Kategori
Catutan Pinggir

Buku Selalu Berbahaya

header_Don-quixote-PAR290525
Andalucia, Spain, 1971. Foto oleh Guy Le Querrec/Magnum.

Di universitas-universitas di seluruh dunia, para siswa mengklaim bahwa membaca buku dapat meresahkan mereka hingga menjadi depresi, trauma, atau bahkan bunuh diri. Beberapa berpendapat bahwa novel Virginia Woolf Mrs Dalloway (1925), yang di dalamnya ada bunuh diri, dapat memicu pemikiran bunuh diri di antara mereka yang cenderung melukai diri sendiri. Yang lain bersikeras bahwa The Great Gatsby (1925) karya Scott Fitzgerald, dengan arus terpendam soal kekerasan pasangan, mungkin memicu ingatan menyakitkan tentang pelecehan dalam rumah tangga. Bahkan teks-teks klasik kuno, para siswa berpendapat, bisa berbahaya: di Universitas Columbia di New York, para aktivis mahasiswa menuntut agar peringatan dilampirkan pada Metamorphoses milik Ovid dengan alasan bahwa ‘penggambaran gamblang tentang perkosaan’ mungkin memicu perasaan tidak aman dan kerentanan di kalangan beberapa siswa tingkat akhir.

Kategori
Buku

Persahabatan Mematikan Mishima dan Kawabata

Persahabatan yang intim antara Yukio Mishima (1925-1970) dan Yasunari Kawabata (1899 – 1972) berada di sanubari skena sastra Jepang dalam dekade-dekade pasca perang, atau begitulah tampaknya. Sampai kemunculan Haruki Murakami sebagai superstar sastra internasional pada tahun 1990an, Mishima dan Kawabatalah yang mendefinisikan apa yang dipikirkan orang saat mereka mempertimbangkan novel Jepang modern.

Kategori
Fiksi

Pembunuhan Diri, Kim Young-ha

young-ha-kim-napkin-lg

Dia berumur dua puluh satu tahun, dengan kulit kuning langsat yang mulus. Bahkan tanpa rias muka, wajahnya bersinar, selalu bersih dan berseri. Inilah mengapa klinik dokter kulit mempekerjakannya sebagai resepsionis. Pekerjaannya sederhana. Yang harus dia lakukan hanya menulis nama pasien, mengarahkan mereka dengan suara ramah, “silahkan duduk sampai kami memanggil nama Anda,” mencari bagan mereka, dan menyerahkan ke perawat. Kulitnya yang bercahaya dan kinclong menciptakan harapan tinggi, mendorong pasien agar percaya pada klinik ini, yang ditandai dengan peningkatan jumlah pasien yang tiba-tiba.

Tapi suatu hari, wajahnya kehilangan kerupawanannya. Masalahnya dimulai dengan munculnya jerawat kecil, semakin memburuk dan memburuk sampai menyebar ke seluruh wajahnya. Tidak ada yang tahu. Awalnya, si dokter muda itu, yang baru bisa memulai bisnis dengan bantuan pinjaman bank, memperlakukannya dengan biasa saja, tapi kemudian memusatkan perhatian padanya dengan penuh keputusasaan. Dan semakin si dokter memusatkan perhatian padanya, semakin kondisi si resepsionis memburuk. Bintik-bintik merah menutupi wajahnya, membuatnya seperti pizza yang lumer kalau dilihat dari jauh. Dokter yang putus asa itu menjambak rambut si resepsionis dan perawat membencinya. Suatu hari di musim semi, dia meninggalkan sebuah catatan – “Saya minta maaf kepada semua orang, saya minta maaf” – lalu bunuh diri. Klinik tadi menyewa seorang resepsionis baru. Kulitnya yang sangat bercahaya sampai-sampai bikin mata semua orang langsung tertutup.

*

Diterjemahkan dari Honor Killing. Fiksimini dari Kim Young-ha yang dimuat di Esquire ini bercerita seperti judulnya, yang kalau diterjemahkan tepatnya berarti pembunuhan demi menjaga kehormatan. Juga mengkritisi budaya kontemporer Korea Selatan yang mengkultuskan visual seseorang.