Kategori
Catutan Pinggir

Sylvia Plath Si Scorpio

plath1

Sylvia Plath adalah bukti pasti bahwa astrologi itu nyata. Bagi siapa saja yang menggumuli astrologi, sangat jelas apa zodiak Plath: Scorpio. Tentunya, dan sayangnya, Plath sangat terkait dengan kematian. Dia terkenal karena tulisannya yang gelap dan mendalam juga berkat bunuh dirinya di usia 30 tahun. Kematian telah lama merasuki Plath, yang tanpa henti mendatanginya dalam karya-karyanya. “Kami berbicara tentang kematian dengan intensitas membara, kami berdua tertarik pada hal itu seperti ngengat pada bola lampu listrik, terus mengisapnya,” kenang teman dan sesama penyair (dan sesama Scorpio) Anne Sexton. “Dia menceritakan kisah tentang bunuh diri pertamanya dengan detail yang manis dan penuh cinta, dan deskripsinya dalam The Bell Jar adalah kisah yang sama.”

Jadi sangat pas kalau Plath lahir di bawah Scorpio, zodiak yang terkait dengan kematian (dan punya kartu tarot yang sesuai). Baik dalam astrologi maupun tarot, kematian tidak inheren dengan sesuatu yang negatif; ia menawarkan kesempatan untuk regenerasi atau kelahiran kembali. Scorpio diperintah oleh Pluto, planet transformasi, alam bawah sadar, dan yang tak diketahui. Plath selalu kembali ke tema-tema ini dalam karyanya, keduanya memeriksa keberadaan harian dan mencoba menariknya kembali melalui puisinya.

Kualitas pribadi dari suatu tanda ditemukan dalam kualitas dan elemennya. Scorpio adalah tanda tetap, menyebabkan mereka yang lahir di bawahnya menjadi degil, penuh tekad, dan keras kepala. Ini tercermin dalam karier menulis Plath; dia capai dari usia muda (puisi pertamanya diterbitkan pada usia delapan tahun) dan mematok standar sangat tinggi untuk dirinya sendiri. Ketika dia menulis dalam semi-otobiografi The Bell Jar, “Hal terakhir yang aku inginkan adalah keamanan yang tak terbatas dan menjadi tempat sebuah panah ditembakkan. Aku ingin perubahan dan kegembiraan dan untuk menembak ke segala arah, seperti panah-panah berwarna dari roket pada hari kemerdekaan.”

Dari empat tanda tetap, Scorpio mewakili unsur air, yang dikaitkan dengan emosi, intuisi, dan imajinasi. Plath dikaitkan dengan penyair “confessional”, yang menyelami kehidupan batin mereka untuk menerangi tema yang lebih besar. Dia mulai mengeksplorasi gaya penulisan ini setelah menghadiri kelas dengan Robert Lowell pada tahun 1958; Lowell, bersama dengan rekan mahasiswanya Anne Sexton, mendorongnya untuk menyelidiki pengalaman emosionalnya. Pada saat inilah Plath, yang sudah menjadi profesor, mulai menganggap dirinya sebagai seorang penyair yang serius; Setahun kemudian, ia menerbitkan koleksi pertamanya, The Colossus.

Baik tanda terbit Plath yang Aquarius, dan tanda bulan Libra, adalah tanda-tanda udara – elemen yang terkait dengan kecerdasan dan komunikasi. Karena diperintah oleh Uranus, Aquarius dikaitkan dengan kejutan-kejutan dan yang tak terduga; Libra, di sisi lain, diperintah oleh Venus, planet cinta dan keindahan. Secara astrologis, posisi-posisi inilah yang memungkinkan Plath begitu fasih, inovatif, dan cerdas menghubungkan gejolak emosionalnya.

Astrologi bukanlah ilmu yang sempurna atau, seperti yang dibilang oleh beberapa orang, sama sekali bukan merupakan ilmu. Tetapi kondisi kelahiran Sylvia Plath menjanjikan individu yang intens yang sangat berhubungan dengan alam di luar pemahaman kita, yang secara pasti mendorong menuju kesuksesan dan mampu mengubah secara indah apa-apa yang dia alami.

*

Diterjemahkan dari Literary Horoscope: Sylvia Plath.

Kategori
Celotehanku

Para Penulis Scorpio

para-penulis-scorpio

Kalajengking adalah dia yang menyimpan racun dalam tubuhnya. Termasuk kalajengking tadi, saya lahir di tanggal antara tanggal kelahiran Pablo Picasso dan Sylvia Plath. Sebagai scorpio, saya enggak percaya ramalan bintang, dan scorpio yang percaya zodiak pasti dia scorpio bajakan. Kami, para scorpio, menolak untuk percaya omong kosong ini. Masalahnya, para scorpio adalah mereka yang penuh omong kosong. Astrologi itu fana, scorpio yang benar-benar abadi. Entah kenapa saya bisa bersimpati pada mereka yang berzodiak scorpio, yang seringnya melahirkan karya-karya depresif. Meski enggak ngerti soal lukisan, saya bisa merasakan kegetiran dalam lukisan Guernica-nya Picasso, yang pernah saya jadikan header blog ini, juga, meski enggak ngerti-ngerti amat puisi, saya terenyuh pas baca sajak-sajak Plath, yang notabene penulis favorit saya.

Bagi saya, novel yang bagus adalah yang membuatmu merasa memahami tokoh-tokoh di dalamnya, dan novel hebat adalah yang membuatmu memahami dirimu sendiri. ‘The Bell Jar’, satu-satunya novel karya Sylvia Plath, menjadi novel coming-of-age pertama yang sukses menyuarakan gundah gulana masa remaja saya, bahkan sampai sekarang. “Saya merasa sangat sunyi dan hampa, seperti yang terjadi pada mata tornado, hanya bergerak kuyu di tengah kebisingan sekitarnya,” tulisnya. Kisah klasik tentang kegalauan dan pencarian jati diri. Sehingga enggak bisa enggak, saya terpaksa menjadikan penulis yang bunuh diri membenamkan kepalanya dalam oven ini sebagai penulis kesukaan saya.

Dostoyevsky ternyata scorpio, pantesan tokoh-tokoh novelnya dramatis semua, komentar Bernard Batubara di tanggal 11 November. Sebelumnya, saya pun merekomendasikan Sylvia Plath ketika penulis Metafora Padma itu nyari-nyari siapa penulis wanita yang zodiaknya scorpio. Ternyata, di tanggal yang sama, 11 November, selain kelahiran Fyodor Dostoyevsky sang penulis besar Rusia itu, juga ulang tahun dari Carlos Fuentes dan Kurt Vonnegut. Penulis-penulis kece yang berbagi zodiak yang sama dengan saya. Saya jadi penasaran untuk mencari penulis-penulis berzodiak scorpio, dan hasilnya membuat saya besar kepala. Para penulis scorpio itu diantaranya Erasmus yang namanya diabadikan jadi universitas ternama di Belanda, Voltaire sang filsuf besar dari era Pencerahan Prancis, John Keats sang penyair Romantik Inggris, Bram Stoker yang memperkenalkan dracula, Ezra Pound penyair dan kritikus penting dalam gerakan modernis awal, Albert Camus si filsuf ganteng, Michael Crichton yang nulis Jurasic Park dan banyak lainnya, saya tulis aja biar panjang: Robert Louis Stevenson, Chinua Achebe, Karen Armstrong, Margaret Atwood, J.G. Ballard, Anne Sexton, Michael Cunningham, Don DeLillo, Neil Gaiman, Kazuo Ishiguro, Alan Moore, Zadie Smith, Arif Abdurahman, dan lainnya. Untuk penulis Indonesia, saya cuma tahunya Okky Madasari sama Ayu Utami yang bahkan mengurasi buku ‘Kisah Orang-orang Scorpio’. Dari sekian nama penulis yang disebut tadi, memang banyak yang belum saya baca karyanya, satu yang pasti, saya selalu terkesan ketika membaca karya-karya dari penulis scorpio itu. Selain dramatis bin depresif, scorpio suka akan tema seputar seks dan kematian, dan memang begitu yang saya rasakan.

Katanya dibalik sifat scorpio yang cuek dan dingin, ada sifat romantis yang bisa membuatmu hangat, bahkan gombalannya bisa sangat menyengat. “Bintang scorpio,” lantun Heidy Diana dalam lagu lawas ‘Bintangku Bintangmu’, “diam-diam menghanyutkan.” Scorpio juga katanya zodiak yang paling perasa, mereka penuh gairah dan setia. Dalam hal artistik, scorpio jawaranya. Sebagai scorpio, saya masih enggak percaya zodiak-zodiakan, kecuali yang baik-baiknya tadi, hehe. Astrologi memang omong kosong, tapi soal kepenulisan, jika ada yang namanya gerombolan penulis bernama Transendentalisme, Lost Generation, Pujangga Baru, Frankfurt School, Beat Generation, atau Visceral Realist, maka harus ada kumpulan ‘Para Penulis Scorpio’. Meski berbeda zaman, mereka selalu memiliki keterkaitan.

Sebuah kesalahan memang menjadi Scorpio. Harusnya ini masuk kejahatan perang. Mereka tahu bahwa mereka adalah monster mengerikan dan mereka pikir itu lucu. Beruntungnya, karena hidup yang kita jalani harus melewati yang namanya kehampaan dan keterasingan, racun dalam diri scorpio adalah obat paling mujarab bagi yang lain. Para penulis scorpio itu lihai mentransformasikan kegundahannya menjadi deretan kata-kata, yang selanjutnya akan jadi katarsis bagi kegundahan orang lain. “Untuk semua yang hatinya patah dan siapa pun yang merasa sedih, semoga hatimu sembuh dan semoga kalian berbahagia,” sebuah nasihat dari Krystal Jung, member girlband f(x) paling melek fesyen, dan seorang scorpio. “Mengepaklah seperti kupu-kupu.”