Kategori
Catutan Pinggir

Balada Esais Bau Kencur

59732eba2100008860fc82c7

Kebanyakan artikel Tirto kalau dibaca rasanya kayak novel terjemahan. Rasa Zen RS. Rasa Catatan Pinggir. Rasa daftar pustaka yang dibikin berbunga-bunga. Serbuan komentar pada satu produk tulisan saya. Yang asyik dari adanya media sosial adalah timbulnya polusi notifikasi; meningkatnya nafsu berkomentar sekaligus munculnya rasa haus untuk melihat komentar-komentar tadi – bahkan berlanjut untuk menimpali komentar tadi, kalau sekiranya foto profil si komentator menarik hati. Komentar-komentar buat produk tulisan saya tersebut bisa ditangkap sebagai pujian sekaligus hinaan, atau bisa juga sebagai latihan menulis paling ampuh: menerjemahkan tulisan dari bahasa asing, berguru langsung pada yang lebih jago, menulis ulang teks orang, dan memperpanjang daftar bacaan. Juga, dan di zaman kiwari ini makin terasa, keahliaan oportunistik paling berguna di bawah payung demokrasi liberal dan sistem kapitalisme lanjut adalah memanjat tangga sosial dan memperluas koneksi orang dalam. “Menulis itu hanya omong kosong,” seorang George Orwell mewejang, “Hanya ada satu cara untuk menghasilkan uang dari menulis: kau harus menikahi anak pemilik penerbit.” Baca keadaan lebih penting ketimbang baca buku atau baca komentar seliwatan di medsos.

Kalau saja bisa baca keadaan, harusnya saya berhenti bermimpi jadi penulis dan menjauhi ide sosialisme untuk kemudian banting stir mengambil prospek karier yang lebih bersahabat dengan pasar bebas. Kalau pun masih keukeuh pengen jadi penulis, solusi terbaik adalah belajar menulis puisi liris kacangan, bikin novel yang penuh kata-kata bijak agar bisa dikutip, buat esai yang didanai neolib atau jadi seleb medsos beratusribu pengikut agar dilirik pengiklan dan partai politik. Tentu, saya memilih jalan makadam. Motif terburuk untuk menulis: tenar, punya pengaruh, bisa ngeseks, mengakumulasi kekayaan, rasa hormat. Motif terbaik: balas dendam, angst, gangguan kepribadian, kapalan, datangnya berbagai tagihan. Menulis beragam artikel sok intelek dengan mencatut pemikiran Frankfurt School yang hanya bakal dibaca judulnya, membikin tulisan sepanjang seribu kata yang cuma ditengok infografisnya, memproduksi beragam tulisan di berbagai media lain agar bisa dipajang di sidebar blog, ingin menjadi penulis karena tidak ada pekerjaan lain yang memungkinkan saya untuk secara rutin bisa begadang sampai pukul 4 pagi, atau yang terbaik: menulis dengan iringan playlist Youtube acak dari lagu Kpop ke Internasionale bahasa Urdu sampai himne Popular Front for the Liberation of Palestine.

 

 

Kategori
Catutan Pinggir

Membicarakan Buku yang Belum Terbaca

ad-amazing-libraries-18

Saya ingat, meski ingatan saya mungkin salah, sebuah artikel hebat dari Giorgio Manganelli yang menjelaskan bagaimana pembaca mutakhir dapat mengetahui apakah sebuah buku layak dibaca meski dia belum membukanya. Dia tidak mengacu pada kapasitas yang sering dipunyai seorang pembaca profesional, atau seorang pembaca tekun dan cerdas, yang menilai dari kalimat pembuka, yang melirik dua halaman secara acak, yang melihat indeks, atau seringnya lewat membaca daftar pustakanya, untuk menentukan apakah buku tersebut layak dibaca. Yang seperti ini, saya pikir, hanyalah soal pengalaman. Bukan ini, Manganelli sedang berbicara tentang semacam iluminasi, sebuah kurnia yang dengan bukti jelas dan secara paradoks dia klaim memilikinya.

How to Talk About Books You Haven’t Read, oleh Pierre Bayard, seorang psikoanalis dan profesor sastra, bukanlah tentang bagaimana Anda mengetahui meski tidak membaca bukunya melainkan bagaimana Anda dapat bisa dengan senang hati membicarakan sebuah buku yang belum Anda baca, bahkan sebagai bahan kuliah ke murid-murid Anda, bahkan ketika bukunya itu sangat penting. Perhitungannya begitu ilmiah. Perpustakaan yang hebat menyimpan beberapa juta buku: bahkan jika kita membaca satu buku sehari, kita hanya akan membaca 365 buku selama setahun, sekitar 3.600 buku dalam sepuluh tahun, dan antara usia sepuluh dan delapan puluh tahun kita hanya membaca 25.200 buku. Jumlah yang sedikit. Di sisi lain, setiap orang Italia yang memiliki pendidikan menengah yang mumpuni tahu betul bahwa mereka dapat berpartisipasi dalam sebuah diskusi, katakanlah, soal Matteo Bandello, Francesco Guicciardini, Matteo Boiardo, tentang tragedi Vittorio Alfieri, atau tentang Confessions of an Italian-nya Ippolito Nievo, cukup mengetahui nama dan sesuatu tentang konteks kritisnya, meski tanpa pernah membaca sepatah kata pun.

Dan konteks kritis ini yang menjadi pokok penting Bayard. Dia menyatakan tanpa rasa malu bahwa dia tidak pernah membaca Ulysses dari James Joyce, tapi dia dapat membicarakannya dengan menyinggung fakta bahwa buku ini adalah penceritaan ulang soal Odyssey, yang juga dia akui tak pernah membacanya secara keseluruhan, bahwa buku ini didasarkan pada sebuah monolog internal, bahwa latar buku tersebut berlangsung di Dublin selama satu hari, dan lain-lain. “Sebagai hasilnya,” tulisnya, “saya sering mendapati diri saya menyinggung Joyce tanpa sedikit pun gelisah.” Mengetahui hubungan buku dengan buku lain seringkali berarti Anda tahu lebih banyak tentang buku itu ketimbang jika Anda benar-benar membacanya.

Bayard menunjukkan bagaimana, ketika Anda membaca beberapa buku tertentu yang terbengkalai, Anda menyadari bahwa Anda sudah familiar dengan isinya karena telah dibaca oleh orang lain yang telah membicarakannya, dikutip dari mereka, atau peralihan ide yang sama. Dia membuat beberapa pengamatan yang sangat kocak pada sejumlah teks sastra yang mengacu pada buku yang tidak pernah dibaca, termasuk Robert Musil, Graham Greene, Paul Valéry, Anatole France, dan David Lodge. Dan dia menghormati saya dengan mengabdikan satu bab buat membahas The Name of the Rose punya saya, ketika William dari Baskerville menunjukkan keterkaitan dengan buku kedua karya Aristoteles, Poetics, sambil memegangnya di tangannya untuk pertama kalinya. Dia melakukannya karena alasan sederhana bahwa dia menyimpulkan apa yang dikatakannya dari beberapa halaman Aristoteles lainnya. Saya tidak mengutip bagian ini karena kesombongan saja, meskipun, seperti yang akan kita lihat di akhir artikel ini.

Aspek yang menarik dari buku ini, yang tidak terlalu paradoks dari yang terlihat, adalah kita juga melupakan sebagian besar dari jumlah buku yang benar-benar kita baca, dan memang kita membangun semacam gambaran maya tentang buku-buku itu yang bukan soal apa yang buku-buku itu katakan tapi apa yang buku-buku itu bangun dalam pikiran kita. Sehingga jika seseorang yang belum membaca buku mengutip pasase atau situasi yang tidak ada di dalamnya, kita siap untuk percaya bahwa mereka ada di dalam buku tersebut.

Bayard tidak begitu tertarik pada orang-orang yang membaca buku orang lain, seperti juga gagasannya — dan inilah suara seorang psikoanalis ketimbang seorang profesor sastra — bahwa setiap pembacaan atau pembacaan-tanpa-membaca atau pembacaan tak sempurna pasti memiliki aspek kreatif, dan karenanya, secara sederhananya, pembaca harus melakukan sendiri hal ini. Dan dia menantikan prospek sebuah sekolah di mana siswa “mengada-ada” buku yang tidak perlu mereka baca, karena berbicara tentang buku yang belum dibaca adalah sebuah sarana untuk kesadaran diri.

Kecuali Bayard menunjukkan bagaimana, ketika seseorang berbicara tentang sebuah buku yang belum dibacanya, mereka yang telah membaca buku tersebut tidak menyadari apa yang dia katakan tentang hal itu salah. Menjelang akhir bukunya, dia mengakui bahwa dia telah mengenalkan tiga potongan informasi palsu dalam ringkasan The Name of the Rose, The Third Man-nya Graham Greene, dan Changing Places-nya David Lodge. Yang lucu adalah, ketika saya membacanya, saya segera menyadari kesalahan soal Graham Greene, ragu tentang David Lodge, namun tidak menyadari suatu kesalahan dalam buku saya. Hal ini mungkin karena saya tidak membaca buku Bayard dengan benar, atau sebaliknya, dan dia dan pembaca saya berhak mencurigai ini, bahwa saya hanya membolak-balik bukunya. Tapi yang paling menarik adalah Bayard telah gagal memperhatikan bahwa, dalam mengakui tiga kesalahan yang disengaja, dia secara implisit mengasumsikan bahwa satu cara membaca lebih tepat daripada yang lain, sehingga dia melakukan studi teliti terhadap buku yang dia kutip secara berurutan untuk mendukung teorinya tentang tidak membacanya. Kontradiksi itu sangat jelas sehingga membuat orang bertanya-tanya apakah Bayard benar-benar telah membaca buku yang ditulisnya sendiri.

*

Dikutip dari Chronicles of Liquid Society. Umberto Eco adalah seorang novelis, esais, kritikus sastra, dan filsuf asal Italia. Juga profesor dalam masalah semiotik dan budaya populer.

Kategori
Cacatnya Harianku

Saya Mau Hidup Seribu Tahun Lagi, dan Menyia-nyiakannya dengan Membaca Sepuasnya

c0mbly0ukaqssxm

Usianya 22, ketika timbul keyakinan bahwa seni-sastra adalah pilihan hidupnya. Seperti para rasul yang menyepi untuk menanti wahyu, ia mulai memenjarakan diri di antara tumpukan buku dan melahap beragam bacaan tadi, dan harus melewati delapan tahun penuh kesepian dan keputusasaan sampai novel perdananya rilis. Menjadi penulis di negara yang, seperti kata ibunya, enggak akan membeli dan membacanya, tentu suatu keberanian, juga ketololan. Di usia yang sama, saya mendapat suntikan kedunguan, seperti Nobelis asal Turki itu, ingin jadi penulis. Penulis seperti apa? Saya enggak tahu. Sastrawan, maksudnya? Hmm, bahkan saya masih bingung apa itu dan untuk apa ada sastra. Ingin menulis novel? Ya, ini memang satu impian saya. Maka saya mengikuti langkah penulis yang jadi pendukung tim sepakbola Fenerbahçe itu. Baca, baca, baca, seperti yang sering ditulis dalam tips untuk menulis. Tapi, makin banyak membaca, malah makin bikin saya bingung, akan segala hal. Juga rasa bimbang. Bahwa saya sebenarnya lebih berbakat berak ketimbang menulis. Saya nampaknya bisa merasakan apa yang dialami Orhan Pamuk tadi. Ah, haruskah saya menjalani masa-masa sialan ini sampai usia 30 seperti dia? Kini, sudah melewati setahun perjalanan untuk menjadi The Naive and Sentimental Novelist, dan nampaknya kudu mencari jalan dari penulis lain. Jadi pemilik bar, atau tukang cuci piring, misalnya. Tapi sial, mereka pun enggak bisa lepas jadi seorang pembaca rakus.

Membaca lebih penting ketimbang menulis, sebut seorang penulis asal Chili. Membaca, tambahnya dalam tulisan lain, seperti berpikir, seperti berdoa, seperti berbincang dengan seorang kawan, seperti mengejawantahkan ide-idemu, seperti menyimak ide-ide orang lain, seperti mendengarkan musik, seperti melihat pemandangan, seperti berjalan-jalan di pantai. Saya membaca sampai sepuluh bukunya di tahun ini. Apa yang menarik darinya? Ngalor-ngidul seenak udel, yang sering membuat saya balik bertanya, Cerita apaan sih? Novel The Savage Detectives dan kumpulan bacotannya di The Last Interview-nya, adalah bacaan mengasyikan, dan penting buat saya di tahun ini. Jika suatu saat diwawancarai soal siapa penulis favorit saya, maka penulis bernama Roberto Bolano ini yang bakal saya sebut. Dan semoga di saat itu, saya mampu menjawab selincah dan secemerlang Bolano. Nasibnya hampir mirip Franz Kafka, karya-karya Bolano diterjemahkan dan diperhatikan, justru setelah mereka meninggal. Bolano meninggal pada 2003. Beberapa hari ke belakang, saya bisa ngobrol singkat dengan Ronny Agustinus, aktor penting di balik penerbit Marjin Kiri, juga penerjemah favorit saya, dan bertanya siapa penulis dunia yang lagi panas hari ini. Bolano, Roberto Bolano, jawabnya. Apa bakal menerbitkan terjemahan karyanya? tanya saya. Wah, susah juga, timpalnya ragu, bukan soal menerjemahkan, tapi lebih ke arah hak cipta yang masih mahal. Saya sendiri membaca Bolano dalam bahasa Inggris, dan dari buku digital hasil mengunduh ilegal. Membajak, saya kira, adalah perlawanan paling mudah pada kapitalisme. Ditambah, membaca adalah pekerjaan mulia. Aku berubah dari seorang pembaca bijaksana menjadi seorang pembaca yang rakus, ungkap Bolano dalam tulisan Who Would Dare? (terjemahan saya: Curi Buku Ini), dan dari seorang pencuri buku menjadi pembajak buku. Nampaknya, saya tengah menapaki langkah dia. Silahkan unduh beragam buku Bolano, atau penulis lainnya, sepuasnya di perpustakaan daring saya ini.

goodreads-2016

Mempunyai bahasa ibu, patut disyukuri. Bisa dibilang bahasa utama saya adalah Sunda, bukan Indonesia. Meski memang untuk membaca, saya hanya menyelesaikan tiga buku: Si Pucuk Kalumpang, dongeng Sunda baheula yang dituliskan kembali oleh Ajip Rosidi, Hujan Munggaran, kumpulan cerpen dari Ayatrohaedi, dan Palika jeung Jin, saduran salah satu fragmen cerita Seribu Satu Malam oleh Moh. Ambri. Soal terjemahan, ada beragam penulis dunia yang telah dialihbahasakan ke Sunda. Palika jeung Jin sendiri adalah saduran dari cerita The Fisherman and the Jinnie, dan yang membuatnya menarik adalah diselipkannya wawacan, penulisan prosa yang berbentuk puisi. Pengalaman yang menyenangkan. Tapi, kalau dipikir-pikir, kemampuan membaca bahasa Inggris saya nampaknya lebih baik ketimbang membaca teks Sunda.

Seperti yang saya bilang tadi, bahasa Indonesia hanya jadi bahasa kedua. Sampai sekarang, saya masih kesulitan untuk mengungkapkan sesuatu dalam bahasa Indonesia. Membaca penulis Indonesia tentu pilihan yang tepat. Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dari Paman Yusi adalah bacaan paling membahagiakan, dan bikin banyak pembaca menganjingkannya. Di Tanah Lada-nya Ziggy Z. juga menyenangkan, saya iri pada penulis muda yang sealmamater, seangkatan, dan seusia ini. Apalagi di tahun ini, dia menjadi jawara di Sayembara Novel DKJ. Tentu, karya-karyanya akan saya tunggu. Untuk kumpulan cerpen, Bakat Menggonggong-nya Dea Anugerah dan Metafora Padma-nya Bernard Batubara enggak boleh dilewatkan. Saya pikir, saya masih belum banyak baca penulis-penulis Indonesia.

Saat ini hanya tiga bahasa yang saya kuasai. Untuk bisa mengakses lebih banyak bacaan, belajar bahasa asing selain Inggris tentu jadi sesuatu yang mendesak. Saya sempat belajar bahasa Jepang di SMA dan perkuliahan, dan kemarin-kemarin bahasa Korea, meski cuma tingkat dasar. Entah kenapa, orang Jepang sangat paham soal kehampaan dan keresahan batin. Penulis Jepang selalu saya sukai. Ryunosuke Akutagawa, Yasunari Kawabata, dan duo Murakami – Haruki Murakami dan Ryu Murakami, adalah yang banyak saya baca. Begitupun dengan Korea, setelah suka dramanya, teknologinya, musiknya, program hiburannya, saya nampaknya menyukai kesusasteraannya. Meski baru sedikit yang saya baca, Han Kang salah satunya, dengan novel The Vegetarian yang memenangkan Man Booker Prize tahun ini. K-lit tampak menjanjikan.

Kalau diibaratkan traveling, saya sudah melancong ke berbagai belahan dunia, serta melintas ruang waktu. Belum terlalu luas, sih. Amerika Latin sudah pasti harus dikunjungi. Dua maestro sebelum Bolano, Jorge Luis Borges dan Gabriel Garcia Marquez perlu saya baca. Juga membaca Pablo Neruda, meski saya sampai sekarang enggak ngerti puisi. Beralih ke Amerika di atasnya, saya terkesima ketika menyambangi para penulis Lost Generation dan Beat Generation. Memadat amphetamine sambil mendengar musik jazz bersama Jack Kerouac, Allen Ginsberg, dan William Burroughs sungguh seru. Howl, Kaddish and Other Poems-nya Ginsberg menyuarakan amarah dan kegilaan saya. Enggak lupa, menyapa John Steinbeck dan Kurt Vonnegut. Begitu Amerika. Menyebrang ke Eropa, di Inggris Raya, bertemu James Joyce yang mengisahkan kegelisahan identitasnya dalam A Portrait of the Artist as a Young Man, kemudian menonton kemenangan Leicester bersama Julian Barnes. Lanjut ke Prancis, ada Albert Camus dan Jean Paul-Sartre yang saling duduk membelakangi di teras sebuah kedai kopi. Saya mengobrol dengan keduanya, dan lebih menyukai bersama Camus. Mungkin karena dia berzodiak Scorpio, sama seperti saya. Di Jerman, menyapa Herman Hesse dan Kafka. Karl Marx juga, ternyata kekirian itu asyik. Melipir ke Spanyol, bertamu ke sohibnya Bolano, Enrique Vila-Matas di Barcelona, sang pengejek nyaris sempurna bagi kesusastraan. Melaju ke paling timur, meski dingin menusuk penis, ziarah ke Rusia saat masa Tsar adalah keharusan. Berguru pada Fyodor Dostoyevsky dan Leo Tolstoy. Eropa begitu melimpah, saya kesulitan untuk memilih harus ke mana dulu. Tapi terlalu lama diam di Eropa katanya bikin kita jadi songong. Maka lanjut ke Asia. Cina? Wah, belum. Arab? Hmm, dikit. Afrika? Haha. Ternyata saya masih cemen.

goodreads-2016-143

Sejauh ini, jika untuk fiksi, saya doyan tema coming-of-age, sedangkan untuk non-fiksi, saya menyukai memoar. In the Name of Identity-nya Amin Maalouf ada di urutan nomor wahid. A Moveable Feast, meski Hemingway bilang kalau ini cuma karangan fiksi, beserta Di Bawah Langit Tak Berbintang dari Utuy Tatang Sontani, dan What I Talk About When I Talk About Running-nya Haruki Murakami adalah memoar yang cocok dibaca buat saya dan kamu yang masih muda dan punya cita-cita pengen jadi penulis dan galau karenanya. Tambahkan pula kumpulan esai dari Mario Vargas-Llosa, Letters to a Young Novelist. Juga autobiografi berbentuk novel dari Vila-Matas, Never Any End to Paris dan Bartleby & Co., yang benar-benar bangsat.

Masih banyak yang ingin saya sampaikan soal buku-buku yang saya baca tahun ini, tapi pasti membosankan, dan saya enggak ingin disebut sombong. Membaca, bagi saya, selalu menyenangkan. Tapi, karena membaca yang saya lakukan saat ini sebagai proses untuk jadi penulis, mengurangi kenikmatan seperti ketika membaca hanya semata-mata sebagai eskapisme. Ada beragam macam pretensi ketika saya membaca. Juga, yang sebenarnya, yang saya lakukan untuk mengejar ketertinggalan, hanya untuk mengejar kuantitas, hanya agar bisa menambahkan jumlah buku di Goodreads, lebih jauh, hanya untuk dianggap keren. Seperti traveler yang pongah karena sudah pergi ke sana kemari. Entahlah, apapun itu, meski saya masih bingung akan mengarah ke mana, harus ada alasan agar saya terus membaca. Saya ingin bisa lagi menemukan kenikmatan membaca, layaknya sang panglima perang yang dikutuk hidup abadi menjadi goblin sampai ia bisa menemukan cinta pertamanya setelah beratus-ratus tahun kemudian, dia menanti kematian dengan hiburan berupa membaca buku.

%eb%8f%84%ea%b9%a8%eb%b9%84-ost-part-4-%ed%81%ac%eb%9f%ac%ec%89%ac-crush-beautiful-mv-youtube-mkv_snapshot_00-16_2016-12-28_19-44-25

 

 

Kategori
Cacatnya Harianku Celotehanku

Rakus Membaca

missionSekarang mungkin pantas untuk menambahkan aktivitas mulia ini ke dalam daftar hobi saya. Membaca memang hobi pasaran. Namun baru jadi hobi saya tahun ini.

Tercerahkan untuk terobsesi pada buku gara-gara mengetahui kalau CEO di Amerika Serikat sana rata-rata baca 35 buku per tahunnya. Nah, sebagai calon CEO wajib dong mencontoh mereka. Memang salah satu indikator mencapai kesuksesan itu adalah membaca.

Banyak manfaat dari kegiatan membaca ini, tapi saya ga akan bahas. Malas. Cari aja sendiri, da sudah pada dewasa kan.

Yang pasti, manfaat terbesar buat saya dari kegiatan membaca ini sebagai terapi. Sebagai sarana untuk membenamkan diri. Sekarang Alhamdulillah jadi ga terlalu rentan galau. Sebab, mengutip dari buku legendaris La Tahzan, diantara sebab kebahagiaan adalah meluangkan waktu untuk mengkaji, menyempatkan diri untuk membaca, dan mengembangkan otak dengan hikmah-hikmah. Sebab sebaik-baik teman duduk adalah buku.

Kategori
Cacatnya Harianku Celotehanku

Penanda Buku Terabsurd

2013 reading challengeSaya juga ga habis pikir, bodoh banget saya pake yg gituan buat dijadiin penanda buku. Padahal kalau dipikiran banyak sebenernya alternatif penanda buku lainnya.

Ya, lagi terobsesi nih sama buku. Soalnya lagi punya program kerja “2013 Reading Challenge” buat taun ini. Target harus baca 35 judul buku dalam setahun. Kenapa coba harus dalam angka segitu segala? Nah, rata-rata CEO di Amerika sana baca 35 buku per tahunnya. Sebagai calon CEO wajib dong ya ngikutin. 😎

Teknisnya, saya kudu nyelesain 3 buku per bulannya. Dengan proporsi 1 buah buku Islam, 1 buah buku non fiksi, dan 1 buah buku fiksi. Nah, di pertengahan akhir bulan Januari ini, tepatnya tadi pagi, Alhamdulillah namatin The Power-nya Rhonda Byrne. Buku kedua yg dibaca setelah buku Islami karya Pa Aam Amiruddin, Kunci Sukses Meraih Cinta Illahi.