Kategori
Celotehanku

Bocah Dunia Ketiga yang Menyuntuki Penulis Kulit Putih

Kurt Vonnegut on Man-Eating Lampreys - Blank on Blank - YouTube.MP4_snapshot_03.23_[2017.08.31_14.35.44]

Perempuan itu mendapat surat dari kepala redaksi Alfred Knopf, berisi pujian atas cerpennya dan berharap bakal menerbitkan novelnya suatu saat, tulisnya dalam jurnal hariaannya, yang dimampatkan dalam buku berjudul The Unabridged Journals of Sylvia Plath. Saya menutup aplikasi pembaca ebook, membuka Twitter. Linimasa ramai, mengalir tanpa jeda. Menggulirkan sampai bawah, saya menandai sebuah tautan artikel dari Jacobin, media kiri Amerika, soal krisis Katalunya dan satu dari Literary Hub tentang surat kebencian William S. Burroughs buat Truman Capote. Entah kapan saya bakal buka dan bacanya. Saya buka kembali ebook, mengkhatamkan On the Heights of Despair yang menyisakan beberapa fragmen. Sebuah karya pertama seorang pemikir asal Romania, Emil Cioran, yang dikenal karena filosofinya yang begitu ultra-pesimis dan gelap. Semuanya nonsens, tulisnya menghabisi. Saya membuka Instagram, menonton beberapa Stories. Saya kembali baca, kali ini dua puisi Allen Ginsberg dalam Reality Sandwiches. Sampai sekarang, saya belum ngeh cara baca puisi. Tapi beberapa kali saya bisa menikmati, salah satunya dari Ginsberg sang pupuhu Beat Generation ini. Saya beralih ke Homage to Catalonia. George Orwell yang sebelumnya tertembak fasis saat patroli di garis depan, masih menjalani perawatan di Barcelona. Orwell bergabung di pasukan milisi untuk melawan Franco.

Cuma ada sendok dalam gelas, seluruh Indocafe telah meluncur masuk abdomen. Desing motor yang hilir mudik di jalanan depan rumah dan ceramah dari TVOne yang disetel mamah di ruang tengah samar-samar saling beradu. Ada hal-hal penting dan enggak penting terjadi, mengapa saya membaca? Saya teringat artikel dalam The New Yorker yang berjudul “Can Reading Make You Happier?“. Pada era sekuler, membaca, terutama fiksi, adalah salah satu dari sedikit jalan yang tersisa menuju transendensi, keadaan sulit dipahami di mana jarak antara diri dan alam semesta menyusut. Membaca membuat kita kehilangan semua rasa sadar diri, tapi pada saat bersamaan membuat kita merasa semacam keunikan tersendiri. Membaca telah terbukti membuat otak kita menjadi keadaan trance yang menyenangkan, serupa dengan meditasi, dan membawa manfaat kesehatan yang sama seperti relaksasi dan ketenangan batin. Seperti yang ditulis Virginia Woolf, seorang pembaca yang paling tangguh, bahwa sebuah buku “memisahkan kita menjadi dua bagian saat kita sedang membaca,” karena “keadaan membaca terdiri dari penghapusan ego secara total,” sambil menjanjikan “persatuan abadi” dengan pikiran lain.

Sebagian mungkin benar. Namun, saya enggak terlalu percaya optimisme kacangan bahwa membaca bakal mendatangkan semacam benefit yang wah. Ya, membaca memang ada manfaatnya, sekaligus enggak ada. Tidak ada argumen, tegas Cioran. Bisakah orang yang telah mencapai batas terganggu argumen, sebab, akibat, pertimbangan moral, dan sebagainya? Tentu saja tidak. Bagi orang seperti itu hanya ada motif hidup yang tanpa motivasi. Di puncak keputusasaan, hasrat untuk tidak masuk akal adalah satu-satunya hal yang masih bisa menimbulkan cahaya atas kekacauan. Bila semua alasan saat ini – moral, estetika, religius, sosial, dan sebagainya – tidak lagi membimbing hidup seseorang, bagaimana seseorang dapat mempertahankan hidup tanpa menyerah pada ketiadaan? Hanya dengan hubungan yang tidak masuk akal, dengan cinta tanpa harapan, mencintai sesuatu yang tidak memiliki substansi tapi hanya mensimulasikan ilusi kehidupan. Alasan saya terus membaca, seperti alasan saya untuk terus hidup, yakni menjalaninya dengan tanpa alasan. Sebenarnya, karena sedang menggeluti praktek menulis, ini jadi alasan oportunis kenapa saya terus membaca – saat selesai membereskan satu buku kemudian memperbarui Goodreads, ada perasaan keahlian menulis saya, seperti dalam permainan video, ikut meningkat, dan saya tahu ini cuma ilusi. Yang pasti, sebuah buku, sebut Cioran, adalah bunuh diri yang ditunda.

Tentu saja, pemahaman saya akan terus berubah, baik karena beragam bacaan lainnya, atau karena menua dan enggak bakal ambil pusing. Yang jadi persoalan adalah bahwa bacaan-bacaan saya berasal dari para kulit putih, yang berasal dari dunia pertama. Penyebab praktisnya, karena mereka mudah didapatkan, andai saja koleksi lengkap semacam Pram atau Utuy T. Sontani bisa ditemukan dalam torrent. Tapi bukan cuma itu, mereka, para penulis kulit putih itu, yang tinggal di pusat-pusat peradaban dunia, secara aneh selalu berhasil menyuarakan apa yang saya pikirkan. Itu mungkin sebabnya mereka disebut penulis kanon. Lagipula, sebenarnya apa masalahnya seorang dari dunia ketiga membaca mereka? Soal nasionalisme, saya enggak terlalu memusingkan konsep usang ini. Teracuni Barat, tentu saja ini sangat berhubungan dengan relasi kuasa, Barat dipandang sebagai kemajuan. Sebentuk inferiority complex, lantas kenapa? Mungkin saja, saya malah sedang mengamini Seniman Gelanggang Merdeka di awal 50an yang memproklamasikan diri bahwa, “Kami ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia, dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.” Namun, buat apa juga manifesto beginiaan. Saya terus membaca karena saya enggak tahu kenapa terus membaca. Membaca siapapun. Kebetulan, mereka yang saya baca penulis-penulis kulit putih. Oh, kenapa pula saya memusingkannya. Tampaknya saya berlaga kayak penulis kulit putih saja: merumitkan yang remeh. Snobisme, tanpa jadi polisi selera dan tetap bersikap arif, saya kira sangat boleh. Sekali lagi, sebuah buku, sebut Cioran, adalah bunuh diri yang ditunda. Dan ada banyak buku lainnya yang masih belum terbaca.

Kategori
Movie Enthusiast

7 Film Tentang Penulis dan Keresahannya

Merencanakan dan berkhayal memang mudah, inginnya bisa merampungkan naskah fiksi, meski dengan menunda skripsi, mengirimkannya ke sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta, bisa masuk tiga terbaik, dilirik untuk kemudian diterbitkan Gramedia atau Bentang Pustaka, lalu mereka pajang di rak-rak toko buku bagian sastra, yang mana merupakan destinasi paling sunyi di Indonesia, meski hanya dapat royalti yang enggak seberapa, tapi karenanya bisa dapat kesempatan diundang Ubud Writers Festival atau gelaran lainnya, juga peluang agar novel tadi masuk perpustakaan pribadi Viny JKT48.

Rencana indah, dan begitu kapitalistik oportunis. Berkhayal sudah tentu enak, syarat utama timbulnya ereksi, seenggaknya pas coli. Bercita-cita jadi penulis adalah suatu kesalahan. Seperti halnya membentuk sebuah cawan yang tak habis untuk dipakai, sebut Goenawan Mohamad, menulis pada dasarnya adalah pekerjaan yang resah.

Nah, berikut beberapa film yang memperlihatkan kehidupan para penulis beserta keresahan-keresahan yang dihadapinya, saya pilih suka-suka dengan batasan media 2000an ke atas dan hanya tujuh judul.

1. Before Night Falls (2000)

Before Night Falls (2000) – MUBI

Diangkat dari autobiografinya Reinaldo Arenas, penyair dan novelis asal Kuba, yang mengisahkan masa bocahnya di Oriente sampai kematiannya di New York.

Arenas ikut dalam pemberontak yang membuat Fidel Castro naik jadi presiden. Namun saat iklim politik pemerintah Castro memanas, justru berkat tulisan dan homoseksualitasnya, Arenas harus mendekam di penjara selama dua tahun.

“Perbedaan antara sistem komunis dan sistem kapitalis adalah bahwa ketika mereka menendang pantatmu,” keluh Arenas dongkol, “di sistem Komunis kau harus bertepuk tangan, dalam sistem kapitalis, kau boleh berteriak.”

Dalam film besutan Julian Schnabel ini, Arenas diperankan oleh Javier Bardem, dan ini sangat tepat. Selain itu, cameo dari Sean Penn dan Johny Depp, yang jadi bencong, adalah sesuatu yang jangan dilewatkan.

2. Finding Forrester (2000)

Finding Forrester (2000) – MUBI

Seorang penulis muda secara kebetulan mendapatkan mentor seorang penulis senior, yang tertutup. Jamal Wallace dan William Forrester akhirnya menjalin pertemanan, yang mengarahkan Forrester untuk mengatasi sikap tertutupnya dan Jamal untuk mendobrak prasangka rasial, juga untuk mengejar impian sejatinya; menulis.

“Jangan berpikir – itu nanti saja. Kau harus menulis draft pertamamu dengan hati. Baru kau tulis ulang dengan kepala,” Forrester memberi nasihat. “Kunci pertama menulis adalah menulis, bukan untuk berpikir!”

3. The Squid and The Whale (2005)

The Squid and the Whale (2005) – MUBI

Bernard adalah seorang akademisi universitas juga penulis yang kariernya dekaden, yang pencemburu dan egois, yang merasionalisasi setiap sikap dalam keluarga dan hidupnya dan enggak terima para ‘philistine’–orang yang enggak baca buku atau nonton film, sedangkan istrinya Joan ikut menjadi penulis dan sukses namun enggak punya masalah dengan para ‘philistine’.

Anak-anak mereka, Walt si pemuda tanggung dan Frank yang masih bocah, menjadi terpisah dan saling mengambil sisi: Walt dengan Bernard, Frank dengan Joan, dan keduanya terpengaruh dengan perilaku abnormal.

Kisah dalam film ini terinspirasi dari kisah hidup sutradaranya, Noah Baumbach. Lagi-lagi ada Anna Paquin di sini, masih berperan sebagai penulis muda yang sedang belajar seperti di Finding Forrester, namun banyak nakalnya.

4. Reprise (2006)

Reprise (2006) – MUBI

Philip dan Erik telah lama memimpikan ketenaran sastrawi, tetapi ketika mereka mengirimkan naskah pertama mereka, jalan mereka menjadi berlainan. Naskah Erik ditolak sementara Philip diterbitkan, dan sukses, yang membuatnya jadi seleb dadakan. Plot sendiri berupa coming-of-age, dipenuhi dengan ansietas, musik punk dan rock n roll, kisah cinta romansa anak muda, dan pastinya literasi bercampur depresi.

| Lihat: Saudara Seliterasi

5. Midnight in Paris (2011)

Midnight in Paris (2011) – MUBI

Bisa ngobrol sama Ernest Hemingway dan Scott Fitzgerald dan penulis Lost Generation lainnya, juga naskah novel kita ditangani langsung Gertrude Stein tentu mimpi paling indah bagi para penulis.

Lost Generation sendiri adalah kumpulan seniman di era setelah Perang Dunia I, sebutan yang dipopulerkan Hemingway. “Jika kau seorang penulis, anggap dirimu penulis terbaik,” ungkap Hemingway menasehati, “tapi tidak kalau sedang ada aku.”

Film dari Woody Allen ini bercerita tentang Gil yang seorang penulis sukses skrip Hollywood namun masih susah payah dalam menyelesaikan novel perdananya. Gil ikut perjalanan bisnis orangtua pacarnya ke Paris, jatuh cinta dengan kota tersebut, dan mengusulkan agar setelah menikah bisa pindah ke sini, namun pacarnya enggan, juga enggak setuju gagasan Gil yang menganggap Paris di tahun 1920an, era saat Lost Generation eksis, adalah masa emas.

Saat tengah malam, Gil sengaja pulang dengan berjalan kaki, untuk mencari inspirasi, dan secara ajaib Gil ditarik ke masa lampau impiannya tadi. Namun Gil sadar, nostalgia adalah sebuah penyangkalan, menganggap era sebelumnya lebih baik ketimbang hari ini hanya sejenis imajinasi romantis bagi orang-orang yang sulit untuk beradaptasi dengan masa kini.

6. Ruby Sparks (2012)

Ruby Sparks (2012) – MUBI

Calvin merupakan seorang novelis yang sukses dengan karya perdananya sedang dalam perjuangan melawan writer’s block untuk merampungkan karya keduanya.

Calvin iseng menuliskan dengan mesin ketik manualnya mengenai Ruby, gadis yang datang dalam mimpinya. Dia enggak bisa percaya matanya, karena keesokan harinya, Ruby menjadi orang yang nyata, betul-betul eksis dan mereka berdua mulai menjalani hubungan yang indah.

Jika hubungan ini enggak sempurna, yang harus Calvin lakukan cukup mengetik kata-kata di naskah tadi dan perilaku Ruby berubah menjadi apa yang Calvin inginkan. Yang namanya ‘terlalu’, pasti berakibat buruk, apalagi jika ditambahkan pada kata ‘sempurna’, karena ini hanya milik surga. Calvin dan Ruby sendiri diperankan pasangan yang memang sudah berkencan lama, Paul Dano dan Zoe Kazan.

7. Kill Your Darling (2013)

kill your darling daniel radcliff

Menjadi “Beat” adalah pilihan gaya hidup yang memisahkan seseorang dari iklim Amerika tahun 1950an yang konformis di bidang kebudayaan, represif dalam soal seksualitas dan reaksioner di bidang politik.

Gaya hidup ini tercipta berkat adanya Beat Generation, sekelompok penulis yang bertemu di Columbia University, yang dikisahkan dalam film ini.

Berpusat pada insiden pembunuhan yang dilakukan Lucien Carr, aktor kunci dalam terbentuknya geng Beats tadi, film ini mengambil versi dari novel And the Hippos Were Boiled in Their Tanks yang ditulis Jack Kerouac dan William S. Burroughs.

Daniel Radcliffe berperan jadi Allen Ginsberg, penyair penting dari Beats, yang dikisahkan menjadi mahasiswa baru di Columbia University tadi, namun merasa jenuh dengan perkuliahan, dan menemukan dunia baru bersama Carr, Kerouac dan Burroughs.