Kategori
Celotehanku

Riungan Buku Aleut

riungan buku aleut

“Aku agak introvert. Aku tidak terlalu nyaman dengan klub buku, kecuali klub bukunya kecil dan orang-orangnya sudah kukenal baik,” ungkap sang penulis Lelaki Harimau saat ditanya soal pentingnya klub buku dalam pos Eka Kurniawan: Aku Lebih Ingin Membesarkan Diriku Sebagai Pembaca Daripada Penulis di Revi.us. Seperti inilah saya, meski hidup di orde kebebasan berpendapat, saya lebih senang jadi pendengar.

Namun beruntunglah kita bisa hidup tanpa takut diawasi teleskrin dan diciduk polisi pikiran seperti pada novel ‘1984’. George Orwell dalam karyanya ini menggambarkan soal negara yang adem ayem, bukan karena penduduknya memang adem ayem, namun karena mulut mereka dibungkam dan jika mereka sedikit saja membuka mulut, mereka akan diuapkan, dilenyapkan. Diskusi diharamkan, buku dimusnahkan. Kita tahu, buku sebagai produk intelektual butuh pertukaran gagasan – bukan hanya antara penulis dan pembaca, tapi juga antara pembaca dan pembaca. Sebab lewat budaya literasi dan diskusi, bisa muncul yang namanya revolusi.

Kategori
Cacatnya Harianku

Book Acquisition Syndrome

book acquisition syndrome

Seorang kawan berkisah kalau semangat membacanya timbul ketika menginjak masa putih-abu. Gara-gara paksaan, berkat sebuah keharusan dari sekolahnya di SMAN 26 Bandung yang mewajibkan untuk membaca buku di pagi hari selama 30 menit. Berawal dari paksaan, kemudian jadi candu, kawan tadi tersihir oleh ‘Atheis’-nya Achdiat Kartamihardja. Membaca pun menjadi hobinya.

Kebijakan ini bisa ada berkat sang kepala sekolah yang sudah menimba ilmu ke Amerika sana. Memang, membaca menjadi kultur yang melekat di negara-negara maju. Dan nampaknya usaha beliau untuk membudayakannya juga di sini terbukti berhasil, minimal kawan saya tadi terpengaruh. Saya jadi teringat ketika menonton anime dan dorama Jepang yang berlatar sekolah, sering ada sesi pembacaan sebuah buku tebal, novel sastra, nah di saat inilah sang tokoh utama biasanya sedang ketahuan melamun.