Cara Puitik Sinematik Makan Mie

Tampopo (1985)

Seni menjiplak kenyataan, begitu pula sebaliknya, dan ada orang-orang yang mendaku dirinya protagonis anime atau sedang berada dalam drama Korea. Itulah saya kalau sedang makan mie. Sering diejek teman karena saya selalu memilih pakai sumpit, dan sebelum makan bukannya berdoa malah bilang "itadakimasu", lalu komentar dengan frasa enak dalam bahasa Jepang atau Korea, melemparkan ekspresi sukacita berlebihan dan memperlakukan air putih layaknya sake atau soju. Entah kenapa, saya tak pernah bosan melakukannya.

Mungkin ini kelihatan sepele dan konyol, atau bahkan buat sebagian orang dianggap menjijikan, tapi alasan saya melakukan ini karena takjub pada filosofi di balik adegan makan yang sering kita lihat dalam anime atau drama Korea ini, soal menikmati momen dan soal mensyukuri apa yang dunia berikan pada kita, dalam hal ini mie. Meski memang, ada beberapa elemen budaya yang tak sesuai, misalnya makan dengan suara berisik atau ceplak apalagi mendesah, yang di Asia Timur adalah tanda menghargai makanan yang disajikan itu enak, di sini termasuk tidak sopan.

Tutorial terbaik untuk menikmati mie adalah dari Tampopo (1985). Film klasik Jepang yang dikultuskan ini berputar dalam pencarian semangkuk ramen yang sempurna dan dalam prosesnya meneliti obsesi untuk menikmati mie. Berkisah tentang jagoan misterius Goro (Tsutomu Yamazaski) dan rekannya Gun (Ken Watanabe) dan petualangan mereka untuk membantu toko ramen yang gagal dioperasikan oleh seorang ibu tunggal bernama Tampopo. Ketika film ini meneliti pengembaraan mereka mencari semangkuk mie yang sempurna dalam serangkaian adegan yang nyeleneh tetapi lucu, Tampopo dan penonton belajar tentang seluk-beluk pembuatan ramen yang sempurna.
 


Meskipun kita mungkin tidak akan pernah mampu meracik mie sempurna yang tidak ada bandingannya, Tampopo memberi kita wawasan tentang seorang master zen yang obsesinya selama 30 tahun dengan hidangan tersebut telah mengarah pada seni makan mie. Jadi lain kali kamu duduk untuk makan mie apapun, luangkan waktu dan ikuti langkah-langkah ini dan mencapai kebahagiaan gastrointestinal yang surgawi.

Pertama, hargai mie dalam mangkuk kita. Seperti kebanyakan hal dalam Zen, kita harus menyadari momen dan menghargainya. Hal yang sama berlaku ketika kita disajikan dengan semangkuk mie siap santap. Lihatlah dan sentuh dengan penuh cinta dengan sumpit kita sebagai cara untuk mengekspresikan kasih sayang dan penghargaan kita kepada master chef yang menciptakannya dan bahan-bahan yang ada di dalamnya.

Kedua, menyeruput kuahnya layaknya kopi. Bukan hanya pegiat kopi saja yang bisa snob. Awali dengan menghirup aroma kuahnya, resapi, lanjutkan dengan seruputan cepat, dan nikmati ledakan bumbu di dalamnya.

Ketiga, nikmati campuran rasa. Ambil lauk yang ada, apakah itu tempe, telur, daging ayam, baso, atau sosis, lalu celupkan ke kuahnya, dan lekas santap. Cicipi mie lagi dan lauk tadi putar di sekitar mangkuk saat kita perlahan mengunyah kombinasi itu.

Ada lebih banyak ritual lainnya, tapi itu tadi inti pelajarannya, selalui hargai momen saat ini. Jika ingin lebih jelas, lihatlah master yang sedang beraksi ini dan ketika nanti berhadapan dengan mie, nikmatilah layaknya master Zen.


Waktu Terbaik Untuk Tidak Memaafkan

Peppermint Candy (2000)


Ketika datang kemalangan disebabkan oleh keadaan di luar kendali kita, apakah itu dari hubungan dengan orang lain, dalam ikatan romantis, misalnya, atau entah apa, kita sering dinasihati untuk "memaafkan."
 

Sebagai kata kerja, memaafkan telah jadi konsep yang terlalu cair, kelewat banal, dan kebanyakan jadi sebatas jargon. Padahal, ia melibatkan beberapa komponen utama yang membentuk citra diri kita, seperti tanggung jawab, karakter, dan moralitas. Maka, ketika kita diberi wejangan untuk memaafkan berarti kita disuruh bertindak dengan cara tertentu, seolah-olah, dalam melakukan hal itu, kita tidak hanya memerdekakan orang yang bersalah dalam hidup kita, tetapi juga diri kita sendiri.

Lewat beragam nasehat bijak populer, yang sering diulang-ulang dalam self-help, kita diberi tahu kalau memaafkan kesalahan bahkan pengkhianatan apa pun yang pernah kita alami punya semacam jaminan untuk membebaskan kita dari masa lalu, dari rasa sakit kita, dan dari kenangan apa pun yang mengganggu kita. Namun, ketika kita menemukan diri terjun bebas ke jurang emosi dan dibuat menderita yang berasal dari siapa pun atau apa pun yang mengkhianati kita, percaya bahwa satu-satunya penyelesaian yang mungkin adalah dengan memaafkan justru membuka jalan yang berbahaya: Jika kita merasa kita tidak dapat memaafkan sepenuh hati, kita makin dibebani rasa bersalah dan malu, merasa salah karena tidak tahu bagaimana caranya untuk memaafkan, yang akhirnya malah makin membuat kita putus asa.

Tampaknya, dalam beberapa situasi, kita tidak perlu memaafkan, terutama karena memaafkan adalah fenomena psikologis yang kompleks, yang melibatkan faktor situasional dan individual. 


Dari sudut pandang yang kurang deterministik, memaafkan sangat situasional. Contoh terbaik dari hal ini adalah betapa lebih mudahnya memaafkan ketika orang yang bersalah betul-betul menunjukkan penyesalannya. Alasannya, mungkin bersifat evolusioner: Penyesalan menunjukkan bahwa seseorang mengakui kesalahannya. Pengakuan itu sendiri hanyalah bukti keselamatan: Dengan mengenali secara sadar tindakan menyakitkan, dan meminta maaf karenanya, orang yang bersalah mengakui peran dan tanggung jawabnya yang telah menyakiti orang lain.
 

"Maafkanlah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang telah mereka lakukan," adalah kata-kata yang konon diucapkan oleh Yesus sebelum penyaliban. Contoh welas asih ini menunjukkan bahwa pengampunan dimungkinkan melalui empati, menunjukkan bahwa jika seseorang tidak mengetahui konsekuensi dari tindakan mereka, atau rasa sakit yang diakibatkan, pengampunan diperlukan.

Bagi banyak orang, mungkin sulit untuk mengenali bahwa seseorang yang dekat dengan kita bisa saja bertindak jahat terhadap kita, menikmati rasa sakit kita, dan terus menyakiti meskipun tidak mendapatkan apa pun selain kepuasan diri. "Saya tahu saya harus memaafkan ..." atau "Saya tidak tahu bagaimana saya bisa memaafkan," menjadi semacam apologi bahwa memaafkan justru membebani, padahal orang-orang toxic tak seharusnya dimaafkan. Kata-kata tadi sangat kuat karena di dalamnya terdapat konsep yang menyerang kehendak individu yang terluka, termasuk konsep-dirinya, harga diri, dan pemahaman tentang dunia, orang-orang, bahkan, diri mereka sendiri. 


Apakah memaafkan itu perlu? Mungkin tidak, ada kebutuhan untuk memahami, dan untuk menerima, dan ada kebutuhan untuk meminta pertanggungjawaban pelaku kesalahan, bahkan jika dengan menyalahkannya ia harus berbicara dengan terapis atau teman, atau bahkan diberi hukuman setimpal; Ada kebutuhan untuk mendukakan ide tentang apa yang bisa atau seharusnya terjadi; ada kebutuhan untuk mencintai diri yang lebih muda yang telah mengalami kesulitan; dan ada kebutuhan untuk membuat rencana untuk bergerak maju.

Memaafkan adalah fenomena emosional dan psikologis yang kemungkinan membawa bobot evolusi, memungkinkan kita berfungsi dalam masyarakat yang dibangun di atas kepercayaan. Dalam kebanyakan kasus, memaafkan itu sehat, direkomendasikan, dan dibutuhkan. Namun, kadang-kadang, ada lebih banyak kekuatan yang muncul dengan tidak memaafkan.

FLCL


Anime ini adalah salah satu yang paling absurd yang pernah saya tonton.

Setelah melewati dua dekade, FLCL tetap menonjol melalui dongengnya yang tak masuk akal, sarat dengan sindiran, dan garis batas yang disajikan melalui visual yang seringnya abstrak. Sutradara Kazuya Tsurumaki, seorang animator kawakan di studio Gainax dan anak didik Hideaki Anno sang pencipta Neon Genesis Evangelion itu, dengan ambisius memutuskan untuk melanggar aturan anime yang ada melalui visual eklektik, pendekatan anti-narasi, dan soundtrack yang tidak biasa. FLCL diciptakan bersama penulis Yōji Enokido, yang juga seorang veteran Evangelion, juga Sailor Moon.

Dengan 6 episode, FLCL menjadi semacam anime cult. Sejak anime ini dirilis di tahun 2000, secara mengejutkan FLCL dibangkitkan kembali pada Juni 2018 dengan musim kedua dan musim ketiga, masing-masing dengan tambahan judul Progressive dan Alternative, yang meski memperluas konten dan mitologinya, tapi tak bisa mengembalikan kehebatan yang dulu.

Premis dasar dari FLCL terdengar cukup sederhana: Naota Nandaba adalah siswa kelas enam yang tinggal di Mabase, sebuah kota biasa-biasa yang tidak akan ada yang luar biasa terjadi. Setelah kakak lelakinya Tasuku meninggalkan kota ini untuk bermain bisbol di Amerika, Naota mengawasi semua yang ditinggalkan Tasuku, dari tempat tidur susun hingga Mamimi Samejima, mantan pacar kakaknya. Kehidupan kota kecil Naota diguncang oleh kedatangan Haruko Haruhara, seorang psikopat berambut merah muda yang mengendarai Vespa kuning dan menggunakan gitar bass layaknya palu gada. Pertemuan pertama keduanya meninggalkan Naota dengan tanduk aneh di kepalanya, yang memunculkan robot besar berkepala televisi, yang kemudian dinamai Canti. Hal-hal hanya jadi makin aneh sejak dari sini.



Didorong oleh gaya eksperimental dan surealis, FLCL menolak kiasan kisah-kisah coming-of-age, menentang logika naratif dan sebaliknya, mengandalkan dorongan hati. Demikian pula, animasi itu sendiri dihidupkan dengan cepat dan begitu longgar. Karakter dan dunia di sekitar mereka sama-sama fleksibel dan cair, karena FLCL mengambil bentuk dan gaya apa pun yang diinginkannya setiap saat.

FLCL begitu aneh, bahkan para karakternya mempertanyakan sebenarnya apa yang sedang terjadi. Dalam salah satu adegan paling awal ketika tiba-tiba gaya animasi berubah jadi manga hitam putih, ayah Naota mempertanyakan apa arti istilah FLCL. Jawaban yang kita dapati begitu membingungkan. Setiap episode dengan sengaja membingungkan, yang mencerminkan kekacauan emosi Naota dan kejutan memasuki masa remaja. Tumbuh dewasa di FLCL tampaknya konyol, mengingat bahwa sebagian besar orang dewasa di sana cabul dan kurang kompeten, bahkan lebih tidak dewasa ketimbang anak-anak.

Seperti halnya setiap konsep lain yang dikunyah dan dimuntahkan kembali oleh FLCL, ia memelintir kiasan kacangan menjadi sesuatu yang absurd, seperti keterlibatan terus-menerus dengan kengerian tubuh, metafora untuk penderitaan tumbuh dewasa yang diwakili oleh beberapa orang lewat semacam metamorfosis yang aneh. Robot raksasa meledak dari tanduk di dahi Naota, yang dikatakan dibawa oleh pikiran yang tak murni.


Haruko semacam karakter Looney Tunes dalam hal menghancurkan segala sesuatu di sekelilingnya. Seperti anime itu sendiri, Haruko membawa ketidakpastian, karena setiap episode membawa beberapa skenario baru yang hampir menentang analisis: kita dapat menonton setiap episode beberapa kali dan masih dibiarkan kebingungan. Campur tangan Haruko membuat anime ini makin edan, misalnya ketika pertandingan baseball yang tidak berbahaya berubah menjadi kondisi main-main menangkis kehancuran dunia, atau drama sekolah menengah yang berubah menjadi arena tarung robot raksasa.

Apa yang nyata dan apa yang metafora akhirnya berhenti berarti, semua yang tersisa adalah pemikiran yang membuat kita malah makin bingung.

Satu-satunya yang tak bikin pening dan enak untuk dinikmati adalah raungan gitar dan perkusi berat dari band rock kontemporer Jepang The Pillows, yang menjadi lagu latar FLCL.

Jadi, apa sebenarnya FLCL itu? Di episode terakhir FLCL, Naota membentak keluarganya dengan lelucon panjang lain bahwa tidak jadi masalah apa FLCL itu, dan ia memang benar. Seperti remaja, ia menantang otoritas, sehingga menolak konvensi genre yang mencoba mengategorikannya, yang seringnya buang-buang waktu. FLCL bukan aksi, bukan komedi, bukan anime mecha atau apapun itu, bahkan menyebutnya surealis terasa seperti istilah yang terlalu ketat. Pada intinya FLCL mewakili pemberontakan remaja, awal dari jalan menuju kemerdekaan sekaligus kehancuran.

Mecha: Sebuah Sejarah Singkat

Foto: James Gate

Di Diver City Mall Tokyo berdiri salah satu atraksi paling spektakuler di negara maju: Gundam setinggi 20 meter, seukuran aslinya. Di Jepang, robot ini adalah lambang ikon dari waralaba yang merupakan merk dagang beken. Sejak diperkenalkan pada 1980, lebih dari 450 juta model kit Gundam telah terjual. Di seluruh dunia, ini adalah sebuah totem otaku yang sangat dicintai. Unicorn Gundam di Diver City, lengkap dengan perubahan bagian tubuh dan pertunjukan cahaya dua kali sehari, meringkas hubungan cinta Jepang dengan robot raksasa, yang dikenal sebagai mecha.

Unicorn Gundam di depan plaza Diver City, Tokyo. Foto: Chill Chillz / Shutterstock
Mecha telah menjadi pokok hiburan Jepang yang populer selama beberapa dekade, tetapi sejarah mereka dapat ditelusuri kembali selama berabad-abad. Kecintaan Jepang dengan robot dengan variasi yang jauh lebih kecil setidaknya dimulai pada 1600-an dengan karakuri, boneka mekanis kecil yang digunakan untuk hiburan. Teknologi sangat penting untuk daya tarik dan penampilan mereka, fakta yang telah mendominasi robot Jepang sejak itu.

Contoh pertama dari sebuah robot dalam fiksi Jepang populer muncul pada 1930-an tetapi konsep itu dibentuk pada 1950-an dengan dua kreasi: Mighty Atom, atau yang lebih dikenal Astro Boy, dan Tetsujin-28-Go, atau Gigantor. Yang pertama adalah semacam futurisasi atas dongeng Pinocchio, tetapi yang terakhir berperan dalam membangun tradisi mecha, robot super besar yang memiliki kemampuan menakutkan, dikendalikan oleh manusia. Manga debutnya pada tahun 1956 kemudian diadaptasi menjadi serial anime pada tahun 1963, menjadikannya salah satu anime robot raksasa pertama di Jepang.

Konsep mecha yang dikendalikan manusia semakin diperkuat pada tahun 1970-an dengan kedatangan Mazinger-Z, gagasan dari mangaka legendaris Go Nagai. Robot tituler ini jauh lebih besar dari pendahulunya dan, yang terpenting, dikendalikan oleh pilot manusia yang duduk di dalam interiornya. Konsep robot sebagai baju zirah mengingatkan kembali pada aspek-aspek filosofi bushido Jepang, dan Mazinger-Z sendiri adalah ciptaan Jepang yang unik, karena terbuat dari logam super yang hanya bisa didapatkan dari Gunung Fuji.

Identitas budaya Jepang dengan demikian dimasukkan ke dalam robot, yang pada gilirannya digunakan untuk memerangi kejahatan dan ketidakadilan. Juga, ia memiliki kemampuan untuk melepaskan atau mengubah bagian-bagian itu sendiri, sesuatu yang dibuat untuk penjualan mainan yang sehat tetapi akan menambah elemen lain ke pengetahuan mecha, dan konsep robot transformasi akan dibawa ke ketinggian yang lebih besar di sejumlah karya dari tahun 70-an dan seterusnya.

Ilustrasi Mobile Suit Gundam oleh Yoshiyuki Takani.


Pada akhir 1970-an, muncul sebuah waralaba yang akan memiliki dampak seismik pada budaya pop Jepang layaknya Godzilla: Mobile Suit Gundam. Opera epik luar angkasa ini terjadi di dunia masa depan ketika federasi berbasis Bumi berperang dengan faksi separatis. Senjata utama federasi adalah Rx-78 Gundam, yang pada awal kisahnya diujicobakan oleh seorang remaja pria. Salah satu judul yang paling berpengaruh dalam sejarah anime dan manga, semesta Gundam menunjukkan bahwa sangat mungkin untuk memasukkan mecha ke dunia yang lebih ekspansif, raksasa dan reflektif seperti pada Star Wars dan Star Trek. Waralaba akan berkembang menjadi beberapa iterasi dan linimasa, semua didukung oleh deretan merchandise. Kit model Gundam sangat populer sehingga sekarang memiliki subkulturnya sendiri.

Beberapa judul telah mengikuti langkah Gundam yang akan membuat ceruknya sendiri; pada 1980-an kita mendapat Super Dimensional Fortress Macros, yang kemudian dicontek jadi Robotech di Amerika, juga sang pembasmi kejahatan Patlabor.



Pada akhir 1990-an, lanskap anime diubah selamanya oleh Neon Genesis Evangelion, sebuah judul yang menumbangkan dan mendekonstruksi etos mecha menjadi sesuatu yang lebih gelap dan lebih Freudian. Sudah lama sejak pencipta Jepang telah menghasilkan sesuatu yang orisinal atau dinamis seperti Gundam atau Mazinger-Z, sebagai gantinya bergantung pada sekuel atau varian baru pada kisah-kisah yang ada, tetapi kecintaan Jepang terhadap robot raksasa tetap kokoh. Di masa sekarang, ada perusahaan di Jepang yang benar-benar membangun mekanisme sendiri.

Jika Godzilla, dengan analoginya dari bencana nuklir, mewakili ceruk yang lebih gelap dari id Jepang, mecha berdiri untuk segala yang hebat tentang ambisi teknologi Jepang. Ini adalah mesin spektakuler yang digunakan, utamanya, sebagai alat untuk membantu umat manusia. Mereka mewakili kekuatan terbesar Jepang sebagai bangsa: kerja tim, kemampuan untuk memadukan teknologi progresif dengan nilai-nilai tradisional, pemikiran ke depan, ketabahan dan penggunaan sains sebagai sarana untuk meningkatkan indeks kebahagiaan.

Anatomi Insomnia


Foto: Megan te Boekhorst / Unsplash

Insomnia adalah kondisi tidur yang paling umum di dunia, dengan setengah dari orang dewasa secara global melaporkan episode sesekali. Insomnia kronis, meskipun jauh lebih jarang, mempengaruhi sebanyak 10 hingga 15 persen dari populasi orang dewasa.

Meskipun masalah tidur ini sangat umum, mekanisme neurobiologis di balik insomnia belum sepenuhnya dipahami. Penelitian menunjukkan bahwa stres emosional memainkan peran besar dalam berbagai masalah tidur, dan tercatat bahwa gangguan suasana hati dan kecemasan adalah komorbiditas umum dengan insomnia. Ini sepertinya sudah jadi kepercayaan umum. Gairah emosional, apakah karena keadaan cemas atau karena pikiran yang mengganggu, membuatnya sulit untuk rileks, sehingga menghambat kemampuan seseorang untuk memulai tidur atau kembali tidur setelah terbangun.

Garis pemikiran ini menunjukkan bahwa para peneliti dapat lebih memahami insomnia dengan memeriksa mekanisme yang mendasari bagaimana tubuh kita merespons stres.

Sistem Limbik


Bagian-bagian otak yang bertanggung jawab untuk memproses dan merespons stres secara kolektif dikenal sebagai sistem limbik. Semua hewan memiliki beberapa iterasi sistem limbik, dan memungkinkan mereka untuk dengan cepat menanggapi ancaman yang dirasakan. Ketika ancaman diidentifikasi, sistem limbik mulai bertindak untuk mempersiapkan tubuh kita untuk melarikan diri dari ancaman atau melawannya. Reaksi ini dikenal sebagai respons fight-or-flight.

Respon fight-or-flight ini sangat penting untuk bertahan hidup karena memberi hewan, termasuk manusia, lonjakan neurotransmiter, yang memberi mereka kesempatan lebih baik untuk melarikan diri atau melawan predator. Siapa pun yang terkejut dan merasakan jantung mereka mulai berpacu tahu betapa kuatnya respons ini. Namun, sistem yang sama diaktifkan bagi manusia yang hidup dalam latar yang lebih modern bahkan jika alasan lonjakan tiba-tiba neurotransmitter adalah dari sesuatu yang tak terlalu mengerikan. Konsekuensinya, tenggat waktu yang makin mepet atau janji temu di hari esok yang berpotensi menimbulkan kecanggungan dapat memicu mekanisme biofisiologis yang sama, meskipun situasi seperti ini tidak menimbulkan ancaman signifikan bagi keberadaan kita.

Anatomi Sistem Limbik


Sistem limbik memiliki dua komponen utama, amigdala dan hippocampus. Amigdala merespons rangsangan dengan menghasilkan respons emosional, terutama perasaan takut atau agresif, serta emosi positif ketika tubuh merasakan rangsangan yang membangkitkan atau rangsangan yang menyenangkan. Hippocampus bertanggung jawab untuk penciptaan dan konsolidasi memori.

Sistem limbik juga berkomunikasi dengan beberapa bagian otak lainnya. Secara khusus, hipotalamus memainkan peran utama dalam sistem limbik, meskipun ia juga melakukan banyak fungsi lainnya. Hipotalamus dapat dianggap sebagai pusat kendali tubuh karena mengatur banyak sistem saraf otonom (ANS), yang bertanggung jawab untuk mengendalikan fungsi tubuh vital yang tidak perlu kita pikirkan. Beberapa fungsi-fungsi ini termasuk pernapasan, tekanan darah, suhu tubuh, dan detak jantung.

Aktivasi Sistem Limbik


Ketika kita merasakan ancaman, amigdala mengirimkan sinyal marabahaya ke hipotalamus, yang pada gilirannya mengirimkan pesan kimiawi ke kelenjar adrenal untuk melepaskan epinefrin (atau adrenalin) ke dalam aliran darah. Peningkatan adrenalin ini mengaktifkan divisi ANS yang dikenal sebagai sistem saraf simpatis (SNS), yang mengaktifkan perubahan fisiologis dalam tubuh yang pada akhirnya akan membantu kita melawan ancaman atau melarikan diri ke tempat yang aman. Misalnya, ketika adrenalin mengalir ke seluruh tubuh, ia melebarkan saluran udara di paru-paru kita untuk membawa lebih banyak oksigen ke dalam tubuh, itu menyebabkan detak jantung kita meningkat untuk mendorong lebih banyak darah yang kaya oksigen ke otot-otot kita, dan ia melepaskan enzim yang menyebabkan lemak yang telah disimpan dalam tubuh kita untuk diubah menjadi glukosa, yang kemudian memberi kita lebih banyak energi. Bahkan penglihatan dan pendengaran kita menjadi lebih tajam.

Jika ancaman tidak segera teratasi, tubuh dapat mempertahankan keadaan hiperawaritas ini dengan mengaktifkan apa yang dikenal sebagai poros hipotalamus-hipofisis-adrenal (aksis HPA). Rangkaian respons hormon ini dimulai ketika hipotalamus melepaskan hormon pelepas kortikotropin (CRH) dan arginin vasopresin (AVP), yang memberi tahu kelenjar hipofisis untuk melepaskan hormon adrenokortikotropik (ACTH). ACTH memerintahkan kelenjar adrenalin untuk memproduksi kortisol, yang menjaga tubuh dalam keadaan waspada. Karena alasan ini, kortisol sering disebut sebagai "hormon stres."

Begitu ancaman telah berlalu, divisi lain dari sistem saraf otonom, sistem saraf parasimpatis (PNS), mengambil alih dan mengembalikan tubuh kita ke keadaan istirahat. PNS tidak hanya bertanggung jawab untuk melonggarkan tubuh kita dari keadaan kewaspadaan tinggi; itu juga mengatur aktivitas seksual, air liur, pencernaan, buang air kecil, dan buang air besar. Secara umum, SNS melibatkan fight-or-flight, PNS melibatkan aktivitas makan dan berkembang biak.

Peran Hippocampus dalam Sistem Limbik


Sebagian besar ingatan bukan sekadar kumpulan persepsi. Mereka juga memasukkan cara yang kita rasakan pada saat ingatan diciptakan karena amigdala dan hippocampus bertindak bersama untuk menyandikan ingatan dengan emosi. Di satu sisi, kondisi ini mengharuskan kita untuk berulang kali berpartisipasi dalam kegiatan yang terkait dengan emosi positif. Di sisi lain, itu mengharuskan kita untuk menghindari kegiatan yang terkait dengan emosi negatif dan memungkinkan kita untuk lebih siap menghadapi skenario fight-or-flight.

Jika kita mendapati diri kita dalam situasi yang berbahaya dan melarikan diri, kita mungkin dikondisikan untuk menghindari tidak hanya situasi itu sendiri, tetapi kegiatan atau rangsangan yang terkait dengan situasi itu. Ketakutan semacam itu tidak didasarkan pada insting, tetapi lebih pada ingatan. Sebagai contoh ekstrem, jika seseorang hampir tenggelam di lautan pada usia muda, hal ini dapat menimbulkan ketakutan tidak hanya pada lautan, tetapi juga terhadap segala jenis perairan.

Sementara interaksi antara emosi dan memori ini dapat menyebabkan berbagai fobia yang dapat mengganggu kehidupan normal seseorang, hubungan ini merupakan bagian integral dari kelangsungan hidup. Tanpa itu, kita tidak akan bisa mengingat ancaman potensial atau kegiatan berbahaya. Orang seperti itu akan menjadi tak kenal takut dan kemungkinan besar tidak akan lama berada di dunia ini.

Sistem Limbik dan Tidur


Kabar baiknya adalah bahwa banyak dari kita tidak lagi hidup di dunia di mana kita harus terus-menerus waspada tentang predator atau bahaya potensial lainnya, tetapi kita masih siap untuk bertindak jika ada ancaman. Selain itu, banyak dari kita mengalami kesulitan mematikan kiasan "on switch" dalam pikiran kita, yang berarti bahwa tingkat stres kita tetap tinggi bahkan ketika kita mencoba menidurkan diri kita.

Ini adalah kejadian yang relatif normal, sayangnya. Dalam kebanyakan kasus, setelah penyebab stres teratasi, individu dapat melanjutkan pola tidur normal. Namun, bagi mereka yang menderita insomnia, pemicu stres adalah kurang tidur, dan keinginan untuk tidur menjadi pemicu stres itu sendiri. Dengan kata lain, fiksasi pada tidur menyebabkan perasaan stres karena tidak tertidur, yang memulai lingkaran setan. Menurut model yang pertama kali diusulkan oleh Kales et al. pada tahun 1976, pasien dapat mengembangkan rasa takut terkondisikan untuk tidak bisa tidur, yang membuat mereka dalam keadaan hyperarousal ketika mereka mencoba untuk tertidur. Ini membuat ketidakmampuan mereka untuk tidur menjadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya.

Penelitian tambahan telah menguatkan model ini. Sebuah penelitian di Jerman yang diterbitkan dalam jurnal Sleep pada tahun 2014 mengamati bahwa pasien dengan insomnia merespons rangsangan terkait insomnia dengan peningkatan aktivitas amigdala yang berhubungan dengan emosi negatif. Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa ketakutan terhadap insomnia, yang dapat ditimbulkan oleh pasien rangsangan yang berhubungan dengan insomnia, dapat menjadi akar dari insomnia itu sendiri.

Bagi dokter, para penulis penelitian menyarankan bahwa opsi perawatan harus mencakup strategi yang mengatasi emosi negatif yang terkait dengan insomnia dan tidur. Ini akan termasuk menawarkan pelatihan relaksasi (teknik pernapasan, meditasi, panduan penggambaran, dll.), serta Cognitive-Behavioral Treatment (CBT) dalam kasus-kasus yang lebih sulit.

Pada akhirnya, tujuannya mungkin bukan semata-mata untuk mengobati insomnia pasien, tetapi juga untuk mengobati ketakutan pasien terhadap insomnia dan untuk menyelesaikan setiap emosi negatif yang terkait dengan tidur.

*

Diterjemahkan dari The Anatomy of Insomnia yang ditulis Samoon Ahmad di Psychology Today.

Hijrah ke Blogspot


Sejak mula punya blog dari SMA sekitar tahun 2008, saya selalu memilih platform WordPress, menjajal dari layanan gratisan sampai self-hosted berbayar. Seperti kebanyakan orang yang ingin memulai ngeblog, kebingungan yang bakal dihadapi adalah memilih platform yang sesuai, saat itu opsinya antara WordPress, Blogspot atau Multiply. Saya menentukan pilihan pada WordPress dan terus memakainya selama bertahun-tahun, dan sampai sekarang, meski memakai Blogspot, saya sebenarnya tetap menyukai WordPress.

Kalau saja harga sewa WordPress tak terlalu bikin pening, saya akan tetap bertahan di sana. Pada 2019, ketika sewa domain yeaharip.com berakhir, saya memutuskan tak memperpanjangnya. Lagipula, saya tak terlalu aktif ngeblog, dan untuk menampung tulisan saya beralih ke Medium.

Setelah mengetahui kalau tulisan bisa jadi duit, saya selalu menimbang-nimbang untuk mengepos sebuah tulisan di blog. Lebih baik mengirim dulu ke media lain, kalau ditolak redaktur baru dipos di blog sendiri. Pada 2017 saya ditawari jadi penulis mild report di Tirto.id, ditawari langsung oleh Zen RS yang saat itu jadi editor at large, hanya serabutan dan bisa mengerjakannya di Bandung, biasanya dia meminta tulisan untuk akhir pekan, karena kebetulan waktu itu media itu baru berusia satu tahun jadi masih sering kekurangan tulisan. Gaya tulisan saja jadi lebih dingin, dalam artian mengurangi opini dan lebih mementingkan referensi. Di tahun yang sama, saya mulai menulis juga di media Voxpop, di sini gaya tulisannya lebih santai. Juga ke beberapa media daring ketika kantong mulai mengering.

Sementara itu, blog setidaknya cuma diisi terjemahan fiksi dan artikel dari situs berita luar, biasanya yang bersifat longread. Kegiatan menerjemahkan ini untuk latihan membangun narasi, dari menemukan kosakata baru sampai cara mengulik inspirasi tulisan. Saya sendiri jarang curhat di blog, meski ada beberapa. Sisanya diisi tulisan-tulisan yang ditolak redaktur itu, dan jarang terjadi.

Blog seringnya ditelantarkan. Namun saya pikir saya tetap membutuhkan semacam portofolio digital, lewat blog, dan harus dengan top level domain. Satu-satunya alasan beralih ke Blogspot karena ini. Sampai sekarang, saya masih berpikir perpindahan dari WordPress ke Blogspot ini justru penurunan kelas.

Saya masih tak suka dengan editor pos di Blogspot, utamanya dalam pengeditan tulisan, yang tak seapik di WordPress atau Medium. Misalnya, untuk bikin antar paragraf ada jarak dan terlihat rapi harus dengan pencet enter dua kali. Mungkin ini masalah sepele, tapi ketika ingin memindahkan dari/ke Word, jadinya harus menyunting dua kali. Baru-baru ini, ada perubahan di editor pos, saya cukup senang, tapi tampaknya cuma dari tampilan doang.

Entah kenapa saya sering dipusingkan oleh masalah trivial, bukannya memikirkan yang lebih mendesak. Saya harus belajar bersiasat dan mencintai keterbatasan.

Ketika Winter Sonata Meyakinkan Dunia Kalau Cowok Korea Adalah Kekasih Idaman


Kemenangan besar budaya populer Korea akhirnya diraih melalui serial drama 2002 dengan ketenaran gila-gilaan: Winter Sonata.

Selama bertahun-tahun, tujuan tak tertulis strategi ekspor budaya popular Korea adalah memenangkan hati penonton Jepang. Kalau orang Korea bisa meluluhkan hati orang Jepang, yang sampai saat itu memiliki pengaruh besar pada budaya popular di Asia, maka, segalanya mungkin.

Winter Sonata adalah bukti nyata pertama bahwa budaya popular Korea bisa disukai hingga mancanegara. Siapa sangka, drama Korea bisa sangat terkenal di banyak negara di seluruh penjuru dunia seperti Irak, Rusia, Mesir, Uzbekistan, dan tentunya Indonesia. Namun yang lebih penting, drama ini akhirnya berhasil bikin Korea menang dari musuh bebuyutannya sejak dulu, Jepang.

Formula Drama Korea a la Winter Sonata


Ketika dua penulis, Yoon Eun-kyung dan Kim Eun-hee, didaulat untuk menggarap Winter Sonata, mereka hanya diberi dua petunjuk utama: harus ada cerita tentang amnesia, dan harus ada latar saat musim salju. Selain dua hal itu, mereka diberi kekuasaan penuh menentukan isi cerita.

Winter Sonata adalah drama yang sangat khas Korea: berpusat pada sakralnya kenangan, baik secara harfiah, seperti tokohnya yang kena amnesia, maupun dalam konteks nostalgia. Plotnya berkisah antara keluguan masa kecil, drama keluarga, dan begitu banyak tangisan. Menangis, baik dilakukan lelaki dan perempuan, adalah menu utama drama Korea, menyalurkan han orang Korea dan kebutuhan mereka untuk mengatasi penderitaan.

Winter Sonata dimulai dengan kisah para tokoh utamanya di SMA, saat Jun-sang pertama bertemu kekasih masa kecilnya, Yu-jin. Jun-sang punya masalah dalam kehidupan sosial, menghindari pertemanan dan bersikap kasar terhadap siapa pun, kecuali pada satu siswa laki-laki lain, yang diam-diam ia ketahui adalah saudara tirinya. Jun-sang punya rambut sangat bagus. Ia juga jenius dalam matematika. Saat Jun-sang dan Yu-jin akan merayakan malam tahun baru bersama, ibu Jun-sang memberi tahu mereka harus pindah ke Amerika, secepatnya. Dalam perjalanan ke bandara, Jun-sang mengalami kecelakaan. Esoknya di sekolah, diumumkan kalau dia meninggal. Tentu saja, itu tidak benar. Kecelakaan tadi membuatnya hilang ingatan.

Secara keseluruhan, pasangan utama di Winter Sonata hanya berciuman dua kali. Menurut Seung Bak, pendiri situs DramaFever, inilah salahsatu alasan drama Korea justru digemari. Tak seperti tayangan dari negara-negara lain, termasuk telenovela, yang tokoh-tokohnya berhubungan seksual dalam dua menit pertama tayangannya, sebuah drama Korea bisa membutuhkan delapan episode sebelum pasangan tokoh utamanya berciuman.

Drama Korea lebih banyak fokus pada cerita dan masa pacaran, dan perempuan di seluruh dunia menyukainya. Di Iran, para perempuan sampai menjadwalkan makan malam mereka agar tak mengganggu waktu menonton drama Korea. Orang Afrika juga menyukainya.

Bae Yong-joon Sang Lelaki Idaman



Drama dua puluh episode ini setidaknya menciptakan salah satu tokoh protagonis pria paling sempurna dalam sejarah pertelevisian. Adalah arsitek yang mengalami amnesia bernama Kang Jun-sang, dengan diperankan Bae Yong-joon, yang jadi paket sempurna: kuat, cerdas, dan penuh kasih sayang.

Winter Sonata ditayangkan di Jepang pada 2003, menjadikan si aktor Yong-joon yang berwajah lembut itu idaman di kalangan perempuan Jepang, bahkan jadi salah satu kecintaan nasional terbesar sepanjang sejarah. Mereka tergila-gila baik dengan karakter maupun aktornya.

Obsesi ini sangat besar hingga The New York Times membuat artikel berjudul What’s Korean for ‘Real Men’? Ask a Japanese Woman. Winter Sonata, tepatnya Yong-joon, dianggap telah menghasilkan keuntungan sebanyak $2,3 miliar (sekitar Rp 30 triliun) dalam beberapa jenis usaha baru, meliputi berbagai industri, antara Jepang dan Korea Selatan dari 2003 sampai 2004. Artikel itu juga melaporkan bahwa kunjungan pariwisita dari Jepang ke Korea meningkat 40 persen pada paruh pertama 2004, termasuk perjalanan ke Pulau Nami yang menjadi latar belakang drama itu - sampai sekarang pulau kecil ini destinasi wisata favorit.

Kenapa Winter Sonata Sampai Menimbulkan Kegilaan? 


Agustus 2004, Junichiro Koizumi, yang kemudian menjadi Perdana Menteri Jepang, sampai-sampai mengampanyekan dirinya dalam pemilihan di Parlemen, “Saya akan berusaha keras agar bisa setenar Yon-sama.” Dia merujuk aktor Winter Sonata itu, 'Yon-sama' merupakan panggilan kehormatan Bae Yong-joon di Jepang.

Bagaimana kegilaan ini bisa sampai di luar kendali? Bahkan penulis Eun-kyung dan Eun-hee awalnya bingung dengan kesuksesan drama mereka di Jepang, tetapi mereka punya beberapa teori. Eun-kyung mengatakan, “Para perempuan Jepang berpikir pria Korea hangat, selalu bisa diandalkan.” Eun-hee menambahkan, “Mereka pikir pria Korea romantis dan mampu melindungi para perempuannya. Bae Yong-joon punya wajah yang tak ada di Jepang; jantan tetapi lembut.”

Winter Sonata dan Bae Yong-joon tampaknya berjasa dalam melejitkan popularitas drama Korea, sekaligus memantapkan semacam formula. Kini, drama Korea begitu digilai di seluruh dunia, ia menjadi soft power yang tengah beraksi: drama-drama ini secara halus mempromosikan nilai, gambaran, dan selera Korea kepada penonton internasional mereka.

Saya pernah menulis di Tirto artikel berjudul Menonton Drama Korea adalah Tindakan Perlawanan yang membahas kalau beberapa orang Korea Utara memberanikan diri untuk kabur dari negaranya agar bisa punya pasangan seperti para lelaki di Korea Selatan.

*

Referensi:

  • Hong, Euny. 2016. Korean Cool: Strategi Inovatif di Balik Ledakan Budaya Korea. Bentang Pustaka.

Aneka Reka Kabayan


Kabayan berhutang pada Snouck Hurgronje, sebab sang Orientalis itu “menemukan” tokoh rekaan dari Sunda ini. “Sebagian cerita-cerita Kabayan itu paling tidak sama baiknya dengan cerita-cerita terbaik dalam Uilespiegel (karakter kocak dari folklore Jerman),” puji Hurgronje.

Tokoh cerita lucu di Nusantara ini untuk pertama kalinya disinyalir oleh Hurgronje dalam bab dua De Atjehers (1893), yang menyebutkan: “Yang tidak kurang populer dari orang cebol yang cerdik, dalam cerita rakyat Indonesia adalah orang yang dilihat sepintas lalu saja memiliki ciri-ciri persamaan yang tak diragukan dengan cerita lucu Eropa, juga dengan Joha Arab-Turki dari Chodja Nasreddin; mengherankan bahwa sejauh saya ketahui belum ada seorang pun yang mencurahkan perhatian pada tipe yang mencolok ini.”

Sesudah itu diberikan uraian khusus mengenai cerita lucu Sunda, Si Kabayan, dalam 70 dongeng yang dihimpun sang penulis.

Sebelumnya, pada warsa 1889-1891, bersama Haji Hasan Moestapa sang penghulu besar Bandung, Hurgronje melakukan penelitian mengenai kehidupan Islam dan cerita rakyat di Pulau Jawa. Di antara cerita rakyat yang mereka kumpulkan tentu saja termasuk dongeng-dongeng lucu Si Kabayan. Beragam kisah Kabayan itu didapatkan dari Banten Selatan, Cirebon Selatan dan Priangan.

Kabayan dalam Tinjauan Snouck Hurgronje


Berbicara mengenai Kabayan, Hurgronje mengatakan: “Karena menjadi titik pusat beredarnya humor rakyat dan ironi, maka ia pun sekali-sekali memainkan peranan dalam cerita yang semula termasuk dalam siklus lain atau yang datang dari luar; sama juga dengan legenda mengenai perbuatan seorang pahlawan besar yang di satu atau lebih tempat tidak begitu dikenal."

Snouck Hurgronje. Foto: KITLV.
Snouck Hurgronje dan Haji Hasan Moestopa. Foto: KITLV


Hurgronje juga mengatakan bahwa di kalangan penduduk Sunda cerita-cerita Kabayan tidak hanya terus-menerus diulang oleh tua-muda, tetapi percakapan biasa di dalamnya yang berisi sindiran-sindiran dan kutipan dari dongeng-dongeng itu pun diucapkan.

"Juga di luar tanah Sunda tokoh lucu itu cenderung membentuk satu siklus," tulis Hurgronje, "Di Kepulauan ini kita temukan cerita lucu dalam berbagai stadium dan perkembangannya. Kadang-kadang berdampingan satu sama lain serangkaian akal-akalan cerdik seseorang dan diceritakan tentang serangkaian kebodohan seorang lain, kadang-kadang cerita-cerita itu disatukan, dan tipe yang muncul kemudian kebanyakan adalah semacam orang yang jelas terbelakang yang walau memiliki keterbatasan, namun peka terhadap humor (ingat adanya banyak tipe orang biasa yang populer).”

Kabayan dan Literatur Lucu Nusantara


Kabayan selalu berubah dari dongeng yang satu ke dongeng yang lain. Sifat dan tabiatnya, begitu juga kecerdasan dan ketinggian budinya, tidak tetap. Namun ada semacam watak yang sering mengisi Kabayan, seperti yang disebut Hurgronje: “Tidak kalah dengan Uilespiegel, Kabayan selalu menangkap kata-kata pembimbing dan penasihatnya secara keliru, dan menyebabkan cara dia melaksanakan perintah mereka selalu bikin ngeri, heran atau merugi.”

Kabayan terdiri atas entah berapa ribu dongeng dan setiap orang pada setiap waktu dapat saja mencipta dongeng Kabayan versinya.

Berbagai cerita Kabayan yang dihimpun Hurgronje itu kemudian dimanfaatkan Lina Maria Coster-Wijsman sebagai bahan disertasinya pada 1929. Coster-Wijsman berpendapat bahwa tidak ada di tempat lain di Kepulauan Nusantara yang memiliki cerita-cerita lucu yang sekaya pada orang Sunda.

Oleh karena itu siklus Kabayan pantas menjadi titik tolak untuk meninjau literatur lucu Indonesia. Aneka ragam lelucon, dan daerah-daerah yang menceritakan kembali cerita-cerita lucu Nusantara, dapat ditemukan kembali dalam cerita-cerita Kabayan, seluruhnya atau sebagian.

Kabayan, Seks dan Sensor


105

Si Kabajan éwéna rék ngadjoeroe, keur ditoenggoean baé, diboekakeun sampingna, tembong boeloe heuntjeutna éwéna, gijak senggak: “tah euj, boga anak pipatjalangeun, geus godégan ti leuleutik.” Barang ditegeskeun témbong itilna, “ih eutik-eutik oendjoek apa,” ngok ditjioem, “euh, eutik-eutik awoe ékon.”

Membaca beragam kisah Kabayan masa silam, kita bisa mengetahui bahwa seks bukanlah sesuatu yang tabu, melainkan dianggap sebagai sesuatu yang wajar dalam keseharian masyarakat Sunda. Namun, ketika Balai Pustaka menerbitkan kumpulan dongeng Si Kabayan pada tahun 1932, di dalamnya tak terdapat satu pun cerita yang menyangkut seks.

Hal ini melukiskan bahwa sistem nilai yang dianut redaktur Balai Pustaka sudah berbeda dengan sistem nilai yang dianut manusia Sunda yang menciptakan dongeng tersebut. Bahkan dalam cerita yang dikumpulkan Hugronje, ia menyebutkan kalau sebagian cerita yang ia dapatkan “lebih interesan, karena berisi contoh-contoh tentang kelakar rakyat yang kasar, yang banyak diantaranya terlalu kotor menurut pandangan Eropa untuk diterjemahkan.”

Dalam kebudayaan Sunda, ada istilah "jorang" dan "cawokah" yang berarti cabul atau mesum. Arkeolog dan pemerhati budaya Sunda Ayatrohaédi pernah menyoal dua istilah ini, pembedanya terletak pada teks dan konteks humor yang dimaksud. Jorang bisa disamakan dengan porno sementara cawokah adalah kecabulan yang spontan dan seolah-olah re­fleks. Mengacu pada cerita Kabayan tadi, Ayatrohaédi berke­simpulan bahwa itu bukanlah humor jorang (porno), tetapi masuk pada golongan cawokah.

Kenapa Kabayan Jadi "Si Pemalas Tapi Cerdas"?


Soal watak si Kabayan, Ajip Rosidi dalam Manusia Sunda berspekulasi bahwa kepandaian berkata-kata dan bersilat lidah dalam diri Kabayan makin populer dan menjadi sifat yang homogen berkat Si Kabayan Jadi Dukun, karangan Moh. Ambri pada tahun 1932.

Cerita itu merupakan saduran dari sebuah lakon sandiwara karya pengarang Prancis Moliere (1622-1673) yang berjudul Le Medecin Malgre Lui. Drama ini adalah salah satu dari beberapa drama Molière yang berpusat pada karakter Sganarelle, dan merupakan komedi satir tentang pengobatan Prancis abad ke-17. Diceritakan Sganarelle merupakan tukang kayu miskin yang dengan kecerdikannya berpura-pura jadi seorang dokter.

Tokoh Sganaralle dan istrinya. Foto: theater.roumanoff.com

Moh. Ambri menyadur tokoh Sganarelle ini menjadi Si Kabayan, melukiskan seorang tokoh pemalas, tapi cerdas, pandai berbicara, dalam arti tak pernah terdesak kalau berhadapan dengan orang lain, apakah istrinya atau para pejabat pamongpraja.

Arketip karakter Si Kabayan inilah yang paling populer sampai sekarang.

Kabayan, Dialog dan Diskursus


Si Kabayan Saba Kota (1989)

Seperti Don Quixote dan Sancho Panza, Kabayan membutuhkan pasangan lain untuk menciptakan dialog.

Dalam sebuah cerita Kabayan biasanya bermain dua orang: Kabayan dan seorang lain, apakah mertua laki-lakinya atau kyai, apakah mertua perempuannya atau nyai; kadang-kadang Kabayan dan istrinya. Sekali-kali tampil juga seorang teman, dan kadang-kadang tampil pasangan Kabayan; juga seorang janda yang dipercayainya.

Dengan mertua laki-lakinya, Kabayan selalu bertentangan. Seringnya si mertua jadi korban, tapi Kabayan tak jarang pernah sial. Si Kabayan dalam dongeng-dongeng yang sudah tersebar itu, ialah seorang kampung yang lingkungan pergaulannya terbatas kepada istri, mertua, atau majikannya.

Dalam cerita-cerita si Kabayan ciptaan baru, kadang-kadang dia dilukiskan sebagai orang yang tinggal di kota, meski tetap bersifat kampungan juga. Jumlah cerita Kabayan senantiasa bertambah karena setiap waktu ada saja orang yang ingin membuat lelucon atau sindiran atau nasihat dengan tokoh komikal ini.

*

Referensi:
  • Coster-Wijsman, Lina M. 2008. Si Kabayan: Cerita Lucu di Indonesia Terutama di Tanah Sunda. Bandung: Pustaka Jaya.
  • Kurnia, Atep. (4 April 2009). Seksualitas Si Kabayan. Kompas.
  • Rosidi, Ajip. 2010. Manusia Sunda. Bandung: Kiblat.
  • Faruk H.T. et al. 2004. Seks, Teks, Konteks: Tubuh dan Seksualitas dalam Wacana Lokal dan Global. Bandung: Jurusan Bahasa Inggris Unpad