Kategori
Celotehanku

Goenawan Mohamad dan Catatan Pinggirnya

Seperti halnya membentuk sebuah cawan yang tak habis untuk dipakai, menulis pada dasarnya adalah pekerjaan yang resah.

Bagi saya, menulis adalah hal yang sulit, sampai hari ini. Saya masih kurang ekspresif dan nggak punya stok kosakata yang melimpah untuk mendeskripsikan sesuatu. Menulis memang benar sebuah pekerjaan yang resah: saya akan gelisah ketika saya kesulitan mencari kata, sebal dengan otak bebal yang gampang mogok. Katanya menulis adalah katarsis, ah bukannya meredakan kegelisahan, menulis malah bikin kadar gelisah saya bertambah.

arif abdurahman goenawan mohamad

Dan ternyata dia pun sama gelisah juga. Bedanya dia menggelisahi Marxisme, Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, Modernisme, Nazi-Hitler, Stalin, Mao, Pembangunan, Birokrasi – pendeknya segala bentuk perekayasaan sosial, karena ini semua menggilas eksistensi individu.

Kategori
Catutan Pinggir

Si Lalat Pengganggu

school of athens raphael
@ Raphael – School of Athens

oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir 3 Oktober 1981

“Aku pusing,” begitulah kata seorang Yunani kuno bernama Theaetetus, pada suatu hari. “Itu permulaan filsafat,” komentar seorang Yunani kuno lain yang bernama Socrates.

Filsafat, seperti masuk angin, dimulai dengan pusing. Tapi berbeda dengan masuk angin, ia tak bisa stop. Setidaknya jika kita mengikuti Socrates – seorang tua bermuka buruk yang menghabiskan waktunya di tepi jalan untuk berdiskusi, di abad ke-4 sebelum Masehi. 2300 tahun yang lalu itu ia selalu nampak di pelataran orang ramai di Athena. Jubahnya itu-itu juga, dan ia bertelanjang kaki. Tapi sudah tentu ia bukan gelandangan.

Ia seorang bekas pejuang dalam perang melawan Sparta. Di waktu muda ia seorang pelajar filsafat. Ayahnya seorang pematung. Daripadanya Socrates mewarisi sebuah rumah. Ia bahkan juga punya uang yang diputarkan dalam bisnis oleh seorang sahabatnya.

Kategori
Catutan Pinggir

Gambaran Si Miskin

kathe kollwitz the survivors

oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir 17 Desember 1983

Tubuh wanita itu meregang, putih, kaku. Mati. Suaminya memeluknyya dengan kedua tangan – dengan kepala yang ia lekatkan ke dada Almarhumah. Seolah ia ingin menahannya jangan pergi.

Kita tak tahu apakah lelaki itu menangis. Tapi kita tahu -dari genggaman jari-jarinya, dari lekuk matanya yang dalam, dari mulutnya yang sedikit mencong- penderitaan apa yang menghantamnya.

Buruh miskin yang kehilangan teman hidup. Wanita proletar yang putus asa di depan bayinya yang sakit. Pekerja yang kepalanya terjatuh, capek, di meja dekat lampu. Jika Tuan belum pernah menyaksikan kemiskinan, jika Tuan tak pernah menengok buruh-buruh bangunan yang jongkok di tepi jalan Jakarta hingga jauh malam, lihatlah gambar-gambar Kathe Kollwitz.

Kategori
Catutan Pinggir

Lokalisme

a footpath to rembang henri cartier bresson
@ Henri Cartier-Bresson, A Footpath to Rembang (LIFE Magazine)

oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir 2 November 1985

Tuhan hanya menciptakan satu bumi, tapi kemudian lahirlah bangsa-bangsa. Bangsa-bangsa itu pun membentuk negara masing-masing. Tembok-tembok pun tegak, dan sejak itu manusia tak tahu persis hendak bagaimana lagi.

Sebab, yang terjadi adalah semacam kekacauan, meskipun kadang-kadang tanpa darah. “Jelaslah,” kata Voltaire di abad ke-18, “bahwa sebuah negeri hanya bisa mendapat apabila sebuah negeri lain merugi.”

Pada mulanya, yang disebut mendapat terbatas pada pengertian memperoleh logam mulia. Yang disebut negeri tentu saja, kurang-lebih, sang penguasa. Kepentingan nasional berarti kepentingan raja, atau kalangan yang menentukan di atas. Kata-kata seorang bangsawan Castilia yang mengingatkan Raja Filipe III dari Spanyol tentang realitas itu agaknya berlaku buat siapa saja, setidaknya di abad ke-17 itu: “Kekuatan Paduka terdiri atas perak; pada hari perak habis, perang tak akan dapat dimenangkan.”

Kategori
Catutan Pinggir

Kota

George Bellows - New York
@ George Bellows – New York (1911)

oleh Goenawan Mohammad dalam Catatan Pinggir 23 Juni 1984

Saya punya teman yang seperti teman Anda: ia hidup di kota ini, mencari nafkah di kota ini, dan ia memaki kota ini. Dengan bersemangat.

Pada suatu malam saya bertemu dengannya di luar sebuah restoran di Pecenongan. Ia tampak kenyang, tapi bersungut-sungut. “Jakarta,” semburnya, “ini rantau tanpa induk semang.” Lalu dengan kalem ia pergi ke pojok yang agak gelap sebentar merapat ke sebuah tembok jalan, membuka resliting celananya, kencing.

Ketika ia kembali, dipegangnya pundak saya. “Ingat,” katanya, seraya mendekatkan kumisnya yang berkilat ke muka saya, “kita orang asing di sini. Kita pesinggah. Kita perdagangkan ke kota ini segalanya; barang, badan, juga budi pekerti, lalu kita kepingin pulang.”

Ia pun pulang – ke rumahnya di Matraman.

Kategori
Catutan Pinggir Islam

Khilafah

kalifah
@ Yahyâ ibn Mahmûd al-Wâsitî

oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir 27 Oktober 1984

Ini adalah kisah Abu Bakar, sahabat Nabi. Ia baru kemarin dulu diangkat sebagai khalifah, tapi di hari itu ia berangkat ke pasar. Di pundaknya ia bawa bahan-bahan pakaian dagangan, untuk dijual. Dengan kata lain, ia kembali hidup sebagaimana biasa.

Tapi di tengah jalan ia terlihat oleh Umar bin Khattab, sahabat Nabi yang lain. “Hendak ke mana?” tanya Umar. “Ke pasar,” jawab sang khalifah. Umar bertanya lagi, “Apa yang hendak Anda lakukan, sedangkan Anda telah menduduki jabatan sebagai pemimpin kaum Muslimin?” Jawab Abu Bakar, “Lalu dari mana aku akan memberi makan keluargaku?”