Kategori
Catutan Pinggir

Eduardo Galeano: Simón Bolívar Kiwari

Uruguayan-writer-Eduardo galeano

Dalam Galileo-nya Bertolt Brecht, sang antihero eponim itu ditentang oleh muridnya, yang sangat marah karena orang hebat itu telah menarik ucapannya: “Tak bahagia adalah tanah yang tak melahirkan pahlawan.” Tanggapan Galileo tenang: “Tak bahagia adalah tanah yang membutuhkan pahlawan.” Dan dia terus mengerjakan manuskripnya, yang kemudian dia pindahtangankan pada muridnya yang terasing, yang menyadari di akhir permainan bahwa apa yang benar-benar penting telah dicapai. Ide-ide akan bertahan. Mendiang sahabat dan kawan saya, jurnalis dan sejarawan Uruguay, Eduardo Galeano, yang meninggal minggu ini, tidak pernah menarik kembali keyakinannya secara pribadi atau di depan umum. Dia juga tidak percaya pada pahlawan.

Seluruh pekerjaannya diliputi dengan ide demokrasi massa, di mana orang miskin dan tertindas mencapai emansipasi diri melalui tindakan bersama untuk tujuan yang terbatas atau lebih luas. Galeano adalah Simón Bolívar modern, yang mengusahakan lewat penanya layaknya pembebas dengan pedangnya: kesatuan benua mereka melawan kerajaan lama dan baru. Dia berbicara untuk suara-suara bawah tanah benua ketika diktator militer yang didukung AS menghancurkan demokrasi di sebagian besar Amerika Selatan; ia berbicara bagi mereka yang disiksa, karena penduduk pribumi dihancurkan oleh penindasan ganda dari kerajaan dan oligarki kreol.

Apakah dia optimis atau pesimis? Keduanya, seringnya bersamaan, tetapi dia tidak pernah putus asa. Hak untuk bermimpi, dia bersikeras, harus dituliskan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Hal itu tetap kuat sepanjang hidupnya. Terlihat dalam karya lirisnya tentang sejarah Amerika Selatan. Sejarah ditulis sebagai puisi, tiga jilid sketsa, masing-masingnya jadi mutiara yang membuat kalung yang menakjubkan. Ada dalam jurnalismenya dari Marcha di Uruguay 1960an sampai La Jornada di Meksiko hari ini. Dia tidak pernah dogmatis, selalu terbuka terhadap ide-ide baru.

Setelah tirani kediktatoran-kediktatoran militer ia menyadari bahwa jalan bersenjata telah menjadi bencana, bahwa revolusi Kuba tidak dapat ditiru secara membabi buta. Kelahiran gerakan-gerakan sosial baru dan kemenangan-kemenangan Bolivarian adalah sumber inspirasi dan keprihatinan. Dia tidak mau melihat kesalahan lama terulang. Setiap kali kami bertemu ini sangat kuat dalam dirinya. Kita tidak hanya dikalahkan oleh musuh, ia akan bersikeras, tetapi juga, sampai batas tertentu, oleh diri kita sendiri. Kaum revolusioner bukannya tanpa cacat.

*

Diterjemahkan dari My hero: Eduardo Galeano.

Tariq Ali telah menjadi tokoh kiri internasional sejak tahun 60an. Dia menulis untuk Guardian sejak tahun 70-an. Dia editor paling lama dari New Left Review dan seorang komentator politik cemerlang.

Kategori
Non Fakta

Fantasi, Alejandro Zambra

ford 1988 alejandro zambra

1

Ceritanya di tahun 1996, empat atau lima bulan setelah kematian ayahku. Mungkin lebih baik memulai dengan kematian itu, dengan bagian akhir itu. Aku tidak tahu. Saat itu ayahku adalah musuhku. Umurku dua puluh tahun dan aku membencinya. Sekarang aku berpikir bahwa membencinya sungguh tak adil. Ayahku tidak pantas mendapat kebencian itu. Aku tidak tahu apakah dia pantas mendapat kasih sayang, tapi aku yakin dia tidak pantas mendapat kebencian itu.

Dia baru saja membeli sebuah truk, dengan tabungan penghabisannya, sebuah Ford putih tahun 1988 dalam kondisi baik. Pada hari pengiriman, dia memarkirkannya dua blok dari rumah, tapi keesokan paginya dia meninggal – dia meninggal karena serangan jantung, seperti ayahnya dan ayah ayahnya – jadi truk itu berada di sana selama beberapa minggu, terpapar cuaca, menghalangi lalu lintas. Setelah pemakaman, ibuku memutuskan untuk menuju ke selatan; Dia pulang ke selatan, sebetulnya, seolah-olah mematuhi rencana lama yang telah diperhitungkan. Dia tidak ingin mengatakan bahwa dia akan pergi untuk selamanya. Dia tidak memintaku untuk menemaninya. Jadi aku berakhir dengan rumah dan truk itu, yang suatu pagi, karena diliputi kesepian, aku berkendara dengan hati-hati melewati jalan-jalan terpencil sampai aku menemukan tempat untuk meninggalkannya.

Aku menghabiskan hari-hari setengah mabuk, menonton film di ranjang besar dan dengan cemberut menerima ucapan belasungkawa para tetangga. Akhirnya aku bebas. Bahwa kebebasan ini begitu mirip dengan pengabaian yang tak lebih dari sekadar sebuah detail. Aku keluar dari universitas, tanpa terlalu memikirkannya, karena aku tidak tahan belajar buat ujian Kalkulus I, untuk ketiga kalinya. Ibuku mengirim cukup banyak uang, jadi aku lupa tentang truk itu sampai Luis Miguel datang untuk menanyakan hal itu kepadaku. Aku ingat bahwa aku membuka pintu dengan rasa takut, tapi kebaikan hati Luis Miguel segera meredakan kecurigaanku. Setelah mengenalkan dirinya dan meminta maaf selama beberapa jam, dia mengatakan bahwa dia pernah mendengar bahwa aku membawa sebuah truk dan dia ingin mengusulkan agar aku menyewakannya.

Aku bisa mengemudikannya dan membayar biaya bulanan, katanya. Aku menjawab bahwa aku tidak terlalu tertarik pada truk itu, akan lebih baik jika aku menjualnya. Dia bilang dia tidak punya uang, setidaknya kami bisa mencobanya sebentar, bahwa dia sendiri yang akan bertanggung jawab untuk mencari pembeli. Dia tampak putus asa, meski belakangan aku mengerti bahwa dia tak begitu, bahwa dalam kasusnya keputusasaan lebih merupakan kebiasaan, sikap, cara hidup. Aku mengundangnya masuk; Aku menawarinya kentang goreng dan bir, dan kami minum begitu banyak bir hingga esoknya aku terbangun di sampingnya, tubuhku terasa sakit dan dipenuhi dengan keinginan kuat untuk menangis. Luis Miguel memelukku dengan hati-hati, hampir dengan penuh kasih sayang, dan dia membuat lelucon yang tidak kuingat, berbagai hal sepele yang meredakan kesedihan dan aku mengucapkan terima kasih untuknya, atau mengira aku mengucapkan terima kasih kepadanya, dengan sekilas. Kemudian kami memasak mie dan membumbuinya dengan saus hambar, dan kali ini kami minum dua slof anggur.

Dia telah berjanji kepada istrinya bahwa dia tidak akan lagi tidur dengan laki-laki. Istrinya tidak peduli jika dia selingkuh dengan wanita lain, tapi istrinya sangat khawatir jika Luis Miguel bakal tidur dengan laki-laki. Pada saat itu aku sudah yakin bahwa aku tidak menyukai wanita; Pada awalnya, aku telah tidur dengan wanita seusiaku tapi segera setelahnya selalu dengan pria, yang hampir selalu lebih tua, meski tidak pernah terlalu tua seperti Luis Miguel, yang berusia empat puluh empat tahun, memiliki dua anak, dan menganggur.

Aku kasih kamu gawean dengan ewean, kataku, dan kami terus tertawa sangat lama, kembali ke ranjang.

Lengan Luis Miguel dua atau tiga kali lebih kandel dariku.

Dan kontolnya lima sentimeter lebih panjang dariku.

Dan kulitnya lebih gelap dan lembut dari kulitku.

Sebulan kemudian Luis Miguel mengundangku ke La Calera, dan setelah itu ke Antofagasta, dan sejak saat itu undangan tidak lagi diperlukan; Selama satu setengah tahun kami bekerja sama, dalam kemitraan, berbagi keuntungan. Kami mengangkut apa saja: puing-puing, sayuran, kayu, selimut, kembang api, kotak-kotak tanpa tanda yang mencurigakan. Aku tidak akan mengatakan bahwa berjam-jam berlalu begitu saja; Kami bersenang-senang, kami meringankan beban perjalanan kami dengan tertawa, saling menceritakan kisah kehidupan kami; Tapi sedikit demi sedikit jalan bebas hambatan berhasil melenyapkan obrolan kami, dan kami menanggung kilometer-kilometer terakhir dalam keadaan gelisah. Sekembalinya kami, kami akan menghabiskan sepanjang hari untuk tidur dan kemudian bercinta sampai kami kenyang atau sampai rasa bersalahnya muncul, sesuatu yang sering terjadi, hampir setiap hari; dia tiba-tiba menghentikan mendadak cumbuan kami untuk menelepon istrinya dan mengatakan kepadanya bahwa dia berada di dekat Santiago, dan aku menerima komedi itu tanpa keluhan karena aku tahu itu bukan komedi.

Salah satu anakku seusiamu, dia mengatakan kepadaku suatu malam, matanya berkobar, tidak dengan api atau kemarahan, seperti yang sering dibilang, tapi dengan rasa malu yang hitam dan tak berdasar yang tidak aku mengerti saat itu, aku juga tidak mengerti sekarang, atau akankah aku mengerti.

2

Dia hanya teman, kataku pada Nadia.

Luis Miguel menyapanya dengan malu; Dia berjalan dengan telanjang, dia baru saja terbangun; Saat itu pukul sepuluh atau sebelas pagi, dan Nadia tersenyum atau memberi sedikit senyuman. Dia datang untuk memintaku membantunya pindahan.

Aku enggak tahan lagi sama bokap-nyokapku, dia memberitahuku, dan aku tidak memintanya menjelaskannya, tapi dia mulai berbicara dengan kehangatan biasanya yang biasa. Kami bertiga pergi untuk mengambil truk itu, dan kemudian ke rumah Nadia, tempat kami bekerja dengan isak tangis temanku dan ratapan ibunya sebagai suara latar belakang. Kemudian, di jalan, Nadia tidak menangis lagi, tapi tertawa dengan penuh semangat, dengan semacam kegamangan. Kami naik dari Maipú ke sebuah apartemen kecil di Diagonal Paraguay dimana dia berencana untuk tinggal dengan seorang teman. Letaknya di lantai enam, tanpa lift, tapi barang-barangnya sederhana: tidak lebih dari sebuah kasur, dua koper, dan enam kotak buku. Dalam perjalanan pulang, Luis Miguel bertanya kepadaku tentang Nadia, dan aku mengatakan kepadanya bahwa aku telah mengenalnya bertahun-tahun, sejak kecil, bahwa dia adalah sahabat terbaikku, atau paling tidak dia adalah, pada satu titik, sahabat terbaikku.

Dua minggu kemudian kami harus mengulang perjalanan. Kami baru saja kembali dari Valparaíso saat Nadia menelepon dan memohon padaku untuk menyelamatkannya dari temannya: Orang gila, katanya, seorang idiot yang menganggapku babunya. Baru pada akhir perjalanan aku mengerti bahwa Nadia tidak akan kembali ke rumahnya, tapi padaku.

Aku membicarakannya dengan mamamu, katanya, ini bikin dia senang karena tahu kita bakal tinggal bersama. Bertolak belakang dengan harapanku, idenya ternyata tidak mengecewakan Luis Miguel.

Kita kudu bikin sebuah nama fantasi, Nadia mengatakan malam itu juga, saat kami bermain Scrabble. Buat apa? Untuk perusahaan angkutan pindahan kita, dia berkata dengan penuh keriangan. Enggak ada lagi perjalanan jauh, enggak ada lagi jalan raya, katanya, dan kami sepakat, dan mengabdikan apa yang tersisa pada malam hari untuk memilih sebuah nama fantasi; dan pada akhirnya kami memilih yang itu, Fantasi, seperti yang disarankan oleh Nadia, tentu saja: Nama terbaiknya adalah Fantasi, Jasa Pindahan Fantasi, katanya, dan kami dengan senang hati menerimanya.

Keesokan harinya Nadia membuat papan tanda dan membelikan seragam kerja untuk kami bertiga. Dua minggu kemudian kami memiliki klien pertama kami, seorang pengacara yang akan segera menikah dan pindah ke sebuah rumah besar di Ñuñoa; dan sejak saat itu kami tidak berhenti.

Di lingkungan ini orang banyak yang pindahan, ini kayak virus, Nadia mengatakan setiap kali ditanya mengapa bisnis ini terus berjalan. Kami melukis truk itu dengan gambar-gambar yang menurut Luis Miguel sangat aneh, dan dia benar, tapi kami suka mewarnai pemandangan monoton rumah-rumah yang saling bersambungan itu dengan truk pengangkut yang meriah ini. Kami menyukai kehidupan semi-kewirausahaan kami yang baru ini; Kami menghabiskan berjam-jam membuat rencana dan memperbaiki rumah dengan banyak barang-barang yang ditinggalkan oleh klien. Ruang tamu dipenuhi lampu-lampu, kursi-kursi reyot, dan celana-celana sobek.

Suatu pagi ibuku datang tiba-tiba. Pada saat itu, hampir tiga tahun setelah kematian ayahku, kami hampir tidak berbicara lewat telepon. Tapi dia mengirimiku surat, surat panjang dan penuh kasih sayang, yang ditulis dengan tulisan tangan tipis, dengan begitu banyak jorong yang menakjubkan: Selatan. . . adalah tempat terindah di alam semesta. . . Osorno adalah kota yang tenang. . . tempat saya pernah berhubungan dengannya. . . saudara perempuan saya. Itu adalah hari ulang tahunku, tapi aku pasti tidak mengharapkan dia untuk berkunjung, apalagi jika dia membuka pintu dengan kunci lama miliknya dan masuk ke kamar tidurnya untuk melihatku tidur di pelukan Luis Miguel. Ibuku menangis atau mulai mengeluh; Aku mencoba menenangkannya tapi dia malah menjerit. Nadia dan kenalannya – istilahnya untuk tipe teman laki yang sering ia ajak tidur setiap saat – akhirnya muncul. Si kenalan ditinggalkan, dan Nadia dengan cepat membuat beberapa Nescafé dan mengunci diri dengan ibuku sepanjang hari. Luis Miguel ingin tetap tinggal, menemaniku, untuk mendengarkanku dengan ratapan dan teriakan dan keheningan misterius yang datang dari kamar tidur. Baru setelah malam turun, mereka muncul. Ibuku memelukku dan meraih tangannya ke Luis Miguel, dan kami memakan keju, kue kering, dan enguindado yang dibawanya sampai ibuku merasa sangat mabuk sehingga dia bersikeras agar kami menyanyikan “Selamat Ulang Tahun”. Ulang tahunmu tak datang tiap hari, kata ibuku sebelum mulai bernyanyi dan melambaikan tangannya.

Luis Miguel hampir tidak pernah melihat keluarganya lagi, tapi kali ini dia terpaksa berangkat pada tengah malam. Aku tidur di kamar Nadia, dengan Nadia di sampingku di tempat tidur sofa berkarat yang baru saja kami berikan kepada kami. Ibuku tidur di tempat tidur besar dan berangkat pagi-pagi sekali. Dia meninggalkan sebuah catatan dan dua puluh ribu peso di atas meja.

Catatan itu hanya mengatakan: Jaga dirimu. . .

3

Kami punya banyak pekerjaan, tapi kami menyukainya. Kami bahkan berpikir untuk membeli truk lain dan mungkin mempekerjakan orang lain. Tapi ceritanya berakhir dengan cara yang berbeda:

Luis Miguel kembali sangat gugup, dengan sebotol wiski di tangan. Ini adalah hadiah, katanya, kau adalah temanku, kita harus merayakannya, kau harus bahagia dengan berita ini.

Aku mengkhawatirkan yang terburuk. Dan aku benar: setelah beberapa tahun mengajukan lamaran, Luis Miguel dan istrinya telah mendapatkan subsidi dari pemerintah untuk membeli rumah mereka sendiri, sehingga pada akhir bulan mereka akan pindah jauh (tapi itu tidak akan menjadi masalah, kita akan terus bekerja sama, katanya), ke Puente Alto, ke sebuah rumah yang sedikit lebih besar. Aku menerima kata-katanya dengan marah dan sedih. Aku tidak ingin menangis, tapi aku menangis. Nadia juga menangis, meski dia tak ada urusannya untuk menangis. Luis Miguel meninggikan suaranya, seolah-olah melangkah ke dalam sebuah adegan yang mungkin dia latih di depan cermin; Dia tampak berada di luar dirinya sendiri, tapi hanya itu, sebuah penampilan: Dia berteriak dan membanting meja dengan penekanan yang salah. Dia berbicara tentang masa depan, mimpi, anak-anak, peluang, dunia nyata yang tidak kita ketahui sama sekali. Kebanyakan dari semua yang dia katakan tentang itu, tentang dunia nyata yang tidak kita ketahui sama sekali. Nadia menjawab untuk kami berdua: Dia mengatakan kepadanya bahwa pada tanggal 31 Oktober, pukul sembilan pagi, kami akan berada di rumahnya, bahwa dia harus menuliskan alamatnya, agar lebih baik mengepak perabotan dengan hati-hati. Jasa Angkut Fantasi akan memberikan perjalanan ini secara gratis, kampret, tapi sekarang angkat kaki dari sini untuk selamanya dan mulai cari pekerjaan lain.

Hari-hari berikutnya sangat mengerikan. Mengerikan dan tak ada gunanya.

Pada pagi hari tanggal tiga satu, kami terlambat lima belas menit. Luis Miguel tinggal di sebuah unit interior, di sebuah rumah tua untuk penyewa yang membayar dengan duit kecil. Pintu itu dibuka oleh salah seorang anak laki-lakinya, yang tertua, yang seusiaku, meski dia tampak lebih tua; Dia mirip sekali dengan ayahnya: alis yang sama lebatnya, sangat lebat, mata hitam, pipi agak gelap, tubuh yang besar dan indah. Putranya yang paling muda adalah anak laki-laki yang sangat gelap ketimbang enam atau tujuh lainnya yang bolak-balik, dia sedang membaca majalah. Istrinya baik hati. Kekasaran wajahnya tampak kontras dengan tatapan waspada; Sulit untuk tidak menjawab ekspresi itu dengan sapaan memerah. Dia menawari kami untuk dibuatkan teh dan kami menolak, dia menawari kami roti dengan selai blackberry tapi kami dengan sopan menolak; Kami tidak ingin duduk bersama mereka di meja. Seharusnya ini pekerjaan cepat; Seharusnya kami terlihat tak terlalu kentara, secukupnya. Tapi Luis Miguel mencariku, dengan keputusasaan yang telah kulihat sekilas beberapa kali dan sekarang mengungkapkan dirinya dengan begitu emosional.

Kami berangkat dengan truk, kami bertiga, dalam diam. Istri dan anak-anak akan pergi nanti; jadi ada waktu untuk mengucapkan selamat tinggal.

Kita tak akan bertemu lagi, kataku, dan dia setuju. Nadia memeluknya dengan kasih sayang. Aku tidak memeluknya: Aku keluar dan menunggunya di luar, selama dua atau sepuluh menit yang tidak berkesudahan. Kami tidak membicarakannya, tapi Nadia dan aku tahu bahwa kami menginginkannya, agar kami harus meninggalkan truk itu buatnya.

Kami berjalan berblok-blok untuk mencari bus. Setelah perjalanan yang sangat panjang kami sampai di rumah, berpegangan tangan.

Beberapa minggu yang lalu Nadia mulai bekerja sebagai sekretaris. Dia keluar pagi-pagi sekali, meninggalkan buku dan rokok untukku, dan saat dia kembali, kami minum secangkir teh.

Mungkin kamu harus menuliskan cerita ini, dia berkata kepadaku pagi ini, sebelum berangkat.

Baiklah, Nadia. Aku sudah menulisnya.

*

Diterjemahkan dari cerpen Alejandro Zambra berjudul Fantasy dalam Zoetrope: All-Story.

Zambra, dengan nama panjang Alejandro Andrés Zambra Infantas, merupakan penulis asal Cile. Dijuluki Roberto Bolano baru dan bintang sastra baru dari Amerika Latin.

Kategori
Celotehanku

Realisme Komersil

Kami manusia yang bernalar (miskin, tapi bernaral), bukan roh dari manual realisme magis, bukan kartu pos buat konsumsi asing dan bukan manipulasi hinaan atas kemelaratan nasional. – Roberto Bolano, Semua Menulis, Bukan Hanya di Cile

What is Literature For.MKV_snapshot_00.45_[2017.11.24_01.19.16]

Kenapa para pekerja kreatif, terutama yang katanya penulis, doyan bawa gawean ke kedai kopi? Jika Anda bertanya-tanya mengapa orang bekerja di kafe, jujur saja, sebut penulis Tony Tulathimutte, ini sebagian besar untuk mencegah masturbasi. Jawaban sangat Freudian dan saya sepakat. Perlu kebijaksanaan ala Diogenes dan kesintingan ekstra agar berani coli di depan publik, kalaupun nekat dengan sembunyi-sembunyi di bawah meja, ada kemungkinan kopi pesanan tumpah karena gempa mungil yang tercipta.

Di sanalah saya, Yellow Truck Coffee Jalan Sunda, beberapa meja diisi mereka yang menekuri laptopnya, hujan terus mengguyur di luar, saya memesan Americano panas, dan enggak ada kerja kebudayaan yang harus dibereskan sekaligus enggak ada kapalan yang perlu direpresi. Klub Baca Bandung mengundang dua penulis muda, Rio Johan dengan Ibu Susu-nya, novel oleh-oleh resedensi di Berlin, dan sohibnya Dewi Kharisma Michellia yang residensinya di Paris. Hujan dari sejak siang bikin yang datang sedikit, enggak kayak terakhir ikutan pas bahas Murakami setahun yang lalu. Dari yang hadir, saya bisa ketemu langsung sama seorang kolumnis ngepop dan seorang antropolog yang cuma berkait di media sosial. Sebagai yang enggak terikat sama klub atau lingkaran susastera apapun, gosip-gosip sastra teranyar yang saya kejar. Apalagi setelah baca How Fiction Works-nya James Wood dan How to Talk Book You Haven’t Read-nya Pierre Bayard, jadi pengen berbual-bual soal sastra.

Apa yang salah dengan seorang penulis Indonesia yang justru menulis novel berlatar Mesir Kuno? Rio sendiri mengaku banyak dikritik karena menulis dunia yang jauh, memilih enggak mengangkat kearifan lokal. Saya memuji Rio dengan argumen bahwa novel bukan sekedar kartu pos, yang hanya mengangkat eksotisme kampung halaman sang penulis. Apa itu membumi? Bahkan jika latarnya tentang kehidupan Mars, kalau ditulis dengan apik, lebih baik ketimbang cerita yang mengangkat kearifan lokal yang cuma berfungsi sebagai gimmick dan sangat permukaan. Saya mengomentari juga soal gaya Ibu Susu yang mirip Pyramid-nya Ismael Kadare, dan Rio memang menulis novel Kadare sebagai salah satu inspirasi di halaman epilog. Kadare memakai Mesir Kuno justru untuk mengkritisi Stalinisme yang pernah mencaplok negaranya Albania. Untuk pembacaan soal Ibu Susu, saya justru merasakan dunia sekuler dan seorang protagonisnya yang saya labeli kapitalis-filantropis yang oportunis.

Mimi, panggilan Dewi Kharisma, berpikir lebih visioner: Siapa sih penerbit luar yang tertarik menerjemahkan novel tentang Mesir Kuno yang ditulis seorang Indonesia? Rio justru rugi karena enggak menulis kearifan lokalnya, sebut Mimi. Dengan tetap mengkritisi bahwa novel yang menghadirkan mooi indie masih berupa tempelan, serta komentarnya terhadap novel-novel yang mengeksploitasi isu tragedi 65 supaya laku namun ditulis dengan buruk.

Dalam How Fiction Works, James Wood menyodorkan genre realisme komersil, sebagai salah satu brand paling kuat saat ini dalam fiksi. Brand yang secara ekonomi akan direproduksi, terus dan terus. Realisme sendiri hanyalah salah satu genre dalam fiksi, tak bisa dianggap lebih dekat dengan kenyataan dibandingkan genre lain. Realisme enggak lebih dari satu tata bahasa dan seperangkat aturan. Karena direproduksi terus-menerus, ia menjadi konvensi, lalu menjadi kebiasaan. Memberontak atas konvensi ini? Ia akan menciptakan konvensi baru, tentu saja. “Konvensi ini, seperti metafor, tidak mati tapi selalu sekarat. Seniman senantiasa mencoba mengakalinya.”

Wood juga mengutip Alain Robbe-Grillet dalam Pur un nouveau roman, yang menulis, “Semua penulis percaya bahwa mereka realis. Tak ada yang memanggil dirinya sendiri abstrak, ilusionistik, tak masuk akal, fantastik.” Robbe-Grillet melanjutkan bahwa jika semua penulis itu berhimpun di bendera yang sama, itu bukan karena mereka sepakat soal realisme; justru karena mereka ingin menggunakan ide berbeda mereka soal realisme untuk mengobrak-abrik yang lain.

Faktanya, apapun benderanya, dari realisme sosialis sampai realisme magis, akan masuk ke jurang yang sama bernama realisme komersil. Di sinilah kita berada, di satu kondisi menyebalkan ketika berkarya harus dikatrol selera pasar. Roberto Bolano adalah sosok nakal dan kontroversial, seorang penulis yang lantang menentang efek boom sastra Amerika Latin. Gabriel Garcia Marquez, Octavio Paz dan seluruh kanon karya realis magis menanggung beban amarahnya, Bolano terkenal karena menegaskan bahwa realisme magis itu berbau busuk. Ya, Bolano menciptakan realisme jeroannya, dan akhir ceritanya sudah dapat diprediksi, gaya tersebut jadi realisme komersil. Jauh setelah kematiannya, karya-karyanya terus dikomersialisasi, bahkan kalau ada tulisan Bolano ditemukan sudah pasti bakal diterbitkan.

Seseorang nampaknya harus lebih memikirkan cara merancap yang mutakhir ketimbang memikirkan realisme model baru, yang kemungkinan besar bakal dipecahkan algoritma.

Kategori
Korea Fever

Pop Coreano di Amerika Latin

“Di Chili, kami enggak punya sesuatu yang seperti K-pop. Lagu di sini kebanyakan sarat unsur politik dan sosial yang kolot, meski kami pun punya yang namanya irama Latin,” seorang gadis belia asal Santiago, yang berkumpul dengan kawan-kawan di taman tiap minggu untuk berlatih gerakan tarian K-pop terbaru (kalau di Bandung mah kayak di Taman Balaikota), mengatakan kepada kantor berita Yonhap, yang kemudian dilansir Time dalam Forget Politics, Let’s Dance: Why K-Pop Is a Latin American Smash. “Lagu-lagu Korea membuat saya menari dan tersenyum. Apa lagi yang dibutuhkan?”

Jika ada yang bertanya pada saya apa yang saya ketahui tentang Amerika Latin, barangkali saya akan langsung membayangkan kudeta militer, gaucho yang menunggang kuda, genre sastra realisme magis, para pemberontak Zapatista yang meski sedang dalam sengketa masih sempat-sempatnya baca puisi, perang antar geng dan kartel narkoba yang lebih aduhai ketimbang game Grand Theft Auto, serta para wanitanya yang rajin menang kontes kecantikan. Ya, sejauh yang saya tahu soal Amerika Latin, khususnya Chili, hanya melulu soal sepakbola, konstelasi politik dan kesusasteraannya; Pablo Neruda, Roberto Bolano dan Alejandro Zambra merupakan penulis asal Chile yang saya kenal, serta sukai. Tentu, yang kita yakin kita tahu akan sesuatu, apa pun itu, sebenarnya enggak lebih dari gambaran luar saja. Imajinasi yang terbentuk dari By Night in Chile-nya Bolano seakan luntur. Sebab Chili, bersama dengan Meksiko dan Peru, dinobatkan sebagai basis massa terbanyak yang terinfeksi gelombang hallyu.

Peru K Pop

Bukti paling mudahnya adalah banyaknya terjemahan subtittle video dan kolom komentar di Youtube yang berbahasa Spanyol. Bahkan, saya harus berterimakasih pada seorang fans K-pop asal Chili yang meski hanya dengan kualitas 360p telah berbaik hati mengunggah f(x) The 1st Concert ‘Dimension4 – Docking Station’ in Japan. Chili, yang saya tahu, pernah mengalami rezim sama seperti di Indonesia; Pinochet di Chili, Suharto di sini. Saya dan si pengunggah itu termasuk generasi setelahnya yang enggak mengalami masa tadi; generasi milenial di tengah pusaran banjir informasi, generasi yang sama-sama terpapar budaya pop dari Asia lainnya, Jepang dengan manga anime. Ada banyak fans f(x) di Chili ini, ungkapnya.

Musik pop Korea telah menjelma menjadi sejenis “bahasa” yang dimengerti banyak orang, sebut Eka Kurniawan dalam pos Identitas. Pengarang yang gandrung sastra Amerika Latin dan seorang Sone yang berbias Taeyeon ini lebih jauh menjelaskan bahwa apa yang kita kenal sebagai musik pop Korea pada dasarnya merupakan industri musik global: lagu diciptakan seniman dari satu negara Skandinavia, dinyanyikan penyanyi Korea, dan koreografi dirancang oleh seniman Jepang. K-pop sebagai identitas yang mereka ciptakan ini bisa mereka jual, menjadi semacam produk. Seperti Pop Mie, sebenarnya minim gizi, tapi seenggaknya bisa menahan lapar. Memang, K-pop telah jadi ekspor terbesar Korea Selatan.

Dalam penelitiannya, The K-pop Wave: An Economic Analysis, Profesor Patrick Messerlin menemukan bahwa “artis K-pop menunjukan kesopanan dan pengendalian diri,” dan “bersikeras bekerja keras dan belajar lebih banyak” selama penampilan publik, sesuatu yang artis pop Barat tidak lakukan. Ada semacam nilai-nilai Confusius. Musik mereka “baru, warna-warni dan ceria,” dan bukan “sebuah orde lama,” sesuatu yang akan dengan mudah menarik jutaan anak muda Amerika Selatan, yang hidup dalam tantangan ekonomi yang banyak dan rezim non-demokratik pada umumnya. Energi positif K-pop adalah dunia yang jauh dari sesuatu yang introspektif, meletihkan dan kadang-kadang muram seperti dalam rock Anglophone, indie dan emo. “[Orang-orang Korea] mengatakan, ‘Kami memahami masalahmu,'” Messerlin menjelaskan, “‘Kami pernah melalui itu juga,'” mengacu pada Perang Korea dan kejatuhan ekonomi akhir 1990-an.

Soal pemberitaan akan kesuksesan penyebaran hallyu di Amerika Latin ini mendapat kritikan dari Wonjung Min, profesor dan kepala bagian Asian Studies di Universitas Katolik Chili. Memang ini sebuah subkultur, tapi tidak seheboh yang diberitakan media.

“Meskipun Anda tidak akan percaya, di Peru grup K-pop malah jadi lebih populer ketimbang Justin Bieber, Lady Gaga atau Demi Lovato,” sebut Diana Rodriguez, yang memanfaatkan tren dengan menyelenggarakan kontes tari Korea di seluruh Peru, seperti dilansir Inquirer dalam K-Pop invades Latin American countries. Sentimen terhadap Amerika Utara pun disinyalir jadi salah satu faktor kenapa K-pop jadi lebih diterima.

Suatu hari di Meksiko, Maya Sánchez secara acak mengklik video grup Korea Big Bang. Tentu, dia enggak paham liriknya, tapi dia kemudian menyukai gayanya yang ‘menyilaukan mata’ itu. Sejak saat itulah dia jadi fans K-pop. “Saya bosan nonton video dari penyanyi pop yang sama dari Amerika Serikat kayak Selena Gomez dan Miley Cyrus,” kata Sánchez. “Cuma gitu-gitu aja.”

Dari Meksiko, balik lagi ke Peru. “Saya sudah menyukai K-pop sejak saya masih berusia 10 tahun,” ungkap Araceli Galan, mahasiswa berusia 19 tahun di sebuah universitas lokal. “Saya belajar segala sesuatu dari internet karena di sini di Peru enggak banyak diputar radio atau televisi.”

Internet, utamanya Youtube, punya peranan kunci dalam penyebaran gelombang Korea ini. Untuk lebih jelasnya berupa riset dan data dapat dibaca di jurnal ilmiah bikinan María del Pilar Álvarez ini: Who are the fans? Understanding the K-pop in Latin America. (Anjir, saya maulah jadi peneliti Hallyu studies)

“Ayah saya mendengarkan rock berbahasa Inggris; dia enggak suka K-pop sama sekali,” kata Galan. Tentu, akan selalu ada orang tua macam begini, seperti Mario Vargas Llosa dalam How Global Entertainment Killed Culture, bahkan dari sejak Hegel, mereka yang selalu sinis terhadap apa-apa yang didengarkan para bocah. “Dia bilang ke saya, ‘Mengapa kamu dengerin musik begitu jika kamu enggak ngerti bahasa Korea?” Dan saya mengatakan kepadanya bahwa dia pun enggak tahu gimana ngomong bahasa Inggris. Musik itu hanya perlu dirasa, kok.”

pic-1_custom-16998febef257b7b5e7445fcfa45c160155841c6-s800-c85

“K-Pop benar-benar mengubah hidup saya,” ungkap Samantha Alejandra asal Mexico City dalam Meet Latin America’s Teenage Korean Pop Fanatics, sebuah romantisme yang dirasakan pula para hijaber doyan kpop di Indonesia atau Malaysia atau di Timur Tengah, yang membuat geram orang-orang soleh lainnya, untuk kemudian memfatwakan haram pada barang impor ini. “Saya kecanduan,” tegas Alejandra.

Pertanyaan menarik adalah, sebagai sekumpulan massa, akankah fans K-pop ini jadi semacam gerakan counterculture seperti halnya The Beatles yang berkat popularitas bisa menginspirasi gerakan perdamaian pada medio 60an? Beberapa waktu lalu, dalam suatu protes yang dilakukan para mahasiswa Ewha Woman University, ketika pihak kampus meminta bantuan ratusan aparat, mereka tetap tegar dan menyemangati diri dengan lagu ‘Into the New World’-nya SNSD. Atau, bagaimana orang Korea Utara yang rela mendekat ke perbatasan hanya untuk mendengar lagu-lagu Kpop yang disetel keras-keras Selatan di zona demiliterisasi, yang disebut ‘Popaganda’, tes nuklir dari pihak Pyongyang dibalas ‘Let Us Just Love’-nya Apink. Atau, seperti suporter bola, karena sifat fanatismenya sama, akan disusupi paham fasis, misalnya suporter Boca Juniors yang disebut dalam Nazi Literature in the Americas-nya Bolano, ada agenda sayap-kanan ultranasionalisnya?

Kategori
Celotehanku

Berkenalan dengan Realisme Magis

“Saat kita menemukan dunia ini terlalu buruk,” sabda novelis Gustave Flaubert, “kita butuh mengungsi ke dunia lain.” Maka Gabriel Garcia Marquez menemukan dunia lain itu dalam fiksi. Ya, kita bakal menikmati keasyikan akan penemuan sebuah dunia yang hilang, petualangan masa silam lewat pengembaraan sebuah semesta dari novel-novelnya penulis kelahiran Kolombia ini.

Begitu pula ketika menyelami Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan – yang notabene banyak terinspirasi dari Marquez dan penulis Amerika Latin lain yang hobi membenturkan pemaparan realisme dengan unsur fantasi. Nah, novel realisme magis inilah yang saya pilih untuk Kelas Resensi Buku Lisan Komunitas Aleut pekan ke-13. Dan dua minggu sebelumnya pun saya menunjuk novel dengan spesies sama dari Haruki Murakami, Kafka on The Shore.

Ah ternyata realisme magis sungguh lezat. Apalagi ketika mencicipi kedua novel tadi, saya sukses dibikin ngaceng berkat unsur stensilannya Eka dan hentai khas Murakami. Ajaib dan nyata!

***

Sabtu, 26 September 2015. Hari sedang senja dan bertepatan dengan Persib Day, sekitar sejam lagi menuju kick-off.

“Jadi sebagai pegiat Aleut, gimana kamu menanggapi Eka yang mengacak-acak sejarah di novelnya ini?” tanya pendiri dan editor Pandit Football Indonesia, yang sudah mafhum betul soal realisme magis kalau melihat artikelnya di detikSportObituari Gabriel Garcia Marquez: Surealisme Sepakbola Amerika Latin.

Duh. Satu kesulitan terbesar saya adalah mengolah yang ada dalam otak untuk diturunkan jadi bahasa verbal yang runtut. Ditambah lagi makin tertekan, karena Mang Zen sang penanya ini literary brother alias saudara seperguruannya penulis Beauty Is a Wound tadi.

“Justru Eka hendak mengolok-olok pemaknaan sejarah. Bahwa sejarah nggak melulu soal benar salah, hitam putih,” bacot saya, entahlah, lupa lagi redaksi kalimat aslinya, “malahan saya lebih percaya sejarah yang diceritakan dalam novel ini.”

kelas resensi komunitas aleut

Foto: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Menulis sejarah versi alternatif pada zaman kekinian nampak rumit: versi buku sejarah, versi budaya lokal, versi pengalaman pribadi. Lalu, apakah sejarah hanya pantas menjadi tema sebuah karya realis, yang mesti menghormati “fakta sejarah”, dalam arti sang pengarang harus melakukan riset sebelumnya dan kebebasannya dalam membangun plot dan tokoh dibatasi “fakta sejarah” tadi?

Soal ini sudah dibahas oleh Katrin Bandel dalam esai ‘Pascakolonialitas dalam Cantik Itu Luka‘. Dan ya, realisme magis adalah gaya yang pas untuk diterapkan dalam sastra pascakolonial, seperti yang sering dipakai para penulis Amerika Latin. Karena di tengah konsep sejarah yang plural, cerita fantastis yang membingungkan justru menjadi sejarah paling otentik yang bisa ditulis. Sebenarnya, jauh sebelum Marquez dan kawan-kawan, kakek-nenek moyang kita pun sudah lebih dulu menggunakan gaya penceritaan realisme magis. Sebabnya penulisan sejarah adalah bagian dari konstruksi identitas, misalnya yang dilakukan penguasa untuk melegitimasi kemaharajaannya. Raja-raja masa silam sering mencitrakan silsilah bahwa dirinya keturunan dewa-dewi.

Tapi bukan penguasa saja yang berhak atas sejarah. Oleh sebab itu, Cantik Itu Luka bisa dilihat sebagai sebuah penciptaan versi alternatif sejarah Indonesia dengan gaya mimpi dan main-main. Setara dengan 100 Hundread Year of Solitude-nya Marquez yang mencitrakan Kolombia, lebih jauh menyoroti Amerika Latin. Realisme magis hadir untuk merayakan nuansa pertentangan dua pandangan dunia, antara yang rasional dan saintifik Barat, dengan yang mistis klenik asli Timur, antara yang dominan dan yang terpinggirkan.

***

“TIKET HABIS, RANDA BANYAK!”

“CALO SETAN!”

Sungguh, realisme magis bukan hanya berlaku dalam karya fiksi. Meski bukan Moconda-nya Marquez dan Halimunda-nya Eka, di Bandung yang sesungguhnya pun kegilaan dan keajaiban bisa terjadi, sepakbola lah sebabnya, utamanya Persib. Satu contoh kecilnya, seorang jomblo macam saya pun bisa berbahagia pada malam Minggu, ketika secara serempak antara Persib, Tottenham dan Barcelona meraih kemenangan. Serasa dapat bidadari bernama Devi Kinal Putri jatuh dari langit dan hinggap dalam pelukan.

Maca mah teu nanaon karya fiksi, tapi kabogoh mah ulah fiksi oge atuh.” Membaca boleh karya fiksi, tapi pacar jangan fiksi juga, sebuah nasihat yang dilontarkan esais yang pandai mengawinkan sepakbola dan sastra itu di malam Minggu yang lain. Sialan!