Kategori
Fanfiction Fiksi

Aku Akan Mendatangimu Seperti Salju Pertama

cuizk_jxyaak3il

“Merokok membunuhmu,” katanya, lalu menyodorkan kresek putih berlogo Alfamart. “Patah hati, juga.”

“Hah?”

“Dicampakkan perempuan yang kau sayangi, kemudian mengurung diri di apartemenmu. Menulis tanpa henti. Terus merokok dan minum kopi. Tanpa tidur. Terus meratap. Untuk kemudian mati dengan mengenaskan, dan saat itulah aku akan berjumpa lagi denganmu.”

Gaya bahasanya begitu formal, seakan sedang mengutip dialog dari sebuah novel. Juga gaya berpakaiannya, begitu modis, seperti hendak sesi pemotretan untuk majalah gaya, atau potret Instagram: gaun hitam terusan sampai lutut, dibalut mantel musim dingin warna krem, dan sepatu kets hitam. Rambutnya tergerai sepundak, dengan riasan wajah natural, dan matanya, ya matanya, susah untuk dilupakan, aku tak punya kata-kata untuk mendeskripsikannya, atau mungkin tak akan ada kata-kata yang mampu buat menjelaskannya. Tak bohong, kamu harus lihat sendiri. Satu yang pasti, dia cantik bukan main.

“Terima kasih.”

“Ya?”

“Sudah lama tak ada yang memujiku cantik,” katanya dengan mengulas senyum. “Terima kasih.”

Tak tahu harus membalas apa, aku membuka kresek putih tadi, mengintipnya. Di dalamnya ada Sariroti rasa coklat, Nescafe kotak, dan sepak Dunhill. Barang belanjaan pokok ketika aku rehat kalau habis bermotor lama. Ini benar-benar membuatku bingung. Dan senyumnya itu, bukan senyum komersil pegawai Alfamart di dalam sana, senyum yang indah dan meneduhkan.

“Kau romantis, tapi kepalamu sangat berisik, sungguh,” keluhnya. “Ketimbang melamun, sebenarnya apa susahnya langsung mengobrol dengan perempuan cantik?”

Justru karena itu.

“Ah, maaf, salahku juga,” ucapnya, menghela nafas, kemudian mengulurkan tangan kanannya. “Perkenalkan, aku adalah Kematian. Tak usah takut, waktumu bukan hari ini. Aku hanya ingin mengobrol. Satu lagi, aku bisa membaca pikiranmu.”

Siang yang muram untuk mengobrol santai soal kematian, atau bersama Kematian. Begitu dia mengenalkan dirinya. Gila, sudah pasti. Di teras depan sebuah minimarket berjejer tiga meja, di sanalah kami janji bertemu. Seperti akan kencan buta atau janji bertemu untuk transaksi barang lewat jual beli daring. Kematian mengirim pesan singkat, dan menyuruhku menemuinya di Alfamart seberang SMKN 8 Bandung. Aku mengiyakan. Saat itu aku sedang selonjoran di lantai dua kedai kopi yang berada dekat situ. Setelah menstandarkan motor di parkiran minimarket itu, dan celingukan, dia melambaikan tangan dan tersenyum. Hanya ada dia, dengan senyum indah itu. Ada ungkapan bahwa kematian itu begitu dekat, dan saat pertama melihatnya, memang asing, tapi terasa semacam keakraban yang aneh.

Kematian? Tentu saja, jika terus menatapnya lebih lama lagi, bisa-bisa sesak napas, tekanan darah dan derap jantung makin kencang, juga kadar endorfin meninggi. Mungkin aku terlalu melebih-lebihkan, tapi jika ada, kupikir terpapar kecantikan adalah cara mati paling konyol, namun menyenangkan.

“Terlalu gombal, tapi entah kenapa aku suka,” dia tersenyum, terlihat cengengesan.

Sial, sebentar saja diajak mengobrol dan aku mulai sekarat. Senyumnya itu mendekatkanku pada maut.

“Sekarat adalah pekerjaan merepotkan,” katanya, kembali serius. “Ada rasa sakit yang harus diderita, dan menyayat-nyayat hati seseorang; tapi kematian adalah hal yang indah – peperangan usai, semuanya kembali ke awal, sebuah kemenangan. Kamu akan selalu melihat ini di wajah mereka.”

Aku pikir aku pernah membaca kutipan ini. “Kafka? Hemingway?”

“Shaw. George Bernard Shaw,” timpalnya lugas. “Hidup adalah soal menanti maut. Hidup adalah sekarat itu sendiri.”

Hidup adalah sekarat?

“Pertanyaan paling sering ditanyakan manusia, kenapa harus hidup kalau harus menderita?” Dia memulai. “Aku tak mau menggunjing-Nya, tapi kalau boleh jujur, Dia sedikit kekanak-kanakan, dan sedikit sadis. Dia memang ganjil, betul-betul ganjil, suka dengan drama. Tragedi, khususnya. Dan tahulah, kita harus menganggap-Nya baik.”

Hey, apa yang sedang dilakukan perempuan ini? Lebih masuk akal menjebak bisnis MLM, ketimbang berfilsafat mengajak masuk neraka. Dan ini dilakukan di teras depan Alfamart.

“Tenang saja, Dia tak akan tersinggung, kok.”

Dia mengambil sekotak rokok dalam kresek tadi, membukanya, mengambil sebatang dan melemparkan paknya ke arahku dan menempelkan rokok di mulutnya, kemudian mengesapnya. Saat menyelipkan rokok di bibirnya, muncul pikiran tak senonoh, namun mengingat bahwa dia bisa membaca pikiranku, segera kulenyapkan. Tanpa korek, tanpa apapun, ujung rokoknya menyala sendiri. Ajaib.

“Hidup adalah hadiah, dan kematian menjadikanya lebih indah,” ucapnya sambil menghembuskan asap rokok. “Tak ada yang lebih indah untuk menanti maut selain merokok.”

Aku mengikuti nasihatnya. Langit siang itu ditutupi awan tebal, sangat tebal, sampai-sampai aku berpikir ada piring-piring terbang di baliknya hendak melakukan invasi, atau mungkin bakal turun salju dari gumpalan awan-awan hitam di atas sana itu. Siang yang muram, dan ada Kematian yang cantik di hadapanku.

Kategori
Fiksi

Si Kabayan Makan Mie Campur Nasi

img-20170102-wa0009

Petang ketika perut Kabayan mulai berontak, Iteung masih asyik menonton drama Korea. Perut kosong, secara historis, sudah banyak menciptakan konflik berdarah. Seperti yang sedang ditonton Iteung, sebuah adegan klise: ibu mertua menempeleng anak asuhnya, yang yatim piatu, gara-gara telat menyiapkan sarapan. Baru dua minggu menikah, sejoli muda itu bisa saja meneruskan sejarah kelam tadi, mencicipi konflik serupa opera sabun tadi, sebab meja makan masih kosong. Beruntung, Kabayan adalah Kabayan. Terlalu malas buat marah-marah.

“Beb, lapar yeuh,” keluh Kabayan memprotes istrinya yang ia panggil ‘Beb’.

“Sebentar atuh, Kang,” kata Nyi Iteung. “Kagok dua episode lagi.”

“Wah. Keburu kiamat atuh, Beb,” Kabayan memberengut, sedikit dongkol.

“Masak mie, terus minta nasi ke Ambu coba,” ujar Iteung tanpa memalingkan wajahnya yang lurus tertuju ke layar. Sekarang, adegan dalam drama Korea tadi sedang memperlihatkan suasana makan-makan di restoran. “Tuh, orang Korea juga makan mie campur nasi,” kelakar Nyi iteung.

Namanya juga Kabayan, malah cemberut lalu selonjoran ke sofa yang membelakangi jendela. Ia mengambil buku In Praise of Idleness and Other Essays-nya Bertrand Russell di meja di sampingnya, lalu membacanya. Tentu, membaca tak bikin perutnya kenyang. Ini semua memang salah Iteung. Bukan! Bukan karena Iteung dilahirkan sebagai perempuan, dan harus jadi istri orang, yang harus jadi babu bagi suaminya. Mereka berdua berpandangan modern. Tapi mereka sudah bersepakat  kalau urusan menyiapkan makan adalah kewajiban dari kedua belah pihak, digilir tiap minggu, dan minggu ini adalah bagian Iteung. Sebagai koki yang payah, Iteung biasanya hanya menanak nasi, dan sisanya membeli lauk dari warung makan. Masalahnya, tak ada nasi malam ini. Serial televisi impor dari Korea Selatan itu telah mengaburkan konsep ruang waktu Iteung. Selalu begitu. Sebenarnya, rumah mereka hanya bersebelahan sejengkal dengan rumah mertuanya, Abah dan Ambu, yang meja makannya selalu terisi. Kalau saja mau malu sedikit, Kabayan pasti sudah kenyang. Iteung dan Kabayan sebenarnya, secara fisik, sama-sama kelaparan. Perut kosong memang bisa diakali, yang satu dengan drama Korea, satunya lagi dengan bacaannya, yang sesekali melihat keluar jendela.

“Beb, lihat!” seru Kabayan, “ada bintang jatuh bagus banget.”

Memang, beberapa detik sebelumnya ada nampak bintang jatuh. Atau, entah apa.

“Bikin permintaan atuh, biar kayak orang Korea,” timpal Nyi Iteung, yang masih masyuk dengan tontonannya. “Minta Bugatti Veyron, kang.”

“Musyrik ih, Beb,” kata Kabayan. “Tapi dicoba dululah kalau terkabul nanti tinggal tobat.”

Tiba-tiba terdengar bunyi ‘teng teng teng!’ lantunan khas penjual nasi goreng yang melintas di depan rumah Kabayan. Yang dimaksud tukang nasi goreng, tentu tak hanya menjual nasi goreng, ada mie tektek, kwetiaw, capcay, yang rebus, atau goreng.

“Mang, mesen mie tektek,” teriak Kabayan. “Tambahin nasi, ya, biar kayak orang Korea, mang!”

“Pedes?”

“Sedeng aja,” timpal Kabayan. “Alhamdulillah, bener juga orang Korea, langsung diijabah gini.”

“Bodo si Akang mah,” protes Nyi Iteung. “Bukannya minta mobil.”

“Namanya juga lagi lapar, Beb.” kata Kabayan. “Mobil mah enggak bisa dimakan, tempat parkir juga ga ada, lagian akang belum bisa nyetir. Sekarang mah berdoa ke Gusti Allah semoga ngejatuhin bintang lagi.”

“Eh, kenapa cuma pesen makan satu?”

“Sepiring berdua, biar romantis kayak drakor, kan.”

*

Ditulis ulang dan digubah dari “Si Kabayan dan Bintang Jatuh” dalam buku “100 Cerita Si Kabayan Masa Kini”.

Kategori
Fiksi

Tiba-tiba, Ada yang Mengetuk Pintu

suddenly a knock on the door

“Beri aku sebuah cerita,” perintah seorang lelaki berjanggut yang duduk di sofa ruang tamuku. Situasinya, bisa kubilang, campur aduk tapi tak menyenangkan. Aku adalah seorang yang menulis kisah-kisah, bukan seseorang yang mendongengkannya. Dan bahkan hal itu bukan sesuatu yang kulakukan karena desakan. Terakhir kali ada yang memintaku untuk menceritakan sebuah cerita, adalah anakku. Itu setahun yang lalu. Aku menceritakannya sesuatu tentang peri dan musang—aku bahkan tidak ingat tentang apa—dan dalam waktu dua menit ia tertidur pulas. Tapi situasinya sangat jauh berbeda. Karena anakku tidak punya janggut, juga pistol. Karena anakku meminta cerita dengan baik-baik, sementara orang ini seperti sedang mencoba untuk merampokku.

Aku mencoba menjelaskan kepada pria berjanggut itu bahwa jika ia meletakkan pistolnya dulu maka akan jadi sebuah kebaikan untuknya, kebaikan untuk kami. Sulit untuk memikirkan sebuah cerita dengan laras pistol yang terisi mengarah kepalamu. Tapi pria itu bersikeras. “Di negeri ini,” ia menjelaskan, “jika kau ingin sesuatu, kau harus pakai paksaan.” Dia baru saja tiba dari Swedia, dan di Swedia benar-benar berbeda. Di sana, jika kamu ingin sesuatu, kamu meminta dengan sopan, dan besar kemungkinan kau bakal mendapatkannya. Tapi tidak di Timur Tengah yang lembab dan menyesakkan ini. Butuh satu minggu di tempat ini untuk mencari tahu bagaimana segala sesuatu berjalan—atau lebih tepatnya, bagaimana semua itu tidak berjalan. Orang-orang Palestina meminta sebuah negara, secara baik-baik. Apakah mereka mendapatkannya? Sia-sia yang mereka lakukan. Jadi mereka beralih dengan meledakkan anak-anak dalam bus, dan orang-orang mulai mendengarkan.  Para pemukim menginginkan sebuah dialog. Apakah ada yang menanggapi? Tak mungkin. Jadi mereka mulai bertindak, menuangkan minyak panas kepada petugas patroli perbatasan, dan tiba-tiba mereka memiliki penonton. Di negeri ini, keperkasaan selalu benar, dan tidak peduli apakah itu tentang politik, atau ekonomi atau tempat parkir. Jalan kekerasan adalah satu-satunya bahasa yang kami mengerti.

Swedia, tempat asal pria berjanggut itu benar-benar negara maju. Swedia bukan hanya ABBA atau IKEA atau Hadiah Nobel. Swedia adalah dunia tersendiri, dan apa pun yang mereka punya, mereka dapatkan dengan cara damai. Di Swedia, jika dia mendatangi solois Ace of Base, mengetuk pintu, dan memintanya untuk bernyanyi untuknya, dia akan mengundangnya dan membuatkannya secangkir teh. Lalu dia bakal mengeluarkan gitar akustik dari bawah tempat tidur dan bermain untuknya. Semuanya dengan sebuah senyuman! Tapi di sini? Maksudku, jika ia tidak mengangkat pistol aku pasti telah mendepaknya segera. Perhatikan, aku mencoba untuk beralasan. “Camkan ini,” pria berjanggut mengomel, dan mengokang pistolnya. “Sebuah cerita atau peluru yang bersarang di antara mata.” Aku melihat pilihanku terbatas. Orang ini mengajukan penawaran. “Dua orang sedang duduk di sebuah ruangan,” aku memulai. “Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu.” Orang berjanggut menegang, dan untuk sesaat aku pikir mungkin dia terbawa oleh cerita ini, tetapi tidak. Dia mendengarkan sesuatu yang lain. Ada yang mengetuk pintu. “Buka,” katanya padaku, “dan jangan coba macam-macam. Singkirkan siapa pun itu, dan lakukan dengan cepat, atau ini akan berakhir buruk.”

Pemuda di pintu sedang melakukan survei. Dia punya beberapa pertanyaan. Pendek-pendek. Tentang kelembaban tinggi di sini saat musim panas, dan bagaimana hal itu mempengaruhi kepribadianku. Aku katakan padanya aku tidak tertarik tapi dia terus memaksa masuk.

“Siapa itu?” Dia bertanya padaku, menunjuk pada si pria berjanggut. “Itu keponakanku dari Swedia,” aku berbohong. “Ayahnya meninggal karena tanah longsor dan dia ada di sini untuk pemakaman. Kami sedang mengurus surat wasiat. Bisa tolong hormati privasi kami dan segera pergi?” “Ayolah, bung,” kata si penjajak suara, dan menepuk pundakku. “Ini hanya beberapa pertanyaan. Berikan seorang pria kesempatan untuk mendapatkan beberapa dolar. Mereka membayarku per responden.” Dia melompat ke sofa, memegangi mapnya. Orang Swedia itu mengambil tempat duduk di sampingnya. Aku masih berdiri, berusaha terdengar seperti apa yang kumaksud tadi. “Aku memintamu untuk segera pergi,” kataku. “Waktumu tidak tepat.” “Tidak tepat, hah?” Dia membuka map plastik dan mengeluarkan sebuah revolver besar. “Kenapa waktuku tidak tepat? Karena aku berkulit lebih gelap? Karena aku tidak cukup baik? Ketika berhadapan dengan orang Swedia, kau punya semua waktu di dunia. Tapi untuk seorang Maroko, untuk seorang veteran perang yang meninggalkan sebelah ginjalnya di Lebanon, kau tidak bisa meluangkan bahkan untuk semenit sialanmu.” Aku mencoba untuk beralasan dengan dia, mengatakan kepadanya bahwa ini bukan seperti yang dipikirkannya sama sekali, bahwa ia kebetulan mengganggu saat percakapanku dengan si Swedia itu. Tapi sang penjajak pendapat mengangkat revolver setinggi bibirnya dan memberi isyarat kepadaku untuk tutup mulut. “Vamos,” katanya. “Berhentilah membuat alasan. Duduk di sana, dan lanjutkan yang tadi.” “Lanjutkan apa?” Aku bertanya. Yang benar adalah, sekarang aku cukup tegang. Si Swedia memiliki pistol juga. Mungkin bakal mengeluarkan juga. Timur adalah timur dan barat adalah barat, dan hanya itu. Mentalitas yang berbeda. Atau mungkin si orang Swedia bisa kehilangan momen itu, hanya karena dia ingin semua cerita untuk dirinya sendiri. Sendirian. “Jangan membuatku menunggu,” si penjajak suara memperingatkan. “Aku gampang meledak. Lanjutkan ceritanya—dan lakukan dengan cepat.” “Ya,” si orang Swedia itu menimpali, dan menarik keluar punyanya juga. Aku berdeham, dan mulai dari awal lagi. “Tiga orang sedang duduk di sebuah ruangan.” “Dan jangan ada ‘Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu,'” si orang Swedia menegur. Sang penjajak suara tidak cukup memahami, tapi berusaha mengikutinya. “Lanjutkan,” katanya. “Dan tidak ada yang mengetuk pintu. Beri kami sesuatu yang lain. Yang mengejutkan kami.”

Aku berhenti sejenak, dan mengambil napas dalam-dalam. Keduanya menatapku. Bagaimana aku selalu menghadapi situasi semacam ini? Aku yakin hal-hal seperti ini tidak pernah terjadi pada Amos Oz atau David Grossman. Tiba-tiba ada ketukan di pintu. Tatapan mereka berubah mengancam. Aku mengangkat bahu. Ini bukan salahku. Tidak ada dalam ceritaku untuk menghubungkannya ke ketukan itu. “Singkirkan dia,” perintah sang penjajak suara padaku. “Singkirkan dia, siapa pun dia.” Aku membuka pintu hanya sedikit. Itu pria pengantar pizza. “Apakah Anda Keret?” Ia bertanya. “Ya,” kataku, “tapi aku tidak memesan pizza.” “Di sini Fourteen Zamenhoff Street,” tukasnya sambil menunjuk cetakan slip pengiriman dan mendorong masuk ke dalam. “Terus kenapa,” kataku, “Aku tidak memesan pizza.”  “Ukuran paket keluarga,” ia menegaskan. “Setengah nanas, setengah ikan teri. Sudah dibayar. Kartu kredit. Cukup beri aku tip dan aku akan pergi dari sini.” “Apakah kau ke sini untuk cerita juga?” si orang Swedia menginterogasi. “Cerita apa?” pengantar pizza bertanya, tapi jelas dia berbohong. Dia jelas sangat tidak cakap dalam hal itu. “Keluarkan saja,” sang penjajak suara mendesak. “Sudahlah, keluarkan saja pistolnya.” “Aku tidak punya pistol,” pengantar pizza mengakui dengan canggung, dan menarik keluar pisau dari bawah nampan kardus. “Tapi aku akan memotong dia sampai jadi batang korek api kecuali dia membuat ceritaya yang bagus, dua kali lipat.”

Mereka bertiga berada di atas sofa—si orang Swedia di sebelah kanan, lalu pengantar pizza, kemudian sang penjajak suara tadi. “Aku tidak bisa melakukannya seperti ini,” aku memberitahu mereka. “Aku tidak bisa membikin cerita dengan kalian bertiga di sini dan senjata dan semua itu. Pergi berjalan-jalan dulu di sekitar blok, dan saat kalian kembali, aku akan memiliki sesuatu untuk kalian.” “Bajingan ini akan memanggil polisi,” sang penjajak suara berkata pada si orang Swedia. “Apa yang dia pikirkan, bahwa kita baru dilahirkan kemarin?” “Ayolah, beri kami satu dan kami akan pergi,” pengantar pizza memohon. “Sebuah cerita pendek. Jangan terlalu anal. Segalanya memang keras, kau tahu. Pengangguran, bom bunuh diri, orang-orang Iran. Orang lapar akan sesuatu yang lain. Apa yang kau pikirkan bahwa orang taat hukum seperti kami bisa sampai sejauh ini? Kami sedang putus asa, bung, putus asa.”

Aku berdeham dan memulai lagi. “Empat orang sedang duduk di sebuah ruangan. Hari sedang terik. Mereka bosan. Pendingin ruang terus berkedip. Salah satu dari mereka meminta sebuah cerita. Yang kedua bergabung, lalu yang ketiga …” “Itu bukan cerita,” protes sang penjajak suara. “Itu laporan saksi mata. Ini persis apa yang terjadi di sini sekarang. Apa yang kita sedang coba untuk keluar darinya. Kau tidak bisa pergi seenaknya dan membuang realitas pada kami seperti truk sampah. Gunakan imajinasimu, bung, bikin, ciptakan, ambil semua jalan.”

Aku mengangguk dan memulai lagi. “Seorang pria sedang duduk di sebuah ruangan, hanya dirinya seorang. Dia kesepian. Dia seorang penulis. Dia ingin menulis sebuah cerita. Sudah lama sejak ia menulis cerita terakhirnya, dan dia merindukan itu. Dia merindukan perasaan menciptakan sesuatu dari sesuatu. Itu benar—sesuatu dari sesuatu. Karena sesuatu dari ketiadaan adalah ketika kamu membuat sesuatu dari udara tipis, dalam hal ini tidak memiliki nilai. Siapa saja bisa melakukan itu. Tapi sesuatu dari sesuatu berarti itu benar-benar ada sepanjang waktu, di dalam dirimu, dan kamu menemukan itu sebagai bagian dari sesuatu yang baru, yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Pria itu memutuskan untuk menulis sebuah cerita tentang situasi. Bukan situasi politik dan bukan pula situasi sosial. Dia memutuskan untuk menulis sebuah cerita tentang situasi manusia, soal kondisi manusia. Kondisi manusia yang dia alami sekarang. Tapi ia hanya bisa termangu. Tidak ada cerita yang keluar. Karena kondisi manusia yang dia alami sekarang tampaknya tidak layak dibuat cerita, dan dia akan menyerah ketika tiba-tiba … ” “Aku telah memperingatkanmu sebelumnya,” si orang Swedia menyelaku. “Tidak ada ketukan di pintu.” “Aku harus,” aku bersikeras. “Tanpa ada yang mengetuk pintu tidak akan ada cerita.” “Biarkan dia,” kata pengantar pizza dengan lembut. “Beri dia beberapa kelonggaran. Kau ingin ketukan di pintu? Oke, silahkan pakai ketukan di pintu. Asalkan kami bisa mendapatkan sebuah cerita.”

*

Diterjemahkan dari cerita “Suddenly, a Knock On the Door” dalam buku berjudul sama karya Etgar Keret.

Kategori
Fiksi

Burung Nejimaki dan Wanita-wanita Hari Selasa, Haruki Murakami [2/2]

wind up bird and tuesday women

Sebelum pukul dua tepat, aku memanjat dari halaman belakangku melewati dinding batako masuk ke gang. Sebenarnya, ini bukan seperti gang yang kau bayangkan seperti gang pada umumnya; itu hanya penamaan dari kami karena tak punya nama lain yang lebih bagus. Sesungguhnya, itu bukan gang. Sebuah gang punya jalan masuk dan keluar, menghubungkan dari satu tempat ke tempat lain.

Tapi gang ini tak punya jalan masuk atau keluar, mengarah ke tembok batako di satu sisi dan pagar kawat di sisi lainnya. Ini bahkan bukan lorong. Setidaknya, sebuah lorong harus memiliki sebuah jalan masuk. Penduduk sekitar menamainya “gang” hanya demi kemudahan.

Gang berkelok-kelok dihimpit halaman belakang rumah warga kira-kira sepanjang enam ratus kaki. Tiga-kaki-sekian lebarnya, tapi karena sampah yang menumpuk dan tanaman liar yang tumbuh di sisinya, hanya tersisa sedikit ruang sehingga kau harus berdesak-desakan melalui jalur ini.

Kategori
Fiksi

Memoar Domba Tersesat dari Cimahi

“Mereka sudah tiba di Bandung!”

Syahdan, tersiar kabar ada sepasukan bangsa bermata sipit hendak bikin onar. Paniklah manusia yang Totok begitupun Indo, kelimpungan takut dihabisi Nippon.

Dari Cimahi, hiduplah dia yang seorang Indo, berbapak Belanda beribu babu. Seorang dokter, dan katanya sih juga seorang vrijdenker. Memang saat itu lagi tren soal ateis, agnostik, dan beragam jenis lainnya. Banyak umat malas beribadat yang melakukan pembenaran dengan memakan bacotan Nietzsche dari kemarin awal abad. Maka begitupun yang terjadi sama si katolik yang pas bocahnya taat benar ini, yang sekarang sudah amnesia dengan doa-doa rosario.