Aku Akan Mendatangimu Seperti Salju Pertama

“Merokok membunuhmu,” katanya, lalu menyodorkan kresek putih berlogo Alfamart. “Patah hati, juga.” “Hah?” “Dicampakkan perempuan yang kau sayangi, kemudian mengurung diri di apartemenmu. Menulis tanpa henti. Terus merokok dan minum kopi. Tanpa tidur. Terus meratap. Untuk kemudian mati dengan mengenaskan, dan saat itulah aku akan berjumpa lagi denganmu.” Gaya bahasanya begitu formal, seakan sedang mengutip … Read more

Si Kabayan Makan Mie Campur Nasi

Petang ketika perut Kabayan mulai berontak, Iteung masih asyik menonton drama Korea. Perut kosong, secara historis, sudah banyak menciptakan konflik berdarah. Seperti yang sedang ditonton Iteung, sebuah adegan klise: ibu mertua menempeleng anak asuhnya, yang yatim piatu, gara-gara telat menyiapkan sarapan. Baru dua minggu menikah, sejoli muda itu bisa saja meneruskan sejarah kelam tadi, mencicipi … Read more

realisme

Cerpen Terjemahan: “Tiba-tiba, Ada yang Mengetuk Pintu” Karya Etgar Keret

“Beri aku sebuah cerita,” perintah seorang lelaki berjanggut yang duduk di sofa ruang tamuku. Situasinya, bisa kubilang, campur aduk tapi tak menyenangkan. Aku adalah seorang yang menulis kisah-kisah, bukan seseorang yang mendongengkannya. Dan bahkan hal itu bukan sesuatu yang kulakukan karena desakan. Terakhir kali ada yang memintaku untuk menceritakan sebuah cerita, adalah anakku. Itu setahun yang lalu. Aku menceritakannya sesuatu tentang peri dan musang—aku bahkan tidak ingat tentang apa—dan dalam waktu dua menit ia tertidur pulas. Tapi situasinya sangat jauh berbeda. Karena anakku tidak punya janggut, juga pistol. Karena anakku meminta cerita dengan baik-baik, sementara orang ini seperti sedang mencoba untuk merampokku.

Read more

minami hamabe aimer i beg you

Cerpen Terjemahan: “Burung Nejimaki dan Wanita-wanita Hari Selasa” Karya Haruki Murakami [2/2]

Sebelum pukul dua tepat, aku memanjat dari halaman belakangku melewati dinding batako masuk ke gang. Sebenarnya, ini bukan seperti gang yang kau bayangkan seperti gang pada umumnya; itu hanya penamaan dari kami karena tak punya nama lain yang lebih bagus. Sesungguhnya, itu bukan gang. Sebuah gang punya jalan masuk dan keluar, menghubungkan dari satu tempat ke tempat lain.

Tapi gang ini tak punya jalan masuk atau keluar, mengarah ke tembok batako di satu sisi dan pagar kawat di sisi lainnya. Ini bahkan bukan lorong. Setidaknya, sebuah lorong harus memiliki sebuah jalan masuk. Penduduk sekitar menamainya “gang” hanya demi kemudahan.

Gang berkelok-kelok dihimpit halaman belakang rumah warga kira-kira sepanjang enam ratus kaki. Tiga-kaki-sekian lebarnya, tapi karena sampah yang menumpuk dan tanaman liar yang tumbuh di sisinya, hanya tersisa sedikit ruang sehingga kau harus berdesak-desakan melalui jalur ini.

Read more

Memoar Domba Tersesat dari Cimahi

“Mereka sudah tiba di Bandung!”

Syahdan, tersiar kabar ada sepasukan bangsa bermata sipit hendak bikin onar. Paniklah manusia yang Totok begitupun Indo, kelimpungan takut dihabisi Nippon.

Dari Cimahi, hiduplah dia yang seorang Indo, berbapak Belanda beribu babu. Seorang dokter, dan katanya sih juga seorang vrijdenker. Memang saat itu lagi tren soal ateis, agnostik, dan beragam jenis lainnya. Banyak umat malas beribadat yang melakukan pembenaran dengan memakan bacotan Nietzsche dari kemarin awal abad. Maka begitupun yang terjadi sama si katolik yang pas bocahnya taat benar ini, yang sekarang sudah amnesia dengan doa-doa rosario.

Read more