusaha mencari bentuk bahasa Sunda ‘murni’.

Ngaleut Pecinan di Bandung

kawasan pecinan bandung

Di mana lokasi Pecinan di Bandung? Mungkin banyak yang bertanya.

Kita menyoal dulu dari definisi istilahnya: Pecinan merujuk sebuah wilayah kota yang mayoritas penghuninya adalah orang Tionghoa. Pecinan banyak terdapat di kota-kota besar di berbagai negara, menjadi orang Tionghoa merantau dan kemudian menetap.

Pecinan pada dasarnya terbentuk karena 2 faktor yaitu faktor politik dan faktor sosial. Faktor politik berupa peraturan pemerintah lokal yang mengharuskan masyarakat Tionghoa dikonsentrasikan di wilayah-wilayah tertentu supaya lebih mudah diatur (Wijkenstelsel). Ini lumrah dijumpai di Indonesia pada zaman Hindia Belanda karena pemerintah kolonial melakukan segregasi berdasarkan latar belakang rasial. Di waktu-waktu tertentu, malah diperlukan izin masuk atau keluar dari pecinan (Passenstelsel).

Faktor sosial berupa keinginan sendiri masyarakat Tionghoa untuk hidup berkelompok karena adanya perasaan aman dan dapat saling bantu-membantu. Ini sering dikaitkan dengan sifat ekslusif orang Tionghoa, namun sebenarnya sifat ekslusif ada pada etnis dan bangsa apapun, semisal adanya kampung Madras/ India; kampung Arab atau pemukiman Yahudi.

Rute ngaleut kali ini dimulai dari Alun-alun Bandung, menuju Kawasan Pasar Baru lewat Jalan Alkateri, lalu ke Jalan Belakang Pasar, lanjut ke Cakue Osin, tembus ke Jalan Sudirman melipir ke Toko Roti Djie Seng, dan berakhir di Pendopo Bandung.

ngaleut pecinan poster

alun alun ngaleut pecinan bandung

alun alun ngaleut pecinan bandung

alkateri ngaleut pecinan bandung

alkateri ngaleut pecinan bandung

alkateri ngaleut pecinan bandung

alkateri ngaleut pecinan bandung

ngaleut pecinan bandung

ngaleut pecinan bandung

cakue osin

cakue osin bandung

ngaleut pecinan bandung


ngaleut pecinan bandung

toko djie seng bandung

toko djie seng bandung

swikee pasar basalamah

swikee pasar basalamah

swikee pasar basalamah

pendopo bandung


pendopo bandung

pendopo bandung