the godfather ii eating lonely

Balada Esais Bau Kencur

Kebanyakan artikel Tirto kalau dibaca rasanya kayak novel terjemahan. Rasa Zen RS. Rasa Catatan Pinggir. Rasa daftar pustaka yang dibikin berbunga-bunga. Serbuan komentar pada satu produk tulisan saya. Yang asyik dari adanya media sosial adalah timbulnya polusi notifikasi; meningkatnya nafsu berkomentar sekaligus munculnya rasa haus untuk melihat komentar-komentar tadi – bahkan berlanjut untuk menimpali komentar tadi, kalau sekiranya foto profil si komentator menarik hati. Komentar-komentar buat produk tulisan saya tersebut bisa ditangkap sebagai pujian sekaligus hinaan, atau bisa juga sebagai latihan menulis paling ampuh: menerjemahkan tulisan dari bahasa asing, berguru langsung pada yang lebih jago, menulis ulang teks orang, dan memperpanjang daftar bacaan. Juga, dan di zaman kiwari ini makin terasa, keahliaan oportunistik paling berguna di bawah payung demokrasi liberal dan sistem kapitalisme lanjut adalah memanjat tangga sosial dan memperluas koneksi orang dalam. “Menulis itu hanya omong kosong,” seorang George Orwell mewejang, “Hanya ada satu cara untuk menghasilkan uang dari menulis: kau harus menikahi anak pemilik penerbit.” Baca keadaan lebih penting ketimbang baca buku atau baca komentar seliwatan di medsos.

Read more

reading book

Membicarakan Buku yang Belum Terbaca

Saya ingat, meski ingatan saya mungkin salah, sebuah artikel hebat dari Giorgio Manganelli yang menjelaskan bagaimana pembaca mutakhir dapat mengetahui apakah sebuah buku layak dibaca meski dia belum membukanya. Dia tidak mengacu pada kapasitas yang sering dipunyai seorang pembaca profesional, atau seorang pembaca tekun dan cerdas, yang menilai dari kalimat pembuka, yang melirik dua halaman secara acak, yang melihat indeks, atau seringnya lewat membaca daftar pustakanya, untuk menentukan apakah buku tersebut layak dibaca. Yang seperti ini, saya pikir, hanyalah soal pengalaman. Bukan ini, Manganelli sedang berbicara tentang semacam iluminasi, sebuah kurnia yang dengan bukti jelas dan secara paradoks dia klaim memilikinya.

Read more

gong yoo goblin

Saya Mau Hidup Seribu Tahun Lagi, dan Menyia-nyiakannya dengan Membaca Sepuasnya

Usianya 22, ketika timbul keyakinan bahwa seni-sastra adalah pilihan hidupnya. Seperti para rasul yang menyepi untuk menanti wahyu, ia mulai memenjarakan diri di antara tumpukan buku dan melahap beragam bacaan tadi, dan harus melewati delapan tahun penuh kesepian dan keputusasaan sampai novel perdananya rilis. Menjadi penulis di negara yang, seperti kata ibunya, enggak akan membeli dan membacanya, tentu suatu keberanian, juga ketololan.

Read more

Rakus Membaca

missionSekarang mungkin pantas untuk menambahkan aktivitas mulia ini ke dalam daftar hobi saya. Membaca memang hobi pasaran. Namun baru jadi hobi saya tahun ini.

Tercerahkan untuk terobsesi pada buku gara-gara mengetahui kalau CEO di Amerika Serikat sana rata-rata baca 35 buku per tahunnya. Nah, sebagai calon CEO wajib dong mencontoh mereka. Memang salah satu indikator mencapai kesuksesan itu adalah membaca.

Banyak manfaat dari kegiatan membaca ini, tapi saya ga akan bahas. Malas. Cari aja sendiri, da sudah pada dewasa kan.

Yang pasti, manfaat terbesar buat saya dari kegiatan membaca ini sebagai terapi. Sebagai sarana untuk membenamkan diri. Sekarang Alhamdulillah jadi ga terlalu rentan galau. Sebab, mengutip dari buku legendaris La Tahzan, diantara sebab kebahagiaan adalah meluangkan waktu untuk mengkaji, menyempatkan diri untuk membaca, dan mengembangkan otak dengan hikmah-hikmah. Sebab sebaik-baik teman duduk adalah buku.

Read more

Penanda Buku Terabsurd

2013 reading challengeSaya juga ga habis pikir, bodoh banget saya pake yg gituan buat dijadiin penanda buku. Padahal kalau dipikiran banyak sebenernya alternatif penanda buku lainnya.

Ya, lagi terobsesi nih sama buku. Soalnya lagi punya program kerja “2013 Reading Challenge” buat taun ini. Target harus baca 35 judul buku dalam setahun. Kenapa coba harus dalam angka segitu segala? Nah, rata-rata CEO di Amerika sana baca 35 buku per tahunnya. Sebagai calon CEO wajib dong ya ngikutin. 😎

Teknisnya, saya kudu nyelesain 3 buku per bulannya. Dengan proporsi 1 buah buku Islam, 1 buah buku non fiksi, dan 1 buah buku fiksi. Nah, di pertengahan akhir bulan Januari ini, tepatnya tadi pagi, Alhamdulillah namatin The Power-nya Rhonda Byrne. Buku kedua yg dibaca setelah buku Islami karya Pa Aam Amiruddin, Kunci Sukses Meraih Cinta Illahi. 

Read more