Kategori
Catutan Pinggir

Lahirnya Realisme Sosialis

The Strikes of June 1936 1936 by Boris Taslitzky 1911-2005

Hakekat seni telah lama diperbincangkan dan diperdebatkan. Pembicaraan masalah tersebut seringkali muncul diantara para filsuf maupun kritikus seni. Membicarakan masalah hakekat seni pada akhirnya akan kembali kepada para seniman yang berdiri di belakang setiap karya seni. Tidaklah mungkin membicarakan seni sebagai realitas independen – yang hadir begitu saja – tanpa pertarungan konsep, ideologi, dan atau filsafat dalam benak seniman. Maka, keberpihakan seniman memiliki konsekuensi keberpihakan seni. Membicarakan seni, pada akhirnya membicarakan gagasan-gagasan manusia yang berkarya di belakang penciptaan karya seni itu sendiri.

Dalam sejarah perkembangannya, keberpihakan seni dan seniman ini, tampaknya lebih cenderung menempatkan seni dan (juga) kebudayaan sebagai media untuk mempengaruhi pola pikir, kebiasaan, serta selera masyarakat yang diarahkan untuk berpihak pada struktur yang berkuasa, baik ekonomi, sosial, maupun politik. Misalnya, di zaman masyarakat masih mempercayai mitologi, seni dipakai untuk menanamkan mitos-mitos ke dalam benak masyarakat. Di sini seni tampak menjadi agen kekuasaan para dewa, dan juga orang-orang tertentu yang diangkat sebagai wakil para dewa di dunia. Kasus serupa terjadi pula dalam birokrasi gereja selama abad pertengahan, di mana seni harus mengabdi pada keagungan dan kepentingan gereja dengan dogma-dogma serta ajaran-ajaran yang harus disampaikannya ke dalam pikiran masyarakat, yang pada akhirnya menuntut masyarakat untuk mengakui kekuasaan gereja.

Hubungan seni dan kekuasaan semacam ini, terus berlanjut selama sejarah peradaban manusia. Contoh lain, di masa lahirnya revolusi industri – yang ditandai dengan berkuasanya modal atas kerja manusia – seni kembali harus mereposisi perannya. Kapitalisme yang didukung kekuatan modal memaksa seni untuk berpihak pada dirinya, hingga akhirnya muncul istilah aplicated art serta pop art, yang kesemuanya mengacu pada seni yang dijual. Seni telah ditempatkan sebagai komoditas, dan keindahan seni mulai diukur dengan uang serta hubungannya dengan keuntungan kapital.

Fenomena ini antara lain ditangkap oleh Antonio Gramsci sebagai suatu cara kelas dominan atau yang berkuasa untuk menghegemoni masyarakatnya. Seni dipergunakan sebagai alat penghegemoni dengan cara melakukan dominasi terhadap budaya dan ideologi masyarakat. Hal ini biasanya dilakukan karena paksaan atau tekanan secara fisik – represif – dianggap tak dapat diharapkan lagi untuk melakukan kontrol sosial. Hegemoni sebagai inti pemikiran kebudayaan Gramsci, dapat dikatakan sebagai pemaksaan terselubung di mana cara pandang, cara berpikir, ideologi, atau kebudayaan kelas yang mendominasi secara sengaja dipengaruhkan kepada golongan yang didominasi. Alat penghegemoni ini biasanya meliputi birokrasi, pendidikan, informasi serta beragam alat termasuk kesenian.

Dalam lingkup kesenian, hegemoni senantiasa muncul berupa produk-produk kesenian massal yang serba seragam, yang bahkan masuk wilayah ekspresi-ekspresi artistik publik, dan secara nyata membunuh kreativitas. Contoh hegemoni seperti ini dapat ditemukan di wilayah pedesaan-pedesaan atau kampung-kampung, dimana masyarakat dibuat tidak berdaya pada kehendak kelas yang dominan, dalam hal ini aparatur negara. Melalui pintu-pintu gapura yang seragam, warna pagar yang sama, atau pementasan sandiwara yang lebih bersifat mempropagandakan program-program pemerintah, negara dengan sengaja melakukan hegemoni terhadap selera artistik masyarakat. Kebijakan sensor dalam seni juga erat kaitannya dengan hegemoni kesenian yang dimaksud.

Seni sebagai agen kemapanan, di satu sisi pada akhirnya menimbulkan konflik tersendiri di dalam dirinya. “Karena seni sesungguhnya pemberontakan,” kata Albert Camus, seorang filsuf dan seniman Prancis. Tendensi-tendensi pemberontakan seni, merupakan prasyarat bagi lahirnya kreativitas. Jika selamanya seni melulu mengabdi pada kekuasaan yang notabene berarti kemapanan maka seni akan kehilangan sumber dayanya yang paling utama, yaitu kreativitas. Dan dengan sendirinya, seni mati sebagai seni. Pandangan semacam ini sangat dekat dengan gagasan-gagasan atau prinsip-prinsip dialektika, ketika perubahan bergulir terus-menerus sebagai jawaban atas struktur yang cenderung mempertahankan kemapanan.

Pemberontakan seni, mau tidak mau, pada akhirnya memunculkan suatu arus baru dalam berkesenian. Aliran-aliran baru yang muncul, merupakan representasi adanya gerak dialektika dalam berkesenian sebagai antitesis terhadap aliran-aliran sebelumnya.

Pada tahap awal perkembangan pemberontakan seni, kondisi-kondisi seperti ini kemudian menciptakan apa yang belakangan disebut sebagai seni kritis. Namun dalam kritisisme tradisional, seni lebih cenderung memuja gagasan ketidakterikatan (detachment), satu hal yang berbeda dengan apa yang terjadi dewasa ini. Kritisisme historis – sebuah aliran kritisisme baru – lebih cenderung menempatkan seni dalam pola-pola sosial, melalui gagasan bahwa tugas etis manusia adalah “mengubah dunia” melalui tindakan historis. “Tugas historis” itu hanya dapat dilakukan – seperti diasumsikan Hegel dan Marx – jika manusianya sendiri sepenuhnya “historis”.

Pemberontakan seni hadir untuk melawan dominasi, yang dari beberapa pemikiran Karl Marx dapat disimpulkan seni harus mengabdi pada revolusi dan kepentingan rakyat. Seni secara rasional mentransformasikan sejarah menjadi keindahan mutlak, dan pemberontakan seniman terhadap kenyataan dunia – menurut Camus – mengandung penegasan yang sama seperti pada pemberontakan spontan kaum tertindas. Dengan ungkapan lain, Leon Trotsky menyatakan bahwa pemberontakan seni lahir sebagai ungkapan perjuangan manusia untuk memperoleh hak-haknya yang dirampas oleh struktur yang berkuasa. Ini semakin membuktikan bahwa pemberontakan seni merupakan awal dari tendensi-tendensi baru dalam berkesenian.

Ditinjau dari sudut pandang ini, pemberontakan seni berarti seni menjadi media bagi terciptanya kebebasan. Dalam struktur masyarakat yang menindas, seni diciptakan sebagai media penyadaran bagi rakyat tertindas, dan seni semacam ini jelas sekali keberpihakannya terhadap rakyat. Konsep penyadaran – dalam hal ini diadopsi dari pemikiran Paulo Freire – berarti mencoba memahami kontradiksi-kontradiksi suatu struktur (sosial, politik maupun ekonomi), agar dapat mengambil tindakan melawan atau memberontak terhadap struktur yang menindas tersebut. Seni menjadi ajang dialog bagi terciptanya kesadaran (sosial, politik, maupun ekonomi) masyarakat.

Pandangan ini sesungguhnya bertolak-belakang dengan gagasan Plato mengenai dunia ide. Plato melihat seni tak lebih dari sekedar tiruan benda atau keadaan alam sebagaimana alam itu sendiri tak lebih tiruan terhadap hal-hal dalam dunia ide. Namun, dalam konsep penyadaran, tujuan seni justru tidak terdapat pada peniruannya, melainkan pada pemberian gaya. Kembali menurut Camus, seni merupakan wahana di mana alam ditangkap dan diletakkan dalam sebuah ekspresi yang sarat makna. Karena itu, bagi Camus tidak mungkin ada seni yang tanpa makna (nonsens).

Permasalahannya kemudian, makna apa yang diambil oleh seorang seniman dewasa ini dalam berkarya seni. Menyimak pada analisis Trotsky, merosotnya keberadaan masyarakat borjuis telah semakin memperparah kontradiksi-kontradiksi sosial yang semakin memperlebar jurang kelas. Dan pada akhirnya hal tersebut ditransformasikan menjadi kontradiksi-kontradiksi personal, yang semakin menyuarakan kebutuhan akan seni yang membebaskan. Seni yang ditempatkan sebagai suatu media aksi kultural, menjadikan seni semacam gerakan resistensi sosial yang juga berfungsi sebagai counter terhadap – kembali meminjam istilah Gramsci – hegemoni dominan. Di sini seniman menempatkan dirinya sebagai agen komunikasi bagi penderitaan rakyat – masyarakat terindas yang tak berdaya melawan hegemoni dominan – melalui karya seni.

Dalam sebuah perbincangan, Camus pernah mengungkapkan bahwa memang seniman kadangkala dinilai tak memiliki urusan apapun dengan realitas dunia. Seniman tetaplah manusia, sehingga mengerti realitas dunia merupakan suatu hal yang tetap perlu bagi mereka. Para pekerja tambang yang diperas dan ditembaki, budak-budak kamp kerja paksa, para penduduk daerah jajahan, kumpulan semua orang yang tertuduh di seluruh dunia, mereka membutuhkan bantuan dari orang-orang yang mampu. Seniman dan karya-karyanya, semestinya ada untuk itu.

Realisasi komitmen tersebut adalah dengan cara memasukkan relevansi sosial ke dalam karya seni, termasuk muatan-muatan yang berdimensi protes pun masih relevan untuk dimasukkan dalam seni. Hal tersebut sesungguhnya tidak hanya menjadi wahana bagi komitmen terhadap keberpihakan kerakyatan, namun juga akan membentuk gagasan-gagasan estetis yang lebih kreatif, dan berguna dalam rangkan membentuk pola pemikiran estetika yang baru.

Kritisisme seni muncul jika keseluruhan budaya, mulai dari basis ekonomi hingga ideologi mengalami krisis, dimana seni – kembali lagi – tidak dapat menjauhkan diri dari semua itu. Kemunculan aliran-aliran baru dalam dunia artistik – kubisme, futurisme, dadaisme, surrealisme – semakin memperkokoh pemberontakan seni terhadap krisis yang melanda masyarakat, dan ini nampaknya tidak akan pernah menemukan titik akhir. Seni dan masyarakat selalu berdialektika untuk menemukan konsepsi-konsepsi baru yang membebaskan.

Namun demikian, memperbaiki seluruh krisis yang melanda melalui seni adalah sungguh-sungguh mustahil, kecuali jika hal itu dilakukan secara revolusioner. Hal inilah yang kemudian ditangkap oleh banyak kalangan seniman “kiri”, terutama di masa awal Revolusi Rusia. Revolusi Bolsyewik di Rusia, dalam sejarahnya – baik langsung maupun tak langsung – telah memberi banyak dorongan terhadap tumbuhnya aliran seni semacam ini. Pada titik inilah kemudian lahir apa yang disebut “realisme sosialis” dalam wacana seni dan kebudayaan sebagai alat perjuangan kelas.

Klaim realisme sosialis ini secara sederhana bisa dikatakan mendasarkan diri pada teori dialektika Marx, di mana realitas diletakkan sebagai esensi hal-hal yang nampak (materi). Dalam tradisi Rusia, terutama sejak masa Stalin, realisme sosialis sebagai aliran estetis dilembagakan keberadaannya menjadi semacam ideologi atau paham yang dianut oleh sastrawan atau seniman. Namun dalam pandangan Georg Lukacs, seorang filsuf dan kritikus sastra Hungaria yang sempat tinggal di Moskow, secara kritis realisme sosialis Rusia sesungguhnya tidak sepenuhnya didasarkan pada dialektika materialisme yang menjadi prinsip pengetahuan sejarah Marx. Realisme sosialis Rusia, menurutnya, lebih cenderung menjadi gerakan seni, di mana penempatan metode artistik ditinjau dalam kaitannya dengan kepentingan partai (dalam hal ini partai komunis yang berkuasa).

Hal ini terjadi, erat kaitannya dengan reaksi birokratik Rusia di masa Stalin yang dengan tangan totaliternya telah menindas kreasi artistik. Seni telah dibelenggu hanya sebagai jalan untuk mengagungkan dan menciptakan mitologi bagi keberlangsungan partai, dengna cara berlindung di balik kedok gerakan realisme sosialis, yang – kembali menurut Lukacs – memiliki makna yang lain sama sekali.

Lukacs sendiri berpendapat bahwa realisme sosialis sesungguhnya merupakan teori seni yang mendasarkan pada kontemplasi dialektik antara seniman dengan lingkungan sosialnya. Seniman ditempatkan tidak terpisah dari lingkungan tempatnya berada. Hakekat realisme sosialis ini sungguh-sungguh menempatkan seni sebagai wahana “penyadaran” masyarakat untuk menimbulkan kesadaran akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang terasing (teralienasi, dalam istilah marxis) dan mampu menyadari dirinya sebagai manusia yang memiliki kebebasan.

*

Pendahuluan dari Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis oleh Eka Kurniawan (Yayasan Aksara Indonesia, 1999).

Kategori
Catutan Pinggir

Camus dan Sartre yang Tercerai karena Pertanyaan Soal Kebebasan

 

 

Mereka berdua sejoli yang aneh. Albert Camus adalah orang Aljazair Prancis, seorang pied-noir yang dilahirkan dalam kemiskinan yang tanpa usaha keras bisa mempesona dengan gaya khasnya yang Bogart-esque. Jean-Paul Sartre, dari kalangan atas masyarakat Prancis, tidak bakal silap dari seorang lelaki tampan. Mereka bertemu di Paris selama Pendudukan dan semakin dekat setelah Perang Dunia Kedua. Pada masa itu, ketika lampu-lampu di kota perlahan kembali menyala, Camus adalah teman terdekat Sartre. “Betapa kita mencintaimu saat itu,” tulis Sartre nantinya.

Mereka adalah ikon berkilau di era tersebut. Surat kabar melaporkan tentang gerakan sehari-hari mereka: Sartre bersembunyi di Les Deux Magots, Camus orang yang gigih bergerak di Paris. Saat kota mulai dibangun kembali, Sartre dan Camus memberi suara pada suasana hati pada masa-masa itu. Eropa telah dinyalakan, tapi abu yang ditinggalkan oleh perang menciptakan ruang untuk membayangkan sebuah dunia baru. Para pembaca melirik Sartre dan Camus untuk mengartikulasikan seperti apa dunia baru itu. ‘Kami ada,’ ingat sesama filsuf Simone de Beauvoir, ‘untuk memberi era pascaperang dengan ideologinya.’

233400c3aaca57619bc0162526e598c4

Hal itu datang dalam bentuk eksistensialisme. Sartre, Camus dan teman intelektual mereka menolak agama, mementaskan drama baru yang mengerikan, menantang pembaca untuk hidup secara otentik, dan menulis tentang absurditas dunia – sebuah dunia tanpa tujuan dan tanpa nilai. ‘Hanya ada batu, daging, bintang, dan kebenaran yang bisa disentuh tangan,’ tulis Camus. Kita harus memilih untuk hidup di dunia ini dan memproyeksikan makna dan nilai kita sendiri ke dalamnya untuk memahaminya. Ini berarti bahwa manusia itu bebas sekaligus terbebani olehnya, karena dengan kebebasan ada tanggung jawab yang mengerikan, bahkan melemahkan, untuk hidup dan bertindak secara otentik.

Jika ide kebebasan mengikat Camus dan Sartre secara filosofis, maka perjuangan demi keadilan menyatukan mereka secara politis. Mereka berkomitmen untuk menghadapi dan menyembuhkan ketidakadilan, dan, di mata mereka, tidak ada kelompok manusia yang diperlakukan secara tidak adil ketimbang para pekerja, proletariat. Camus dan Sartre menganggap mereka terbelenggu oleh kerja keras mereka dan tercerabut dari kemanusiaan mereka. Untuk membebaskan mereka, sistem politik baru harus dibangun.

Pada Oktober 1951, Camus menerbitkan The Rebel. Di dalamnya, dia menyuarakan pemikiran yang kasarnya digambarkan sebagai ‘filsafat pemberontakan’. Ini bukan sistem filosofis, tapi penggabungan gagasan filosofis dan politik: setiap manusia itu bebas, tapi kebebasan itu sendiri relatif; Seseorang harus menerima batasan, moderasi, ‘risiko yang diperhitungkan’; yang absolut adalah anti-manusia. Yang terpenting, Camus mengutuk kekerasan revolusioner. Kekerasan dapat digunakan dalam situasi yang ekstrem (dia mendukung usaha perang Prancis), namun penggunaan kekerasan revolusioner untuk mendorong sejarah ke arah yang Anda inginkan adalah kehendak utopia, absolutis, dan pengkhianatan terhadap diri Anda sendiri.

‘Kebebasan absolut adalah hak yang paling kuat untuk mendominasi,’ tulis Camus, sementara ‘keadilan absolut dicapai dengan menekan semua kontradiksi: oleh karenanya menghancurkan kebebasan.’ Konflik antara keadilan dan kebebasan mengharuskan penyeimbangan terus-menerus, moderasi politik, penerimaan dan perayaan yang paling membatasi: kemanusiaan kita. ‘Untuk hidup dan terus hidup,’ katanya, ‘adalah untuk menjadi apa adanya.’

Sartre membaca The Rebel dengan jijik. Sejauh yang dia tahu, adalah mungkin untuk mencapai keadilan dan kebebasan yang sempurna – yang menggambarkan pencapaian komunisme. Di bawah kapitalisme, dan dalam kemiskinan, para pekerja tidak dapat bebas. Pilihan mereka tidak menyenangkan dan tidak manusiawi: bekerja tanpa ampun dan pekerjaan yang mengasingkan, atau mati. Tetapi dengan menyingkirkan para penindas dan lebih jauh mengembalikan otonomi kepada para pekerja, komunisme memungkinkan setiap individu untuk hidup tanpa keinginan material, dan oleh karenanya dapat memilih cara terbaik yang dapat mereka sadari. Hal ini membuat mereka bebas, dan melalui kesetaraan tanpa henti ini, juga adil.

Masalahnya adalah, bagi Sartre dan banyak kaum Kiri lainnya, bahwa komunisme menuntut kekerasan revolusioner harus dilancarkan karena tatanan yang ada mesti dihancurkan. Tidak semua orang kiri, tentu saja, mendukung kekerasan semacam itu. Pembagian antara garis keras dan kaum kiri moderat – secara luas, antara komunis dan sosialis – bukanlah hal baru. Tahun 1930an dan awal ’40an, bagaimanapun, kaum Kiri untuk sementara bersatu melawan fasisme. Dengan hancurnya fasisme, pecahnya kaum kiri garis keras yang bersedia membenarkan kekerasan dan moderat yang mengutuknya muncul kembali. Perpecahan ini dibuat semakin dramatis oleh hilangnya praktis dari kaum Kanan dan naiknya kekuasaan Uni Soviet – yang memberdayakan kelompok garis keras di seluruh Eropa, namun menimbulkan pertanyaan yang membingungkan bagi komunis karena kengerian gulag, teror dan uji coba terungkap. Pertanyaan untuk setiap orang kiri era pascaperang sederhana: di sisi mana Anda berada?

Dengan diterbitkannya The Rebel, Camus menyatakan untuk sebuah sosialisme damai yang tidak akan menggunakan kekerasan revolusioner. Dia terkejut dengan cerita-cerita yang muncul dari Uni Soviet: ini bukan negara komunis yang bergandengan tangan, yang hidup dengan bebas, tapi sebuah negara tanpa kebebasan sama sekali. Sartre, sementara itu, akan selalu berjuang untuk komunisme, dan dia siap untuk mengesahkan kekerasan untuk melakukannya.

Perpecahan antara kedua teman itu adalah sensasi media. Les Temps Modernes – jurnal yang diredakturi oleh Sartre, yang menerbitkan ulasan kritis atas The Rebel – terjual habis tiga kali lipat. Le Monde dan L’Observateur keduanya terengah-engah menutupi pailitnya. Sulit membayangkan perseteruan intelektual yang menangkap tingkat perhatian publik saat ini, namun, dalam ketidaksepakatan ini, banyak pembaca melihat krisis politik pada masa-masa yang tercermin pada mereka. Itu adalah cara melihat bagaimana politik dimainkan dalam dunia gagasan, dan ukuran nilai gagasan. Jika Anda benar-benar berkomitmen pada sebuah gagasan, apakah Anda terpaksa membunuh untuk itu? Berapa harga untuk keadilan? Berapa harga untuk kebebasan?

Posisi Sartre ditebus dengan kontradiksi, yang dengannya dia bergelut sepanjang sisa hidupnya. Sartre, seorang eksistensialis, yang mengatakan bahwa manusia dikutuk untuk bebas, juga Sartre, seorang Marxis, yang berpikir bahwa sejarah tidak memungkinkan banyak ruang untuk kebebasan sejati dalam arti eksistensial. Meskipun dia tidak pernah benar-benar bergabung dengan Partai Komunis Prancis, dia akan terus mempertahankan komunisme di seluruh Eropa sampai tahun 1956, ketika tank-tank Soviet di Budapest meyakinkannya, akhirnya, bahwa Uni Soviet tidak melanjutkan bergerak maju. (Memang, dia kecewa dengan Soviet di Hungaria karena mereka bertingkah seperti orang Amerika, katanya.) Sartre akan tetap menjadi suara yang kuat di Kiri sepanjang hidupnya, dan memilih presiden Prancis Charles de Gaulle sebagai kambing hitam favoritnya. (Setelah satu serangan yang sangat kejam, de Gaulle diminta untuk menangkap Sartre. ‘Seseorang harus memenjarakan Voltaire,’ jawabnya.) Namun, Sartre tetap tidak dapat diprediksi, dan terlibat dalam penolakan yang lama dan aneh terhadap Maoisme garis keras ketika dia meninggal pada tahun 1980. Meskipun Sartre pindah dari Uni Soviet, dia tidak pernah benar-benar meninggalkan gagasan bahwa kekerasan revolusioner mungkin diperlukan.

Kekerasan dalam komunisme mengirim Camus pada lintasan yang berbeda. ‘Akhirnya,’ tulisnya di The Rebel, ‘Saya memilih kebebasan. Karena bahkan jika keadilan tidak direalisasikan, kebebasan mempertahankan kekuatan untuk memprotes ketidakadilan dan menjaga komunikasi tetap terbuka.’ Dari sisi lain dalam Perang Dingin, sulit untuk tidak bersimpati dengan Camus, dan untuk bertanya-tanya tentang semangat yang ditinggalkan Sartre seorang komunis yang setia. Anutan Camus terhadap realitas politik yang sederhana, kerendahan hati moral, keterbatasan dan keliru kemanusiaan, tetap menjadi pesan yang diperhatikan dengan baik hari ini. Bahkan ide yang paling terhormat dan patut perlu diimbangi satu sama lain. Absolutisme, dan idealisme yang tidak mungkin diilhami, adalah jalan yang berbahaya ke depan – dan alasan Eropa masih diselimuti abu, karena Camus dan Sartre sama-sama berjuang untuk membayangkan dunia yang lebih adil dan lebih bebas.

*

Diterjemahkan dari artikel Aeon berjudul How Camus and Sartre split up over the question of how to be free.

Kategori
Celotehanku

Para Penulis Scorpio

para-penulis-scorpio

Kalajengking adalah dia yang menyimpan racun dalam tubuhnya. Termasuk kalajengking tadi, saya lahir di tanggal antara tanggal kelahiran Pablo Picasso dan Sylvia Plath. Sebagai scorpio, saya enggak percaya ramalan bintang, dan scorpio yang percaya zodiak pasti dia scorpio bajakan. Kami, para scorpio, menolak untuk percaya omong kosong ini. Masalahnya, para scorpio adalah mereka yang penuh omong kosong. Astrologi itu fana, scorpio yang benar-benar abadi. Entah kenapa saya bisa bersimpati pada mereka yang berzodiak scorpio, yang seringnya melahirkan karya-karya depresif. Meski enggak ngerti soal lukisan, saya bisa merasakan kegetiran dalam lukisan Guernica-nya Picasso, yang pernah saya jadikan header blog ini, juga, meski enggak ngerti-ngerti amat puisi, saya terenyuh pas baca sajak-sajak Plath, yang notabene penulis favorit saya.

Bagi saya, novel yang bagus adalah yang membuatmu merasa memahami tokoh-tokoh di dalamnya, dan novel hebat adalah yang membuatmu memahami dirimu sendiri. ‘The Bell Jar’, satu-satunya novel karya Sylvia Plath, menjadi novel coming-of-age pertama yang sukses menyuarakan gundah gulana masa remaja saya, bahkan sampai sekarang. “Saya merasa sangat sunyi dan hampa, seperti yang terjadi pada mata tornado, hanya bergerak kuyu di tengah kebisingan sekitarnya,” tulisnya. Kisah klasik tentang kegalauan dan pencarian jati diri. Sehingga enggak bisa enggak, saya terpaksa menjadikan penulis yang bunuh diri membenamkan kepalanya dalam oven ini sebagai penulis kesukaan saya.

Dostoyevsky ternyata scorpio, pantesan tokoh-tokoh novelnya dramatis semua, komentar Bernard Batubara di tanggal 11 November. Sebelumnya, saya pun merekomendasikan Sylvia Plath ketika penulis Metafora Padma itu nyari-nyari siapa penulis wanita yang zodiaknya scorpio. Ternyata, di tanggal yang sama, 11 November, selain kelahiran Fyodor Dostoyevsky sang penulis besar Rusia itu, juga ulang tahun dari Carlos Fuentes dan Kurt Vonnegut. Penulis-penulis kece yang berbagi zodiak yang sama dengan saya. Saya jadi penasaran untuk mencari penulis-penulis berzodiak scorpio, dan hasilnya membuat saya besar kepala. Para penulis scorpio itu diantaranya Erasmus yang namanya diabadikan jadi universitas ternama di Belanda, Voltaire sang filsuf besar dari era Pencerahan Prancis, John Keats sang penyair Romantik Inggris, Bram Stoker yang memperkenalkan dracula, Ezra Pound penyair dan kritikus penting dalam gerakan modernis awal, Albert Camus si filsuf ganteng, Michael Crichton yang nulis Jurasic Park dan banyak lainnya, saya tulis aja biar panjang: Robert Louis Stevenson, Chinua Achebe, Karen Armstrong, Margaret Atwood, J.G. Ballard, Anne Sexton, Michael Cunningham, Don DeLillo, Neil Gaiman, Kazuo Ishiguro, Alan Moore, Zadie Smith, Arif Abdurahman, dan lainnya. Untuk penulis Indonesia, saya cuma tahunya Okky Madasari sama Ayu Utami yang bahkan mengurasi buku ‘Kisah Orang-orang Scorpio’. Dari sekian nama penulis yang disebut tadi, memang banyak yang belum saya baca karyanya, satu yang pasti, saya selalu terkesan ketika membaca karya-karya dari penulis scorpio itu. Selain dramatis bin depresif, scorpio suka akan tema seputar seks dan kematian, dan memang begitu yang saya rasakan.

Katanya dibalik sifat scorpio yang cuek dan dingin, ada sifat romantis yang bisa membuatmu hangat, bahkan gombalannya bisa sangat menyengat. “Bintang scorpio,” lantun Heidy Diana dalam lagu lawas ‘Bintangku Bintangmu’, “diam-diam menghanyutkan.” Scorpio juga katanya zodiak yang paling perasa, mereka penuh gairah dan setia. Dalam hal artistik, scorpio jawaranya. Sebagai scorpio, saya masih enggak percaya zodiak-zodiakan, kecuali yang baik-baiknya tadi, hehe. Astrologi memang omong kosong, tapi soal kepenulisan, jika ada yang namanya gerombolan penulis bernama Transendentalisme, Lost Generation, Pujangga Baru, Frankfurt School, Beat Generation, atau Visceral Realist, maka harus ada kumpulan ‘Para Penulis Scorpio’. Meski berbeda zaman, mereka selalu memiliki keterkaitan.

Sebuah kesalahan memang menjadi Scorpio. Harusnya ini masuk kejahatan perang. Mereka tahu bahwa mereka adalah monster mengerikan dan mereka pikir itu lucu. Beruntungnya, karena hidup yang kita jalani harus melewati yang namanya kehampaan dan keterasingan, racun dalam diri scorpio adalah obat paling mujarab bagi yang lain. Para penulis scorpio itu lihai mentransformasikan kegundahannya menjadi deretan kata-kata, yang selanjutnya akan jadi katarsis bagi kegundahan orang lain. “Untuk semua yang hatinya patah dan siapa pun yang merasa sedih, semoga hatimu sembuh dan semoga kalian berbahagia,” sebuah nasihat dari Krystal Jung, member girlband f(x) paling melek fesyen, dan seorang scorpio. “Mengepaklah seperti kupu-kupu.”

Kategori
Celotehanku

Absurditas Cat’s Cradle

red-velvet-%eb%a0%88%eb%93%9c%eb%b2%a8%eb%b2%b3_%eb%9f%ac%ec%8b%9c%ec%95%88-%eb%a3%b0%eb%a0%9b-russian-roulette_music-video-youtube-mp4_snapshot_02-57_2016-09-11_19-18-32

A cat’s cradle is nothing but a bunch of X’s between somebody’s hands, and a little kids look and look and look at all those X’s … No damn cat, and no damn cradle.

– Cat’s Cradlle, Kurt Vonnegut

Pada saat bom atom dijatuhkan, Dr. Felix Hoenikker duduk dengan nyaman di kursinya. Ketika jutaan nyawa melayang di Horishama, sang pencipta senjata pemusnah masal tersebut duduk dengan masyuk memainkan karet gelangnya. Permainan bernama cat’s cradle. Cat’s cradle? Ayunan kucing? Saat membaca novel Vonnegut ini saya enggak paham betul gimana permainan ini. Hanya bisa membayangkan kalau itu semacam permainan karet gelang pakai tangan, digulung-gulung. Saya sempat bertanya pada Google, dan membaca jawabannya sekilas. Cat’s cradle, hmm. Sampai kalimat terakhir, saya pun enggak ngerti kenapa novelnya dikasih judul Cat’s Cradle. Harimau harus berburu, burung harus terbang; sementara manusia hanya duduk dan bertanya-tanya ‘kenapa, kenapa, kenapa?’. Harimau pergi tidur, burung kembali mendarat; Manusia harus memberitahu dirinya sendiri bahwa ia mengerti. Seperti puisi dalam Cat’s Cradle itu, saya pun pura-pura mengerti saja. Sampai kemudian, saya menonton sebuah video Youtube.

red-velvet-%eb%a0%88%eb%93%9c%eb%b2%a8%eb%b2%b3_%eb%9f%ac%ec%8b%9c%ec%95%88-%eb%a3%b0%eb%a0%9b-russian-roulette_music-video-youtube-mp4_snapshot_02-55_2016-09-09_20-07-33

“Hey, mereka main cat’s cradle, aku dulu suka main begituan juga,” seru seorang perempuan asal AS dalam sebuah video, yang merekam dirinya bereaksi terhadap video musik yang baru rilis. MV reaction disebutnya. Dalam video musiknya sendiri, Russian Roulette-nya Red Velvet, Wendy dan Seulgi mendorong piano untuk menggilas Joy dan Irene yang berada di tangga bawah, yang sedang memainkan benang yang berbelit-belit. Oh yang begini yang namanya cat’s cradle tuh, saya kembali ingat pada novel Vonnegut tadi. Di lain kesempatan, saat fanmeeting beberapa hari yang lalu, Seulgi dan Wendy diperlihatkan foto cuplikan adegan permainan cat’s cradle. Kamu tahu cara mainnya? tanya Seulgi. Iya, jawab Wendy, member yang lama tinggal di utara Amerika sejak kecil, aku pernah main. Ada ssi-teu-ki juga di luar negeri ya?

Di Amerika disebut cat’s cradle, di Korea disebut ssi-teu-ki. Dalam novel Cat’s Cradle pun disebut kalau permainan tali ini sudah ada sejak lama, sering dimainkan orang Eskimo. Hmm, menarik, saya pun buka Wikipedia buat tahu sejarahnya. Juga kembali dibuat bertanya-tanya soal novel sialan si Vonnegut itu.

Yang saya tangkap, permainan enggak berguna, cuma meribetkan diri, pabeulit. Jika saja, saya masih bocah, atau lawan mainnya dengan Joy dan Irene, tentu lain soal. Cat’s cradle hanya membelit-belitkan tali di kedua tangan, lalu yang lain menyambungkan silangan berbentuk X dan memindahkan beragam belitan tadi ke tangannya, dan terus begitu. Apa-apaan coba?

Ya, ya, ini cuma permainan. Dan jeniusnya, seorang Kurt Vonnegut sangat pintar bermain-main. Lewat Cat’s Cradle, kita diajak bermain ketimbang jadi orang beriman. Jika Albert Camus menggambarkan absurditas lewat kisah Sisyphus, maka Vonnegut lewat permainan tali ini. Bahwa seperti cat’s cradle, hidup hanya permainan omong kosong yang cuma meribetkan diri. Bisa juga, cat’s cradle adalah simbol, untuk memberitahu pembaca bahwa banyak dari prinsip-prinsip yang manusia bangun, moralitas, agama, sains, patriotisme, kebebasan, demokrasi, adalah hal-hal yang enggak memiliki arti, seperti tali bersilang berbentuk X. Kita dengan leluasa, kapan saja, sebenarnya bisa langsung melepaskan ikatan-ikatan tadi. Wah, nampaknya saya terlalu pretensius. Kurang main. Hehe.

Kategori
Catutan Pinggir

Curi Buku Ini

galeria-de-libros-providencia-tna-05

Buku-buku yang paling kuingat adalah yang aku curi di Mexico City saat berusia enam belas sampai sembilan belas, dan yang aku beli di Cile ketika aku berusia dua puluhan, selama beberapa bulan pertama kudeta. Di Meksiko ada sebuah toko buku yang menakjubkan. Dinamakan Toko Buku Kaca dan berada di Alameda. Dindingnya, juga langit-langitnya, terbuat dari kaca. Kaca dan balok-balok besi. Dari luar, tampaknya tempat yang mustahil untuk bisa mengutil. Sekalipun demikian sikap kehati-hatian itu dikalahkan atas godaan untuk mencoba dan setelah beberapa saat aku membuat langkah. Buku pertama yang jatuh ke tanganku adalah volume kecil dari Pierre Louÿs, dengan halaman setipis kertas Alkitab, aku tidak ingat sekarang apakah itu Aphrodite atau Songs of Bilitis. Aku tahu aku masih enam belas dan bahwa untuk sementara waktu Louÿs menjadi semacam panduan bagiku. Lalu aku mencuri buku-buku karya dari Max Beerbohm (The Happy Hypocrite), Champfleury, Samuel Pepys, Goncourt bersaudara, Alphonse Daudet, dan Rulfo dan Arreola, penulis Meksiko yang pada saat itu masih berlatih, dan yang aku temui di suatu pagi di Avenida Niño Perdido, jalanan sesak yang sekarang hilang dari petaku tentang Mexico City hari ini, seakan Niño Perdido hanya ada dalam imajinasiku, atau seolah-olah jalan, dengan toko-toko bawah tanah dan penampil jalanan benar-benar telah lenyap, sama sepertiku yang tersesat pada usia enam belas.

Dari kabut di masa itu, dari beragam serangan tak kasat mata, aku ingat banyak buku puisi. Buku-buku dari Amado Nervo, Alfonso Reyes, Renato Leduc, Gilberto Owen, Heruta dan Tablada, dan para penyair Amerika, seperti General William Booth Enters Into Heaven, oleh Vachel Lindsay yang agung. Tapi ada sebuah novel yang menyelamatkanku dari neraka dan langsung menjerembabkanku kembali ke dasar. Novel itu The Fall, oleh Camus, dan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan itu aku ingat seakan membeku dalam suatu cahaya remang-remang, cahaya sunyi di waktu malam, meskipun aku membacanya, melahapnya, dalam cahaya pagi Mexico City yang luar biasa yang berkilau—atau berkilauan—dengan cahaya merah dan hijau diselubungi bercak noda, di sebuah bangku di Alameda, tanpa uang dan sepanjang hari di hadapanku, pada kenyataannya seluruh hidupku di hadapanku. Berkat Camus, segalanya berubah. Aku ingat edisinya: itu buku dengan huruf cetak sangat besar, seperti pada bacaan anak SD, ramping, dengan sampul terbuat dari kain, dengan gambar menghebohkan pada jilidnya, satu jenis buku yang sulit untuk dicuri dan salah satu yang aku tidak tahu apakah harus menyembunyikan di bawah lenganku atau di ikat pinggangku, karena itu bakal tampak di bawah blazer pelajarku, dan pada akhirnya aku membawanya keluar di depan mata semua pegawai di Toko Buku Kaca, yang merupakan salah satu cara terbaik untuk mencuri dan yang aku pelajari dari cerita Edgar Allan Poe.

Setelahnya, setelah aku mencuri buku itu dan membacanya, aku berubah dari seorang pembaca bijaksana menjadi seorang pembaca yang rakus dan dari seorang pencuri buku menjadi pembajak buku. Aku ingin membaca semuanya, yang dalam kepolosanku seperti ingin menemukan atau coba menemukan cara kerja tersembunyi soal kebetulan yang menyebabkan tokoh Camus untuk menerima nasib yang mengerikan itu. Seperti yang telah diprediksi, perjalananku sebagai pembajak buku itu panjang dan berbuah manis, tapi suatu hari aku tertangkap. Untungnya, itu tidak di Toko Buku Kaca tetapi di Toko Buku Gudang, yang sekarang—atau dulu—berada di seberang Alameda, ada di Avenida Juárez, dan seperti namanya, merupakan sebuah gudang besar di mana buku-buku terbaru dari Buenos Aires dan Barcelona menumpuk di gundukan berkilauan. Penangkapanku begitu memalukan. Seolah-olah para samurai toko buku itu telah memberi harga untuk kepalaku. Mereka mengancam akan mengusirku keluar dari negara itu, untuk memukuliku di gudang bawah tanah di Toko Buku Gudang, yang bagiku terdengar seperti diskusi antara neo-filsuf tentang kehancuran atas kehancuran, dan pada akhirnya, setelah musyawarah yang panjang, mereka membiarkanku pergi, meskipun setelah menyita semua buku yang aku punya, di antaranya The Fall, yang tidak satu pun yang aku curi dari sana. Tak berapa lama setelah kejadian itu aku pindah ke Chili. Jika di Meksiko aku bertemu dengan Rulfo dan Arreola, di Chile yang sama juga terjadi pada Nicanor Parra dan Enrique Lihn, tapi aku pikir satu-satunya penulis yang aku lihat adalah Rodrigo Lira, berjalan cepat pada malam yang berbau gas air mata. Kemudian datang kudeta dan setelah itu aku menghabiskan waktuku mengunjungi toko buku di Santiago sebagai cara murah bertahan dari kebosanan dan kegilaan. Tidak seperti toko-toko buku Meksiko, toko buku di Santiago tidak memiliki pegawai dan hanya dijalankan oleh satu orang, biasanya oleh sang pemilik. Di sana aku membeli Obra gruesa [Edisi Lengkap] dan Artefactos-nya Nicanor Parra, dan buku dari Enrique Lihn dan Jorge Teillier yang akan segera hilang dan yang merupakan bacaan penting bagiku; meskipun penting bukanlah kata yang tepat: buku-buku membantuku bernapas. Tapi bernapas juga bukan kata yang tepat.

Apa yang paling aku ingat tentang kunjunganku ke beberapa toko buku itu adalah mata penjual bukunya, yang kadang-kadang tampak seperti mata seorang yang gantung diri dan kadang-kadang tampak seperti seseorang yang menonton film yang bikin ngantuk, yang sekarang aku tahu bahwa ada sesuatu yang lain. Aku tidak ingat pernah melihat toko buku yang lebih sepi dari ini. Aku tidak mencuri satu buku pun di Santiago. Buku-bukunya murah dan aku membelinya. Di toko buku terakhir yang aku kunjungi, saat aku melalui deretan novel-novel lawas Perancis, si penjual buku, seorang pria tinggi kurus berusia sekitar empat puluh, tiba-tiba bertanya apakah aku pikir suatu tindakan tepat bagi seorang penulis untuk merekomendasikan karyanya sendiri kepada seorang yang dijatuhi hukuman mati. Penjual buku itu berdiri di sudut, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku dan dia punya jakun yang bergetar saat ia berbicara. Aku mengatakan itu kelihatannya tidak tepat. Orang terhukum seperti apa yang kita bicarakan? aku bertanya. Penjual buku itu menatapku dan berkata bahwa ia tahu lebih dari seorang novelis yang merekomendasikan bukunya sendiri kepada seorang pria yang sedang di ambang kematiannya. Kemudian dia mengatakan bahwa kita sedang berbicara tentang para pembaca putus asa. Aku hampir tidak memenuhi syarat untuk menilai, katanya, tetapi jika bukan aku, tidak akan ada yang mau.

Buku apa yang akan kamu berikan kepada orang terhukum? dia bertanya. Aku tidak tahu, kataku. Aku juga tidak tahu, kata penjual buku, dan aku pikir itu mengerikan. Buku apa yang orang-orang putus asa baca? Buku apa yang mereka sukai? Bagaimana kamu membayangkan ruang baca seorang pria terhukum? dia bertanya. Aku tidak tahu, kataku. Kamu masih muda, aku tahu, katanya. Dan kemudian: itu seperti Antartika. Bukan seperti Kutub Utara, tapi seperti Antartika. Aku teringat hari-hari terakhir [tokoh pada Edgar Allan Poe] Arthur Gordon Pym, tapi aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Mari kita lihat, kata penjual buku, apakah ada pemberani yang bakal menyerahkan novel ini di pangkuan seorang pria yang mendapat hukum mati? Dia mengambil sebuah buku yang masih baik dan kemudian dia melemparkannya ke tumpukan. Aku membayar dan pergi. Ketika aku berbalik untuk pergi, penjual buku itu mungkin tertawa atau menangis. Saat aku melangkah keluar aku mendengar dia berkata: Bajingan arogan seperti apa yang berani melakukan hal macam begitu? Dan kemudian dia berkata sesuatu yang lain, tapi aku tidak bisa mendengar soal apa.

*

Diterjemahkan dari Who Would Dare? dalam Between Parentheses: Essays, Articles and Speeches (1998-2003).

Roberto Bolaño menghabiskan usia mudanya hidup sebagai gelandangan, berpindah-pindah dari Cile, Meksiko, El Salvador, Perancis, dan Spanyol. Bolano pindah ke Eropa pada tahun 1977, dan akhirnya sampai ke Spanyol, yang kemudian ia menikah dan menetap di pantai Mediterania dekat Barcelona, bekerja sebagai pencuci piring, penjaga tempat perkemahan, pesuruh dan pengumpul sampah—yang bekerja pada siang hari dan menulis di malam hari.

Foto: Feria Permanente del Libro Usado de Providencia

Kategori
Celotehanku

Apa yang Dapat Saya Bicarakan Soal Saya dan Ngaleut

ngaleut the beatles

Hal terpenting yang kita pelajari di sekolah ialah fakta bahwa hal paling penting enggak dapat dipelajari di sekolah, tulis Haruki Murakami. Dalam What I Talk About When I Talk About Running-nya, ada beragam kalimat aduhai yang bisa dipinjam kalau-kalau ingin ditulis di caption Instagram, dan yang tadi adalah kalimat favorit saya. Karena memang, sesuai pengalaman hidup saya sejauh ini, Google justru lebih banyak mengajarkan saya ketimbang sekolah selama bertahun-tahun yang menguras kantong orangtua. Tentu saja, kita enggak bisa menampik, sekolah sangat penting, minimal untuk mendapat segenggam ijazah pun gelar.

Meniru Lao Tze, juga Kabayan, saya sebenarnya pemalas akut, juga skeptis dalam menjalani hidup, namun beruntungnya orang-orang selalu berpikir saya adalah seorang bijak bestari—memang dari nama mencerminkan itu. Tapi jika kau bertanya bagaimana cara belajar kebijaksanaan hidup, Google yang serba tahu pastinya bisa menjawab. Atau, menurut bacotan filsuf edan bernama Friedrich Nietzsche: Segala pikiran besar terkandung dengan berjalan kaki.

Sialnya, selain membaca, budaya paling enggak diminati orang Indonesia adalah berjalan kaki. Padahal tanpa perlu susah-susah menekuri, atau bahkan mengenali nama-nama seperti Socrates, Confucius, Ibnu Sina, Descartes, Kierkegaard, Schopenhauer, Tagore, Camus, Sartre, Foucalt, St. Sunardi, Yasraf atau Alain de Botton, cukup dengan hanya berjalan kaki mengamati sekitarmu, kau tetap bisa mengambil pelajaran yang enggak ternilai harganya. Agar lebih pandai membaca ayat kauniyah, beragam pertanda di sekitar kita, berjalanlah bersama para pecinta kearifan lainnya, lebih baik lagi kalau kau bisa berjalan berdampingan dengan orang bernama Arif, hehe—untuk catatan, saya jutek sama yang belum akrab, tapi aslinya baik hati, lho.

Lihat: Ngaleut Sebagai Piknik Sokratik

Di suatu Minggu pagi saat bulan sedang September 2014, Taman Balaikota Bandung sudah dikunjungi beragam manusia, meski para muda-mudi penari yang mereplikasi para grup idola Korea belum hinggap. Sebagai orang baru, tentu saya datang pagi-pagi betul, enggak mau telat. Ingatlah ini baik-baik, salah satu momen paling berhargamu di Komunitas Aleut! adalah apabila ketika ngaleut perdanamu disambut oleh Ajay, apalagi jika kamu perempuan cantik. Begitulah, ngaleut pertama saya bertajuk Bandung Kota Pendidikan. Saat itu saya tengah gandrung mempelajari fotografi dan videografi, berkat baru kesampaian memegang sebuah kamera DSLR, Nikon D3100 tercinta, hasil dari hadiah lomba esai tingkat nasional (meski sampai sekarang pun, saya masih menganggap diri saya ini esais yang payah). Utamanya street photography atawa fotografi jalanan, saya saat itu sedang getol-getolnya mengagumi Henri Cartier-Bresson, Robert Frank, Vivian Maier, Daido Moriyama, Kai Man Wong dan streettog lainnya. Bahkan, ada pikiran kalau saya bisa masuk agensi fotografi bergengsi macam Magnum Photos atau National Geographic. Boleh dibilang sindrom-pertama-punya-DSLR lah, tapi saya masih menyuntuki fotografi hingga sekarang, lebih ke arah filosofis ketimbang praktisnya, lebih-lebih setelah belakangan mengenal fotografer cum penulis semisal Susan Sontag dan Teju Cole. Untuk sekarang, saya lebih sering mempercayakan kamera saya pada Ajay—saya baru menyadari kalau saya lebih suka jadi model ketimbang fotografer.

Saya pikir bagi yang ingin mengasah kemampuan fotografinya bisa disalurkan lewat ngaleut ini. Kesalahan terbesar para fotografer pemula di era kekinian adalah menghabiskan waktunya mempelajari tektek-bengek perkameraan lewat forum internet, dan ini hanya akan membuatmu terinfeksi Gear Acquisition Syndrome (GAS). Begitu juga ketika gabung dengan komunitas fotografi, bukan sesuatu yang salah sih, tapi biasanya penyakit GAS tadi pun ikut muncul; harus beli lensa fix, harus punya filter ini, harus pasang aksesoris itu lah, ganti kamera jadi mirrorless, harus upgrade ke full frame. Fotografi memang hobi mahal, ya, saya setuju akan ini, tapi jangan salahkan kameramu untuk mengambinghitamkan kemampuan fotografimu yang payah. Lihat Moriyama, hanya dengan kamera saku, dan selama 50 tahun enggak pernah bosan obyek fotografinya cuma jalanan Tokyo, namun bisa bikin pameran di berbagai negeri. Seperti halnya master fotografi jalanan asal Jepang itu, jadikan diri kita layaknya seorang turis di kota sendiri. Dengan bergabung di Komunitas Aleut! pun, kau pun bisa bertemu dengan orang-orang yang punya kegemaran fotografi juga, belajar dengan mereka, dan hunting foto di setiap ngaleut.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya ini pemalas. Saya lebih seorang pemalas ketimbang penulis. Dan daripada penulis, lebih seorang penggaya. Saya menulis di blog sudah sejak 2009, dari saat masih berseragam putih abu bau kencur, dan menghasilkan beragam tulisan sampah, yang beruntungnya beberapa kali dipercaya jadi pekerja teks komersial. Nah, setidaknya, dengan ngaleut, bagi yang suka menulis bisa mendapat inspirasi untuk menuliskan catatan perjalanannya. Komunitas Aleut! juga beberapa kali melakukan proyek penulisan.

Kau tak bisa jadi pengarang fiksi serius yang hebat, sebut Kurt Vonnegut, jika kau enggak depresi. Celakanya, saya mempercayai omongan tersebut, gagal mempertahankan sikap skeptis saya. Anehnya saya enggak merasa minder meski kuliah di Keperawatan, bahkan bisa berkelit, bukankah Walt Whitman sang bapak penyair Amerika yang menjadi pionir puisi gaya bebas dan Agatha Christie, novelis yang bukunya paling laris di dunia (hanya dikalahkan Shakespeare dan Injil-juga Al-Quran), bukankah pernah jadi perawat juga? Oh, adakah cara untuk menghentikan saya yang bebal pengen jadi penulis ini? Karena belum ada cara untuk membuat saya berhenti punya impian celaka menjadi pengarang, saya ingin menyaingi Utuy T. Sontani saja, yang dipuji Pram sebagai ‘pengarang pesimis terbesar di Indonesia’.

Salah satu pejalan kaki favorit saya adalah James Joyce, yang menjadikan jalan kaki sebagai tema dalam novel babon paling berpengaruh untuk sastra modern yang sekaligus sukses bikin kepala pening, Ulysses. Ada keinginan saya dalam upaya merekam kota sendiri seperti Joyce dengan Dubliners-nya. Mungkin judulnya Orang-Orang Bandung (eh, tapi kesannya kayak judul kumcer Budi Darma sih). Tentu saja, dengan gaya yang baru, ala-ala fiksimini Etgar Keret yang surealisme sosialis misalnya, belum ada di Indonesia, dan semoga enggak diberangus aja sih. Yang pasti, lewat ngaleut kau bisa mendapat beragam inspirasi menulis, bisa dibilang ini sebuah proses kreatif sastrawi. Sudah ada beberapa yang saya tulis dan bagikan, salahsatunya, yang terbaik sejauh ini: Wendy’s. Bacalah selagi masih ada, soalnya ada yang tertarik menerbitkan, kalau-kalau perlu dihapus.

Ah, sebenarnya apa yang saya bicarakan soal saya dan ngaleut ini? Maaf, bagi yang sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan enggak jelas ini. Maaf juga telah menjejal beragam nama-nama, kau bisa menghiraukannya, atau kalau berminat mengenal lebih lanjut mereka silahkan buka Google saja. Tapi nampaknya, saya harus mencatut nama-nama lagi, maafkanlah saya yang mungkin terkesan ingin dipuji intelektualitasnya ini. Berikut dari filsuf favorit saya, Albert Camus, yang hobi bengong berjam-jam di kedai kopi dan doyan berjalan kaki ke sana-kemari

Jangan berjalan di belakangku; aku tidak akan memimpinmu. Jangan berjalan di depanku; aku tidak akan mengikutimu. Berjalanlah di sisiku sebagai sahabatku.

Ada beratus-ratus kata, bahkan beribu halaman lagi yang bisa saya bicarakan soal saya dan ngaleut ini, yang mungkin bakal mengalahkan War and Peace-nya Leo Tolstoy. Tapi dari kalimat Camus tadi sudah sangat mewakili apa ngaleut, dan lebih tepatnya soal apa Komunitas Aleut!

+

Post-scriptum:

Jangan terlalu menseriusi saya, seperti yang sudah saya bilang, seperti Lao Tze, saya pemalas akut. Dan seperti ujaran Nietzsche dalam The Twilight of the Idols-nya: aku hanya mau mengimani Tuhan yang bisa menari. Ya, ya, saya hanyalah seorang yang kebanyakan nonton idol menari di Youtube, hehe.