Kategori
Celotehanku Inspirasi

Tips Menulis Bagi Saya dan Kawan INFP Lainnya

Para penulis adalah orang yang depresi, tegas penyair cabul Charles Bukowski, dan ketika mereka berhenti jadi depresi mereka berhenti jadi penulis. Kau tak bisa jadi pengarang fiksi serius yang hebat, sebut pengarang fiksi ilmiah Kurt Vonnegut, jika kau enggak depresi. Nah, bukannya berbangga diri atau apa, tapi jika menyetujui kutipan dua penulis Amerika Serikat tadi, nampaknya saya punya kans untuk bisa jadi seorang penulis prosa yang baik–meski penulis skripsi yang celaka.

Memang, setiap manusia punya entitas unik dan kompleks, tiap individu berbeda. Setelah manusia lahir, lalu dibeda-bedakan berdasar suku bangsanya, agamanya, pandangan politiknya, serta embel-embel lainnya, saya enggak hendak berlaku diskriminatif, atau rasial. Tapi penggolongan kepribadian ini, untuk beberapa hal, saya pikir sesuatu yang berguna. Seenggaknya, lebih ilmiah ketimbang astrologi.

Kategori
Inspirasi

Kearifan Pesimisme

Sebenarnya apa bedanya antara pesimis, berpikir realistis, dan bersyukur? Ya, secara makna, ketiga istilah ini masing-masing punya arti berbeda. Tapi kalau dipikir-pikir, nggak terlalu berbeda, ketiganya punya persamaan, sama-sama pasrah dengan keadaan yang ada dan sama-sama agar kita nggak terlalu kelewatan berekpektasi. Meski memang, pesimisme dianggap sebagai kata yang negatif, jelek untuk dipakai.

Apapun itu, sikap pesimisme juga bisa memandu kita untuk mencapai yang namanya kebahagiaan. Ada sebuah rumus, bahwa kebahagiaan itu merupakan hasil dari realita yang dibagi dengan ekpektasi. Jadi, cara untuk berbahagia adalah dengan mengubah realita agar sesuai ekpektasi, lebih bagus lagi melebihinya, atau yang paling mudah adalah dengan menurunkan ekpektasi kita.

Ini dinamakan pesimisme atau apa, yang pasti masih ada kearifan yang bisa dipetik lewat sudut pandang melihat bahwa sebuah gelas itu setengah kosong, ketimbang setengah terisi. Pesimisme adalah bentuk pertahanan diri kita dari penyesalan, agar tidak terlalu kecewa ketika mendapat kegagalan.

Hari ini sungguh menyebalkan, besok dan seterusnya mungkin akan lebih buruk lagi, maka inilah hidup, alhamdulillah-nya saya masih bisa hidup. Lantas apa yang salah dengan pikiran semacam ini?

Kategori
Argumentum in Absurdum Celotehanku

Kuliah Sekuler di The School of Life

Kopi diciptakan oleh sejarah, nikmatnya oleh filsafat. Ah ketika sebagian besar penduduk bumi didera kemiskinan, dan mungkin di belahan dunia sana sedang terjadi konflik berdarah, kenapa saya bisa-bisanya duduk santai sambil menyesap secangkir kafein? Kenapa belajar soal humaniora; sastra, psikologi, sosiologi, seni budaya, filsafat, padahal banyak tersebar manusia yang sedang terdzolimi?

Dan pertanyaan-pertanyaan ini sedikit terpecahkan dan tercerahkan lewat satu saluran Youtube dari The School of Life, yang dengan baik hatinya mengajak kita piknik.